Monday 27 June 2011

My Monday Note -- Bigger Than Life

Hidup Bersama adalah untuk tidak membesar-besarkan hal sepele. Hal sepele seperti tanggal ulang tahun pernikahan atau tanggal ulang tahun pasangan kita. Saya selalu lupa, sementara Okhi selalu ingat tanggal-tanggal itu. I'm not a number person (saya bahkan sering lupa tanggal ulang tahun saya sendir dan sampai kiamat saya tidak akan bisa menghafal nomer HP). Apa susahnya sih orang bilang "Hei, aku ultah lho hari ini, kasih kado dong!"

Hidup Bersama adalah untuk menyepelekan hal-hal besar. Seperti sofa yang belum terbeli sampai saat ini, sehingga kami harus duduk di lantai all the time. Atau mobil yang masih harus dicicil selama belasan tahun kedepan. Atau rumah yang masih ngontrak entah sampai kapan.

Hidup Bersama adalah kerelaan mengijinkan pasangan meraih mimpinya. Saat suatu malam Okhi melihat berita di Detik dan berkata "Aku iri sama Sheila Marcia. Dia lho ciuman sama banyak cowok," meskipun hati ini kaget dan tak menyangka, pedih tak karuan, saya menelan kepahitan dan berkata "Ya sudah lho sayang, kalau kamu memang pingin ciuman sama cowok-cowok lain ya silahkan..."

Hidup Bersama adalah keterkejutan saat menerima hadiah tak terduga. Saat saya mengharapkan sebuket kembang di hari Valentine, atau seuntai kalung berlian di hari ulang tahun saya, maka saya tahu hal itu hanya akan terjadi di kisah Cinderella. Tetapi disuatu pagi yang dingin menggigil, disaat saya bangun dari kehangatan selimut tempat saya melungker dengan kepala pening akibat demam, dan tak terduga saya menemukan onggokan coklat serupa muntahan kucing di atas piring di dapur, saya tahu ada seseorang yang mencintai saya. Tak berapa lama, si pelaku mengirimkan chat dari kantornya "Tuh aku sisain mi untuk sarapan. Cepet sembuh ya."

Hidup Bersama adalah untuk menjadi saksi kenaifan pasangan saya. Saat untuk kesekian kalinya saya mengganti baju yang saya anggap tidak sesuai dengan sepatu cokelat saya, hanya untuk menghadiri kebaktian di gereja, dengan heran Okhi berkata "Di gereja lho ya cuman ketemu Pak Pendeta sama cowok yang pada udah kawin, emang mereka peduli apa sama bajumu?" Keluh... kapan sih para pria mengerti, para wanita never dress to impress the guys. We dress to impress other women. Kalau mau menawan hati para pria, ya nggak usah repot-repot milih baju. Nggak usah pakai baju sekalian, beres deh urusan.

Hidup Bersama adalah rangkaian upacara menerima komplain dari para wanita lain, yang memohon saya untuk mengendalikan suami saya yang kampungan. Saya sudah tidak heran menerima permohonan dari Putri "Meg... suamimu lho nggilani!!!"

Hidup Bersama adalah tahap pembelajaran yang berkesinambungan bahwa pasangan saya punya cara tersendiri untuk membanggakan kemampuan saya. Saat saya mengundang teman-teman SMA untuk liburan ke rumah kami, maka Okhi menulis email :
lek mrene ta suguhi panganan paling enak sak neroko pek
masakan ne megaaaa
dijamin modar
Jangan minta saya menerjemahkan ke bahasa Indonesia.

Hidup Bersama adalah untuk saling melemparkan beban. Seumur pernikahan kami, saya bisa menghitung berapa kali saya harus mengisi bensin mobil. Saya tidak suka mengisi bensin, karena saya malas menghirup bau bensin, jadi Okhi yang akan selalu mengisikan bensin mobil saya. Dan Okhi bisa menghitung seberapa sering dia menyeterika kaosnya. Saya yang selalu menyeterika karena Okhi benci menyeterika yang membuat tubuh berlemaknya belepotan keringat.

Hidup Bersama adalah untuk mempunyai mimpi-mimpi indah bersama. Mimpi indah untuk jalan-jalan ke Machu Pichu, ikut buggy jumping di New Zealand, atau punya rumah di daerah Toorak (daerah ala Pondok Indah di Jakarta). Dan sebaliknya, saling berkeluh kesah bersama, saat ternyata jalan-jalan terjauh yang terjangkau kantong hanyalah ke kebun binatang rungsep yang penuh ranjau kangguru, dan hanya mampu menyewa rumah keong di pinggiran terjauh Melbourne.

Hidup Bersama adalah seni menggabungkan daya tarik kewanitaan dan jurus tembak langsung. Saat disuatu malam saya mengeluh "Aku kok capek banget ya, lemes banget rasanya." Dan respon yang saya dapat adalah "Ya tidur sana lho,"tanpa si empunya suara mengalihkan pandangan dari laptop. Sesudah beberapa variasi kalimat untuk berusaha menunjukkan saya sedang ingin dipeluk dan disayang tidak menghasilkan respon yang saya harapkan, saya akan berkacak pinggang dan bersabda "Move your butt, come here and give me a hug! Now!" Okhi akan bangkit sambil menggerutu "Mau minta peluk aja kok pake acara muter2. Ngomong langsung kenapa sih." Well, kalau seorang pria berharap mendapat pasangan yang nggak muter2 ngomongnya, dia lebih baik mencari pria lain untuk dinikahi.

Hidup Bersama adalah untuk mau menerima kritik dan mensyukuri pujian. At least dua kali seminggu Okhi akan mengucapkan mantra wajibnya "Kamu nggak bisa ganti muka ta?" atau "Mukamu tu kayak ikan lele yah". Saya hanya akan meniru gaya ikan lele yang tidak punya kuping, pura-pura tidak mendengar celaannya. Tapi ada saatnya di suatu sore, saat kami berdiri di depan cermin kamar mandi dan sikat gigi bareng, dengan khilaf Okhi akan mengagumi bayangan saya di cermin dan memuji "Kamu tu seksi banget yah." Saya hanya akan meniru Megan Fox dan berpura-pura tidak peduli karena sadar saya memang seksi sekali.

Hidup Bersama adalah berbagi kasih untuk Serafim. Saya akan langsung meraih handphone dan menghubungi Okhi untuk dengan bangga melaporkan bahwa hari ini untuk pertama kalinya Serafim mau mengembalikan barang ke kotaknya di kelas bermainnya. Juga menelponnya untuk mengomel saat Serafim memutuskan bahwa kelas renang akan lebih menarik bila dirubah menjadi kelas adu jerit.

Hidup Bersama adalah komitmen yang saya ambil setelah saya melalui dua pertanyaan:
1. Kenapa saya mencintainya? Jawabannya adalah I DON'T KNOW. How the hell should I know the answer? Saya hanya bangun di suatu pagi dan tiba-tiba memutuskan saya jatuh cinta padanya. Entah bagaimana bentuknya yang semula seperti badak bengkak tiba-tiba berubah menjadi tetap seperti badak bengkak sih, hanya di mata saya menjadi badak bengkak yang tampan. Entah mata saya tiba-tiba kena katarak atau ada anak panah Cupid yang menclok di punggung saya.

2. Kenapa saya mau menghabiskan hidup dengannya? Jawabannya panjang lebar, butuh 2 hari 2 malam untuk menuliskannya. Yang utama, karena dia memutuskan dia juga mencintai saya sama besarnya dengan cinta saya padanya. Dan karena dia adalah pria yang layak untuk dicintai. Oh ya, hampir lupa, juga karena tidak ada pria lain yang mau dengan saya.

After eleven years together, I can't wait to face eleven multiply seven years ahead to spend the life, and the bill with him. My love for him, of course is far from perfect, but it is bigger than life. Happy anniversary babe....

No comments:

Post a Comment