Monday 1 August 2016

Monday Note -- Menua Dengan Bahagia (Catatan Untuk Diri Saya)

Puluhan tahun yang lalu, di jaman saya masih muda belia penuh pesona, saya dan seorang teman sedang duduk nongkrong sambil menunggu siomay kami selesai diracik si abang. Ah, memang tidak ada siomay seenak siomay abang- abang. Yang tercipta dari sekarung tepung, seember MSG (plus dua gram daging sapi) dan disiram dengan saus kacang  berpewarna tekstil.  Bang siomay, nikahi aku bang! Nikahi aku!

Duduklah kami berdua diatas bangku kayu yang langsung berkeriut saat menerima beban bokong kami masih bungkring. Duduk manis di samping sebuah ember plastik kecil berisi air dan gumpalan plastik yang akan dipakai si abang untuk membersihkan piring yang kami pakai. Celup celup air, gosok- gosok sejenak dengan gumpalan plastik, dan TADAAA piring siap kembali digunakan oleh pelanggan berikutnya. Memang benar kata pepatah, apa yang tidak membunuhmu akan menguatkanmu. Atau memberimu muntaber.

Teman saya meraih telpon genggamnya, Nokia legendaris yang konon saking kuatnya bisa menahan peluru. "Halo ma, aku mau nonton bioskop sama Mega ya. Agak telat pulangnya," kira- kira begitu kata- kata teman saya.

Kemudian, mungkin karena wajah teman saya yang manis dan baik hati, seorang ibu sepuh yang sedang duduk menunggu angkot di samping kami mengajaknya bercakap- cakap. "Tadi nelpon orang tuanya ya Mbak?" tanya si ibu. "Wah kamu anak baik ya," lanjut si ibu. "Nggak kayak anak saya, jarang banget telpon." Dan mengalirlah cerita si ibu bahwa di masa tuanya ini, dimana ia ingin disayang, diperhatikan dan dilayani anak dan cucunya, eh justru si anak jarang datang. Selalu sibuk. Tidak punya waktu bagi kedua orang tuanya yang sudah sepuh dan kesepian. Cucu- cucunya pun sama saja, sibuk les ini itu. Mana mau menyempatkan diri menelepon neneknya.

Saya ikut menggeleng- gelengkan kepala tanda bersimpati. Gimana sih tuh anak- anak durhaka? Apa susahnya nelpon emak mereka? *lupa kalau dirinya sendiri jarang nelpon emak.

Setelah saya menikah dan mempunyai anak, kisah- kisah mengenai orang tua yang tidak bahagia di masa tuanya menjadi semakin sering saya dengar. Seiring berlalunya waktu, beberapa cerita itu bahkan saya dengar dari orang- orang yang saya kenal cukup dekat, bukan sekedar dari seorang asing di warung siomay pinggir jalan. Teman saya, saudara, dan bahkan ada yang pernah menyangkut diri saya sendiri. Dan membuat saya merenung, ternyata begitu banyak orang yang tidak bahagia di masa tuanya. Kisah yang paling umum adalah sekedar menelepon pun jarang. Berkunjung pun jarang- jarang. Terlalu sibuk dengan hidupnya, pekerjaannya.

Membaca semua status di facebook, mendengar sendiri kisah dari para orang sepuh yang merasa tidak bahagia karena merasa diabaikan oleh anak- anak mereka, saya memperhatikan kedua telapak tangan saya yang sudah mulai berkeriput. Apakah kelak saya juga akan seperti mereka? Yang tampak tidak berbahagia, kesepian, terabaikan. Yang menghabiskan masa sepuh mereka dengan mengeluhkan keadaan, menceritakan kisah sedih mereka bahkan kepada seorang anak muda asing yang sedang makan siomay berperwarna tekstil. Yang mengeluhkan persendian mereka yang membengkak rematik dan katarak yang menggila.

Dan saya rada- rada deg- degan juga jadinya. A bit scared.

Saya bertanya- tanya apakah seperti itukah saya kelak saat beranjak tua? Kesepian, merasa diabaikan, merasa terkurung di dalam tubuh yang mulai renta, dan setiap detik melihat kearah layar handphone untuk mengecek apakah Serafim menelepon saya.

Bulan lalu, saya ditempatkan sebagai tenaga bantuan di salah satu sudut rumah sakit. Saya bekerja bersama seorang perempuan paruh baya yang tidak bisa disebut 'menyenangkan'. Dia membenci pekerjaannya tetapi terperangkap dalam pekerjaan itu. Mendengarkan ia berbicara adalah mendengarkan rentetan kepahitan di tempat kerja; bos yang menyebalkan, pekerjaan yang tidak menantang yang 'seekor monyet saja bisa mengerjakan', dan standar janda eh ganda yang berlaku. Yang membuat saya teringat sebuah quote "If you don't like where you are, move. You are not a tree."

Sambil mendengarkan keluh kesah Doris (sebut saja namanya itu), saya memperhatikan dinding di tempat kerjanya yang dipenuhi tempelan foto yang saya asumsikan adalah foto anggota keluarganya. Saya bertanya tentang foto- foto tersebut dan to my amazement, raut wajahnya berubah drastis. Wajahnya melembut, senyumnya tersungging dan dengan suara yang hangat ia mulai bercerita. Tentang anak perempuannya Charlotte yang bekerja di sebuah kota kecil berjarak dua jam perjalanan dari Melbourne, tentang anak laki- lakinya dan menantunya yang mempunyai seorang balita chubby berusia tiga tahun. Tertarik (plus daripada harus mendengarkan keluh kesahnya soal pekerjaan), saya dengan senang hati melanjutkan bertanya.

Tanpa perlu usaha keras untuk membuatnya bercerita, dalam tempo singkat saya tahu bahwa setiap bulan, kalau jadwal kerja Charlotte memungkinkan, ia akan datang ke Melbourne dan mereka berdua akan menghabiskan hari dengan pergi ke kota, having brunch (makan di jam nanggung. Telat untuk sarapan tapi kepagian untuk makan siang) atau berbelanja. Dan karena Charlotte akan menikah, maka kesibukan mereka bertambah dengan berburu baju pengantin dan pernak pernik acara bersama. Sementara kisah dengan anak cowoknya lebih banyak adalah kisah mengenai si cucu kecil. Josh sekarang sudah bisa begini, nanti hari sabtu akan datang dan mau bikin cupcake bareng, dst dst.

"You seem very close to your daughter," celetuk saya.

"I do," jawab Doris

"And you seem to be Josh's favorite grandma,"

"I think so," jawabnya sambil tertawa. Jelas senang.

Mata saya bercahaya. Kalau orang yang menyebalkan seperti dia saja bisa memiliki hubungan yang hangat dengan anak- anaknya, masih sering bertemu dan berkomunikasi, tidak merasa tersia- sia dan terisolir, berarti saya masih mempunyai harapan! Gini- gini saya kan 11 12 sama si teman yang hobi ngomel itu xd.

Jadilah saya tekun mendengarkan kisahnya. Kebetulan saya diperbantukan selama sebulan lebih disana. Berhubung saya juga memiliki satu anak perempuan, maka saya antusias bertanya mengenai fakta bahwa teman saya ini masih secara rutin menghabiskan waktunya untuk berakhir pekan dengan anaknya. "How come?"

1. Miliki TRADISI

"Kamu harus membangun rutinitas itu semenjak mereka kecil. Nggak bisa kalau kamu berharap saat mereka sudah bekerja, dan tahu- tahu kalian akan mempunyai rutinitas pergi keluar, jikalau hal itu tidak pernah kalian lakukan sebelumnya," kata Doris.

Ia berkisah bahwa sejak dulu ia berusaha mempunyai waktu spesial dengan masing- masing anaknya, terutama anak perempuannya. Setiap hari Rabu, sepulang sekolah, mereka akan pergi ke sebuah kafe kecil dan membeli es krim dan muffin. Dan hal kecil itu menjadi pondasi untuk hubungan yang terus hangat hingga sekarang. Tradisi.

Berhubung saya dan suami bekerja nyaris full time, saya agak galau juga masalah mempunyai tradisi ini. Gimana caranya ya punya tradisi? Tetapi kemarin Sera berkata bahwa hari kamis adalah 'my lucky day." "Kenapa?" tanya saya. "Karena mummy and I bisa makan sushi dan beli Cha time di shopping center," katanya.

Oalah. Sementara saya berpikir ingin memiliki tradisi pergi ke kafe kecil yang cantik, minum baby chino dan makan cheese cake strawberry (pokoknya tradisi yang instagramable deh), sekedar pergi ke toko sushi di pojokan pasar sambil minum bubble tea sebelum berenang itu sudah cukup membuat Sera mendaulat sebagai her lucky day. Note: makan sushi disini bukan barang mewah seperti di Indonesia. Satu gulung sushi seharga dua dolar sudah cukup mengenyangkan.

Jadilah saya merubah strategi. Tadinya seringkali saya membeli sushi dan bubble tea duluan karena menghemat waktu. Tahu sendiri kan kalau membeli sesuatu dengan mengajak anak, bisa membutuhkan waktu tiga kali lipat karena Sera merasa perlu melompat kesana kemari dulu, ndeprok di sono dulu, lihat- lihat boneka elsa yang dipajang dan sebagainya. Toh intinya Sera tetap dapat sushi dan bubble tea favoritnya. Tetapi ternyata pergi berdua ke warung sushi, memilih sushi yang dia mau, dan kemudian duduk di pojokan sambil menyesap bubble tea itu can be count as a tradition juga. Dan memang pada saat itu Sera akan bercerita banyak mengenai teman- temannya, mengenai gurunya dan pelajarannya.

Small little things can be a basic foundation for a long life warm tradition. Tidak usah memikirkan some grandiose tradition seperti berski bersama di lereng pegunungan alpen setiap musim dingin. Kalau ada yang saya pelajari dari liburan bersama anak, mereka tidak ambil pusing apakah diajak berenang di kolam kecil di kecamatan sebelah atau kolam air panas di Iceland. Selama mereka diajak berenang dan orang tuanya ikut, that's fine by me mummy.

Yang kedua, jangan pernah take it for granted. "Ketika aku pergi keluar dengan Charlotte, kami selalu share the bill. Kalau ke restoran ya bergantian membayar. Dan kemarin kami pergi ke Sydney liburan berdua, girls only. Ya kami berbagi billnya. Dia membayar penginapan dan makan, aku membayar tiket pesawat dan transport disana. It works very well for us."

Bukan berarti semua harus 50: 50. Tetapi menurut Doris, hanya karena sewaktu anaknya kecil dahulu, ialah yang harus selalu membayar saat mereka berlibur (ya iyalah, anak enam tahun mah paling- paling punya duit 2 dolar doang), bukan berarti sekarang adalah saatnya anaknya yang harus membayar semua biaya saat mereka keluar. "Kalau aku ingin dia sekarang nyaman pergi denganku, ya aku harus menempatkan diriku sebagai teman. Dan tidak pernah persahabatan bisa langgeng saat uang menjadi kendala. Kalau Charlotte merasa ia harus selalu membayariku saat makan di restoran atau berlibur, ia akan merasa itu sebagai beban. Dia kan juga sedang butuh uang. Dia akan menikah, menabung untuk membeli rumah."

Saya mencoba menangkap apa yang Doris katakan. Lebih dari sekedar berbagi bill (sesuatu yang secara wajar kita lakukan saat bersama teman), there's something deeper than that. Paradigma. Saya merasa bahwa Doris tidak berpikir bahwa "I have done everything for you, now it's time to payback."

"Lalu bagaimana kalau Charlotte sibuk? Apa kamu berharap tiap minggu dia akan datang?" tanya saya, teringat keluhan banyak orang tua bahwa anak mereka jarang mengunjungi. Bertemu sebulan sekali tampaknya rada- rada gimana gitu.

2. Don't COMPLAINT all the time

Dengan serius Doris menjawab "The more you nag your kid about how they don't spend enough time with you, the more unlikely they will come. Aku selalu berusaha mengerti bahwa dia sibuk, dia bekerja lima hari seminggu dan waktu luangnya hanyalah di akhir pekan. Dan dia harus membaginya dengan mengerjakan laundry, bertemu teman- temannya, mengantar mobil ke bengkel atau sekedar tidur seharian karena capek. Belum lagi kalau dia punya pasangan dan anak. Kamu ajalah, kan masih muda. Gimana sibuknya sih kamu?"

Yang dilakukan Doris, dia akan mengirim pesan singkat ke anaknya, sekedar bertanya bagaimana kabarnya atau menelepon singkat dan every now and then dia akan menyetir ke kota kecil tempat anaknya bekerja, dan kemudian mereka berdua akan makan siang bersama.

"Aku nggak suka nyetir," kata Doris. "Tapi ya I'll do it biar bisa ketemu Charlotte."

We can't force our kids to spend time with us. We have to make them want to spend time with us. Mengomel serta mengeluh bahwa anak kita tidak memperhatikan kita, mengabaikan kita, is one sure ticket to make them even more reluctant.

Di sebuah artikel di majalah wanita yang saya baca di rumah sakit (majalah yang seharusnya diperuntukkan bagi para pasien sementara karyawan rumah sakit seharusnya terlalu sibuk bekerja), dikisahkan seorang ibu sepuh mengeluhkan anaknya yang tidak pernah menelepon. Jarang sekali. Paling sebulan sekali. Si ibu ini kesepian, hatinya terluka karena ketidakacuhan anaknya. Mirip status di facebook yang biasanya diakhiri pesan agar kita tidak mengabaikan orang tua kita.

Hanya bedanya di artikel ini, si penulis mengupas juga dari sudut pandang si anak. Karena setiap cerita selalu mempunyai dua sisi kisah.

Begini penuturan si anak. Karena si ibu sekarang sudah tidak bekerja dan tidak bergabung dengan klub apapun, ia tidak lagi mempunyai kegiatan. Tidak lagi mempunyai teman atau komunitas where she belong. Jadilah ia kesepian. Dan dalam kesepiannya, telepon dari anaknya adalah salah satu caranya mengusir perasaan terisolasinya.

Akibatnya? "Setiap saya menelepon Ibu, itu berarti saya harus meluangkan waktu paling tidak dua jam karena ia ingin mengobrol panjang lebar. Tidak mungkin memutus pembicaraan dengannya. She'll go on and on. And I really don't have time to talk for 2 hours everyday. Saya punya dua anak balita dan saya bekerja shift. Saat menelepon ibu, saya ingin menyapanya dan menanyakan kabarnya, tapi saya tidak memiliki kemewahan waktu luang untuk bisa mengobrol panjang lebar berjam- jam setiap hari. Dan ia akan menjadi marah bila saya berkata saya sibuk dan tidak bisa mengobrol panjang."

Jadilah si anak semakin jarang dan jarang menelepon. Dan saat ia mengurangi frekuensi meneleponnya, jadilah si ibu semakin menuntut. Setiap percakapan telepon selalu dimulai dengan rentetan keluhan dan kesedihan. Dan bak lingkaran setan, si anak semakin enggan menelepon.

And let's just face it. Tidak ada orang yang suka terus menerus mendengarkan keluhan dari orang lain. Suatu kali, sehabis mengunjungi seorang kerabat, Emak saya menghela nafas panjang dan berkata "Rasanya capek tiap dari rumah Bude."

Saya berpikir, iya ya, somehow tanpa saya sadari saya tuh selalu merasa enggan untuk mengunjungi kerabat kami yang ini, tanpa tahu apa alasan dibalik keengganan saya itu. Dan gara- gara komentar Emak saya yang sambil lalu, saya menyadari hal tersebut dikarenakan selama percakapan kami, beliau selalu dan selalu mengeluhkan hidupnya, anak- anaknya, sakitnya, suaminya dan entahlah apa yang lain. Hidup ini sudah berat, tanpa harus mendengarkan seseorang constantly reminding us how hard life is.

Buatlah anak kita senang bertemu dengan kita, sama seperti kita menanti- nantikan acara buka puasa bersama dengan teman SMA. Apabila bertemu saya terasa seperti kewajiban dan membalas budi semata, apa bedanya dengan melakukan upacara bendera setiap Senin? Siapa sih yang suka? *eh mungkin ada ya :P. I know I have to, but not looking forward to it.


3. BERSOSIALISASI

Our kid is our whole life. Unfortunately, we are not their whole universe. Pesan itu yang saya tangkap dari Doris, saat ia berkata bahwa anaknya memiliki banyak teman, ada pacar dan seabrek kegiatan.

Sejak Sera masuk sekolah, saya mulai merasa bahwa saya bukanlah her whole universe anymore. Ada Elisha dan Ellen, Mrs Das dan Sebastian yang mulai mengambil porsi orang tuanya. Dia mulai menghabiskan lebih banyak waktu bersama komunitasnya sendiri. Dan saya bahagia. Tidak ada kelegaan yang lebih besar daripada disaat engkau menjemput anakmu di sekolah, dan dia meminta waktu sebentar lagi untuk bermain bersama temannya. She has friends. She is happy. She is accepted by her friends. Sera selalu berlari menyongsong saya sambil membuka tangannya untuk memeluk. Tetapi sambil membenamkan kepala kecilnya di pelukan saya, dia akan berkata "Mummy, I need 5 more minutes to play with Elisha."

Saat ini sih saya tidak keberatan dengan segala kesibukannya Sera. Saat ia menerima undangan playdate di rumah salah satu temannya, hati ini bersorak girang. Yes! Empat jam bebas dari anak pesut! Bisa bersih- bersih rumah atau sekedar nonton bioskop sama bapak pesut. Tetapi kelak, disaat saya sudah tua dan pensiun, jangan- jangan kesibukan Sera akan menjadi hal yang menyedihkan bagi saya. Kenapa kamu gak menghabiskan tiap waktu luangmu dengan emakmu Ser????

Dulu, jaman Sera masih belum sekolah, saya sempat membawanya ke playgroup. Kebanyakan playgroup di Melbourne tidak memungut biaya atau hanya sekedar memungut biaya administrasi. Playgroup- playgroup ini bisa bertahan karena bantuan para sukarelawan. Playgroup tempat saya membawa Sera dulu terletak di sebuah gedung gereja dan yang menyelenggarakan adalah para sukarelawan jemaat gereja tersebut. Ada satu orang koordinator yang masih berusia empat puluhan, tetapi selebihnya personel penyelenggara playgroup itu adalah para simbah- simbah dengan rambut seputih salju dan senyuman secemerlang mutiara. Mereka bertugas menyiapkan ruangan bermain, secara bergiliran menyediakan morning tea, membacakan cerita dan memimpin acara bernyanyi serta memutuskan mainan apa yang akan dikeluarkan setiap harinya.

And they were a bunch of happy grandmas.

Tidak pernah saya mendengar mereka mengeluh, Selalu tersenyum. Bahkan saat bercerita kalau ia harus pelan- pelan berjalan karena baru saja menjalani operasi knee replacement karena dengkul yang soak termakan usia. Mereka bercakap- cakap dengan para ibu- ibu yang menunggui anak mereka, membacakan cerita bagi para krucil dan merapikan serta mengelap mainan yang habis dipakai. Mereka rapi dan wangi.

Mengingat sekelompok simbah ini, membuat harapan saya tumbuh. They were definitely happy. Mungkin salah satu alasannya adalah karena kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang butuh untuk merasa dibutuhkan. Selama tiga hari dalam seminggu, para simbah ini akan meluangkan waktunya menjadi sukarelawan. Dengan menjadi sukarelawan selama beberapa jam saja setiap harinya, mereka bisa merasa memiliki komunitas dan bisa bercengkerama dengan orang dewasa lainnya. Saat bangun di pagi hari, mereka memiliki purpose of life. "I have to run the playgroup, so I will need to have shower, tidying up and go somewhere."

Jadi ya, bila disaat muda kita disibukkan dengan mengurus anak dan pekerjaan yang menyita waktu, menjelang masa pensiun rasanya sangatlah penting untuk mulai memikirkan kegiatan bersosialisasi yang akan kita lakukan di masa pensiun.

Dan anak kita memang akan sibuk. Sibuk dengan karirnya, sibuk dengan anak- anaknya, sibuk mencari waktu untuk bisa bercengkerama dengan pasangannya. Bukan sok sibuk. Tetapi memang sibuk.

Dan belajarlah menyetir sekarang! Tidak ada yang lebih menyebalkan di hari tua daripada harus tergantung ke orang lain untuk sekedar mengantarkan ke penjahit. Dan kalau Sera nanti ternyata bakalan rada- rada mirip dengan adik saya, maka saya bakal sakit hati berkelanjutan kalau berharap ia akan mempunyai waktu untuk mengantar saya kesana kemari.


4. Be Kind To Our Grandkids (And Their Mum's Rules)

Sementara kisah dengan si anak perempuan adalah kisah kedekatan antara mum and daughter, Doris mengakui bahwa kedekatan yang sama tidak ia rasakan dengan anak laki- lakinya. Dengan legowo ia berkata bahwa tentu saja anak laki- lakinya akan lebih condong pada keluarga istrinya. Itu sudah hukum alam. Apa yang ia lakukan? Ia biasanya menawarkan untuk menjaga Josh di akhir pekan (tidak setiap akhir pekan) atau di malam hari, dan memberi kesempatan pasangan muda yang exhausted ini untuk bersantai. "They can just watch movie or have dinner while I have Josh."

Merasakan sendiri bagaimana demandingnya hidup sebagai pasangan (yang tidak terlalu muda lagi), uluran tangan semacam itu serasa angin surga. Kalau emak saya kebetulan sedang di Melbourne, saya dan Okhi akan sigap menunggu Sera tertidur dan kami akan mengendap- endap menuju mobil, dan menonton any cheesy movie we can find. Bodo amat dengan kualitas filmnya, pokoknya kami bisa nonton di bioskop.

Sebete- betenya seorang menantu pada mertuanya (yang umum terjadi), mereka akan sukarela mengalah bila anak mereka mencintai nenek kakeknya. Sebete- betenya menantu ke mertuanya, mereka akan bersedia datang dan datang lagi untuk makan malam bersama dan berkunjung, apabila mereka merasa bisa mempercayakan anak- anak mereka di tangan kakek neneknya. Apabila mereka melihat bahwa anak mereka bahagia saat berada bersama kakek neneknya.

"Kamu tahu cara yang efektif untuk bertemu anak- anakmu? Terutama yang sudah punya anak kecil?" tanya Doris sambil menyeringai.

Saya menggeleng.

"Undang barbekyu atau makan malam. Dan sediakan mainan yang banyak untuk cucumu. Dan biarkan anak- anakmu menikmati makan malam mereka dengan damai sementara kamu menemani the little ones makan."

It's all about making them love coming to your house. Be a fun granny for the grandkids.

Golden rule dalam berurusan dengan cucu: hargai aturan dari ibu mereka. Kelak saya harus bertanya ke Sera, hal- hal fundamental apa yang harus saya terapkan ke cucu saya saat mereka menginap di rumah saya. Kami harus bernegosiasi dan setuju dengan 'acceptable rule'. Tidak boleh makan mi instan sama sekali tetapi boleh makan dua lolipop di rumah simbah. Boleh dapat HANYA satu mainan baru setiap minggu. Harus sudah mandi sebelum nonton TV tapi boleh tidur telat kalau di rumah simbah. Dan hal terburuk yang bisa dilakukan? Menentang emak si bocah atau mengkritik gaya parentingnya. Terimalah dengan lapang hati bahwa itu adalah daerah kekuasannya.

Sounds not fair? Setelah semua jerih payah, air mata dan darah yang kita curahkan untuk membesarkan anak kita? Setelah semua uang yang tercurah untuk membiayai pendidikannya? Setelah puluhan malam tanpa tidur yang layak saat si anak muntaber? Setelah semua pengorbanan yang kita lakukan bagi anak kita? Kok ya masih harus berusaha agar anak kita senang bertemu dengan kita.

Well, we are parents. Seperti sebait lirik lagu, Hanya Memberi, Tak Harap Kembali, Bagai Sang Surya Menyinari Dunia.

 Tidak ada yang saya harapkan to get it back from her. Satu-satunya harapan adalah agar ia berbahagia, be a kind hearted woman dan mencintai anak- anaknya kelak. Just as much as I love her.

Note: Ini note bagi diri saya untuk mempersiapkan masa tua dengan anak gadis saya. Don't be an asshole dan menuntut orang tua kita untuk menjadi fun grandparents, menyalahkan mereka kalau sering mengeluh atau karena tidak bisa menyetir dan merepotkan. Learn from their wisdom (and their shortcoming) and prepare ourselves to be the better one. And why not start the small little tradition with our mum? Bring her to small cafe once a month, just the two of you. Be the bigger person.





Monday 31 August 2015

My Monday Note -- Apa Sih Yang Mau Disombongin Itu?

Suatu siang, saya mendengar percakapan antara Serafim dengan seorang anak laki- laki sebayanya. Mereka meributkan masalah siapa yang lebih superior. "I'm already 6 years old," kata si anak laki- laki dengan intonasi sebijak kura- kura keramat berusia 100 tahun.

Serafim yang masih berusia lima setengah tahun tidak mau kalah. "But I already have a wobly tooth!" balas Serafim penuh kemenangan. Tangan kecilnya menggoyang- goyangkan sebuah gigi depannya yang sudah mulai gondal gandul menunggu lepas. Si anak cowok cemberut kesal, jelas merasa kalah. Dia meraba- raba gigi geliginya yang oh sungguh sial masih terpasang erat di gusinya.

Saya menatap kedua bocah itu sambil mendesah kecewa. Sungguh generasi muda masa kini, menilai kesusksesan hidup dari jumlah gigi yang mulai goyang. Dan merasa bangga sekedar karena usia yang terpaut enam bulan lebih tua. Sungguh para balita bermasa depan gilang gemilang. 

Sebagai wanita yang sudah menempuh asam garam kehidupan hingga di usia yang menjelang pertengahan dua puluhan sekarang (uhuk), mendengar percakapan kedua bocah itu kok ya saya kebelet ingin berkomentar "Gini lho ya dikbro dan diksis, bahkan meskipun gigi kalian itu goyang semua secara bersamaan, toh ya tidak akan bisa dimasukkan sebagai daftar prestasi di CV kalian. Tidak ada calon bos yang akan tergerak untuk mempekerjakan seseorang hanya karena prestasi gigi rontok sebelum berumur enam tahun." 

Anyhow, tentu saja saya tidak pernah terlibat kegiatan membanggakan peristiwa rontoknya gigi saya. Kebetulan di usia 6 tahun, saya sudah mempunyai kebijaksanaan yang melebihi anak- anak seumur saya. Plus urusan gigi goyang itu dulunya identik dengan pergi ke dokter gigi.Boro- boro mau nyombong, yang ada mules duluan karena takut. 

Tetapi setelah selama beberapa menit berpikir- pikir, tampaknya saya juga sebetulnya pernah mengalami kekonyolan yang serupa. Sesuatu yang di masa lalu terasa sangat penting hingga layak untuk disombongkan dan menentukan harkat dan martabat sebagai makhluk Tuhan yang paling seksi, eh ternyata di masa kini justru menjadi tidak berarti. Dulu layak diperjuangkan, dan sekarang saat diingat- ingat justru terasa layak ditertawakan.

Once upon a time, kira- kira dua setengah abad yang lalu, saya masih duduk di bangku SMP. Masih kurus dan jomblo. Dan rada kurang populer (sayangnya hal itu masih bertahan sampai sekarang xd). Pada masa itu, di kalangan para abege berseragam putih biru, merk dari pakaian yang kita pakai adalah persoalan hidup dan mati. Jauh lebih penting dari sekedar isu remeh semacam kelaparan di pedalaman Papua yang gagal panen atau Timor Leste yang lepas dari Indonesia.

Boleh saja sekedar memakai kaos oblong, tetapi merk kaosnya haruslah Billabong. Perkara kaos Billabong itu harganya 50 ribu rupiah sementara kaos- kaos lain sejenisnya hanya seharga lima belas ribu, justru menjadi sumber kekerenan. Perkara desain si kaos sebetulnya bukan selera gue banget (abstrak amburadul dengan warna- warna semuram kehidupan percintaan saya) tidak membuat saya keberatan untuk memakainya. Perkara potongan si kaos yang menyesuaikan dengan badan bule membuat seorang abege cewek Indonesia nan bungkring yang memakainya seperti tenggelam dalam gumpalan kain kafan, tidak menjadi masalah. Yang penting Billabong! Surfing kagak, yang penting berpakaian ala surfer. Tehehehe *ketawa ngenes.

Dan kemudian, sebagai hadiah ulang tahun, emak membelikan saya sebuah celana Billabong berwarna cokelat dengan pipa celana super lebar. Plus sebuah jaket hijau bergaris- garis yang sudah lama saya idamkan. Membuat saya terlihat seperti perkawinan silang antara buah sawo matang dengan ulat jambu. Tetapi tentu saja, saat saya bercermin, saya menatap bayangan dari makhluk paling keren sedunia. Oh, plus topi biru mbladhus dengan lambang Rip Curl paling besar yang bisa saya temukan di toko. Kalau saja di jaman itu sudah ada instagram, mungkin saya juga akan memajang video bobok- bobok siang di atas rumput lapangan upacara di sekolah saya sambil menjerit- jerit "I feel free!!!" 

Atau contoh lainnya, adalah kegandrungan akan celana jeans merk Guess. Demi lambang segitiga di bagian bokong si celana, saat akhirnya saya mempunyai sepasang celana jins berwarna hitam bermerk itu (kebetulan ada diskon besar- besaran, sehingga celana itu terjangkau oleh kantong saya yang cekak), saya memastikan bahwa saya selalu memasukkan kaos saya ke dalam celana. Bukan, saya bukan ingin pamer keseksian bokong atau perut yang serata para pengungsi Afrika. Saya hanya mau pamer si segitiga itu!

Kalau mengingat segala 'tragedi' mode di jaman SMP itu, benar- benar musibah rasanya. Malu, eyke malu cin.... Merasa harga diri melambung hanya gara- gara sebentuk segitiga di bokong celana. Kalau memang lambang segitiga itu sedemikian pentingnya, kenapa nggak sekalian saja ya saya dulu membuat kaos dari karung terigu segitiga biru?

Saya juga merasa 'galau' saat mendengar kisah tentang seorang anak cewek yang kebetulan tidak terlalu saya sukai, dan eh sialnya si anak cewek ini ternyata kabar beritanya mempunyai selemari penuh baju bermerek keren. "Nggak banyak sih bajunya, tapi semuanya Billabong, Oakley, Esprit, bla bla bla," kata si pewarta berita. Saya manyun dengki mendengarnya. Telinga memerah dan hati mendidih.

Dan bahkan pernah juga saya merasa sakit hati saat beberapa anak cewek remaja 'gaol' berkomentar bahwa celana jins yang saya pakai mengingatkan mereka pada celana jins yang dipakai mas- mas tukang bangunan. Merk palsu. Note: tampaknya waktu itu saya memakai celana jins bermerk palsu tanpa saya sadari. Masih buta mode ceritanya. Dan tentu saja kesalahan terbesar dalam sejarah peradaban manusia itu tidak luput dari mata elang para fashion police haram jadah itu.

Setelah melewati masa remaja yang penuh haru biru nan syahdu itu, tampaknya seperti kebanyakan orang yang normal, sumber kebanggaan dalam hidup saya mulai agak bergeser. Materi tentu saja masih penting juga, tetapi sudah tidak menjadi perkara hidup mati. Di kala SMA, saat saya memakai sepatu olahraga dengan merk Nike atau Reebok, masih ada rasa bangga saat ada anak lain yang mengaguminya. Di kala baru menjadi pegawai anyaran, kemampuan untuk bisa memegang segelas Frapucino bermerk Starbuck di tangan masih sedikit banyak mengerek rasa bangga. Biarpun bertampang mirip Walrus, tapi minumnya ala Miley Cyrus!

Pelan- pelan, kebanggaan diri kemudian bergeser bukan lagi pada kepemilikan materi semata, tetapi pada pencapaian. Berapa tinggi IPK saya, dimana saya diterima bekerja, keberhasilan dipromosikan menjadi manager dan seterusnya sekarang menjadi sumber 'harga diri.' Rasanya bangga saat diterima bekerja di perusahaan yang bonafid. Rasanya bangga saat ditunjuk untuk memimpin suatu proyek. Rasanya bangga saat mengikuti sebuah pelatihan dengan peserta dari banyak perusahaan berbeda, dan meraih ranking pertama (iya, ranking ala anak SD xd).

Gara- gara masalah gigi copot si Apim cilik, saya jadi berpikir. "Iya, ya, kebanggaan diri itu memang salah satu sifat bawaan orok. Kita memang terlahir dengan sifat itu. Yang melahirkan ambisi. Yang membuat manusia sekarang menghasilkan peradaban yang jauh lebih modern dibandingkan dengan peradaban para manusia gua Trinil, sementara para lumba- lumba masih saja berenang- renang di lautan sama seperti yang sudah mereka lakukan ratusan tahun lamanya.

Dan mengingat bahwa sampai di level SMP dan bahkan hingga saat inipun toh saya masih juga memiliki keinginan untuk berbangga diri, yah memang tampaknya Serafim butuh bertumbuh dan 'merasakan' sendiri sebelum pada akhirnya, someday in the future, menyadari bahwa "OMG, membanggakan gigi yang goyang itu sama kerennya dengan memamerkan bulu ketek yang memanjang."

Saya membayangkan bagaimana bila dulu dulu emak saya, yang pastinya rada enek juga dulu melihat penampilan saya yang bak makhluk kurang menyan, mengkritik pedas dan 'mencibir' perilaku saya yang Billabong maniac. Saya yakin nasehatnya tidak bakal mampu menembus batok kepala seorang abege yang tebal bin bebal. Paling- paling saya dengan sebal menggerutu "Ah tahu apa si emak soal gaya hidup metropolis ala kawula muda!"

Setelah merenung, saya memutuskan untuk membatalkan rencana mengguncang- guncang pundak Serafim sambil meratap histeris "Sadar nduk, sadar, hidup itu hanya sementara! Jangan bikin malu nenek moyangmu dengan meributkan soal gigi yang goyang!"

Saat menengok ke masa lampau, saya menemukan bahwa kebanggaan ataupun kegalauan akan harta benda seperti kaos billabong dan kopi Starbuck ternyata selalu berubah menjadi semacam 'lelucon' bagi diri saya di masa kini. Bangga sekedar karena menenteng tas bermerk Michael Kors? Kok ya di masa kini jadi terasa menyedihkan. Dan merasa dunia akan kiamat karena tidak berhasil membeli celana jins Guess? Oh teenager Mega, you were so helpless -_-. Nggak heran saya sulit jodoh.

Sementara itu, kebanggaan akan pencapaian semacam berhasil diangkat menjadi business manager di perusahaan tempat saya bekerja dulu ternyata juga tidak bertahan lama. Bukannya saya malu atau merasa konyol karena memiliki kebanggaan itu sih (tidak seperti kasus kaos Billabong tadi), tetapi 10 tahun kemudian toh rasa bangga itu sudah sirna. Biasa saja tuh. Dan sebaliknya, kegagalan untuk masuk fakultas idaman yang di masa lampau cukup membuat saya termehek- mehek, eh sekarang tidak ada jejak bekas penyesalannya lho di otak saya! Mungkin karena saya toh akhirnya mengalami sendiri bahwa hidup itu tidak hanya menyediakan satu jalur saja. Kalau tidak lewat jalur itu, kamu bakal gagal merana masuk neraka! Enggak lho, hidup ini kok ya ternyata baik- baik saja meskipun jalur hidup saya melenceng jauh dari angan- angan masa muda.

Saya kemudian bertanya pada rumput yang bergoyang ngebor, apabila celana Guess ataupun kegagalan masuk fakultas idaman tidak menimbulkan penyesalan bagi saya di masa kini, lalu apa dong yang rasanya masih akan saya ingat dengan sisa penyesalan? Jawab si rumput "emang lu pikir gue Mario Teguh apa, disuruh mikir begituan?"

Ternyata, ada dua kejadian yang masih menimbulkan penyesalan di diri saya. Dan kedua- duanya adalah saat saya memutuskan untuk diam disaat seseorang membutuhkan 'bantuan' saya. Yang pertama, saat simbah buyut saya yang sedang menginap di rumah saya berkata dia ingin juga makan bakso seperti yang sedang saya makan. Saya berkata "Itu abangnya lagi muterin kompleks. Tunggu aja mbah, nanti kan muter lagi depan rumah." Dan kemudian saya tidur siang. Dan bangun satu jam kemudian untuk melihat simbah tua saya masih berjongkok di depan pintu rumah dengan mangkok kosong di tangannya.

Penyesalan lainnya adalah mengenai seorang anak baru di pelajaran agama kala SMA dulu. Saat kami mengikuti misa bersama anak- anak dari SMA yang lain, si anak baru mengikuti saya terus. Dan kemudian, sesudah kami duduk berdampingan, saya melihat gerombolan geng saya duduk di bangku yang lain. Dengan enteng saya berkata "Eh, aku kesana sebentar ya, kamu duduk sini aja." dan berlari meninggalkan si anak baru yang jelas bukan tipe Miss Congeniality duduk sendirian di deretan bangku terdepan di gereja. Saya masih ingat tatapannya ke saya, saat saya melirik kearahnya dari deretan bangku dimana saya sibuk senggol- senggolan bersama- teman- teman saya. Tetapi tentu saat itu saya terlalu sibuk merasa keren untuk mau ambil pusing akan tatapan memohon si anak baru.

Kata pepatah, What I regret most in my life are failures of kindness.

Setiap kali saya ingin berbangga atau bersedih banget- banget atas sesuatu hal, semoga si gigi goyang akan jadi pengingat saya. Jangan norak ah, jangan sampai 10 tahun lagi mengingat hal ini sambil tutup muka karena malu xd.

Note: dan tentu saja selalu lebih mudah mengatakan daripada melakukan. Beberapa bulan lalu saya membeli mobil baru. Terdorong hasrat ingin 'berbagi kegembiraan', saya mulai memasang foto- foto si mobil baru di facebook. Tentu saja agar terhindar dari tuduhan tukang riya, saya memasang Serafim sebagai cameo. Jadilah selama beberapa waktu foto Serafim dengan berbagai gayanya (di dalam mobil dengan sudut pengambilan foto yang jelas memperlihatkan atap mobil yang dari kaca) berseliweran di halaman fesbuk saya. Dengan berdebar- debar saya menanti  saatnya seseorang menyadari bahwa SAYA ITU BARU BELI MOBIL EUY. Tunggu punya tunggu, tidak ada satu makhlukpun yang sadar. Semua hanya sibuk mengomentari Sera nya. Who cares about Sera! Pay attention to my goddamn new car people!!! *punya temen kok ya rabun ayam semua, nggak sadar ada barang baru -_-



Kurang jelas gimana sih kalau saya itu niatnya mamerin eh menunjukkan atap keren mobil saya!!









Monday 21 July 2014

My Monday Note -- Sometimes, I Hate Being A Mother (Confessions of a less-than-perfect-mum)

Apakah anda mempunyai anak yang lebih favorit dari anak lainnya? Atau menemukan bahwa motherhood itu membosankan? You may feel alone, but you're not.

Saya membaca nukilan sebuah buku karangan Dilvin Yasa; Good Enough: Confessions of a less-than-perfect mum. Dan isi buku itu, tepat seperti draft note yang sudah saya buat sejak tahun lalu, tapi terkubur dan terlupakan diantara tumpukan sampah draft di blog ini. Buku ini meneriakkan apa yang sudah siap saya teriakkan sejak tahun lalu, kalau saja saya tidak terlalu malas untuk menulis *menggeliat dan siap tidur siang lagi. Begini cukilannya (banyak yang tidak saya ubah ke bahasa Indonesia karena kok jadi nggak enak ya, merubah arti).

Pada tahun pertama sejak kelahiran anak perempuan saya, saya benci menjadi seorang ibu. Bukannya sekedar karena terasa berat untuk bangun di tengah malam atau muak saat mendengar lagu si Teletubbies berkumandang di TV (yang memang saya rasakan), tetapi karena dengan pahit saya menyesali pilihan yang saya ambil. Saya yakin bahwa saya sudah menghancurkan hidup saya untuk selamanya. "Kenapa tidak ada seorangpun yang memberitahukan kepada kita bahwa mempunyai anak bisa semengerikan ini?" lolong saya di pertemuan mother's group, sementara bayi saya yang terkena kolik menjerit- jerit tanpa henti. 

Nb: di Australia ada yang namanya mother's group, biasanya emak- emak yang melahirkan di rumah sakit yang sama pada saat yang bersamaan (yang diasumsikan rumahnya ya berarti di area sekitaran rumah sakit itu) maka akan diperkenalkan oleh pihak rumah sakit. Mereka kemudian akan mengadakan pertemuan setiap bulan sekali misalnya, berganti- ganti di rumah masing- masing ibu. Tujuannya, semacam peer group yang saling mensuport para ibu ini, saling menguatkan dan berteman diantara mereka. 

Keluhan saya itu biasanya akan ditimpali dengan kesunyian yang terasa memekakkan dan para ibu lain di grup itu saling melempar pandang dengan kikuk. Tetapi, disaat kami tidak sedang berada dalam kelompok besar, satu atau dua ibu yang lain akan mendekat dan berbisik mengakui bahwa mereka pun juga tidak menikmati 'motherhood experience' seperti yang mereka harapkan. Kalimat penutup dari setiap percakaan kami adalah "But please don't tell anyone I told you that." 

Pesannya sangatlah jelas: In motherhood, there are subjects that are simply not open to discussion. 

Dan sejujurnya, banyak isu yang tergolong tabu untuk disuarakan adalah hal- hal yang sebetulnya sangatlah wajar. Mungkin anda 'bersalah' karena merasakan beberapa diantaranya? Mempunyai anak yang lebih favorit dibanding anak yang lain, merasa kecewa akan jenis kelamin si anak, atau merasa bahwa anda tidak menikmati menjadi seorang ibu adalah yang paling umum dirasakan. Tetapi, berbeda dengan yang mungkin anda pikirkan, psikolog klinis Laura Alfred mengatakan bahwa perasaan- perasaan 'terlarang' itu sebetulnya normal adanya.

"Menjadi seorang ibu adalah sebuah pengalaman yang seringkali membawa kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan, tetapi pengalaman itu juga bisa membuat kita sangat kewalahan, gelisah, depresi dan menjadikan kita berhati dingin (ohmaigod, apa sih terjemahannya relentless). Meskipun sering didengungkan sebagai pengalaman yang amazing, toh motherhood juga seringkali memberi syok yang dahsyat pada sistem di diri kita. 

Lah, kalau toh perasaan- perasaan itu wajar adanya, kenapa sih kok dianggap tabu? Seringkali, hal tersebut dikarenakan kita hidup di jaman dimana perasaan seorang ibu yang 'negatif', meskipun tanpa sadar, dianggap bisa menjadi racun bagi jiwa si anak. Hayo, siapa sih yang belum pernah mendengar komentar "Yang sabar ya Bunda, jangan bersedih, nanti bayinya ikut sedih lho.. Kasihan bayinya..." Mampus lu, bahkan saat kamu sedih pun itu artinya kamu sedang menyiksa bayimu. 

Ditambah lagi, kita sekarang membesarkan anak dibawah dogma "Kamu harus menjadi ibu yang lebih baik daripada semua ibu- ibu lain di luar sana." Kita juga tanpa sadar mempunyai ketakutan bahwa orang lain akan menilai dan menghakimi keputusan yang kita ambil (terutama teman dan keluarga kita). Sederhananya, ada semacam kesepakatan tak tertulis bahwa para ibu seharusnya 'suck it up' atau 'get on with it', dijalani saja dan nggak usah kebanyakan mengeluh. Yang pada akhirnya menghalangi kita untuk bisa secara terbuka membicarakannya.

Membaca nukilan buku ini, saya terkenang hampir lima tahun lalu, saat Serafim masih berupa bayi piyik. Setahun pertama kehidupannya, seperti penulis buku ini, saya tidak merasakan kebahagiaan dan rasa 'fulfilled' yang seharusnya dirasakan oleh seorang ibu yang baru saja dikaruniai 'anugerah terindah dalam hidup.' Terindah apanya, gerutu saya. Di mata saya, bayi Serafim adalah buntalan tukang nangis yang memberikan penyiksaan paling berat yang pernah saya rasakan. Kurang tidur super parah yang tidak saya bayangkan sebelumnya, pikiran yang lelah karena tampaknya otak saya selalu tegang, waspada menunggu kapan nih si bayi bakal meringkik lagi minta minum (yang setiap jam sepanjang malam). Oh dan keputusan memberi ASI eksklusif, yang tampak sangat heroik, berubah menjadi ajang penyiksaan karena puting saya babak belur. 

Dan saat usia si Serafim dua minggu, saya menjadi orang yang berhati dingin. Bagaimana saat kita mendengar seorang bayi menangis? Bukankah seharusnya menimbulkan iba pada orang normal? Apalagi pada ibunya sendiri. Tetapi, alih- alih menjadi iba, yang ingin saya lakukan adalah membanting si boneka rungsep itu ke lantai, menyuruhnya diam. 

Dan yang membuat semuanya menjadi lebih buruk adalah karena saya tidak bisa menceritakannya ke orang lain. Bagaimana caranya bercerita bahwa bayi kecil mungil berpipi seranum tomat itu tidak membuat hati saya melembut melainkan membuat saya benci akan hidup saya? Dengan putus asa saya bertanya- tanya kapan si bayi ini akan bisa diajak berkomunikasi, kapan si bayi akan punya jadwal tidur yang lebih masuk akal dan kapan si bayi akan bisa duduk. Yang kesemuanya dijawab oleh orang- orang disekitar saya bahwa "ya nanti kalau sudah waktunya. Masih lama! Baru juga lahir, tali puser masih nempel, sudah tanya soal kapan bisa duduk!"

Dan saat mengeluhkan puting saya yang babak belur, jawaban yang saya terima adalah "Ah, dulu putingku malah digigit sampai beneran mau copot!"

Pesannya jelas: semua ibu merasakan hal yang sama. Ya itu memang resiko menjadi ibu. Suck it up, princess! 

Dari merasa gundah, saya berubah menjadi depresi. Membesarkan bayi itu berat, tapi yang membuatnya sungguh tidak tertahankan adalah karena saya tidak diperkenankan untuk mengeluh. Pekerjaan menjadi ibu itu pekerjaan paling mulia dan anak adalah anugerah terindah. Dan kamu masih berani mengeluh dan tidak merasa bahagia? There is definitely something wrong with you. 

Kalau saya yang sekarang bisa menaiki mesin waktu dan menemui diri saya lima tahun yang lalu, my new me mungkin akan membisikkan pada my old me untuk belajar tips dan trik membuat bayi tidur lebih mudah, tips menyusui yang benar dan serangkaian tips- tips lainnya. Tetapi yang paling pertama dan utama, my new me akan memastikan my old me untuk tahu bahwa "It's ok to feel like a shit dengan rambut yang awut- awutan dan daster yang akan membuat Sebastian Gunawan bakal bunuh diri kalau melihatnya. It's ok not to love your baby straight away. It's ok to hate your life. It's ok to feel depress." 

Dan seorang bayi adalah a bundle of joy? Well, it's also ok to think that she is also a bundle of noisy shitty annoying demanding creature. 

Ohya, satu komentar yang sering saya dengar dulu, yang membuat saya bertanya apakah ada yang salah dengan diri saya adalah "Mengurus bayi itu paling enak. Dibawah satu tahun itu paling lucu. Nanti pas sudah balita, nah baru repotnya dobel- dobel."

Nah lho, mampus deh gue. Lha masih bayi saja Serafim sudah membuat saya stres, apalagi nanti pada waktu dia balita?Terrible two, kata orang.

Kalau memang masa bayi adalah masa paling menyenangkan bagi si ibu, then why the heck I didn't enjoy it? Dan ternyata, sebuah artikel di majalah ibu dan anak membuka mata saya. Bahwa setiap ibu mempunyai 'preferensi' atau kesukaan yang berbeda. Sebagian ibu paling menikmati saat si anak berusia dibawah enam bulan, sepenuhnya bayi kecil tak berdaya. Ada ibu yang menikmati fase balita kecil yang belajar berjalan dan tersaruk- saruk terjatuh. Dan meskipun mungkin lebih jarang, ada ibu yang seperti saya, yang jauh lebih menikmati porsi sebagai seorang pendidik daripada sebagai perawat.

Sementara tangisan bayi Serafim membuat saya jengkel karena tidak ada yang bisa saya lakukan (karena kan si bayi belum bisa diajak ngomong), tangisan meraung- raung balita Serafim adalah sesuatu yang menantang bagi saya. Sementara bagi banyak ibu seorang balita yang menangis meraung- raung di tengah mall adalah siksaan, tetapi tidak untuk saya. Karena saya suka menjadi pendidik. Tantrum si balita, adalah kesempatan bagi saya untuk mendidiknya. Bring it on!

Bukan berarti saya adalah ibu yang lebih baik dibanding ibu- ibu yang lain yang kewalahan dan marah saat melihat balitanya tantrum. Tapi karena kita memang berbeda. 

Menjadi ibu bagi big toddler Serafim sekarang adalah rangkaian perjalanan menyenangkan yang kami lalui berdua dengan berjongkok di perpustakaan dan bernegosiasi tentang berapa buku yang harus dibaca malam ini ("Can I have three mum? "No, ini sudah terlalu malam. Dua aja ya, besok baru tiga."). Meskipun saya selalu menuliskan dalam nada jengkel di status facebook saya, tapi saya menikmati setiap silat lidah yang saya lakukan dengan Sera, tersenyum geli melihat ketajaman mulutnya dan kecerdikan akalnya. Berdebat soal burung hantu yang seharusnya tidak terbang di siang hari dan akhirnya saya terpaksa mengakui bahwa buku cerita yang kami baca memang salah. "You're right Sera, burung hantu seharusnya tidak terbang di siang hari." Dan melihat Sera mengangguk puas sambil berkata "Yes, cause I'm smart Sera." Yang saya timpali "And very humble as well."

If only I know... Saya tidak perlu menghabiskan waktu untuk merasa bersalah...

 Don't expect motherhood will be enjoyable all the time - it won't - and don't see it as a project to be completed either.         

Dan hanya karena anda lelah, depresi, tidak berbahagia dan bertanya- tanya apakah keputusan untuk memiliki anak adalah keputusan yang tepat, bukan berarti anda adalah ibu yang tidak baik. We are less than perfect mum, we're just good enough. Hopefully we'll soon realize that being 'good enough' is exactly that - good enough.

Is your child happy, healthy and loved? You're a good mother and nothing else matter.



Sometimes, I hate being her mother. Sometimes I find motherhood is boring. And I'm less than perfect mum.That's alright.Good enough is good enough ^^ 

Monday 19 May 2014

My Monday Note -- Happy Mother's Day!

Di suatu sore menjelang jam pulang nguli, saya mengetuk pintu kantor bu wakil direktur untuk meminta ijin pulang lebih cepat di hari Jumat yang akan datang. "There is a mother's day afternoon tea in my daughter's kinder," kata saya menjelaskan.

Keluar dari kantor bu bos yang tentu saja memberi ijin, saya menggeleng- gelengkan kepala sambil bergumam kearah teman saya "Oh gee, suddenly I feel so old. Asking permission for afternoon tea with other mummies."

Pada hari Jumat pukul dua siang, saya melangkah keluar dari rumah sakit dengan cepat. Di dalam mobil, saat lampu lalu lintas berubah merah, saya membuka kotak makan siang dan menyendokkan salad ke dalam mulut. Makan siang harus dilakukan sembari menyetir, dan mungkin itu sebabnya menu makan siang orang Australia adalah salad dan burger, bukannya soto dan rawon xd.

Tidak lebih enak dari rawon tapi jauh lebih aman xd

Setelah mengemudi selama dua puluh menit, mobil saya memasuki tempat parkir kindernya si Sera. Biasanya, tempat parkir tersebut kosong melompong di siang hari, tetapi hari itu hanya tinggal tersisa dua spot kosong. Dan mobil- mobil yang datang setelah saya, mereka harus memarkir mobilnya di seberang jalan. Meraih dua kotak kue yang saya beli di supermarket, saya berjalan memasuki gedung kinder, dan memasukkan kode rahasia empat digit agar bisa membuka pintu gerbang depan (kode rahasia = kode pos daerah si kinder berada. Nggak keren kok memang). Memasuki area bermain para murid kinder, seorang anak perempuan yang sebaya dengan Serafim melihat saya dan berteriak "Sera, your mum is here!"

Sera yang sedang bermain bak pasir segera berlari menyambut emaknya sambil berseru "Mummy, mummy! My mummy is here!"

Dan kemudian saya dikerubuti beberapa anak, yang semuanya tampak tertarik pada kue cokelat yang saya bawa. "What is it, what is it?" tanya mereka.

Tak berapa lama, Liz si guru kinder menyuruh semua anak berbaris untuk masuk ke kelas. Sebelum acara minum teh, ternyata ada pertunjukan biota laut. Si Seaweed Sam, seorang pria dengan rambut gimbal yang menurut pengakuannya sendiri tidak pernah dikeramas selama lima tahun (saya jadi ragu mengenai standar kebersihan sekolahnya Sera, kok ya mengundang bintang tamu yang kemungkinana bersar berkutu) duduk di depan anak- anak dan mulai beraksi menunjukkan aneka pernak pernik makhluk laut yang dibawanya. Tulang dada ikan paus, ikan buntel, rahang hiu dan beraneka makhluk aneh- aneh lainnya. Para bocah kinder duduk di lantai sementara para oang tua dan kerabat duduk di bangku melingkar di belakang. Saya duduk bersebelahan dengan para emak yang lain dan para simbah yang salah satunya kebingungan mencari kacamatanya yang hilang.

Saya menikmati pertunjukan si rumput laut Sam, melihatnya berinteraksi dengan anak- anak. Dan saya lebih- lebih menikmati melihat si Sera duduk di baris terdepan, heboh mengacungkan tangan meminta kesempatan bicara, walau setelah diberi kesempatan dia hanya berkata "There is fish in the beach." Nyaris nggak nyambung xd.

Merubung si Seaweed Sam
Serius dengan ikan buntelnya


Sesudahnya, diadakan acara minum teh bersama, walau kok ya tidak ada setetespun teh yang dihidangkan. Kata orang Jawa, ngirit ya ngirit neng ojo ngono.

Pukul empat sore, saya menggandeng Sera pulang. Hatinya riang perutnya kenyang. Di tangannya tergenggam kotak perhiasan yang seharusnya menjadi kado untuk emaknya. Di lehernya melingkar kalung yang terbuat dari sedotan, yang seharusnya juga menjadi hadiah untuk emaknya. Keduanya sudah diklaim Sera sebagai miliknya.

Kalung yang seharusnya untuk emaknya

Jadi bagaimana rasanya menjadi seorang emak dari anak balita berumur empat tahun yang setiap hari selalu mengukur panjang kakinya ini (Sera adalah penganut teori bahwa kedewasaan seseorang ditentukan seberapa panjang betis orang tersebut)? Oh well, ternyata satu hal masih belum berubah sedari dulu, bahwa Sera mencintai emaknya lebih dari siapapun di dunia. Sejak Sera masih bayi, saya sudah menyadari bahwa baginya, emaknya adalah makhluk terpenting di dunia. Sama seperti semua anak balita kecil lainnya, seluruh dunia boleh binasa selama si emak dan pentilnya masih tersedia di sampingnya. Dan ternyata, hal tersebut masih belum berubah di usianya yang 4 tahun going to 40. Belum ada cowok alay atau bintang film Holiwut yang mengisi hatinya dan mengalahkan emaknya. Ha!! #puas.

Tetapi tentu saja ternyata ada hal yang mulai berubah. Sementara 2 years old Sera mencintai emaknya dengan segenap hatinya dan hanya ingin selalu berada di samping emaknya, 4 years old Sera (yang masih sepenuh hati mencintai Emaknya) tidak lagi puas menghabiskan seluruh waktunya hanya bersama saya. Mulai ada sosok- sosok lain yang mengisi hidupnya. Little David, little Mikayla, big Mikaela, Brown Mala, Liz the teacher, Dylan dan setumpuk makhluk- makhluk lain yang mulai sering disebut- sebut bibir mungilnya. Sera berubah  menjadi makhluk sosial yang craving untuk memiliki best friends. A lot of friends.

Si kecil Sera memang masih membutuhkan emaknya untuk memeluknya bila terbangun sembari menangis karena bermimpi buruk, tetapi bermain seluncuran ternyata lebih asyik bila dilakukan bersama David. Walau terkadang saya mengeluh kenapa si genduk ini cepat sekali besar, toh saya lega juga bahwa Sera mulai menemukan tempatnya diantara teman sebayanya, di dunia diluar emak bapaknya.

Acara afternoon tea di sore itu menjadi acara pertama di sekolahannya Sera yang saya hadiri. Dan ternyata acara tersebut membuat saya menyadari satu hal yang baru. Yang membuat saya berjanji bahwa no matter what, selama si Serafim masih kecil, tak peduli apa acara di sekolah atau perkumpulannya, I WILL HAVE TO COME! Wajib hukumnya untuk datang bagi para emak dan atau bapak.

Mother's day afternoon tea? Datanglah Mak!
Pentas seni Taman Kanak- kanak? Datanglah Pak!
Malam pembacaan puisi dimana si anak menjadi pemegang mikrofon? Datanglah!
Pentas drama dimana si anak menjadi pemeran utama batu di sungai? Datanglah!
Bazar sekolah penggalangan dana untuk menolong anak di Zimbabwe? Datanglah!
Pemberian penghargaan balita termontok tingkat RT? Datanglah!
Pentas musik di depan selusin penonton dimana si anak bertugas menjadi  pemain triangle? Datanglah

DATANGLAH, DATANGLAH, DATANGLAH!!!!
Tidak peduli seremeh apapun acara si anak, you have to come!

Seminggu sebelum acara, Serafim sudah sibuk merusuhi emaknya. Bahwa akan ada afternoon tea, akan ada hadiah untuk emaknya (It's a secret," katanya selalu sambil berbisik- bisik). Dan setiap kali saya berkata "Mama bakal datang lho ke kinder," Sera akan menari- nari gembira seperti kuda lumping kurang menyan.

Di hari dimana si afternoon tea maha penting yang mengalahkan jamuan teh di istana Buckingham itu digelar, saya tercengir- cengir. Teman- temannya si Sera (yang kebetulan orang tuanya belum datang) ikut datang merubung saat saya datang. Mereka berebut berbicara dan menarik perhatian saya. Apa yang paling dihebohkan oleh para balita ini?  Laporan pandangan mata terkait kedatangan para tamu istimewa hari itu; emak, bapak, kakek, nenek, aa, teteh, om dan kucing peliharaan.

"My mum is a bit late," lapor seorang bocah laki- laki berjambul. "Oh that's fine, you can play with your friends while waiting for your mummy," komentar saya.

"Look, that's Dylan mum," seru seorang anak sambil menunjuk- nunjuk dengan penuh semangat kearah sekelompok orang. Saya tersenyum sabar, sambil diam- diam menggerutu "Siapa nanya." *iya, saya memang nenek sihir.

"Karen mum cannot come," lapor Sera yang diiyakan teman- temannya. "Poor Karen," komentar Sera sedih, seolah mengabarkan bahwa si Karen baru saja divonis tidak akan hidup lebih lama lagi.

Saat Liz memanggil para kecebong ini untuk berbaris masuk kelas,seorang anak cowok kecil berambut pirang berseru- seru keseluruh penghuni dunia "That's my grandmother and my grandfather!" Berulang- ulang dengan wajah penuh kepuasaan.

Di dalam ruang kelas, Sera langsung duduk di barisan terdepan, disamping big Mikaela yang berwajah rada galak dan seorang bocah bernama Daniel. Kebetulan David (sahabat baiknya si Sera) sedang berlibur ke Shanghai. Kalau saja si David ada, Sera bakal dikekepin, anak lain dilarang mendekat!

Selama pertunjukan, perhatian Sera sih sepenuhnya tertuju pada si Seaweed Sam, but every now and then, Sera akan menolehkan kepalanya kearah emaknya, tersenyum puas sebelum sibuk lagi menyaksikan pertunjukan. Begitu juga semua anak lain. Terus menerus menoleh dan melirik ke keluarganya.

Aih, ternyata saya tidak hanya sekedar dicinta oleh balita saya. Balita saya, sama seperti semua balita lain di ruangan itu, ternyata menganggap orang tua mereka sebagai 'harta' yang membanggakan. Hari itu Sera tidak peduli dengan baju yang dipakainya. Sore itu ia tidak sibuk memamerkan aneka kuncir anehnya. Sore itu, hartanya yang paling berharga, yang ditatapnya setiap beberapa menit, yang diumumkannya dengan bangga kepada teman- temannya, adalah emaknya. Iya, emak tuanya yang sudah berkarat ini.

Sore itu, adalah sore dimana saya menjadi sumber kebanggaan si Sera. Betapa kehadiran emaknya means a lot for her. Dibangga- banggakan dengan seringai penuh kepuasaan. Dia merasa keren dan hebat hanya karena emaknya hadir! Ah, kalau saja bos saya sudah cukup puas dengan sekedar kehadiran saya... *keluh.

Jadi, acara seremeh apapun di sekolah atau kelas musik atau kelompok bermain bayi kecil anda, PLEASE DO COME. Your presence, mean the world for them. Funny thing that among all inhabitants of the world, you and only you that matter in your children's eyes.

Sementara Sera remaja mungkin akan lebih bangga bila konser musiknya disaksikan presiden Ameriki, Sera balita tidak akan peduli dengan keberadaan pria tua asing itu. Hanya jika emaknya (atau bapaknya atau simbahnya atau om tantenya) yang menyaksikanlah, yang akan sangat berarti baginya.

Anda harus menjaga si adik di rumah? Titipkan si bayi ke tetangga.
Anda harus bekerja? Minta ijin.
Bos tidak bakal memberi ijin untuk sekedar ke acara dansa balita? Telepon di pagi hari, bilang tak bisa datang ke kantor karena terkena penyakit kelamin.
Hari ini ada rapat penting? Berkeras bahwa menurut Ki Joko Bodo hari rabu bukanlah hari yang tepat untuk rapat. Tidak sesuai dengan shio anda.
Lagi sakit? Datang sambil mengajak ambulans untuk berjaga- jaga.

Benar- benar tidak bisa datang? Mintalah kakek nenek atau om tante untuk datang menggantikan.

Karena bagi para balita kecil ini bukan emak yang cantik rupawan atau bapak bermobil BMW yang paling membanggakan (itu sih nanti kalau mereka sudah beranjak remaja dan berubah alay) melainkan sekedar bahwa si emak dan bapak datang ke acara super pentingnya.

Saya sudah sering melihat tatapan penuh cinta dari Sera, tetapi Jumat kemarin, untuk pertama kalinya saya menyaksikan tatapan penuh kebanggaan. Hey world, look at my mummy!!! 

I am Sera's treasure xd.

And it won't last forever. Embrace it while you can. Sebentar lagi, dia justru akan mendengus kesal kalau emaknya tahu- tahu nongol di sekolahnya, hahahaha....