Monday 30 May 2011

My Monday Note -- Sebelum Membeli Kucing Dalam Karung

Saya ingat sekali satu pepatah soal pernikahan. Kalau orang masih pacaran, berantemnya adalah soal prinsip hidup. Kalau sudah menikah nanti, yang dijadikan bahan pertengkaran berganti menjadi soal-soal remeh temeh semacam " Woi, kenapa kaos kaki kotor itu nangkring di atas kulkas hee??"

Apakah saya setuju dengan pepatah itu? Tentu saja! Kalau sudah menikah masih meributkan hal-hal penting seperti kita mau punya kucing atau memelihara marmut saja, ya levelnya bukan berantem lagi, tapi bercerai deh. Kalau saya sih percaya kita harus teguh dalam pendirian untuk hal-hal yang penting, tapi fleksibel dalam detil-detil kecil. Contohnya, harus keukeh dong menuntut hadiah kalung mutiara setiap suami gajian, tapi ya harus fleksibel soal warnanya, tergantung stok di toko.

Satu hal yang saya sadari dari dulu banget, saya tidak pernah ingin mendapat suami yang menjadi pemimpin bagi diri saya. Kasian dong nanti Pak Lurah kena kudeta... Saya juga tidak mencari suami sebagai pembimbing langkah dalam kehidupan. Saya sih lebih percaya sama GPS merk Tomtom yang baru saya beli, plus rasi bintang di langit sebagai petunjuk arah saya. Apakah saya mencari nahkoda bagi bahtera rumah tangga saya? Sayangnya saya punya pengalaman buruk dengan seorang nahkoda, iya itu si Kapten Haddock nya Tintin yang tukang teler...

Saya tidak bisa memimpikan harus menghabiskan hidup saya dengan orang yang mengharapkan saya harus menuruti perintah dan keinginannya hanya karena statusnya sebagai suami saya. Saya tidak suka membayangkan setiap pagi saya harus bangun tidur subuh-subuh untuk membuatkan segelas teh nasgitel untuk suami saya, hanya karena itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai istri.  Dan saya lebih memilih ditembak mati daripada harus bersujud sungkem di hadapan suami saya sebagai tanda hormat saya padanya. Hormat itu ya ke bendera saja waktu upacara. Waktu acara tujuh bulanan, Mas Wandi, pembawa acara adat jawa itu sampai garuk-garuk kepala saat dia membeberkan acara saya sungkem di depan Okhi Oktanio, dan tatapan saya mengatakan 'Over my dead body first'."

Sewaktu acara pemberkatan pernikahan di gereja, salah satu bacaan alkitab intinya berbunyi 'Suami cintailah istrimu, Istri patuhilah suamimu'. Anda mungkin mengira saya berlari kabur dari Gereja atau melempar Pastornya dengan asbak. Tetapi Romo Nano menjelaskan bahwa maksudnya ya pokoknya baik istri dan suami harus saling mencintai, memperhatikan kebahagiaan dan keinginan satu sama lainnya (dalam hal ini saya sama dengan Kate Middleton, menghilangkan kata mematuhi suami saat mengucapkan janji kami). Jadi saya lega juga dong, soalnya saya hanya bisa nurut sama kata hati kecil saya, plus Kitab Undang-Undang Hukum Pidana aka. KUHP.

Suami saya adalah partner saya yang setara, yang saya hargai pendapatnya, tetapi juga menempatkan keinginan saya sebagai prioritasnya. Dia boleh jadi kepala keluarga di Kartu Keluarga, tapi dia tidak akan pernah menjadi kepala bagi diri saya. Meskipun rada peyang dan gak ada isinya, saya masih punya kepala sendiri kok.  

Berharap saya mencium tangannya saat pamitan? Tunggu saja sampai kiamat. Oya, saya juga paling risih kalau dipanggil Dik, dan suami saya minta dipanggil Mas. Emangnya kapan elu kawin sama mbak gue, jadi gue harus manggil elu Mas? Saya hanya mau memanggil suami saya mas kalau saya kawin sama cowok yang namanya Masrul atau Maskoki.

Mungkin bagi banyak orang, toh ini adalah sebuah budaya semata. Tapi bagi saya, dibalik tradisi mencium tangan, ada nilai kepatuhan di dalamnya. Dan sayangnya, sifat saya itu seperti anjing kampung saya, susah dibilangin. Makanya juga banyak teman kerja saya yang sering mencium tangan bos atau rekan kerja yang dituakan. Saya sih cengar-cengir saja melihatnya. Toh tidak ada juga sih yang mau menyerahkan tangannya untuk saya cium, takut saya jilatin kali ya (akibat muka saya yang mesum kayak musang). 

Apa saya terpengaruh gerakan Eman si sapi yang sedang gencar? Hmmm rasanya sih tidak juga. Mungkin lebih tepatnya ini akibat sifat saya yang paling mendasar yang mendarah- daging menulang mengakar mengkristal. Saya tidak bisa menerima perintah (kecuali dari bos yang menuliskan cek gaji saya) dan tidak suka diletakkan dalam posisi dimana saya jadinya HARUS mematuhinya. Emak saya tahu, kalau saya diberi nasihat untuk belok kiri, saya bakal melawan dan belok kanan nyemplung empang. Dan sialnya, sepertinya sifat saya ini menurun ke Sera. Coba saja tunjukkan padanya cara melakukan sesuatu atau suruh dia melakukan sesuatu, alamat dia bakal ngambek.

Persoalan berikutnya ya soal pekerjaan. Apakah suami saya mengijinkan saya bekerja atau di rumah saja? Kalau calon suami saya memerintahkan saya untuk tidak boleh bekerja dan tinggal saja di rumah, bakal saya suruh dia kawin sama satpam atau anjing doberman. Nah, sekalian aman kan perabotan nggak ada yang berani nyolong. Berada di rumah, mengurus anak dan membersihkan rumah membuat saya bahagia. Tapi bekerja, mendapatkan uang saya sendiri, menyelesaikan tugas dan dapat promosi, membuat saya bisa pergi tidur dengan puas. Seorang teman mengeluh berantem dengan suaminya karena setelah menikah ia tidak diijinkan bekerja. Heran dong, lha sebelum kawin emangnya ngomongin apaan, kok sampai hal sepenting ini baru diributkan sekarang?

Apalagi ya big think nya? Em, soal anak mungkin. Kalau seorang pria menuntut harus punya anak, apalagi harus anak cowok, langsung aja saya nyanyi I'm sorry goodbye. Saya akan sangat kecewa kalau suami saya menjadi lesu dan cintanya berkurang pada saya bila misalnya saya tidak bisa mempunyai anak. Mene ketehe, yang ngasih rahim kan Bapa di surga. Protes aja sama Beliau kalau gak takut disamber geledek. Masalah harus punya anak cowok, ya kan situ yang sperma Y nya bego gak tepat sasaran, sel telur saya kan hanya tenang-tenang menghanyutkan. Tapi saya juga ngeri kalau suami saya pembenci anak yang enggak mau punya anak. Masalahnya kondom hanya memberi jaminan 99.999% (jadi ingat si Joe Friends yang kaget saat tahu kondom tidak memberi jaminan 100%, huahaha - Jadi kangen nonton Friends).

Wokeh, saya yakin sekarang semua orang kasihan pada Okhi Oktanio yang nasibnya sial banget jadi suami saya, dan banyak pria yang lega karena istrinya lebih beradab dari saya. Saya akui, Okhi memang akan lebih bahagia kalau bisa menikah dengan Miranda Kerr nya yang tercinta, yang bisa bikin sarung bantal aja keliatan seksi kalau dia yang make. But to be honest, I love pampering him. I love playing Geisha with him. I love cooking him a dish just because I love to make him happy, not because I have to. I like kissing his hands cause they comfort me (yeah I'm Ababil lebay ), not because I have to obey him. Karena Okhi benci menyeterika, selalu sayalah yang menyeterika semua bajunya. Bukan karena saya ingin jadi babu teladan, tapi karena by doing so, I can lighten his day. Dan balasannya, dia yang selalu mengisikan bensin dan mencuci mobil saya, karena saya benci bau bensin dan saya benci basah dan kedinginan. Entar masuk angin ah. The list goes on and on. Saya menyapu, dia mencuci piring (again, saya benci air). Saya shopping, dia membayar tagihannya :).

Dan apakah saya tidak pernah menempatkan dia sebagai leader? Tentu saja sering. Saat hendak memutuskan mobil mana yang harus kami beli, saya menyerahkan keputusan pada kebijaksanaannya (jadi kalau ternyata mobilnya bobrok dia yang salah). Tapi ada saatnya saya take a lead. Soal urusan disiplinnya Sera, saya yang ambil komando. 

Ada pula hal-hal yang menjadi kewenangan kami berdua, misal soal sekolah Sera besok. Soal pekerjaan, Okhi akan meminta pendapat saya, tapi keputusan terakhir tetap di tangannya. Begitu juga saat saya yang sedang memilih tempat kerja. Tentu seringnya, masukan dari Okhi ternyata yang menjadi keputusan akhir saya. Kenapa? Karena I believe my heart, and it believes in him.    

Dan, as much as I love my job, sekarang saya sama sekali tidak bekerja. Meskipun terkadang sedih dan merasa tidak fully alive, tapi saya tidak menyesalinya. Keadaan memang membutuhkan saya stay at home for the time being. Ini sih keputusan logis saja, saat ternyata salah satu dari kami harus tinggal di rumah untuk menjaga Sera, maka lebih masuk akal Okhi yang bekerja, karena gajinya jauh lebih tinggi dari gaji saya, dan dia lebih bego dalam mengurus Sera.

Saya punya teman yang memang tampaknya butuh cowok yang otoriter. Semua keputusan penting dibuat suaminya. Masalah keuangan dipegang suaminya. Pekerjaan pun, suaminya harus tahu siapa saja teman sekantornya. Kalau saya yang dapat pria model begini, entah saya yang mati dulu gantung diri, atau dia yang saya racun duluan. Tapi teman saya itu bahagia, karena memang dia itu indecisive, soal enaknya pakai sandal atau sepatu saja bisa dua hari mikirnya. Cocok kan? Kunci ketemu gemboknya deh.

Atau saat saya sedang berjalan-jalan dengan seorang tante, dan dia bilang "Ayo pulang, mau masak nih untuk om. Dia hanya maunya makan masakan tante." Saya ikut bahagia untuk tante saya, karena dia menemukan pria yang membuatnya merasa hebat, dibutuhkan dan dicintai. Om pun menemukan wanita yang senang melayaninya. Kalau Okhi yang bergaya menolak makan kecuali masakan saya, saya ulek-ulek kupingnya sama terasi. Emang kagak ada gerobak nasi goreng lewat apa, gangguin acara orang jalan-jalan saja. Untung seringnya dia menerima makanan apa saja, selama bukan saya yang memasak. Alasannya sih biar saya nggak capek. Romantis ya... (saya pura-pura bodo aja tentang alasan sebenarnya)

Mencari pasangan hidup yang sesuai dengan prinsip kita tentulah tidak gampang. Kebanyakan mikirin prinsip, bisa-bisa bakalan bengong sendirian. Tidak memikirkan prinsip sama sekali, tahu-tahu dapat cowok yang doyannya hanya makan daging anjing, sementara kita suka melihara anjing. Repot.

Ya pilihannya tergantung lagu mana yang mau dinyanyikan di malam hari.

Masak.. masak sendiri, nyuci baju sendiri
Semuanya sendiri ... (a dangdut singer- dunno his name)

atau

Listen, I'm not at home in my own home
And I've tried and tried to say what's on my mind  (Beyonce)

Kalau anda seberuntung saya, maka lagunya

Sera bobok.. oh Sera bobok...
Papa mama mau ciuman dulu... 

Guys, perhaps next week I'll put my note in somewhere else, I'll update you my new nest for all my creepy notes.

Monday 23 May 2011

My Monday Note -- Lebaran di Rumah Simbah Tlingsing (1)

Meskipun saya enggak pernah ikut puasa, masalah mudik untuk merayakan lebaran mah saya enggak kalah. Bisa diadu deh, acara mudik saya pasti jauh lebih dahsyat.

Setiap Lebaran tiba, saya sekeluarga akan sibuk mempersiapkan acara mudik kami. Lebih tepatnya Bapak sibuk sok memerintah kanan kiri, saya dan adik saya sibuk ngomel menyuruh emak jangan lupa membawa bantal,  selimut dan tetek bengeknya, Bingo si anjing akan sibuk berusaha mengencingi semua barang yang sudah dipersiapkan, dan emak sibuk mempersiapkan semua dari mulai panci sampai baju dan menatanya di dalam mobil di tengah hujan omelan dari anak dan suaminya yang tidak membantu sama sekali.

Kami selalu mudik ke rumah nenek saya yang merupakan emaknya bapak saya. Simbah ini tinggal di desa yang namanya desa Tlingsing, dan karena kami semua cucu-cucunya enggak ada yang ingat siapa nama asli si simbah, kami memanggilnya Mbah Tlingsing. Keren ya? Mungkin nanti saya dipanggil Mbah Blitar sama cucu saya (ni si Okhi maksa amat kami menghabiskan masa pensiun di Blitar, punya pacar disana kayaknya dia). Karena Tlingsing itu benar-benar masih desa banget, jadi berlebaran disana selalu jadi momen yang menggairahkan plus menjengkelkan bagi kami para anak kota. 

Saat saya masih SD, kami sekeluarga tinggal di Jogja. Perjalanan Jogja - Tlingsing (yang berada di wilayah Klaten) kira-kira sih hanya 2 jam perjalanan dengan mobil, tapi rasanya sudah mendebarkan sekali. Setelah melewati Candi Prambanan, terminal, pasar dan puluhan lampu merah, maka mobil kami akan sampai di belokan ' keramat'. Saya sebut keramat bukannya karena kami harus membakar kemenyan setiap melewati belokan ini, tapi karena sebagai anak kecil dengan daya ingat akan jalan yang terbatas, saya mengenali belokan dengan sebuah pohon beringin yang tumbuh dengan gagah di tengah jalan itu (kok ya memang serem ya) sebagai belokan penanda 'rumah simbah sudah dekat'. Hore, bokong saya sudah pegel nih.

Setelah melewati berkilo-kilometer jalan aspal kecil khas kota mungil, sebuah gapura dengan tulisan Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia berwarna hijau pudar menjadi penanda 'Welcome To The Jungle'. Begitu melewati gapura ini, waktu serasa berputar mundur, kembali ke jaman sebelum kemerdekaan Indonesia. Waktu Jepang masih minta dipanggil Kakak Tertua. Selama kurang lebih 5 kilometer terakhir sebelum kami mencapai kediaman Simbah, pemandangan indah bak lukisan membentang di kanan dan kiri.

Ingat kan waktu TK dulu, kita menggambar pemandangan sawah dengan dua puncak gunung di kejauhan? Nah, desa ini juga persis seperti itu. Sawah yang dipenuhi padi hijau royo-royo atau kekuningan, dengan pak tani bertopi caping sedang menuntun kerbaunya membajak sawah, dan di kejauhan tampak deretan pegunungan yang puncaknya tertutup gumpalan awan putih. Hanya sayangnya tidak ada anak gembala meniup seruling di tengah ladang. Maklum, anak gembalanya enggak ada yang alay. Meniru lagunya Katon, kami serasa memasuki negeri di atas awan.

Sayangnya, pemandangan indah di sepanjang jalan itu adalah hal terakhir yang sempat kami perhatikan. "Pah awas ada kebo di depan," Emak memperingatkan Bapak. Bapak akan dengan perlahan mengemudikan mobil, beringsut-ingsut melewati si kebo tambun yang bokongnya sedang parkir di jalan.

" Kayaknya jalan di depan ada yang ambruk tuh," tunjuk emak ke jalan di depan kami yang bagian pinggirnya tampak rapuh dan siap runtuh ke sawah dengan ketar ketir. "Tenang, kalau toh sampai mobilnya jeblos ke sawah kan ada kebo itu tadi yang bisa kita suruh narik," jawab Bapak saya dengan gaya santai. Dengan sangat tidak terburu-buru, dengan kecepatan yang akan membuat seekor siput pincangpun bisa merasa bangga akan dirinya, mobil Chevrolet cokelat kami akan melalui jalan yang bagian pinggirnya ambles ke selokan alam di sampingnya.    

Meskipun terletak di pusat pulau Jawa alias Jawa Tengah, meskipun saat itu VOC sudah angkat kaki dari NKRI dan digantikan oleh IMF, desa Simbah sepertinya terlupakan oleh deru mesin pembangunan, mungkin diakibatkan lupa menyogok DPRDnya. Lima kilometer terakhir menuju rumah Simbah, jalannya masih berupa jalan tanah. Yang lebarnya hanya pas-pasan untuk dilewati satu mobil saja. Yang kekerasan tanahnya hanya setingkat diatas kekerasan lumpur sawah. Yang tingkat kehalusan permukaan tanahnya bisa membuat permukaan kawah bulan bak sehalus sutera. Benar-benar jalan yang hanya diciptakan untuk para pengemudi handal dengan mobil jip off road yang perkasa, atau ya si kebo itu tadi, yang bisa dengan lincah bermanuver memutar bokong ke kanan dan ke kiri. Yang jelas, jalan ini tidak tepat bagi mobil rongsokan tanpa power steering yang penuh berisi bantal guling dan panci, dengan empat orang di dalamnya yang tanpa putus memohon kemurahan dan bantuan Dewa Petir agar selamat.

Oya, kalau jalannya memang separah dan sesempit itu, gimana dong kalau berpapasan dengan mobil lain? Ini satu lagi yang membuat saya senang dengan acara mudik. Meskipun seperti sudah saya utarakan, bahwa mobil saya itu lebih dekat hubungan kekerabatannya dengan besi tua dan mengemudikannya membuat lengan Bapak saya berotot akibat ketiadaan power steering, tapi mobil kami itu sudah termasuk angkutan terkeren yang memasuki jalanan desa Tlingsing di masa itu. Biasanya, kami akan bertemu bapak petani yang sedang mengangkut jerami atau ibu petani diatas sepeda kumbangnya, dan saat mereka melihat mobil kami melintas, mereka akan melambai-lambaikan tangan ke arah kami. Bahkan, anak-anak kecil akan berlari-lari mengikuti mobil kami sambil berseru-seru "Onok montor.. onok montor" (ada mobil, ada mobil). Wah, meskipun di Jogja keluarga kami termasuk kelas menengah mendelosor, tapi saat itu rasanya kami seperti keluarga kerajaan Inggris yang sedang mengunjungi rakyatnya. Jadi intinya, kami tidak perlu takut berpapasan dengan mobil lain di jalan itu, karena peluangnya lebih kecil dari ukuran otaknya Okhi.

Setelah beberapa kali melewati jalan yang setengah longsor, mengantri dengan sabar di belakang segerombolan itik yang megal megol dengan gemulai, dan membunyikan klakson untuk mengusir para embek yang memilih berjemur di tengah jalan, sampailah kami ke rumah Simbah.   

Begitu mobil kami memasuki halaman rumah Simbah dengan selamat, rasanya separuh beban kehidupan lenyaplah sudah (separuhnya lagi disimpan untuk perjalanan pulang nanti). Hmmm, bagaimana ya saya harus melukiskan rumah Simbah? Sacara garis besar rumah Simbah terbagi menjadi tiga bagian, pendapa luar, pendapa dalam dan dapur. Pendapa luarnya sebesar rumah saya ditambah rumah anjing saya ditambah dua rumah tetangga sebelah saya di Jogja. Pilar-pilarnya terbuat dari kayu jati tua, menopang atap yang menjulang paling tidak enam meter diatas permukaan tanah. Pendapa luar dan pendapa dalam dipisahkan oleh pintu jati yang dipenuhi berbagai ukiran rumit. Dapurnya Simbah mungkin sebesar lapangan futsal yang biasa disewa teman-teman SMA saya.

Wokeh, rasanya saya berhasil membuat gambaran yang menawan tentang rumah Simbah saya. Kaya ya Simbah saya? Inilah bukti bahwa kekayaan, sama dengan kecantikan, adalah relatif. Hanya jelek yang mutlak. Memang rumah Simbah terbuat dari kayu jati yang pasti luar biasa mahal untuk rumah jaman sekarang yang dibangun dengan kayu dari pohon jambu air, tapi lantai rumah Simbah adalah tanah (terakhir-terakhir sih ada kemajuan, lantainya disemen :)). Saya selalu menggerutu kalau disuruh menyapu lantai tanah ini. Lha namanya tanah ya pasti kotor, gimana juga caranya nyapu?

Di pendapa depan, selain digunakan selayaknya untuk menerima tamu, juga dimanfaatkan untuk menyimpan kayu bakar, dan hasil panen. Kalau lebaran bersamaan waktunya dengan panen padi, maka pendapa ini akan dipenuhi gabah. Saya paling sebal kalau ini terjadi, gatelnya itu lhooo. Terakhir saya ke Tlingsing, Lebaran jatuh disaat musim panen kedelai. Itu lebaran terhoror yang pernah saya rasakan. Halaman semua orang di desa Simbah dipenuhi dengan kedelai yang dijemur. Meskipun kedelai rebus itu enak, tapi ulat kedelai tetaplah menjijikkan.Untuk mencapai rumah Pakde yang ingin saya kunjungi, saya harus melintasi timbunan kedelai yang tersebar di penjuru halaman rumah mereka yang seluas lapangan sepakbola, yang dipenuhi ulat kedelai. Yaiks. Dan saat akhirnya selamat masuk ke dalam rumah, ternyata saya seperti lolos dari mulut buaya masuk ke bokong kudanil. Ulat-ulat jahanam itu juga merayapi lantai dan tembok rumah, bahkan kursi tamu tempat I supposed to put my butt. Enough is enough. Saya langsung angkat kaki ambil langkah seribu kembali ke mobil saya, mendekam di dalam mobil sambil tiada hentinya menyumpahi si ulat pink ginuk-ginuk yang menghalangi saya menyantap tape ketan dan teh nasgitel kesukaan saya (terakhirnya, Okhi Oktanio datang ikut menemani saya di mobil, tapi tanpa membawa teh dan si tape, dodol banget). Kok Bude saya nggak menjadi gila ya melihat rumahnya diinvasi makhluk hina tak bertulang belakang itu? It was the result of excesive uncontrollable pesticide misuse. Ledakan populasi ulat yang kebal pestisida. Mungkin kalau Superman disemprot pestisida lama-lama dia bisa kebal terhadap batu krypton.

Oya, saat baru pertama sampai di rumah Simbah, seperti layaknya tamu, ya kami harus sowan dulu ke Simbah. Kadang saat kami datang Simbah sedang duduk-duduk santai di teras depan. Lain waktu, simbah sedang bertapa di pendapa dalam. Simbah Tlingsing, sekilas pandang, berpenampilan seperti layaknya seorang nenek di desa. Pakai kebaya dan kain, dengan rambut panjangnya yang sudah beruban dan menipis dikonde di belakang. Saat melihat kami datang, matanya akan mulai berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. Lalu Simbah akan menyambut dan mencium dan merangkul kami. Senang juga rasanya melihat ada seseorang yang senang akan kehadiran saya, sementara seisi dunia lainnya mengharap saya tidak pernah dilahirkan. Oya, Simbah cowok sudah meninggal duluuu banget, di tahun yang sama setelah saya dilahirkan. Mungkin akibat terlalu bahagia melihat cucunya yang jelita ini.

Nah, satu ritual yang harus dilakukan saat baru datang adalah duduk di samping Simbah dan mendengarkan cerita dan petuahnya. Masalahnya adalah Simbah memakai bahasa Jawa, sementara saya hanya mengerti bahasa Jerman. Repot kan. Pokoknya, triknya adalah menganggukkan kepala dan tersenyum/ nyengir sambil sesekali mengatakan "Inggih Mbahhhh."

Namanya cucu, memang sepertinya ditakdirkan kurang ajar. Jadi ritual yang seharusnya mengharukan ini kami anggap menggelikan dan bahkan kadang membosankan (kalau pas sial Simbah lagi ingin berpanjang lebar bercerita). Makanya, trik saya adalah langsung menyerobot untuk 'sungkem' pertama, dan saat waktunya saya rasa cukup (saya hitung sampai 60 detik), saya akan memberi bahasa isyarat plus bahasa jawa amburadul bahwa ada cucunya yang lain yang antri, yaitu adik saya yang bodoh. Jadilah dia yang mendapat jatah ceramah paling panjang. Kalau kami datang sebelum sepupu-sepupu kami yang lain, maka nantinya saya akan mendapat kesempatan cekikikan saat melihat Nana Juminem yang baru saja datang mendapatkan giliran. Melihat wajahnya yang dengan patuh mengangguk-angguk dan berkata Inggih Mbah untuk menjalankan kewajibannya itu sangatlah entertaining.

Papa saya itu 10 bersaudara, dan dia anak terakhir. Gile bener, gimana nggak penuh dunia ini kalau satu pasangan aja beranak 10. Dari 10 anak ini, separuhnya tinggal di daerah Tlingsing juga, sedang sisanya tinggal di Jogja dan Jakarta. Jadinya, saat lebaran, akan ada paling tidak 4 keluarga yang menginap di rumah Simbah. Nah, meskipun rumah simbah itu besar sekali, tapi anehnya tidak ada kamar-kamar. Jadi ya kami semua akan tumplek blek di pendapa dalam. Jadilah tempat tidur di pojok dekat pintu dikuasai keluarga Pakde Tikno, lantai bawah akan digelari kasur untuk tidur keluarga saya dan Pakde Giarto. Sebetulnya ada sih tempat tidur Simbah yang besar dan hanya dipakai Simbah sendirian. Tapi tentu saja tidak ada dari cucunya yang bersedia berbaring bersebelahan dengan Simbah. 

Dulu menurut cerita Papa, ya semua anaknya Simbah plus Simbahnya akan bertumpuk-tumpuk tidur disitu. Saya bersyukur saya memiliki kamar sendiri, meskipun kecil ala kandang bebek. Saya benci harus tidur beramai-ramai. Hari-hari ini saja saya sering menatap Sera yang lagi tidur dengan sebal. Ni anak kenapa tidurnya harus malang melintang sih, bikin kasur jadi penuh, bikin emak bapaknya harus menekuk kaki dan tidur dengan posisi aneh. "Kapan sih dia bisa kita lempar biar tidur di kamarnya sendiri?" gerutu saya ke Okhi. "Halah, nanti paling kamu kangen kalau dia udah nggak mau tidur sama kita lagi," jawab Okhi santai.

Oya, Simbah tidak pernah merasakan penderitaan ikut antri berkilo-kilo untuk mendapatkan minyak tanah atau kekhawatiran tabung gasnya mbleduk. Yup, Simbah mempercayakan sumber energinya pada kayu bakar. Jadi, dapur Simbah diisi oleh tungku-tungku untuk memasak, dengan tumpukan kayu bakar siap pakai. Itu alasannya kami membawa panci kami sendiri, karena alat masaknya Simbah, dilihat dari penampakannya yang item, gigantic dan menebarkan aura suram sepertinya pernah dipakai memasak buaya di masa perang diponegoro. Terus terang, saya senang sekali dengan kegiatan memasak ini. Rasanya asyik sekali bila saya diberi tugas menjaga api agar tetap menyala, dan kemudian menambahkan ranting-ranting ke dalam tungku. Bunga api yang kemerahan memercik ke segala penjuru, dan asap mengepul-ngepul. Romantis kan? Sayangnya emak saya tidak bisa merasakan kegembiraan ini. Entah kenapa dia tampak tidak terkesan oleh tungku ajaibnya Simbah. Mungkin karena badan, baju dan rambut kami semua akan berbau asap. Mungkin juga karena panci bagusnya jadi gosong semua pantatnya. Mungkin juga karena tugas sesederhana memasak air membutuhkan usaha luar biasa, dari mulai mengambil kayu, menyusunnya di tungku (itu tugasnya bapak saya) dan mencoba menyalakan apinya.

Nah, kalau dapurnya sudah seasyik itu, apalagi kamar mandi dan toiletnya deh. Kami tidak mandi di kamar mandi berkeramik biru membosankan ala rumah kota. Nggak level. Kami mandi di pinggir sumur besar berair jernih, yang bagian dindingnya berlumut hijau cerah. Menyenangkan sih saat saya masih berumur 7 tahun, tapi saat saya sudah lebih dewasa, ya jadi menyebalkan. Masalahnya ni sumur hanya dibatasi tembok setinggi pinggang, dan terletak di tengah kebon belakang. Nah, di bagian kanan sumur adalah jalan desa, yang meskipun sepi tapi kan ya ada saja orang atau sepeda atau kebo yang melintas. Malu dong.... Belum lagi kalau ada sepupu saya yang lain atau seorang Pakde memutuskan berjalan-jalan ke kebon belakang disaat saya sedang sibuk (pura-pura) menyabuni punggung saya. Nah lo, kacau deh urusan.

Kalau kamar mandinya sudah asoy, lalu bagaimana toiletnya? Jelas geboy dong.  Toilet terletak 6 meter disamping sumur. Satu ruangan kecil dengan lubang di tengahnya. Saya punya perasaan ada kalajengking atau ular yang siap keluar dari lubang kecil gelap itu setiap saat. Akibatnya, saya selalu menahan diri untuk ke toilet sejarang mungkin. Akibatnya, saya selalu menderita sembelit sepulangnya dari rumah Simbah. Biasanya, sebelum masuk ke toilet ini, Emak yang selalu kami suruh maju duluan untuk memeriksa keamanan dan kebersihannya. Jadi kalau ada ular, biar Emak saja yang digigit duluan, hehehe. 

Rumah Simbah dan desanya memang asyik. Tapi lebih asyik lagi kegiatan yang saya lakukan bersama sepupu-sepupu saya. Menjerit-jerit di tengah sawah yang ternyata dipenuhi ulat bulu, sowan ke rumah Bude saya yang jadi lurah dan minta rujak dengan kedondong termanis di dunia, jualan keris, mengemis uang fitrah, naik ke bukit gersang untuk membeli bakso (ngapain juga harus siang bolong naik bukit demi beli bakso, mending juga beli di pinggir desa) dan tentunya melihat takbiran keliling. 

Tapi karena saya lagi bosan menulis, plus setrikaan lagi menumpuk, ceritanya saya lanjut minggu depan saja deh. Ciao. Oya, adakah yang memiliki desa seunik desa Simbah saya?

Monday 16 May 2011

My Monday Note -- Errr, Did I Ask For Your Advise?

Saya terpikir menulis note ini akibat sebuah status yang ditulis oleh suami saya, yang menceritakan betapa Serafim terdiam dan merasa bersalah saat saya memarahinya. Beberapa komentar sih netral saja, mengenai kasihan ya si Sera, atau pinternya Sera bisa merasa bersalah, atau kejamnya nih emaknya Serafim. Tapi ada beberapa komentar yang saya hakul yakin niatnya baik dan mulia, karena yang memberikan adalah teman-teman saya juga, yang entah kenapa membuat hati saya sebal. Mereka berkata jangan mudah memarahi anak, nanti kreatifitasnya tidak berkembang. Juga jangan sedikit-sedikit anak dilarang, dan seterusnya.

Tapi meskipun lidah saya tajam, saya menekan naluri defensif saya dan tidak tergoda untuk membalas komentar mereka dengan sindiran yang sadis (oh sudah ada beberapa setan hijau kecil yang menari-nari membawakan inspirasi sindiran kejam di otak saya). Kenapa? Karena yang pertama, saya yakin mereka berniat baik. Kedua, ada unsur kebenaran dalam komentar yang mereka berikan.

Meskipun 'nasehat' gratis itu bukannya salah, kenapa ya kok saya mengkal membacanya? Mungkin yang utama, karena saya merasa dihakimi, bukannya dipahami. Mereka ini kan tidak tahu latar belakang, alasan kenapa saya marah pada Serafim. Instead of asking me first why I did it, mereka langsung menjudge bahwa saya terlalu gampang memarahi anak.

Plus, memang di status tertulis 'memarahi'. Definisi memarahi ini kan luas, dari mulai menyabetkan pedang laser ala Darth Vader ke bokong montoknya Sera, sampai hanya tepukan halus di pipi sambil berkata "Jangan dong sayang..."  Tapi saya mafhum juga sih, karena mereka teman saya, jadi ya yang ada dalam otak mereka adalah image yang sudah tertanam, bahwa saya menghabiskan 5 jam sehari untuk mengasah pisau saya, kapak saya dan gigi saya agar tetap Setajam Singlet, cring..cring. 

Alasan kedua saya menjadi seperti kebo kebakaran jempol, karena dengan nasehat itu, seolah kemampuan saya diragukan. Oh memang saya orang yang easy-going dan easy-touching, jadi kalau ada yang mengomentari masakan saya atau wajah saya (saya tidak tahu mana diantara keduanya yang lebih sempurna adanya), saya tidak akan marah. Tetapi semua orang punya 'titik sensitif' yang bila disentil bisa bikin mereka siap menghisap cerutu perang, huff..huff... Ternyata salah satu titik sensitif saya adalah soal anak. Kalau saya dikritik bahwa saya mendandani Sera seperti bekicot dibuntel daun tales, saya akan cuek saja.  Tapi kalau saya disentil soal cara saya menegakkan disiplin ke Sera, itu sama saja mengibarkan bendera putih ke depan seekor banteng rabun ayam. Tetep aja diseruduk karena dikira bendera merah. Oya, saya juga paling marah kalau disinggung soal suami pilihan saya. Berapa kali sih sudah saya bilang, manusia juga bisa khilaf???

Okeh, berarti bukan salah teman saya dong, kan mereka tidak mengerti bahwa saya gampang muntup-muntup kalau dikritik soal anak. Wong kayaknya saya ya bukannya gambaran Super Nanny yang emang pakar soal anak. Yup, memang mereka innocent (makanya saya enggak menembakkan meriam ke bokong mereka). Jadi permasalahan status FB ini dikubur saja dalam-dalam. Trus diatasnya dikasih nisan dan ditabur bunga kantil. Dan saya masih tetap me-list mereka sebagai sahabat saya. Seriously guys, no hard feeling.

Setelah saya ingat-ingat, saya juga sering ternyata berbaik hati memberi nasehat pada sahabat- sahabat saya, walaupun yang lebih sering saya berikan memang hinaan. Yang paling saya ingat, saat seorang sahabat saya yang tinggal di luar negeri memamerkan foto bayinya yang lucuuu banget. Bener deh, tu bayi cantik banget. Dengan baju pink, mata cokelat dan kulit bule. Saat yang lain berkomentar aduh lucunya, aduh cantiknya, aduh imutnya, mata saya terpaku pada satu hal. Empeng di mulutnya. Kebetulan, hari sebelumnya saya baru membaca artikel di majalah tentang efek negatif empeng. Jadi dengan semangat membuktikan bahwa saya nggak buta huruf dan bahwa bacaan saya enggak hanya komik doraemon, dengan berapi-api saya menulis "Kenapa kok kamu kasih empeng ke bayimu? Tahu nggak empeng itu nggak bagus, bla..bla..."  Saya bahkan tidak berbasa-basi mengatakan betapa cantik bayinya dahulu.

Setelah saya renungkan sekarang, mungkin juga teman saya itu jengkel juga sama saya. Pertama, dia kan lagi mau pamer bayi cantiknya, kok malah diceramahin soal empeng bisa bikin pertumbuhan gusi dan bentuk mulut terganggu (ini juga baru teori, kayaknya sih enggak segitu mengerikannya). Kalau saja teman saya itu sejahat saya, mungkin dia bakal membalas "Tenang aja Meg, sejelek-jeleknya tampang bayi gue karena empeng, tetep aja bakalan lebih bagus dari muka elu." 

Dan saat itu, saya juga tidak mau bersusah payah mencari tahu alasan dia pakai empeng. Juga, saya 'mempermalukannya' di wall nya sendiri. Seolah saya menunjukkan kesalahan yang dia lakukan. Dan ratusan orang bisa membaca komentar saya. Oke, kalau saya melihat seorang ibu memberi mainan botol baygon ke anaknya, sah dan memang sudah seharusnya saya langsung teriak " Dasar bego, take that bottle away from your baby, stupid mother!!!" Tapi untuk hal yang apa ya istilahnya, bukannya haram tapi makruh (asal nyomot istilah-soalnya kok kayaknya pas) semacam empeng, kan ya nggak perlu saya meneriakkan keras-keras ke seluruh dunia bahwa teman saya itu bersalah.

Setelah tinggal di Australia, saya menemukan memang banyak ibu-ibu disini memberikan empeng ke anaknya. Alasannya? Karena mereka harus melakukan semuanya sendiri. Tidak ada aa, teteh, embak, iyem, bulik untuk membantu mereka. Mereka menyetir mobil sendiri, bayinya diletakkan di car seat di belakang. Bayangkan menyetir sepanjang jalan sambil mendengarkan teriakan dan jeritan tangis bayi. Lucifer aja bakalan lebih milih nyemplung balik ke neraka. Makanya, demi menjaga kewarasan si ibu, disumpellah mulut si bayi dengan empeng. Saya tidak berniat berdebat apakah hal itu tepat atau tidak, tapi dengan memahami latar belakang tindakannya, dengan berempati pada situasi yang dihadapinya, saya akan terhindar dari memberi nasehat yang congkak dan keminter.

Mungkin akan lebih manis, kalau saya memang kebelet banget ngasih nasehat, saya akan bertanya kenapa bayinya dikasih empeng? Berapa jam dalam sehari? Dan mungkin dengan gaya yang lebih santun bilang bahwa saya kok pernah baca artikel yang bilang kalau empeng itu ada dampak negatifnya. Apa iya ya? Intinya, memberi nasehat dengan empati, dengan memahami alasan dia melakukannya. Kalau tidak, ya mending I just keep my mouth shut. Toh bayi teman saya juga bukannya bakalan sekarat karena dikasih empeng.

Dan kalau boleh saya simpulkan ( ya bolehlah, wong ini note saya sendiri, basa-basi banget sih), dari pengalaman saya sebagai seorang ibu dan bergaul dengan ibu-ibu yang lain, jangan pernah deh sekali-sekali memberi nasehat atau menyalahkan cara orang tua dalam mendidik dan merawat anaknya, kalau mereka memang nggak minta pendapat kita. There's no good come from it. Membesarkan anak adalah kewenangan dan hak prerogatif masing-masing orang tua. Bahkan saya akan bersikap lebih berhati-hati kalau itu saudara saya atau teman dekat saya. Again, itu hak mereka 100%. Kalau nanti Anak Pesut menikah dan punya anak, saya bakalan harus lebih bisa menahan diri untuk menyadari bahwa Anak Pesut mempunyai caranya sendiri dalam mendidik Cucu Pesut, jadi Emak Pesut nyantai aja sambil minum bir pletok :). Secara saya juga bakal jengkel kalau keluarga saya mulai komplain soal cara saya mendidik Sera.   

Makanya saya mengancingkan mulut ndower saya waktu kemarin melihat anak teman saya, umur 8 tahun, dan masih harus dikejar-kejar disuapin makannya, masih harus berantem dulu kalau mau dikasih baju, masih berantakan dimana-mana mainannya. Kalau itu Serafim, sudah saya uleg2 hidungnya. Memang sial jadi Sera dan Bapaknya Sera, harus hidup dengan mutan doberman.  

"Hati-hati dalam memberi nasehat. Memberi nasehat tanpa diminta, biasanya hanya akan membawa kesulitan."  

Karena semua orang lebih suka dikasih duit daripada dikasih bon tagihan. Namaste.....

PS. Semoga FB sudah musnah saat Sera remaja, atau dia akan membaca note saya dan menyeringai senang menemukan senjata untuk melakban mulut saya yang bawel memarahinya.

Monday 9 May 2011

My Monday Note -- Getting My Learner Permit

Sejak jaman orang masih naik onta keliling padang pasir, sampai jaman orang beli terong di pasar aja naik helikopter, saya itu memang tidak punya bakat jadi orang kaya. Alhasil, kemana-mana saya selalu nyetir sendiri, enggak pernah punya sopir. Dulu... banget, waktu baru saja merajut kasih asmara bersama Okhi Oktanio (benar-benar bergidik sewaktu menulis kalimat ini), selama dua bulan pertama, dia yang selalu menyetir untuk saya. "Aku tu kok gak sreg ya kalau kamu yang nyetir... Gak tega..."

Setelah masa dua bulan yang penuh kekhilafan itu, kok ya makin kesini malah saya yang selalu berada di belakang kemudi. Macam-macam alasannya. Karena saya dituduh dodol dalam membaca peta, maka saat kami dalam perjalanan wisata, sayalah yang menyetir dan dia membaca peta. Atau karena saya masih perlu belajar menyetir di jalan tanjakan. Atau karena saya harus nurut sama suami saya. Sewaktu saya pergi dengan emak saya, kondisinya juga sami mawon. Saya harus menyetir karena dia sudah jompo. Atau karena dia yang mau nraktir. Atau karena saya bakal dicoret dari daftar warisan kalau menolak. Untung kesabaran adalah sifat saya yang paling dominan.

Sesudah kami pindah ke daerah Melbourne-pinggir-banget-nyaris-nyemplung-got, dan setelah kami mampu mengkredit mobil bekas yang semua bagiannya mengeluarkan bunyi kecuali klaksonnya, mau tidak mau saya harus jadi sopir lagi. Kali ini yang jadi calon bos saya si anak pesut. Maklum, meskipun dia itu seksi luar biasa, tapi kakinya masih pendek.

Sebetulnya, para pelajar Indonesia yang bersekolah di Australia diijinkan tetap menggunakan SIM Indonesianya, tapi karena tampang saya rupanya terlalu dungu atau terlalu uzur untuk bisa berpura-pura menjadi kandidat doktor dari Melbourne Univ, maka saya diwajibkan mempunyai SIM Victoria (buat panjenengan yang membolos waktu pelajaran geografi, Victoria itu adalah salah satu negara bagian di Australia dengan Melbourne sebagai ibu tirinya).

Sialnya, SIM Indonesia itu tidak otomatis bisa dibarter dengan SIM Victoria, enggak kayak SIM New Zealand, Inggris atau bahkan Singapura. Katanya sih karena kemampuan menyetir orang Indonesia dianggap belum setara dengan para sopir disini. Hah, coba saja kalau orang Oz bisa selamat nyetir di Mampang Prapatan jam 7 pagi atau bersaing  melewati depan Pasar Wonokromo bersama para abang becak! Enak saja meragukan kemampuan menyetir seorang warga Jakarta.

Dulu di Indonesia, saat pembuatan SIM, saya hanya tahu jalur calo biasa atau calo hebat. Saya ingat pertama kali bikin SIM, karena calo saya kacangan, maka saya harus ikut semacam ujian tulis. Waktu saya mencoba memikirkan jawaban pertanyaan, Pak Pol nya malah menyuruh supaya saya mengisi saja cepat-cepat. "Yang penting diisi mbak."  Wokeh Pak, lanjut! Kemudian saya ditanya, mau bikin SIM A atau SIM C. Saya tolah toleh bingung, mencari si calo kacangan. Mene ketehe saya mau ambil SIM apa, jadi saya jawab aja "Kalau SIM untuk mobil itu yang apa Pak?" 

Nah, karena saya belum berhasil menemukan jaringan calo yang handal di sini, terpaksa saya mengikuti prosedur resminya. Langkah pertama dalam perjuangan mendapatkan SIM adalah lulus ujian untuk mendapatkan Learner Permit. Jadi, sebelum seseorang diijinkan belajar menyetir di jalan, dia harus lulus ujian tertulis dulu. Jadilah saya membuka buku primbon Road To Solo Driving, yang harus saya hafalkan dan hayati.

Buset dah, ni buku susye bener. Halaman pertamanya saja langsung diisi peringatan "Siapa bilang menyetir itu gampang!" Kemudian halaman-halaman selanjutnya dipenuhi berbagai grafik berwarna-warni mengenai berbagai ancaman kecelakaan yang bisa menimpa mereka yang tetap nekat nyetir. Bahkan ada satu halaman yang menasehatkan "Udah deh, mending naik public transport aja napa sih, maksa bener mau nyetir!" Saya jadi curiga kalau yang menulis buku ini adalah seorang korban ditinggal kawin oleh sopir truk.

Tapi sebenarnya, buku ini didesain sedemikian rupa terutama karena dia diperuntukkan bagi para ABEGE yang baru pertama kali ingin belajar nyetir. Maklum, darah muda, gampang naik darah. Ada orang ngelirik sedikit saja sudah merasa ditantang diajak adu balapan. Berhubung saya sudah sering mengeluh linu-linu di kedua dengkul, jadi tidak perlulah rasanya saya baca bagian ancaman ini.

Buku setebal 170 halaman ini dipenuhi berbagai aturan yang harus saya jejalkan ke otak saya yang encer. Sampai berkunang-kunang mata saya berusaha mengingat-ingat arti berbagai lambang yang bakal saya temui di jalanan nantinya. Banyak lambang yang sama dengan di Indonesia sih, tapi banyak juga yang beda. Disini lebih ruwet dan terperinci. Misal kalau di Indonesia kan hanya ada jalur cepat sama jalur lambat. Kalau saya ditanya apa bedanya, ya paling saya jawab kalau jalur cepat itu dipakai saat kita kebelet mau pipis, sementara jalur lambat kita pilih saat menuju ke rumah mertua :D.

Sialnya, di sini ada berbagai jalur; Service road, buat yang minta diservis kilat (becanda ding, entar Bayu Cahyadi maksa minta liburan kesini lagi), lalu ada jalur khusus sepeda, khusus trem, dll dengan berbagai spesifikasinya. Contohnya, saya tidak boleh masuk ke jalur sepeda kecuali saat ingin membelok, itupun dibatasi hanya boleh melintas maksimal 50 meter. Halah, masak ya saat mau masuk jalur ini saya harus turun dari mobil trus ngukur dulu pake meteran, bisa-bisa bokong saya disundul sama truk tronton lagi.

Contoh yang paling ekstrim ya soal parkir. Rasanya di Indonesia saya hanya tahu tanda P dan P dicoret. Dan jujur aja deh, kayaknya tanda ini masih kalah pamor dibandingkan Pak Ogah. Kalau Pak Ogah bilang boleh parkir, mau ada tanda P dicorat-coret juga kagak ngaruh. Memang Pak Ogah itu saya yakin titisan dewa petir, yang bisa menentukan tidak hanya ijin parkir, tapi sekaligus juga tarifnya. Nah kalau disini, kata aturan sih silahkan saja saya parkir di tempat dengan tanda P dicoret, asal saya jangan syok kalau tahu-tahu di kotak pos ada 'surat cinta' dari Vicroad.Dan kalau dibawah tanda dicoret tadi ada tanda mobil derek, ya siap-siap saja menebus mobil yang diderek, otherwise si mobil bakal dijadikan rumpon.

Aha, jadi kalau ada tanda P, bisa asoy geboy dong, bisa langsung jrueeet taruh bokong mobil saya? Hoho, sayangnya that's not the case. Kebanyakan tanda boleh parkir disini ditulis dengan berbagai embel-embel. Misal : 2P Mon-Fri 09.00 am - 04.00 pm Ticket. Apa sih artinya tanda itu? Artinya, anda ditantang dengan pertanyaan "Are you smarter than a fifth grader?"

Jadi untuk bisa parkir dibawah tanda ini, anda harus punya nilai TOEFL 600, biar tahu Mon itu bukannya kepanjangan Montok dan am pm itu bukannya Anda Meminta Papi Memberi. Lalu anda harus lulus pelajaran aljabar, agar bisa menghitung waktu, bahwa anda maksimal hanya boleh parkir selama 2 jam doang, kagak boleh minta perpanjangan waktu semenitpun. Dan terakhir, anda harus mempunyai kemampuan navigasi yang handal, agar bisa melacak letak mesin untuk membeli tiket parkir.  Jadi, memang hanya orang jenius yang ditakdirkan parkir mobil di Melbourne, huahahaha (sombong prematur, padahal ujian saja belum lulus).

Selain soal lambang yang njelimet, perbedaan yang paling mencolok dengan Indonesia, terutama adalah soal RULES. Kalau di Indonesia saya lagi enak-enak nyetir di jalan raya trus melihat ada mobil ngintip-ngintip dari sebuah gang mau memotong jalan saya, apa yang harus saya lakukan, memberi jalan atau malah ngebut? Kalau dulu ya saya jawab tergantung muka si sopir sama bodi tu mobil. Kalau sopirnya tampangnya kayak pilot kamikaze berani mati, ya mending saya ngalah memberi dia jalan tho? Daripada mati konyol. Tapi kalau misalnya mobilnya BMW baru kinyis-kinyis, ya saya bakal ngebut terus pantang ngerem. Kalau tabrakan kan dia yang lebih rugi. Nah kalau lawannya bajaj, saya mending santai-santai sambil motongin kuku jempol kaki saya yang cantengan sambil menunggu paduka yang mulia melintas.

Sayangnya, modal tampang sangar tidak terlalu berguna disini. Semua jelas aturannya siapa yang harus memberi jalan pada siapa. Siapapun yang mau memotong jalan, harus menunggu lalu lintas sepi. Kalau saya misalnya mau keluar dari gang saya ke jalan raya, dan di jalan gang ada garis putih tidak terputus, berarti wajib hukumnya saya harus berhenti dulu sebelum memasuki jalan raya, meskipun saat itu sudah jam 2 pagi, dan yang mungkin melintas di hadapan saya hanya mbak kunti yang habis patroli. Di bunderan, kita harus memberi jalan pada mobil yang berada di kanan kita atau yang sudah berada di dalam bunderan. Bingung? Apalagi saya yang harus membaca versi bahasa bulenya. Gini ini kalau referensi vocabnya hanya dari koleksi film2nya si Okhi yang sejenis sama koleksinya Om Arifinto, perbendaharaan kata saya hanya terbatas pada dua kosakata.   

Makanya, waktu liburan natal yang lalu Okhi kebetulan pulang ke Jakarta, saat dia berada di belakang kemudi, saya bingung kenapa dia terdiam lama termangu-mangu di jalan depan kompleks perumahan kami, enggak segera masuk ke jalan raya di depan kompleks. "Kita ini nunggu apa sih, kok nggak maju-maju?" tanya saya heran. "Nunggu lalu lintas sepi dulu" jawabnya. Yeee, sekalian aja nunggu sampai saya berhasil menang Miss Universe.

Oya, satu lagi yang membedakan adalah kendaraan umum khas Melbourne, si tuan trem. Pokoknya kita banyak kalahnya deh kalau sama si trem. Saat saya sedang menyetir disamping seekor trem dan dia berhenti di setopannya, saya harus ikut berhenti. Dan dengan sabar menunggu sampai pintu trem sudah tertutup lagi, jadi saya tidak akan menabrak penumpang yang turun dan calon penumpang yang berlari-lari mengejar trem. Masalahnya, setopan trem itu jaraknya dekat satu sama lainnya. Capek deh berenti mulu.

Sebetulnya untuk yang ini saya sudah terlatih. Dulu di Jakarta, saya sering harus mengerem mendadak gara-gara sopir kopaja yang gak lulus ujian matematika, yang tidak bisa membedakan antara menyetir lurus dan membentuk diagonal. Atau sopir bemo yang punya jiwa sosial kelewat tinggi, yang tidak tega menolak setiap lambaian tangan dari orang yang membutuhkan tumpangan.

Nah, setelah berjuang mati-matian, akhirnya saya mendaftarkan diri untuk ikut ujian. 15 menit doang di depan komputer menjawab 32 soal. Horeeee, saya lulus dong! Terbukti kan saya tidak hanya sekedar "Older than a fifth grader".  Hanya satu pertanyaan yang salah dijawab: kalau ada orang kecelakaan dan kamu gak berhenti menolong, apa konsekuensinya? Saya mengira jawabannya adalah berarti saya terpaksa mencari berita lengkapnya di koran. Ternyata jawaban yang tepat, SIM saya bakal ditahan selama 2 tahun kalau terbukti saya cuek saat ada yang terluka dan membutuhkan bantuan saya. Oooooo

Sehabis ini, setelah mengantongi ijin belajar, saya akan menempuh Hazard Perception Test. Ini tes simulasi soal kemampuan kita memperkirakan bahaya. Nanti kalau sudah ujian bakal saya ceritain deh. Plus saya akan belajar nyetir dengan instruktur demi mempersiapkan diri menghadapi ujian praktek. Lho, saya kan sudah bangkotan nyetir, kok masih belajar sama instruktur? Karena saudara-saudara, kemungkinan gak lulus itu besar sekali, jadi saya perlu minta tips-tips jitu.

Saat saya mengambil ujian tulis, saya menyaksikan ada seorang ibu asal korea yang gagal saat ujian praktek ini, bahkan saat dia belum masuk ke dalam mobil, masih di konter pendaftaran. Jadi, sehabis dipanggil ke depan konter, si petugas melihat si ibu pakai kacamata. Nah, lalu si petugas menyuruh si ibu membaca deretan angka dan huruf kayak kalau kita periksa di dokter mata "Please read the third line for me."  Si ibu kriyep-kriyep matanya dan membaca sambil memicingkan mata. Ternyata dia enggak bisa membaca deretan huruf itu dengan sempurna. Si petugas sebetulnya bukannya sadis, dia masih memberi si ibu kesempatan 3 kali lagi. Masih belum bisa juga.  Terus si orang ini bahkan sampai diajak keluar sama si petugas, kayaknya disuruh baca rambu gitu, dan tetap aja dia sebuta kelelawar. Dengan sangat menyesal, melayanglah uang 50 dolar dengan sia-sia.

Juga tetangga saya yang gagal ujian bahkan saat dia baru saja menghidupkan mesin mobilnya. Sebabnya? Salah satu lampu remnya mati! Dasar orang Indonesia, dia berkilah bahwa tadi pagi lampu remnya masih baik-baik saja, nggak tahu nih kok tiba-tiba mati. Huahaha, si petugas mah kagak peduli. Emang gue pikirin....