Monday 30 May 2011

My Monday Note -- Sebelum Membeli Kucing Dalam Karung

Saya ingat sekali satu pepatah soal pernikahan. Kalau orang masih pacaran, berantemnya adalah soal prinsip hidup. Kalau sudah menikah nanti, yang dijadikan bahan pertengkaran berganti menjadi soal-soal remeh temeh semacam " Woi, kenapa kaos kaki kotor itu nangkring di atas kulkas hee??"

Apakah saya setuju dengan pepatah itu? Tentu saja! Kalau sudah menikah masih meributkan hal-hal penting seperti kita mau punya kucing atau memelihara marmut saja, ya levelnya bukan berantem lagi, tapi bercerai deh. Kalau saya sih percaya kita harus teguh dalam pendirian untuk hal-hal yang penting, tapi fleksibel dalam detil-detil kecil. Contohnya, harus keukeh dong menuntut hadiah kalung mutiara setiap suami gajian, tapi ya harus fleksibel soal warnanya, tergantung stok di toko.

Satu hal yang saya sadari dari dulu banget, saya tidak pernah ingin mendapat suami yang menjadi pemimpin bagi diri saya. Kasian dong nanti Pak Lurah kena kudeta... Saya juga tidak mencari suami sebagai pembimbing langkah dalam kehidupan. Saya sih lebih percaya sama GPS merk Tomtom yang baru saya beli, plus rasi bintang di langit sebagai petunjuk arah saya. Apakah saya mencari nahkoda bagi bahtera rumah tangga saya? Sayangnya saya punya pengalaman buruk dengan seorang nahkoda, iya itu si Kapten Haddock nya Tintin yang tukang teler...

Saya tidak bisa memimpikan harus menghabiskan hidup saya dengan orang yang mengharapkan saya harus menuruti perintah dan keinginannya hanya karena statusnya sebagai suami saya. Saya tidak suka membayangkan setiap pagi saya harus bangun tidur subuh-subuh untuk membuatkan segelas teh nasgitel untuk suami saya, hanya karena itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai istri.  Dan saya lebih memilih ditembak mati daripada harus bersujud sungkem di hadapan suami saya sebagai tanda hormat saya padanya. Hormat itu ya ke bendera saja waktu upacara. Waktu acara tujuh bulanan, Mas Wandi, pembawa acara adat jawa itu sampai garuk-garuk kepala saat dia membeberkan acara saya sungkem di depan Okhi Oktanio, dan tatapan saya mengatakan 'Over my dead body first'."

Sewaktu acara pemberkatan pernikahan di gereja, salah satu bacaan alkitab intinya berbunyi 'Suami cintailah istrimu, Istri patuhilah suamimu'. Anda mungkin mengira saya berlari kabur dari Gereja atau melempar Pastornya dengan asbak. Tetapi Romo Nano menjelaskan bahwa maksudnya ya pokoknya baik istri dan suami harus saling mencintai, memperhatikan kebahagiaan dan keinginan satu sama lainnya (dalam hal ini saya sama dengan Kate Middleton, menghilangkan kata mematuhi suami saat mengucapkan janji kami). Jadi saya lega juga dong, soalnya saya hanya bisa nurut sama kata hati kecil saya, plus Kitab Undang-Undang Hukum Pidana aka. KUHP.

Suami saya adalah partner saya yang setara, yang saya hargai pendapatnya, tetapi juga menempatkan keinginan saya sebagai prioritasnya. Dia boleh jadi kepala keluarga di Kartu Keluarga, tapi dia tidak akan pernah menjadi kepala bagi diri saya. Meskipun rada peyang dan gak ada isinya, saya masih punya kepala sendiri kok.  

Berharap saya mencium tangannya saat pamitan? Tunggu saja sampai kiamat. Oya, saya juga paling risih kalau dipanggil Dik, dan suami saya minta dipanggil Mas. Emangnya kapan elu kawin sama mbak gue, jadi gue harus manggil elu Mas? Saya hanya mau memanggil suami saya mas kalau saya kawin sama cowok yang namanya Masrul atau Maskoki.

Mungkin bagi banyak orang, toh ini adalah sebuah budaya semata. Tapi bagi saya, dibalik tradisi mencium tangan, ada nilai kepatuhan di dalamnya. Dan sayangnya, sifat saya itu seperti anjing kampung saya, susah dibilangin. Makanya juga banyak teman kerja saya yang sering mencium tangan bos atau rekan kerja yang dituakan. Saya sih cengar-cengir saja melihatnya. Toh tidak ada juga sih yang mau menyerahkan tangannya untuk saya cium, takut saya jilatin kali ya (akibat muka saya yang mesum kayak musang). 

Apa saya terpengaruh gerakan Eman si sapi yang sedang gencar? Hmmm rasanya sih tidak juga. Mungkin lebih tepatnya ini akibat sifat saya yang paling mendasar yang mendarah- daging menulang mengakar mengkristal. Saya tidak bisa menerima perintah (kecuali dari bos yang menuliskan cek gaji saya) dan tidak suka diletakkan dalam posisi dimana saya jadinya HARUS mematuhinya. Emak saya tahu, kalau saya diberi nasihat untuk belok kiri, saya bakal melawan dan belok kanan nyemplung empang. Dan sialnya, sepertinya sifat saya ini menurun ke Sera. Coba saja tunjukkan padanya cara melakukan sesuatu atau suruh dia melakukan sesuatu, alamat dia bakal ngambek.

Persoalan berikutnya ya soal pekerjaan. Apakah suami saya mengijinkan saya bekerja atau di rumah saja? Kalau calon suami saya memerintahkan saya untuk tidak boleh bekerja dan tinggal saja di rumah, bakal saya suruh dia kawin sama satpam atau anjing doberman. Nah, sekalian aman kan perabotan nggak ada yang berani nyolong. Berada di rumah, mengurus anak dan membersihkan rumah membuat saya bahagia. Tapi bekerja, mendapatkan uang saya sendiri, menyelesaikan tugas dan dapat promosi, membuat saya bisa pergi tidur dengan puas. Seorang teman mengeluh berantem dengan suaminya karena setelah menikah ia tidak diijinkan bekerja. Heran dong, lha sebelum kawin emangnya ngomongin apaan, kok sampai hal sepenting ini baru diributkan sekarang?

Apalagi ya big think nya? Em, soal anak mungkin. Kalau seorang pria menuntut harus punya anak, apalagi harus anak cowok, langsung aja saya nyanyi I'm sorry goodbye. Saya akan sangat kecewa kalau suami saya menjadi lesu dan cintanya berkurang pada saya bila misalnya saya tidak bisa mempunyai anak. Mene ketehe, yang ngasih rahim kan Bapa di surga. Protes aja sama Beliau kalau gak takut disamber geledek. Masalah harus punya anak cowok, ya kan situ yang sperma Y nya bego gak tepat sasaran, sel telur saya kan hanya tenang-tenang menghanyutkan. Tapi saya juga ngeri kalau suami saya pembenci anak yang enggak mau punya anak. Masalahnya kondom hanya memberi jaminan 99.999% (jadi ingat si Joe Friends yang kaget saat tahu kondom tidak memberi jaminan 100%, huahaha - Jadi kangen nonton Friends).

Wokeh, saya yakin sekarang semua orang kasihan pada Okhi Oktanio yang nasibnya sial banget jadi suami saya, dan banyak pria yang lega karena istrinya lebih beradab dari saya. Saya akui, Okhi memang akan lebih bahagia kalau bisa menikah dengan Miranda Kerr nya yang tercinta, yang bisa bikin sarung bantal aja keliatan seksi kalau dia yang make. But to be honest, I love pampering him. I love playing Geisha with him. I love cooking him a dish just because I love to make him happy, not because I have to. I like kissing his hands cause they comfort me (yeah I'm Ababil lebay ), not because I have to obey him. Karena Okhi benci menyeterika, selalu sayalah yang menyeterika semua bajunya. Bukan karena saya ingin jadi babu teladan, tapi karena by doing so, I can lighten his day. Dan balasannya, dia yang selalu mengisikan bensin dan mencuci mobil saya, karena saya benci bau bensin dan saya benci basah dan kedinginan. Entar masuk angin ah. The list goes on and on. Saya menyapu, dia mencuci piring (again, saya benci air). Saya shopping, dia membayar tagihannya :).

Dan apakah saya tidak pernah menempatkan dia sebagai leader? Tentu saja sering. Saat hendak memutuskan mobil mana yang harus kami beli, saya menyerahkan keputusan pada kebijaksanaannya (jadi kalau ternyata mobilnya bobrok dia yang salah). Tapi ada saatnya saya take a lead. Soal urusan disiplinnya Sera, saya yang ambil komando. 

Ada pula hal-hal yang menjadi kewenangan kami berdua, misal soal sekolah Sera besok. Soal pekerjaan, Okhi akan meminta pendapat saya, tapi keputusan terakhir tetap di tangannya. Begitu juga saat saya yang sedang memilih tempat kerja. Tentu seringnya, masukan dari Okhi ternyata yang menjadi keputusan akhir saya. Kenapa? Karena I believe my heart, and it believes in him.    

Dan, as much as I love my job, sekarang saya sama sekali tidak bekerja. Meskipun terkadang sedih dan merasa tidak fully alive, tapi saya tidak menyesalinya. Keadaan memang membutuhkan saya stay at home for the time being. Ini sih keputusan logis saja, saat ternyata salah satu dari kami harus tinggal di rumah untuk menjaga Sera, maka lebih masuk akal Okhi yang bekerja, karena gajinya jauh lebih tinggi dari gaji saya, dan dia lebih bego dalam mengurus Sera.

Saya punya teman yang memang tampaknya butuh cowok yang otoriter. Semua keputusan penting dibuat suaminya. Masalah keuangan dipegang suaminya. Pekerjaan pun, suaminya harus tahu siapa saja teman sekantornya. Kalau saya yang dapat pria model begini, entah saya yang mati dulu gantung diri, atau dia yang saya racun duluan. Tapi teman saya itu bahagia, karena memang dia itu indecisive, soal enaknya pakai sandal atau sepatu saja bisa dua hari mikirnya. Cocok kan? Kunci ketemu gemboknya deh.

Atau saat saya sedang berjalan-jalan dengan seorang tante, dan dia bilang "Ayo pulang, mau masak nih untuk om. Dia hanya maunya makan masakan tante." Saya ikut bahagia untuk tante saya, karena dia menemukan pria yang membuatnya merasa hebat, dibutuhkan dan dicintai. Om pun menemukan wanita yang senang melayaninya. Kalau Okhi yang bergaya menolak makan kecuali masakan saya, saya ulek-ulek kupingnya sama terasi. Emang kagak ada gerobak nasi goreng lewat apa, gangguin acara orang jalan-jalan saja. Untung seringnya dia menerima makanan apa saja, selama bukan saya yang memasak. Alasannya sih biar saya nggak capek. Romantis ya... (saya pura-pura bodo aja tentang alasan sebenarnya)

Mencari pasangan hidup yang sesuai dengan prinsip kita tentulah tidak gampang. Kebanyakan mikirin prinsip, bisa-bisa bakalan bengong sendirian. Tidak memikirkan prinsip sama sekali, tahu-tahu dapat cowok yang doyannya hanya makan daging anjing, sementara kita suka melihara anjing. Repot.

Ya pilihannya tergantung lagu mana yang mau dinyanyikan di malam hari.

Masak.. masak sendiri, nyuci baju sendiri
Semuanya sendiri ... (a dangdut singer- dunno his name)

atau

Listen, I'm not at home in my own home
And I've tried and tried to say what's on my mind  (Beyonce)

Kalau anda seberuntung saya, maka lagunya

Sera bobok.. oh Sera bobok...
Papa mama mau ciuman dulu... 

Guys, perhaps next week I'll put my note in somewhere else, I'll update you my new nest for all my creepy notes.

No comments:

Post a Comment