Jaman muda saya dulu, puluhan tahun lalu, saat langit masih biru dan rumput masih hijau, duduklah saya di bangku SMA. Dengan sokongan dan restu dari pak RT, pak lurah dan kepala diknas, saya masuk SMA 5 Surabaya. Jangan tertipu oleh namanya, SMA ini bukannya hanya peringkat kelima di surabaya, tapi peringkat pertama lhoooo. Hanya para jenius yang bisa masuk ke sana. Seperti Dedi Nurzaman (sekarang reside di Jepang), Nicole Budiman (NEM SMP tertinggi se Jatim), Yodi Soebadi (Mahasiswa teladan UNAIR), Sulistyo Wuryantobroto (NEM SMA tertinggi se-galaksi) dan tentunya saya, huahahaha (tertawa jumawa). Kalau note ini sampai dibaca Victor Octavski, saya sudah tahu komentarnya : " Selalu ada apel busuk dalam setiap keluarga". Tapi it's ok, nanti dia saya remove saja agar tidak mengganggu.
Singkat cerita, saya adalah murid yang biasa-biasa saja dalam setiap aspeknya. Biasa ikut ulangan fisika perbaikan, biasa dapat nilai 30 di pelajaran matematika nya Pak Nur Asikin, pokoknya saya murid yang normal deh. Sebagai sekolah negeri unggulan, saat itu rasanya hanya ada satu jalan menuju sukses. Lulus UMPT dan kuliah di Perguruan Tinggi negeri atau sekalian dapat beasiswa ke luar negeri. Faktanya mencengangkan, 95 % murid SMA 5 diterima di Universitas Negeri. Gileee bener, ngiler gak tuh.
Karena setiap hari yang ada di otak hanya bagaimana lulus UMPT, les bimbingan belajar (bimbel) ala SSC, BBG, TTS atau XXX (kok kayak alamat situs favorit suami ya?) laris manis. Pulang sekolah, berbondong2 deh saya dan teman-teman ke sana. Karena para bimbel ini juga pingin bisa memasang iklan "100% siswa kami enggak bego!" maka setiap saat ada simulasi UMPT, dan kemudian berdasarkan nilai yang didapat, akan diberikan saran dimana saya punya kesempatan. Paling sering sih saya disarankan ke Uncen, heran deh.
Waktu itu, saya merasa bahwa kondisi ini sih normal-normal saja. Toh para guru ingin yang terbaik bagi kami. Orang tua pun rasanya bakal bangga kalau anaknya diterima UMPT. Tetapi saat ini, setelah saya lulus kuliah, setelah saya bekerja di beberapa tempat, setelah melihat karir teman-teman saya, setelah saya merenungkan kejadian-kejadian seputar UMPT, entah kenapa saya merasa kondisi pada saat itu sebenarnya adalah kejahatan terhadap para murid SMA.
Dimulai dengan kondisi di SMA. Kalau diminta menyebutkan siapa murid yang paling pandai, telunjuk akan diarahkan ke para jenius yang nilai rapornya harus ditulis dengan naik tangga saking tinginya nilai mereka. Bagaimana tahu mana murid yang hebat? Lihat saja siapa yang pintar fisika, matematika, kimia, dst dst. Seolah hanya itulah bakat yang dihargai. Dan yang terpenting, hanya itulah kemampuan yang bisa menjamin kesuksesan. Ya ya, saya mengakui emang sirik pada para jenius :). Tapi maksud saya, pintar sains memang salah satu kunci sukses, tapi apa ya tidak ada kunci-kunci yang lain?
Soal UMPT, lebih konyol lagi. Ada teman yang memilih jurusan yang bikin saya mendelik, kok kayaknya belum pernah denger ya? Waktu saya tanya "Emang jurusannya tentang apaan sih?" Jawabannya enteng saja "Gue juga kagak jelas sih, hanya gue lihat itu yang nilai masuknya rendah di ITB. Yang penting kuliah di ITB!"
Tenang.. teman saya di atas tadi berakhir sukses kok, enggak drop out atau minum baygon. Tapi kan ya syeremmmm. Lalu ada juga teman yang memilih suatu jurusan hanya karena dia mampu masuk kesana, dan dengar-dengar jurusan itu yang paling tinggi nilai yang dibutuhkan untuk diterima disana. Gengsinya tinggi kalau diterima. Apa sesuai minat? Angkat bahu aja deh. Ouch. Mungkin juga ada yang seperti saya, milih jurusan hanya kira-kira saja.
Lalu bagaimana dengan yang gagal di UMPT? UMPT itu hanya tes setengah hari, pilihan ganda semua, dan diperiksa komputer. Sistem yang jujur, tapi belum tentu adil. Murid yang kebetulan depresi gara-gara kucingnya mati kelindes truk pagi harinya, atau yang sialnya kena campak di hari itu, atau yang lebih sialnya lagi membuat kertas jawaban rusak, say byebye aja deh. Apa saya bermaksud bilang harusnya UMPT jangan dibuat seperti itu? Tidak juga sih. UMPT memberi kesempatan semua anak untuk bertarung secara adil. Gak ada sogok menyogok, kolusi dsb. Hanya, janganlah suasananya dibuat kalau tidak lulus UMPT itu kiamat. Oya, beberapa teman saya yang sial tidak lulus banyak yang jadi tidak mau bertemu temannya, tidak mau membalas telepon, tidak mau diajak ketemuan....
Sebetulnya di SMA juga diadakan semacam tes minat dan bakat. Tapi kayaknya hasilnya rada ga jelas dan kurang bisa diimplementasikan. Saya disarankan jadi perawat atau guru TK. Gila apa saya mau jadi perawat atau guru TK? Saya akan lebih menghargai kalau bakat saya disebut menjadi hansip di RS. jiwa. Saya benci mengurusi orang dan saya benci anak-anak, kecuali anak anjing.
Suasananya mungkin mirip dengan suasana yang dihadapi anak SMA sekarang pas mau ujian kelulusan. Saya jengkel sekali melihat tv dan melihat anak-anak SMA dengan gurunya sekalian, berdoa bersama, selamatan sambil menangis tersedu-sedu menjelang ujian. Menangis karena benar-benar ketakutan tidak lulus ujian. What the heck? Napi yang mau disuntik mati aja enggak sedramatis itu. Sebuah sistem yang membuat anak-anak begitu tertekan, dan tidak memberi peluang bagi yang gagal dalam menjalaninya. Dan membuat pak guru ada yang sampai tergoda membantu anak didiknya berbuat curang demi lulus ujian 3 hari itu. Padahal gedung sekolahnya aja belum seragam, ada yang pake marmer berlapis emas, tapi banyak juga yang yang beratap rumput beralas langit. Gitu kok kelulusan dipaksa harus menggunakan standar yang sama.
Saya bukan menteri pendidikan, jadi saya juga nggak tahu apa solusinya. Bisa lulus TK aja emak saya harus nyogok sekolah... Hanya, please take a look sekitar kita. Banyak teman saya yang sukses luar biasa, nilai matematikanya juga selalu merah dulunya. Anak yang dulunya jenius, juga ada yang turns out biasa-biasa aja setelah berkarir. Ada teman saya yang sekarang sukses sekali di marketing, karena dia dari dulu selalu charming dan menyenangkan untuk diajak berbincang. Nilainya dulu sih amburadul, tapi terbukti kan, you don't need psych to gain money?
Satu hal yang selalu terngiang di pikiran saya, kalimat yang dikeluarkan bude saya Retno Purwantiyang guru waktu saya bertanya kenapa kok sekolahnya menerima segala jenis murid, dari yang goblok petok-petok sampai yang pinter muter-muter, gak kayak sekolah2 yang maunya hanya nerima murid yang pinter. " Karena pendidikan adalah hak untuk semua anak. Bukan hanya anak yang pintar. Semakin tidak pintar seorang anak, justru semakin banyak uluran tangan yang harus diberikan agar mereka bisa mencapai potensi terbaiknya."
No comments:
Post a Comment