Bila ada notifikasi di pojok kiri atas layar FB kita, di siluet bayangan dua makhluk, berarti ada seseorang yang ingin menjadi teman kita. Tidak di dunia nyata, tapi di dunia maya. Dan tanggapan yang kita berikan ya nggak susah-susah amat. Kalau orangnya kita kenal, atau fotonya kayaknya caem, atau dia menyertakan message yang menjelaskan kenapa dia mau kenalan, biasanya dengan gampang kita klik tombol Confirm. Kalau orangnya enggak jelas asal-usul, bibit bebet bobotnya, atau dia masangnya foto telanjang dada (tapi kalau telanjang bawahnya masih dipertimbangkan), atau di kolom interestnya dia bilang suka Tarzan X, ya langsung saja pencet tombol Ignore dengan tegas.
Nah, yang membuat jari telunjuk saya terkatung-katung beberapa senti dari tombol Ignore atau Confirm, yang membuat saya termangu-mangu beberapa detik, sadar kelangsungan hidup dan pekerjaan saya akan tergantung dari pilihan yang saya ambil, adalah saat yang ingin berteman dengan saya: emak, bapak, mertua, bos, dan orang-orang lain yang saya cintai, tapi tidak pernah saya pertimbangkan sebagai seorang teman.
Sebuah artikel di mX (tabloid gratisan yang dibagikan di stasiun di Melbourne) sempat membahas masalah ini. Si penulis menceritakan dilema yang dia hadapi saat emaknya 'ingin jadi teman'. Nah lo, dua hari dua malam dia sibuk mikir-mikir. Menolak berteman, berarti cari masalah. Emaknya pasti protes, dan mungkin tersinggung, dan mungkin sakit hati. Menjadi teman, berarti mengijinkan sang emak mengintip ruang pribadinya, yang selama ini kalau bisa jangan sampai deh ketahuan. Saat akhirnya si penulis dengan enggan mengklik tombol Confirm untuk ibunda tercinta, beberapa hari kemudian emaknya syok berat, saat melihat foto di wall si anak yang menunjukkan adik laki-laki si penulis yang terbaring di tanah, masih dalam toga kelulusannya, tertutup muntahannya sendiri; mabuk berat sehabis pesta kelulusan. Sementara bagi si adik dan teman-temannya foto itu funny and hilarious, buat si emak, pastinya ngenes juga melihat si Golden Boy kok bentuknya kayak drunken homeless guy gitu. Padahal untuk anak muda bule di Australia, once in a while pasti pernah mabuk, not big deal for them.
Saya juga pernah mikir-mikir saat harus meng-approve permintaan emak saya. Bukan, saya sih enggak pernah mabuk, wong ya saya sudah bukan Abege dan sudah menderita rematik, tapi facebook saya kan isinya interaksi saya dengan teman-teman saya. Sama saja dengan yang saya bicarakan dengan teman disaat orang tua kami ada di samping kami("Katanya si Tono mau nikah bulan depan. Pacarnya masih SMA tapinya"), tentu berbeda dengan yang kami obrolkan saat orang tua kami berjarak 1000 kilometer jauhnya ("Buset si Tono, mau kawin sama anak playgroup. Dasar pedofil. Semoga ketahuan Komisi Perlindungan Anak").
Kalau sudah begini, saya salut pada seorang teman saya, sebut saja namanya Sokar. Dia tidak membedakan jenis pembicaraan walau ada orangtua yang hadir. Suatu hari, si Sokar menelpon ke rumah si Tolpen (keduanya berjenis kelamin laki-laki). Yang menerima telepon kebetulan bapaknya si Tolpen (yang suaranya mirip sekali dengan Tolpen).
Sokar : Bisa bicara dengan Tolpen?
Bapak : Dari siapa?
Sokar : Dari pacarnya ...(mengira yang menerima telpon ya si Tolpen sendiri)
Bapak : Kok pacarnya laki laki ?Sokar : Lha nggak tau ta ??? Tolpen itu hooomooo....
Bapak : Membisu selama beberapa menit (syok kali) dan kemudian langsung beranjak memanggil anaknya
Sokar : Uh oh......... (mulai menyadari sepertinya dia sudah membuat kesalahan besar)
Tolpen : Woi ndul, kamu ngomong apa ke Bapakku??????? %$#@%($^&$#^(%$
Di salah satu status saya yang kemudian ditaburi komentar teman-teman jaman SMA saya, saya menuduh seorang teman sebagai 'juragan film buku stensilan'. Kami semua tertawa terbahak-bahak, kata LOL bertaburan dimana-mana, saat kami bernostalgia masalah stensilan XXX ini. Tapi coba misalnya si teman yang dituduh juragan bokep ini berteman dengan emaknya, dan emaknya membaca status ini, kan jadi berabe. Apa nggak mbrebes mili mengetahui anak laki-laki kebanggaannya, yang sekarang sudah jadi dokter, ternyata mesum dan bertanggung jawab terhadap peredaran stensilan di kelas dulu (oh ayolah, anak cowok remaja once in a while ya pasti pernah terpapar hal itu).
Atau misalnya mertua saya meminta jadi teman saya di FB (alhamdulilah itu belum terjadi), berakhir sudah kesenangan saya mengata-ngatai suami saya itu penjelmaan siluman kungkang, dan mana berani saya menulis status seperti beberapa hari yang lalu, yang menyatakan saya sih enggak peduli apakah hatinya Okhi masih milik saya, selama gajinya masih menjadi milik rekening bank saya. Sementara Okhi hanya akan bereaksi tidak peduli pada status saya itu, dan teman-teman saya akan senang karena bisa ikut serta dalam 'rally menghina si kungkang', bagi ibunya yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan, yang bangganya setengah mati pada si Tole yang sekarang jadi imigran (gelap) di Oz, kan ya saya langsung dicap menantu haram jadah.
Suatu hari, saya melihat foto seorang teman yang berpose di depan patung-patung tembaga hitam kelam. Saya sudah siap memberi komentar "Gue tau kenapa lu memilih foto di depan patung2 item, biar lu disangka putih kan?". Eh, sebelum saya bisa memposkan komen itu, mamanya dia berkomentar duluan "Aduh cantiknya anak mama...". Yah, mana berani saya melawan emaknya.
Bahkan untuk mereka yang tidak sejahat dan seculas saya, yang wall nya diisi status dan komentar yang lebih santun, mengetahui bahwa orang tua kita bisa membaca wall kita dan 'mengawasi tindak tanduk kita' kemungkinannya akan menimbulkan perasaan bagaimana begitu. Habis terkadang ortu susah mengerti, anaknya tuh udah besar, udah tua dan bangkotan, udah punya anak juga malah.
Itu baru orang tua, sekarang bagaimana kalau bos kita yang kebelet berteman dengan kita? Kalau misalnya dia tu supervisor kita yang muda belia, mungkin masih agak oke. Lha kalau yang mau berteman Senior Manager yang tampangnya serius selalu, kan ya bikin hati dag dig dug ser.... Seperti teman saya yang misuh-misuh disuatu hari. Jadi, dahulu di perusahaan saya itu ada acara jalan-jalan melihat pasar, supermarket. Maksudnya biar kita tahu bagaimana produk kita di pasaran, mengamati, dan mungkin mewawancarai para konsumen. Karena kami masih muda, acara ini sering melenceng menjadi acara JJS dan makan siang bareng, walau misi aslinya tetap dilaksanakan sih. Sambil menyelam minum air. Nah, seorang teman saya itu senang sekali pamer di FB, bahwa di acara meninjau pasar kali ini, dia bisa makan siang sama temannya, atau sekalian dapat sepatu cantik saat meninjau ke supermarket di mall. Suatu saat, ia mendapat request cinta dari si manager. Haha, berakhir sudah kesenangannya pamer acara membolosnya.
Dan sebetulnya, bos itu kan memang sudah ditakdirkan untuk kita kata-katain di belakang punggungnya dan kita sumpah-sumpahin biar dipatil ikan lele, karena kita tidak punya kuasa untuk memarahi mereka terang-terangan. Kata pepatah bijak, kewenangan bos adalah memerintah dan memarahi. Hak karyawan adalah menyumpahi dan mengata-ngatai. Begitu bos menyuruh membuat suatu desain yang harus jadi besok pagi (yang berarti kita harus merelakan bantal tidak tersentuh malam ini), langsung FB menjadi sarana menumpahkan kejengkelan. "Dasar bos keturunan drakula, lu pikir gue kagak perlu tidur kayak elu apa?" Nah, kalau si bos itu teman kita, masak ya di FB kita juga harus jaim"Diberi kesempatan oleh bos untuk membuat waktu tidur saya lebih produktif dan bermanfaat, terima kasih banyak Pak...."
Ini saya kategorikan bagai makan buah simalakama. Apapun keputusan yang diambil, bakal ada sisi nggak enaknya. Kalau si penulis di mX tadi, dia approve emaknya, tapi tanpa emaknya sadari dia memberi batasan pada apa yang bisa emaknya lakukan di FB nya (dalam kasus emaknya lebih terbelakang dalam hal teknologi). Atau dalam kasus adik si penulis, dia dengan tegas menolak siapapun dari keluarganya untuk menjadi temannya (dalam kasus sudah tidak mengharapkan dapat warisan). Atau dalam kasus saya, saya berteman dengan emak saya, tapi dengan perjanjian enggak boleh kasih komentar lebay, dan saya boleh menghapus komennya yang saya anggap membuat malu saya (dalam kasus masih mengharap warisan tapi kok ya saya juga rada dodol soal internet, nggak tahu caranya memblok emak saya).
Untungnya saya kebetulan tidak tertarik mengeluh atau menggunjingkan pekerjaan dan bos saya di FB (karena saya akan langsung ngomel panjang lebar di kantor atau di telinganya si Okhi), jadi siapapun bos yang mau berteman dengan saya sih tidak masalah. Kalau saya mau membolos biar bisa nonton bioskop siang-siang, ya saya nggak akan pamer pada siapapun. Karena saya senang dianggap rajin dan berdedikasi.
Walau risih juga kalau dia kebetulan buka-buka album foto saya dan melihat foto saya dalam baju renang. Tapi bagi saya, FB saya ya milik saya. Kalau bos saya risih sama foto dan cara saya menulis status, ya itu urusan dia, siapa suruh jadi teman saya.
Note : kenapa juga sih seorang bos, yang di kantorpun hubungannya dengan si anak buah hanyalah hubungan profesional (nggak pernah nongkrong bareng atau beli gorengan bareng) kok pake acara kepingin berteman dengan anak buahnya? Heran....
No comments:
Post a Comment