Monday 4 July 2011

My Monday Note -- Dare To Eat My Cook?

Ada satu status di FB yang bisa membuat bibir saya mencibir lebar sekali. Ceritanya si istri membuatkan masakan untuk suaminya. Dan dipajanglah foto si masakan itu dengan kalimat "Khusus dibuat untuk papa". Foto masakan itu saja sudah membuat saya mulai mencibir. Lalu suaminya, sebagai lazimnya pria normal yang tidak sebodoh itu untuk mencari perkara dengan mencela istrinya, memuji masakan sang istri yang dikatakannya sangat lezat bagi lidahnya yang selama seminggu bosan makan masakan Padang melulu karena dinas luar. Cibiran saya bertambah lebar 2 sentimeter. Nah, balasan sang istrilah yang kemudian berhasil membuat mulut saya monyong 5 meter. "Padahal itu asal aja lho bikinnya, hanya asal cemplang cemplung bahan yang ada di kulkas."

Bagi para sahabat saya, tentu sudah jelas alasan kenapa saya memonyongkan bibir saya. Bagi mereka yang beruntung karena tidak menjadi sahabat saya, ini alasan kekesalan saya. Pertama, foto masakan itu tampak mengundang selera, dan memang tampak lezat. Bete dong hati saya, yang seumur hidup tidak pernah bermimpi untuk berani memajang foto hasil masakan saya. Yang kedua, balasan sang suami yang bangga akan hasil karya sang istri. Pastinya saya sirik, karena suami saya selalu menyediakan obat diare setiap hendak makan malam. Dan yang utama, komentar si istri bahwa masakan lezat itu hasil karya 'asal-asalan'. "Hah, dasar tukang bohong," kata suara hati saya yang pendengki. Saya saja, yang sudah mempersiapkan bahan-bahan masakan yang aneh-aneh (coriander, thyme, lilydale free range chicken) dan dengan seksama memperhatikan buku resep, hasil masakannya hanya bisa dimakan dalam satu suapan besar sekaligus, dengan memencet hidung dan menyediakan segalon air putih untuk mengguyur tenggorokan.

Perkenalan saya dengan dunia memasak dimulai saat saya tinggal berdua saja dengan Okhi di Jatiasih, sehabis kami menikah. Memasak menjadi cara kami untuk menghemat anggaran makan, dan menghindari kebosanan makan di luar melulu. Yap, makan di luar memang asyik, tapi lama2 bosan juga dengan menunya yang itu-itu saja. Mau mencoba restoran aneh-aneh, duitnya cekak. Waktu itu, karena kami berangkat kerja jam enam pagi dan kembali ke rumah paling cepat jam enam sore, jadi memasaknya ya menu-menu biasa sajalah, semacam sayur bening bayam dan goreng tempe. Soal rasa, nggak kalah enaknya sama bayam dan tempe mentah.

Setelah kami pindah ke Melbourne, acara memasak bagi saya memasuki dimensi yang lain. Kalau dulu masih memungkinkan beli soto mie di abang2 seharga 5000 perak, disini restoran paling murah adalah sekelas McD atau KFC. Kalau kangen pingin makan nasi goreng atau ayam bakar, kocek harus dikuras sedalam-dalamnya. Makan diluar dengan menu nasi ayam penyet dengan teh tarik segelas kecil saja akan menghabiskan 30 dolar. Jadi dari yang tadinya memasak itu 'disarankan' bagi rumah tangga kami, sekarang menjadi 'diwajibkan'.

Nah, karena si Serafim diusir sama Childcare nya karena terlalu ribut, jadilah saya menghabiskan hari-hari saya di rumah menjadi babunya Sera. Lama-lama jenuh juga hanya masak brokoli rebus. Mulailah saya berusaha memasak menu yang lebih 'manusiawi'. Saya mencoba mencari resep di internet. Dan langsung bete sama blog-blog resep yang dibikin orang Indonesia. Tambahkan 2 batang sereh, lengkuas, daun salam. Edan apa, sebatang sereh harganya 2 dolar di sini, plus dimana juga saya harus nyari yang namanya daun salam? Mau bikin makan siang aja kok rumit banget. Kata bloggernya, ya salah siapa bergaya tinggal di negara bule tapi lidah masih ala Sidoarjo.

Tapi, karena kepandaian saya, akhirnya saya menemukan satu blog yang paling sesuai dengan kebutuhan saya dan kondisi di Oz. Dibuat oleh orang asli Malaysia (jadi banyak resep kue tradisional), Chinese descendant (jadi banyak resep masakan Cina yang simple), kawin sama orang Belanda (jadi banyak resep Eropa, masakan sudah tinggal di Oz kagak bisa caranya mengolah kentang) dan tinggal di Sydney (jadi nggak sembarangan nyuruh bikin resep dengan daun sereh selusin).

Beberapa resep yang sangat sederhana berhasil saya contek dengan sukses, seperti panggang ala cina (ya iyalah, wong hanya daging dikasih saos Cina yg bisa dibeli botolan, tambahin merica garam, masukin oven sejam. Anjing saya saja bisa masaknya). Maka, karena saya punya kadar kepercayaan diri sangat tinggi, disuatu siang saya memutuskan akan membuat kejutan untuk Okhi, yang selalu mencela masakan saya. Saya mau bikin mi vietnam ala Pho dan kue dadar gulung kelapa. Bahkan saya sesumbar ke Okhi, kue ini nanti akan bisa saya bawa untuk cemilan di gereja.

Rencana itu, sudah ditakdirkan untuk gagal sejak awal. Yang pertama, untuk orang dengan pengalaman memasak hanya terbatas pada membuat telur ceplok, betapa stupidnya mencoba dua resep baru sekaligus. Untuk membuat mi vietnam, saya mulai dengan merebus ayam untuk membuat kaldu (saya sudah membaca resepnya berminggu-minggu yang lalu). Setelah ayam selesai direbus, dan tiba saatnya mencemplungkan bumbu lain, saya kelimpungan. Saya yakin saya sudah membeli kayu manis, tapi kok bungkusannya raib? "Seraaaaaa," teriak saya. "Mana bumbu mama? Pasti kamu yang ngumpetin!" Sera, cuek dan nggak peduli. Saya menghibur diri, it's ok lah kekurangan satu bumbu.

Lalu saya baca lagi resepnya (saya pede bahwa saya sudah hapal resepnya). Wait a minute, kok ada bumbu cardamom (what the heck is that?), terus ada air jeruk nipis (saya tahu sih bentuknya, tapi saya nggak punya satupun). Oh ya ampun, dari maunya bikin Mi Vietnam saya terancam sekedar bikin sop ayam. Langsung ilfil melanda. Kesalahan kedua, merasa bisa menghapal resep sesudah 3 minggu berlalu.

Okelah, saya menghibur diri bahwa saya masih punya satu resep lagi untuk dicoba. Kue dadar gulung isi kelapa. Untuk yang ini, saya bahkan sudah berhasil menemukan daun pandan (2 dolar isi 4 helai, pemerasan!). Nah, karena saya punya balita yang mudah jemu, saya membuat resep ini secara bertahap. Tahap pertama, memotong daun pandan (sambil mencium2nya, kok nggak wangi ya, jangan2 saya ditipu) lalu menambahkan air 200 ml, dan masukkan ke blender (blender kinyis-kinyis yang saya beli 50 dolar-- congkak merasa alat masak sudah lengkap). Lalu, langkah berikutnya, saring dan ambil saja airnya. Clingak clinguk karena nggak punya saringan, akhirnya saya ambil saja tisyu kertas dan saya saring. Mulai berantakan.

Lalu si Ratu Kidul mulai ngak ngik ngok minta bobok siang. Oke, saya tinggalkan dulu dapur untuk memenuhi amanat kanjeng ratu. Selesai menidurkan Sera, saya lanjutkan lagi memasak. Kedalam air pandan tadi, tambahkan air 200 ml, santan 100 ml, 1 telur, 120 g tepung. Dengan pede saya memasukkan 200 ml air, 100 ml santan (pake gelasnya Sera yang ada takarannya). Sebutir telur saya cemplungkan. Plung. Nah, masalah tepung agak gawat. Saya tidak punya timbangan akibat kepelitan suami ("Beli timbangan dong" -- "Lha kenapa gak pake timbangan badan di kamar mandi?").

"Ah, abang gorengan di depan kantor dulu saja menakar tepung hanya dengan melihat kekentalan adonan, gak pake ditimbang segala,"ucap saya dalam hati dengan pede. Melupakan fakta bahwa si abang sudah membuat adonan tepung seumur hidupnya sementara ini pertama kalinya bagi saya, jadi bagaimana saya tahu kekentalan adonan yang pas?

Selesai menuangkan tepung dengan jumlah seenak udel, dan mulai mengaduk adonan, saya mulai jengkel. Kenapa ini tepung menggumpal semua sih, sampai capek saya mengaduknya dengan garpu ("Beli mikser dong" -- Halah paling juga nggak kepake"). Saat dengan kesal saya melanjutkan mengaduk dengan emosi membuncah, si garpu mulai membengkokkan diri seperti korban Dedi Korbusier. Nasib pakai garpu murahan.

Saya baca di resep, sehabis diaduk lalu disaring agar tidak menggumpal. Berpikir-pikir apa lebih baik memakai saringan kamar mandi saja (akhirnya rencana dibatalkan karena saringan kamar mandi terlalu kecil).

Saya perhatikan, kenapa adonan saya putih ya warnanya, bukannya ijo kayak di contoh resep? Saya baca lagi resepnya, alamak ternyata air 200 ml itu ya air yang tadi dipakai untuk memblender pandan. Hadah, kebanyakan dong saya memasukkan air? Walau panik, saya mencoba tenang. Oke, berarti airnya kebanyakan 2 kali lipat, berarti saya harus menambah santan lagi dan sebutir telur lagi, jadi seolah saya membuat resep 2 kali lebih banyak. Saya tuangkan lagi tepung, mencoba mengaduk-aduknya walaupun gumpalan lumpur tetap terjadi di sana sini. Sial, adonan saya jadi tidak menyisakan bau pandan dan warnanya putih mangkak.

Di resep, panaskan adonan membentuk dadar di teflon selebar 6 inci. Saya mengibaskan tangan melecehkan, apa pentingnya sih info itu, suka-suka saya dong mau pake ukuran berapa (plus saya nggak tahu 6 inci tu seberapa). Saya tuang adonan, lalu saya tunggu apa yang terjadi. Adonannya meletup-letup seperti lumpur lapindo, tanpa ada tendensi untuk membentuk dadar. Ah, mungkin apinya kurang besar. Setelah api dibesarkan, adonan mulai berubah warna menjadi coklat, berbau terbakar, tapi tetap tidak membentuk dadar. Hm, otak saya yang tumpul baru mulai berputar, mungkin adonan saya kurang tepung, akibat mencemplungkan tepung tanpa ditimbang. Terpaksa kegiatan memasak dihentikan untuk mencuci si wajan yang sekarang berkerak gosong susah dihilangkan.

Singkat kata, saya berhasil menemukan takaran tepung yang cukup oke. Baru mulai menuangkan adonan, saya langsung menyesal. Resep ini berarti saya harus mendadar adonan satu demi satu, sampai semua tepung habis. Aduh, bosen banget.... Kenapa juga sih saya milih resep ini? Jadinya, jumlah adonan yang saya tuangkan ke teflon bervariasi. Ada yang setebal pancake, ada yang setipis telur dadar ala warteg. Bodo ah.

Ha, akhirnya selesai juga membuat dadar. Saatnya mengisi dengan kelapa (gampang tinggal kelapa dicampur gula merah) dan melipatnya. Lha kok nggak bisa dilipat ya dadar saya? Oalah, ternyata itu kenapa disuruh pakai wajan 6 inci, agar cukup lebar untuk dilipat. Kue dadar saya kecil-kecil, gimana mau dilipat? Plus ada dadar yang setebal buku kamus besar bahasa Indonesia, jadi jelas saja menolak untuk mengikuti kemauan saya.

Hmm, saya mulai berpikir, alasan apa yang harus saya ciptakan untuk menjelaskan kenapa bentuk kue saya antik begini. Daripada saya harus menerima hinaan sepanjang minggu. Ya udah, tinggal bilang si Sera gangguin aja nih, jadi nggak konsen.

Jreng jreng, saat Okhi pulang kerja, saya sajikan hasil karya saya. Dengan curiga dia mengendus-endus. Dan tentu saja dengan bawel berkomentar mengenai dadar saya yang beraneka bentuk, dan isinya keluar semua saat diangkat ("Jadi nih kita bawa kuenya untuk kebaktian? Jangan lupa bilang orang-orang, kalau mau ngangkat kuenya harus ekstra hati-hati atau isinya bakal berhamburan"). Dasar cerewet.

Memang hasil praktek saya lebih sering mengundang iba, seperti saat saya dengan congkak berkoar ke Okhi bahwa kami akan makan malam dengan Agedashi Tofu, dan terakhirnya Okhi bersenandung "Hidup memang kejam, hanya dikasih makan tahu sama kecap



Dan kemampuan matematika saya sering menjadi penghalang (lagi-lagi dengan congkak membeli ikan Red Snaper raksasa dan berkoar akan membuat ikan goreng utuh dengan saos coriander ala resto Thailand, dan saat memasukkan ikan ke dalam wajan yang sudah berisi minyak panas baru sadar, ternyata wajannya kekecilan untuk menampung si ikan bongsor. Dengan malu terpaksa memotong-motong si ikan di tengah derai tawa si dungdungpret yang sampai harus memegangi perutnya yang berguncang). Belum lagi disaat panik melihat kue yang saya panggang di oven terus mengembang tak terkendali (akibat meremehkan petunjuk resep untuk memakai tepung biasa- berhubung hanya punya tepung self-raising dan saya terlalu pelit untuk membeli tepung lain lagi)

Memasak adalah suatu seni. Dan lazimnya orang yang pintar dalam ilmu pasti, biasanya punya kemampuan seni yang jelek. Jadi mereka yang pintar dalam fisika, biasanya tidak bisa menggambar, merajut, atau ya memasak itu tadi. Oh wait, tapi nilai fisika saya dulu selalu hanya 30. Berarti ada alasan lain dibalik ketidakmampuan saya memasak. Yah, kalau saja alat masak saya tidak hanya terdiri dari panci peyok dan garpu bengkok, dan saya bisa menukar suami saya dengan pria yang lebih suportif.....

No comments:

Post a Comment