Minggu lalu, saya baru saja kedatangan segerombolan keluarga saya. Mereka datang kemari dengan alasan terlanda kangen berat pada Serafim, tapi tentu saya curiga bahwa alasan aslinya ya karena pingin jalan-jalan dan ngegerecokin saya. Karena ini yang kedua kalinya saya kedatangan rombongan keluarga, setelah bulan lalu keluarga Okhi yang datang berkunjung, maka rasanya saya dan Okhi sudah lebih siap dalam menservice para tetua ini.
Rombongan para wanita tua yang terdiri dari tante saya yang tua, emak saya yang jelita (takut dicoret dari daftar warisan), bude saya yang kuno dan embah saya yang uzur menginjakkan kaki di bandara Melbourne pada hari Kamis. Rencana saya, keesokan harinya, di hari Jumat, langsung saya geber mereka untuk menyambangi Victoria Market atau biasa disingkat Vicmart, pusat belanja oleh-oleh dengan harga miring. Note penting, harga miringnya Australia ya tetap saja mahal saat dikurskan ke rupiah. Jadi kalau belanja enggak usah mencoba mengkonversi 10 dolar itu berapa rupiah, daripada anda stres, sakit hati, dan jadinya ngutang ke saya :D.
Pemikiran saya, dari pengalaman saat menjamu keluarganya Okhi, setelah mereka menghabiskan seharian berputar- putar di Vicmart dan beberapa toko suvenir lainnya, di hari terakhir ternyata kami masih harus balik lagi ke Vicmart. Ada saja yang kelupaan, kaos untuk si anulah, gantungan kunci untuk si onolah. Jadi lebih baik, saya ajak saja emak- emak tua ini ke Vicmart di hari pertama, biar mereka bisa memilih dengan asyik, dan kami masih mempunyai spare waktu. Yakin deh, pasti nantinya bude saya bakal bilang harus balik lagi ke sana gara- gara kaos untuk si Inu kelupaan (dalam pemikiran saya, kalau emang si Inu itu tidak terlintas di pikiran, berarti kan ya si Inu itu enggak penting, dan karena si Inu enggak penting, ya ngapain juga repot- repot dikasih oleh- oleh. Benul nggak?)
Cerita punya cerita, meskipun saya sudah mengagendakan hari pertama kedatangan keluarga saya untuk ke Vicmart, tapi ternyata rencana tersebut tidak kesampaian. Penyebabnya, karena kami menghabiskan waktu di hari Jumat untuk muter- muter mencari toko yang menjual dan menyewakan baju khusus untuk ke salju. Iya, ini rombongan orang katrok dari Surabaya ini memaksa mau lihat salju. Bete kan? Salju tuh ya sama saja dengan es di freezer, jadi tempelin aja jidat di dalam freezer kalau penasaran. Oke, karena Jumat kami gagal ke Vicmart, sementara hari Sabtu, Minggu dan Senin sudah diplot untuk acara yang lain seperti ke Philip island, ke gunung salju dan muter- muter kota, terpaksa acara ke Vicmart mundur sampai hari Selasa.
Nah, bude, tante dan embah saya sih menikmati acara muter- muter itu. Tapi, beberapa kali si bude tua mengutarakan kekuatirannya bahwa jangan- jangan nantinya kami tidak sempat berbelanja suvenir. "Kita pasti sempat beli kan ya?" berulang kali si bude bertanya pada saya. Saya menjawab iya dengan berbagai variasi nada suara, dari yang nyaris gusar hingga yang menjelang naik pitam. Haduh, pusing amat sih masalah kagak bisa beli gantungan kunci?
Di hari Minggu, kami mengajak mereka ke pasar loak. Namanya Camberwell Sunday Market. Saya senang dengan ide ini, karena saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki ke pasar loak. Tapi saya ragu, apakah emak- emak ini akan tertarik untuk diajak ke pasar loak? Masak ke Melbourne bukannya diajak ke museum atau taman indah malah diajak ke pasar loak? Nah, saya ini tolol sekali yah. Namanya emak- emak, emak Indonesia lagi, pastinya mereka sangat menikmati pergi ke pasar loak. Kami berpisah di dalam pasar, saya dan Okhi bertugas menggembalakan seekor ponakan dan si Serafim. Sebetulnya saya kuatir, karena emak- emak ini kan rada buta huruf kalau sudah mengenai bahasa Inggris. Bisa nggak ya mereka belanja disana? Again, saya ini tolol sekali. Namanya emak- emak, berbelanja itu ya sudah ada di darah mereka. Dan meskipun nilai IELTS mereka berempat kalau digabungin jadi satu juga paling hanya sepertiga nilai saya, tapi kemampuan mereka berbelanja dan menawar, di negara berbahasa Inggris sekalipun, tidak perlu diragukan. Jangankan bahasa Inggris, bahasa Klingon pun bakal beres!
Kami berjanji untuk nanti kembali berkumpul di pintu keluar pada pukul 12 siang. Pasar ini memang dijadwalkan tutup di waktu tersebut. Deng deng. Datanglah emak saya, embah saya, bude saya, tante saya, dengan berplastik- plastik barang belanjaan. Waduh. Dan wajahnya itu lho, penuh gairah dan tampak berseri, meskipun angin kencang sedang melanda Melbourne di hari itu. Dan dengan bangga mereka membuka hasil belanjaan mereka dan menerangkan bahwa jaket kulit yang ini untuk tante yang itu, baju yang ini untuk bapak yang ono, dst dst. Belanjaan untuk mereka sendiri sih ya hanya satu dua tas, tapi sebagian besar belanjaan adalah untuk orang lain. Eh, tak berapa lama, si tante berkata dia jadi penasaran dengan tas yang tadi diincarnya tapi si penjual tidak mau menurunkan harganya. Jadilah tante lari lagi ke dalam pasar, dan kemudian kembali dengan menenteng si tas dengan senyum kemenangan menghias wajah. Eh, si embah ikutan latah pingin melihat lagi apakah sepatu yang diincarnya tadi masih ada. Dan larilah dia kembali ke pasar (oke ini hiperbola, embah saya lebih dekat ke arah menggelinding daripada berlari). Saya menoleh ke Okhi dan berkata "Mending main catur dulu aja deh kalau gini caranya."
Oya, meskipun saya bergaya tidak tertarik berbelanja di pasar loak, tapi ternyata saya menenteng juga satu bungkusan plastik yang cukup berat. Dan kantung belanjaan itu tidak pernah saya letakkan, saya dekap terus, dan saya melarang Sera menyentuh kantung plastik saya. "My preciousssss," Okhi menghina sambil menirukan desisan si gollum.
Di hari Selasa, akhirnya kami pergi juga ke Vicmart. Saya sudah berpesan dan mengancam, pokoknya semua pihak yang direncanakan untuk diberi oleh- oleh harus dicatat, jangan sampai ada yang ketinggalan! Berani minta anterin lagi ke Vicmart, berarti cari mati! Dan bude saya dengan heroik berkata "Bude tuh ya hanya punya uang segini, cukup nggak cukup ya nggak bisa tambah lagi oleh- olehnya. Ya biarin aja kalau ada yang nggak kebagian." Ya ya, percaya deh!
Di malam Senin, sesudah kami tiba di rumah dengan loyo sehabis sibuk berpura- pura menjadi profesor di Melbourne Uni dan berfoto- foto di monumen tinggi tinggi sekali, saya mewanti- wanti supaya mereka semua siap sejak pagi, sehingga kami bisa berbelanja dengan waktu yang longgar. Sebetulnya saya rada pesimis akan kemampuan kami semua untuk 'on' sejak pagi. Bayangkan, di hari sabtu, pada pukul 6 pagi, para emak uzur ini sudah duduk- duduk di depan halte untuk menunggu bis travel yang akan membawa mereka ke gunung salju. Setelah sibuk 'berski' dengan pantat seharian penuh, mereka baru kembali ke rumah menjelang pukul 7 malam. Dan kalau anda pikir duduk- duduk pada pukul 6 pagi itu adalah hal biasa, well, coba lakukan pada temperatur 5 derajat, dengan angin yang berhembus sepai- sepai, dan suasana segelap Mojokerto di tengah malam. Keesokan harinya, di hari minggu, kembali mereka bangun pagi untuk berjalan- jalan ke Philip Island, dan lagi- lagi baru kembali ke rumah di malam hari. Demikian juga di hari Senin. Jadi, dalam logika saya, paling- paling juga jam 12 kami berangkat. Jam enam pagi, saya kriyip- kriyip bangun karena kebelet pipis, dan tada.... semua orang sudah siap sedia. Sudah mandi, sarapan sudah siap, pokoknya sudah siap tempur deh. Ceile, segitu semangatnya belanja.
Di dalam pasar, kalaplah mereka. Enggak beneran kalap sih, secara duitnya terbatas, hahahaha. Tapi wajah mereka itu bahagia sekali, saat menimang- nimang apakah si tetangga lebih baik diberi jam Melbourne atau hiasan dinding Melbourne. Kalau saya jadi si tetangga, saya bakal bilang mending saya dikasih tiket buat ke Melbourne aja deh, entar saya beli sendiri saja hiasan dindingnya. Dan karena yang menjaga toko suvenir di Vicmart kebanyakan mahasiswa Indonesia, makin asyiklah acara belanja. Embah saya bangga sekali karena ia dihadiahi satu kaos gratis, "Hadiah untuk kepala rombongan," kata Conny, mahasiswa asal Manado yang nyambi jadi kuli di kios kaos.
Untuk menuju ke Vicmart dan kembali lagi ke rumah, kami harus menggunakan angkutan umum. Dari rumah, berjalan ke halte bis, kemudian naik bis yang akan membawa kami ke stasiun kereta, dan terakhir dilanjutkan dengan naik trem. Seselesainya memborong suvenir di pasar, dan harus berjibaku naik turun trem, kereta dan bis, saya kagum karena para tetua ini tiba- tiba menjadi perkasa. Enggak loyo membawa berbagai buntalan tas berisi kaos, sendok, jam dan hiasan dinding khas Melbourne (baca: ada tulisan Melbourne dengan font Arial 300, tapi tetep made in Cina).
Sesampainya di rumah di sore hari, embah, bude dan tante saya langsung sibuk menata harta karun mereka. Saya kasih tahu ya, sewaktu mereka baru datang dari Surabaya, koper mereka dipenuhi berbagai baju dan barang titipan saya yang belum sempat terbawa saat saya pindah dulu. Jadi mereka membawa sedikit sekali barang. Baju- baju hangat, mereka pinjam dari saya, handuk pinjam dari saya. Tante saya hanya membawa baju dalam dan dua daster. Sisanya, pinjam baju saya. Hanya embah saya yang harus bawa sendiri. Soalnya hanya sarungnya kuda nil yang bakal cukup untuk dia pinjam. Jadi dengan sok mereka berkata "Huh, nanti pas balik ke Surabaya bakalan kosong nih koper. Wong bude nggak bawa barang sama sekali. Mungkin koper yang kecil dimasukkan saja ke dalam koper besar yah?"
Mimpi kaleee, yang ada barang belanjaan mereka membuat semua koper, baik yang besar dan kecil penuh sesak. Saya sampai kehabisan nafas mengangkat- angkat koper itu ke atas timbangan, untuk memastikan tidak ada yang kelebihan bobot. Maklum, naik Air Asia.
Sore itu, Okhi menelepon menanyakan bagaimana kalau malam ini kami membawa para tamu makan di luar, ke sebuah restoran yang bagus. Saya mengarahkan pandangan ke arah emak- emak yang sibuk menata barangnya sambil saling mengagumi belanjaan satu sama lain ("Wah harusnya aku juga beli piring itu ya untuk Bu Anu"). Saya berkata ke Okhi di telepon "Udah enggak usah, mereka lagi asyik sama harta karunnya."
Mau nggak mau saya geli juga, saat mendengar bude saya dengan amat sedih dan memelas berkata "Lho, kok kangguru bude udah putus ekornya," dia berkata sambil menunjukkan tempelan kulkas berbentuk kangguru yang sedianya akan diberikan pada guru bahasa inggrisnya keponakan (penting amat gitu ya ngasih oleh- oleh ke gurunya keponakan). Saya nyengir melihat si kangguru yang sudah termutilasi ekornya. "Diisolasi aja bude," saya menyarankan dengan ramah sambil membayangkan wajah bu guru saat menerima oleh- oleh seekor kangguru berplester.
Akhirnya, para tetua ini pulang juga di hari Rabu. Tinggal emak saya yang tertinggal. Dia akan pulang di hari Minggu. Di hari Kamis, emak saya menunjukkan sms yang dikirimkan bude saya. Isinya, memohon dan membujuk supaya emak bersedia pergi lagi ke Vicmart untuk membelikan oleh- oleh tambahan yang terlupa. Tak berapa lama, gantian tante saya yang mengirimkan sms, berisi daftar tambahan suvenir yang harus dibelikan emak saya untuk tetangganya. Beberapa hari lalu, tante saya itu dengan sok yakin berkata bahwa dia hanya ingin memberi oleh- oleh untuk satu orang tetangganya saja, yang lain enggak usah. Ha, ternyata sesampainya di Sidoarjo, dia menyadari bahwa orang se RT menuntut oleh- oleh juga.
Jadilah saya dan emak dan Okhi dan Sera terpaksa pergi lagi ke Vicmart di hari Sabtu. Dan oleh- oleh yang katanya hanya tambahan itu, memenuhi koper emak saya.
Buat saya nih, menghabiskan waktu liburan dengan sibuk membeli dan mencari berbagai oleh- oleh dan titipan berbagai macam orang itu benar- benar cara menghabiskan liburan yang payah. Masak jauh- jauh ke Melbourne hanya sibuk beli tempelan kulkas? Hanya sibuk memilih apakah Bu anu lebih suka diberi piring atau sendok? Dan terus terang, melihat emak- emak itu sibuk mendata siapa saja yang harus diberi oleh- oleh, yah, namanya liburan kok harus memeras otak. Dan saya tidak mengerti bagaimana sih caranya membuat batas siapa yang wajib diberi oleh- oleh dan siapa yang tidak? Tetangga kiri kanan? Wajib. Tetangga satu gang? Sunah. Tetangga sekampung? Ya bangkrut deh.
Tapi, melihat betapa para emak ini bahagia saat mereka memilih dan membeli dan mengepak puluhan suvenir ini, yah, siapa sih saya bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah. As long as they happy with it, ya sudahlah. Dan saya membayangkan, mungkin saat si bude mengantarkan si kangguru buntung ke bu guru, dia akan bahagia melihat wajah bu guru yang senang karena bude mengingat dirinya dan menganggapnya penting, dan membawakan oleh- oleh untuknya. Dan mungkin, sambil duduk dan minum segelas teh yang disajikan, bude bisa menceritakan pengalamannya di Melbourne pada seseorang yang akan dengan senang hati mendengarkan.
Warning: anda tidak sungguh- sungguh berpikir saya peduli untuk bisa melihat kebahagiaan di wajah anda kan? Jadi saya percaya anda tidak sungguh- sungguh berpikir bahwa saya akan sudi bersusah payah berburu kaos kangguru untuk oleh- oleh :D

No comments:
Post a Comment