Monday 20 June 2011

My Monday Note -- Kala Akal Budi Saya Mulai Berkabut

Bila saya diminta mengenang masa sekolah saya dulu, saya akan mengenang betapa saya menunggu-nunggu datangnya mobil Milo atau Ovaltine yang bertandang ke TK saya. Dan saya, bersama teman-teman TK saya, dalam seragam warna blewah kami, akan dengan tertib mengantri demi segelas Milo yang lezat dan mewah. Atau saya akan mengingat saat jam bermain, dimana saya akan bingung memutuskan apakah saya ingin memanjat dan berayun diluar atau berpura-pura berkemah di dalam tenda.

Disaat saya bersekolah di Sekolah Dasar, lebih banyak lagi pengalaman yang saya ingat. Saya ingat lapangan tempat kami mengadakan upacara dan menghormat bendera, sembari menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa huru-hara seperti yang terjadi sekarang. Saya ingat di lapangan yang sama, dimana saya bersama beberapa teman saya Rio, Debi dan Hadi dihukum berlari-lari bersama-sama atau memunguti dedaunan yang jatuh dari dua pohon raksasa yang tumbuh subur di lapangan itu karena kenakalan yang kami lakukan.

Seperti lazimnya semua murid SD yang normal, saya menghabiskan waktu di kelas dengan belajar. Mendengarkan keterangan dari guru-guru SD saya, membaca buku diktat, mencoba mengerjakan soal-soal latihan dan berusaha mengingat manakah tumbuhan yang termasuk dikotil dan mana yang termasuk monokotil. Dan seperti seorang murid SD yang normal, saya takut menghadapi ujian, saya deg-deg an saat disuruh maju ke papan tulis untuk membaca peta buta, dan saya mengeluh bila PR hari ini sangatlah banyak. Saya belajar untuk mengerti bahwa hidup adalah sebuah perjuangan, dimana saat menjelang ulangan umum saya harus belajar keras, dimana setiap malam saya harus mengerjakan PR, dan menghafal nama-nama ibukota provinsi untuk kuis keesokan harinya.

Setiap empat bulan sekali, saya akan menerima rapor, yang merupakan laporan hasil pembelajaran saya selama 4 bulan itu. Nilai rapor didapat dari akumulasi ujian harian dan ulangan umum. Dari sini saya belajar bahwa hidup adalah persaingan. Saya belajar bahwa nilai 9 untuk matematika mendatangkan kepuasan lebih dari nilai 6, dan bahwa mendapat ranking satu itu sangatlah membanggakan karena berarti saya sudah mengalahkan puluhan anak lainnya di kelas saya, dan saya sudah mengalahkan kemalasan saya sendiri. Saya belajar bahwa terkadang saya harus melakukan hal yang tidak saya sukai seperti menggambar, karena itu adalah suatu keharusan. Dan hidup tidaklah selalu sesuai kemauan saya. Saya belajar bahwa pelajaran, suka tidak suka, meskipun saya tidak mengerti apa kegunaannya untuk hidup saya kelak, adalah suatu hal yang penting. Saya belajar bahwa lulus dan naik kelas, adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Itu adalah target yang harus saya capai.

Dan saat saya duduk di kelas enam SD, saya belajar kerasnya tempaan kehidupan. Pergi ke bimbingan belajar dengan angkot di tengah guyuran hujan sore hari, meskipun dengan hati malas, karena saya harus mempersiapkan diri untuk Ebtanas, ujian kelulusan yang harus saya tempuh agar bisa melanjutkan ke SMP. Saya belajar bahwa dunia terkadang memang menilai saya semata dari hasil yang saya capai, dari nilai yang tercetak di ijazah, tanpa mempedulikan jerih payah saya selama 6 tahun.

Tetapi, di sekolah yang sama, di SD yang sama, SD Tarakanita Yogyakarta, saya juga belajar bahwa buah yang bagus, hanya akan berarti bila dipetik dengan cara yang baik pula. Saya belajar bahwa guru menggambar saya Pak Hari, marah besar saat saya mengumpulkan gambar yang bagus, tetapi itu bukan hasil karya saya. Dan ia lebih menghargai gambar bayi saya yang lebih mirip dengan tumpukan pisang goreng di atas meja. Saya belajar pada saat Pak Widodo, dengan kepala botak dan kacamata burung hantunya, dengan suara keras memerintahkan saya untuk pindah ke bangku depan karena saya berusaha mencontek di suatu ujian matematika karena saya tidak belajar. Dan saya belajar, bahwa saya merasa lebih rendah dan malu saat saya dimarahi di depan semua teman saya karena mencontek dibandingkan akibat saya mendapat nilai 5.

Dan deretan gubug-gubug kantin di pinggir lapangan, dimana setiap hari Rabu saya dan seorang teman bertugas menjadi penjaga salah satu kios kantin tersebut. Saya belajar untuk melayani, belajar kejujuran untuk tidak mengambil kue apem yang menggoda mata, dan belajar akan tanggung jawab dan pengorbanan, karena harus merelakan jam istirahat saya tidak untuk berkejar-kejaran.

Namanya anak kecil, saya sering marah dan benci pada guru saya. Saya benci sekali pada Pak Widodo saat beliau mempermalukan saya dan membuat seluruh kelas tahu saya mencontek. Saya sebal sekali pada Pak Har saat dia menuduh gambar yang saya kumpulkan adalah hasil karya orang lain. Saya kesal pada Bu Tuti yang memaksa saya harus maju dan menyanyi disaat saya sungguh tidak ingin menyanyi. Dan Bu Tin yang memarahi saya habis-habisan hanya karena saya meninggalkan buku PR saya di rumah.

Saya punya banyak kenangan akan guru saya. Pak Pur guru kelas 5 saya, sabarnya luar biasa. Bu Trismi guru kelas 3 saya, setiap hari Selasa menyempatkan mendongeng untuk kami, selama satu jam membawa kami ke negeri khayalan tentang burung biru yang menyembuhkan seorang putri yang berpenyakit kulit. Pak Har guru kelas 6 saya, galaknya bukan main, salah sedikit saja maka saya harus memunguti daun di halaman. Karena saya benci menggambar, dan memang sama sekali tidak bisa menggambar, maka Pak Hari sang guru menggambar saya anggap pilih kasih, hanya mempedulikan anak-anak yang pintar menggambar.

Tidak semua guru saya mempunyai metode mengajar yang menyenangkan. Ada yang terlalu galak, ada yang terlalu pendiam. Ada yang bila berbicara selalu menggumam, serasa beliau lupa muridnya bukanlah Superman dengan pendengaran super, atau segerombolan anjing yang bisa mendengar suara subsonik. Ada guru yang saya sukai, dan ada yang bikin saya bete. Ada guru yang tingkat disiplinnya setara anggota Kopasus, tetapi ada juga yang memiliki kadar 'maklum' tinggi terhadap anak-anak kecil yang tertinggal buku IPA nya.

Guru-guru SD saya menghadapi tantangan yang berbeda. Bu Tuti guru kelas satu saya, bersusah payah mengajar para lulusan TK yang sama sekali belum bisa baca tulis hitung, tidak seperti anak TK sekarang yang sudah siap masuk Perguruan Tinggi. Pak Har guru kelas enam saya, harus bersusah payah mempersiapkan muridnya untuk mengikuti Ebtanas. Semua guru SD saya, harus mengajar murid yang berbeda-beda, dari yang nyaris jenius hingga yang nyaris idiot. Dari yang sebaik dan setenang patung Pancoran, hingga yang mengalahkan gasing saat berlari berputar-putar menyeruduk kanan kiri.

Saya mungkin mendapatkan level pembelajaran yang berbeda-beda antar guru, karena ada yang lebih sesuai metode mengajarnya bagi saya dibanding guru yang lain. Tetapi, walau berbeda cara mengajarnya, walau berbeda bentuk fisiknya, walau berbeda tantangan yang dihadapinya, semua guru saya memiliki satu benang merah. Mencontek tidak ada dalam kamus mereka.

Saat ulangan umum, maka guru-guru saya berubah menjadi anjing doberman. Berani menoleh sedikit saja, saya akan menerima gonggongan. Dan sebelum ujian dimulai, dari speaker di ujung ruangan akan terdengar suara kepala sekolah saya, mengajak anak-anak berdoa. Doa sederhana yang meminta Tuhan untuk membantu anak-anak terkasih dalam mengerjakan ujian dengan baik, dengan tenang, tidak gelisah dan bisa mengingat yang sudah mereka pelajari. Doa semoga kesehatan kami dijaga selama masa itu, dan supaya hati kami dijaga dari keinginan berbuat tidak jujur.

Dari mereka saya belajar, bahwa tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Semua harus diperjuangkan. Semua harus melalui proses panjang dan berliku, dan membutuhkan pengorbanan. Tapi yang tak kalah pentingnya, kejujuran harus selalu menjadi tulang punggungnya. Sesuatu yang tidak bisa ditawar.

Dan kalau nanti tiba saatnya giliran saya menjadi pendidik bagi Serafim, saya akan mengarahkan pandangan saya pada para guru SD saya, akan keteguhan mereka pada arti penting sebuah kejujuran.

Dan seorang guru SD, meskipun mungkin gajinya lebih kecil dibanding profesor perguruan tinggi, mempunyai tanggung jawab yang jauh lebih besar di mata saya. Dia tidak hanya menjadi seorang pengajar, tetapi yang paling utama, ia adalah seorang pendidik. Karena untuk anak-anak berumur 10 tahun, mereka akan melupakan pelajaran IPS dan IPA yang mereka dapatkan dalam sekejap, tapi nilai moral yang tertanam di masa kecil itu yang akan mereka ingat sampai mati. Guru SD, lebih dari guru lainnya, mempunyai peranan besar supaya anak didik mereka tidak menjadi pelarian ke Singapura menghindari KPK, atau menjadi buronan Interpol di 188 negara karena kasus fraud.

Apabila tiba saatnya Serafim masuk sekolah dasar nanti, mungkin jaman sudah berubah. Mungkin saya akan menemukan fakta semua teman sekelasnya yang lainpun mencontek, dan bahkan guru dan sekolahnya membuat kegiatan mencontek menjadi sesuatu yang sistematis. Pada saat itu, mungkin saya melihat sebuah sistem pendidikan sudah berganti dari jaman saya kecil dulu, dimana nilai Ebtanas yang harus diraih anak saya harus setinggi langit. Nilai Ebtanas yang kurang baik, berarti tertutupnya masa depan buah hati saya. Sebuah sistem yang mungkin jauh dari sempurna, dan membuat guru, murid dan orang tua panik. Dan mungkin saat itu saya toh melihat semua pejabat dan anggota DPR berlomba-lomba korupsi. Kenapa juga saya harus susah payah mendidik Serafim menjadi satu-satunya yang mengerjakan kewajibannya dengan jujur. Saat itu, mungkin akal budi saya akan mulai berkabut.

Pada saat itu, saya akan mengarahkan pandangan pada Nyonya Siami. Kalau dia yang hanya seorang penjahit, kalau dia yang saya yakin kondisi ekonominya jauh dibawah saya, kalau dia yang saya yakin tidak memiliki tingkat pendidikan setinggi saya, kalau dia yang hanya tinggal di desa Tandes, kalau seorang Nyonya Siami berani mengajarkan bahwa kejujuran tidak bisa ditukar dengan apapun, dan kejujuran haruslah selalu diperjuangkan, maka saya tidak punya alasan untuk tidak mengajarkan hal yang sama kepada Sera. Sesulit apapun kehidupan, kejujuran haruslah menjadi dasarnya.

Melanggar peraturan adalah satu hal. Dan saya mungkin dalam hati akan bisa 'maklum' saat Sera mencontek PR temannya, namanya juga manusia. Tapi menghalalkan pelanggaran dan bahkan menganjurkannya, is completely a different level.

Keberhasilan akan bisa membuat kita bangga dan mendongakkan kepala. Tetapi bisikan hati kecil yang mengatakan kita sudah berhasil menjaga kejujuran adalah rahasia untuk bisa tidur nyenyak di malam hari.

Ada beberapa orang lain dalam hidup saya yang memberi kesan bagi saya dalam hal kejujuran. Salah satunya si Enjos, yang saat saya berkata bahwa toh yang lain juga mencontek, di masa-masa paling bengal di bangku SMA, dia berkata kenapa harus iri pada anak lain yang mencontek. Kita anak Tuhan, dan Tuhan tahu semua dosa yang kita lakukan di bawah langit birunya (walau saat itu saya hanya nyengir dan tetap mencontek di pelajaran akuntansi, soalnya hari itu toh langit lagi item mendung).

No comments:

Post a Comment