Meskipun saya enggak pernah ikut puasa, masalah mudik untuk merayakan lebaran mah saya enggak kalah. Bisa diadu deh, acara mudik saya pasti jauh lebih dahsyat.
Setiap Lebaran tiba, saya sekeluarga akan sibuk mempersiapkan acara mudik kami. Lebih tepatnya Bapak sibuk sok memerintah kanan kiri, saya dan adik saya sibuk ngomel menyuruh emak jangan lupa membawa bantal, selimut dan tetek bengeknya, Bingo si anjing akan sibuk berusaha mengencingi semua barang yang sudah dipersiapkan, dan emak sibuk mempersiapkan semua dari mulai panci sampai baju dan menatanya di dalam mobil di tengah hujan omelan dari anak dan suaminya yang tidak membantu sama sekali.
Kami selalu mudik ke rumah nenek saya yang merupakan emaknya bapak saya. Simbah ini tinggal di desa yang namanya desa Tlingsing, dan karena kami semua cucu-cucunya enggak ada yang ingat siapa nama asli si simbah, kami memanggilnya Mbah Tlingsing. Keren ya? Mungkin nanti saya dipanggil Mbah Blitar sama cucu saya (ni si Okhi maksa amat kami menghabiskan masa pensiun di Blitar, punya pacar disana kayaknya dia). Karena Tlingsing itu benar-benar masih desa banget, jadi berlebaran disana selalu jadi momen yang menggairahkan plus menjengkelkan bagi kami para anak kota.
Saat saya masih SD, kami sekeluarga tinggal di Jogja. Perjalanan Jogja - Tlingsing (yang berada di wilayah Klaten) kira-kira sih hanya 2 jam perjalanan dengan mobil, tapi rasanya sudah mendebarkan sekali. Setelah melewati Candi Prambanan, terminal, pasar dan puluhan lampu merah, maka mobil kami akan sampai di belokan ' keramat'. Saya sebut keramat bukannya karena kami harus membakar kemenyan setiap melewati belokan ini, tapi karena sebagai anak kecil dengan daya ingat akan jalan yang terbatas, saya mengenali belokan dengan sebuah pohon beringin yang tumbuh dengan gagah di tengah jalan itu (kok ya memang serem ya) sebagai belokan penanda 'rumah simbah sudah dekat'. Hore, bokong saya sudah pegel nih.
Setelah melewati berkilo-kilometer jalan aspal kecil khas kota mungil, sebuah gapura dengan tulisan Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia berwarna hijau pudar menjadi penanda 'Welcome To The Jungle'. Begitu melewati gapura ini, waktu serasa berputar mundur, kembali ke jaman sebelum kemerdekaan Indonesia. Waktu Jepang masih minta dipanggil Kakak Tertua. Selama kurang lebih 5 kilometer terakhir sebelum kami mencapai kediaman Simbah, pemandangan indah bak lukisan membentang di kanan dan kiri.
Ingat kan waktu TK dulu, kita menggambar pemandangan sawah dengan dua puncak gunung di kejauhan? Nah, desa ini juga persis seperti itu. Sawah yang dipenuhi padi hijau royo-royo atau kekuningan, dengan pak tani bertopi caping sedang menuntun kerbaunya membajak sawah, dan di kejauhan tampak deretan pegunungan yang puncaknya tertutup gumpalan awan putih. Hanya sayangnya tidak ada anak gembala meniup seruling di tengah ladang. Maklum, anak gembalanya enggak ada yang alay. Meniru lagunya Katon, kami serasa memasuki negeri di atas awan.
Sayangnya, pemandangan indah di sepanjang jalan itu adalah hal terakhir yang sempat kami perhatikan. "Pah awas ada kebo di depan," Emak memperingatkan Bapak. Bapak akan dengan perlahan mengemudikan mobil, beringsut-ingsut melewati si kebo tambun yang bokongnya sedang parkir di jalan.
" Kayaknya jalan di depan ada yang ambruk tuh," tunjuk emak ke jalan di depan kami yang bagian pinggirnya tampak rapuh dan siap runtuh ke sawah dengan ketar ketir. "Tenang, kalau toh sampai mobilnya jeblos ke sawah kan ada kebo itu tadi yang bisa kita suruh narik," jawab Bapak saya dengan gaya santai. Dengan sangat tidak terburu-buru, dengan kecepatan yang akan membuat seekor siput pincangpun bisa merasa bangga akan dirinya, mobil Chevrolet cokelat kami akan melalui jalan yang bagian pinggirnya ambles ke selokan alam di sampingnya.
Meskipun terletak di pusat pulau Jawa alias Jawa Tengah, meskipun saat itu VOC sudah angkat kaki dari NKRI dan digantikan oleh IMF, desa Simbah sepertinya terlupakan oleh deru mesin pembangunan, mungkin diakibatkan lupa menyogok DPRDnya. Lima kilometer terakhir menuju rumah Simbah, jalannya masih berupa jalan tanah. Yang lebarnya hanya pas-pasan untuk dilewati satu mobil saja. Yang kekerasan tanahnya hanya setingkat diatas kekerasan lumpur sawah. Yang tingkat kehalusan permukaan tanahnya bisa membuat permukaan kawah bulan bak sehalus sutera. Benar-benar jalan yang hanya diciptakan untuk para pengemudi handal dengan mobil jip off road yang perkasa, atau ya si kebo itu tadi, yang bisa dengan lincah bermanuver memutar bokong ke kanan dan ke kiri. Yang jelas, jalan ini tidak tepat bagi mobil rongsokan tanpa power steering yang penuh berisi bantal guling dan panci, dengan empat orang di dalamnya yang tanpa putus memohon kemurahan dan bantuan Dewa Petir agar selamat.
Oya, kalau jalannya memang separah dan sesempit itu, gimana dong kalau berpapasan dengan mobil lain? Ini satu lagi yang membuat saya senang dengan acara mudik. Meskipun seperti sudah saya utarakan, bahwa mobil saya itu lebih dekat hubungan kekerabatannya dengan besi tua dan mengemudikannya membuat lengan Bapak saya berotot akibat ketiadaan power steering, tapi mobil kami itu sudah termasuk angkutan terkeren yang memasuki jalanan desa Tlingsing di masa itu. Biasanya, kami akan bertemu bapak petani yang sedang mengangkut jerami atau ibu petani diatas sepeda kumbangnya, dan saat mereka melihat mobil kami melintas, mereka akan melambai-lambaikan tangan ke arah kami. Bahkan, anak-anak kecil akan berlari-lari mengikuti mobil kami sambil berseru-seru "Onok montor.. onok montor" (ada mobil, ada mobil). Wah, meskipun di Jogja keluarga kami termasuk kelas menengah mendelosor, tapi saat itu rasanya kami seperti keluarga kerajaan Inggris yang sedang mengunjungi rakyatnya. Jadi intinya, kami tidak perlu takut berpapasan dengan mobil lain di jalan itu, karena peluangnya lebih kecil dari ukuran otaknya Okhi.
Setelah beberapa kali melewati jalan yang setengah longsor, mengantri dengan sabar di belakang segerombolan itik yang megal megol dengan gemulai, dan membunyikan klakson untuk mengusir para embek yang memilih berjemur di tengah jalan, sampailah kami ke rumah Simbah.
Begitu mobil kami memasuki halaman rumah Simbah dengan selamat, rasanya separuh beban kehidupan lenyaplah sudah (separuhnya lagi disimpan untuk perjalanan pulang nanti). Hmmm, bagaimana ya saya harus melukiskan rumah Simbah? Sacara garis besar rumah Simbah terbagi menjadi tiga bagian, pendapa luar, pendapa dalam dan dapur. Pendapa luarnya sebesar rumah saya ditambah rumah anjing saya ditambah dua rumah tetangga sebelah saya di Jogja. Pilar-pilarnya terbuat dari kayu jati tua, menopang atap yang menjulang paling tidak enam meter diatas permukaan tanah. Pendapa luar dan pendapa dalam dipisahkan oleh pintu jati yang dipenuhi berbagai ukiran rumit. Dapurnya Simbah mungkin sebesar lapangan futsal yang biasa disewa teman-teman SMA saya.
Wokeh, rasanya saya berhasil membuat gambaran yang menawan tentang rumah Simbah saya. Kaya ya Simbah saya? Inilah bukti bahwa kekayaan, sama dengan kecantikan, adalah relatif. Hanya jelek yang mutlak. Memang rumah Simbah terbuat dari kayu jati yang pasti luar biasa mahal untuk rumah jaman sekarang yang dibangun dengan kayu dari pohon jambu air, tapi lantai rumah Simbah adalah tanah (terakhir-terakhir sih ada kemajuan, lantainya disemen :)). Saya selalu menggerutu kalau disuruh menyapu lantai tanah ini. Lha namanya tanah ya pasti kotor, gimana juga caranya nyapu?
Di pendapa depan, selain digunakan selayaknya untuk menerima tamu, juga dimanfaatkan untuk menyimpan kayu bakar, dan hasil panen. Kalau lebaran bersamaan waktunya dengan panen padi, maka pendapa ini akan dipenuhi gabah. Saya paling sebal kalau ini terjadi, gatelnya itu lhooo. Terakhir saya ke Tlingsing, Lebaran jatuh disaat musim panen kedelai. Itu lebaran terhoror yang pernah saya rasakan. Halaman semua orang di desa Simbah dipenuhi dengan kedelai yang dijemur. Meskipun kedelai rebus itu enak, tapi ulat kedelai tetaplah menjijikkan.Untuk mencapai rumah Pakde yang ingin saya kunjungi, saya harus melintasi timbunan kedelai yang tersebar di penjuru halaman rumah mereka yang seluas lapangan sepakbola, yang dipenuhi ulat kedelai. Yaiks. Dan saat akhirnya selamat masuk ke dalam rumah, ternyata saya seperti lolos dari mulut buaya masuk ke bokong kudanil. Ulat-ulat jahanam itu juga merayapi lantai dan tembok rumah, bahkan kursi tamu tempat I supposed to put my butt. Enough is enough. Saya langsung angkat kaki ambil langkah seribu kembali ke mobil saya, mendekam di dalam mobil sambil tiada hentinya menyumpahi si ulat pink ginuk-ginuk yang menghalangi saya menyantap tape ketan dan teh nasgitel kesukaan saya (terakhirnya, Okhi Oktanio datang ikut menemani saya di mobil, tapi tanpa membawa teh dan si tape, dodol banget). Kok Bude saya nggak menjadi gila ya melihat rumahnya diinvasi makhluk hina tak bertulang belakang itu? It was the result of excesive uncontrollable pesticide misuse. Ledakan populasi ulat yang kebal pestisida. Mungkin kalau Superman disemprot pestisida lama-lama dia bisa kebal terhadap batu krypton.
Oya, saat baru pertama sampai di rumah Simbah, seperti layaknya tamu, ya kami harus sowan dulu ke Simbah. Kadang saat kami datang Simbah sedang duduk-duduk santai di teras depan. Lain waktu, simbah sedang bertapa di pendapa dalam. Simbah Tlingsing, sekilas pandang, berpenampilan seperti layaknya seorang nenek di desa. Pakai kebaya dan kain, dengan rambut panjangnya yang sudah beruban dan menipis dikonde di belakang. Saat melihat kami datang, matanya akan mulai berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. Lalu Simbah akan menyambut dan mencium dan merangkul kami. Senang juga rasanya melihat ada seseorang yang senang akan kehadiran saya, sementara seisi dunia lainnya mengharap saya tidak pernah dilahirkan. Oya, Simbah cowok sudah meninggal duluuu banget, di tahun yang sama setelah saya dilahirkan. Mungkin akibat terlalu bahagia melihat cucunya yang jelita ini.
Nah, satu ritual yang harus dilakukan saat baru datang adalah duduk di samping Simbah dan mendengarkan cerita dan petuahnya. Masalahnya adalah Simbah memakai bahasa Jawa, sementara saya hanya mengerti bahasa Jerman. Repot kan. Pokoknya, triknya adalah menganggukkan kepala dan tersenyum/ nyengir sambil sesekali mengatakan "Inggih Mbahhhh."
Namanya cucu, memang sepertinya ditakdirkan kurang ajar. Jadi ritual yang seharusnya mengharukan ini kami anggap menggelikan dan bahkan kadang membosankan (kalau pas sial Simbah lagi ingin berpanjang lebar bercerita). Makanya, trik saya adalah langsung menyerobot untuk 'sungkem' pertama, dan saat waktunya saya rasa cukup (saya hitung sampai 60 detik), saya akan memberi bahasa isyarat plus bahasa jawa amburadul bahwa ada cucunya yang lain yang antri, yaitu adik saya yang bodoh. Jadilah dia yang mendapat jatah ceramah paling panjang. Kalau kami datang sebelum sepupu-sepupu kami yang lain, maka nantinya saya akan mendapat kesempatan cekikikan saat melihat Nana Juminem yang baru saja datang mendapatkan giliran. Melihat wajahnya yang dengan patuh mengangguk-angguk dan berkata Inggih Mbah untuk menjalankan kewajibannya itu sangatlah entertaining.
Papa saya itu 10 bersaudara, dan dia anak terakhir. Gile bener, gimana nggak penuh dunia ini kalau satu pasangan aja beranak 10. Dari 10 anak ini, separuhnya tinggal di daerah Tlingsing juga, sedang sisanya tinggal di Jogja dan Jakarta. Jadinya, saat lebaran, akan ada paling tidak 4 keluarga yang menginap di rumah Simbah. Nah, meskipun rumah simbah itu besar sekali, tapi anehnya tidak ada kamar-kamar. Jadi ya kami semua akan tumplek blek di pendapa dalam. Jadilah tempat tidur di pojok dekat pintu dikuasai keluarga Pakde Tikno, lantai bawah akan digelari kasur untuk tidur keluarga saya dan Pakde Giarto. Sebetulnya ada sih tempat tidur Simbah yang besar dan hanya dipakai Simbah sendirian. Tapi tentu saja tidak ada dari cucunya yang bersedia berbaring bersebelahan dengan Simbah.
Dulu menurut cerita Papa, ya semua anaknya Simbah plus Simbahnya akan bertumpuk-tumpuk tidur disitu. Saya bersyukur saya memiliki kamar sendiri, meskipun kecil ala kandang bebek. Saya benci harus tidur beramai-ramai. Hari-hari ini saja saya sering menatap Sera yang lagi tidur dengan sebal. Ni anak kenapa tidurnya harus malang melintang sih, bikin kasur jadi penuh, bikin emak bapaknya harus menekuk kaki dan tidur dengan posisi aneh. "Kapan sih dia bisa kita lempar biar tidur di kamarnya sendiri?" gerutu saya ke Okhi. "Halah, nanti paling kamu kangen kalau dia udah nggak mau tidur sama kita lagi," jawab Okhi santai.
Oya, Simbah tidak pernah merasakan penderitaan ikut antri berkilo-kilo untuk mendapatkan minyak tanah atau kekhawatiran tabung gasnya mbleduk. Yup, Simbah mempercayakan sumber energinya pada kayu bakar. Jadi, dapur Simbah diisi oleh tungku-tungku untuk memasak, dengan tumpukan kayu bakar siap pakai. Itu alasannya kami membawa panci kami sendiri, karena alat masaknya Simbah, dilihat dari penampakannya yang item, gigantic dan menebarkan aura suram sepertinya pernah dipakai memasak buaya di masa perang diponegoro. Terus terang, saya senang sekali dengan kegiatan memasak ini. Rasanya asyik sekali bila saya diberi tugas menjaga api agar tetap menyala, dan kemudian menambahkan ranting-ranting ke dalam tungku. Bunga api yang kemerahan memercik ke segala penjuru, dan asap mengepul-ngepul. Romantis kan? Sayangnya emak saya tidak bisa merasakan kegembiraan ini. Entah kenapa dia tampak tidak terkesan oleh tungku ajaibnya Simbah. Mungkin karena badan, baju dan rambut kami semua akan berbau asap. Mungkin juga karena panci bagusnya jadi gosong semua pantatnya. Mungkin juga karena tugas sesederhana memasak air membutuhkan usaha luar biasa, dari mulai mengambil kayu, menyusunnya di tungku (itu tugasnya bapak saya) dan mencoba menyalakan apinya.
Nah, kalau dapurnya sudah seasyik itu, apalagi kamar mandi dan toiletnya deh. Kami tidak mandi di kamar mandi berkeramik biru membosankan ala rumah kota. Nggak level. Kami mandi di pinggir sumur besar berair jernih, yang bagian dindingnya berlumut hijau cerah. Menyenangkan sih saat saya masih berumur 7 tahun, tapi saat saya sudah lebih dewasa, ya jadi menyebalkan. Masalahnya ni sumur hanya dibatasi tembok setinggi pinggang, dan terletak di tengah kebon belakang. Nah, di bagian kanan sumur adalah jalan desa, yang meskipun sepi tapi kan ya ada saja orang atau sepeda atau kebo yang melintas. Malu dong.... Belum lagi kalau ada sepupu saya yang lain atau seorang Pakde memutuskan berjalan-jalan ke kebon belakang disaat saya sedang sibuk (pura-pura) menyabuni punggung saya. Nah lo, kacau deh urusan.
Kalau kamar mandinya sudah asoy, lalu bagaimana toiletnya? Jelas geboy dong. Toilet terletak 6 meter disamping sumur. Satu ruangan kecil dengan lubang di tengahnya. Saya punya perasaan ada kalajengking atau ular yang siap keluar dari lubang kecil gelap itu setiap saat. Akibatnya, saya selalu menahan diri untuk ke toilet sejarang mungkin. Akibatnya, saya selalu menderita sembelit sepulangnya dari rumah Simbah. Biasanya, sebelum masuk ke toilet ini, Emak yang selalu kami suruh maju duluan untuk memeriksa keamanan dan kebersihannya. Jadi kalau ada ular, biar Emak saja yang digigit duluan, hehehe.
Rumah Simbah dan desanya memang asyik. Tapi lebih asyik lagi kegiatan yang saya lakukan bersama sepupu-sepupu saya. Menjerit-jerit di tengah sawah yang ternyata dipenuhi ulat bulu, sowan ke rumah Bude saya yang jadi lurah dan minta rujak dengan kedondong termanis di dunia, jualan keris, mengemis uang fitrah, naik ke bukit gersang untuk membeli bakso (ngapain juga harus siang bolong naik bukit demi beli bakso, mending juga beli di pinggir desa) dan tentunya melihat takbiran keliling.
Tapi karena saya lagi bosan menulis, plus setrikaan lagi menumpuk, ceritanya saya lanjut minggu depan saja deh. Ciao. Oya, adakah yang memiliki desa seunik desa Simbah saya?
No comments:
Post a Comment