Monday 28 March 2011

My Monday Note -- Semangat Ala Kecoak

Suatu hari, teman saya Pharmasinta (iya, yang sering disebut2 namanya sama Okhi pas lagi menggigau) bilang " Ternyata semangat ala kecoakmu itu turunan ya Meg."

Saya garuk-garuk dengkul. Kalau dibilang saya item mirip kecoa, atau baunya bacin kayak kecoa, atau bikin eneg kalau dilihat kayak kecoa sih saya sudah biasa. Semangat ala kecoak? Apaan tuh? Setelah googling (yeah, I'm an internet freak), kira-kira definisi Semangat Kecoak adalah kemampuan untuk berjuang dan bertahan hidup. Setelah Hiroshima dibom atom sama Uda Sam, ternyata yang bisa bertahan survive di tengah radiasi ya gerombolan para kecoak yang terhormat. Keren ya, senjata pemusnah massal ala nuklir saja tidak mampu membunuh seekor kecoak. Beliau hanya bisa dicabut helaian nyawanya dengan senjata yang lebih mematikan dan canggih. Tepokan sandal jepit tepat di jidatnya.

Berpikir-pikir soal ke-kekeuhan berjuang dalam hidup, ada dua orang dalam hidup saya yang menurut saya punya semangat Gambate. Yang pertama, Bapak saya tercinta Sulardi. Seluruh perjalanan hidupnya adalah perjuangan tiada henti (kok kayak narasi perjuangan Palagan ambarawa ya?).

Dimulai dari kelahirannya. Dia anak kesepuluh dari sepuluh bersaudara. Mbakyunya aja setiap malam mendoakan "Le..le... mbok yo wis mati wae..." karena kasihan melihat bentuk si bayi yang kurus kering dan napas yang istilahnya si Mbakyu 'sentik-sentik'. Eh, ternyata Bapak saya bertahan hidup lho, malah sekarang jadi tambun.

Lalu, dia sekolah di desa. Sumpah, desanya Papa itu terbelakang banget. Sekolahnya juga ya gitu deh. Rapot SD nya, naudzubilah jeleknya. Sampai simbah harus membelikan bolpen merah buat pak guru untuk mengukir rapot anaknya, karena dana BOS hanya bisa mengcover pembelian tinta warna hitam dan ijo. Alasannya bapak sih karena dia kurang gizi ("Papa dulu, satu telur dimakan dibagi berlima" ) dan sibuk di sawah ("Papa kemana-mana naiknya kebo, nggak kayak kamu minta dibeliin mobil" - omelannya saat menyerahkan kunci Yaris merah untuk saya). Tapi kok ya syukurnya dia bisa naik kelas, walau saya curiga hal itu dikarenakan pak gurunya takut diseruduk si kebo yang ditambatkan di depan kelas.

Ajaibnya, dengan modal ijazah ndeso (nama desanya Tlingsing, GPS saya saja sampai berasap berusaha menemukan lokasi si desa yang mbelesek) dan rapot yang kayak kebakaran hutan, Papa bisa masuk UGM. Gile nggak?? Di UGM pun, ya itu tadi, IPK nya sih bisa menyentuh angka 3, kalau hasil IPK semester 1 sampai 5 digabungkan trus dipangkatkan 3.

Saya baru menyadari betapa uletnya Bapak saya itu saat dia mau mengambil program Doktor di Universitas Brawijaya. Suatu hari, dia datang pada saya minta diajari menjawab soal tes. Jadi sebelum masuk program doktor ini ada semacam tes TPA. Saya lihat soal matematika semacam 1/2 dikali 1/4 berapa hayo? Atau akar pangkat 4 berapa ya kira-kira? Lima menit setelah saya mencoba menerangkan, dengan bersungguh-sungguh saya katakan padanya "Pah, kalau dosennya nawarin papa boleh masuk gak harus tes, tapi harus nyogok 1 milyar, papa bayar aja deh."

Walau punya anak durhaka semacam saya, Papa tidak menyerah, Dengan semangat membuncah, di usianya yang sudah amat sangat tidak remaja lagi, dia tekuni soal-soal sulit itu. Mungkin benar kata pepatah, dimana ada kemauan, disitu ada tikungan. Eh, Papa bisa masuk program doktor itu lho. Mulailah perjalanan panjang penuh onak, duri, dahan, ranting. Setiap malam, sepulang kerja, Papa menggelar tumpukan diktat dan buku di meja makan. Tingginya tumpukan buku hampir setinggi adik saya yang kuntet. You may not know, tapi otaknya Bapak saya itu rada-rada karatan. Kalimat yang orang lain butuh dua kali membaca untuk memahami, dia butuh 20 kali 7 kali membaca. Ditambah mandi kembang tujuh rupa. Apa yang dia lakukan? Dia membaca satu kalimat 150 kali. Enggak pake mandi kembang tapinya.

Kadang, kalau dia lagi frustasi karena otaknya mampet, dia menoleh ke arah emak saya yang lagi asyik makan kuaci sambil nonton pilem. "Mama itu lho, gak pernah belajar tapi kok ya nilainya selalu A.." For your information, emak saya itu kebalikan 360 derajat dari bapak saya (terbukti kan saya anaknya bapak saya?). Dia males sekali, gak tekun blas, tapi otaknya brilian. Saat itu, emak sedang mengambil program S2, tapi hanya buka buku sejam sebelum ujian. Emak biasanya hanya memandang tanpa minat dan melanjutkan nonton. Mungkin sulit bagi emak untuk mengerti penderitaan para dumber karena seumur hidup dia tidak pernah perlu belajar.

You may say I'm a liar, tapi Bapak saya berhasil lulus jadi Doktor. He is the first person in his office yang bertitel doktor. Dan hebatnya, dia dapat nilai kumlaud. Itu upahnya tidur hanya 3 jam setiap hari. Sementara saya yang kayaknya lebih pinter dari dia, nilainya ke laut. Itu upah tidur 12 jam setiap hari. Sementara koala hanya berakhir menjadi binatang overweight. Itu upah bagi yang tidur 20 jam setiap hari.

Kalau ditanya, kemampuan apa yang paling sulit dipelajari saat kita sudah dewasa, salah satunya mungkin Bahasa. Karena saya belajar Bahasa Inggris sejak SD, kemampuan inggris saya lumayan lah. Saat kuliah, saya mencoba memulai belajar bahasa Perancis. Jadinya seperti mencoba menulis di atas air. Hanyut melulu deh ilmunya. Sampai sekarang saya hanya ingat kata Ouiii... Malu deh, padahal tante saya, Rusmala tinggalnya di Prancis (sekalian pamer bahwa tidak semua sodara saya kerjaannya hanya mancing ikan dari jembatan Suramadu) dan sepupu saya Conchyta baru aja jadi lulusan terbaik sastra Prancis (sekali lagi pamer bahwa sodara saya tidak hanya bisa bahasa Jawa dan Madura semua).

Salah satu obsesi bapak saya adalah bisa bercas cis cus dalam bahasa Inggris. Jaman kecilnya dia, boro-boro bahasa Inggris, mereka masih menulis di atas batu sabak. Iya itu, sepupunya kertas papirus.  Segala cara dia coba agar bisa menggapai obsesinya itu. Kursus bahasa inggris dijabanin, beli berbagai kamus dilakoni, nekat ngobrol sama bule pun dilakukan. Hasilnya memang jauh dari memuaskan sih. Sampai suatu hari saya perhatikan di meja makan ada kertas kecil tertempel bertuliskan 'table'. Saya tidak ambil pusing. Keesokan harinya di kursinya gantian ada tulisan 'chair'. Lalu di tangga. Lalu di lemari pakaian. Lalu di pintu. Lalu di jendela. The list goes on and on.... 

Orang kedua yang mirip kecoa adalah adik saya, Dionvy. Saya ingat saat dia datang ke saya menunjukkan naskah novel Icylandar. Saya baca, bagus banget. Saya tepuk-tepuk kepalanya kayak anjing spaniel. "Good dog..". That's it.

Tapi ternyata adik saya punya tekad lain: naskah ini harus diterbitkan. Mulailah perjuangannya menjelalah ibukota, dari satu penerbit ke penerbit lainnya. Ditolak mentah-mentah. Ditolak penerbit pertama karena naskahnya kumel. Yang kedua karena tampangnya adik saya yang kucel. Ketiga, gak ada pangsa pasarnya. Keempat, genre fantasi tu lesu. And so on and so on.... Kalau saja itu saya, ya udah, saya jadikan saja naskah itu ganjalan pintu.Plus saya kirim bom antraks ke rumah para penerbit itu.

Tapi karena adik saya itu cockroach wannabe, walau sambil menangis, mengumpat dan meratap, dia kasak-kusuk mencari cara. Setelah emak dan bapak bilang mereka cukup kaya untuk membiayai ongkos cetak bukunya (hasil nongkrong jualan singkong satu kuintal di depan rumah), mulailah perjalanan gerilya adik saya. Pertama, dia merekrut sepupu saya Chandra untuk membantunya menggambar. Waktu itu belum ada bayangan bagaimana jalannya untuk menerbitkan kertas HVS kumel menjadi novel ala Hari Puter. Dari Chandra, adik saya bertemu Mario yang kemudian menggambarkan cover yang untungnya jauh lebih indah dari bentuk wajah penggambarnya. Kemudian, dia bertemu layouternya (sebelumnya dia bahkan tidak tahu apa itu layouter).

Itu dari segi naskah. Lalu bagaimana dari segi bisnis? Dia pelajari dengan tekun, dan sampailah pada pengetahuan dia harus bikin CV, bukan Curicullum Vitae lho, tapi yang sodara tirinya Perseroan Terbatas itu, dia harus mendaftarkan bukunya ke ISBN (gue kagak ngarti hewan apa itu), dia harus menemukan distributor and so on and so on. Kalau mau baca lebih jelas, baca aja di note nya dia. Saya yang hanya mbaca aja capek, apalagi disuruh nulisin disini. Ogah ah.

And now, naskah yang diragukan itu sudah terjual tiga digit (em, ribuan itu 3 atau 4 digit sih?) dalam tempo 3 bulan saja. Dan dia sudah bersiap untuk naskah yang kedua.... Guys, kemampuan menulis saya jauh lebih baik dari adik saya, tapi ketekunan saya minus, hehehe. Jadi dialah yang berhak mengklaim jadi penulis novel best-seller. Gak papa, kalau dia kaya kan saya juga kecipratan (semoga..).

MESTAKUNG - Semesta Mendukung mereka yang mengerahkan segenap upaya

Bisa dibilang adik saya ini beruntung. Dia punya otak pinter ala mama saya. Kata bude saya Retno  yang seorang guru matematika, mengajar dimensi 3 adik saya itu butuh 10 menit. Mengajar Kresentia sepupu saya yang jadi dukun beranak di puskesmas, butuh 20 menit. Mengajar saya ya kira-kira butuh satu menit lebih seminggu lah. Dan adik saya punya ketekunan ala papa saya. Demi membuat buku tentang ASI, dia ikut kursus konselor ASI.

Saya? Saya sudah cukup puas menjadi contoh nyata bahwa hidup itu tidak selalu adil.  

Monday 21 March 2011

My Monday Note -- It wasn't by accident, but by God's plan

Sepanjang ingatan, sejauh mata memandang, saya tidak bisa menemukan satu fase dalam kehidupan dimana saya menjadi orang yang populer dan punya banyak teman (ya kagak mungkinlah, wong tampangnya lusuh, kulitnya dekil, otaknya tumpul, plus perilakunya bejat).

Ada beberapa orang yang seperti matahari, kayaknya semua pingin jadi teman mereka. Entah karena hatinya yg baik, auranya yang kinclong, atau fisiknya yang aduhai. Saya sebetulnya juga seperti matahari, hanya sayangnya tertutup mendung. Ini salahnya emak saya yang ngasih nama Mega.

Meskipun saya tidak seberuntung para anak populer dan baik hati itu, lagi-lagi sejauh mata memandang, setiap fase dalam hidup selalu punya teman yang (kayaknya sih, gak yakin juga) mau tuh dianggap sahabat. Enggak banyak emang, ngitung pake jari tangan aja masih sisa.

Sahabat pertama saya namanya Thomas Ryan Indarto. Teman masa kecil di jogja. Persahabatan kami diisi nyabutin bayam di sawah, kecipak kecipuk di kali, sepedaan malem2 ke gereja latihan koor. Yup, saya masih cukup religius saat itu (ada mas2 ganteng di grup koor). He was cool, penuh ide ("yuk manjat atap liat sarang burung") dan punya sepeda keren yg sering saya pinjam. Anjing sayapun suka bertandang minta makan ke rumahnya. Saya juga punya 2 sepupu yang jadi teman main, Daniel Yoga dan Christian Chandra. Tiap malam minggu, dengan naik motor bebek merah, saya, emak, bapak dan Dionisia Vidya bergegas ke rumah mereka untuk main benteng2an. Brum..brum...

Sayangnya saya tidak punya kenangan siapa sahabat saya di SD. Yang saya ingat hanya komentar adik saya yang bersekolah di SD yang sama bahwa dia sering sekali melihat saya dihukum berlari2 keliling lapangan ataupun memunguti daun di halaman. Itu saya anggap fitnah.

Masa SMP saya di Jogja hanya setahun. Adriana Widya Arianti adalah nama sahabat saya, teman satu bangku. Kenapa ya saya berteman sama dia? Lupa juga sih. Mungkin karena dia mau dicontekin pas ulangan. Saya pernah ranking 31 dari 40 anak. Emak nyaris pingsan waktu ambil rapor. Percaya enggak, saya ikut ekskul menari jawa? Tiap mau jam latihan, saya berdoa semoga tiba2 ada gempa bumi dan gedung sekolah ambruk.

Kelas 2 SMP saya pindah ke Surabaya. Tinggal di Bendul di rumah embah saya yang menurunkan gen pesut di keluarga. Yang saya ingat dari sekolah, saya ikut pelajaran tata boga. Dari sini saya menemukan memasak bukanlah panggilan hidup saya. Masa sekolah bagi anak cewek, harus punya peer group. Kalau tidak hidup akan sengsara. Grup saya terdiri dari Kartika Sari yang kayaknya ketawa terus, Widya yang tampangnya Kristen banget (emang ada gitu ya tampang kristen- tp sejak liat anak ini saya hakul yakin dia pasti orang kristen), Gusti Antung yang selalu disuit2 gerombolan cowok sementara saya dihalau minggir oleh mereka :( dan Chika yang punya rumah kosong utk tempat mabuk2an (sayang kami mampunya hanya mabuk sprite). Kami grup menengah lah, gak populer2 amat, gak kaya2 amat, gak pinter2 amat, gak cakep2 amat kecuali si Antung. Masih untung idup. Sahabat saya di rumah justru om saya Antonius Rachmat Witarto. Walau setelah dipikir2 sekarang kayaknya saya hanya dimanfaatkan dia untuk beli rokok sembunyi2 biar gak ketahuan embah. Tapi dia sering ngajak saya muter2 naik motor keliling kampung. Jadi impaslah.

SMA, ini masanya saya berjaya. Berjaya menemukan kelas yang antik banget. Yang isinya hasil persilangan landak sama bekicot semua. I think I befriended dengan sebagian besar anak di kelas. Sahabat terbaik saya, tentu saja Lynda Rossyanti. Kalau ini, saya yang menentukan ingin duduk dengannya (" Beti minggir, aku mau duduk sama Lynda !") Dan sejak itu, dia jadi milik saya, hahaha. Cinta memang kejam. Lynda ini kalemnya setengah mampus, kayaknya ga pernah marah dan suabar polll. Saya rasa dia keturunan terwelu. Bersama dengan Lynda, saya membentuk geng motor dengan Puspita Pramiluwati, Nia Ayya, Dian Kristiyani dan Erika Windy. Nia itu temen nonton dan jalan2 ke mall. Pokoknya dulu kalo ke Delta Plaza atau Mitra, cucoknya sama ni anak. Kalau Pipit, Dian dan Windy, saya juga bingung kami bersahabat dengan cara gimana ya? Pipit suka menggambar dan komik, which I deteste. Dian sukanya melototin guru yg ganteng. Windy sukanya dijarah catetannya karena rapi. Kayaknya sih nothing in common dengan saya. Ya sudahlah.

Selain dengan temen sekelas, saya menemukan kebahagiaan di grup SKK. Rasanya saya berteman baik dengan semuanya, Aditya Agita Sondakh yang selalu pake jaket merah, Sulistyo Wuryantobroto yang pinternya gak aturan, Febri Ferdinand Laleno yang senyumnya menghangatkan hati....

Lulus SMA, dengan menyogok panitia UMPTN, saya berhasil masuk farmasi UNAIR. Saya bersahabat dengan Dewi Kartina, cewek kecil yang rajin tapi cerewet. Padahal soal selera kami bagai langit dan bumi. Di semester2 atas, saya menemukan grup yang sampai sekarang masih membuat saya nyengir kalau teringat mereka. Endah Ekayani yang genitnya anjrut2an, sampai tukang parkir kampus aja disapa mesra. Pharmasinta Putri Hapsari yang selalu ga pede akan wajah dan otaknya, padahal hati semua cowok dan dosen dibuat terkiwir-kiwir. Dengan 2 orang ini, jalan ke kantin selalu jadi bertele2, kebanyakan berhenti menyapa kanan kiri tebar pesona. Saya yang pasti dengan gusar menggebuk bokong mereka biar maju, sudah laper ini!!! Arina Nur Alia yang jilbabnya lebih panjang dari rok saya, dan sering saya tanya dengan prihatin apa dia gak malu berteman sama Endah.... Last but not least, Yusnita Rachmawati yang telminya kebangetan. Cerita apapun atau bercandaan jadi ga lucu kalau sama yusi, karena dia selalu dengan melas bilang "Ulangin po'o, aku gak ngerti..." Hanya Putri yang mau melayani permintaannya. Saya hanya mendengus sebal. Kantin farmasi dan warung nasi goreng Fisip selalu dijadikan tempat ngumpul karena murah... Rasanya, 5 tahun di lab jadi fun karena para nonik-nonik ini. Oya satu lagi, Franky Thomas. Saya nggak punya nyali mengakui dia sahabat saya, as he has golden heart towards everybody...

Setelah bekerja, lebih susah untuk mendapatkan sahabat. Suasananya beda, ada sikut2an, ada persaingan. Saya beruntung bos pertama saya, ternyata jadi sahabat terbaik saya. Eka Savitri Tamanbali. Sampai sekarang, saya masih selalu kangen dia, dan cita-cita saya keliling eropa bareng dia. Vara Cuty jadi penghibur lara saya saat deadline bikin saya masih mendekam jam 9 malam. Oh how I love our sushi Tei and Soto Mie adventure :) Wahyu Indarto Setyadi dan Amie Adi Pratama yang berikutnya jadi temen gosip saya sambil merobek2 berkas... Niat makan sushi bareng yang belum kesampaian. Syarat berteman dengan teman kerja, ga boleh ada rasa iri dengan karir masing2. Saya bahagia sekali saat Vara diangkat jadi Asmen.

Justru di Jakarta, orang2 yang sebetulnya sudah lama saya kenal, baru bisa menjadi sahabat saya. Awal di jakarta, sendirian ngekos, saya diberkati sekali karena bisa bersahabat dekat dengan Antonius Agung Nugroho. Tiap weekend, kami ke gereja bareng, makan mi bangka bareng, muterin Mall Kelapa Gading bareng dan saling berkeluh kesah. A friend in need is a friend indeed. Tak disangka tak diduga, saya justru bisa berteman dengan Fuank de Blovtsneek, setelah masa SMA yang dilalui penuh onak dan duri. Di balik tampang siamang dan lengan gorilanya, he is loyal and warm-hearted. Marhendra Lidiansa yang mengisi hidup saya dengan kunjungan ke pameran seni, mencoba naik busway untuk pertama kalinya, dan mengambil mobil di dealer.... Dia kerja di BI dan masih single, kalau2 ada yg berminat. Saya sudah mencoba menggaetnya tapi gagal.

Di Facebook, saya menjadi sahabat dengan Christina Vega dan Bunga Ayu. Mungkin kesamaan nasib menjadi emak-emak di perantauan yang membuat kami dekat. Christina's passion is for food, Bunga is diskonan. Me? Of course six-packers.

Dan of course mereka yang menjadi sahabat karena suratan takdir. Adik saya Dionisia Vidya, yang sudah berhasil menjual novelnya lebih dari 1000 buku dalam tempo 3 bulan saja, yang meskipun gak pernah baik sama Serafim, saya tahu saya bisa mempercayakan Sera padanya in case something happen to me. Dan mama saya Sita Purwandari yang pasrah hanya ditelpon anak-anaknya saat lagi butuh dan disuruh-suruh.

Sahabat terbaik saya di dunia, pastinya Okhi Oktanio. Orang yang gak protes kalau saya tidur duluan dan bangun belakangan, yang rela diperintah ini itu, yang komentarnya menghangatkan hati saya "Ngapain kamu bergaya kayak walrus berjemur gitu?" He knows everything about me, and still wanna spend his life with me (matur nuwun mbah dukun atas susuk berliannya).

I have no idea why they chose me as friend. Sometimes you pick your friends, sometimes they pick you. But I believe it wasn't by accident, but by God's plan.

Kalau ada orang yang namanya saya sebut ternyata tidak ingin diakui sebagai teman saya, mohon japri saja, biar saya tidak malu .... Please show mercy...

Monday 14 March 2011

My Monday Note -- My Note, My Contemplation

Sudahkah anda pernah merasakan hidup di Jakarta? Saya pernah. Beberapa bulan yang lalu, saya adalah seorang Jakartaers. Saya tinggal di daerah Jatiasih, Bekasi. Saya bekerja di daerah Jakarta Selatan. Saya punya bayi perempuan berumur 3 bulan. Hidup adalah perjuangan. Hari demi hari. Dari depan rumah ke pintu tol yang hanya berjarak 3 km saja, bisa-bisa ditempuh dalam 2 jam kalau saya dan suami saya berangkat jam 7 pagi. Di tol, kecepatan mobil sudah setara kecepatan sepeda roda tiganya para balita. Keluar di pintu tol Pancoran, kecepatan mobil berubah menjadi seperti siput pincang yang satu jempolnya digips. Pulang dari kantor, penderitaan bakal dimulai lagi. Apalagi kalau hujan sepoi-sepoi menghantarkan banjir di kolong Cawang. Oh kejamnya ibu kota. Tua di jalan adalah ungkapan yang literally dialami warga Jakarta.

Jakarta. Kata papa saya, kamu belum merasakan perjuangan hidup kalau belum pernah tinggal dan bekerja di Jakarta. Dulu, setiap hari saya selalu cemas, apakah akan ada rapat di sore hari yang akan membuat saya terjebak macet? Apakah persediaan ASI di rumah cukup untuk si genduk? Apakah ada demo di KPK yang membuat depan kantor saya berubah menjadi lahan parkir? 

Dan sekarang, disaat saya menghabiskan waktu  menjaga Serafim yang semakin besar dan susah diatur, dan berubah julukan menjadi seorang Melburnian, di benua yang terpisahkan oleh ribuan kilometer samudera dari Jakarta saya yang tercinta, saya takjub kemana sungai kehidupan sudah membawa saya berlayar (berlagak jadi Sekspear). Dan saya merasa, hey, life is so adventurous, surprising and fabulous. It's a shame to let it fly by and go unnoticed.   

Saya menulis note ini di laptop saya, yang terletak di atas meja diantara tumpukan mainan berwarna-warni di sebuah arena bermain. Di depan saya, menjulang 10 meter diatas kepala saya, dua anak laki-laki kecil berteriak-teriak saat mereka menuruni seluncuran tinggi itu. Di pojok, Serafim asyik membuka tutup pintu sebuah mobil-mobilan kuning-ungu, dan bergaya seperti pembalap memutar-mutar setir kecil di hadapannya. Sementara Okhi pastinya sedang bekerja membanting tulang demi membayar tagihan pemanas di rumah kami. 

Saya menulis note ini di sebuah daerah bernama Ferntre Gully, sebuah tempat yang tidak pernah saya sadari eksistensinya di muka bumi sebelum minggu lalu, saat saya mencari-cari info di internet mengenai indoor play gym, dimana Sera bisa menyalurkan kelebihan energinya dengan nyaman di musim gugur yang menggigit ini.

Saya menulis note ini pada pukul 10.33 pagi di hari Jumat, dalam balutan celana jeans, sepatu keds dan jaket tebal. Setiap 5 menit, ketukan jari saya di keyboard terhenti saat saya harus beranjak dan berseru “Later Sera, somebody else is still playing with the toy.” 

Di bulan Januari 2011, pukul 10.33 pagi di hari Jumat, saya akan berada di dalam suatu ruangan penuh komputer dan printer, tenggelam dalam tumpukan dokumen, dikelilingi belasan orang-orang yang either bos saya, teman saya, tapi sialnya tidak ada satupun yang merupakan anak buah saya. Dan here I am today, duduk diantara seluncuran raksasa dan bola karet berwarna-warni.

Di bulan Januari, pukul 10.33 pagi di hari Jumat, saya akan memakai kemeja dan celana kain saya dengan sepatu hak tinggi kalau sedang waras atau sandal jepit kalau sedang mood berani-mati-nggak-berani-dipecat. Dan here I am today, dengan celana jins, sepatu keds tua yang sudah saya miliki sejak jaman SMA, dan jaket bertudung.

Dan seperti semua orang tua akan mengamini, kemarin rasanya bayi saya si Serafim masih plontos rambutnya, masih pakai celana monyet, masih hanya bisa gulung-gulung di kasur. And look at her now, sudah berantem rebutan mainan dengan bayi lain, sudah mulai bisa pamer mainannya ke anak lain, sudah menginjak 18 bulan umurnya dan sudah semakin cantik rupawan dengan rambut ala Dora The Explorer aka potongan mangkok.

Dan rasanya baru beberapa saat yang lalu, saya menghabiskan malam minggu dengan kencan di bioskop bersama Okhi Oktanio. Makan salad di Pizza Hut (sambil deg-deg an menunggu bill nya) dan beli quickly coklat dengan ekstra mutiara. Dan diantar pulang olehnya dengan motor honda bututnya. And now, setiap subuh kami bertengkar tentang siapa yang harus bangun dari tempat tidur terlebih dulu untuk menyalakan pemanas. 

Beberapa bulan lalu, saya akan menghabiskan pagi dengan memilih baju mana yang cocok dengan mood saya. Apakah merah meniru Megawati, atau kuning serupa pisang, atau lengan panjang karena mau rapat di ruangan ber-ac. Paling-paling saat langit diluar tampak mendung, saya memasukkan payung lipat ke dalam ransel. Today, setiap pagi saya wajib membuka website news.com.au, melihat perkiraan suhu hari ini. Suhu 20 derajat, melenggang santai dengan jaket tipis. Suhu 15 derajat, saatnya sweater keluar, dengan legging wol di kaki. Suhu 5 derajat? Wokeh, mari menyalakan pemanas dan menolak keluar rumah.

Hidup saya, tentu jauh dari menarik bila dibandingkan dengan hidupnya Bang Gayus, atau Nazrudin, atau bahkan seorang teman saya yang memilih meninggalkan pekerjaan bergengsinya di sebuah perusahaan multinasional di Singapura, demi menjadi seorang guru SD di pulau terpencil (andai saya jadi dia, saya akan langsung menulis buku, kalah laris deh Andrea Hirata). Hidup saya mah biasa wae, tidak seperti wajah dan body saya yang aduhai.

Tetapi, hidup saya yang memelas ini adalah harta saya yang paling berharga. Beberapa orang mengabadikan perjalanan hidupnya dengan membuat ribuan foto. Yang lain dengan memasak. Yang lain dengan mempunyai pacar dari setiap tempat yang dikunjunginya. Atau menggoreskannya di atas kanvas. Atau menulis lagu. Atau seperti anjing saya, menandai jejak langkah cakarnya di dunia dengan mengencingi setiap hidran air dan tong sampah yang dilaluinya.

Karena saya hanya pede dalam hal memasak air, karena gambar bayi yang saya buat sewaktu SD dulu disangka emak saya gambar pisang goreng, karena saya terlalu miskin untuk membeli kamera dengan lensa sepanjang belalai gajah plus terlalu bodoh untuk bisa mempotosop hasil jepretan saya, saya memilih cara yang sederhana saja. Yang hanya melibatkan dua jari saya, dengan media laptop rongsokan yang lengket penuh noda minyak dan setiap setengah jam hang. Saya mengabadikan hidup saya melalui note singkat. Setiap hari Senin. Sebagai pengingat bagi diri saya sendiri, bahwa seminggu lagi sudah saya lalui, berjalan di atas planet biru-hijau, di dataran yang sama dengan yang jutaan tahun lalu dilalui para dinosaurus.

Dulu, rasanya tidak ada hal spesial yang bisa saya tuliskan saat saya masih tinggal di Jakarta. Apa sih yang mau saya tulis, bahwa setiap pagi saya naik bis TransJakarta ke kantor, terus bekerja sampai jam 4, kadang dipuji bos tapi lebih sering sama terabaikannya dengan kain pel di pojok ruangan, lalu saya pulang naik bis itu lagi, sampai di rumah ngendon di depan TV, dilanjut makan malam dan tidur. Yeah, menarik sekali (sampai ngantuk waktu mengetiknya).

Ternyata saya memang butuh untuk enyah dulu ke Melbourne, untuk bisa menganggap hidup saya yang monoton itu ada juga unsur menariknya. Untuk bisa tertawa saat mengingat sewaktu saya turun dari mobil sehabis parkir di pinggiran Mampang, dan langsung satu kaki saya terjerembab ke lubang yang ada di trotoar. Dan bagaimana Pak Parkir dengan setengah kasihan dan setengah terbahak membantu mengangkat saya dan mengambilkan sandal saya yang nyemplung dengan sukses. Atau disuatu pagi dimana saya merasa tidak enak badan, saya mencari cara supaya tidak harus mengantri busway di Ragunan dan bisa mendapat tempat duduk. "Kalau gini kelihatan hamil nggak Dek?" saya memamerkan baju hamil yang saya pakai demi berpura-pura hamil. "Kamu tu hanya perlu dengan pede langsung mengantri di tempat orang hamil, jangan pasang tampang bersalah gitu."  hardik adik saya memberi petuah.

Note saya, merupakan kontemplasi bagi saya, bahwa hidup itu ya adalah hari demi hari yang saya lalui. Sebagian kecil diisi dengan hal-hal heroik dan menakjubkan, seperti melaporkan ke rektorat bahwa saya kehilangan kartu mahasiswa tepat sesaat setelah upacara pelantikan mahasiswa baru (dan mencoba tampak berani saat ditatap petugas rektorat dengan galak). Tapi 95% dari hidup adalah kegiatan sederhana seperti mencuci tumpukan piring, menyetrika tumpukan baju, dan memandangi tumpukan lemak di pinggul. In three words I can sum up everything I've learned about life: it goes on.  

Dan saat kontemplasi saya ternyata menarik minat teman-teman saya, membuat mereka terhibur, atau jengkel, atau tersenyum, atau menyeringai, atau 'agree to disagree' with my opinion, itu suatu nilai tambah bagi saya. Setiap komentar yang dituliskan membuat saya teringat satu lagi harta saya yang berharga, teman, sahabat, musuh dan semua pacar-pacar yang membuat hari saya lebih berwarna.

Betapa saya mencintai Arina dan Putri saya tersayang, dan kangen pengen ikutan Cak So ngelus-ngelus betisnya si Pentol. Atau betapa dulu saya selalu menempel Deka saat kelas komputer di SMA, merayu supaya dia mau membantu membuat gambar lingkaran muter-muter terpampang di layar komputer saya (saya masuk ke kelas yang diperuntukkan bagi anak-anak yang sangat pintar komputer karena saya menyontek waktu ujian penempatan. Satu-satunya pengalaman menyontek yang saya sesali).  

Sigh... butuh waktu sampai saya sudah berumur 24 tahun untuk menyadari hidup saya itu tidak luar biasa tapi tetap 'mean everything to me'  (setiap komentar terkait kalimat ini akan langsung saya delete).      

Sekarang, saya sudah bisa ikut serta dalam peribahasa gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, Mega (nggak tega nulis mati untuk diri saya sendiri) menghadap tahta surga di langit ketujuh (serasa Sun Go Kong) meninggalkan note. 

Well, what can I say, I’m just a lucky bastard. 

Kalau ada yang sebodoh suami saya dan bertanya "Kontemplasi tu apaan sih?", sana googling dulu. Jangan ngaku manusia kalau belum tahu artinya (geleng-geleng kepala frustasi) 

Buka pintu mobil, duduk, tutup pintu mobil, putar setir. Dilakukan berulang kali dengan urutan yang sama. Serafim memang antik....
Seluncuran raksasa yang diklaim pemiliknya tertinggi se-kecamatan. Pemandangan dari tempat saya duduk
My humble sticky laptop, diantara tumpukan mainan warna-warni
Dell memang Doll
The beloved sneakers. Investasi termahal dalam pembelian sepatu, yet stl belasan tahun masih menjadi sepatu jalan yang teringan.