Monday 25 April 2011

My Monday Note -- Tidak tahukah kamu kapan harus berhenti

Karena di Australia ini saya hanya tinggal dengan Okhi Oktanio dan Serafim, tanpa saudara atau orang tua untuk membantu, maka saya mencoba menitipkan Serafim di daycare. Agar saya bisa beres-beres rumah, dan agar saya bisa kembali bekerja. Petualangan Sera di daycare adalah hal lain. Hari ini saya ingin membagi satu pengalaman berharga yang saya dapatkan.

Saya mendaftarkan Serafim di salah satu Daycare dekat rumah. Gedungnya baru, terang, bersih, dan stafnya baik sekali. Biaya menitipkan Serafim ke daycare adalah $ 74 per hari. Metode pembayarannya adalah dengan cara pihak daycare akan mendebit langsung dari rekening bank saya setiap minggu pada hari senin untuk biaya penitipan di minggu itu.

Pada hari Jumat tanggal 1 April, pihak daycare menelepon memberitahu bahwa mereka punya hari kosong di hari Selasa. Hore, sorak saya gembira. Ohya, sebelum Sera dititipkan secara full, Sera berhak mendapatkan jatah kelas orientasi selama dua kali. Kelas orientasi ini gratis, semacam kelas perkenalan dimana Sera akan coba dititipkan selama dua jam saja. Saya memutuskan akan menitipkan Sera untuk orientasi pada hari Selasa dan Kamis, tanggal 5 dan 7 April.

Setelah Sera menyelesaikan kelas orientasinya, maka minggu berikutnya dimulailah petualangan Sera di daycare. Minggu pertama, saya menitipkan Sera hari Selasa sesuai informasi per telepon yang saya terima. Kemudian di minggu kedua dan ketiga, ganti hari kamislah saya menitipkan Sera, karena pihak daycare menelpon mengatakan ternyata Sera itu mendapat jadwal hari Kamis, bukannya Selasa. Karena saya belum bekerja, jadi ya pergantian hari ini tidak menjadi masalah.

Jadi selama tiga minggu ini, seharusnya setiap senin rekening bank saya dipotong sebesar $74. Tapi kemudian, Okhi Oktanio menemukan bahwa pada minggu kedua kami dicharge $148, bukannya $74.

Saat saya menanyakan ke direkturnya, dia menunjukkan catatan pembayarannya. Katanya, dia belum melakukan pemotongan di minggu pertama, jadi di minggu kedua saya dicharge dobel. Okelah, masuk akal. Kemudian di rumah, Okhi memeriksa catatan dari bank, dan ternyata pada minggu pertama sebetulnya kami sudah dipotong $ 74. Sampai disini, saya menganggap ini kesalahan administrasi biasa. Maka saya mengirimkan email untuk menjelaskan. Saya akan menuliskan email dari saya dan balasan dari si daycare.

Email saya :

Coba dicek dong. Di catatan bank saya tertulis sebetulnya minggu pertama saya sudah bayar. Hanya tidak tercatat di laporanmu

Email Daycare :

Kami sudah mengeceknya. Jadi kamu memang sudah bayar minggu pertama, tapi masalahnya Sera itu sebetulnya booking untuk hari Kamis, tapi kamu datang di hari selasa di minggu pertama itu. Jadi seharusnya kamu bayar 2 hari untuk minggu itu. Tapi okelah, kalau memang kamu minta uangmu dikembalikan, akan kami kembalikan. (Note: sistemnya, kalau saya sudah booking untuk hari Selasa misalnya, dan ternyata si anak nggak datang karena sakit, ya saya harus tetap membayar penuh biaya penitipan sehari. Masuk akal dong, kan mereka tetap saja harus membayar pegawai dan biaya operasional)

Saya mulai jengkel. Pertama, kok alasannya lain lagi, tadi katanya karena saya belum bayar di minggu pertama, lha sekarang kok jadi karena saya salah hari. Dan kedua,  kejadian sebetulnya kan saya ditelpon, diberitahu bahwa mereka punya tempat kosong di hari selasa (tuesday). Okelah mungkin saya salah dengar karena Tuesday dan Thursday kan mirip (walau saya yakin enggak salah dengar karena saya beberapa kali memastikan Tuesday right? Not Thursday?).

Tapi kenapa waktu saya datang di hari selasa itu tidak ada seorangpun yang heran melihat saya dan memberitahu bahwa saya salah hari? Dan sebetulnya, saat pegawai daycare menelepon saya memberitahu Sera seharusnya dapat tempat di hari Kamis, bukan Selasa, pegawai itu berkata "Maaf ya Mega, tampaknya ada kesalahan. Disini Sera tertulis harusnya datang di hari kamis, bukan selasa. Aku nggak tahu kok bisa salah dan kacau begini. Tapi mulai minggu depan Sera datang hari kamis ya."  Kayaknya dari kata-kata si pegawai di telepon tadi, saya boleh dong pede bahwa bukan kuping saya yang soak gak bisa membedakan Tuesday dan Thursday?  

Dari sini saya menilai, oke, kemungkinannya sebetulnya yang salah ya si karyawan, tapi karena dia gak mau diomelin si direktur, jadi dia sedikit memutarbalikkan fakta, seolah saya yang bego. Saya jengkel, tapi masih punya niat meluruskan, karena saya enggak mau dia menganggap saya yang salah tapi ya udahlah daripada ribut nih uangmu kukembalikan. Nope, kamu harus mengembalikan uang itu karena memang kamu yang salah.

Email saya :

Saya definitely diberitahu bahwa saya disuruh datang hari selasa. Karena itu saya membawa Sera hari selasa, bukannya kamis. Kemudian, beberapa hari kemudian, ada pegawaimu yang menelpon bilang ada kesalahan, jadi minggu berikutnya Sera jadinya saya bawa hari Kamis. Saya akan ambil uangnya hari kamis besok.

Email Daycare :

Yang kamu booking hari selasa dan rabu itu untuk orientasi yang gratis. Harusnya Sera datang hari kamis, bukan selasa untuk yang kelas bayar. Oke, no problem silahkan ambil uangnya di hari kamis.

Saya yakin, direktur ini tidak bersalah dalam arti dia memang mungkin mendapat laporan yang salah dari karyawannya. Manusiawi kok karyawannya berbohong demi saving her ass. Atau mungkin memang saya yang gobloknya kelewatan, jadi memang saya yang salah. Note lagi, saya tidak pernah membooking hari rabu untuk orientasi. Saya bahkan tidak pernah datang di hari rabu. Jadi info yang diterima si direktur ini kacau balau sekali deh.

Tapi ada pelajaran berharga dari si direktur ini; untuk apa sih dia melanjutkan berdebat dengan saya tentang siapa yang salah? Toh intinya dia mau mengembalikan uang saya. Coba dipikir, apa sih untungnya mencoba menekankan bahwa saya yang salah? Padahal sebetulnya this whole mesh thing bisa dianggap kesalahan administrasi biasa. Dengan email terakhirnya itu, dia membuat saya, sebagai seorang customer, merasa dipermalukan, dianggap bodoh. Meskipun uang saya dikembalikan, hati saya tetap mengkal. Karena harga diri saya dilukai (cie... romantis deh, sejak kapan juga saya punya harga diri).

Terlepas dari siapa yang salah, naluri saya sebagai manusia menjadi defensif. Lha kok jadi saya yang salah melulu? Dan coba dipikir, apa ya tidak ada kemungkinan saya menyebarkan cerita ini, dengan bumbu-bumbu ke ibu-ibu yang lain. Dia itu direktur lho. Lulusan master bisnis universitas terkenal disini. Kalau saya jadi dia, saat membaca email saya yang terakhir, yang menekankan keyakinan saya sebagai customer bahwa itu bukan salah saya, it's better to set back. Kalau saya jadi dia, saya akan bilang saja, "However, saya senang kita sudah bisa menuntaskan masalah ini. Saya sangat senang bisa memiliki anda sebagai customer saya."  Beres kan?

Tapi saya senang juga dengan pelajaran ini. Berapa kali sih saya terlibat perdebatan dengan orang lain, hanya demi mempertahankan pendapat saya? Padahal seringnya ya nggak penting-penting amat. Hanya ingin memuaskan ego saya.

Karena saya berterimakasih pada si direktur untuk pembelajarannya, maka email balasan saya hanya berbunyi  "Thank you for your kind cooperation."  Toh tujuan saya sudah tercapai, mendapatkan uang saya kembali. Sebodo setan si direktur mikir saya orang bego dan ini semua salah saya. Saya bisa saja sih menjelaskan kronologisnya panjang lebar, tapi keuntungan apa yang saya dapatkan? Either direkturnya tambah ngambek kayak embek, atau dia jadi malu dan marah sama anak buahnya, pokoknya toh saya nggak dapat keuntungan apapun, kecuali perasaan menang. 

Dale Carnegie, dalam salah satu bukunya pernah berkisah dia mendengar seorang kakek pada suatu pesta berkata "Hamlet itu kisah di alkitab."  Salah satu anak muda yang mendengarnya berkata "Enggak dong, Hamlet itu kisah di Shakspeare."

Si kakek ngeyel, bahwa Hamlet itu kisah alkitab. Terus kakek itu berkata ke arah si Dale Carnegie. "Bener kan itu kisah alkitab?" Si Dale menjawab "Iya kamu benar, itu kisah dari alkitab."  

Saat si kakek berlalu, si anak muda bilang ke Dale. "Lho kan kamu tahu Hamlet itu kisah Shakspeare, bukan alkitab. Kok kamu bilang gitu sih?"

Begini katanya si Dale, "Iya aku tahu, tapi coba kamu pikir, apa gunanya sih kamu berdebat dengannya? Dia hanya akan merasa sakit hati dan kalah."Terus apa keuntungannya buatmu kecuali membuatmu merasa senang karena menang? "

Note : saya menulis note ini setelah minggu sebelumnya saya ngeyel-ngeyelan dengan Okhi tentang apakah dia sudah mengingatkan saya soal 1 dokumen yang terlupa atau belum. Yang penting sekarang kan dokumennya belum ada, jadi harus diapain dong? Tapi kami malah sibuk berdebat Your fault! No, it's you who forgot ! 

Monday 18 April 2011

My Monday Note -- Buntelan karung

Saat melihat si Serafim lagi tidur sambil nungging siang-siang begini, sambil berpikir-pikir enaknya ditongseng aja apa digulai nih anak pesut biang ribut yang baru saja menyemplungkan hape nokia saya ke bak mandinya, saya jadi mengenang lagi masa-masa saya hamil dulu. Saya ingat-ingat, apa ya yang paling membuat saya bete soal the whole having kids thing ini? Kebanyakan teman saya mengeluh punggung yang sakit, atau rasa mual yang ampun-ampunan, atau kaki yang bengkak sekali sampai menyerupai telapak gajah. Tidurpun menjadi sebuah perjuangan berat karena telentang salah, miring juga salah. Kalau nekat mencoba telungkup sih berarti rada-rada sinting.

Untungnya, saya tidak mengalami semua masalah diatas. Hamil kebo, kata orang. Itu untungnya kawin sama mutan kebo, saya jadi ketularan. Hmm, setelah saya pertimbangkan, akhirnya saya memasukkan perubahan bentuk tubuh sebagai kendala terberat dalam fase hamil saya. Gara-gara bentuk tubuh yang berubah terus, pemilihan pakaian saya jadi amburadul.

Dimulai dari kehamilan awal. Sampai usia kehamilan 3 bulan sih saya tidak merasakan perubahan bentuk tubuh yang berarti. Lengan dan betis saya tetap sebungkring ranting. Hanya permasalahannya, karena selama ini saya selalu pakai baju dan celana yang ngepas banget badan ala superman, sedikit perubahan pada perut yang perlahan membesar sudah bikin celana gak bisa dikancingkan. Jadilah selama bulan-bulan awal kehamilan saya tetap memakai baju lama saya, dengan celana enggak dikancingkan, plus memilih kaos dan hem yang agak panjang untuk menutupinya. Enggak nyaman banget deh. Celananya sering melorot. Plus, karena saya lebih mirip orang cacingan daripada orang hamil, saat saya naik busway, nobody cared. Gak ada yang nawarin tempat duduknya. Saya malu juga mau bilang "Mas, meskipun saya tampak sedatar cacing pita gini, saya ini hamil lhooo."

Setelah kehamilan saya semakin membesar, saya menyerah. Hem-hem saya yang emang dasarnya kayak baju kekurangan bahan, plus celana-celana fit body saya bener2 sudah gak cukup. Terpaksa mulai memakai baju hamil. Menurut teman saya yang merasa dirinya berhak didengarkan nasehatnya karena saat itu sudah hamil 9 bulan, dengan lingkar pinggang sudah 9 meter, paling enak itu langsung mencari celana dan baju hamil yang besar sekalian, jadi bisa cukup sampai entar kehamilan 9 bulan. Wokeh saya cari. Masalahnya, baju yang emang diperuntukkan utk orang hamil besar itu benar2 menggunakan pegulat sumo sebagai model ukurannya. Saya, literally, benar-benar serasa dikarungin pake karung kentang. Masalahnya lagi-lagi, hanya perut saya yang membesar. Yang lainnya tetap cungkring sumengkring. Tapi ya kan rugi kalau beli baju hamil yang kecil dulu, terus nanti beli lagi yang agak gedean. Ckckckck, saya kan medit. Dan suami saya pailit.

Oya, gara-gara badan saya yang tetap mengenaskan, suami saya Okhi Oktanio yang tidak-pernah-sekolah-medis-tapi-belagu jadi panik. Dia merasa bayi kami kekurangan gizi. Jadilah pada kehamilan 7 bulan saya dipaksa dia makan es krim, nasi, dan segala karbohidrat banyak-banyak. Saya sampai blokekan pingin muntah. Badan saya tetap mengenaskan. Dia semakin panik. Sampai akhirnya saat kehamilan 8 bulan saya kontrol ke dokter, dan ternyata dari hasil pemeriksaan USG, TADA... bayinya kegendutan! Sampai-sampai saya diperintahkan diet karbohidrat sama si dokter, karena bisa-bisa bayi saya lahir diatas 4 kg. Kalau saja pandangan bisa membunuh, yang namanya Okhi Oktanio pasti sudah kelojotan sekarat di ruang periksa dokter. 

Anyway, karena ini kehamilan pertama saya, saya tidak tahu baju apa yang seharusnya saya punya. Emak saya menggelontor saya dengan berbagai daster dan baju-baju yang saya tatap dengan curiga "Ini baju apa taplak meja sih?"  Kesel juga si emak, ni anak udah minta tolong dicariin tapi mencela. Tapi ternyata, meskipun saya hamil gede, saya tetap sebal memakai baju gombrong-gombrong ala daster ibu-ibu mau lomba kelompencapir. Sayangnya saat itu saya tidak tahu kalau sebetulnya ada banyak baju hamil bermerk yang tetap stylish dan seksi. Lha referensinya si emak pasar wonokromo sama pasar turi, jelas saja baju beliannya mirip kantong kresek semua. Tapi ya sudahlah, saya pasrah saja.

Selesai melahirkan yang penuh perjuangan (ciee... gayanya, soalnya kok semua orang selalu menulis status begitu, lahir normal walau dengan perjuangan, suit..suit kayaknya romantis gitu), saya dengan naif berpikir masalah berat badan ini akan dengan sendirinya teratasi. Apalagi gembar-gembor kalau memberi ASI eksklusif, berat badan akan cepat menyusut. Ha! Saya peluk baju-baju lama saya dengan penuh kerinduan. Come to mommy !!! 

Harwakadah, ternyata mimpi tetaplah mimpi. Perut saya memang kempes, tapi badan saya secara keseluruhan malah semakin membengkak. Teman kantor saya, saat saya masuk setelah cuti berkomentar, "Kok kamu sekarang malah lebih gemuk daripada waktu hamil sih?" Saya nggak tahu ya dengan ibu-ibu yang lain, tapi nafsu makan saya benar-benar menggila saat awal-awal menyusui. Saya kelaparan, saya kehausan, bahkan setiap malam wajib hukumnya ada segelas teh, susu kotak dan roti di samping tempat tidur. Kelaparannya sampai selalu setingkat orang kaliren (apa sih bahasa indonesianya kaliren?). Benar-benar tidak bisa dibendung. Di kantor sayapun selalu ngemil. Jam 11 siang, saat orang lain kerja, saya sudah intip2 dapur.

Akibatnya, badan saya benar-benar serupa bayi ikan paus. Kalau dulu saya serupa seruling, sekarang saya seperti gendang. Kapan dong kayak gitar spanyolnya? Dan akibatnya, ya jelas semua baju kerja lama saya kagak cukup semua. Padahal saya sudah membayangkan datang ke kantor dengan badan langsing dan baju stylish setelah 6 bulan memakai taplak meja makan. Terus, saya harus pakai baju apa dong? Masak ya harus beli lagi? Masalahnya koleksi baju kerja saya yang selemari itu kan didapat selama bertahun-tahun, membeli satu demi satu. Lha kalau ini diharuskan membeli sekaligus banyak ya klenger dong.

Tapi emangnya saya Okhi Oktanio yang baju kerjanya bisa dihitung jari? Senin kaos polo abu2, selasa kaos garis2 mbulak, rabu kaos orange yang lebih bladus lagi, kamis kaos polo ijo, jumat kaos singlet. Sigh.... Plus saya kan tidak tahu, ini sebetulnya berat badan saya akan kembali seperti semula, tetap di berat yang sekarang atau malah naik lagi sih?

Akhirnya saya memutuskan membeli dua celana panjang baru, item sama coklat. Itu basic banget deh. Dan itu saja sudah menghabiskan duit. Habis saya malu juga naik busway sambil make celana gak dikancingin. Lha kalau pas berdiri bergelantungan kan kasihan orang di depan saya, entar dia syok lagi. Untuk baju saya kompromi. Minjem koleksinya emak saya yang jadul banget, dengan kerah-kerah lebar dan motif bunga gede, plus memakai beberapa baju hamil dulu yang masih agak lumayan. Sekarang saya tahu rasanya menjadi seekor brontosaurus berkasta paria.

Dan terus terang, saya merasa tidak seksi. Sebetulnya ini bukan karena dulunya saya sekseh, tapi selama puluhan tahun, saya hidup dengan badan ala ikan bandeng yang menderita anoreksia. Dan dengan bentuk badan yang seperti itu, saya sudah mengembangkan gaya berpakaian yang cocok dengannya. Ternyata, gaya saya yang dulu, enggak cocok untuk diterapkan pada bentuk badan saya yang baru. Jadi dulu, tanpa sadar saya mengkamuflase kekurusan saya dengan menggunakan kaos-kaos dari bahan stretch yang menempel di tubuh, sehingga memberi sedikit image montok pada badan saya yang rata depan belakang. Nah, saat badan saya bengkak, saya tetap memaksa memakai kaus-kaus stretch itu. Hasilnya, saya seperti ikan pesut yang hendak bertransformasi menjadi The Incredible Hulk. Padahal saya sudah tahan nafas demi membuat perut tampak langsing.

Menjelang kepergian ke Oz untuk mengejar cita-cita, hiks..hiks jadi terharu lagi, mau nggak mau saya beli baju. Terutama baju kerja. Karena beli disini pasti mahal, plus menghabiskan waktu. Selama 2 minggu saya sibuk berbelanja. Serius, saya pikir bisa berbelanja sampai puas terus menerus itu menyenangkan, tapi saat saya sadar saya hanya punya 1 celana jeans dan harus pergi membeli satu pasang lagi, saya nyaris muntah. Saya bosan berbelanja.

Cerita punya cerita, saya datang ke Oz dengan koleksi baju kerja yang cukup mumpuni lah. Keyen gitu lho !!! Dan sesampainya di sini, Sera berulah. Dia nggak mau makan sama sekali, dan minta gendong terus. Rewel setengah mati. Saya stres, bapak pesut stres, pak lurah stres. Dan sebagai akibatnya, berat badan saya turun 4 kg dalam seminggu. Kemudian, saat Sera sudah tidak stres, gantian saya yang stres berat, karena melihat bule-bule seksi berkeliaran di depan mata, tanpa saya bisa menjangkaunya. Godaan itu terlalu berat untuk saya tanggung... Jadilah berat badan saya menyusut lagi lebih lanjut.

Akibatnya, tumpukan baju kerja yang sudah saya pilih satu demi satu, yang sudah saya beli dengan ngutang dari Mas Gayus, sekarang semuanya kedodoran. Celana panjangnya pun melorot, dan celana jins baru yang diklaim oleh tokonya bergaya pensil ala cowok-cowok abege (sampai saya bertanya-tanya bagaimana caranya mereka membuka celana mereka yang sangat ngapret di kaki itu saat sedang keburu-buru kebelet pipis), saat saya pakai untuk ngeceng di pinggir jalan melbourne, lebih mirip seperti celana berpotongan baggy ala tahun 80an.

Kemarin sore, saat bersiap-siap ke gereja, suami saya yang sangat mencintai saya apa adanya, terpingkal-pingkal sampai perutnya terguncang-guncang, saat melihat saya mencoba menata diri supaya beha yang saya beli saat hamil dulu agar tampak pas di badan saya. "Disumpel handuk aja sana," sarannya berbaik hati.

Monday 11 April 2011

My Monday Note -- Kaya Enggak Kaya Enggak Kaya enggak

Minggu yang lalu, seorang teman menulis pesan di chat. "Meg, bener nih gue boleh datang ke tempat lu?" Dengan serius saya menjawab,"Boleh, tapi 2 tahun lagi aja ya, karena sekarang gue belum punya duit."

Teman saya kemudian membalas yang intinya dia enggak percaya bahwa saya itu gak punya duit. Saya dengan serius mencoba menjelaskan situasinya. Tapi yang bersangkutan kayaknya susah menerima. "Elu udah tinggal di luar negeri, elu pasti orang kaya."

Keki juga saya dibuatnya. Ni anak susah bener sih dibilangin. Tapi saya maklum dengan logika bengkoknya bahwa siapapun yang tinggal di luar negeri ya pasti kaya dong, kalau enggak ngapain susah-susah pindah dari Indonesia? Saya ingat duluuuu banget, waktu teman saya Christina Vega, yang kerja di perusahaan minyak, yang kawin sama orang bule, yang udah keliling dunia, yang udah ngendon di Eropah, tanya2 soal harga perlengkapan bayi ke saya. Mau budgeting katanya. Saya dengan polos bilang "Bukannya elu udah kaya Chris? Ngapain kok susah2 itung2an lagi?" 

Jawaban Bude Christina sih sama dengan saya. Tapi dia hanya memberi alasan "Gue bakal kaya kalau dengan gaji gue sekarang, gue hidupnya di Indo. Kalau hidupnya di Jerman ya sami mawon." Waktu itu saya juga rada sinis, dalam hati bilang "Yeah right...." Lha wong negaranya aja masuk negara kaya, dengan pendapatan per kapita warganya naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali.

Tapi sekarang, setelah saya mengalami tinggal dan bekerja di negara lain, saya mengamini Christina. Hidup di negara lain, tidak berarti menjadi orang kaya. Paling tidak, tidak kaya dalam definisi ala Indonesia. Logika paling sederhana saja, memang sekarang penghasilan dalam dolar, yang kalau dirupiahin bener-bener aje gile.... Tapi, masalahnya, pengeluaran kan ya dalam dolar. Dan harganya mengikuti harga sini dong, yang aje sinting ye ye ye. Sebagai gambaran, biaya sewa rumah dengan 2 kamar di daerah pinggiran aja rata-rata 1500 dolar per bulan. Nah hitung aja tuh berapa rupiah. Saya dan Okhi Oktanio pernah ngakak membaca email dari calon mahasiswa doktoral dari Indonesia, yang mencari rumah kontrakan di pusat Melbourne dengan kriteria dekat kampus, kamar 2 atau 3, dengan kisaran harga 800 dolar sebulan. Lha dia itu mau nyewa rumah apa tenda aborigin sih?

Selain biaya hidup yang pastinya jauh lebih tinggi dari Indonesia, ada satu hal yang membedakan. Pajak. Pajak di Australia itu tinggi sekali. Saat Okhi Oktanio dari pekerjaannya yang pertama, yang misalnya gajinya 500 ribu rupiah, kemudian dia berpindah kerja ke tempat dengan gaji 700 ribu rupiah, kenaikan pajaknya ternyata luar biasa melonjak. Sistem pajak disini kayaknya emang didesain mencegah orang untuk bisa kaya. Apalagi eropa. Saat dulu Okhi dapat tawaran ke Belanda, terus dihitung2, ternyata kok ya hasil yang bisa ditabung sedikit sekali, sama kayak kalau kerja di Indonesia saja. Itu karena pajaknya melayang oh melayang jauh.

Kalau memang pajaknya anjrut2an, lalu kenapa orang pada tertarik migrasi ke Australia sih? Meminjam istilah Dirjen Pajak, di Australia itu bayar pajaknya, laporkan SPT nya, nikmati penggunaannya. Kalau di Indonesia kan, meminjam istilah teman saya Andreas Indra Pradana, bayar pajaknya, laporkan SPT nya, ikhlaskan penggunaannya. Dengan pajak yang tinggi, pemerintah membuat semacam jaring pengaman. Biaya kesehatan ditanggung. Biaya sekolah sampai SMA ditanggung. Angkutan umum asoy geboy. Jalanan enggak kayak permukaan kawah bulan. Jadi enggak ada ceritanya anak drop out sekolah karena nggak bisa beli seragam. Di eropa yang pajaknya denger-denger ada yang sampai 80% penghasilan, biaya sekolah sampe Master ditanggung, kalau kuliah PhD malah dibayar. Tapi ya gitu, uang di tangan hanya 20% gaji deh. Makanya sekarang ngeh kan, kenapa olahragawan kaya dari Jerman dan Swis, pada hijrah ke Monako? Karena di negara mereka sendiri pajaknya bikin mereka gak beda tingkat kekayaannya dari tukang sapu jalan..

Tapi kan kelihatannya orang-orang yang pada tinggal di luar negeri bisa sering wisata ke negara-negara lain? Lihat saja foto-foto di  FB... Kalau itu, jangan menuduh karena mereka kaya, tapi gara-gara rupiah kita aja yang nilainya mendelosor di lantai, kita jadi harus sekuat tenaga kalau mau pergi keluar negeri. Kayak saya misalnya mau wisata ke Amrik, kan 1 dolar Amrik setara sama 1 dolar Oz. Lha kalau rupiah? Bawa sekeranjang rupiah, sampai di money changer bisa-bisa dapetnya hanya 5 lembar dolar.

Makanya saya nyengir lebar waktu jalan-jalan di Seminyak Bali, melihat segerombolan cowok Australia berjalan dengan gagah kayak yang punya dunia. Makan-makan dengan santai, beli bir kayak gak mikir. Dan merasa hebat ditatap penuh kekaguman sama embak-embak yang jaga toko. Halah, mereka itu lho di sini paling juga tukang, rumah paling juga masih ngontrak, mobil paling juga yang budget car. Tapi lagi-lagi karena rupiah itu lemah, ya berasa konglomerat kan pas dolar mereka dibawa ke Bali? Plus, karena pemerintahnya sudah mendesain supaya kebutuhan warganya akan kesehatan, pendidikan dan pensiun sudah terpenuhi, orang sini tidak punya kebutuhan menabung sebesar orang Indonesia. Gaji bulan ini, ya habis bulan ini. Plus, mereka gak terbiasa mengumpulkan uang untuk membantu anaknya atau untuk warisan. Anaknya ya harus berusaha sendiri dong...

Tapi saya ngaku juga sih memandang mereka dengan ngiler. Bukan karena kantongnya, karena kantongnya Okhi aja masih lebih tebel dari abege2 ini. Tapi liat body surfernya itu lho, karena kok ya bodinya si Okhi juga kayak kantongnya, jauh lebih tebel dari para brondong ini.

Berikutnya, banyak kemewahan-kemewahan yang ada di Indonesia, tidak akan bisa lagi dinikmati di Australia. Pembantu Rumah Tangga dengan gaji 300 rebu, tanpa cuti kecuali pas lebaran? Consider it as a slavery. Enggak ada ceritanya, pekerjaan seremeh apapun disini yang gajinya sak-welase begitu. Untuk pembantu rumah tangga, hitungannya per jam. Dan hanya orang kaya banget yang mampu untuk membayarnya. Jadi, seumur hidup saya di Australia nantinya, saya hakul yakin saya tidak bakal punya sopir, pembantu, dan konco-konconya. Bandingkan dengan teman saya di Jakarta, yang rumah ukuran 46 saja masih nyicil di daerah Jakarta Coret aka Bekasi, dan dia punya 2 pembantu, satu untuk mengurus rumah, satu mengurus anaknya. Jadi siapa lebih kaya?

Omong-omong soal teori relativitas, saya dulu kerja di perusahaan Jepang. Saya, yang karyawan rendahan, pergi ke kantor naik yaris merah darah. Bos besar dari Jepang, yang menentukan hidup mati perusahaan, pergi ke kantor di Tokyo naik kereta umum. Makanya orang Jepang seneng banget kalau diposkan di Indonesia, karena mereka berasa kaisar, dapet mobil, dapet sopir, dapet pembantu. 

Kebayang kan, saya memang gak usah kuatir soal kesehatan atau pendidikan, atau soal pensiun entar, tapi ya uang di tangan yang bisa untuk parteeehhh all night long ya lebih sedikit persentasenya dibanding di Indonesia, karena dipotong gunting pajak.

Oya, beberapa minggu lalu, saat saya makan siang dengan ibu-ibu PKK dari gereja, salah satunya berkata "Di Melbourne ini, kalau saja udah ditemukan alat pendeteksi kentut, kentut aja kita bakalan disuruh bayar."

Fakta yang menyedihkan, tapi it's true. Di Jakarta dulu, rumah saya memakai air tanah. Jadi saya nggak usah bingung mau bayar berapa. Plus pakai airnya bisa seenak dengkul. Disini, dimana air hanya didapat dari air hujan, berani-berani sembarangan menggali air tanah, sama saja menggali kubur sendiri. Air disini selalu mengalir lancar jaya, plus bisa langsung diminum. Bandingkan dengan di Indonesia, yang ada daerah airnya bercacing lah. Ada yang mengalirnya tiap satu suro doang. Tapi ya gitu, with big power, comes big responsibility. Air disini adalah komoditas yang berharga. Karena pemerintah mau semua warganya dapat suplai air yang mencukupi, maka air berharga mahal disini. Ditambah aturan-aturan pembatasan. Kagak boleh nyuci mobil. Kagak boleh siram-siram jalan depan (yang saya juga enggak ngarti apa fungsinya sih tuh tetangga saya dulu di bekasi rajin menyirami jalan aspal depan rumah). Intinya, air dan listrik dan bensin, yang harganya murah di Jakarta, disini sangat mahal. Tapi untuk yang ini saya setuju. Saya benci orang yang membuang-buang air dengan membiarkan kerannya rusak dan menetes terus. Air itu berharga you know (mulai deh jiwa Greenwar nya keluar).

Satu lagi, kalau siap tinggal di luar, berarti siap semua semuanya sendiri. Kalau saya butuh pergi tanpa membawa sera, saya harus memasukkan dia ke daycare, yang harganya amat sangat mencekik leher. Enggak kayak di Indonesia yang bisa minta tolong emak, adek, eyang, teteh.

Oya, kalau di Indonesia, mau ada teman yang menginap sih hayuk saja. Disuruh tidur di teras depan pake sarung doang juga beres. Lha kalau disini, saya harus memastikan saya punya kasur untuk dia berbaring. Saya punya quilt (selimut tebal) untuk dia melungker. Saya harus punya pemanas (yang notabene pakai tenaga listrik yang seperti saya bilang tadi, mahal). Kalau enggak, siap-siap aja saya melihat tamu saya mati kaku bin beku kayak ikan salmon awetan. Tentu saja saya nggak mau itu terjadi, soalnya membuang mayat itu repot disini. Mahal lagi. Masuk penjara lagi. Apa saya nggak suka ada yang datang? Oh saya senang sekali. Saya benar-benar senang membayangkan suatu hari Arina Nur Alia atau Pharmasinta Putri Hapsari bisa bobok-bobok sore di rumah saya. Atau bisa ngelencer bareng anak-anak Classix yang berisik. Tapi saya juga senang kalau yang datang menginap di rumah saya itu bisa merasa nyaman, dan saya mampu membawa mereka jalan-jalan naik mobil saya. Dan saya juga senang kalau saya bisa mengatur supaya kantong saya nyaman juga. Masak jauh-jauh jadi orang bule, makannya tetep aja hanya mampu indomie goreng? Halah...

Dalam kasus saya, kondisinya lebih lagi. Kami baru saja pindah ke Australia. Tanpa tabungan, karena udah habis untuk beli mesin cuci, kulkas, kontrak rumah, dll. Seperti orang baru pertama kerja habis lulus kuliah lah. Tapi udah punya anak. Jadi kebayang kan, untuk beli perabot aja dicicil. Bulan ini beli TV. Bulan depan beli kursi. Plus saya belum kerja karena genduk menolak dititipkan, plus daycare nya menolak si genduk. Hiks... 

Enggak, saya enggak minta dikasihani kok. Saya hanya minta disumbang.

Terakhir-terakhir, teman saya tadi memberi alasan kenapa dia pede bahwa saya itu kaya, "Soalnya elu tu auranya aura orang sukses Meg. Aura orang kaya."

Grr, saya langsung memencet tombol hape dengan geram begitu mendengarnya.

Saya    : Simbah dukun, saya kan mintanya susuk pengasihan biar keliatan cantik. Kenapa malah saya jadi keliatan kaya??
Simbah : Mangap neng, waktu itu simbah lagi shortage (gile keren banget istilahnya). Jadi susuk kecantikan yang ada tinggal satu, ya udah simbah kasih dulu ke istrinya si Umar...

Yee si simbah, berarti tiap 6 bulan saya harus minta susuknya di-recharge lagi dong... 

Monday 4 April 2011

My monday note -- UMPT oh UMPT

Jaman muda saya dulu, puluhan tahun lalu, saat langit masih biru dan rumput masih hijau, duduklah saya di bangku SMA. Dengan sokongan dan restu dari pak RT, pak lurah dan kepala diknas, saya masuk SMA 5 Surabaya. Jangan tertipu oleh namanya, SMA ini bukannya hanya peringkat kelima di surabaya, tapi peringkat pertama lhoooo. Hanya para jenius yang bisa masuk ke sana. Seperti Dedi Nurzaman (sekarang reside di Jepang), Nicole Budiman (NEM SMP tertinggi se Jatim), Yodi Soebadi (Mahasiswa teladan UNAIR), Sulistyo Wuryantobroto (NEM SMA tertinggi se-galaksi) dan tentunya saya, huahahaha (tertawa jumawa). Kalau note ini sampai dibaca Victor Octavski, saya sudah tahu komentarnya : " Selalu ada apel busuk dalam setiap keluarga". Tapi it's ok, nanti dia saya remove saja agar tidak mengganggu.

Singkat cerita, saya adalah murid yang biasa-biasa saja dalam setiap aspeknya. Biasa ikut ulangan fisika perbaikan, biasa dapat nilai 30 di pelajaran matematika nya Pak Nur Asikin, pokoknya saya murid yang normal deh. Sebagai sekolah negeri unggulan, saat itu rasanya hanya ada satu jalan menuju sukses. Lulus UMPT dan kuliah di Perguruan Tinggi negeri atau sekalian dapat beasiswa ke luar negeri. Faktanya mencengangkan, 95 % murid SMA 5 diterima di Universitas Negeri. Gileee bener, ngiler gak tuh.

Karena setiap hari yang ada di otak hanya bagaimana lulus UMPT, les bimbingan belajar (bimbel) ala SSC, BBG, TTS atau XXX (kok kayak alamat situs favorit suami ya?) laris manis. Pulang sekolah, berbondong2 deh saya dan teman-teman ke sana. Karena para bimbel ini juga pingin bisa memasang iklan "100% siswa kami enggak bego!" maka setiap saat ada simulasi UMPT, dan kemudian berdasarkan nilai yang didapat, akan diberikan saran dimana saya punya kesempatan. Paling sering sih saya disarankan ke Uncen, heran deh.

Waktu itu, saya merasa bahwa kondisi ini sih normal-normal saja. Toh para guru ingin yang terbaik bagi kami. Orang tua pun rasanya bakal bangga kalau anaknya diterima UMPT. Tetapi saat ini, setelah saya lulus kuliah, setelah saya bekerja di beberapa tempat, setelah melihat karir teman-teman saya, setelah saya merenungkan kejadian-kejadian seputar UMPT, entah kenapa saya merasa kondisi pada saat itu sebenarnya adalah kejahatan terhadap para murid SMA.

Dimulai dengan kondisi di SMA. Kalau diminta menyebutkan siapa murid yang paling pandai, telunjuk akan diarahkan ke para jenius yang nilai rapornya harus ditulis dengan naik tangga saking tinginya nilai mereka. Bagaimana tahu mana murid yang hebat? Lihat saja siapa yang pintar fisika, matematika, kimia, dst dst. Seolah hanya itulah bakat yang dihargai. Dan yang terpenting, hanya itulah kemampuan yang bisa menjamin kesuksesan. Ya ya, saya mengakui emang sirik pada para jenius :). Tapi maksud saya, pintar sains memang salah satu kunci sukses, tapi apa ya tidak ada kunci-kunci yang lain?   

Soal UMPT, lebih konyol lagi. Ada teman yang memilih jurusan yang bikin saya mendelik, kok kayaknya belum pernah denger ya? Waktu saya tanya "Emang jurusannya tentang apaan sih?" Jawabannya enteng saja "Gue juga kagak jelas sih, hanya gue lihat itu yang nilai masuknya rendah di ITB. Yang penting kuliah di ITB!"  

Tenang.. teman saya di atas tadi berakhir sukses kok, enggak drop out atau minum baygon. Tapi kan ya syeremmmm. Lalu ada juga teman yang memilih suatu jurusan hanya karena dia mampu masuk kesana, dan dengar-dengar jurusan itu yang paling tinggi nilai yang dibutuhkan untuk diterima disana. Gengsinya tinggi kalau diterima. Apa sesuai minat? Angkat bahu aja deh. Ouch. Mungkin juga ada yang seperti saya, milih jurusan hanya kira-kira saja.

Lalu bagaimana dengan yang gagal di UMPT? UMPT itu hanya tes setengah hari, pilihan ganda semua, dan diperiksa komputer. Sistem yang jujur, tapi belum tentu adil. Murid yang kebetulan depresi gara-gara kucingnya mati kelindes truk pagi harinya, atau yang sialnya kena campak di hari itu, atau yang lebih sialnya lagi membuat kertas jawaban rusak, say byebye aja deh. Apa saya bermaksud bilang harusnya UMPT jangan dibuat seperti itu? Tidak juga sih. UMPT memberi kesempatan semua anak untuk bertarung secara adil. Gak ada sogok menyogok, kolusi dsb. Hanya, janganlah suasananya dibuat kalau tidak lulus UMPT itu kiamat. Oya, beberapa teman saya yang sial tidak lulus banyak yang jadi tidak mau bertemu temannya, tidak mau membalas telepon, tidak mau diajak ketemuan.... 

Sebetulnya di SMA juga diadakan semacam tes minat dan bakat. Tapi kayaknya hasilnya rada ga jelas dan kurang bisa diimplementasikan. Saya disarankan jadi perawat atau guru TK. Gila apa saya mau jadi perawat atau guru TK? Saya akan lebih menghargai kalau bakat saya disebut menjadi hansip di RS. jiwa. Saya benci mengurusi orang dan saya benci anak-anak, kecuali anak anjing.

Suasananya mungkin mirip dengan suasana yang dihadapi anak SMA sekarang pas mau ujian kelulusan. Saya jengkel sekali melihat tv dan melihat anak-anak SMA dengan gurunya sekalian, berdoa bersama, selamatan sambil menangis tersedu-sedu menjelang ujian. Menangis karena benar-benar ketakutan tidak lulus ujian. What the heck? Napi yang mau disuntik mati aja enggak sedramatis itu. Sebuah sistem yang membuat anak-anak begitu tertekan, dan tidak memberi peluang bagi yang gagal dalam menjalaninya. Dan membuat pak guru ada yang sampai tergoda membantu anak didiknya berbuat curang demi lulus ujian 3 hari itu. Padahal gedung sekolahnya aja belum seragam, ada yang pake marmer berlapis emas, tapi banyak juga yang yang beratap rumput beralas langit. Gitu kok kelulusan dipaksa harus menggunakan standar yang sama.

Saya bukan menteri pendidikan, jadi saya juga nggak tahu apa solusinya. Bisa lulus TK aja emak saya harus nyogok sekolah... Hanya, please take a look sekitar kita. Banyak teman saya yang sukses luar biasa, nilai matematikanya juga selalu merah dulunya. Anak yang dulunya jenius, juga ada yang turns out biasa-biasa aja setelah berkarir. Ada teman saya yang sekarang sukses sekali di marketing, karena dia dari dulu selalu charming dan menyenangkan untuk diajak berbincang. Nilainya dulu sih amburadul, tapi terbukti kan, you don't need psych to gain money?

Satu hal yang selalu terngiang di pikiran saya, kalimat yang dikeluarkan bude saya Retno Purwantiyang guru waktu saya bertanya kenapa kok sekolahnya menerima segala jenis murid, dari yang goblok petok-petok sampai yang pinter muter-muter, gak kayak sekolah2 yang maunya hanya nerima murid yang pinter. " Karena pendidikan adalah hak untuk semua anak. Bukan hanya anak yang pintar. Semakin tidak pintar seorang anak, justru semakin banyak uluran tangan yang harus diberikan agar mereka bisa mencapai potensi terbaiknya."