Monday 28 March 2011

My Monday Note -- Semangat Ala Kecoak

Suatu hari, teman saya Pharmasinta (iya, yang sering disebut2 namanya sama Okhi pas lagi menggigau) bilang " Ternyata semangat ala kecoakmu itu turunan ya Meg."

Saya garuk-garuk dengkul. Kalau dibilang saya item mirip kecoa, atau baunya bacin kayak kecoa, atau bikin eneg kalau dilihat kayak kecoa sih saya sudah biasa. Semangat ala kecoak? Apaan tuh? Setelah googling (yeah, I'm an internet freak), kira-kira definisi Semangat Kecoak adalah kemampuan untuk berjuang dan bertahan hidup. Setelah Hiroshima dibom atom sama Uda Sam, ternyata yang bisa bertahan survive di tengah radiasi ya gerombolan para kecoak yang terhormat. Keren ya, senjata pemusnah massal ala nuklir saja tidak mampu membunuh seekor kecoak. Beliau hanya bisa dicabut helaian nyawanya dengan senjata yang lebih mematikan dan canggih. Tepokan sandal jepit tepat di jidatnya.

Berpikir-pikir soal ke-kekeuhan berjuang dalam hidup, ada dua orang dalam hidup saya yang menurut saya punya semangat Gambate. Yang pertama, Bapak saya tercinta Sulardi. Seluruh perjalanan hidupnya adalah perjuangan tiada henti (kok kayak narasi perjuangan Palagan ambarawa ya?).

Dimulai dari kelahirannya. Dia anak kesepuluh dari sepuluh bersaudara. Mbakyunya aja setiap malam mendoakan "Le..le... mbok yo wis mati wae..." karena kasihan melihat bentuk si bayi yang kurus kering dan napas yang istilahnya si Mbakyu 'sentik-sentik'. Eh, ternyata Bapak saya bertahan hidup lho, malah sekarang jadi tambun.

Lalu, dia sekolah di desa. Sumpah, desanya Papa itu terbelakang banget. Sekolahnya juga ya gitu deh. Rapot SD nya, naudzubilah jeleknya. Sampai simbah harus membelikan bolpen merah buat pak guru untuk mengukir rapot anaknya, karena dana BOS hanya bisa mengcover pembelian tinta warna hitam dan ijo. Alasannya bapak sih karena dia kurang gizi ("Papa dulu, satu telur dimakan dibagi berlima" ) dan sibuk di sawah ("Papa kemana-mana naiknya kebo, nggak kayak kamu minta dibeliin mobil" - omelannya saat menyerahkan kunci Yaris merah untuk saya). Tapi kok ya syukurnya dia bisa naik kelas, walau saya curiga hal itu dikarenakan pak gurunya takut diseruduk si kebo yang ditambatkan di depan kelas.

Ajaibnya, dengan modal ijazah ndeso (nama desanya Tlingsing, GPS saya saja sampai berasap berusaha menemukan lokasi si desa yang mbelesek) dan rapot yang kayak kebakaran hutan, Papa bisa masuk UGM. Gile nggak?? Di UGM pun, ya itu tadi, IPK nya sih bisa menyentuh angka 3, kalau hasil IPK semester 1 sampai 5 digabungkan trus dipangkatkan 3.

Saya baru menyadari betapa uletnya Bapak saya itu saat dia mau mengambil program Doktor di Universitas Brawijaya. Suatu hari, dia datang pada saya minta diajari menjawab soal tes. Jadi sebelum masuk program doktor ini ada semacam tes TPA. Saya lihat soal matematika semacam 1/2 dikali 1/4 berapa hayo? Atau akar pangkat 4 berapa ya kira-kira? Lima menit setelah saya mencoba menerangkan, dengan bersungguh-sungguh saya katakan padanya "Pah, kalau dosennya nawarin papa boleh masuk gak harus tes, tapi harus nyogok 1 milyar, papa bayar aja deh."

Walau punya anak durhaka semacam saya, Papa tidak menyerah, Dengan semangat membuncah, di usianya yang sudah amat sangat tidak remaja lagi, dia tekuni soal-soal sulit itu. Mungkin benar kata pepatah, dimana ada kemauan, disitu ada tikungan. Eh, Papa bisa masuk program doktor itu lho. Mulailah perjalanan panjang penuh onak, duri, dahan, ranting. Setiap malam, sepulang kerja, Papa menggelar tumpukan diktat dan buku di meja makan. Tingginya tumpukan buku hampir setinggi adik saya yang kuntet. You may not know, tapi otaknya Bapak saya itu rada-rada karatan. Kalimat yang orang lain butuh dua kali membaca untuk memahami, dia butuh 20 kali 7 kali membaca. Ditambah mandi kembang tujuh rupa. Apa yang dia lakukan? Dia membaca satu kalimat 150 kali. Enggak pake mandi kembang tapinya.

Kadang, kalau dia lagi frustasi karena otaknya mampet, dia menoleh ke arah emak saya yang lagi asyik makan kuaci sambil nonton pilem. "Mama itu lho, gak pernah belajar tapi kok ya nilainya selalu A.." For your information, emak saya itu kebalikan 360 derajat dari bapak saya (terbukti kan saya anaknya bapak saya?). Dia males sekali, gak tekun blas, tapi otaknya brilian. Saat itu, emak sedang mengambil program S2, tapi hanya buka buku sejam sebelum ujian. Emak biasanya hanya memandang tanpa minat dan melanjutkan nonton. Mungkin sulit bagi emak untuk mengerti penderitaan para dumber karena seumur hidup dia tidak pernah perlu belajar.

You may say I'm a liar, tapi Bapak saya berhasil lulus jadi Doktor. He is the first person in his office yang bertitel doktor. Dan hebatnya, dia dapat nilai kumlaud. Itu upahnya tidur hanya 3 jam setiap hari. Sementara saya yang kayaknya lebih pinter dari dia, nilainya ke laut. Itu upah tidur 12 jam setiap hari. Sementara koala hanya berakhir menjadi binatang overweight. Itu upah bagi yang tidur 20 jam setiap hari.

Kalau ditanya, kemampuan apa yang paling sulit dipelajari saat kita sudah dewasa, salah satunya mungkin Bahasa. Karena saya belajar Bahasa Inggris sejak SD, kemampuan inggris saya lumayan lah. Saat kuliah, saya mencoba memulai belajar bahasa Perancis. Jadinya seperti mencoba menulis di atas air. Hanyut melulu deh ilmunya. Sampai sekarang saya hanya ingat kata Ouiii... Malu deh, padahal tante saya, Rusmala tinggalnya di Prancis (sekalian pamer bahwa tidak semua sodara saya kerjaannya hanya mancing ikan dari jembatan Suramadu) dan sepupu saya Conchyta baru aja jadi lulusan terbaik sastra Prancis (sekali lagi pamer bahwa sodara saya tidak hanya bisa bahasa Jawa dan Madura semua).

Salah satu obsesi bapak saya adalah bisa bercas cis cus dalam bahasa Inggris. Jaman kecilnya dia, boro-boro bahasa Inggris, mereka masih menulis di atas batu sabak. Iya itu, sepupunya kertas papirus.  Segala cara dia coba agar bisa menggapai obsesinya itu. Kursus bahasa inggris dijabanin, beli berbagai kamus dilakoni, nekat ngobrol sama bule pun dilakukan. Hasilnya memang jauh dari memuaskan sih. Sampai suatu hari saya perhatikan di meja makan ada kertas kecil tertempel bertuliskan 'table'. Saya tidak ambil pusing. Keesokan harinya di kursinya gantian ada tulisan 'chair'. Lalu di tangga. Lalu di lemari pakaian. Lalu di pintu. Lalu di jendela. The list goes on and on.... 

Orang kedua yang mirip kecoa adalah adik saya, Dionvy. Saya ingat saat dia datang ke saya menunjukkan naskah novel Icylandar. Saya baca, bagus banget. Saya tepuk-tepuk kepalanya kayak anjing spaniel. "Good dog..". That's it.

Tapi ternyata adik saya punya tekad lain: naskah ini harus diterbitkan. Mulailah perjuangannya menjelalah ibukota, dari satu penerbit ke penerbit lainnya. Ditolak mentah-mentah. Ditolak penerbit pertama karena naskahnya kumel. Yang kedua karena tampangnya adik saya yang kucel. Ketiga, gak ada pangsa pasarnya. Keempat, genre fantasi tu lesu. And so on and so on.... Kalau saja itu saya, ya udah, saya jadikan saja naskah itu ganjalan pintu.Plus saya kirim bom antraks ke rumah para penerbit itu.

Tapi karena adik saya itu cockroach wannabe, walau sambil menangis, mengumpat dan meratap, dia kasak-kusuk mencari cara. Setelah emak dan bapak bilang mereka cukup kaya untuk membiayai ongkos cetak bukunya (hasil nongkrong jualan singkong satu kuintal di depan rumah), mulailah perjalanan gerilya adik saya. Pertama, dia merekrut sepupu saya Chandra untuk membantunya menggambar. Waktu itu belum ada bayangan bagaimana jalannya untuk menerbitkan kertas HVS kumel menjadi novel ala Hari Puter. Dari Chandra, adik saya bertemu Mario yang kemudian menggambarkan cover yang untungnya jauh lebih indah dari bentuk wajah penggambarnya. Kemudian, dia bertemu layouternya (sebelumnya dia bahkan tidak tahu apa itu layouter).

Itu dari segi naskah. Lalu bagaimana dari segi bisnis? Dia pelajari dengan tekun, dan sampailah pada pengetahuan dia harus bikin CV, bukan Curicullum Vitae lho, tapi yang sodara tirinya Perseroan Terbatas itu, dia harus mendaftarkan bukunya ke ISBN (gue kagak ngarti hewan apa itu), dia harus menemukan distributor and so on and so on. Kalau mau baca lebih jelas, baca aja di note nya dia. Saya yang hanya mbaca aja capek, apalagi disuruh nulisin disini. Ogah ah.

And now, naskah yang diragukan itu sudah terjual tiga digit (em, ribuan itu 3 atau 4 digit sih?) dalam tempo 3 bulan saja. Dan dia sudah bersiap untuk naskah yang kedua.... Guys, kemampuan menulis saya jauh lebih baik dari adik saya, tapi ketekunan saya minus, hehehe. Jadi dialah yang berhak mengklaim jadi penulis novel best-seller. Gak papa, kalau dia kaya kan saya juga kecipratan (semoga..).

MESTAKUNG - Semesta Mendukung mereka yang mengerahkan segenap upaya

Bisa dibilang adik saya ini beruntung. Dia punya otak pinter ala mama saya. Kata bude saya Retno  yang seorang guru matematika, mengajar dimensi 3 adik saya itu butuh 10 menit. Mengajar Kresentia sepupu saya yang jadi dukun beranak di puskesmas, butuh 20 menit. Mengajar saya ya kira-kira butuh satu menit lebih seminggu lah. Dan adik saya punya ketekunan ala papa saya. Demi membuat buku tentang ASI, dia ikut kursus konselor ASI.

Saya? Saya sudah cukup puas menjadi contoh nyata bahwa hidup itu tidak selalu adil.  

No comments:

Post a Comment