Hidup Bersama adalah untuk tidak membesar-besarkan hal sepele. Hal sepele seperti tanggal ulang tahun pernikahan atau tanggal ulang tahun pasangan kita. Saya selalu lupa, sementara Okhi selalu ingat tanggal-tanggal itu. I'm not a number person (saya bahkan sering lupa tanggal ulang tahun saya sendir dan sampai kiamat saya tidak akan bisa menghafal nomer HP). Apa susahnya sih orang bilang "Hei, aku ultah lho hari ini, kasih kado dong!"
Hidup Bersama adalah untuk menyepelekan hal-hal besar. Seperti sofa yang belum terbeli sampai saat ini, sehingga kami harus duduk di lantai all the time. Atau mobil yang masih harus dicicil selama belasan tahun kedepan. Atau rumah yang masih ngontrak entah sampai kapan.
Hidup Bersama adalah kerelaan mengijinkan pasangan meraih mimpinya. Saat suatu malam Okhi melihat berita di Detik dan berkata "Aku iri sama Sheila Marcia. Dia lho ciuman sama banyak cowok," meskipun hati ini kaget dan tak menyangka, pedih tak karuan, saya menelan kepahitan dan berkata "Ya sudah lho sayang, kalau kamu memang pingin ciuman sama cowok-cowok lain ya silahkan..."
Hidup Bersama adalah keterkejutan saat menerima hadiah tak terduga. Saat saya mengharapkan sebuket kembang di hari Valentine, atau seuntai kalung berlian di hari ulang tahun saya, maka saya tahu hal itu hanya akan terjadi di kisah Cinderella. Tetapi disuatu pagi yang dingin menggigil, disaat saya bangun dari kehangatan selimut tempat saya melungker dengan kepala pening akibat demam, dan tak terduga saya menemukan onggokan coklat serupa muntahan kucing di atas piring di dapur, saya tahu ada seseorang yang mencintai saya. Tak berapa lama, si pelaku mengirimkan chat dari kantornya "Tuh aku sisain mi untuk sarapan. Cepet sembuh ya."
Hidup Bersama adalah untuk menjadi saksi kenaifan pasangan saya. Saat untuk kesekian kalinya saya mengganti baju yang saya anggap tidak sesuai dengan sepatu cokelat saya, hanya untuk menghadiri kebaktian di gereja, dengan heran Okhi berkata "Di gereja lho ya cuman ketemu Pak Pendeta sama cowok yang pada udah kawin, emang mereka peduli apa sama bajumu?" Keluh... kapan sih para pria mengerti, para wanita never dress to impress the guys. We dress to impress other women. Kalau mau menawan hati para pria, ya nggak usah repot-repot milih baju. Nggak usah pakai baju sekalian, beres deh urusan.
Hidup Bersama adalah rangkaian upacara menerima komplain dari para wanita lain, yang memohon saya untuk mengendalikan suami saya yang kampungan. Saya sudah tidak heran menerima permohonan dari Putri "Meg... suamimu lho nggilani!!!"
Hidup Bersama adalah tahap pembelajaran yang berkesinambungan bahwa pasangan saya punya cara tersendiri untuk membanggakan kemampuan saya. Saat saya mengundang teman-teman SMA untuk liburan ke rumah kami, maka Okhi menulis email :
lek mrene ta suguhi panganan paling enak sak neroko pek
masakan ne megaaaa
dijamin modar
Jangan minta saya menerjemahkan ke bahasa Indonesia.
Hidup Bersama adalah untuk saling melemparkan beban. Seumur pernikahan kami, saya bisa menghitung berapa kali saya harus mengisi bensin mobil. Saya tidak suka mengisi bensin, karena saya malas menghirup bau bensin, jadi Okhi yang akan selalu mengisikan bensin mobil saya. Dan Okhi bisa menghitung seberapa sering dia menyeterika kaosnya. Saya yang selalu menyeterika karena Okhi benci menyeterika yang membuat tubuh berlemaknya belepotan keringat.
Hidup Bersama adalah untuk mempunyai mimpi-mimpi indah bersama. Mimpi indah untuk jalan-jalan ke Machu Pichu, ikut buggy jumping di New Zealand, atau punya rumah di daerah Toorak (daerah ala Pondok Indah di Jakarta). Dan sebaliknya, saling berkeluh kesah bersama, saat ternyata jalan-jalan terjauh yang terjangkau kantong hanyalah ke kebun binatang rungsep yang penuh ranjau kangguru, dan hanya mampu menyewa rumah keong di pinggiran terjauh Melbourne.
Hidup Bersama adalah seni menggabungkan daya tarik kewanitaan dan jurus tembak langsung. Saat disuatu malam saya mengeluh "Aku kok capek banget ya, lemes banget rasanya." Dan respon yang saya dapat adalah "Ya tidur sana lho,"tanpa si empunya suara mengalihkan pandangan dari laptop. Sesudah beberapa variasi kalimat untuk berusaha menunjukkan saya sedang ingin dipeluk dan disayang tidak menghasilkan respon yang saya harapkan, saya akan berkacak pinggang dan bersabda "Move your butt, come here and give me a hug! Now!" Okhi akan bangkit sambil menggerutu "Mau minta peluk aja kok pake acara muter2. Ngomong langsung kenapa sih." Well, kalau seorang pria berharap mendapat pasangan yang nggak muter2 ngomongnya, dia lebih baik mencari pria lain untuk dinikahi.
Hidup Bersama adalah untuk mau menerima kritik dan mensyukuri pujian. At least dua kali seminggu Okhi akan mengucapkan mantra wajibnya "Kamu nggak bisa ganti muka ta?" atau "Mukamu tu kayak ikan lele yah". Saya hanya akan meniru gaya ikan lele yang tidak punya kuping, pura-pura tidak mendengar celaannya. Tapi ada saatnya di suatu sore, saat kami berdiri di depan cermin kamar mandi dan sikat gigi bareng, dengan khilaf Okhi akan mengagumi bayangan saya di cermin dan memuji "Kamu tu seksi banget yah." Saya hanya akan meniru Megan Fox dan berpura-pura tidak peduli karena sadar saya memang seksi sekali.
Hidup Bersama adalah berbagi kasih untuk Serafim. Saya akan langsung meraih handphone dan menghubungi Okhi untuk dengan bangga melaporkan bahwa hari ini untuk pertama kalinya Serafim mau mengembalikan barang ke kotaknya di kelas bermainnya. Juga menelponnya untuk mengomel saat Serafim memutuskan bahwa kelas renang akan lebih menarik bila dirubah menjadi kelas adu jerit.
Hidup Bersama adalah komitmen yang saya ambil setelah saya melalui dua pertanyaan:
1. Kenapa saya mencintainya? Jawabannya adalah I DON'T KNOW. How the hell should I know the answer? Saya hanya bangun di suatu pagi dan tiba-tiba memutuskan saya jatuh cinta padanya. Entah bagaimana bentuknya yang semula seperti badak bengkak tiba-tiba berubah menjadi tetap seperti badak bengkak sih, hanya di mata saya menjadi badak bengkak yang tampan. Entah mata saya tiba-tiba kena katarak atau ada anak panah Cupid yang menclok di punggung saya.
2. Kenapa saya mau menghabiskan hidup dengannya? Jawabannya panjang lebar, butuh 2 hari 2 malam untuk menuliskannya. Yang utama, karena dia memutuskan dia juga mencintai saya sama besarnya dengan cinta saya padanya. Dan karena dia adalah pria yang layak untuk dicintai. Oh ya, hampir lupa, juga karena tidak ada pria lain yang mau dengan saya.
After eleven years together, I can't wait to face eleven multiply seven years ahead to spend the life, and the bill with him. My love for him, of course is far from perfect, but it is bigger than life. Happy anniversary babe....
Hanya berpegang pada keyakinan "Semua diciptakan Tuhan dengan sempurna" untuk mencegah bunuh diri setiap habis berkaca
Monday 27 June 2011
Monday 20 June 2011
My Monday Note -- Kala Akal Budi Saya Mulai Berkabut
Bila saya diminta mengenang masa sekolah saya dulu, saya akan mengenang betapa saya menunggu-nunggu datangnya mobil Milo atau Ovaltine yang bertandang ke TK saya. Dan saya, bersama teman-teman TK saya, dalam seragam warna blewah kami, akan dengan tertib mengantri demi segelas Milo yang lezat dan mewah. Atau saya akan mengingat saat jam bermain, dimana saya akan bingung memutuskan apakah saya ingin memanjat dan berayun diluar atau berpura-pura berkemah di dalam tenda.
Disaat saya bersekolah di Sekolah Dasar, lebih banyak lagi pengalaman yang saya ingat. Saya ingat lapangan tempat kami mengadakan upacara dan menghormat bendera, sembari menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa huru-hara seperti yang terjadi sekarang. Saya ingat di lapangan yang sama, dimana saya bersama beberapa teman saya Rio, Debi dan Hadi dihukum berlari-lari bersama-sama atau memunguti dedaunan yang jatuh dari dua pohon raksasa yang tumbuh subur di lapangan itu karena kenakalan yang kami lakukan.
Seperti lazimnya semua murid SD yang normal, saya menghabiskan waktu di kelas dengan belajar. Mendengarkan keterangan dari guru-guru SD saya, membaca buku diktat, mencoba mengerjakan soal-soal latihan dan berusaha mengingat manakah tumbuhan yang termasuk dikotil dan mana yang termasuk monokotil. Dan seperti seorang murid SD yang normal, saya takut menghadapi ujian, saya deg-deg an saat disuruh maju ke papan tulis untuk membaca peta buta, dan saya mengeluh bila PR hari ini sangatlah banyak. Saya belajar untuk mengerti bahwa hidup adalah sebuah perjuangan, dimana saat menjelang ulangan umum saya harus belajar keras, dimana setiap malam saya harus mengerjakan PR, dan menghafal nama-nama ibukota provinsi untuk kuis keesokan harinya.
Setiap empat bulan sekali, saya akan menerima rapor, yang merupakan laporan hasil pembelajaran saya selama 4 bulan itu. Nilai rapor didapat dari akumulasi ujian harian dan ulangan umum. Dari sini saya belajar bahwa hidup adalah persaingan. Saya belajar bahwa nilai 9 untuk matematika mendatangkan kepuasan lebih dari nilai 6, dan bahwa mendapat ranking satu itu sangatlah membanggakan karena berarti saya sudah mengalahkan puluhan anak lainnya di kelas saya, dan saya sudah mengalahkan kemalasan saya sendiri. Saya belajar bahwa terkadang saya harus melakukan hal yang tidak saya sukai seperti menggambar, karena itu adalah suatu keharusan. Dan hidup tidaklah selalu sesuai kemauan saya. Saya belajar bahwa pelajaran, suka tidak suka, meskipun saya tidak mengerti apa kegunaannya untuk hidup saya kelak, adalah suatu hal yang penting. Saya belajar bahwa lulus dan naik kelas, adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Itu adalah target yang harus saya capai.
Dan saat saya duduk di kelas enam SD, saya belajar kerasnya tempaan kehidupan. Pergi ke bimbingan belajar dengan angkot di tengah guyuran hujan sore hari, meskipun dengan hati malas, karena saya harus mempersiapkan diri untuk Ebtanas, ujian kelulusan yang harus saya tempuh agar bisa melanjutkan ke SMP. Saya belajar bahwa dunia terkadang memang menilai saya semata dari hasil yang saya capai, dari nilai yang tercetak di ijazah, tanpa mempedulikan jerih payah saya selama 6 tahun.
Tetapi, di sekolah yang sama, di SD yang sama, SD Tarakanita Yogyakarta, saya juga belajar bahwa buah yang bagus, hanya akan berarti bila dipetik dengan cara yang baik pula. Saya belajar bahwa guru menggambar saya Pak Hari, marah besar saat saya mengumpulkan gambar yang bagus, tetapi itu bukan hasil karya saya. Dan ia lebih menghargai gambar bayi saya yang lebih mirip dengan tumpukan pisang goreng di atas meja. Saya belajar pada saat Pak Widodo, dengan kepala botak dan kacamata burung hantunya, dengan suara keras memerintahkan saya untuk pindah ke bangku depan karena saya berusaha mencontek di suatu ujian matematika karena saya tidak belajar. Dan saya belajar, bahwa saya merasa lebih rendah dan malu saat saya dimarahi di depan semua teman saya karena mencontek dibandingkan akibat saya mendapat nilai 5.
Dan deretan gubug-gubug kantin di pinggir lapangan, dimana setiap hari Rabu saya dan seorang teman bertugas menjadi penjaga salah satu kios kantin tersebut. Saya belajar untuk melayani, belajar kejujuran untuk tidak mengambil kue apem yang menggoda mata, dan belajar akan tanggung jawab dan pengorbanan, karena harus merelakan jam istirahat saya tidak untuk berkejar-kejaran.
Namanya anak kecil, saya sering marah dan benci pada guru saya. Saya benci sekali pada Pak Widodo saat beliau mempermalukan saya dan membuat seluruh kelas tahu saya mencontek. Saya sebal sekali pada Pak Har saat dia menuduh gambar yang saya kumpulkan adalah hasil karya orang lain. Saya kesal pada Bu Tuti yang memaksa saya harus maju dan menyanyi disaat saya sungguh tidak ingin menyanyi. Dan Bu Tin yang memarahi saya habis-habisan hanya karena saya meninggalkan buku PR saya di rumah.
Saya punya banyak kenangan akan guru saya. Pak Pur guru kelas 5 saya, sabarnya luar biasa. Bu Trismi guru kelas 3 saya, setiap hari Selasa menyempatkan mendongeng untuk kami, selama satu jam membawa kami ke negeri khayalan tentang burung biru yang menyembuhkan seorang putri yang berpenyakit kulit. Pak Har guru kelas 6 saya, galaknya bukan main, salah sedikit saja maka saya harus memunguti daun di halaman. Karena saya benci menggambar, dan memang sama sekali tidak bisa menggambar, maka Pak Hari sang guru menggambar saya anggap pilih kasih, hanya mempedulikan anak-anak yang pintar menggambar.
Tidak semua guru saya mempunyai metode mengajar yang menyenangkan. Ada yang terlalu galak, ada yang terlalu pendiam. Ada yang bila berbicara selalu menggumam, serasa beliau lupa muridnya bukanlah Superman dengan pendengaran super, atau segerombolan anjing yang bisa mendengar suara subsonik. Ada guru yang saya sukai, dan ada yang bikin saya bete. Ada guru yang tingkat disiplinnya setara anggota Kopasus, tetapi ada juga yang memiliki kadar 'maklum' tinggi terhadap anak-anak kecil yang tertinggal buku IPA nya.
Guru-guru SD saya menghadapi tantangan yang berbeda. Bu Tuti guru kelas satu saya, bersusah payah mengajar para lulusan TK yang sama sekali belum bisa baca tulis hitung, tidak seperti anak TK sekarang yang sudah siap masuk Perguruan Tinggi. Pak Har guru kelas enam saya, harus bersusah payah mempersiapkan muridnya untuk mengikuti Ebtanas. Semua guru SD saya, harus mengajar murid yang berbeda-beda, dari yang nyaris jenius hingga yang nyaris idiot. Dari yang sebaik dan setenang patung Pancoran, hingga yang mengalahkan gasing saat berlari berputar-putar menyeruduk kanan kiri.
Saya mungkin mendapatkan level pembelajaran yang berbeda-beda antar guru, karena ada yang lebih sesuai metode mengajarnya bagi saya dibanding guru yang lain. Tetapi, walau berbeda cara mengajarnya, walau berbeda bentuk fisiknya, walau berbeda tantangan yang dihadapinya, semua guru saya memiliki satu benang merah. Mencontek tidak ada dalam kamus mereka.
Saat ulangan umum, maka guru-guru saya berubah menjadi anjing doberman. Berani menoleh sedikit saja, saya akan menerima gonggongan. Dan sebelum ujian dimulai, dari speaker di ujung ruangan akan terdengar suara kepala sekolah saya, mengajak anak-anak berdoa. Doa sederhana yang meminta Tuhan untuk membantu anak-anak terkasih dalam mengerjakan ujian dengan baik, dengan tenang, tidak gelisah dan bisa mengingat yang sudah mereka pelajari. Doa semoga kesehatan kami dijaga selama masa itu, dan supaya hati kami dijaga dari keinginan berbuat tidak jujur.
Dari mereka saya belajar, bahwa tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Semua harus diperjuangkan. Semua harus melalui proses panjang dan berliku, dan membutuhkan pengorbanan. Tapi yang tak kalah pentingnya, kejujuran harus selalu menjadi tulang punggungnya. Sesuatu yang tidak bisa ditawar.
Dan kalau nanti tiba saatnya giliran saya menjadi pendidik bagi Serafim, saya akan mengarahkan pandangan saya pada para guru SD saya, akan keteguhan mereka pada arti penting sebuah kejujuran.
Dan seorang guru SD, meskipun mungkin gajinya lebih kecil dibanding profesor perguruan tinggi, mempunyai tanggung jawab yang jauh lebih besar di mata saya. Dia tidak hanya menjadi seorang pengajar, tetapi yang paling utama, ia adalah seorang pendidik. Karena untuk anak-anak berumur 10 tahun, mereka akan melupakan pelajaran IPS dan IPA yang mereka dapatkan dalam sekejap, tapi nilai moral yang tertanam di masa kecil itu yang akan mereka ingat sampai mati. Guru SD, lebih dari guru lainnya, mempunyai peranan besar supaya anak didik mereka tidak menjadi pelarian ke Singapura menghindari KPK, atau menjadi buronan Interpol di 188 negara karena kasus fraud.
Apabila tiba saatnya Serafim masuk sekolah dasar nanti, mungkin jaman sudah berubah. Mungkin saya akan menemukan fakta semua teman sekelasnya yang lainpun mencontek, dan bahkan guru dan sekolahnya membuat kegiatan mencontek menjadi sesuatu yang sistematis. Pada saat itu, mungkin saya melihat sebuah sistem pendidikan sudah berganti dari jaman saya kecil dulu, dimana nilai Ebtanas yang harus diraih anak saya harus setinggi langit. Nilai Ebtanas yang kurang baik, berarti tertutupnya masa depan buah hati saya. Sebuah sistem yang mungkin jauh dari sempurna, dan membuat guru, murid dan orang tua panik. Dan mungkin saat itu saya toh melihat semua pejabat dan anggota DPR berlomba-lomba korupsi. Kenapa juga saya harus susah payah mendidik Serafim menjadi satu-satunya yang mengerjakan kewajibannya dengan jujur. Saat itu, mungkin akal budi saya akan mulai berkabut.
Pada saat itu, saya akan mengarahkan pandangan pada Nyonya Siami. Kalau dia yang hanya seorang penjahit, kalau dia yang saya yakin kondisi ekonominya jauh dibawah saya, kalau dia yang saya yakin tidak memiliki tingkat pendidikan setinggi saya, kalau dia yang hanya tinggal di desa Tandes, kalau seorang Nyonya Siami berani mengajarkan bahwa kejujuran tidak bisa ditukar dengan apapun, dan kejujuran haruslah selalu diperjuangkan, maka saya tidak punya alasan untuk tidak mengajarkan hal yang sama kepada Sera. Sesulit apapun kehidupan, kejujuran haruslah menjadi dasarnya.
Melanggar peraturan adalah satu hal. Dan saya mungkin dalam hati akan bisa 'maklum' saat Sera mencontek PR temannya, namanya juga manusia. Tapi menghalalkan pelanggaran dan bahkan menganjurkannya, is completely a different level.
Keberhasilan akan bisa membuat kita bangga dan mendongakkan kepala. Tetapi bisikan hati kecil yang mengatakan kita sudah berhasil menjaga kejujuran adalah rahasia untuk bisa tidur nyenyak di malam hari.
Ada beberapa orang lain dalam hidup saya yang memberi kesan bagi saya dalam hal kejujuran. Salah satunya si Enjos, yang saat saya berkata bahwa toh yang lain juga mencontek, di masa-masa paling bengal di bangku SMA, dia berkata kenapa harus iri pada anak lain yang mencontek. Kita anak Tuhan, dan Tuhan tahu semua dosa yang kita lakukan di bawah langit birunya (walau saat itu saya hanya nyengir dan tetap mencontek di pelajaran akuntansi, soalnya hari itu toh langit lagi item mendung).
Disaat saya bersekolah di Sekolah Dasar, lebih banyak lagi pengalaman yang saya ingat. Saya ingat lapangan tempat kami mengadakan upacara dan menghormat bendera, sembari menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa huru-hara seperti yang terjadi sekarang. Saya ingat di lapangan yang sama, dimana saya bersama beberapa teman saya Rio, Debi dan Hadi dihukum berlari-lari bersama-sama atau memunguti dedaunan yang jatuh dari dua pohon raksasa yang tumbuh subur di lapangan itu karena kenakalan yang kami lakukan.
Seperti lazimnya semua murid SD yang normal, saya menghabiskan waktu di kelas dengan belajar. Mendengarkan keterangan dari guru-guru SD saya, membaca buku diktat, mencoba mengerjakan soal-soal latihan dan berusaha mengingat manakah tumbuhan yang termasuk dikotil dan mana yang termasuk monokotil. Dan seperti seorang murid SD yang normal, saya takut menghadapi ujian, saya deg-deg an saat disuruh maju ke papan tulis untuk membaca peta buta, dan saya mengeluh bila PR hari ini sangatlah banyak. Saya belajar untuk mengerti bahwa hidup adalah sebuah perjuangan, dimana saat menjelang ulangan umum saya harus belajar keras, dimana setiap malam saya harus mengerjakan PR, dan menghafal nama-nama ibukota provinsi untuk kuis keesokan harinya.
Setiap empat bulan sekali, saya akan menerima rapor, yang merupakan laporan hasil pembelajaran saya selama 4 bulan itu. Nilai rapor didapat dari akumulasi ujian harian dan ulangan umum. Dari sini saya belajar bahwa hidup adalah persaingan. Saya belajar bahwa nilai 9 untuk matematika mendatangkan kepuasan lebih dari nilai 6, dan bahwa mendapat ranking satu itu sangatlah membanggakan karena berarti saya sudah mengalahkan puluhan anak lainnya di kelas saya, dan saya sudah mengalahkan kemalasan saya sendiri. Saya belajar bahwa terkadang saya harus melakukan hal yang tidak saya sukai seperti menggambar, karena itu adalah suatu keharusan. Dan hidup tidaklah selalu sesuai kemauan saya. Saya belajar bahwa pelajaran, suka tidak suka, meskipun saya tidak mengerti apa kegunaannya untuk hidup saya kelak, adalah suatu hal yang penting. Saya belajar bahwa lulus dan naik kelas, adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Itu adalah target yang harus saya capai.
Dan saat saya duduk di kelas enam SD, saya belajar kerasnya tempaan kehidupan. Pergi ke bimbingan belajar dengan angkot di tengah guyuran hujan sore hari, meskipun dengan hati malas, karena saya harus mempersiapkan diri untuk Ebtanas, ujian kelulusan yang harus saya tempuh agar bisa melanjutkan ke SMP. Saya belajar bahwa dunia terkadang memang menilai saya semata dari hasil yang saya capai, dari nilai yang tercetak di ijazah, tanpa mempedulikan jerih payah saya selama 6 tahun.
Tetapi, di sekolah yang sama, di SD yang sama, SD Tarakanita Yogyakarta, saya juga belajar bahwa buah yang bagus, hanya akan berarti bila dipetik dengan cara yang baik pula. Saya belajar bahwa guru menggambar saya Pak Hari, marah besar saat saya mengumpulkan gambar yang bagus, tetapi itu bukan hasil karya saya. Dan ia lebih menghargai gambar bayi saya yang lebih mirip dengan tumpukan pisang goreng di atas meja. Saya belajar pada saat Pak Widodo, dengan kepala botak dan kacamata burung hantunya, dengan suara keras memerintahkan saya untuk pindah ke bangku depan karena saya berusaha mencontek di suatu ujian matematika karena saya tidak belajar. Dan saya belajar, bahwa saya merasa lebih rendah dan malu saat saya dimarahi di depan semua teman saya karena mencontek dibandingkan akibat saya mendapat nilai 5.
Dan deretan gubug-gubug kantin di pinggir lapangan, dimana setiap hari Rabu saya dan seorang teman bertugas menjadi penjaga salah satu kios kantin tersebut. Saya belajar untuk melayani, belajar kejujuran untuk tidak mengambil kue apem yang menggoda mata, dan belajar akan tanggung jawab dan pengorbanan, karena harus merelakan jam istirahat saya tidak untuk berkejar-kejaran.
Namanya anak kecil, saya sering marah dan benci pada guru saya. Saya benci sekali pada Pak Widodo saat beliau mempermalukan saya dan membuat seluruh kelas tahu saya mencontek. Saya sebal sekali pada Pak Har saat dia menuduh gambar yang saya kumpulkan adalah hasil karya orang lain. Saya kesal pada Bu Tuti yang memaksa saya harus maju dan menyanyi disaat saya sungguh tidak ingin menyanyi. Dan Bu Tin yang memarahi saya habis-habisan hanya karena saya meninggalkan buku PR saya di rumah.
Saya punya banyak kenangan akan guru saya. Pak Pur guru kelas 5 saya, sabarnya luar biasa. Bu Trismi guru kelas 3 saya, setiap hari Selasa menyempatkan mendongeng untuk kami, selama satu jam membawa kami ke negeri khayalan tentang burung biru yang menyembuhkan seorang putri yang berpenyakit kulit. Pak Har guru kelas 6 saya, galaknya bukan main, salah sedikit saja maka saya harus memunguti daun di halaman. Karena saya benci menggambar, dan memang sama sekali tidak bisa menggambar, maka Pak Hari sang guru menggambar saya anggap pilih kasih, hanya mempedulikan anak-anak yang pintar menggambar.
Tidak semua guru saya mempunyai metode mengajar yang menyenangkan. Ada yang terlalu galak, ada yang terlalu pendiam. Ada yang bila berbicara selalu menggumam, serasa beliau lupa muridnya bukanlah Superman dengan pendengaran super, atau segerombolan anjing yang bisa mendengar suara subsonik. Ada guru yang saya sukai, dan ada yang bikin saya bete. Ada guru yang tingkat disiplinnya setara anggota Kopasus, tetapi ada juga yang memiliki kadar 'maklum' tinggi terhadap anak-anak kecil yang tertinggal buku IPA nya.
Guru-guru SD saya menghadapi tantangan yang berbeda. Bu Tuti guru kelas satu saya, bersusah payah mengajar para lulusan TK yang sama sekali belum bisa baca tulis hitung, tidak seperti anak TK sekarang yang sudah siap masuk Perguruan Tinggi. Pak Har guru kelas enam saya, harus bersusah payah mempersiapkan muridnya untuk mengikuti Ebtanas. Semua guru SD saya, harus mengajar murid yang berbeda-beda, dari yang nyaris jenius hingga yang nyaris idiot. Dari yang sebaik dan setenang patung Pancoran, hingga yang mengalahkan gasing saat berlari berputar-putar menyeruduk kanan kiri.
Saya mungkin mendapatkan level pembelajaran yang berbeda-beda antar guru, karena ada yang lebih sesuai metode mengajarnya bagi saya dibanding guru yang lain. Tetapi, walau berbeda cara mengajarnya, walau berbeda bentuk fisiknya, walau berbeda tantangan yang dihadapinya, semua guru saya memiliki satu benang merah. Mencontek tidak ada dalam kamus mereka.
Saat ulangan umum, maka guru-guru saya berubah menjadi anjing doberman. Berani menoleh sedikit saja, saya akan menerima gonggongan. Dan sebelum ujian dimulai, dari speaker di ujung ruangan akan terdengar suara kepala sekolah saya, mengajak anak-anak berdoa. Doa sederhana yang meminta Tuhan untuk membantu anak-anak terkasih dalam mengerjakan ujian dengan baik, dengan tenang, tidak gelisah dan bisa mengingat yang sudah mereka pelajari. Doa semoga kesehatan kami dijaga selama masa itu, dan supaya hati kami dijaga dari keinginan berbuat tidak jujur.
Dari mereka saya belajar, bahwa tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Semua harus diperjuangkan. Semua harus melalui proses panjang dan berliku, dan membutuhkan pengorbanan. Tapi yang tak kalah pentingnya, kejujuran harus selalu menjadi tulang punggungnya. Sesuatu yang tidak bisa ditawar.
Dan kalau nanti tiba saatnya giliran saya menjadi pendidik bagi Serafim, saya akan mengarahkan pandangan saya pada para guru SD saya, akan keteguhan mereka pada arti penting sebuah kejujuran.
Dan seorang guru SD, meskipun mungkin gajinya lebih kecil dibanding profesor perguruan tinggi, mempunyai tanggung jawab yang jauh lebih besar di mata saya. Dia tidak hanya menjadi seorang pengajar, tetapi yang paling utama, ia adalah seorang pendidik. Karena untuk anak-anak berumur 10 tahun, mereka akan melupakan pelajaran IPS dan IPA yang mereka dapatkan dalam sekejap, tapi nilai moral yang tertanam di masa kecil itu yang akan mereka ingat sampai mati. Guru SD, lebih dari guru lainnya, mempunyai peranan besar supaya anak didik mereka tidak menjadi pelarian ke Singapura menghindari KPK, atau menjadi buronan Interpol di 188 negara karena kasus fraud.
Apabila tiba saatnya Serafim masuk sekolah dasar nanti, mungkin jaman sudah berubah. Mungkin saya akan menemukan fakta semua teman sekelasnya yang lainpun mencontek, dan bahkan guru dan sekolahnya membuat kegiatan mencontek menjadi sesuatu yang sistematis. Pada saat itu, mungkin saya melihat sebuah sistem pendidikan sudah berganti dari jaman saya kecil dulu, dimana nilai Ebtanas yang harus diraih anak saya harus setinggi langit. Nilai Ebtanas yang kurang baik, berarti tertutupnya masa depan buah hati saya. Sebuah sistem yang mungkin jauh dari sempurna, dan membuat guru, murid dan orang tua panik. Dan mungkin saat itu saya toh melihat semua pejabat dan anggota DPR berlomba-lomba korupsi. Kenapa juga saya harus susah payah mendidik Serafim menjadi satu-satunya yang mengerjakan kewajibannya dengan jujur. Saat itu, mungkin akal budi saya akan mulai berkabut.
Pada saat itu, saya akan mengarahkan pandangan pada Nyonya Siami. Kalau dia yang hanya seorang penjahit, kalau dia yang saya yakin kondisi ekonominya jauh dibawah saya, kalau dia yang saya yakin tidak memiliki tingkat pendidikan setinggi saya, kalau dia yang hanya tinggal di desa Tandes, kalau seorang Nyonya Siami berani mengajarkan bahwa kejujuran tidak bisa ditukar dengan apapun, dan kejujuran haruslah selalu diperjuangkan, maka saya tidak punya alasan untuk tidak mengajarkan hal yang sama kepada Sera. Sesulit apapun kehidupan, kejujuran haruslah menjadi dasarnya.
Melanggar peraturan adalah satu hal. Dan saya mungkin dalam hati akan bisa 'maklum' saat Sera mencontek PR temannya, namanya juga manusia. Tapi menghalalkan pelanggaran dan bahkan menganjurkannya, is completely a different level.
Keberhasilan akan bisa membuat kita bangga dan mendongakkan kepala. Tetapi bisikan hati kecil yang mengatakan kita sudah berhasil menjaga kejujuran adalah rahasia untuk bisa tidur nyenyak di malam hari.
Ada beberapa orang lain dalam hidup saya yang memberi kesan bagi saya dalam hal kejujuran. Salah satunya si Enjos, yang saat saya berkata bahwa toh yang lain juga mencontek, di masa-masa paling bengal di bangku SMA, dia berkata kenapa harus iri pada anak lain yang mencontek. Kita anak Tuhan, dan Tuhan tahu semua dosa yang kita lakukan di bawah langit birunya (walau saat itu saya hanya nyengir dan tetap mencontek di pelajaran akuntansi, soalnya hari itu toh langit lagi item mendung).
Monday 13 June 2011
My Monday Note -- Confirm, Enggak, Confirm, Enggak, Tokek....
Bila ada notifikasi di pojok kiri atas layar FB kita, di siluet bayangan dua makhluk, berarti ada seseorang yang ingin menjadi teman kita. Tidak di dunia nyata, tapi di dunia maya. Dan tanggapan yang kita berikan ya nggak susah-susah amat. Kalau orangnya kita kenal, atau fotonya kayaknya caem, atau dia menyertakan message yang menjelaskan kenapa dia mau kenalan, biasanya dengan gampang kita klik tombol Confirm. Kalau orangnya enggak jelas asal-usul, bibit bebet bobotnya, atau dia masangnya foto telanjang dada (tapi kalau telanjang bawahnya masih dipertimbangkan), atau di kolom interestnya dia bilang suka Tarzan X, ya langsung saja pencet tombol Ignore dengan tegas.
Nah, yang membuat jari telunjuk saya terkatung-katung beberapa senti dari tombol Ignore atau Confirm, yang membuat saya termangu-mangu beberapa detik, sadar kelangsungan hidup dan pekerjaan saya akan tergantung dari pilihan yang saya ambil, adalah saat yang ingin berteman dengan saya: emak, bapak, mertua, bos, dan orang-orang lain yang saya cintai, tapi tidak pernah saya pertimbangkan sebagai seorang teman.
Sebuah artikel di mX (tabloid gratisan yang dibagikan di stasiun di Melbourne) sempat membahas masalah ini. Si penulis menceritakan dilema yang dia hadapi saat emaknya 'ingin jadi teman'. Nah lo, dua hari dua malam dia sibuk mikir-mikir. Menolak berteman, berarti cari masalah. Emaknya pasti protes, dan mungkin tersinggung, dan mungkin sakit hati. Menjadi teman, berarti mengijinkan sang emak mengintip ruang pribadinya, yang selama ini kalau bisa jangan sampai deh ketahuan. Saat akhirnya si penulis dengan enggan mengklik tombol Confirm untuk ibunda tercinta, beberapa hari kemudian emaknya syok berat, saat melihat foto di wall si anak yang menunjukkan adik laki-laki si penulis yang terbaring di tanah, masih dalam toga kelulusannya, tertutup muntahannya sendiri; mabuk berat sehabis pesta kelulusan. Sementara bagi si adik dan teman-temannya foto itu funny and hilarious, buat si emak, pastinya ngenes juga melihat si Golden Boy kok bentuknya kayak drunken homeless guy gitu. Padahal untuk anak muda bule di Australia, once in a while pasti pernah mabuk, not big deal for them.
Saya juga pernah mikir-mikir saat harus meng-approve permintaan emak saya. Bukan, saya sih enggak pernah mabuk, wong ya saya sudah bukan Abege dan sudah menderita rematik, tapi facebook saya kan isinya interaksi saya dengan teman-teman saya. Sama saja dengan yang saya bicarakan dengan teman disaat orang tua kami ada di samping kami("Katanya si Tono mau nikah bulan depan. Pacarnya masih SMA tapinya"), tentu berbeda dengan yang kami obrolkan saat orang tua kami berjarak 1000 kilometer jauhnya ("Buset si Tono, mau kawin sama anak playgroup. Dasar pedofil. Semoga ketahuan Komisi Perlindungan Anak").
Kalau sudah begini, saya salut pada seorang teman saya, sebut saja namanya Sokar. Dia tidak membedakan jenis pembicaraan walau ada orangtua yang hadir. Suatu hari, si Sokar menelpon ke rumah si Tolpen (keduanya berjenis kelamin laki-laki). Yang menerima telepon kebetulan bapaknya si Tolpen (yang suaranya mirip sekali dengan Tolpen).
Sokar : Bisa bicara dengan Tolpen?
Bapak : Dari siapa?
Sokar : Dari pacarnya ...(mengira yang menerima telpon ya si Tolpen sendiri)
Bapak : Kok pacarnya laki laki ?Sokar : Lha nggak tau ta ??? Tolpen itu hooomooo....
Bapak : Membisu selama beberapa menit (syok kali) dan kemudian langsung beranjak memanggil anaknya
Sokar : Uh oh......... (mulai menyadari sepertinya dia sudah membuat kesalahan besar)
Tolpen : Woi ndul, kamu ngomong apa ke Bapakku??????? %$#@%($^&$#^(%$
Di salah satu status saya yang kemudian ditaburi komentar teman-teman jaman SMA saya, saya menuduh seorang teman sebagai 'juragan film buku stensilan'. Kami semua tertawa terbahak-bahak, kata LOL bertaburan dimana-mana, saat kami bernostalgia masalah stensilan XXX ini. Tapi coba misalnya si teman yang dituduh juragan bokep ini berteman dengan emaknya, dan emaknya membaca status ini, kan jadi berabe. Apa nggak mbrebes mili mengetahui anak laki-laki kebanggaannya, yang sekarang sudah jadi dokter, ternyata mesum dan bertanggung jawab terhadap peredaran stensilan di kelas dulu (oh ayolah, anak cowok remaja once in a while ya pasti pernah terpapar hal itu).
Atau misalnya mertua saya meminta jadi teman saya di FB (alhamdulilah itu belum terjadi), berakhir sudah kesenangan saya mengata-ngatai suami saya itu penjelmaan siluman kungkang, dan mana berani saya menulis status seperti beberapa hari yang lalu, yang menyatakan saya sih enggak peduli apakah hatinya Okhi masih milik saya, selama gajinya masih menjadi milik rekening bank saya. Sementara Okhi hanya akan bereaksi tidak peduli pada status saya itu, dan teman-teman saya akan senang karena bisa ikut serta dalam 'rally menghina si kungkang', bagi ibunya yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan, yang bangganya setengah mati pada si Tole yang sekarang jadi imigran (gelap) di Oz, kan ya saya langsung dicap menantu haram jadah.
Suatu hari, saya melihat foto seorang teman yang berpose di depan patung-patung tembaga hitam kelam. Saya sudah siap memberi komentar "Gue tau kenapa lu memilih foto di depan patung2 item, biar lu disangka putih kan?". Eh, sebelum saya bisa memposkan komen itu, mamanya dia berkomentar duluan "Aduh cantiknya anak mama...". Yah, mana berani saya melawan emaknya.
Bahkan untuk mereka yang tidak sejahat dan seculas saya, yang wall nya diisi status dan komentar yang lebih santun, mengetahui bahwa orang tua kita bisa membaca wall kita dan 'mengawasi tindak tanduk kita' kemungkinannya akan menimbulkan perasaan bagaimana begitu. Habis terkadang ortu susah mengerti, anaknya tuh udah besar, udah tua dan bangkotan, udah punya anak juga malah.
Itu baru orang tua, sekarang bagaimana kalau bos kita yang kebelet berteman dengan kita? Kalau misalnya dia tu supervisor kita yang muda belia, mungkin masih agak oke. Lha kalau yang mau berteman Senior Manager yang tampangnya serius selalu, kan ya bikin hati dag dig dug ser.... Seperti teman saya yang misuh-misuh disuatu hari. Jadi, dahulu di perusahaan saya itu ada acara jalan-jalan melihat pasar, supermarket. Maksudnya biar kita tahu bagaimana produk kita di pasaran, mengamati, dan mungkin mewawancarai para konsumen. Karena kami masih muda, acara ini sering melenceng menjadi acara JJS dan makan siang bareng, walau misi aslinya tetap dilaksanakan sih. Sambil menyelam minum air. Nah, seorang teman saya itu senang sekali pamer di FB, bahwa di acara meninjau pasar kali ini, dia bisa makan siang sama temannya, atau sekalian dapat sepatu cantik saat meninjau ke supermarket di mall. Suatu saat, ia mendapat request cinta dari si manager. Haha, berakhir sudah kesenangannya pamer acara membolosnya.
Dan sebetulnya, bos itu kan memang sudah ditakdirkan untuk kita kata-katain di belakang punggungnya dan kita sumpah-sumpahin biar dipatil ikan lele, karena kita tidak punya kuasa untuk memarahi mereka terang-terangan. Kata pepatah bijak, kewenangan bos adalah memerintah dan memarahi. Hak karyawan adalah menyumpahi dan mengata-ngatai. Begitu bos menyuruh membuat suatu desain yang harus jadi besok pagi (yang berarti kita harus merelakan bantal tidak tersentuh malam ini), langsung FB menjadi sarana menumpahkan kejengkelan. "Dasar bos keturunan drakula, lu pikir gue kagak perlu tidur kayak elu apa?" Nah, kalau si bos itu teman kita, masak ya di FB kita juga harus jaim"Diberi kesempatan oleh bos untuk membuat waktu tidur saya lebih produktif dan bermanfaat, terima kasih banyak Pak...."
Ini saya kategorikan bagai makan buah simalakama. Apapun keputusan yang diambil, bakal ada sisi nggak enaknya. Kalau si penulis di mX tadi, dia approve emaknya, tapi tanpa emaknya sadari dia memberi batasan pada apa yang bisa emaknya lakukan di FB nya (dalam kasus emaknya lebih terbelakang dalam hal teknologi). Atau dalam kasus adik si penulis, dia dengan tegas menolak siapapun dari keluarganya untuk menjadi temannya (dalam kasus sudah tidak mengharapkan dapat warisan). Atau dalam kasus saya, saya berteman dengan emak saya, tapi dengan perjanjian enggak boleh kasih komentar lebay, dan saya boleh menghapus komennya yang saya anggap membuat malu saya (dalam kasus masih mengharap warisan tapi kok ya saya juga rada dodol soal internet, nggak tahu caranya memblok emak saya).
Untungnya saya kebetulan tidak tertarik mengeluh atau menggunjingkan pekerjaan dan bos saya di FB (karena saya akan langsung ngomel panjang lebar di kantor atau di telinganya si Okhi), jadi siapapun bos yang mau berteman dengan saya sih tidak masalah. Kalau saya mau membolos biar bisa nonton bioskop siang-siang, ya saya nggak akan pamer pada siapapun. Karena saya senang dianggap rajin dan berdedikasi.
Walau risih juga kalau dia kebetulan buka-buka album foto saya dan melihat foto saya dalam baju renang. Tapi bagi saya, FB saya ya milik saya. Kalau bos saya risih sama foto dan cara saya menulis status, ya itu urusan dia, siapa suruh jadi teman saya.
Note : kenapa juga sih seorang bos, yang di kantorpun hubungannya dengan si anak buah hanyalah hubungan profesional (nggak pernah nongkrong bareng atau beli gorengan bareng) kok pake acara kepingin berteman dengan anak buahnya? Heran....
Subscribe to:
Posts (Atom)
