Monday 19 December 2011

My Monday Note -- GTFI (Googling The Fu*k*ng Info) !!

Namanya manusia, kita adalah makhluk sosial. Kita suka pelajaran ilmu sosial, kita suka ikut bakti sosial, dan kita suka saling bersosialisasi. Dan tentu kita suka bertanya pada orang lain; warung sate mana yang paling enak, lebih menguntungkan pake SIM card apa, de el el. Dan meskipun saya bukan seorang ahli juga, tapi saya juga sudah pernah merasakan menjadi 'sumber info' bagi orang lain. Biasanya, orang akan bertanya masalah bayi (karena saya sudah punya balita dua tahun) dan masalah seputar bagaimana caranya bermigrasi dan menetap di luar negeri.

Apakah saya senang bisa berbagi info? Surely. Saya akan ikut senang kalau turut andil membuat seseorang menjadi lebih mantap untuk memberikan hanya ASI bagi newbornnya. Saya juga senang kalau karena saya, orang akan terbuka wawasannya akan kemungkinan bekerja di negara lain. Indahnya berbagi...... (kayak iklannya zakat). Tapi, karena hal ini pula saya jadinya terkadang ingin berteriak "Please oh please, googling the fuc***g info!!!!!!!" Begini ilustrasinya.

Pemeran : Saya (ibu dari balita dua tahun) dan teman kantor di Jakarta dulu (sedang hamil)

Scene : saat hamil 7 bulan

Teman : Kamu dulu ngasih ASI saja ya sejak Sera baru lahir? Emang cukup ya ASI saja? (datang ke saya dengan pengetahuan soal ASI sekosong otaknya anjing saya)

Saya : Mulai menerangkan A-Z soal ASI dan mencoba meyakinkan si newbie ini (berapi- api penuh semangat). Saya menerangkan mulai soal mitos ASI yg gak keluar, saya memberi info tentang berbagai tipe RS dalam hubungannya soal ASI, soal tantangan yang akan dia hadapi dari orang terdekatnya. Pokoknya ndower bibir saya.

Scene : saat anaknya baru lahir

Teman : Menghubungi hp saya setiap 10 menit karena ASI nya gak keluar, susternya nggak mau ngajarin, mertuanya dan emaknya ngegerecokin, bayinya ditaruh di ruang bayi jadi sering dikasih sufor, suaminya nggak tega denger bayinya nangis karena lapar, bla bla bla bla bla....

Saya : Mulai bertanya- tanya dalam hati. Kayaknya saya sudah menyinggung semua hal yang dia tanyakan ke saya. Saya sudah menyarankan dia untuk mencari- cari info dengan lebih detil, dan menginformasikannya ke suaminya juga, jadi pas saat lahiran semuanya siap. Tapi for the sake of the little bub, saya jawab juga pertanyaannya.

Dan kemudian teman saya itu berkata bahwa saat dia mencoba meyakinkan keluarganya masalah ASI ini, dengan ketus suaminya menjawab "Emangnya teman kamu itu dokter apa, kok kamu percaya banget?"

Saat mendengar komentar suaminya, tentu saya jadi jengkel juga. Sudah saya berbaik hati menerangkan kanan kiri depan belakang, eh dikatain untrustable lagi >:(. Tapi kalau dipikir-pikir, sebetulnya apa yang suaminya katakan itu benar juga kan? Siapa sih saya ini, bukan dokter, bukan bidan, bahkan sekedar dukun beranak pun bukan. Saya hanya sekedar teman yang sudah punya anak duluan. Plus tampang saya kan memang kurang meyakinkan. Apa jaminannya pendapat saya itu benar?

Dan sehabis itu, setiap ada masalah, maka ia menghubungi saya. Enaknya mompa pakai alat atau pakai tangan? ASI itu tahan di freezer berapa lama? Menyimpan ASI pakai apa? Bla bla bla. Dari yang mulanya maklum, saya jadi bertanya- tanya, ni cewek ngarti yang namanya internet gak sih? Bisa googling gak sih? (Tapi secara dia punya FB dan skype, saya harus berpikiran positif bahwa dia ngerti dong?). Kalau saja dia googling sebentar saja, dia akan tahu berbagai pendapat tentang tempat yang bisa digunakan untuk menyimpan ASI di freezer, dan bisa memilih pendapat mana yang cocok untuknya. Dan tidak bingung sendiri saat menurut saya menyimpan ASI di botol kaca bertutup karet kodian itu tidak disarankan, sementara banyak temannya yang menggunakan botol kaca itu untuk ASI nya. "Jadi boleh gak sih Meg?" tanyanya bolak- balik dengan bingung. Sumpah kalau tidak ingat seorang bayi tak berdosa yang bakal jadi anak yatim, sudah saya penggal kepalanya ni teman saya.

Tapi okelah, namanya ibu hamil dan baru saja melahirkan itu kan memang tidak bisa dipercaya kesehatan mentalnya. Mungkin dia sudah seperti setengah zombie karena sewaktu hamil susah tidur karena sakit punggung, dan ketika bayinya sudah lahir lebih kagak mungkin lagi tidur karena bayinya nangis melulu seperti sapi digorok. Dan kemudian seorang teman saya, yang lulusan S1, yang ngakunya ingin sekali sekolah keluar negeri, mulai bertanya- tanya kepada saya. Saya sendiri pernah mengalami seperti yang ia alami, dan terkadang memang bingung hendak memulai darimana untuk mencari info dan pilihan. Apa sebaiknya mencoba mencari beasiswa, atau biaya sendiri? Di negara mana? Ambil jurusan apa?

Saya mencoba membantunya untuk mengetahui pilihan apa saja yang dia punya, dan info apa saja yang harus dia cari. Misal, kalau biaya sendiri, ya dia harus cari info tuition fee dan biaya hidup. Plus kalau dia mengharapkan kerja di negara itu dulu, ya dia harus cari info tentang peraturan imigrasinya. Mau beasiswa? Ya coba ikut milis beasiswa dan buka laman- laman beasiswa (bejibun jumlahnya). Dan saya memberi pandangan bahwa dengan statusnya dia yang pekerja swasta di Jakarta, biasanya agak susah, karena kebanyakan beasiswa ditujukan untuk mereka yang berasal dari Indonesia Timur, atau yang dosen, atau pegawai negeri, atau pekerja LSM. Jadi ya dia harus punya 'sesuatu yang unik', yang membuat pemberi beasiswa tertarik untuk membiayainya.

Seminggu kemudian, teman saya ini menyapa saya lagi. Dan pertanyaannya adalah "Kalau aku mau dapat beasiswa di Australia enaknya gimana ya?" Dari pertanyaannya saja saya sudah bisa menebak bahwa dia pasti datang dengan otak masih kosong. Saya coba bertanya dia sudah mencari info apa saja dan apakah sudah ada pandangan yang mau diincarnya itu yang mana. Seperti dugaan saya, dia hanya muter- muter dengan pengetahuan dangkalnya, salah satunya tentang beasiswa AUSAID yang memang paling populer kan di kalangan kita. Saya (dengan mulai gondok) bertanya apakah dia sudah tahu 'nature' dari beasiswa AUSAID itu ditujukan untuk siapa? Lalu apa saja syaratnya? Sudah lihat formnya belum? Sudah tahu apa yang mau 'dijual' belum? Dan tentu anda bisa menebak jawabannya si sarjana tengil ini.

Walaupun saya sering rada gondok menghadapi mereka yang datang ke saya dengan tanpa modal pengetahuan, dan saat kemudian datang lagi tetap tidak lebih berisi, saya berpikir bahwa ini sih sayanya saja yang enggak sabaran. Sampai kemudian, di sebuah milis beasiswa, sang moderator milis mengirimkan email berupa keluhan. Emailnya intinya adalah bahwa dia heran, kenapa begitu banyak pertanyaan yang dikirimkan ke milis ini adalah:

1. Pertanyaan yang dangkal. Yang sebetulnya hanya dengan memencet tombol keyboard di laptop beberapa saat saja jawabannya sudah akan terpampang di laman google atau yahoo atau mesin pencari manapun. Seperti bertanya Monas itu terletak di propinsi mana sih? Yaelah...

2. Pertanyaan yang gak jelas. Ya seperti pertanyaan si sarjana bego teman saya tadi. Gimana ya caranya dapat beasiswa? Ini sama seperti pertanyaan gimana ya kalau mau ke Monas? Ya bakal balik ditanya kan, lha kamu tu dari arah mana, sudah di Jakarta atau kamunya masih di Kalimantan? Trus mau lewat darat laut atau udara? Budgetmu berapa?

Pertanyaan- pertanyaan 'kurang cerdas' seperti itu hanya menunjukkan bahwa yang bertanya itu belum mencari info sama sekali, belum tahu maunya apa, dan bikin gondok yang ditanya. Milis ini niatnya untuk berbagi pengalaman dan mencari info akan sesuatu yang 'advance' seperti kok aplikasi saya ditolak ya oleh universitas A karena masalah anu, apa ada yang punya pengalaman? Bukan pertanyaan ecek- ecek semacam kalau mau kirim aplikasi lamaran itu ke alamat mana ya?

Seorang pengarang yang saya kenal juga pernah dengan heran mengeluh kenapa banyak pertanyaan yang sebetulnya gampang dicari jawabannya harus ditanyakan ke dia via FB nya. Seperti pertanyaan kalau mau mengirim naskah buku, ke alamat penerbitnya dimana ya? Doh, tinggal klik di google alamat penerbit juga bakal muncul. Atau kalau dia memang calon penulis novel, berarti kan dia sudah terbiasa membaca novel, berarti kan dia terbiasa pergi ke toko buku. Di masing- masing buku itu ada alamatnya si penerbit, aduhai adinda calon pengganti JK. Rowling.....

Saya baru merasakan bedanya ditanya oleh mereka yang sudah meluangkan waktu untuk mencari info dan kemudian mengajak berdiskusi saat suatu kali, seorang sahabat SMA saya yang sekarang tinggal di Singapura datang berkunjung kesini. Dia membawa anaknya yang juga masih balita. Dan kemudian, sebagai layaknya calon wisatawan, dia bertanya- tanya mengenai objek wisata apa saja yang enak untuk didatangi disini. Saya sudah menyiapkan jawaban dengan asumsi ni teman seperti kebanyakan orang Indonesia, bertanya dengan pengetahuan nol. Eh, ternyata dia sudah mencari info lengkap di internet. Jadi instead of bertanya "Enaknya aku kemana ya?" dia bertanya apakah peternakan ini (yang dia sudah catat info lengkapnya dari website) menarik untuk dikunjungi seorang balita atau tidak? Jadi dia bertanya ke saya akan hal- hal yang tidak bisa dia temui di internet, dia bertanya pendapat saya sebagai seseorang yang sudah pernah kesana. Dan berdiskusi dengan orang yang sudah punya ilmu itu ternyata jauh lebih menyenangkan. Dia bertanya pendapat saya tentang children garden (di website tampak menarik), dan saya bisa menjawab cukup oke tapi cukup sejam saja untuk menjelajahnya. Dan dia bertanya apakah saya punya tempat lain yang belum dia ketahui. Saya serasa berdiskusi dengan seorang dewasa, bukan anak TK yang harus saya ajarin dari A-Z. (Note: teman saya ini pintar buanget, dulu NEM tertinggi seJatim, dan saat kami duduk bersebelahan di bis yang akan membawa kami ke tempat retret, dia mengajak saya berdiskusi mengenai gaya sentrifugal dan sentripetal -- saya masih ingat penderitaan saya kala itu, berusaha untuk tidak tampak terlalu dungu dihadapannya. Apa memang harus jenius dulu sih baru seseorang mau membuka internet mencari info?)

Selain tentu bisa membuat yang ditanya jengkel, bertanya dengan pengetahuan kosong itu merugikan kita sebagai penanya juga. Contohnya saat seorang teman saya bertanya mengenai pendapat saya tentang kontroversi imunisasi yang sedang gencar saat ini. Saya, tentu memberinya keterangan sebatas yang saya tahu, sebatas apa yang sudah saya baca, dan yang lebih parah lagi, tentu sebatas apa yang saya percayai. Karena saya orang yang pro dengan imunisasi, maka tentu jawaban saya berat sebelah, sadar tidak sadar ya arahnya setuju dengan imunisasi. Padahal mungkin kalau teman saya itu mencari sendiri infonya, membaca berbagai report dari WHO, UNICEF, atau IDAI atau apalah penelitian dari universitas mana, dia mungkin akan sampai pada kesimpulan bahwa dia sebetulnya tidak ingin memberi vaksin anaknya.

Dan seperti teman saya yang bertanya soal ASI, karena ia hanya mendapat info dari saya, ya ia tidak mempunyai dasar yang kuat. Diserang ibunya sedikit saja sudah bingung darimana dasar teori pemikirannya bahwa bayi hanya boleh diberi ASI selama 6 bulan pertama. Lha dasar teorinya hanya "Katanya si Mega." Saya tidak menyalahkan keluarganya yang meragukan kesahihan informasi dari saya. Lha saya itu siapa? Dan yang bikin bete, lalu si teman akan berkata "Kamu YAKIN kan Meg? Emang bener kan bayi hanya boleh dikasih ASI?" Lha yang jadi emaknya ni bayi siapa? Kok saya yang ditodong harus yakin bahwa hal itu benar?

Kalau saya yang diserang, karena saya sudah membaca ratusan laman, saya bisa dengan pede berantem. Bahwa WHO sekarang sudah dengan jelas menuliskan memberi ASI saja sampai 6 bulan. Alasannya? Karena penelitian dari si A dan si B menunjukkan bahwa bayi yang hanya diberi ASI saja selama 6 bulan akan lebih kecil kemungkinan terkena diare, dan memperkecil resiko terkena diabetes dan penyakit endokrin lainnya di usia dewasa. Saya akan maju dengan lebih yakin karena saya diback-up pengetahuan ilmiah dari sumber terpercaya. Bukan karena saya lebih pandai dari teman saya tadi, tapi semata karena saya meluangkan waktu untuk MEMBACA. Pendapat orang lain adalah masukan berharga, tapi mendasari keputusan hanya dari mendengarkan pendapat- pendapat orang karena anda terlalu malas untuk mencari tahu sendiri? Um, kasarkah kalau saya sebut itu bodoh dan malas?

Okelah mungkin membaca ratusan laman itu terlalu makan waktu, kan kita orang sibuk (nonton Cinta Fitri, baca FHM, mikirin gimana caranya ngupdate status FB tiap 10 menit). Tapi saat saya mengirimkan sebuah link website ke saudara saya tentang suatu acara yang sudah berbulan- bulan ingin dihadirinya, dan dia langsung membalas email saya dengan bertanya Kapan acaranya? Bayar nggak? Dimana acaranya? Rasa- rasanya saya ingin langsung melempar wajahnya dengan panci butut saya. Apa gunanya saya beri link kalau tidak dibaca sama sekali? Itu sudah direct link langsung ke info yang dia butuhkan lho! Kurang apa coba?

Jadi sekarang, saat seseorang seperti si sarjana tengil datang ke saya dengan pertanyaan dangkal bin setumpit, saya akan meresponnya dengan mencarikan sebuah link yang sederhana dan berguna, dan mengirimkannya ke si penanya dengan keterangan "Baca dulu, lalu mari berdiskusi." Satu link itu akan saya jadikan filter, kalau si penanya tidak mau membacanya dan kemudian datang lagi ke saya dengan otak masih melompong, ya berarti dia hanya akan membuang- buang waktu saya. Don't expect me to do your homework just because you're too lazy or 'busy'. Iya kalau jaman dulu, kita harus susah payah ke perpustakaan dan membuka buku setebal bantal. Lha sekarang kan apa sih yang gak ada di google?

Saya maklumlah kalau yang bertanya itu memang pendidikannya rendah, atau computer illiterate, tapi kalau dia seorang sarjana juga, dan tiap 5 menit update status di twitter, kan ya kebangetan kalau sekedar bertanya Monas itu terletak dimana. Kalau dulu para anggota perkumpulan LINUX memakai istilah RTFM untuk menjawab mereka yang tidak mau membaca manual, saya sekarang akan menjawab GTFI bagi para pemalas yang enggan mencari info di google.

Note: tapi sampai sekarang, saya masih bertoleransi kalau yang bertanya adalah seorang ibu tentang ASI atau apapun. Ya masak karena ibunya malas berusaha dan membaca, lalu anaknya yang harus menderita? For the sake of the little baby, saya biasanya menahan amarah saya akan kemalasan ibunya mencari info. Dan di malam hari, saat kami berbaring berdampingan sebelum tidur, gantian saya yang marah- marah ke si Okhi sebagai pelampiasan. Life is beautiful.... (for me, not him)

Monday 12 December 2011

My Monday Note -- Mertua vs Menantu

Beberapa abad yang lalu, saat saya baru saja lulus kuliah, saya sedang duduk nongkrong- nongkrong bersama beberapa ekor sahabat saya. Saat itu, kebanyakan dari kami sudah berstatus punya pacar yang cukup serius. Belum sebegitu seriusnya untuk menentukan tanggal pernikahan, tapi ya cukup serius untuk tidak melirik cowok- cowok lain (dengan terang- terangan). Seorang sahabat saya saat itu sedang gundah gulana bin merana. Jadi ceritanya, sang cowok pacarnya yang sudah lulus kuliah, mulai menunjukkan sinyal- sinyal mau serius. Masalahnya adalah, disuatu kencan mereka di keremangan senja (halah gombal banget sih), si cowok berkata " Nanti kalau kita baru nikah, kita tinggal dulu ya barang setahun di rumahku. Ibuku pingin ngajarin kamu dulu biar tahu gimana kebiasaanku. Gimana masak sayur singkong yang kusuka, ya gitulah."

Kami terdiam sejenak, dan detik berikutnya meledaklah tawa kami. Alasan utama, karena mukanya si teman ini lho, merana sangat. Persis kutu kucing kelindes truk tronton. Dan tentu saja kami tertawa karena mau tidak mau geli juga membayangkan sang ibu mertua akan berubah menjadi mentor dan instrukturnya dalam belajar caranya menyenangkan suami (kata pepatah, hal yang menyedihkan itu lucu selama bukan kita yang mengalami :D).

Saya kemudian melupakan obrolan di gazebo kampus itu (dan entah kenapa teman saya itu kemudian putus dari pacarnya, jadi batallah rencana mentor bersama mertua) sampai beberapa hari lalu, seorang bekas teman sekantor saya di Jakarta dulu, yang baru saja punya bayi pertamanya, menyapa saya. Dia menanyakan beberapa yang ada kaitannya dengan bayi, karena kan saya sudah seperti kaum tetua yang berpengalaman (sombong karena punya bayi yang sudah 2 tahun). Setelah kami bercakap- cakap soal makanan apa yang sebaiknya diberikan ke bayi pertama kali dan tetek bengek per-bayi-an lainnya, sampailah dia pada inti permasalahan terbesarnya dalam merawat bayinya. Bukan, bukan soal ASI nya yang nggak keluar, atau harga diapers yang selangit, atau soal keharusan bangun setiap dua jam di malam hari. Masalah terberat yang membuat teman kantor saya cembetut adalah: IBU MERTUANYA YANG HOBI NGEGERECOKIN. Huahahahha, lha kok balik lagi ke urusan mertua.

Meskipun menurut teman saya sumber permasalahan dalam hubungan mertua menantu yang dialaminya adalah perilaku mertuanya yang sok ngatur, bawel dan suka ikut campur (dan image itu yang banyak tertanam di otak kita, thanks to sinetron Indonesia :D), tapi bagi saya sih konflik menantu mertua adalah suatu keniscayaan dalam hidup.

Saat saya memutuskan untuk menikahi Okhi, berarti saya mendapatkan paket sampingan; keluarganya Okhi. Dan paket yang paling 'menarik' pastinya emaknya Okhi dong. Saya harus konsekuen untuk mencintai emaknya, dan berusaha memperlakukan mamanya Okhi seperti mama saya sendiri. Dan beliaupun akan berusaha menerima saya seperti anak kandungnya. Kami berdua adalah dua orang perempuan, yang berbeda generasi, yang berbeda budaya dan nilai hidup yang dianut, berbeda pandangan mengenai mana yang pantas dan mana yang tidak sopan (mungkin menurut mertua makan itu harus di meja dengan rapi bersama- sama, sementara si menantu merasa makan ya boleh di ruang santai sambil ongkang- ongkang kaki). Secara natural, kita akan memilih berdekatan dan berhubungan dengan orang yang membuat kita nyaman. Tapi seorang mertua dan menantu, mereka disatukan bukan karena kesamaan pandangan atau kecocokan sifat, tapi semata karena cinta mereka pada satu pria (anaknya si mertua, suami si menantu).

Sudah belum tentu sifatnya cocok dan nilai yang dianut sama, seorang mertua dan menantu kemudian diharapakan mempunyai hubungan yang sehangat ibu dan anak kandung, tapi lebih sopan dan beradab dari hubungan ibu dan anak kandung. Dan sebagai layaknya seorang ibu ke anaknya, ya secara natural seorang mertua mempunyai kecenderungan untuk 'menasehati' dan memberikan komentar yang terkadang sok ikut campur bin menyebalkan (persis kelakuan emak kandung kita kan). But here is the problem; saya bisa dengan leluasa berantem dengan emak saya atau bersilang pendapat sambil cemberut saat kami berbeda keyakinan. Lha kalau sama mertua saya? Ya mana bisa dong? Pasti mertua saya bakal syok kalau disaat beliau mengusulkan Sera diberi susu formula dulu, dan kemudian saya menjawab dengan gaya saya biasanya saat menjawab emak saya: "Mama tu katrok kok memang. Itu kan jaman dulu, bayi harus dikasih susu formula. Sekarang tuh malah harus ASI. Gimana sih mama ini, ketinggalan jaman!" Kenapa saya curiga mertua saya bakal terkena stroke mendadak ya kalau saya menjawab dengan gaya begitu?

Plus, selama belasan tahun kehidupan si Okhi, mamanya adalah 'ratu' yang menentukan dari mulai si Okhi harus sarapan apa sebelum berangkat sekolah hingga kapan saatnya membeli kaus kaki baru untuk menggantikan yang lama yang telah berlubang dan beraroma bangkai tikus. Nah sekarang, gantian saya yang ingin menempatkan diri sebagai dirigen dalam orkestra rumah tangga saya, yang ingin berkuasa untuk memutuskan apakah hendak membeli cabe merah atau cabe hijau. Dan seperti mamanya Okhi berkuasa menentukan jajan apa yang boleh dibeli Okhi di warung, saya sekarang ingin berkuasa menentukan apakah anak saya boleh diberi es krim dan permen. Dengan seorang former queen yang menobatkan diri sebagai penasehat perkawinan dan seorang queen wannabe yang belum tentu tertarik untuk dinasehati, dan dua makhluk ini berada dalam satu scene, dan seseorang berharap tidak akan ada konflik yang terjadi whatsoever, yah bagi saya itu seperti mengharapkan serigala berbulu domba, semangka berdaun sirih. Naif binti sukiyem namanya.

Tentu saja ada juga pasangan mertua menantu yang kompak tanpa konflik. Itu saya sebut sindrom kurva normal. 10% dari populasi adalah mertua menantu yang kebetulan karena takdir sangat cocok dan lengket bak perangko. 80% adalah mereka yang seperti saya dan mertua saya (biasa-biasa saja, tidak bisa disebut sohib dekat tapi juga bukannya saling benci) dan 10% lagi benar- benar bak iblis (saling melotot dan meracun kayak di sinetron).

Kalau memang hubungan seorang mertua dan menantu (perempuan) memang rawan konflik, lalu kenapa ada yang sampai saling sakit hati dan bermusuhan sementara ada juga yang biasa- biasa saja (kadang bersilang pendapat tapi bisa hidup dengan damai dan ayem tentrem)? Bagi saya, ada tiga hal yang biasanya menjadi penentunya.

Yang pertama, tentu seberapa berbedanya pandangan hidup, budaya dan nilai yang dianut seorang mertua dan menantunya. Semakin berbeda, ya semakin besar kemungkinan berantemnya. Juga sifat mereka, kalau yang satu pengalah misalnya, atau cuek, ya mungkin akan lebih santai dalam menghadapi pihak satunya. Tapi kalau dua- duanya ngotot dan gampang angot seperti saya, ya bakal gampang meleduk seperti granat yang akhir- akhir ini disamarkan menjadi tabung LPG ijo cilik oleh pemerintah.

Yang kedua, tentunya jarak yang memisahkan antara si menantu dan mertua. Saya pikir, semakin lama seorang menantu tinggal bersama mertua (apalagi di rumah mertua), maka akan semakin besar peluang untuk 'bermusuhan'. Sebetulnya bukan semata karena mertua dan menantu memang ditakdirkan bergesekan, tapi seperti kata pepatah, siapapun yang bertamu dan tinggal di rumah seseorang lebih dari tiga hari, pasti akan menimbulkan gesekan. Di sebuah cerita di donal bebek, saat Gufi menumpang di rumah Miki yang adalah sohib sejatinya, maka semuanya berakhir dengan bencana. Miki yang rapi, bersanding dengan Gufi yang berantakan. Mikinya marah, Gufinya marah. Dan untuk pertama kalinya, hubungan mereka menjadi tegang dan saling membenci. Semata karena tinggal bersama dalam satu rumah.

Ini hanya cerita dua orang sahabat yang bisa lebih berterus terang antar satu sama lainnya. Bayangkan kalau itu mertua saya, yang tentu tidak bisa saya ajak bicara terang-terangan (karena beliau kan bukan sahabat saya), yang pastinya sekali dua kali ingin memberi nasehat seperti layaknya seorang ibu terhadap anaknya dan mungkin hanya ingin menunjukkan cara membuat dadar jagung yang enak seperti yang disukai Okhi (sementara bagi telinga si menantu seolah si mertua menunjukkan bahwa dadar jagung bikinan mantunya enggak enak rasanya).

Dan yang terakhir, tentu sikap si suami dalam menghadapi konflik ini. Dalam urusan mertua menantu ini, mau tidak mau, suka tidak suka, si suami akan memegang peranan besar. Banyak teman saya yang jadinya lebih merasa jengkel lagi karena bukan saja merasa mertuanya ngegerecokin, tapi lebih lagi suaminya tidak membelanya. Atau malah membela emaknya.

Nah, karena saya lebih suka mencegah daripada mengobati (plus saya kan pengecut orangnya), maka saya pikir- pikir seharusnya masalah dengan mertua ini sudah harus diantisipasi jauh- jauh hari. Kalau perlu sebelum menikah, setelah menemukan kata sepakat untuk masalah penting semacam istri boleh kerja gak dan mau punya anak berapa biji, nah lanjutkanlah perbincangan mengenai urusan mertua ini.

Saya dulu dengan naif berpikir bahwa saya tidak akan bermasalah dengan mertua saya, karena saya orang yang cuek dan ibu mertua saya bukan ibu yang bawel. Tapi Okhi, yang mungkin jauh lebih mengenal saya dan emaknya, dengan tegas berkata bahwa sehabis kami menikah, maka kami harus tinggal somewhere else. Boleh ngontrak rumah ringsep di tengah hutan, atau bahkan kalau terpaksa tinggal di rumah bapak saya, tapi sama sekali tidak boleh tinggal di rumahnya dia. Dalam keyakinannya Okhi, nggak mungkin mertua dan menantu cewek tinggal satu rumah tanpa gesekan (walau saya tahu alasan sesungguhnya adalah okhi malu ketahuan betapa tidak becusnya istrinya dalam segala hal :D).

Oke, maka tinggallah kami di rumah kami sendiri, istana kami, yang di suatu hari yang cerah, dengan tiba- tiba separuh lantai garasinya runtuh ke sungai, dan tembok belakang halaman rumah kami ingin meniru miringnya menara Pisa. Tapi itu cerita yang lain. Life is beautiful. Dan kemudian saya punya Sera. Dan kemudian mama mertua saya menginap untuk membantu saya merawat Sera. Dan bahkan dengan seorang ibu mertua yang tidak bawel dan sifat saya yang cuek, perbedaan pendapat tidak bisa dihindari. Saya sempat jengkel dan saya yakin mertua saya juga sempat gondok.

Menurut penerawangan saya, tentu idealnya adalah saat pasangan menikah, maka mereka tinggal sendiri, terpisah dari kedua orang tua. Masak berani ngawinin anak orang nggak berani bayar tagihan listrik sendiri sih? Mau rumahnya serungsep kandang bebek juga tetap asyik, kan bisa lari- lari telanjang berdua mengitari rumah (Bolywood versi Vivid itu namanya). Dan kalau karena satu dan lain hal memang kondisi tidak memungkinkan misalnya untuk tinggal sendiri, maka bagi saya lebih baik tinggal di rumah orangtua si cewek. Bukan masalah nggak adil sih, tapi yang mempunyai kemungkinan berantem paling besar kan memang menantu dan mertua cewek. Mungkin karena cewek yang lebih mengurus masalah domestik tetek bengek, mungkin karena pada dasarnya cewek lebih bawel dan perasa. Kayaknya jarang saya dengar suami bertengkar dengan mertuanya. Dan kalau memang kondisi memaksa (mertua sakit misalnya) untuk tinggal di rumah orang tua yang cowok, ya jangan bersifat naif dengan keyakinan tidak akan ada gesekan yang akan timbul. Mungkin sejak awal sudah harus disiapkan strategi untuk meminimalkan konflik.

Bagaimana kalau calon suaminya adalah tipe pria kesayangan mama? Yang ingin supaya istrinya belajar dari mamanya di segala bidang seperti mantan pacar teman saya itu? Nah bagi saya, salah satu hal paling indah dari menikah kan petualangannya. Kita seolah menjelajah sebuah tempat yang selama ini belum pernah kita datangi. Setiap hari, ada hal baru yang kita temukan. Hal baru yang membuat semakin bangga (seperti ternyata suami kita terampil memperbaiki berbagai alat elektronik) atau yang malah membuat kita jengkel (seperti ternyata suami kita mempunyai kemampuan mengorok kelas dunia). Kalau unsur kejutan dan petualangan ini kemudian dirampas karena mertua ingin menunjukkan semua hal yang ada pada diri suami, lalu apa menariknya lagi? Mana yang lebih menarik, mencoba memasak berbagai makanan dan pada akhirnya disuatu sore suami saya menemukan bahwa sup ikan saya ternyata enak juga, atau duduk disamping mertua dan mencatat DO's dan DONT's dalam memasak untuk suami? Suami saya sangat suka dadar jagung buatan emaknya, tapi saat menikah dengan saya, bukankah dia punya kesempatan untuk menemukan ternyata dia suka juga makan sayur pakis (yang tidak pernah dimasak di rumahnya). Atau menemukan restoran bebek yang enak (yang belum pernah didatangi dengan emaknya).

Kalau saat menikah seorang pria ingin istrinya menjadi duplikat emaknya, ya seperti becandaannya orang Betawi, "Sono, kawin aja sama emak lu." Kalau suami saya berharap saya belajar berbagai hal dari ibunya, maka dia harus fair dan menuruti permintaan saya ini. Kalau ia berharap saya mengikuti SEMUA jejak emaknya instead of mencoba cara saya sendiri; bagaimana cara menyiapkan sarapan, bagaimana cara mencuci baju, bagaimana cara memperlakukan suami, maka pelajaran itu harus tuntas. Saya juga akan minta mertua saya menunjukkan bagaimana cara beliau beraksi di ranjang dan seperti apa pilihan beha dan celana dalamnya agar bisa saya tiru. Nah, sekarang baru fair kan. Suami saya akan mendapatkan duplikat emaknya dalam segala aspek kehidupannya :D.

Bagaimana kalau si suami merasa emaknya adalah ibu yang paling hebat, jadi dia lebih percaya pendapat ibunya daripada istrinya dalam merawat anak misalnya? Saya pribadi sih akan sangat bahagia bila mendapatkan suami yang sayang dan hormat pada emaknya, yang mempunyai hubungan hangat dengan orang tuanya. Karena itu menunjukkan calon suami saya mempunyai pandangan positif akan hidup berkeluarga. Dan sayapun tentunya tidak keberatan belajar banyak hal soal anak dari mertua yang memang sudah lebih berpengalaman. Dan saat suami saya berkata ibunya adalah ibu terhebat, saya akan mengangguk- angguk setuju.

Tapi, ibunya adalah ibu terhebat bagi anaknya, yaitu suami saya. Bagi anak saya, ya seharusnya sayalah ibu terhebat baginya kan? Untuk apa calon suami saya ingin menikahi saya kalau ia tidak yakin akan kemampuan saya untuk menjadi ibu dan istri yang terbaik? Jadi bila seorang pria tidak yakin sekali bahwa saya akan menjadi pendidik terbaik bagi anak kami, bila seorang pria tidak mempercayai kemampuan saya untuk memilihkan makanan apa yang terbaik bagi anak kami, ya jangan menikah dengan saya.

Saat seseorang memutuskan menikahi saya, dia harus memiliki keyakinan bahwa saya akan menjadi ibu terhebat bagi anaknya, dia harus lebih mendengarkan pendapat saya dibandingkan semua orang lain, dan apa yang saya inginkan dan harapkan haruslah THE MOST MATTER di telinganya. Lha kan saya adalah orang yang akan membangun masa depan bersamanya, satu- satunya orang yang akan melihat isi dalam celananya, satu- satunya orang yang swarga nunut neraka katut? Pastinya saya juga harus menjadi orang yang paling dia percaya dan dengarkan dong. Dan itu juga gunanya pacaran aka penjajagan sebelum kawin kan, untuk menemukan bahwa kita memiliki kesamaan misi, visi dan taksi sebelum berkongsi.

Apakah memangnya saya tidak mungkin salah dan mertua yang benar? Ya enggaklah, saya kan bukan malaikat. Hanya sebetulnya kebanyakan masalah yang timbul adalah perbedaan cara pandang semata, enggak ada yang salah dan benar.Seperti mungkin mertua terbiasa makan dengan gaya rada formal di meja makan bersama- sama sementara si menantu dibesarkan dengan kebiasaan makan di ruang keluarga rame- rame. Dan mungkin sekedar perbedaan cara si mertua merawat anak di tahun 80an dulu, dengan metode yang ada sekarang. Soal paling gampang ya soal ASI misalnya, atau dulu anak umur 4 bulan sudah diberi makan sementara sekarang harus menunggu 6 bulan. Atau bagi mertua si cucu harus digendong saat menangis sementara emaknya tidak mau begitu. Ya, beda orang beda caranya kan?

Kalau sudah begini, saya bersyukur juga dengan cara si Okhi. Yang sejak awal dengan tegas menetapkan semua keluhan, saran dan nasehat harus disampaikan melalui dirinya. Jadi tidak ada ceritanya saya merasa dipojokkan oleh keluarganya dia bila saya berbeda pandangan dengan mereka. Kalau mertua saya berbeda pandangan dengan saya, dia harus meyakinkan Okhi bahwa caranya beliau lebih baik dari cara saya. Dan nantinya Okhi akan bertanya pada saya, dan meminta pendapat saya. Kalau ternyata cara mertua saya memang lebih baik, atau kalau permintaannya masuk akal misalnya, ya saya tidak akan keberatan. Tapi kalau saya ternyata tetap kekeh dengan cara saya, dan saya bisa meyakinkan Okhi bahwa my way is already the best, ya Okhi lah yang akan bicara dengan emaknya. Dia yang akan berkata "Kami memutuskan akan tetap melakukan ini Ma."

Dan karena cara ini, saya tidak pernah bertengkar dengan mertua saya jadinya. Saya dan mertua saya harus pergi ke Okhi dan meyakinkan Okhi bila kami mempunyai keinginan. Dan tentu saja Okhi kan pria dengan akal sehat juga (walau rada nggak jangkep kata orang Jawa), jadi dia tidak akan juga dengan membabi buta membela suatu hal semata hanya karena itu pendapat emaknya, atau pendapat istrinya.

Tapi namanya jadi manusia, ya kita harus konsekuen juga sih. Tentu kita berharap menjadi ratu di rumah tangga kita. Tapi kalau kita memang menumpang di rumah mertua (apalagi kalau itu bukan karena permintaan mertua yang sakit tapi hanya karena kitanya yang terlalu miskin untuk hidup sendiri atau terlalu manja untuk hidup berpisah) ya wajar dong kalau mertua mempunyai aturannya sendiri. Itu kan rumahnya beliau. Sebagai balasan karena sudah menumpang hidup, ya kita harus lebih bisa menahan hati dan sebisa mungkin mengikuti aturannya mertua. Juga kalau karena kitanya bekerja misalnya dan menyerahkan pemeliharaan anak kita ke mertua, ya jangan disalahkan juga kalau mertua membesarkan anak dengan cara yang berbeda dari kemauan kita. Ada harga yang harus dibayar untuk setiap keputusan kita. Ada resiko dari keputusan untuk hidup bersama mertua dan meminta bantuan beliau.

Tidak ada namanya mertua jahat atau mertua baik. Yang ada hanyalah mertua yang berada di samping si menantu setiap menit dan mengiringi setiap langkah kehidupannya (yang berakibat dia tampak sebawel mak lampir di mata menantunya) atau yang hanya bertemu sekali seminggu, sesekali datang dalam rangka menjenguk (yang berakibat ia tampak sebagai mertua yang pengertian dan nenek yang sabar bagi cucunya)........

Kalau sudah begini, saya pikir memang masuk akal kenyataan bahwa masih ada pria yang punya istri banyak, tapi tidak pernah ada wanita yang punya suami banyak. Hanya wanita gila yang ingin punya lima ibu mertua.

Makanya tirulah semboyannya Okhi, istri cukup satu, selingkuhan saja yang dibanyakin *asahgolok

Seperti peribahasa, waswas bak masuk ke mulut kudanil

Monday 28 November 2011

My Monday Note -- Terbaik Bagi Yang Terbaik

Dulu, waktu saya masih berstatus bujang lapuk (kalau sekarang madam lapuk), saya sering terheran- heran mendengar teman- teman kantor saya (yang kebetulan sudah jadi emak dan punya anak balita) yang sepertinya sibuk banget memilihkan berbagai playgroup untuk anak balitanya. Sibuk survey sana- sini. Sibuk bertanya- tanya apa sekolah playgroup yang ini bagus karena materinya yang dekat dengan alam atau playgroup yang ono karena lokasinya dekat dengan kuburan. Manager saya dulu pernah bercerita bahwa dia baru saja survey dan memutuskan tidak jadi memasukkan anaknya ke sebuah playgroup karena "Waktu aku tanya materinya, ternyata anak- anaknya bakal diajak berkesperimen kayak nyemplungin tangan ke baskom yang isinya air hangat dan air dingin supaya mereka bisa membedakan sensasi panas dan dingin. Dan hanya diajarin angka sampai 10. Kalau hanya sampai 10 sih si Abel (nama balitanya) sudah bisa. Kalau hanya nyemplungin tangan ke baskom di rumah juga bisa!"

Bagi saya si bujang lapuk, bagi telinga saya, ni emak ambisius banget sih. Anak baru dua tahun saja sudah heboh banget mau minta anaknya diajarin berhitung sampai 10.000.000. Dulu kayaknya emak saya juga nggak serepot itu waktu memilihkan TK untuk saya dan adik saya. Enggak pakai survey membuktikan segala. Apa sih yang harus dihebohkan soal materi kurikulum untuk anak playgroup? Bukannnya isinya ya anak main seluncuran, main ayunan, main bak pasir, mewarnai dan menempel? Belum lagi membicarakan biayanya. Bujubune, masak playgroup saja biaya masuknya 7 juta? Kalah biaya kuliah saya! Sudah begitu, daftar tunggunya jauh lebih panjang dari daftar belanjaan saya. Benar- benar serasa daftar tunggu untuk masuk Harvard deh rasanya.....

Dan kemudian saya mempunyai Serafim. Tentu saja saya bukan tipe orang tua yang sebegitu ambisiusnya ingin anak saya sudah melek huruf sebelum 2 tahun usianya. Dan saya tidak pernah terpikir harus memasukkan anak saya ke sekolah yang paling mahal dan terkenal semata karena omongan orang dan rasa gengsi. Kemudian, karena yang namanya anak balita itu pastinya pembosan bila terkurung saja di dalam rumah, karena saya ingin juga berkenalan dengan emak- emak lain, dan terutama karena Sera menolak masuk ke penitipan anak sehingga saya tidak bisa bekerja juga, jadilah saya mencoba memasukkan si Sera ke beberapa kelas bermain. Karena saya baru saja pindah ke Australia, tentu saya tidak punya teman atau referensi. Setelah mencoba googling, saya menemukan beberapa kelas bermain dan menyanyi yang sepertinya cucok buat si genduk. Maka saya kemudian mendaftarkan Sera ke kelas bermain itu.

Saat awal saya memasukkan ke kelas bermain bernama Gymbaroo, motivasi saya sederhana. Biar Sera belajar berinteraksi dengan orang lain, nggak bosan di rumah, dan jadi lebih berani. Saya masih menganggap Sera sebagai seorang anak yang yah, sama saja dengan anak lain. Karena kelas Gymbaroo ini sepertinya terkenal disini, saya yakin saja bahwa Sera pasti ya bakal suka juga, seperti anak lain. Dan Sera ternyata memang suka. Kemudian saya menambah satu kelas musik. Dan kemudian saya memasukkan Sera ke playgroup. Dan dengan semakin banyak kelas yang kami ikuti, saya menjadi sadar bahwa Serafim, walau belum berusia dua tahun, adalah seorang pribadi yang sudah terbentuk dengan unik. Bukan seorang anak kecil yang belum punya selera pribadi, yang tidak bisa membedakan antara goyangan di kelas Gymbaroo dan kelas musiknya.

Karena kelas pertama Sera si Gymbaroo turned out sangat sesuai dengan Sera, karena Sera serasa sangat menikmati kelas itu, maka saya awalnya berpikir "Ah, asal namanya kelas bermain, pasti ya Sera senang- senang saja." Dan kemudian saya memasukkannya ke kelas musik. Setelah beberapa minggu, saya melihat bahwa Sera kok tidak sangat antusias ya menggerak- gerakkan pita atau tongkat yang diberikan padanya? Oh, Sera did very well in her class, dan di mata gurunya dan emak yang lain, Sera sudah cukup menonjol. Disaat anak lain melongo, Sera bergoyang. Dia bisa mengikuti instruksi untuk menyembunyikan wajahnya dibalik syal, dan baru menariknya saat si guru berkata Booooo. Jadi, di mata orang lain, she did well. Tapi mata saya menangkap bahwa seringkali Sera tidak memutar pita yang diberikan padanya seturut irama musik bukan karena dia tidak bisa melakukannya, tapi kok rasanya karena anak saya sedikit bosan ya?

Setelah saya perhatikan, ternyata metode pengajaran di gymbaroo lebih sesuai bagi Sera. Kedua kelas ini sama- sama mengajarkan gerakan seturut lagu, tapi metodenya berbeda. Di Gymbaro contohnya, untuk Twinkle Little Star, instrukturnya akan membuat gerakan seturut lagu. Saat lirik Twinkle Twinkle, jari si guru akan membuka menutup, kemudian saat lirik Up above the world so high, jari telunjuk si guru akan mengarah ke atas, dan saat lirik like a diamond, maka tangan si guru membentuk diamond. Dan sampai sekarang, bahkan saat Sera sudah merem melek mengantuk, saat ia mendengar irama musik twinkle, jari- jari montoknya langsung otomatis membuat 'twinkle hands'. Sementara di kelas musiknya, musik akan dimainkan dengan tempo lambat dan kemudian berubah cepat, dan si balita akan diajak menggoyangkan pitanya sesuai dengan tempo musik. Dan hal ini, di mata Sera, membosankan. Dia tidak bisa memahami kenapa dia harus memutar pita dalam tempo yang cukup lama. Nggak acik ah!

Awalnya saya berpikir mungkin memang gymbaroo lebih profesional dibanding si kelas musik. Eh suatu hari, di kelas musik, saya bertemu seorang emak lain yang balitanya dulu pernah sekelas dengan Sera di gymbaroo. Saat saya bertanya kenapa dia tidak datang lagi ke Gymbaroo, dia berkata bahwa si John kecil tampaknya tidak menyukai Gymbaroo, karena terlalu banyak instrumen yang diberikan dan lagunya berganti dengan cepat. John lebih menikmati menggoyang pita dengan santai di kelas musik (yang membuat Sera bosan setengah mati). Duh duh balita jaman sekarang, urusan menggoyang pita saja sudah mempunyai preference masing- masing!

Nah, kelas- kelas semacam Gymbaroo ini adalah kelas yang dikelola secara private. Jadi benar- benar swasta dan bisnis profesional. Harganya tentunya profesional juga dong. Untuk kelas satu jam seminggu, saya harus merogoh koceknya Okhi untuk merampok duit 200 dolar per 3 bulan. Karena Sera ikut 3 kelas profesional semacam ini (kelas renang), maka saya mencoba men-switch si kelas musik yang mahal tapi membosankan ini ke kegiatan Playgroup. Di Australia, banyak playgroup dikelola oleh komunitas dan didukung dana oleh pemerintah. Jadi bayarannya juga lumayan murah. Sementara si gymbaroo dalam setahun membuat saya lebih miskin 800 dolar, playgroup hanya dibanderol 100 dolar setahun. Sudah begitu kelasnya dua kali seminggu @ 2 jam pula! Murah banget kan?

Dan mulailah saya menelpon beberapa playgroup untuk 'mencoba' kelas mereka. Kalau memang cocok, maka saya akan mendaftarkan si Sera untuk tahun depan. Dan gara- gara mencoba playgroup ini, saya jadinya memahami, bahwa bukan hanya metode dan kurikulumnya saja yang berpengaruh pada 'kebahagiaan' Serafim, tapi juga bagaimana lingkungan sekitarnya. Di gymbaroo, instrukturnya memegang peran utama, dan emak- emaknya watch their kiddos closely. Jadi, nggak ada ceritanya si anak ini rebutan mainan misalnya. Tapi di playgroup, sistemnya lebih bebas dan tidak terlalu terstruktur. Anak- anak akan bermain bersama di hall yang diisi berbagai mainan. Dan mereka bebas memilih sendiri mainan yang ingin mereka mainkan. Dan seringkali para ibu hanya akan mengawasi dari bangku sambil mengobrol. Otomatis, interaksi antar anak lebih intens, yang berarti kemungkinan mereka bentrok rebutan mainan misalnya juga semakin besar.

Di suatu playgroup yang kebetulan kebanyakan anaknya adalah anak imigran dari berbagai negara, anak- anaknya lebih kasar saat merebut mainan yang sedang dipegang temannya, dan kemudian mereka akan saling mendorong. Emak- emaknya mereka, walau tentu melerai, tapi tidak dengan sepenuh hati juga. Mereka menganggap ya wajarlah namanya anak- anak rebutan mainan. Dan hal ini, membuat Sera bingung. Dan kemudian menangis marah. Masalahnya, selama ini, sesuai dengan situasi di gymbaroo misalnya (dimana mayoritas adalah orang bule atau orang Asia tapi yang well mannered dan sudah lama tinggal di Aussie), aturan dalam bermain bersama itu jelas. Siapa yang memegang mainan itu pertama kali, dia yang berhak memainkannya. Dan haram hukumnya untuk merebut mainan atau menyerobot giliran bermain ayunan misalnya. Dan semua emak, akan sangat tegas menegur anaknya saat si anak sedikit saja mencoba merebut mainan. Dan itulah yang dimengerti Sera. Saat seorang anak dengan kasar mendorongnya untuk mendahuluinya main di ayunan, bingunglah Sera. Dan bingunglah saya melihat Sera bingung. Karena saya tentu tidak berhak menegur anak itu. Hanya ibunya yang berhak menegur. Tapi ibunya tidak merasa bahwa yang dilakukan si anak itu salah. Halah! Dan sedihlah hati saya melihat Sera menangis karena merasa dizolimi (karena Sera pun langsung mendapat teguran dari emaknya saat dia tidak tertib mengantri giliran).

Gara- gara berbagai pengalaman dengan segala macam model kelas dan playgroup yang saya ikuti bersama Sera, sekarang saya mengerti bahwa memang apa yang dilakukan para ibu ini (mensurvey berbagai kelas untuk mencari yang paling cocok untuk anaknya) bukanlah karena mereka lebay bajaj. Tapi karena kita ingin yang terbaik bagi anak kita. Dan yang terbaik bagi anak saya yang belum dua tahun ini adalah tempat yang membuat dia content dan bahagia. Sekilas, semua playgroup itu tampak sama kalau saya hanya melihat brosur dan ruangannya. Hall besar penuh mainan, halaman penuh ayunan dan seluncuran dan bak pasir, acara menyanyi bersama, dan seorang koordinator yang biasanya ibu paruh baya berbadan subur bertampang baik. Tapi saat saya ikut merasakannya langsung, first hand experience, baru saya bisa merasakan apakah tempat ini akan membuat Sera bahagia atau tidak. Karena instruktur yang berbeda berarti berbeda cara mengajarnya, teman bermain yang berbeda berarti berbeda cara mereka berinteraksi.

Tahun 2013, Sera akan masuk ke program preschool. Berkaca dari pengalaman saya mengikuti Sera ke berbagai kelasnya, saya benar- benar meluangkan waktu untuk datang ke berbagai preschool dan duduk meresapi situasi di tempat itu. Tentu saya membaca dulu kurikulumnya, mendengarkan pendapat para emak yang lain yang sudah lebih berpengalaman, dan mendengarkan para guru preschool menjelaskan program sekolahnya ke saya. Tapi lebih penting lagi, saya butuh merasakan sendiri bagaimana sih suasananya? Setelah mensurvey berbagai preschool, saya kemudian memutuskan mendaftarkan Sera ke preschool bernama Appletreehill. Saya mendengar semua orang berkata bahwa ini adalah preschool yang favorit, kurikulumnya bagus. Reputasi yang bagus tentunya adalah nilai tambah bagi saya.

Tapi saya memutuskan untuk memasukkan Sera ke Appletree setelah saya datang ke sana, berbincang- bincang dengan gurunya, dan meresapi suasananya. Saya melihat anak- anak disana tampak lebih ceria, lebih aktif, tapi juga lebih terstruktur (sesuai kesenangannya Sera akan structured play). Saat saya berbincang dengan sang guru, saya mendengarkan penjelasannya, tapi yang lebih penting, saya menajamkan indera saya untuk bisa merasakan apakah saya bisa mempercayai guru ini untuk menjaga anak saya? Apakah insting saya mengatakan bahwa guru ini adalah orang yang nice dan trustworthy? Saya melihat seperti apa sih para anak yang sekolah disana? Apakah yang ber- manner baik sehingga cocok bagi seleranya Sera atau yang bakal rebutan mainan yang akan membuat Sera tidak happy?

Anda menganggap saya berlebihan? Oh I couldn't care less. Setelah saya menderita berpuasa minum kopi selama 9 bulan masa kehamilan demi si janin, setelah selama 2 tahun saya selalu memakai beha menyusui yang menurut Okhi amat tidak seksi, setelah saya merelakan tidak bekerja dan menjadi supir pribadi si ratu, I will definetely only want what best for Sera. Masak susah- susah membesarkan Sera dan kemudian saya membiarkan Sera memasuki preschool yang tidak akan membuatnya bahagia? Masalahnya, karena Sera masih begitu kecil, saya harus meminjamkan mata, telinga, dan insting saya untuk memilihkan tempat terbaik untuknya. Tempat yang akan membuatnya nyaman, bahagia, dan make her flourish.

Hanya tentu saja, meskipun keputusan mutlak ada di tangan saya, meskipun sayalah yang akan melihat, mendengar dan merasakan, meskipun saya berambisi untuk memberikan yang terbaik, tapi tentu saya harus ingat bahwa saya melakukannya in behalf of my daughter. Memang mata saya yang melihat, tapi saya harus berusaha menempatkan mata saya pada posisi matanya Sera, karena dia yang akan menjalaninya. Jadi meskipun saya sangat menyukai sebuah playgroup yang programnya bagus sekali dan emak- emaknya menyenangkan untuk diajak ngobrol, tapi saya batal memasukkan si Sera kesana. Simply karena jam bermainnya 11.00 - 13.00. Sementara yang namanya Sera, jam 12 itu dia harus tidur siang. Saat saya coba, Sera jadi cranky, mengantuk dan rewel. Saat anak saya tidak bahagia, sebagus apapun sekolah itu, ya berarti tidak cocok bagi Sera. Ambisi saya adalah memberi yang terbaik. Tapi terbaik bagi siapa? Saya atau Sera?

Saya berusaha bahwa kata terbaik disini bukanlah terbaik dari kacamata saya. Bukan karena harganya mahal, bukan karena bergengsi, bukan karena jam kelasnya convenient buat saya, bukan karena ambisi saya agar anak saya segera lancar membaca mengalahkan balita lain (agar saya bisa sombong dan membanggakan anak saya). Terbaik buat Sera, di usianya yang baru 2 tahun, adalah tempat yang membuatnya nyaman, bahagia, dan menarik minatnya. Jangan sampai ambisi pribadi saya membuat saya melupakan bahwa anak saya yang masih kecil ini sudah mempunyai selera pribadi. Bahwa dia sudah capable untuk menentukan apakah dia menyukai suatu kelas atau tidak. Dan bahwa perasaannya Sera 'very matter' dan menjadi pertimbangan utama bagi emaknya.
Ah Sera, kadang jadinya emak merasa bersyukur juga karena terpaksa nganggur di rumah..... Jadinya, tidak ada orang lain yang lebih mengenalmu daripada emakmu...

Ayo mak, cepetan! Entar Sera telat ini!

Monday 21 November 2011

My Monday Note -- Enaknya Punya Berapa Anak Yah?

Nasib jadi manusia ya, selalu saja dikelilingi orang- orang iseng yang tiada hentinya bertanya. Waktu masih kuliah ditanya kapan lulus, waktu sudah lulus ditanya kapan kerja, waktu sudah kerja ditanya kapan kawin, waktu sudah kawin ditanya kapan punya anak. Nah, saya pikir setelah punya anak, maka rentetan pertanyaan itu akan berhenti, dan baru nanti waktu saya berumur 70 an, orang baru mulai bertanya lagi "Jadi kapan matinya?" Sialnya, bahkan setelah saya mempunyai si Seradut, masih saja orang dengan iseng bertanya "Jadi kapan Sera bakal dikasih adik?"

Nah sebetulnya saya itu paling sebel kalau orang mulai iseng tanya- tanya soal pribadi seperti itu. Bagi saya, kalau saya ingin orang tahu masalah pribadi saya, ya saya akan bercerita. Kalau saya tidak bercerita, ya berarti saya memang tidak tertarik untuk memberitahu soal pribadi saya pada orang itu. Tapi saat ini saya tidak sedang ingin membahas masalah sifat 'ingin tahu' yang annoying dari orang Indonesia, tapi saya sedang ingin iseng menulis soal sebetulnya paling pas itu punya anak berapa sih? Satu, dua, tiga, empat, lima atau enam???

Beberapa minggu yang lalu saya sedang tercenung- cenung setelah mendengarkan cerita dari seorang teman. Teman saya itu bercerita bahwa dia punya teman (jadi istilahnya temannya teman) yang baru saja memiliki anak ke empat. Masalahnya adalah, kehidupan si temannya teman ini bisa dikatakan cukup sulit. Suaminya hanya bekerja sebagai apa gitu di perusahaan kecil, dengan gaji dua juta rupiah di Jakarta. Istrinya tidak bekerja karena ya tentu saja sudah kelabakan sendiri mengurus tiga orang anaknya yang masih kecil- kecil. Mereka mengontrak rumah petak kecil dan yah, hidup cukuplah tough untuk keluarga ini. Saya tentu saja menganggap keputusan si temannya teman untuk punya anak lagi (karena banyak anak banyak rejeki to?) ini tentu saja tolol sekali. Tapi teman saya mengatakan bahwa ia sih setuju- setuju saja dengan keputusan temannya itu untuk menambah momongan. Karena rejeki pasti ada dan menurutnya "Tukang becak saja dengan anak selusin bisa hidup kok."

Sebaliknya, suatu kali saya membaca artikel di satu tabloid ibu dan anak disini. Ceritanya, si ibu ini sedikit lelah karena keputusannya untuk hanya mempunyai satu anak saja serasa ditentang oleh semua orang. Oke memang banyak pasangan disini memilih tidak mempunyai anak, dan hal itu biasa saja. Tapi saat seseorang memutuskan mereka ingin punya anak, maka biasanya mereka akan mempunyai lebih dari satu, bisa dua bisa tiga walau sangat jarang empat dan lima. Alasan si ibu dengan satu anak ini mungkin tampak konyol di telinga saya, tapi ia tidak ingin cintanya terbagi dengan anak lainnya. Dia merasa cintanya hanya bisa ia serahkan bulat- bulat untuk seorang anaknya ini. Dia sadar bahwa mungkin keputusan itu salah, dan mungkin di kemudian hari si anak tunggalnya protes kenapa ia tidak mempunyai seorang saudara kandungpun. Tapi saat ini, dia memang tidak ingin mempunyai anak lagi. Titik.

Dua cerita yang ekstrim dan bertolak belakang di atas, awalnya membuat saya merasa nih dua orang kok ya rada aneh ya? Yang satu punya anak kayak nggak make mikir mau ngasih makan anaknya pakai duit darimana, yang satu kebanyakan mikir sampai- sampai timbul ketakutan pada hal yang mengada- ada (dalam pendapat saya). Tapi, kemudian saya membayangkan kalau saya yang misalnya berkata ingin punya dua anak, dan kemudian ada orang yang berkata bahwa keputusan saya itu salah, bahwa dua anak saja itu tidak cukup dan saya akan kesepian di masa tua misalnya, saya pasti akan jengkel juga jadinya. Lha wong yang mau punya anak dan membesarkan anak ya saya sendiri, lha wong saya ya nggak minta bantuannya dia, kenapa juga nih orang berani bilang bahwa keputusan saya untuk hanya punya dua anak saja salah? Siapa elu? Suka- suka gue dong!

Berkaca dari ketidaksukaan saya bila dihakimi soal anak, saya juga jadinya berusaha untuk tidak sok menghakimi keputusan orang lain. Selama dia tidak merepotkan saya, ya terserah dia saja mau punya anak berapa. Wong ya anak- anaknya dia sendiri. Bagi saya, keputusan soal jumlah anak adalah selera pribadi yang sama pribadinya dengan selera masing- masing orang akan warna celana dalamnya. Mau pakai celana dalam warna merah, hitam, belang- belang, atau malah nggak pakai sama sekali, itu kan selera masing- masing orang kan? Masak sih ada teori yang menyatakan bahwa celana dalam terbaik adalah yang berpita dan transparan. Selain itu, pasti jelek!

Meskipun saya tidak berniat menghakimi keputusan orang lain soal jumlah anak yang ideal, tapi saya pikir- pikir asyik juga membuat note untuk menuliskan pendapat saya mengenai jumlah anak ini. Jadi kalau lain kali ada orang yang iseng bertanya, saya bisa menjawab dengan "Just read my note if you wanna know my answer."

Yang jelas, sebetulnya dari dulu saya bukanlah orang yang suka- suka banget sama anak kecil. Terus terang saya tidak pernah tertarik menggendong atau bercanda dengan bayi- bayi orang lain. Dan saya tidak pernah punya impian atau obsesi untuk harus mempunyai seorang anak. Dan kemudian saya menikah dengan si Okhi yang sama santainya dengan saya. Dikasih anak ya syukur, enggak dikasih ya alhamdulilah. Bahkan saat kemudian saya memutuskan bahwa saya ingin mempunyai anak, doa saya pada Tuhan "Tuhan, kalau engkau memang berkenan memberiku seorang anak, aku akan senang. Tapi kalau memang persediaan bayi di surga itu terbatas, mohon berikan saja pada pasangan lain yang memang sangat ingin untuk mempunyai anak." Saya tahu bahwa saya dan Okhi akan baik- baik saja bila kami tidak dikaruniai seorang anak. Kami tidak memiliki keharusan mempunyai anak untuk meneruskan marga atau nama keluarga, dan kami orang yang tidak terlalu peduli apa kata orang akan hidup kami. Jadi, pandangan hidup ini sedikit banyak mempengaruhi keputusan saya soal anak.

Saat saya baru saja menikah dengan Okhi, kami memutuskan untuk menunda punya anak. Sampai kapan? Ya sampai kami memang ingin punya. Kami ingin menikmati dulu masa- masa berdua dengan santai dan romantis. Dunia benar- benar milik berdua. Dan bagi saya, keputusan kami saat itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kami buat. Selama enam bulan pertama pernikahan kami, kami menikmati hidup hanya berdua saja di rumah kontrakan di daerah bekasi. Hidup hanya dihabiskan untuk bersenang- senang dengan pasangan kami. Karena kami dulu bekerja di daerah yang berdekatan, maka kami selalu berangkat kerja dan pulang kerja bersama. Pulang kerja jalanan macet atau kami sedang malas pulang, ya marilah mampir dulu di warteg atau Starbuck (tergantung kondisi keuangan). Mau nonton midnight atau mau keluar semalaman dengan teman kami, tidak ada bayi yang harus dipikirkan. Hidup benar- benar indah, santai dan mudah. Makanya saya kagum juga pada pasangan yang langsung tancap gas punya anak sejak hari pertama menikah. Apa mereka tidak penasaran bagaimana rasanya bisa lenggang kangkung dengan santai hanya dengan baju amburadul di dalam rumah karena tidak ada orang lain selain pasangan kita ya?

Sampai kemudian, setelah enam bulan puas berasyik masyuk, kami mulai memikirkan bahwa sepertinya kami ingin mempunyai anak. Kami sudah puas bersenang- senang pacaran, dan sepertinya kami sudah siap untuk memiliki anak. Yah sebetulnya kalau ditanya, tidak ada juga sih orang yang benar- benar 'siap' punya anak. Hanya secara perhitungan logika, saya merasa sudah mapan; kami berdua sudah mempunyai pekerjaan yang decent, kami sudah mempunyai tempat tinggal dan setelah dihitung- hitung kami mampulah untuk membiayai proses kelahiran calon bayi kami. Dan situasi di Indonesia memang membuat punya anak di usia muda itu lebih baik, sehingga jangan sampai kita sudah tua dan tidak punya penghasilan sementara anak kita masih duduk di bangku SMP misalnya.

Wokeh, singkat cerita lahirlah si Serafim Kieva. Nama Kieva diambil karena kami dulu pingin sekali berlibur ke kota Kiev. Eh, setelah si Sera lahir, kami malah jadinya tidak tertarik lagi untuk pergi ke sana. Dan sekarang malah punya impian untuk menjejakkan kaki ke Machu Picchu. Tapi ya untung juga sih dulu kami punya obsesi ke Kiev, at least it sounds beautiful right? Coba kalau dari dulu kami sudah ngebet ke Machu Picchu, kan namanya si Sera jadi Serafim Picchu Mecucu dong. Jelek amat. Dan kelahiran si prentul cilik ini totally merubah dunia kami upside down.

Kata pepatah, kamu tidak tahu sedalam apa kamu bisa mencintai, sebelum kamu memiliki anak. Saat Serafim hadir dalam kehidupan kami, maka ia merubah semuanya. Merubah fokus hidup kami, merubah cara hidup kami, merubah cara kami mencintai, merubah segalanya. Ia menjadi pusat semesta baru bagi kami. Pergi bekerja yang sebelumnya untuk mendapat promosi supaya menjadi manager, bergaji 20 juta dan bisa jalan- jalan keluar negeri, sekarang menjadi bekerja sebaik- baiknya untuk mengumpulkan duit untuk menabung bagi kuliahnya Sera besok. Pulang bekerja yang sebelumnya santai dulu di kantin belakang kantor sambil cekikikan bersama para begundal- begundal, sekarang selalu cepat- cepat mengejar lift supaya bisa mendapatkan busway yang masih kosong agar cepat sampai rumah, agar saya bisa bermain dulu bersama Sera sebelum dia pergi tidur. Pergi berwisata dengan teman sekantor ke Singapura, yang sebelumnya fokus saya adalah berjalan- jalan, berfoto- foto dan belanja bersama teman- teman kantor saya, sekarang bahkan hal pertama yang saya cari di Universal Studio bukanlah wahana yang menguras adrenalin, melainkan kulkas tempat saya bisa menyimpan ASI saya. Dan mengetuk kamar teman- teman saya untuk menitipkan ASI saya yang tidak muat di kulkas di kamar hotel saya. Dan saat saya dinas ke Bogor, saya lebih memilih untuk ngebut pulang ke Jakarta, menyetir sendiri pada jam 1 dini hari, demi supaya bisa tidur disamping Sera selama beberapa jam, untuk kemudian jam 6 pagi kembali lagi menyetir ke Bogor. What a life!

Bukan hanya jam hidup saya berubah secara drastis, gaji saya dan Okhi pun berubah alokasinya. Begitu Sera lahir, pengeluaran terbesar kami langsung beralih; menuju pos bejudul SERAFIM. Membeli botol Medela, membeli pampers yang anjrit mahalnya, membayar vaksin ke dokter, membeli karpet maze seharga 300 ribu yang sialnya bahkan tidak dilirik oleh si prentul, dan membayar gaji baby sitternya Sera.

Apa saya bahagia dengan kehadiran Serafim? She's better than the best and I'm lucky just to linger in her light. Saya belum pernah merasakan cinta sebesar dan sedalam dan seluas yang saya rasakan pada Sera. Of course I'm happier than ever.

Jadi kalau Sera memang merupakan kebahagiaan terbesar dalam hidup saya, berarti saya pasti tidak akan segan dong untuk mempunyai anak lagi? Bahkan kalau perlu lima anak lagi! Well, here is the thing :D. Seperti saya bilang tadi, Sera merupakan pusat tata surya kami yang baru. Masalah akhir pekan hendak berjalan- jalan kemana saja, semuanya harus berpusat pada pertanyaan terpenting "Apakah Kanjeng Ratu Sera akan suka?" Dan terus terang, as much as I love her, si kecil Sera adalah black hole yang menyedot semua energi yang ada dari saya dan Okhi. Meskipun saya tidak menyesal bahwa saya harus menyetir pulang dini hari, tapi terkadang saya rindu bisa nongkrong- nongkrong santai bersama teman- teman kantor saya di hotel, cangkruk beli jagung rebus atau malah karaoke an semalam suntuk (dan keesokan paginya menghadiri meeting dengan mata memerah dan bercangkir- cangkir kopi habis ditenggak). Saya rindu bisa ngelembur di kantor sambil sibuk menggosipkan bos kami, instead of pulang terburu- buru demi mengejar jam macet. Saya rindu bisa pergi nonton bioskop berdua dengan Okhi tanpa harus memikirkan bagaimana ya ASI nya Sera, cukup enggak? Saya rindu juga sesekali dengan kehidupan saya yang dulu, yang tidak melulu berpusat pada diri Sera seorang.

Oleh karena itu, keputusan mengenai berapa jumlah anak yang ideal bagi masing- masing pasangan tergantung padabagaimana pasangan itu menikmati pusat semesta baru yang can be very demanding ini. Memang ada emak- emak yang sangat puas dengan sepenuhnya mengabdikan dirinya untuk merawat anaknya. Seorang teman saya benar- benar mendedikasikan hidupnya bagi anaknya semata, bayinya bergerak sedikit saja dia langsung sigap mendekap. Untuk mereka yang seperti ini, yang kepuasan hidupnya semata memang dari merawat anaknya, ya tentu saja tidaklah mengherankan bila mereka merasa puas mempunyai anak yang banyak.

Tapi sebaliknya, ada juga teman saya yang mempunyai tiga anak, dan dia merasa tidak bermasalah dengan jumlah anaknya itu. Masalahnya, hidupnya tidak banyak berubah juga setelah punya anak. Semua anaknya sepenuhnya diurus pembantunya, dan bahkan tidur dengan pembantunya. Semua anaknya tidak disusui olehnya, dan ia tetap bekerja dan menjalani hidup ala bujang (tidak harus terburu- buru pulang). Yah, sorry sister, but we are not in the same boat.

Saya, disisi lain, adalah orang yang ekstrim. Saat saya memutuskan untuk mempunyai anak, saya akan ekstrim. Saat saya memutuskan untuk memberikan ASI, maka benar- benar saya berjuang sekuat tenaga supaya Sera bisa sepenuhnya ASI. Saat saya mempunyai anak, meskipun ada baby sitter, saya tidak bisa menikmati jalan- jalan santai nongkrong bersama geng saya sementara anak saya dirumah bersama pembantu saya. Dan sebagai akibatnya, saya terkadang merasa exhausted. Capek lahir batin. Dan terlebih lagi, saya bukanlah orang yang puas dengan hanya status saya sebagai ibu. Beberapa saat lalu, saya sempat merasa sebal karena status saya yang seolah- olah adalah "Ibunya Serafim". As much as I love Sera, saya membutuhkan orang untuk mengenal saya sebagai Mega, bukan emaknya Sera atau istrinya Okhi. Saya tidak bisa merasa puas hanya dengan menjadi emaknya Sera. Jadi saya harus bertanya pada diri saya, apakah saya mempunyai kemampuan batin (kok jadi berasa dukun yah) untuk mempunyai seorang anak lagi? Atau dua orang anak lagi, atau tiga, atau empat.

Hal kedua yang menjadi pertimbangan saya untuk memiliki anak tentulah kemampuan finansial. Saya orang yang selalu senang membuat rencana. Hdiup saya selalu saya rencanakan. Dan saya senang menggunakan logika saya. Jadi forgive me kalau saya tidak bisa sepenuhnya menyetujui pendapat orang yang berkata enggak usah terlalu dipikir soal uang, setiap anak mempunyai rejekinya masing- masing kok. Tentu saya orang yang beriman juga, dan saya dibesarkan dengan lagu "Burung pipit yang kecil dikasihi Tuhan, terlebih diriku dikasihi Tuhan," jadi tentu saya mengenal iman. Saya mengenal teori bahwa ada kekuatan yang lebih besar daripada logika. Buktinya ya itu tadi, tukang becak saja bisa kok menghidupi selusin anaknya.

Cukup lama juga saya bimbang mengenai hal ini. apa memang saya bisa mempercayai bahwa semua anak membawa rejekinya masing- masing, jadi saya tidak perlu kuatir dan bisa punya anak selusin tanpa memikirkan kemampuan finansial saya? Setelah mempunyai Serafim, saya sadar bahwa mungkin yang disebut rejeki anak itu termanifestasikan pada diri orang tuanya. Anak adalah dorongan terbesar bagi setiap orang tua untuk berusaha sekeras dan sebaik mungkin. Segala jalan akan ditempuh orang tua untuk mampu membawa beras pulang bagi anaknya. Dan saat seseorang sebegitu determinan nya untuk sukses, semesta pun akan mendukung kan? Kalau saja kami tidak mempunyai Serafim, kami tidak akan mau bersusah payah pindah ke Australia demi kehidupan yang lebih baik. Tapi karena dorongan yang besar setiap kami ingat anak kami, maka lautan api pun kan dijalani.

Dan memang saya juga yakin bahwa Sera akan mempunyai kemampuan dan jalan rejekinya sendiri. Dia mungkin akan sangat pintar di sekolah sehingga mendapat beasiswa, atau jenius dalam hal bermusik. Dan kalau seperti kata teman saya tadi, tukang becak saja bisa hidup dengan selusin anak, kenapa saya tidak? Tapi sekarang saya ingin balik bertanya pada teman saya itu, apakah dia puas dengan hanya memberi taraf penghidupan kepada anaknya setara dengan abang tukang becak? (tiada maksud saya menghina profesi abang becak). Maksud saya, masing- masing dari kita pasti punya standar masing- masing kan, apakah ingin minimal anak kita lulus SMA, atau malah kita punya target untuk bisa menyekolahkan anak kita sampai jenjang S2 misalnya. Kita punya standar baju macam apa yang ingin kita pakaikan ke badan anak kita, makanan seperti apa yang menurut kita layak untuk masuk ke mulut anak kita. Dan meskipun semua anak mempunyai rejekinya masing- masingpun, saya merasa term itu bukanlah sebuah ungkapan ajaib yang harus ditelan bulat- bulat. Toh kenyataannya banyak juga anak Indonesia yang busung lapar, banyak juga anak di Afrika yang mati kelaparan, dan anaknya si abang becak di depan gang rumah saya dulu juga hanya sekolah sampai tamat SD. Apa berarti anak- anak itu tidak membawa rejeki?

Pertimbangan terakhir saya masalah berapa anak yang ingin saya miliki dan kapan saya akan punya anak lagi adalah masalah waktu yang ingin saya berikan untuk masing- masing anak saya. Apakah saya sanggup meng-handle dua anak, tiga anak, empat anak? Dan kapan waktu yang tepat untuk punya anak lagi? Apakah sekarang saat Sera masih kecil atau nanti menunggu Sera sudah lebih besar? Mungkin, balik di Indonesia dulu, saya akan lebih mudah memutuskan hal ini. Karena saya tahu saya bisa mengharapkan bantuan baby sitter atau pembantu atau saudara saya atau emak saya atau mertua saya untuk membantu merawat dua prentul cilik. Tapi disini, dimana saya hanya sendirian mengurusi si Sera, sementara Sera masih harus ditemani nyemplung ke kolam renang saat les, masih harus diantar kesana sini ke berbagai kelas menyanyi dan hura- hura nya. Jadi tentu saya tidak bisa dan tidak ingin nekat untuk langsung punya anak lagi. Kasihan dong Sera, enggak bisa lagi les renang karena emaknya nggak bisa ikutan nyemplung.

Setelah semua pemikiran diatas, jadi sebetulnya saya ingin punya anak berapa sih? Dan kapan? Yang pertama, saya ingin Sera sudah lebih mandiri dulu. Saya ingin dia sudah tidak perlu saya temani lagi nyemplung, saya ingin melihat dia sudah bisa ditinggal sendiri di preschoolnya, dia sudah lebih dewasa, dan baru saya akan memikirkan untuk mempunyai anak lagi. Memang ada teman saya yang berkata biasanya anak akan lebih mandiri saat dia mempunyai adik, tapi saya tidak mau mengambil resiko itu. Iya kalau dengan kedatangan si adik Sera kemudian menjadi lebih mandiri, kalau dia malah mogok masuk preschool gara- gara berpikir saya membuangnya demi merawat adiknya bagaimana? Masalahnya saya tidak punya orang lain yang bisa membantu saya; menemani si bayi saat sera harus saya antar ke kolam misalnya.

Dan karena saya tidak bisa merasa puas hanya dengan status sebagai seorang ibu, karena saya ingin bekerja lagi, karena saya butuh punya karir dan gaji yang bagus agar saya bisa merasa 'complete & satisfied', maka rasanya tidak mungkin saya akan merencanakan untuk punya lebih dari dua anak. Ingat, punya anak disini berarti harus siap akan kemungkinan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga bila anak saya menolak masuk ke Childcare. Saya tidak bisa sesantai para ibu di Indonesia, yang bisa tetap bekerja dan anaknya diasuh pembantu. Saat saya punya anak lagi, saya harus siap dengan kemungkinan at least 2 tahun saya tidak bisa bekerja.

Dan saat berpikir masalah finansial, saya dan Okhi sudah sepakat bahwa secara logika sederhana, kondisi keuangan kami haruslah mampu untuk memenuhi taraf hidup yang ingin kami berikan pada anak- anak kami. Harapan kami tentu saja anak- anak kami bisa bersekolah hingga sarjana, mempunyai baju yang cantik walau tidak harus bermerk mahal, kami harus mampu menyediakan rumah yang layak walau tidak harus mewah, dan makanan yang baik meski tidak harus lobster. Lalu soal rejeki anak bagaimana? Bagi saya, tanggung jawab saya adalah untuk memenuhi semua hal diatas, semua kebutuhan dasar anak saya. Soal rejeki anak, biarlah rejekinya Sera yang akan membuatnya bisa bersekolah di Harvard, atau berwisata keliling dunia atau ikut kursus diving hingga tingkat mahir. Jadi, saya berharap kami sudah mulai mencicil rumah dulu, saya sudah sempat bekerja dulu, Okhi sudah selesai program master nya, sebelum kami akan mempunyai anak lagi (karena disini bila saya sudah bekerja selama setahun dan kemudian cuti melahirkan, saya akan mendapat parental leaving yang lumayan gede, hehehe).

Dan tentu saja, saya dan Okhi cukup lelah juga mengurus Sera, dan kami serasa tidak memiliki waktu sama sekali untuk hidup kami. Jadi, kami sudah memutuskan, no more kids sebelum kami sempat pergi berdua saja. Nanti, disaat Sera sudah lebih besar dan tabungan kami sudah cukup dan kami sudah mulai mencicil rumah, kami akan berjalan- jalan berdua saja, sebulan penuh melanglang Amerika Selatan, perjalanan once in a life time, dengan Sera kami tendang dulu ke rumah embahnya di Indonesia. Karena anak kedua kami harus mendapat perhatian dan curahan waktu yang sama dengan Sera, dan saya enggak mau anak kedua saya hanya mendapat setengah kasih sayang karena emaknya sudah gempor lahir batin mengurusi kakaknya yang badung sumedung ini, yang sukanya ngak ngek ngok kagak jelas. Saya, harus bahagia dan 'content' dulu, sehingga saya bisa menjadi a happy mother. And a happy mother means a happy kid.

Sibuk- sibuk membuat rencana, bagaimana kalau Tuhan berkehendak lain? Ngapain sibuk membuat rencana kalau toh kita tidak tahu juga apa yang akan terjadi di masa depan? Yah, ini kan sama saja kasusnya saat saya ingin pergi ke Bogor dari rumah saya di Jagakarsa. Sebelum pergi, tentu saya harusnya membuat rencana rute yang harus saya lewati dan jam berapa saya berangkat agar tidak telat. Eh, pada saat dijalani, sialnya tol Jagorawi ditutup karena demo. Tentu saya harus mencari rute lain. Kelabakan mungkin atau tenang saja karena saya sudah sedia GPS. Mungkin juga mobil saya ditabrak mobil lain jadi penyok dan saya jadi terlambat ikut rapat. Ya memang banyak kemungkinan yang terjadi diluar rencana kita. Tapi apa itu berarti saya tidak harus membuat rencana di awal perjalanan saya? Apakah ya sudah saya langsung saja tancap gas ke Bogor tanpa tahu harus lewat rute yang mana? Flow with the river aja deh! Toh terkadang semua berjalan tidak sesuai rencana?

Nah, masalahnya, saya akan merasa tolol sekali kalau harus menelpon bos saya bahwa saya tidak bisa sampai di Bogor bukan karena mobil saya ringsep ditabrak truk misalnya (yang jelas tidak ada dalam rencana saya) tapi semata karena saya nyasar karena memang saya tidak tahu dan tidak merencanakan dulu rute yang ingin saya ambil. Lha kan setumpit sekali dong namanya? Sesuatu yang sudah direncanakan dengan matang saja masih ada kemungkinan gagal, apalagi sesuatu yang tidak direncanakan sama sekali. Ya jelas sudah ditakdirkan gagal from the very beginning.

Saya suka merencanakan kehidupan saya dengan matang, dan kemudian menjalaninya dengan modal bismilah. Tuhan kan juga selalu mendengarkan apa keinginan saya. Diberi Tuhan otak paling besar sejagad raya, tentu Tuhan berharap lebih pada diri manusia dibandingkan burung pipit dan bunga bakung di padang. Bagaimana kalau nanti hidup saya berjalan tidak sesuai rencana? Ya itulah gunanya menjadi orang yang fleksibel dan mempunyai iman. Dalam Tuhan, saya bisa berserah, and He'll make a way. Tapi bukan sejak awal saya ongkang- ongkang kaki nggak mau mikir dan mengharap tahu- tahu Tuhan menggabrukkan harta karun di depan pintu rumah saya sehingga saya bisa memberi makan anak saya. Doh!

Seorang teman yang mengetahui rencana saya untuk paling banyak punya dua anak saja pernah bertanya "Gimana kalau tiba- tiba kamu dikasih anak lagi Meg? Bakal kamu buang saja anakmu atau kamu bakal marah sama Tuhan?" Ya nggak mungkin dong saya membuang anak saya, meskipun kelahirannya tidak direncanakan sekalipun, saya kan nggak mau masuk penjara.... Plus kalau memang saya mengalami 'kecelakaan' dan punya anak diluar rencana, tentu saja saya tidak akan marah pada Tuhan. Jelas saya akan langsung marah dan menuntut si durex. Gimana sih bikin produk kagak bener :D.

Setelah semua pertimbangan diatas, saya dan Okhi memutuskan untuk saat ini, dua anak adalah yang paling ideal bagi kami. Sudah paling maksimal. Tapi, kalau dikemudian hari kami memutuskan untuk tidak ingin punya anak lagi setelah Serafim, yah, bagi kami Sera sudah lebih dari cukup. She's already a very perfect kid that every parent can dream of. Jadi saya tidak akan sedih dengan hanya punya satu anak saja. Tahu- tahu kami ingin tiga anak? Possible, kalau memang kami berdua menginginkannya, kami mampu secara finansial, dan kami merasa masih memiliki cukup energi untuk memiliki satu lagi makhluk tanpa PAUSE button ini.

Tapi kalau saya boleh menuliskan pesan sponsor, meskipun misalnya seseorang mampu punya anak selusin misalnya, tapi sebelum seseorang memutuskan ingin punya 7, 8, 12, 15 orang anak, mohon direnungkan juga, bahwa bumi kita ini tidak bertambah luas. Persediaan air tanah tidak bertambah banyak. Minyak bumi juga semakin menipis. Tanah yang bisa dibangun rumah dan jalan di atasnya juga tetap besarnya. Dan kita tentu harus berbagi bumi ini dengan orang lain juga, dengan anak- anak orang lain juga. Dan setiap anak yang kita lahirkan, akan menjadi beban bagi planet bumi ini, dan bagi negara. Please consider it. Kata Simba nya Lion King, in the circle of life, you should never take more than you give......

Si imut biang ribut yang merupakan pusat kebahagiaan kami

Monday 14 November 2011

My Monday Note -- Mengulur Cinta

Beberapa saat yang lalu, saya mendapatkan pengalaman baru dalam hidup berkeluarga. Bukan, saya bukan ingin membahas DVD KamaSutra yang ingin saya beli, hehehe.

Ceritanya, sejak beberapa periode yang lalu, karena saya dan Okhi merasa kami masih memiliki kelimpahan rejeki, maka kami berniat membagikan rejeki pada saudara kami. Dan kami ingin melakukan sesuatu yang akan bermanfaat bagi masa depan seseorang, juga bagi nusa dan bangsa dan agama dan tanah air, MERDEKA!!! Jadi, kami tidak ingin membelikan seseorang baju atau sepatu baru misalnya. Setelah berpikir- pikir, maka kami memutuskan untuk membiayai salah seorang keponakan remaja kami untuk kursus bahasa Inggris.

Pilihan kenapa kursus bahasa Inggris, karena saya tahu keponakan saya itu sudah les pelajaran. Dan saya percaya bahwa bahasa Inggris adalah salah satu kemampuan yang wajib dimiliki anak- anak jaman sekarang, dan sayapun merasakan manfaat bisa berbahasa inggris dengan baik. Dan harga kursus cukup mahal, jadi banyak orang tua yang agak- agak mikir juga kalau mau mengkursuskan anaknya. Plus saya mempunyai keraguan akan kemampuan kurikulum sekolah untuk membuat anak- anak mampu berbahasa Inggris dengan terampil. Okeh, jadi kami kemudian menawarkan pada si keponakan, kalau dia mau kursus bahasa Inggris di tempat pilihan kami, kami akan membiayainya. Si keponakan yang duduk di bangku SMP mengangguk setuju.

Saya dulu, saat kursus di tempat itu saat saya masih SMA, tidak mengalami kesulitan yang berarti. Selalu berhasil naik tingkat dengan santai, tidak seperti adik kandung saya yang rada bego, yang harus mengulang terus. Sejak awal Okhi sudah memperingatkan, bahwa ada kemungkinan si keponakan tidak akan selancar perjalanan saya dalam menempuh jenjang per-les-an, mungkin dia harus mengulang kelas, mungkin nilainya rendah. Saya jawab bahwa saya tidak bermasalah dengan anak yang kurang pintar atau berkemampuan terbatas. Saya bermasalah dengan anak yang malas. Jadi saya berkata bahwa syaratnya adalah si keponakan harus selalu masuk kelas dengan disiplin, tidak pernah alpa mengerjakan PR, dan berusaha dengan giat. Persis ala pelajaran PPKN deh :D.

Awalnya, semua berjalan lancar. Keponakan saya rajin kursus, dan meskipun nilai ujiannya selalu pas-pas an, dia berhasil naik tingkat. Bahkan, di sekolahnya, gurunya memintanya membantu mengajar teman- teman sekelasnya agar bisa berbahasa Inggris seperti dia. Bangga juga saya mendengarnya. Ketakutan saya bahwa ia akan minder di tempat kursus barunya (karena yang kursus di situ biasanya anak dari SMP favorit atau anak orang kaya) tidak terbukti. Si ponakan, walau mungkin sebetulnya ada rasa minder juga, bisa mengatasinya. Sesudah beberapa term berjalan lancar, saya dan Okhi sudah tidak terlalu menaruh perhatian lagi. Apalagi, kemudian kami pindah ke Australia. Sampai pada satu term, si keponakan mengabarkan bahwa dia tidak lulus dan harus mengulang. Dia mengeluh bahwa pelajarannya sekarang makin sulit.

Seperti saya bilang diatas, mau dia mengulang sepuluh kali juga saya tidak keberatan. Asal dia sudah berusaha yang terbaik. Kami kemudian bertanya berapa kali dia absen dan minta dia menunjukkan rapotnya ke sepupu kami yang ada di Indonesia. Si keponakan mulai memberi jawaban ngalor ngidul, dan cukup lama kami tidak mendapat jawaban memuaskan untuk pertanyaan sederhana berapa kali dia absen dan berapa nilai rapotnya. Saya mulai sebal. Bolak- balik si keponakan ini hanya berkata dia harus membayar uang kursusnya untuk term berikutnya. Akhirnya, sampai juga salinan rapot ke tangan saya. Dan jreng jreng, terpampang bahwa si keponakan sudah absen selama 9 kali! Sembilan kali dalam satu term, hilarious! Okhi sudah langsung mencak- mencak, tapi saya menunda dulu mencak- mencaknya dan membaca lebih detil. Nilai ujiannya dia jelek (ya iyalah wong gak lulus) tapi bukan itu fokus saya. Fokus saya mencari tahu kenapa nilai ujiannya jelek, karena memang dia tidak sanggup atau karena dia malas? Saya baca nilai Homework nya D, walah itu berarti dia malas mengerjakan PR. Saya baca kolom komentar gurunya, disitu tertulis bahwa menurut gurunya si keponakan ini absen terlalu banyak sehingga kehilangan kesempatan belajar banyak subyek baru, dan dia sering tidak mengumpulkan tugasnya. Sekarang, gantian saya yang murka.

Kalau itu Serafim, saya bakal mengamuk sejadi- jadinya, dan menghukumnya dan mencambuknya dan mengikatnya di tiang jemuran 7 hari 7 malam. Nah, tapi ini kan bukan anak kami. Sebut saya egois, tapi dalam pemikiran saya, sudah bagus dong kami mau membantu membiayai dia, harusnya dia tuh bersyukur dan bekerja keras. Toh kalau dia memang sudah gak mau lagi kursus kami juga enggak maksa kok. Kalau begini, kan ya jengkel juga jadinya, memangnya biaya kursus murah? Mending saya pakai duitnya untuk membantu saudara saya yang lain kalau begitu. Sementara ini, dia bolos karena asyik pacaran dan main- main sama temannya (menurut pengakuan adiknya).

Nah, selain si keponakan ini, kami juga membiayai seorang lagi keponakan lainnya untuk kursus bahasa inggris. Dan kemarin adalah term pertamanya. Si keponakan ini anak cowok kecil, adiknya si keponakan cewek tadi. Dan nggak lulus juga. Saya baca rapotnya, absen 6 kali (what the heck?), dan yang bikin syok adalah komen gurunya : Kamu harus memperbaiki KELAKUANMU dan lebih fokus di kelas, dan jangan sering absen. Sumpah, baru sekali ini saya membaca komen guru yang sebegitu menamparnya di tempat kursus itu.

Si keponakan cowok kecil ini, kemudian berkata bahwa ia tidak mau lagi kursus di tempat pilihan kami itu, dan meminta boleh nggak dia pindah kursus bahasa inggris di tempat dekat rumahnya. Menurut dia pelajaran di tempat kursus yang dekat rumah itu lebih mudah.

Nah, kalau saya ditanya bagaimana perasaan saya dan okhi pada saat itu, sesudah kami mendengar berita bahwa keponakan kami itu tidak serius les nya, harus mengulang kelas yang berarti harus membayar lagi (sementara kami disini bahkan saat jalan- jalan akhir pekan pun membawa bekal makanan biar hemat), nah aslinya nih, si Okhi marah besar sementara saya kecewa. Okhi marah karena dia sebal pada kelakuan ala ABG si keponakan, yang sekarang sibuk berjalan- jalan keluyuran sama temannya sampai malam, sering pacaran sembunyi- sembunyi, sibuk telpon haha hihi. Saya sih tidak peduli pada kelakuan si keponakan, wong bukan anak saya ini, tapi saya kecewa karena niat baik kami tidak dibalas dengan keseriusan. Dan saya terus terang rada bete juga sama emaknya mereka, gimana sih anak enggak serius lesnya begini kok dibiarkan saja. Dan mulai berkata dalam hati "Kalau itu anak saya......."

Gara- gara kejadian ini, saya jadi ingat kejadian saat saya duduk di bangku kuliah. Saya pernah mengusulkan pada ketua perhimpunan mahasiswa di tempat saya, bagaimana kalau kami menggunakan dana amal untuk membiayai SPP para anak SD kurang mampu di lingkungan sekitar kampus kami. Dalam pemikiran saya, program ini bisa berkesinambungan dan kami benar- benar akan bisa membantu beberapa anak mendapat masa depan yang cerah dan membebaskan diri dari jerat kemiskinan. Tanpa saya duga, ketua saya menolak permintaan saya dengan alasan bahwa program itu nggak akan jalan dan sangat sulit berurusan dengan para ortu anak- anak itu. Ketua saya menjelaskan bahwa sebelumnya, dia dan komunitas keagamaan di kampus pernah mencoba melakukan hal serupa, eh tak disangka tak diduga, para orang tua yang dalam pemikiran kami seharusnya sangat senang dan mendukung 'kebaikan' hati kami itu malah menjadi pengganjal yang berat. Kami memang memberikan biaya, tapi itu kan tetap anak mereka. Jadi niat kami yang membantu, setiap selesai rapot an misalnya, maka diharapkan orang tua akan berdiskusi dengan kami untuk melihat apakah ada kesulitan yang dihadapi anaknya, apakah ada bantuan lain yang dibutuhkan. Kenyataannya, boro- boro para orang tua ini antusias dengan nasib anaknya sendiri, yang ada malah para orang tua ini tidak peduli, kadang malah menyuruh anaknya kerja juga, dan malah judes sama pihak yang membantu atau malah mengambil duit yang seharusnya untuk bayar sekolah. Yah sebut saja mental miskin sudah mendarah daging.

Jadi menurut ketua saya, kami harus benar- benar bekerja keras dan bersusah payah kalau kami mau menolong anak- anak itu. Nggak bisa hanya sekedar membayari uang sekolah dan berharap orang tua dan anak penerima bantuan akan sangat antusias dan berhasil dengan sendirinya. Dan sebagai mahasiswa yang sibuk (belajar dan pacaran dan fotokopi catetan teman yang segunung), kami simply enggak punya sisa waktu, tenaga, dan kemauan untuk membantu dengan sebegitu hebohnya anak orang lain yang bahkan bukan saudara kami juga. Maap ye, kami kan bukan badan amal profesional :D.

Balik ke keponakan tadi, reaksi pertama si Okhi adalah "Ya udah, kalau nggak mau lagi les ya nggak papa. Aku juga nggak mau mbantuin lagi." Saya, terus terang juga ada unsur nggak peduli juga, mau ni keponakan melanjutkan kursus kek, mau enggak, nggak ngaruh juga buat saya. Satu- satunya yang penting buat saya mah hanya si Serafim. Wong emaknya mereka aja nggak pusing, kok saya harus pusing. Hanya kemudian, saat emosi sudah mereda, saya berpikir, iya sih bukan kewajiban saya juga untuk bertanggung jawab pada masa depan para keponakan. Tapi, pada awalnya kan niat saya ingin membantu mereka supaya mempunyai kesempatan yang lebih baik di masa depan, dengan kemampuan berbahasa Inggris yang baik. Dan ternyata, dengan sekedar memberikan uang les, niat itu tidak kesampaian. Lalu apakah kami lalu menyerah saja ya?

Saya bilang pada Okhi, bahwa kalau dipikir- pikir, apa yang dilakukan si keponakan cewek itu adalah hal yang normal juga sebetulnya. Namanya abege, baru pertama kali pacaran, baru pertama kali punya geng juga di sekolahnya (dia baru saja masuk ke bangku SMA), ya wajar juga dia jadi terhanyut pada kehidupan senang- senang ala ABG. Jadi sering nonton, makan, jalan- jalan, sering pulang telat dan sebagainya. Wajar. Okhi dengan gusar menjawab "Tapi ya kan nggak bisa kita anggap benar dong, terus dibiarin aja."

Dengan sabar saya menjawab bahwa tentu saja bukan berarti kami oke- oke saja akan ketidak seriusan si keponakan cewek dengan les nya. Tentu dia harus dinasehati, dimarahi atau bahkan kalau perlu dihukum. Tapi apakah kami ingin menghukumnya dengan menarik kembali bantuan yang mungkin berarti merampas kesempatannya untuk bisa belajar bahasa inggris? Coba bayangkan kalau yang melakukan kesalahan itu Sera, apakah kami akan dengan serta merta mengeluarkan si Sera dari tempat kursus misalnya? Tentu tidak kan? Jadi, kami memutuskan bahwa kali ini, kami akan mengulur cinta. Kalau kami memang ingin supaya si keponakan ini bisa berbahasa inggris, ternyata tidak bisa sekedar mengirimkan duit les dan sudah semua beres. Kami kemudian mengajak si keponakan cewek chatting, mencari tahu apa yang dia rasakan dan sekaligus memberikan pesan awas kalau berani nggak serius lagi.

Alasan si keponakan cewek akan banyaknya jumlah absennya adalah kadang dia tidak ada yang mengantar les ("Tapi kalau untuk pergi pacaran bisa," gerutu Okhi) dan bahwa masalahnya telat 15 menit pun dianggap absen. Dan si keponakan pun, yang memang aslinya anak baik- baik, menyadari bahwa dia salah karena sudah tidak serius. Jadi tercapailah kesepakatan bahwa ya si keponakan masih mau les, dan ya dia akan serius. Di sisi kami, saya sadarlah namanya abg itu masih maunya senang- senang doang, jadi kamipun akan lebih memperketat pengawasan. Setiap selesai satu term, maka si keponakan harus segera mengirimkan nilai rapotnya, dan kami meminta bantuan sepupu kami di Indonesia untuk membantu mengawasi. Lalu uang les selalu kami kirimkan ke sepupu kami itu, menjaga supaya si keponakan yang anak ABG tidak tergoda memakai uang les untuk nonton film. Yah namanya juga ABG. Lalu kami mengatur supaya ada tukang ojek yang akan selalu siap mengantarkan si keponakan kursus.

Untuk si keponakan cowok kecil, saya tidak serta merta mengiyakan keinginannya untuk pindah tempat kursus. Saya nggak tahu bagaimana kualitas si tempat kursus pilihan dia. Kalau hanya tempat kursus abal- abal, sekedar seratus ribu rupiahpun saya nggak akan sudi membayari. Lalu saya membaca lagi rapotnya, dan saya berkata ke Okhi bahwa mungkin si keponakan kecil ini sebetulnya minder, jadi dia bertingkah nakal di tempat kursus sebagai kamuflase. Kalau itu anak saya, saya akan mengajaknya berbincang panjang lebar, karena tentu saya tidak ingin anak saya tersiksa karena minder misalnya. Tapi berhubung saya bukan emaknya, dan kami berada di tempat yang jauh, saya tidak terlalu bisa berkutik. Jadi pilihannya, si keponakan cowok mau tetap kursus di tempat pilihan saya (dengan kami menghiburnya bahwa belajar bahasa inggris memang susah di awal- awal, dan it's ok kalaupun dia harus mengulang lagi selama dia sudah belajar serius) atau ya sudah kami tidak akan membiayainya lagi. Sedikit lebih tega daripada pendekatan kami pada si keponakan cewek, tapi saya tidak punya pilihan lain.

Dari kedua keponakan kecil saya ini, saya belajar bahwa terkadang menolong orang itu tidak semudah memberikan duit dan berharap si penerima akan dengan sendirinya berjuang dengan sebaik mungkin (walau secara logika kan ya harusnya gitu, sudah ditolong kok masih ngerepotin). Tapi ya itu tadi masalahnya, pertanyaannya apakah kami memang ingin dia berhasil. Kalau memang kami menginginkan keberhasilannya, ya ternyata sekedar duit saja tidak cukup. Kami harus sedikit lebih repot cawe- cawe dan memarahi. Ya sebetulnya menurut saya itu sih tanggung jawab orang tuanya lah, tapi kalau memang orang tuanya tidak melakukannya, sekarang kembali pada si penolong, apakah mau mengulur cintanya dan do extra miles untuk membantu.

Untuk kasus ini sih masih gampang lah solusinya. Namanya juga anak kecil, pasti kita akan lebih banyak maklum. Dan toh kita masih bisa mengomel ke mereka saat mereka salah. Tapi bagaimana saat yang niat kita bantu adalah orang dewasa, dan dia berlaku seperti anak kecil. Dibantu modal usaha misalnya, tapi malah tidak serius dan berakibat uang melayang. Secara logika ya mungkin sudah, tiada kata maaf bagimu. Tapi kata pepatah, menolong itu harus utuh. Tentu saja maksudnya sih tidak berarti kita harus menolong membabi buta sampai habis- habisan. Itu tidak mendidik juga namanya. Tapi mungkin kita harus sadar bahwa mungkin yang dibutuhkan orang itu tidak sekedar modal, tapi juga bimbingan.

Emak saya pernah mencoba memodali seorang saudara. Beberapa kali dicoba memodali, bangkrut lagi bangkrut lagi. Sampai akhirnya emak saya kapok untuk asal memodalinya. Dan mulai memikirkan dengan serius apa ya usaha yang cocok untuk si saudara. Akhirnya, emak saya menemukan bahwa si saudara ini sangat bertangan dingin dalam urusan bercocok tanam. Maka instead of sekedar menggelontorkan modal, emak mendorong saudara saya untuk ikut kursus budidaya jamur, kemudian mencarikan tempat untuk memulai usahanya, membantunya mencari pasar, dan tetap memantau usaha yang sedikit demi sedikit berkembang ini.

Saya dulu sempat menggerundel bahwa ya sudah kalau saudara saya ini nggak bisa dibantu, ngapain sih emak saya harus repot- repot membantunya. Wong sudah dewasa kok masih perlu diurusin. Tapi ya itulah, tidak semua orang bisa maju hanya dengan sedikit bantuan. Banyak orang yang harus terus dibantu dari berbagai sisi sampai akhirnya dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Seperti emak saya yang harus repot- repot mencarikan jadwal kursus jamur, membelikan tiket kereta, dan membantu memilih jamur yang ingin ditanam. Kalau emak saya memang tidak sanggup sebegitunya membantu, ya dia juga enggak dosa kok. Hanya karena dia pingin supaya saudara saya yang luntang lantung hidupnya itu bisa maju, maka dia bersedia repot. Tapi tentu saja ini repot yang terakhir. Kalau masih gagal juga karena ketidakseriusan, ya sudah sana ke laut aja deh!

Namanya manusia, saya juga pasti bakal pernah membutuhkan bantuan teman. Setelah merasakan betapa menyebalkannya membantu orang yang tidak serius, maka saya berjanji deh, sumpah pramuka, bahwa kalau saya menerima bantuan dari orang, maka saya harus berusaha dengan sepenuh hati, supaya yang membantu saya itu tidak sebal hati dan merasa kecewa. Dan masalahnya, semua orang mempunyai titik kesabaran yang berbeda- beda. Jadi tentu saya tidak bisa mengharap si penolong saya ini akan memberikan kesempatan kedua atau ketiga bagi saya kan....

Menerima bantuan orang itu bukan dosa dan tidak memalukan. Kalau dengan bantuan itu kita bisa memiliki hidup yang lebih baik, kenapa tidak? Nggak usah malu atau gengsi. Manusia itu memang butuh orang lain kok. Tapi menyia-nyiakan bantuan, nah itu baru tolol namanya....

Sera mohon bantuan agar bisa dikirimkan seorang emak yang baik dan sabar, untuk menggantikan emak bawelnya Sera......

Monday 7 November 2011

My Monday Note -- Very Very Important Person

Suatu hari saya membaca status teman saya di FB yang intinya berkisah bahwa ia merasa bete dengan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri yang dikirimkan oleh para relasinya ke BB nya. Masalahnya adalah kebanyakan pesan itu adalah pesan hasil copy paste, dan menurut pendapat teman saya itu "Mending gak usah ngirim ucapan selamat lebaran deh kalau hanya hasil copy paste, basa- basi banget deh!"

Saya tertawa membaca status ini, karena sayapun mengalami juga yang namanya menerima ucapan- ucapan basa- basi hasil comot sana sini di hape saya (yang jelas saja bukan Blackberry). Begini contohnya, saat lebaran tiba, maka saya akan menerima sms- sms semacam :

Bryan Adams said “Please Forgive Me..”
Rio Febrian said “Ooo.. Maaf, maafkan diriku..”
Ruben Studdard said “Well this is my sorry for 2011.”
Yuni Shara said “Mengapa tiada maaf bagiku.”
Elton John said “Sorry seems to be the hardest word.”
Mpok Minah said “Maaf.. bukannya saya ngak ngerti.. bukannya saya nggak sopan..”
I said “Minal Aidin wal faizin..”

Begitu juga saat natal, akan ada sms semacam ini yang masuk ke hape saya :

May the peace and love of God fill each day of your life and light your way through the New Year.
Wishing you and your family His Blessing always. Merry Christmas and Happy New Year.

Saat ulang tahun, maka saya akan menerima ucapan selamat ulang tahun semacam :

Selamat ulang tahun, GBU.

Saya mengerti kenapa teman saya merasa sedikit kesal dengan sms- sms semodel di atas. Loh, padahal sms selamat lebaran yang diatas itu sebetulnya lucu juga kan? Dan sms selamat natal yang diatas itu juga indah kan? Tapi terus terang, saat saya menerima sms ucapan selamat natal, lebaran, dan ultah dengan model seperti diatas, maka saya tidak bisa berkata bahwa saya akan menjadi over joy atau tersenyum lebar. Karena sms semodel diatas adalah model sms yang menunjukkan bahwa si pengirim bukanlah teman dekat saya, dan let's just say sms itu paling-paling hasil copas dan tidak ditujukan hanya kepada saya secara pribadi. Dan mungkin, sms lebaran nan lucu itu juga dikirimkan sekaligus ke puluhan orang lainnya.

Karena biasanya yang mengirimkan sms semacam itu adalah mereka yang enggak sebegitu hangatnya hubungannya dengan saya, karena toh model sms nya hanya sms kodian nan generik, maka biasanya balasan yang saya kirimkan juga hanyalah standar nan datar semacam "Terimakasih, semoga damai natal menyertaimu juga" atau "Sama-sama, mohon maaf lahir batin ya" atau "GBU too."

Hanya bedanya, kalau teman saya jadi kesal dengan sms- sms kacangan semacam diatas, saya tidak merasa sebal dengan sms itu. Tidak happy yayayaya, tapi juga tidak terganggu. Simply karena selain saya menjadi penerima sms hasil copas, saya juga mengaku sebagai pelaku yang mengirimkan sms generik ke hape orang lain juga. Jadi gimana mau marah, lha wong saya juga ikut serta dalam dosa mengirimkan ucapan selamat sedikit kurang niat seperti diatas.

Nah, sebagai pihak pelaku dan sekaligus korban ucapan selamat basa- basi, saya jadinya berpikir apakah memang yang jamak dilakukan banyak orang itu salah ya? Maksud saya, memang tidak ada yang bisa mengalahkan ucapan selamat yang ditujukan sangat pribadi kepada kita seorang, semacam "Selamat natal ya Meg, dikasih hadiah natal apa sama Okhi?" karena ucapan sangat pribadi itu menunjukkan si pengirim mengenal kita dan memang benar- benar meluangkan waktunya untuk mengirimkan ucapan selamat kepada kita seorang. Kan nggak mungkin dia mengirimkan ucapan yang sama seperti itu ke orang- orang lain kan? Tapi apa itu berarti ucapan non-personal yang mungkin memang hasil menyontek sms orang lain, yang mungkin memang kita kirimkan ke puluhan orang sekaligus itu ucapan yang tidak berharga ya?

Saya jadinya coba mengingat apa sih yang saya rasakan setiap lebaran atau natalan menjelang, dan saya akan memulai ritual mengirim ratusan ucapan melalui sms atau wall FB. Di otak saya, yang pertama kali berkelebat adalah beberapa nama yang menjadi sahabat dekat saya. Untuk para sahabat ini, saya akan meluangkan waktu dengan sungguh- sungguh agar bisa mengirimkan ucapan selamat yang sangat pribadi semacam " Jadi So, lebaran ini kamu mudik ke rumah mertuamu yang mana? Yang siamang atau babon? Dan saya tidak keberatan bersusah payah menulis di wall masing- masing sahabat saya ucapan selamat yang benar- benar hanya untuk mereka seorang.

Setelah para sahabat, berikutnya adalah teman yang saya kenal secara pribadi, tapi ya enggak dekat- dekat amat. Untuk mereka, saya masih bersedia untuk menulis di wall FB mereka masing- masing, tapi dengan pesan yang less personal pastinya. Mungkin ucapan lebaran semacam "Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin ya.... Salah dan dosamu juga sudah saya maafkan kok :D." Yang utama karena saya tidak kenal mereka secara dekat sekali, saya tidak punya pengetahuan 'intim' akan hal pribadi mereka (don't be dirty mind now). Jadi saya mungkin tidak akan bisa bertanya apakah dia mudik ke kampung misalnya, karena saya tidak tahu apakah teman saya itu punya kampung atau tidak. Tapi lagi- lagi, meskipun tidak sebegitu niatnya membuat ucapan yang spesial, saya tetap berniat baik dengan mengirimkan ucapan setengah basa- basi itu.

Dan terakhir ucapan selamat yang saya kirimkan pada mereka yang di satu dan lain hal bersinggungan dengan kehidupan saya. Mungkin seorang supplier yang saya temui dua kali dalam setahun. Mungkin seorang teman sekantor yang tidak pernah mengobrol dengan saya. Mungkin bos yang hanya saya lihat saat gajian. Seseorang yang dibawa sang nasib dalam kehidupan saya, tapi tidak diperkenankan untuk menjadi teman saya. Dan karena mereka ini jumlahnya bejibun, karena saya tidak mengenal mereka secara pribadi, karena saya tidak punya ide untuk menuliskan sesuatu yang personal, karena tentu saja saya tidak akan berani menuliskan guyonan dalam ucapan selamat saya, maka saya akan mengirimkan ucapan selamat yang generik, sopan, dan mungkin juga copy paste (walau sumpah deh, saya tidak pernah se-alay itu untuk mengirimkan ucapan dengan kalimat Bryan Adam, Mpok Minah de el el). Terkadang, saat saya menerima SMS yang manis dan formal seperti ucapan selamat natal yang saya tulis di atas, maka saya akan menggunakan sms itu sebagai template dan mengirimkannya ke para 'kenalan' ini.

Mungkin sebagian niat saya hanyalah basa- basi, mungkin sebagian niat saya hanya mengirimkan ucapan selamat karena kebetulan nama si kenalan itu kok ya muncul di daftar nomer telepon di hape saya, mungkin saya hanya mengirimkan sms sekedar untuk kepantasan, tapi saya melakukannya dengan niat yang tulus juga kok. Mengucapkan selamat yang menunjukkan saya at least masih menyimpan kontak detil si kenalan. Jadi bagi saya, rasanya apa yang dikeluhkan teman saya mengenai ucapan selamat basa- basi itu ya tidak adil juga. Walaupun mungkin basa- basi, tapi itu basa- basi yang dilandasi niat baik.

Saat saya menerima sms ucapan selamat generik hasil copas, saya akan menyadari bahwa saya ternyata bukan orang yang spesial di hati si pengirim. Saat seseorang menuliskan selamat ulang tahun di wall saya dengan tulisan "Met milad, semoga sukses", saya menyadari bahwa si pengirim mungkin hanya melihat notifikasi di FB akan ulang tahun saya, dan dengan ucapan yang menunjukkan ia tidak terlalu mengenal saya secara pribadi (karena saya sempat bingung apa sih artinya milad itu) mengirimkan ucapan selamat yang biasa banget dan nyaris basi. Tapi hei, meskipun dia tidak menganggap saya sebegitu spesialnya, toh dia mau meluangkan waktu beberapa detik untuk mengirimkan ucapan selamat bagi saya. Dan siapalah saya harus merasa tersinggung karena tidak dianggap sebegitu pentingnya oleh semua orang. Toh saya juga bukannya orang paling baik dan suci di dunia yang berhak menuntut dianggap penting oleh semua orang. Saya bahkan sering malas mengirimkan ucapan selamat ulang tahun di FB kecuali saya mengenal dekat orang itu. Jadi, apalah hak saya untuk naik darah?

Saya ingat beberapa waktu yang lalu mengirimkan ucapan selamat kepada Angela, teman di Monday Note ini yang jujur saja belum pernah saya temui dalam kehidupan nyata. Saya, tidak tahu apapun tentang dirinya, tapi saya memang ingin mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Jadilah ucapan ulang tahun yang saya kirimkan padanya benar- benar generik, semacam "Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, Tuhan memberkati." Dan saya rasanya bakalan tersinggung juga kalau si Angela kemudian menuduh saya tidak serius dan mengirimkan pesan balasan "Daripada basa- basi mending nggak usah ngucapin selamat deh!" Halah, sudah saya susah payah meluangkan waktu mengirimkan pesan walau generik, kok malah saya diomelin.

Tapi karena omelan teman saya ini saya jadinya diingatkan juga akan pelajaran paling mendasar dalam berinteraksi dengan semua orang. Semua orang, siapapun dia, secara umum senang dianggap penting. Saya pun, sangat senang jika ada orang yang mengingat ulang tahun saya (padahal mungkin saya bahkan lupa nama orang itu). Saya senang jika seseorang ingat nama saya walaupun mungkin baru bertemu dua kali. Saya akan meringis bangga bila ada seorang bos besar ingat bahwa saya adalah staf marketing anak buahnya dia juga. Jadi sebetulnya teman saya itu menunjukkan sisi manusiawi setiap manusia; ingin dianggap penting, ingin 'diuwongke' kata orang Jawa.

Saya, yang meskipun sangat cantik dan baik hati, tetap saja seorang manusia biasa. Dan saya pernah merasakan bahwa saya sendiri juga kurang suka saat saya merasa orang lain menganggap saya kurang penting. Saat suatu ketika seorang teman bertanya kenapa saya belum bekerja dan tidak mengambil program master lagi disini, dan saya kemudian menjelaskan dengan panjang lebar, dan kami terlibat percakapan cukup seru mengenai hal ini. Seminggu kemudian, saat saya bertemu lagi dengan teman saya itu, saat kami bercakap- cakap, dia kemudian menanyakan ke saya "Kamu kok belum kerja Meg? Nggak niat sekolah lagi kah?" *#%*^%#%^

Lalu pernah suatu kali seorang teman mengenalkan saya pada temannya yang lain. Saya tersenyum dan kami mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Saya mengernyitkan dahi karena si temannya teman ini bahkan tidak meluangkan waktu untuk menatap mata saya saat berjabat tangan. Dan sedetik kemudian, tetap tanpa menoleh kearah saya, ia melepaskan genggaman dan langsung mengobrol lagi dengan orang lain. Beberapa bulan kemudian, kebetulan kami bertemu lagi dalam suatu acara. Dan teman saya sekali lagi mengenalkan saya ke si orang angkuh itu (teman saya ini pikun juga sih). Dan si angkuh tetap menyalami saya dengan gaya sama. Sebetulnya saya sudah males banget bersalaman dengannya pada saat itu, jadi saya juga tidak bersusah payah melihat ke matanya dan tersenyum. Saya menyalaminya dengan gaya yang sama; cuek dan sekenanya saja.

Dan terus terang, hal sepele semacam orang yang seolah tidak niat saat bersalaman dengan saya, membuat saya tersinggung juga. Emangnya gue sebegitu nggak penting ya untuk ditatap? Atau sebegitu jelek?

Pengalaman paling ekstrem soal bagaimana membuat orang merasa penting saya rasakan saat saya bekerja di sebuah perusahaan distributor. Tujuan utama dan satu- satunya perusahaan adalah menjual sebanyak- banyaknya produk pada para klien kami. Dan saat saya melakukan customer visit dengan bos saya Bu Eka atau teman sales saya Pak Heris, saya melihat pertunjukan kelihaian menempatkan orang dalam posisi yang penting. Saat si klien berbicara, maka Pak Heris dan Bu Eka akan dengan intens memusatkan perhatian ke arah klien kami. Enggak sambil disambi sms an atau update status via BBM, enggak sambil ngupil atau matanya menerawang ke langit- langit. Dan mereka akan mengangguk- angguk di saat yang tepat, tertawa saat si klien membuat lelucon, dan memuji disaat sang klien membeberkan rencana dan strateginya. Kemudian di saat kami akan pamit pulang, maka mereka akan bersalaman dengan hangat, Bu Eka akan melontarkan celetukan seperti bagaimana dia berharap mbok ya klien kami yang lain juga mempunyai pandangan seluas klien kami itu sehingga bisa enak berdiskusi. Pak Heris akan menimpali bahwa kalau bertemu dengan Bu Anu ini dia jadinya selalu bisa mendapatkan pengetahuan baru. Dan di saat Bu Anu berulang tahun, Pak Heris tidak akan pernah lupa berkunjung dan mengucapkan selamat. Bahkan sekali- kali, tanpa ada sesuatu yang spesial yang harus dirayakan, Bu Eka akan tiba- tiba membawakan jam tangan oleh- oleh dari perjalanannya ke Eropa.

Untuk urusan sales begini, anda sih bisa berpikir bahwa yang dilakukan Pak Heris dan Bu Eka bukanlah dilandasi niat tulus. Semata karena ingin jualan. Oh iya dong, memang pasti jualan harus jalan terus. Tapi disuatu kali kami makan bersama, dan saya bertanya apakah mereka berdua memang selalu berpura- pura menyukai klien kami, maka Bu Eka berkata bahwa dia tidak berpura- pura. Setiap dia bertemu dengan seorang klien baru, maka di otaknya dia selalu menyiapkan mental bahwa ia ingin berteman dengan si klien ini. Dan untuk bisa berteman dengan seseorang, maka tentu saja dia harus menempatkan orang itu pada posisi dimana ia merasa dihargai. Kalau si klien orang yang menyenangkan, maka pertemanan mereka akan dengan cepat terjalin. Tapi untuk klien yang sulit dan menyebalkan, maka menurut Pak Heris "Semua orang itu pada dasarnya ada sisi baiknya Mbak, dan betapapun menyebalkannya dia, saya selalu yakin suatu saat dia bakal jadi teman saya." Tentu tujuan akhir hubungan itu adalah transaksi bisnis, tapi dalam prosesnya bos sales saya memang menikmati menambah teman satu lagi. Bahkan untuk customer yang sudah pensiun misalnya, Bu Eka akan once in a while tetap mengajaknya makan bersama dan mengirimkan parsel di saat Lebaran. "Karena Meg, nasehatnya dengan serius, semua orang akan senang kalau dia merasa dihargai dan dianggap penting."

Oke, dalam urusan dengan sales tentu saja mereka akan lebih tabah mencoba berteman dengan orang paling menyebalkan sekalipun karena ada kepentingan lain. Nah, kalau saya sih tentu saja tidak berniat menjadi seorang santo dan selalu berbaik sangka dengan semua orang lain. Hidup hanya sekali, kenapa juga saya susah- susah mencoba berteman dengan orang yang menyebalkan. Tapi karena saya sendiri sangat tidak suka diremehkan atau dianggap tidak penting, saya tidak ingin juga menjadi orang yang membuat orang lain jadi sebal dan tersinggung hanya karena gesture dan ucapan saya (yang mungkin sebetulnya saya juga tidak bermaksud meremehkan mereka juga sih).

Dan saya pikir- pikir sebetulnya tidak susah juga melakukannya in term of memberikan ucapan selamat misalnya. Saat lebaran tiba, dan tangan saya pastinya akan pegal linu nyeri otot mengirimkan ratusan ucapan selamat melalui sms, maka saya melakukan strategi. Setelah semua sahabat dan orang yang memang dekat di hati saya sudah saya kirimi sms nan pribadi, maka saya akan beralih mengirimkan sms generik ke para kenalan. Tapi saya akan menghindari mengirimkan sms hasil copas nan alay, yang memang bikin jengkel yang membaca. Masih untung sms yang saya terima menyertakan nama Bryan Adams dan Elo, coba kalau ucapan selamatnya menyertakan nama si Ipul Jamela misalnya, bukannya senang saya malah bakal angot karena diingatkan pada artis lebay yang meracuni pantai Jakarta dengan kolor bekasnya.

Saya pikir akan lebih baik untuk mengarang sendiri sms yang ingin saya kirimkan (walau ide dasarnya bisa saya comot dari sms yang saya terima), sms sederhana dengan bahasa Indonesia (saya yang orang jawa bakalan sebal kalau menerima sms ucapan selamat dalam bahasa madura atau maluku yang tidak saya pahami artinya), netral pesannya, dan memberikan sedikit sentuhan pribadi yang membuat sang penerima akan merasa saya menganggapnya cukup penting. Untuk para teman cewek sebaya yang tidak saya kenal dekat, saya akan menuliskan pesan sederhana "Mohon maaf lahir batin ya kalau saya punya salah, mohon ketupat segera dikirim ke rumah ya neng....." Lalu ucapan ini akan saya kirimkan sekaligus ke puluhan wanita teman saya tadi. Dan sedikit sentuhan pribadi dengan menambahkan kata neng di ucapan saya tadi, percaya atau tidak, membuat saya menerima banyak ucapan terima kasih yang cukup hangat, karena si penerima menganggap saya mengirim pesan itu khusus untuk mereka (dengan memberikan tambahan neng, saya mengindikasikan bahwa saya SADAR bahwa saya mengirimkannya ke seorang wanita yang sebaya dengan saya). Kemudian berganti saya menyiapkan sms untuk para teman pria saya, dengan template yang sama dan tinggal mengganti sapaan neng dengan bang. And so on and so on.

Anda menganggap saya munafik? Hm, saya itu cantik, menarik, enerjik, eksotik, kliennya dukun klenik, tapi enggak munafik. Kenapa saya harus dianggap munafik kalau saya berniat membuat orang lain, yang bahkan tidak sebegitu pentingnya bagi hidup saya sebetulnya, untuk merasa dianggap penting?

Dan saat saya berkenalan dengan seseorang, saya akan berusaha untuk benar- benar menjabat tangannya, dan mengarahkan pandangan saya ke mata orang itu. Enggak salaman sambil matanya tetap kelayapan kemana- mana. Karena saya pernah merasakan betapa jengkelnya hati saya saat seseorang bersalaman dengan saya dengan gaya nggak niat, seperti saya tidak lebih berharga dari kecoak di jendela. Yah, hal- hal kecil yang enggak susah juga melakukannya, tapi bisa membuat orang yang berhadapan dengan saya jadi suka hati. Dan mungkin- mungkin, kedepannya orang ini akan menjadi teman saya, atau klien saya, atau malah bos saya. Dan berusaha memusatkan perhatian ke arah lawan bicara saya saat mengobrol. Karena tidak ada yang lebih menyebalkan bagi saya daripada mengobrol dengan orang yang matanya setiap 10 detik melirik layar BBM nya (sindrom minder kagak punya BB).

Suatu kali saya membuka wall sebuah toko online di FB, dan salah satu calon customer si toko online bertanya apakah di toko menjual kaos kaki binatang untuk bayi. Jawaban si pemilik toko "Kami punya produk itu, tapi saya lupa ada di album yang mana fotonya. Cari saja sendiri ya...." Saya terkekeh- kekeh geli. Kalau saya yang jadi si customer, enggak bakal saya jadi belanja di toko itu sampai kiamat. Ngapain beli produk dari penjual yang nggak menganggap saya penting begitu? Kalau saya jadi si penjual, dan saya memang rada males untuk mencarikan foto tu produk di album FB saya, saya bakal menjawab dengan diplomatis semacam "Saya punya barangnya Mbak, tapi mohon maaf nih saya lupa meletakkan di album yang mana. Saya akan carikan ya mbak, tapi monggo kalau embaknya juga mau lihat- lihat albumnya, banyak barang- barang lucu yang bakal cocok banget buat si dedek."

Meskipun semua orang saya yakin pada dasarnya suka dihargai, tapi ada beberapa orang yang saya nobatkan 'gila hormat'. Suatu kali, saya bertemu dengan seorang ibu dalam sebuat meeting. Saat kami berkenalan, dan kemudian dia mengetahui bahwa saya adalah lulusan Farmasi Unair, maka dengan muka masam dia berkata "Kamu lulusan Unair harusnya kenal siapa saya dong. Kamu kan pernah PKL di dinas dan saya salah satu pengajarnya."

Dengan sopan saya meminta maaf dan menyalahkan diri saya, tapi dalam hati saya menertawakan si ibu gilhor ini. For your information, saat saya dan teman satu angkatan saya PKL di kantor si ibu, kami (50 anak) diletakkan di ruangan yang remang- remang karena kami itu dicurigai vampir. Bukan bukan, tapi karena materi pelajaran yang kami terima semuanya menggunakan proyektor, sehingga biasanya ruangan digelapkan. Lalu, setiap materi maka pengajarnya berbeda, jadi satu orang mungkin hanya akan berdiri di depan kami kurang dari sejam. Selama seminggu PKL di dinasnya, kemungkinan kami diajar lebih dari 10 orang. Dan kami PKL tidak hanya di satu tempat, tapi lebih dari 3 tempat. Dan waktu itu saya sudah lebih dari tiga tahun lulus dari bangku kuliah. Jadi orang waras mana yang akan mengharap bahwa saya akan ingat wajahnya dan namanya yang hanya saya temui satu jam dalam seumur hidup saya?

Lalu saat saya duduk di bangku kuliah, suatu ketika teman saya berkata kepada saya "Meg, tadi kamu dicari Bu Anu. Kamu disuruh nemuin dia atau telpon aja ke rumahnya." Saat itu saya adalah mahasiswa bimbingan si dosen dalam salah satu proyek. Sore harinya, saya menelepon beliau. Dengan nada sangat sopan seperti layaknya mahasiswa berbicara pada dosennya yang berkuasa akan nilainya, saya berkata "Sore Bu, tadi di kampus si Ana berkata bahwa Ibu mencari saya, dan saya diminta menelpon ibu ke rumah. Apa ada yang harus saya kerjakan ya Bu?" Dan di luar perkiraan saya, meledaklah si ibu. Dengan marah dia berkata bahwa saya tidak sopan dengan berkata bahwa dia yang mencari saya. Seharusnya sayalah yang mencari dia karena saya yang butuh bimbingannya. Dan beraninya saya berkata bahwa dia MEMINTA saya. Memangnya siapa yang butuh bimbingan? Saya atau dia? Kok beraninya saya berkata bahwa si ibu yang meminta saya.

Tentu saja saat itu saya serta merta dengan sangat rendah hati minta maaf padanya dan berkata bahwa iya saya ini sungguh enggak sopan. Nggak tahu aturan. Dan melunaklah hati beliau. Tapi saat menutup telpon, saya sampai mengulang- ulang kalimat saya yang telah membuat si dosen merasa tidak dihargai. Bagian mana dari kalimat saya yang telah membuatnya tersinggung ya? Apa seharusnya saya berkata bahwa dia MEMERINTAHKAN saya untuk menelponnya? Jadi jelas bahwa statusnya adalah saya mahasiswa dengan status lebih rendah dari dia? Saya geleng- geleng kepala dengan bingung. Dan karena saya bukan orang suci, keesokan harinya jelas saya langsung menceritakan hal ini di depan teman- teman saya. Dan meledaklah tawa kami semua mendengar pertunjukan gila hormat itu. Dan semua orang setuju bahwa dosen ini rada- rada sinting.

What I'm trying to say is, saat anda merasa seseorang membuat anda merasa kurang dihargai atau diremehkan, just shut your mouth. Kalau dia tidak menatap mata anda saat bersalaman dan mengacuhkan anda, atau mengirimkan sms dengan nama Ipul Jamela disitu, ya sudah terima saja bahwa dia tidak menganggap anda penting. Apa hak kita memaksa orang lain menganggap kita penting? Sebagai balasan atas kekasarannya, ya sudah kita abaikan saja dia. Dia acuh pada anda, ya anda juga ngapain memepedulikan dia lagi? Karena bila kita protes atau marah, maka biasanya orang itu akan menertawakan kita di belakang punggung kita dan menyebarkan ke orang lain bahwa kita itu tipe manusia gila hormat.

Saat seseorang tidak menghargai anda, there is nothing you can do. Terima saja bahwa itu hak mereka, dan kemudian abaikan mereka. Berarti dia tidak berharga untuk dijadikan teman.

Seperti status teman saya yang protes akan sms copas yang dia terima. Jadinya, dia justru menerima komentar- komentar menyudutkan dari teman- temannya yang lain. Teman- teman FB nya malah menasehati bahwa yang penting kan niat silaturahmi yang terkandung dalam sms ucapan selamat lebaran itu. Kalau saya jadi dia, saya akan diam saja, tapi saya mungkin juga tidak akan bersusah payah mengirimkan sms ucapan selamat lebaran ke para tukang kirim sms copas alay itu.

Sekarang, saat mengobrol dengan teman saya yang again and again bertanya soal kenapa saya belum kerja, apapun pertanyaannya dia saya hanya akan menjawab singkat "Iya, emang belum." Supaya saya nggak capek tanpa hasil, ya saya nggak usah menjelaskan panjang lebar padanya. Kalau diajak ngobrol dengan si teman ahli BBM, ya saya akan ikut sibuk mencetak cetok hape non BBM saya. Saya kan memang pendendam :D.

Tentu saja saya mungkin tidak akan diam saja jika yang dimata saya meremehkan orang lain itu si Okhi atau Serafim misalnya. Tentunya itu kewajiban saya untuk mengingatkan mereka. Karena mereka makhluk yang penting bagi saya. Tapi kalau hanya orang yang tidak dikenal atau teman di kantor yang toh bukan sahabat juga, ngapain amat susah- susah marah atau menasehati? Memberikan nasehat tanpa diminta biasanya hanya akan membuat si penerima marah.

Tentu saja saya pernah menuntut dihormati. Saat saya ingin check-in di suatu hotel di Bali, dan kemudian petugas hotelnya seperti mengabaikan saya dan malah melayani tamu bule yang datang belakangan (mungkin karena tampang gembel saya), marahlah saya . Dengan suara sangat dingin dan mata menyipit menakutkan (menurut si Okhi yang menikmati cara saya mengatasi masalah ini sementara dia santai-santai menyesap welcome drink), saya berkata ke arah si embak bahwa saya sudah datang lebih dahulu dan saya berhak dilayani terlebih dulu. Bahwa dia sudah bertindak tidak sopan dengan mengabaikan saya, dan saya menuntut untuk segera dilayani. Oh saya sadar bahwa di belakang saya si embak akan marah dan mengata-ngatai saya wanita gembel sok penting di depan teman- temannya, tapi saya tidak peduli. Karena saya memang tidak berniat berteman dengannya, dan saya hanya ingin hak saya diberikan. Dan setelah saya selesai dilayani, saya tetap mengucapkan terima kasih dengan sopan kok, hahahahaha.