Monday 25 July 2011

My Monday Note -- Hutang Uang Dibayar Ngomel

Dalam hidup ini, banyak sekali hal yang membuat saya ternganga bingung. Saya bingung saat membaca berita bahwa Miranda Kerr sudah bisa berbikini ria tiga bulan setelah melahirkan. How come? Saya juga bingung saat anak lain dengan mudah bisa dititipkan di Daycare, sementara anak saya menjerit- jerit seperti angsa dalam lagu potong bebek angsa masak di kuali. How come? Tapi ada satu hal yang tidak hanya membuat saya ternganga, tapi juga membuat saya tanpa sadar menggeleng- gelengkan kepala dengan takjub. Yaitu saat saya berhadapan atau mendengar cerita tentang seorang Tukang Ngutang.

Tukang Ngutang disini maksud saya ya orang yang meminjam baik uang, barang, atau apa kek dari orang lain. Saya yakin, mungkin ada diantara mereka yang masuk golongan ini adalah mereka yang memang hidupnya kekurangan. Ya kayak di sinetron-sinetron itulah, pake daster ngutang di warung sana sini demi membeli beras dan garam untuk anaknya yang selusin jumlahnya.

Tapi, karena lingkungan pergaulan saya kebanyakan adalah orang kantoran dan sebagian besar teman-teman saya lulusan perguruan tinggi, sebetulnya para Tukang Ngutang yang saya temui dalam kehidupan saya bukanlah mereka yang kondisinya memelas banget. Kebanyakan punya baju yang layak, baju kerjanya juga setiap hari ganti. Ada juga yang punya motor atau mobil. Bahkan ada juga yang lebih sering beli makan siang diluar dibandingkan dengan saya yang setia dengan menu katering gratisan yang disediakan kantor. Jadi kalau kemiskinan bukanlah alasan mereka ngutang, lalu apa dong?  

Lemme share my true story.  Suatu hari, saya ngomel-ngomel di kantor. Penyebabnya, saya mendapat uang rapelan dalam jumlah yang cukup besar. Masalahnya, uang rapelan itu diberikan dalam bentuk cash. Nah, saya kan orang yang paling malas kalau harus mengantri di bank untuk tujuan apapun kecuali kalau ada teller ganteng untuk dikecengin. Tapi masalahnya, kalau uang rapelan ini ngendon di dompet saya, bisa dipastikan akan habis tanpa jelas juntrungannya. Mendengar saya ngomel- ngomel ngalor ngidul mengata- ngatai orang HRD, seorang teman sekantor saya berkata "Ya sudah, sini kuambil aja, aku kan lagi mau bayar asuransiku. Nanti tinggal kutransfer pake ATM ke rekeningmu kan gampang." 

You may call me stupid or naif, tapi dalam pikiran saya, itu kan win-win solution. Saya tidak perlu repot memasukkan uang ke Bank dan teman saya hanya tinggal jalan ke ATM disebelah kantor yang pasti akan kami lewati juga bila hendak membeli gorengan. Toh, dia bukannya butuh ngutang kan? Wong sebelumnya dia tidak mengutarakan keinginan meminjam uang dari saya. Tebak punya tebak, tentu saja dia tidak mengembalikan uang saya. Pertama saya tagih, dia bilang "Entar ya nunggu gajian". Kedua kali saya tagih dia bilang masih terpakai untuk bayar cicilan rumah.

Nah, aneh nggak sih. Tadinya toh dia nggak butuh ngutang. Dan kalau alasannya masih terpakai untuk cicilan rumah, itu kan pengeluaran yang sudah terencana, pasti sudah dialokasikan dong dananya secara rutin setiap bulan. Kecuali alasannya tiba-tiba dia  kena rabies karena ciuman sama si gukguk jadi harus dirawat di RS, jadi uang saya jadinya terpakai deh. Setelah tiga kali menagih tanpa hasil, saya menyerah. Males ah (soalnya jaman itu saya masih belum kawin dan belum punya Serafim, jadi kehilangan uang masih bukan masalah besar. Coba ada yang berani minjem sekarang, bakal saya golok orangnya).

Saat saya bercerita mengenai masalah ini ke teman kantor lainnya (dalam rangka memperingatkan supaya berhati-hati kalau-kalau ni orang juga minjem ke orang lain), ternyata malah teman saya itu balik berkata bahwa orang itu memangnya sudah terkenal sebagai tukang minjem tanpa ada tendensi untuk mengembalikan. Langsung saya omelin teman saya, kenapa dia enggak memperingatkan saya dari dulu.

Ini kisah yang saya alami sendiri. Selain itu, saya juga sering mendengar kisah- kisah sejenis. Seperti pembantunya emak saya yang meminjamkan uang untuk tetangga saya, istrinya cleaning service kantor. Saat mendengar kisah ini dalam hati saya jengkel juga sama pembantu saya, lha wong dia sendiri miskin kok ya pake acara minjem- minjemin duit segala. Eniwei, saat si pembantu mencoba menagih, dengan amat santun dan baik- baik, dan sebetulnya dengan hati yang berat, tapi apa daya sudah kepepet butuh duitnya, eh si istri cleaning service malah mengata- ngatai pembantu saya. Boro- boro mengembalikan duitnya, pembantu saya malah diomelin bahwa pembantu saya itu bikin dia malu saja, menagih- nagih kayak si ibu tetangga itu enggak punya duit untuk mengembalikan uang yang hanya recehan (lha buktinya kan dia enggak mengembalikan sampai batas waktu yang dia janjikan sendiri kan?) dan bahkan menantang pembantu saya untuk mengambil saja motornya sebagai jaminan kalau memang pembantu saya melecehkan kemampuan si tetangga dalam membayar utangnya. 

Nah, karena saya hanya mendengarkan cerita ini, tanpa terlibat aktif di dalamnya, maka saya hanya bisa geleng- geleng sambil menggumam "Jagad jungkir balik." Yang berhutang siapa, yang marah siapa? Yang lupa membayar siapa, yang tersinggung siapa. Mungkin anda akan bilang harusnya pembantu saya balik marah dong ke tetangga itu. Kan pembantu saya dalam posisi yang benar. Tapi saya mengerti juga sih posisi pembantu saya, karena meskipun saya orang yang sadis dan sarkastis, tapi berkaca dari pengalaman saya sewaktu hendak menagih uang ke teman saya dulu, rasanya berat sekali. Iya saya tahu secara logika dialah yang harusnya malu, tapi entah kenapa kok dia rasanya enggak malu dan justru saya yang merasa tidak enak hati. Bahkan, saya sampai merelakan uang saya tidak kembali daripada saya harus mengumpulkan keberanian untuk keempat kalinya, dan menagihnya lagi. Kalau sudah begini, saya sedikit mengerti kenapa para debt collector itu terkadang kejam. Lha yang hutang siapa, yang ngamuk siapa. 

Saya yakin sih bahwa saya tidak punya reputasi sebagai tukang ngutang. Tapi ada satu pengalaman saya yang membuat saya sadar, bahwa manusia itu memang bawaannya enggan untuk membayar hutang. Suatu ketika, saya mendapat uang dalam jumlah cukup besar. Dititipin ceritanya. Karena uang itu ada di tas, tanpa sadar saya memakainya sedikit demi sedikit.  Walau setiap kali memakainya saya hanya beralasan daripada harus ke ATM. Cerita punya cerita, saat tiba waktunya mengembalikan uang itu, saya syok juga. Sewaktu menghabiskan uang itu sedikit demi sedikit, ya tidak terasa, wong hanya untuk membayar atau membeli hal remeh yang saya tidak bisa mengingat apa itu. Tapi, sekarang saya harus mengembalikan dalam jumlah yang besar. Terpaksa membobol tabungan. Dan terus terang, berat sekali bagi saya untuk mengembalikan ratusan ribu uang itu. Sigh...

Saya sadar, memang seperti manusia pada umumnya, saya lebih mudah saat berhutang daripada saat mengembalikan. Jadi, untuk diri saya, saya berusaha tidak berhutang atau iseng meminjam uang dari teman untuk sekedar beli bakso sekalipun. Karena saya juga punya tendensi untuk malas mengembalikan. Dan kebijakan saya sekarang, kalau ada teman atau saudara yang ingin meminjam uang saya, saya hanya akan meminjamkan kalau memang saya bisa merelakan uang itu hilang, tidak dikembalikan. Daripada saya angot, dan menyewa debt collector untuk menagih.

Apalagi terhadap teman dekat atau saudara, saya berusaha supaya tidak terlibat utang piutang sama sekali. Oh betapa mudahnya masalah uang ini menjadi pengganjal pertemanan. Misalnya saya beli barang di tokonya Arin (sekalian promo: Quinsha SimplyBatik), waktu itu saya mencomot baju dengan total harga 300 ribu. Nah, sudah berbulan-bulan saya lupa plus males untuk membayarnya karena harus pake e-banking (lha ya malah gampang kan pake e-banking). Arin, tentu saja tidak pernah sekalipun menagih. Namanya juga teman dekat. Nah sekarang bayangkan saat saya belum bayar, dan saya kebetulan main lagi ke tokonya dan ambil baju lagi. Hayo, yang bakalan lebih berasa nggak enak hati saya atau Arinnya? Pokoknya, saya ekstra hati-hati kalau ngutang ke orang yang bakal merasa sungkan untuk menagih.

Selain para pengutang, lucunya saya terkadang juga sebal pada mereka yang anti utang. Maksud saya dengan para anti utang, adalah mereka yang dengan angkuh berkata bahwa kartu kredit itu penjelmaan setan. Kalau seseorang memutuskan bahwa ia tidak ingin terlibat kartu kredit, that's fine. Suka-suka dia. Tapi disuatu kencan makan siang dengan teman-teman saya, dan saat saya membayar bill dengan kartu kredit saya, dan seorang teman saya dengan congkak berkata bahwa dia sih nggak akan mau punya kartu kredit, karena hanya orang yang suka ngutang yang pake kartu kredit, ya saya keki juga (dan guess what, teman saya itu tadi ternyata kemudian membeli rumah dengan cara kredit ke bank -- yeah, kredit rumah itu bukan hutang ya....)

Ada alasannya kenapa saya punya kartu kredit. Pertama, karena jenis pekerjaan saya dulu membutuhkan saya untuk menemani klien saya dari berbagai penjuru dunia, dan saya sering keluar kota, kartu kredit is a must. Masak mau bayar makan siang di Shangrila saya harus mengeluarkan uang segempok? Emangnya makan di warteg? Atau saat menginap di hotel, dan harus open credit card, masak ya saya ngasih uang muka dalam bentuk cash. Bisa bingung resepsionis hotelnya. Dan bisa bingung klien saya. Jangan-jangan dia meragukan kredibilitas perusahaan saya.

Lalu, saya merasakan manfaat dalam hal diskon. Karena saya suka makan di sushi tei, saya bisa dapat lucky dip dan makan gratis karena kartu kredit. Atau saya bisa upsize di Starbuck. Atau bisa beli blazer setengah harga di G2000. Atau bisa masuk lounge gratis di bandara.  Belum lagi urusan beli tiket pesawat online. Kalau Okhi sih masih baik hati, mau membantu siapa saja untuk membeli tiket pesawat online dengan kartu kreditnya. Kalau saya, dengan tegas menolak (kecuali teman terdekat saya atau saudara dekat saya). Kalau kamu memutuskan nggak mau pake kartu kredit, kamu terima sendiri resiko nggak bisa beli tiket diskonan di internet. Jangan bikin saya yang harus repot-repot mengurusi.

Saya sadar memang banyak cerita soal kesialan yang menimpa para pengguna kartu kredit. Saya punya tetangga yang sampai harus mengungsi sekeluarga karena diteror debt collector. Jadi dia belanja dengan kartu kredit dalam batas maksimal (misal 6 juta sebulan) tapi hanya membayar tagihan minimum (misal sejuta sebulan).  Nah mampus deh dia kena bunga berbunga. Plus dia punya selusin kartu kredit. Ini tentu saja tolol sekali. Dan yang lebih bego, dia menggunakan uangnya untuk membiayai pembangunan rumah pacarnya. Teman saya itu cewek single seumuran saya, dan pacarnya adalah pria tua beristri beranak. Oh bodohnya dobel-dobel.  Kalau seorang cewek muda dan single mau pacaran sama orang tua yang sudah melorot semua bagian tubuhnya, ya wajarnya si cewek kinyis2 ini yang morotin kantong pacar tuanya tho. Lha kok ini mau2nya diporotin. 

Tapi, meskipun banyak kisah mengenaskan soal kartu kredit, well, toh saya nggak minta dibayarin situ kan? Jadi ya enggak usah segitu siriknya dong melihat deretan kartu di dompet saya (note: satu kartu kredit dan lusinan kartu keanggotaan lainnya-- kartu makro, kartu erha klinik, kartu langganan salon Bang Alvin, dll)

Tapi kalaupun ada yang menganggap kartu kredit itu penjelmaan setan dan penggunanya adalah calon penghuni neraka, ya please keep that thought for yourself. Sama seperti saya enggak pernah berkoar-koar juga kan menyuarakan opini saya bahwa mereka yang tidak punya kartu kredit itu orang ndeso dan a modern-banking illiterate :D (lha ini apa gak koar-koar ya namanya).

Monday 18 July 2011

My Monday Note -- Suvenir Itu Penting !!!!


Minggu lalu, saya baru saja kedatangan segerombolan keluarga saya. Mereka datang kemari dengan alasan terlanda kangen berat pada Serafim, tapi tentu saya curiga bahwa alasan aslinya ya karena pingin jalan-jalan dan ngegerecokin saya. Karena ini yang kedua kalinya saya kedatangan rombongan keluarga, setelah bulan lalu keluarga Okhi yang datang berkunjung, maka rasanya saya dan Okhi sudah lebih siap dalam menservice para tetua ini.

Rombongan para wanita tua yang terdiri dari tante saya yang tua, emak saya yang jelita (takut dicoret dari daftar warisan), bude saya yang kuno dan embah saya yang uzur menginjakkan kaki di bandara Melbourne pada hari Kamis. Rencana saya, keesokan harinya, di hari Jumat, langsung saya geber mereka untuk menyambangi Victoria Market atau biasa disingkat Vicmart, pusat belanja oleh-oleh dengan harga miring. Note penting, harga miringnya Australia ya tetap saja mahal saat dikurskan ke rupiah. Jadi kalau belanja enggak usah mencoba mengkonversi 10 dolar itu berapa rupiah, daripada anda stres, sakit hati, dan jadinya ngutang ke saya :D.

Pemikiran saya, dari pengalaman saat menjamu keluarganya Okhi, setelah mereka menghabiskan seharian berputar- putar di Vicmart dan beberapa toko suvenir lainnya, di hari terakhir ternyata kami masih harus balik lagi ke Vicmart. Ada saja yang kelupaan, kaos untuk si anulah, gantungan kunci untuk si onolah. Jadi lebih baik, saya ajak saja emak- emak tua ini ke Vicmart di hari pertama, biar mereka bisa memilih dengan asyik, dan kami masih mempunyai spare waktu. Yakin deh, pasti nantinya bude saya bakal bilang harus balik lagi ke sana gara- gara kaos untuk si Inu kelupaan (dalam pemikiran saya, kalau emang si Inu itu tidak terlintas di pikiran, berarti kan ya si Inu itu enggak penting, dan karena si Inu enggak penting, ya ngapain juga repot- repot dikasih oleh- oleh. Benul nggak?)

Cerita punya cerita, meskipun saya sudah mengagendakan hari pertama kedatangan keluarga saya untuk ke Vicmart, tapi ternyata rencana tersebut tidak kesampaian. Penyebabnya, karena kami menghabiskan waktu di hari Jumat untuk muter- muter mencari toko yang menjual dan menyewakan baju khusus untuk ke salju. Iya, ini rombongan orang katrok dari Surabaya ini memaksa mau lihat salju. Bete kan? Salju tuh ya sama saja dengan es di freezer, jadi tempelin aja jidat di dalam freezer kalau penasaran. Oke, karena Jumat kami gagal ke Vicmart, sementara hari Sabtu, Minggu dan Senin sudah diplot untuk acara yang lain seperti ke Philip island, ke gunung salju dan muter- muter kota, terpaksa acara ke Vicmart mundur sampai hari Selasa.

Nah, bude, tante dan embah saya sih menikmati acara muter- muter itu. Tapi, beberapa kali si bude tua mengutarakan kekuatirannya bahwa jangan- jangan nantinya kami tidak sempat berbelanja suvenir. "Kita pasti sempat beli kan ya?" berulang kali si bude bertanya pada saya. Saya menjawab iya dengan berbagai variasi nada suara, dari yang nyaris gusar hingga yang menjelang naik pitam. Haduh, pusing amat sih masalah kagak bisa beli gantungan kunci?

Di hari Minggu, kami mengajak mereka ke pasar loak. Namanya Camberwell Sunday Market. Saya senang dengan ide ini, karena saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki ke pasar loak. Tapi saya ragu, apakah emak- emak ini akan tertarik untuk diajak ke pasar loak? Masak ke Melbourne bukannya diajak ke museum atau taman indah malah diajak ke pasar loak? Nah, saya ini tolol sekali yah. Namanya emak- emak, emak Indonesia lagi, pastinya mereka sangat menikmati pergi ke pasar loak. Kami berpisah di dalam pasar, saya dan Okhi bertugas menggembalakan seekor ponakan dan si Serafim. Sebetulnya saya kuatir, karena emak- emak ini kan rada buta huruf kalau sudah mengenai bahasa Inggris. Bisa nggak ya mereka belanja disana? Again, saya ini tolol sekali. Namanya emak- emak, berbelanja itu ya sudah ada di darah mereka. Dan meskipun nilai IELTS mereka berempat kalau digabungin jadi satu juga paling hanya sepertiga nilai saya, tapi kemampuan mereka berbelanja dan menawar, di negara berbahasa Inggris sekalipun, tidak perlu diragukan. Jangankan bahasa Inggris, bahasa Klingon pun bakal beres!

Kami berjanji untuk nanti kembali berkumpul di pintu keluar pada pukul 12 siang. Pasar ini memang dijadwalkan tutup di waktu tersebut. Deng deng. Datanglah emak saya, embah saya, bude saya, tante saya, dengan berplastik- plastik barang belanjaan. Waduh. Dan wajahnya itu lho, penuh gairah dan tampak berseri, meskipun angin kencang sedang melanda Melbourne di hari itu. Dan dengan bangga mereka membuka hasil belanjaan mereka dan menerangkan bahwa jaket kulit yang ini untuk tante yang itu, baju yang ini untuk bapak yang ono, dst dst. Belanjaan untuk mereka sendiri sih ya hanya satu dua tas, tapi sebagian besar belanjaan adalah untuk orang lain. Eh, tak berapa lama, si tante berkata dia jadi penasaran dengan tas yang tadi diincarnya tapi si penjual tidak mau menurunkan harganya. Jadilah tante lari lagi ke dalam pasar, dan kemudian kembali dengan menenteng si tas dengan senyum kemenangan menghias wajah. Eh, si embah ikutan latah pingin melihat lagi apakah sepatu yang diincarnya tadi masih ada. Dan larilah dia kembali ke pasar (oke ini hiperbola, embah saya lebih dekat ke arah menggelinding daripada berlari). Saya menoleh ke Okhi dan berkata "Mending main catur dulu aja deh kalau gini caranya."

Oya, meskipun saya bergaya tidak tertarik berbelanja di pasar loak, tapi ternyata saya menenteng juga satu bungkusan plastik yang cukup berat. Dan kantung belanjaan itu tidak pernah saya letakkan, saya dekap terus, dan saya melarang Sera menyentuh kantung plastik saya. "My preciousssss," Okhi menghina sambil menirukan desisan si gollum.

Di hari Selasa, akhirnya kami pergi juga ke Vicmart. Saya sudah berpesan dan mengancam, pokoknya semua pihak yang direncanakan untuk diberi oleh- oleh harus dicatat, jangan sampai ada yang ketinggalan! Berani minta anterin lagi ke Vicmart, berarti cari mati! Dan bude saya dengan heroik berkata "Bude tuh ya hanya punya uang segini, cukup nggak cukup ya nggak bisa tambah lagi oleh- olehnya. Ya biarin aja kalau ada yang nggak kebagian." Ya ya, percaya deh!

Di malam Senin, sesudah kami tiba di rumah dengan loyo sehabis sibuk berpura- pura menjadi profesor di Melbourne Uni dan berfoto- foto di monumen tinggi tinggi sekali, saya mewanti- wanti supaya mereka semua siap sejak pagi, sehingga kami bisa berbelanja dengan waktu yang longgar. Sebetulnya saya rada pesimis akan kemampuan kami semua untuk 'on' sejak pagi. Bayangkan, di hari sabtu, pada pukul 6 pagi, para emak uzur ini sudah duduk- duduk di depan halte untuk menunggu bis travel yang akan membawa mereka ke gunung salju. Setelah sibuk 'berski' dengan pantat seharian penuh, mereka baru kembali ke rumah menjelang pukul 7 malam. Dan kalau anda pikir duduk- duduk pada pukul 6 pagi itu adalah hal biasa, well, coba lakukan pada temperatur 5 derajat, dengan angin yang berhembus sepai- sepai, dan suasana segelap Mojokerto di tengah malam. Keesokan harinya, di hari minggu, kembali mereka bangun pagi untuk berjalan- jalan ke Philip Island, dan lagi- lagi baru kembali ke rumah di malam hari. Demikian juga di hari Senin. Jadi, dalam logika saya, paling- paling juga jam 12 kami berangkat. Jam enam pagi, saya kriyip- kriyip bangun karena kebelet pipis, dan tada.... semua orang sudah siap sedia. Sudah mandi, sarapan sudah siap, pokoknya sudah siap tempur deh. Ceile, segitu semangatnya belanja.

Di dalam pasar, kalaplah mereka. Enggak beneran kalap sih, secara duitnya terbatas, hahahaha. Tapi wajah mereka itu bahagia sekali, saat menimang- nimang apakah si tetangga lebih baik diberi jam Melbourne atau hiasan dinding Melbourne. Kalau saya jadi si tetangga, saya bakal bilang mending saya dikasih tiket buat ke Melbourne aja deh, entar saya beli sendiri saja hiasan dindingnya. Dan karena yang menjaga toko suvenir di Vicmart kebanyakan mahasiswa Indonesia, makin asyiklah acara belanja. Embah saya bangga sekali karena ia dihadiahi satu kaos gratis, "Hadiah untuk kepala rombongan," kata Conny, mahasiswa asal Manado yang nyambi jadi kuli di kios kaos.

Untuk menuju ke Vicmart dan kembali lagi ke rumah, kami harus menggunakan angkutan umum. Dari rumah, berjalan ke halte bis, kemudian naik bis yang akan membawa kami ke stasiun kereta, dan terakhir dilanjutkan dengan naik trem. Seselesainya memborong suvenir di pasar, dan harus berjibaku naik turun trem, kereta dan bis, saya kagum karena para tetua ini tiba- tiba menjadi perkasa. Enggak loyo membawa berbagai buntalan tas berisi kaos, sendok, jam dan hiasan dinding khas Melbourne (baca: ada tulisan Melbourne dengan font Arial 300, tapi tetep made in Cina).

Sesampainya di rumah di sore hari, embah, bude dan tante saya langsung sibuk menata harta karun mereka. Saya kasih tahu ya, sewaktu mereka baru datang dari Surabaya, koper mereka dipenuhi berbagai baju dan barang titipan saya yang belum sempat terbawa saat saya pindah dulu. Jadi mereka membawa sedikit sekali barang. Baju- baju hangat, mereka pinjam dari saya, handuk pinjam dari saya. Tante saya hanya membawa baju dalam dan dua daster. Sisanya, pinjam baju saya. Hanya embah saya yang harus bawa sendiri. Soalnya hanya sarungnya kuda nil yang bakal cukup untuk dia pinjam. Jadi dengan sok mereka berkata "Huh, nanti pas balik ke Surabaya bakalan kosong nih koper. Wong bude nggak bawa barang sama sekali. Mungkin koper yang kecil dimasukkan saja ke dalam koper besar yah?"

Mimpi kaleee, yang ada barang belanjaan mereka membuat semua koper, baik yang besar dan kecil penuh sesak. Saya sampai kehabisan nafas mengangkat- angkat koper itu ke atas timbangan, untuk memastikan tidak ada yang kelebihan bobot. Maklum, naik Air Asia.

Sore itu, Okhi menelepon menanyakan bagaimana kalau malam ini kami membawa para tamu makan di luar, ke sebuah restoran yang bagus. Saya mengarahkan pandangan ke arah emak- emak yang sibuk menata barangnya sambil saling mengagumi belanjaan satu sama lain ("Wah harusnya aku juga beli piring itu ya untuk Bu Anu"). Saya berkata ke Okhi di telepon "Udah enggak usah, mereka lagi asyik sama harta karunnya."

Mau nggak mau saya geli juga, saat mendengar bude saya dengan amat sedih dan memelas berkata "Lho, kok kangguru bude udah putus ekornya," dia berkata sambil menunjukkan tempelan kulkas berbentuk kangguru yang sedianya akan diberikan pada guru bahasa inggrisnya keponakan (penting amat gitu ya ngasih oleh- oleh ke gurunya keponakan). Saya nyengir melihat si kangguru yang sudah termutilasi ekornya. "Diisolasi aja bude," saya menyarankan dengan ramah sambil membayangkan wajah bu guru saat menerima oleh- oleh seekor kangguru berplester.

Akhirnya, para tetua ini pulang juga di hari Rabu. Tinggal emak saya yang tertinggal. Dia akan pulang di hari Minggu. Di hari Kamis, emak saya menunjukkan sms yang dikirimkan bude saya. Isinya, memohon dan membujuk supaya emak bersedia pergi lagi ke Vicmart untuk membelikan oleh- oleh tambahan yang terlupa. Tak berapa lama, gantian tante saya yang mengirimkan sms, berisi daftar tambahan suvenir yang harus dibelikan emak saya untuk tetangganya. Beberapa hari lalu, tante saya itu dengan sok yakin berkata bahwa dia hanya ingin memberi oleh- oleh untuk satu orang tetangganya saja, yang lain enggak usah. Ha, ternyata sesampainya di Sidoarjo, dia menyadari bahwa orang se RT menuntut oleh- oleh juga.

Jadilah saya dan emak dan Okhi dan Sera terpaksa pergi lagi ke Vicmart di hari Sabtu. Dan oleh- oleh yang katanya hanya tambahan itu, memenuhi koper emak saya.

Buat saya nih, menghabiskan waktu liburan dengan sibuk membeli dan mencari berbagai oleh- oleh dan titipan berbagai macam orang itu benar- benar cara menghabiskan liburan yang payah. Masak jauh- jauh ke Melbourne hanya sibuk beli tempelan kulkas? Hanya sibuk memilih apakah Bu anu lebih suka diberi piring atau sendok? Dan terus terang, melihat emak- emak itu sibuk mendata siapa saja yang harus diberi oleh- oleh, yah, namanya liburan kok harus memeras otak. Dan saya tidak mengerti bagaimana sih caranya membuat batas siapa yang wajib diberi oleh- oleh dan siapa yang tidak? Tetangga kiri kanan? Wajib. Tetangga satu gang? Sunah. Tetangga sekampung? Ya bangkrut deh.

Tapi, melihat betapa para emak ini bahagia saat mereka memilih dan membeli dan mengepak puluhan suvenir ini, yah, siapa sih saya bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah. As long as they happy with it, ya sudahlah. Dan saya membayangkan, mungkin saat si bude mengantarkan si kangguru buntung ke bu guru, dia akan bahagia melihat wajah bu guru yang senang karena bude mengingat dirinya dan menganggapnya penting, dan membawakan oleh- oleh untuknya. Dan mungkin, sambil duduk dan minum segelas teh yang disajikan, bude bisa menceritakan pengalamannya di Melbourne pada seseorang yang akan dengan senang hati mendengarkan.

Warning: anda tidak sungguh- sungguh berpikir saya peduli untuk bisa melihat kebahagiaan di wajah anda kan? Jadi saya percaya anda tidak sungguh- sungguh berpikir bahwa saya akan sudi bersusah payah berburu kaos kangguru untuk oleh- oleh :D

Monday 11 July 2011

My Monday Note -- She Deserves It

Suatu hari, saya tertegun melihat status seorang teman saya di facebook, yang mengungkapkan kekesalannya pada ibu-ibu lain yang dengan bangga (dan mungkin setengah sok) membanggakan their motherhood experience. "Gue bete sama ibu-ibu yang sibuk pamer di FB atau blog atau forum2 diskusi bahwa dia hanya ngasih ASI untuk bayinya, yang bikin masakan rumahan tanpa garam dan gula, yang hanya ngasih makanan organik, blablabla".

Saya sih tidak pernah merasa pamer soal ngasih ASI, tapi saya merasa tertohok karena saya memang dulu hanya beli sayur organik untuk Sera (walau saya tidak merasa pernah memamerkannya juga sih, tapi ya kali-kali tanpa sengaja status saya menyinggung soal ini). Nah soal beli sayur organik, ini karena saya punya emak seorang petani, dan dia selalu bercerita bagaimana pertanian di Indonesia, bagaimana semangkanya dikasih pemanis dan pewarna, bagaimana jagung manisnya sudah direndam pestisida sejak masih berupa bibit. Nyebelin kan? Kalau kita enggak tahu sih nggak jadi masalah, tapi begitu tahu behind the scene nya ya jadi nggak tega deh memberi semangka pinggir jalan ke Sera.

Balik lagi ke teman saya tadi, saat ada yang menanyakan kenapa dia bete, dia berkata karena dia merasa dihakimi, bahwa dengan memberi tambahan susu formula ke bayinya, dengan membeli makanan bayi instan, dengan memberi makanan yang mengandung garam dan gula, seolah dia adalah ibu yang tidak sebaik ibu-ibu itu. Hmmm.....

Sejak internet benar-benar menjadi sarapan, makan siang dan makan malam semua orang, dan sejak gelombang kesadaran mengenai era baru membesarkan anak melanda para ibu-ibu muda,  rasanya satu hal yang paling alami di dunia, yaitu melahirkan dan membesarkan seorang bayi, berubah menjadi semacam ajang adu siapa paling hebat.  Ayo, siapa yang paling kreatif bikin makanan bayi, siapa paling rajin mompa ASI nya di kantor, siapa paling tegas tidak memberi coklat untuk cemilan. 

Sebetulnya, ada bagusnya sih hal ini. Sekarang, banyak orang tua yang tidak sekedar membiarkan anaknya tumbuh begitu saja, tanpa perlu dipupuk dan disirami, membesarkan ala rumput liar. Sebagian besar teman saya yang akan mempunyai bayi selalu sibuk googling kanan kiri, langganan majalah ayah bunda, tanya teman. Kita tidak lagi merasa cukup hanya dengan ilmu turun temurun seperti bagaimana cara membedong bayi, tapi bahkan soal botol susu apa yang aman untuk bayi, yang BPA free, rumah sakit apa yang mendukung kelahiran normal, dsb dsb.

Kan jaman memang sudah berbeda. Dulu embah saya memberi makan bapak saya pisang sejak umur sehari, kalau bertahan hidup ya bagus, kalau mati ya berarti kehendak alam. Sekarang, makanan padat saja baru diberikan setelah 6 bulan. Metode memberi makan juga macam-macam. Belum lagi nanti saat balita, mau dimasukkan sekolah mana? Playgroup yang bagaimana? Sera saja baru 18 bulan sudah ikut kelas musik, kelas main dan kursus renang. Tuh kan, saya malah mulai pamer jadinya.

Sekali lagi saya katakan, jaman memang sudah berubah. Dan karena tingkat persaingan semakin tinggi, pengetahuan baru tentang membesarkan anak semakin banyak, maka wajar semua orang tua berlomba-lomba mempersiapkan anaknya sedini mungkin. Hanya mungkin bedanya, meskipun kita juga berlomba-lomba dalam karir kita, berjuang mendapatkan gaji paling tinggi, jabatan paling mentereng, tapi kita cenderung tidak pernah kan membuat blog atau menulis di status FB tentang pekerjaan kita. Dan membanggakan gaji kita tentulah tabu dilakukan. Tetapi, rasanya saat ini adalah hal yang biasa saat seorang ibu (biasanya) membuat blog khusus tentang perkembangan anaknya, atau menulis di status FB soal kehebatan anaknya. Di sebuah tabloid di Melbourne saya membaca komentar seseorang yang berkata dia bosan dengan para ibu yang setiap 10 menit sekali menulis status di FB tentang anak mereka yang "over-achiever".

Saya pernah membaca satu blog teman saya. Dia menulis masalah perjuangannya memompa ASI di kantor, dedikasinya, semangatnya, dan lain sebagainya. Ini lucunya. Saya dulu juga memompa ASI. Saya dulu juga sampai membawa kulkas portable agar ASI saya bisa tetap beku selama saya menunggu pesawat yang delay di bandara. Jadi, sebetulnya saya juga sangat kompeten dalam hal memompa. Tapi saat membaca tulisan teman saya itu, entah bagaimana saya bisa merasa iri. Seolah saya merasa teman saya lebih hebat dari saya. Kenapa begitu ya? Jangan ditanya bagaimana mindernya saya saat membaca blog mereka yang senang berkreasi memasak untuk bayi mereka. Sementara saya hanya memberi Sera telur ceplok dan brokoli rebus. 

Mungkin benar kata emak saya, disaat belum memiliki anak, fokus kebanggaan adalah diri sendiri. Jadi manajer di usia muda, sudah keliling dunia, sudah punya mobil mewah. Tapi saat seorang anak datang, kebanggan itu bergeser. Saya sekarang bangga sekali saat Sera bisa bertepuk tangan seusai menyanyi, sementara anak lain hanya melongo saja. Dan banyak Ibu yang tanpa sadar mengubah fokusnya  pada si anak. Berapa banyak makanan yang dimakan si anak, bagaimana kandungan gizinya, berapa lama ia menerima ASI eksklusif, bagaimana rangsangan motorik yang diberikan. Kadang rasanya membesarkan anak menjadi sebuah perlombaan, sebuah racing. Seperti saya yang sibuk membandingkan kemampuan Sera di kelas bermainnya dibandingkan anak lainnya. Terkadang saya terlalu sibuk menganalisa dan berkompetisi hingga melupakan the real joy saat melihat Sera menikmati kelasnya dengan caranya sendiri yang mungkin aneh.  

Lalu, apakah sekarang saya masih iri dengan kisah sukses dan heroik para ibu yang lain? Haha, tentu tidak. Kenapa? Karena saya dengan jujur akan mengatakan (dalam hati) "Sori, tapi saya nggak tertarik tuh membaca kisah hebat anakmu dan pengalamanmu yang mencengangkan dalam membesarkan anak".

Saya sadar saya orang yang kompetitif, saya orang yang nggak mau kalah dalam segala hal. Bila saya mulai membaca blog orang atau ikut di forum diskusi, semangat bersaing dan iri hati saya akan timbul. Maaf ya, tapi saya ingin menikmati setiap detik dengan Serafim, tanpa harus merasa iri saat tahu anaknya si Anu sudah bisa makan sendiri saat baru berumur setahun sementara Sera masih memegang sendok seperti megang pacul saja. Atau saya harus tahu kalau si Ono itu selalu memasakkan menu berbeda yang selalu lengkap mengandung semua sumber gizi untuk anaknya sementara saya hanya menggoreng tahu untuk si genduk. Bodo amat deh bagaimana ibu lain membesarkan anaknya dengan cara ala ilmuwan NASA.

Tentu saya tidak masa bodoh tentang cara merawat dan membesarkan anak. Saya juga ingin dong Sera mendapat yang terbaik. Tapi biasanya saya akan mencari info sesuai kebutuhan saya, misal sedang cari resep untuk membuat Sera tertarik makan sayur, maka saya akan googling resepnya. Saat saya menemukan resep di sebuah blog misalnya, saya baca resepnya, tapi saya abaikan saja kalimat-kalimat si Ibu yang bakal membuat saya bete seperti "Aduh senangnya melihat si Adik mau makan wortel dengan lahap, sampai minta nambah lagi coba!" Gimana nggak bete kalau saya jadi membandingkan dengan anak saya yang dengan lihai bisa menemukan potongan labu siem kecil yang sudah saya sembunyikan dengan rapi di sendoknya. 

Atau kalau saya mencari info tentang memompa ASI, saya akan mencari pengetahuannya. Bagaimana tehnik memompa, kiat biar hasilnya banyak, alat apa saja yang harus dipersiapkan, dan seterusnya. Saya akan langsung mengabaikan forum diskusi atau blog dimana para emak sibuk menceritakan pengalamannya yang 'mengharukan' dan pengorbanan yang harus mereka lakukan demi memompa ASI. Dan terus terang, saya benci melihat sebuah foto yang memperlihatkan tumpukan botol penuh ASI yang tak terhitung banyaknya di dalam frezer, disertai keterangan "Mama siapkan hanya untuk dedek, walaupun mama bekerja tapi tetap memberikan yang terbaik untukmu." Blah! Apa memang foto itu bisa membakar semangat ibu lain untuk menirunya yah? Kok kalau saya malah jadi down lihat foto itu, karena rasanya saya nggak bakal sanggup kalau disuruh menyetok ASI segitu banyaknya. Memangnya saya siluman sapi apa?  

Tapi, sementara yang menulis di tabloid Melbourne bahwa dia benci sama ibu-ibu yang selalu menulis status di FB setiap 10 menit untuk membanggakan anaknya itu adalah seorang single, saya sendiri seorang ibu. Sementara si single tidak mengerti kenapa emak-emak ini harus sibuk membanggakan anaknya, saya mengerti. Karena disaat saya bekerja di kantor, saya mendapatkan penghargaan atas hasil kerja saya, berupa gaji dan kenaikan gaji serta promosi jabatan, nah saat sekarang saya menjadi emaknya Sera, saya tidak pernah mendapatkan hal itu. Saat di kantor saya bisa mendiskusikan masalah pekerjaan dengan teman-teman, dan bisa memamerkan ide cerdik saya saat meeting antar divisi, saya tidak bisa melakukan hal itu kan, membuat meeting dengan tetangga dan teman untuk memamerkan kemampuan terbarunya Sera. Saat saya bisa mengegolkan satu penjualan besar di kantor, maka secara instan semua orang di kantor akan tahu, bos saya akan menepuk-nepuk pundak saya dengan senang, rekan saya akan memberi selamat dengan riang dan mungkin setengah iri. Lha kalau ini, saat Sera mau makan hanya dengan tahu goreng sementara anak lain harus diberi resep macem-macem, maka yang dipuji pinter adalah Sera, bukan emaknya yang susah payah melarang berbagai makanan aneh masuk mulutnya. Tapi saat Sera selalu menjerit kalau disapa orang lain, maka yang 'disalahkan' adalah emaknya, karena tidak mengenalkan Sera ke orang lain sejak dini, tidak membiasakan anaknya dirawat orang lain. 

Jadi wajar untuk aktualisasi, untuk mendapatkan pengakuan atas 'kerja keras' saya dalam mengurus si anak, saya memamerkannya melalui FB dan blog. Saya pikir-pikir, itu harga yang murah yang diminta emak-emak atas pekerjaan yang sudah mereka lakukan. Jadi next time ada seorang emak yang menghabiskan waktu anda yang berharga untuk ngoceh mengenai kehebatan anaknya, berlapang hatilah untuk mendengarkan. She deserves it. Kalau ocehannya menjengkelkan, ya pasang saja senyuman di wajah sambil membayangkan kencan dengan Jake Gylenhaal. Dan kalau ngocehnya gak berhenti-berhenti, melampaui ambang batas kesabaran anda, ya pura-pura saja sakit perut kebelet.   

Monday 4 July 2011

My Monday Note -- Dare To Eat My Cook?

Ada satu status di FB yang bisa membuat bibir saya mencibir lebar sekali. Ceritanya si istri membuatkan masakan untuk suaminya. Dan dipajanglah foto si masakan itu dengan kalimat "Khusus dibuat untuk papa". Foto masakan itu saja sudah membuat saya mulai mencibir. Lalu suaminya, sebagai lazimnya pria normal yang tidak sebodoh itu untuk mencari perkara dengan mencela istrinya, memuji masakan sang istri yang dikatakannya sangat lezat bagi lidahnya yang selama seminggu bosan makan masakan Padang melulu karena dinas luar. Cibiran saya bertambah lebar 2 sentimeter. Nah, balasan sang istrilah yang kemudian berhasil membuat mulut saya monyong 5 meter. "Padahal itu asal aja lho bikinnya, hanya asal cemplang cemplung bahan yang ada di kulkas."

Bagi para sahabat saya, tentu sudah jelas alasan kenapa saya memonyongkan bibir saya. Bagi mereka yang beruntung karena tidak menjadi sahabat saya, ini alasan kekesalan saya. Pertama, foto masakan itu tampak mengundang selera, dan memang tampak lezat. Bete dong hati saya, yang seumur hidup tidak pernah bermimpi untuk berani memajang foto hasil masakan saya. Yang kedua, balasan sang suami yang bangga akan hasil karya sang istri. Pastinya saya sirik, karena suami saya selalu menyediakan obat diare setiap hendak makan malam. Dan yang utama, komentar si istri bahwa masakan lezat itu hasil karya 'asal-asalan'. "Hah, dasar tukang bohong," kata suara hati saya yang pendengki. Saya saja, yang sudah mempersiapkan bahan-bahan masakan yang aneh-aneh (coriander, thyme, lilydale free range chicken) dan dengan seksama memperhatikan buku resep, hasil masakannya hanya bisa dimakan dalam satu suapan besar sekaligus, dengan memencet hidung dan menyediakan segalon air putih untuk mengguyur tenggorokan.

Perkenalan saya dengan dunia memasak dimulai saat saya tinggal berdua saja dengan Okhi di Jatiasih, sehabis kami menikah. Memasak menjadi cara kami untuk menghemat anggaran makan, dan menghindari kebosanan makan di luar melulu. Yap, makan di luar memang asyik, tapi lama2 bosan juga dengan menunya yang itu-itu saja. Mau mencoba restoran aneh-aneh, duitnya cekak. Waktu itu, karena kami berangkat kerja jam enam pagi dan kembali ke rumah paling cepat jam enam sore, jadi memasaknya ya menu-menu biasa sajalah, semacam sayur bening bayam dan goreng tempe. Soal rasa, nggak kalah enaknya sama bayam dan tempe mentah.

Setelah kami pindah ke Melbourne, acara memasak bagi saya memasuki dimensi yang lain. Kalau dulu masih memungkinkan beli soto mie di abang2 seharga 5000 perak, disini restoran paling murah adalah sekelas McD atau KFC. Kalau kangen pingin makan nasi goreng atau ayam bakar, kocek harus dikuras sedalam-dalamnya. Makan diluar dengan menu nasi ayam penyet dengan teh tarik segelas kecil saja akan menghabiskan 30 dolar. Jadi dari yang tadinya memasak itu 'disarankan' bagi rumah tangga kami, sekarang menjadi 'diwajibkan'.

Nah, karena si Serafim diusir sama Childcare nya karena terlalu ribut, jadilah saya menghabiskan hari-hari saya di rumah menjadi babunya Sera. Lama-lama jenuh juga hanya masak brokoli rebus. Mulailah saya berusaha memasak menu yang lebih 'manusiawi'. Saya mencoba mencari resep di internet. Dan langsung bete sama blog-blog resep yang dibikin orang Indonesia. Tambahkan 2 batang sereh, lengkuas, daun salam. Edan apa, sebatang sereh harganya 2 dolar di sini, plus dimana juga saya harus nyari yang namanya daun salam? Mau bikin makan siang aja kok rumit banget. Kata bloggernya, ya salah siapa bergaya tinggal di negara bule tapi lidah masih ala Sidoarjo.

Tapi, karena kepandaian saya, akhirnya saya menemukan satu blog yang paling sesuai dengan kebutuhan saya dan kondisi di Oz. Dibuat oleh orang asli Malaysia (jadi banyak resep kue tradisional), Chinese descendant (jadi banyak resep masakan Cina yang simple), kawin sama orang Belanda (jadi banyak resep Eropa, masakan sudah tinggal di Oz kagak bisa caranya mengolah kentang) dan tinggal di Sydney (jadi nggak sembarangan nyuruh bikin resep dengan daun sereh selusin).

Beberapa resep yang sangat sederhana berhasil saya contek dengan sukses, seperti panggang ala cina (ya iyalah, wong hanya daging dikasih saos Cina yg bisa dibeli botolan, tambahin merica garam, masukin oven sejam. Anjing saya saja bisa masaknya). Maka, karena saya punya kadar kepercayaan diri sangat tinggi, disuatu siang saya memutuskan akan membuat kejutan untuk Okhi, yang selalu mencela masakan saya. Saya mau bikin mi vietnam ala Pho dan kue dadar gulung kelapa. Bahkan saya sesumbar ke Okhi, kue ini nanti akan bisa saya bawa untuk cemilan di gereja.

Rencana itu, sudah ditakdirkan untuk gagal sejak awal. Yang pertama, untuk orang dengan pengalaman memasak hanya terbatas pada membuat telur ceplok, betapa stupidnya mencoba dua resep baru sekaligus. Untuk membuat mi vietnam, saya mulai dengan merebus ayam untuk membuat kaldu (saya sudah membaca resepnya berminggu-minggu yang lalu). Setelah ayam selesai direbus, dan tiba saatnya mencemplungkan bumbu lain, saya kelimpungan. Saya yakin saya sudah membeli kayu manis, tapi kok bungkusannya raib? "Seraaaaaa," teriak saya. "Mana bumbu mama? Pasti kamu yang ngumpetin!" Sera, cuek dan nggak peduli. Saya menghibur diri, it's ok lah kekurangan satu bumbu.

Lalu saya baca lagi resepnya (saya pede bahwa saya sudah hapal resepnya). Wait a minute, kok ada bumbu cardamom (what the heck is that?), terus ada air jeruk nipis (saya tahu sih bentuknya, tapi saya nggak punya satupun). Oh ya ampun, dari maunya bikin Mi Vietnam saya terancam sekedar bikin sop ayam. Langsung ilfil melanda. Kesalahan kedua, merasa bisa menghapal resep sesudah 3 minggu berlalu.

Okelah, saya menghibur diri bahwa saya masih punya satu resep lagi untuk dicoba. Kue dadar gulung isi kelapa. Untuk yang ini, saya bahkan sudah berhasil menemukan daun pandan (2 dolar isi 4 helai, pemerasan!). Nah, karena saya punya balita yang mudah jemu, saya membuat resep ini secara bertahap. Tahap pertama, memotong daun pandan (sambil mencium2nya, kok nggak wangi ya, jangan2 saya ditipu) lalu menambahkan air 200 ml, dan masukkan ke blender (blender kinyis-kinyis yang saya beli 50 dolar-- congkak merasa alat masak sudah lengkap). Lalu, langkah berikutnya, saring dan ambil saja airnya. Clingak clinguk karena nggak punya saringan, akhirnya saya ambil saja tisyu kertas dan saya saring. Mulai berantakan.

Lalu si Ratu Kidul mulai ngak ngik ngok minta bobok siang. Oke, saya tinggalkan dulu dapur untuk memenuhi amanat kanjeng ratu. Selesai menidurkan Sera, saya lanjutkan lagi memasak. Kedalam air pandan tadi, tambahkan air 200 ml, santan 100 ml, 1 telur, 120 g tepung. Dengan pede saya memasukkan 200 ml air, 100 ml santan (pake gelasnya Sera yang ada takarannya). Sebutir telur saya cemplungkan. Plung. Nah, masalah tepung agak gawat. Saya tidak punya timbangan akibat kepelitan suami ("Beli timbangan dong" -- "Lha kenapa gak pake timbangan badan di kamar mandi?").

"Ah, abang gorengan di depan kantor dulu saja menakar tepung hanya dengan melihat kekentalan adonan, gak pake ditimbang segala,"ucap saya dalam hati dengan pede. Melupakan fakta bahwa si abang sudah membuat adonan tepung seumur hidupnya sementara ini pertama kalinya bagi saya, jadi bagaimana saya tahu kekentalan adonan yang pas?

Selesai menuangkan tepung dengan jumlah seenak udel, dan mulai mengaduk adonan, saya mulai jengkel. Kenapa ini tepung menggumpal semua sih, sampai capek saya mengaduknya dengan garpu ("Beli mikser dong" -- Halah paling juga nggak kepake"). Saat dengan kesal saya melanjutkan mengaduk dengan emosi membuncah, si garpu mulai membengkokkan diri seperti korban Dedi Korbusier. Nasib pakai garpu murahan.

Saya baca di resep, sehabis diaduk lalu disaring agar tidak menggumpal. Berpikir-pikir apa lebih baik memakai saringan kamar mandi saja (akhirnya rencana dibatalkan karena saringan kamar mandi terlalu kecil).

Saya perhatikan, kenapa adonan saya putih ya warnanya, bukannya ijo kayak di contoh resep? Saya baca lagi resepnya, alamak ternyata air 200 ml itu ya air yang tadi dipakai untuk memblender pandan. Hadah, kebanyakan dong saya memasukkan air? Walau panik, saya mencoba tenang. Oke, berarti airnya kebanyakan 2 kali lipat, berarti saya harus menambah santan lagi dan sebutir telur lagi, jadi seolah saya membuat resep 2 kali lebih banyak. Saya tuangkan lagi tepung, mencoba mengaduk-aduknya walaupun gumpalan lumpur tetap terjadi di sana sini. Sial, adonan saya jadi tidak menyisakan bau pandan dan warnanya putih mangkak.

Di resep, panaskan adonan membentuk dadar di teflon selebar 6 inci. Saya mengibaskan tangan melecehkan, apa pentingnya sih info itu, suka-suka saya dong mau pake ukuran berapa (plus saya nggak tahu 6 inci tu seberapa). Saya tuang adonan, lalu saya tunggu apa yang terjadi. Adonannya meletup-letup seperti lumpur lapindo, tanpa ada tendensi untuk membentuk dadar. Ah, mungkin apinya kurang besar. Setelah api dibesarkan, adonan mulai berubah warna menjadi coklat, berbau terbakar, tapi tetap tidak membentuk dadar. Hm, otak saya yang tumpul baru mulai berputar, mungkin adonan saya kurang tepung, akibat mencemplungkan tepung tanpa ditimbang. Terpaksa kegiatan memasak dihentikan untuk mencuci si wajan yang sekarang berkerak gosong susah dihilangkan.

Singkat kata, saya berhasil menemukan takaran tepung yang cukup oke. Baru mulai menuangkan adonan, saya langsung menyesal. Resep ini berarti saya harus mendadar adonan satu demi satu, sampai semua tepung habis. Aduh, bosen banget.... Kenapa juga sih saya milih resep ini? Jadinya, jumlah adonan yang saya tuangkan ke teflon bervariasi. Ada yang setebal pancake, ada yang setipis telur dadar ala warteg. Bodo ah.

Ha, akhirnya selesai juga membuat dadar. Saatnya mengisi dengan kelapa (gampang tinggal kelapa dicampur gula merah) dan melipatnya. Lha kok nggak bisa dilipat ya dadar saya? Oalah, ternyata itu kenapa disuruh pakai wajan 6 inci, agar cukup lebar untuk dilipat. Kue dadar saya kecil-kecil, gimana mau dilipat? Plus ada dadar yang setebal buku kamus besar bahasa Indonesia, jadi jelas saja menolak untuk mengikuti kemauan saya.

Hmm, saya mulai berpikir, alasan apa yang harus saya ciptakan untuk menjelaskan kenapa bentuk kue saya antik begini. Daripada saya harus menerima hinaan sepanjang minggu. Ya udah, tinggal bilang si Sera gangguin aja nih, jadi nggak konsen.

Jreng jreng, saat Okhi pulang kerja, saya sajikan hasil karya saya. Dengan curiga dia mengendus-endus. Dan tentu saja dengan bawel berkomentar mengenai dadar saya yang beraneka bentuk, dan isinya keluar semua saat diangkat ("Jadi nih kita bawa kuenya untuk kebaktian? Jangan lupa bilang orang-orang, kalau mau ngangkat kuenya harus ekstra hati-hati atau isinya bakal berhamburan"). Dasar cerewet.

Memang hasil praktek saya lebih sering mengundang iba, seperti saat saya dengan congkak berkoar ke Okhi bahwa kami akan makan malam dengan Agedashi Tofu, dan terakhirnya Okhi bersenandung "Hidup memang kejam, hanya dikasih makan tahu sama kecap



Dan kemampuan matematika saya sering menjadi penghalang (lagi-lagi dengan congkak membeli ikan Red Snaper raksasa dan berkoar akan membuat ikan goreng utuh dengan saos coriander ala resto Thailand, dan saat memasukkan ikan ke dalam wajan yang sudah berisi minyak panas baru sadar, ternyata wajannya kekecilan untuk menampung si ikan bongsor. Dengan malu terpaksa memotong-motong si ikan di tengah derai tawa si dungdungpret yang sampai harus memegangi perutnya yang berguncang). Belum lagi disaat panik melihat kue yang saya panggang di oven terus mengembang tak terkendali (akibat meremehkan petunjuk resep untuk memakai tepung biasa- berhubung hanya punya tepung self-raising dan saya terlalu pelit untuk membeli tepung lain lagi)

Memasak adalah suatu seni. Dan lazimnya orang yang pintar dalam ilmu pasti, biasanya punya kemampuan seni yang jelek. Jadi mereka yang pintar dalam fisika, biasanya tidak bisa menggambar, merajut, atau ya memasak itu tadi. Oh wait, tapi nilai fisika saya dulu selalu hanya 30. Berarti ada alasan lain dibalik ketidakmampuan saya memasak. Yah, kalau saja alat masak saya tidak hanya terdiri dari panci peyok dan garpu bengkok, dan saya bisa menukar suami saya dengan pria yang lebih suportif.....