Sudahkah anda pernah merasakan hidup di Jakarta? Saya pernah. Beberapa bulan yang lalu, saya adalah seorang Jakartaers. Saya tinggal di daerah Jatiasih, Bekasi. Saya bekerja di daerah Jakarta Selatan. Saya punya bayi perempuan berumur 3 bulan. Hidup adalah perjuangan. Hari demi hari. Dari depan rumah ke pintu tol yang hanya berjarak 3 km saja, bisa-bisa ditempuh dalam 2 jam kalau saya dan suami saya berangkat jam 7 pagi. Di tol, kecepatan mobil sudah setara kecepatan sepeda roda tiganya para balita. Keluar di pintu tol Pancoran, kecepatan mobil berubah menjadi seperti siput pincang yang satu jempolnya digips. Pulang dari kantor, penderitaan bakal dimulai lagi. Apalagi kalau hujan sepoi-sepoi menghantarkan banjir di kolong Cawang. Oh kejamnya ibu kota. Tua di jalan adalah ungkapan yang literally dialami warga Jakarta.
Jakarta. Kata papa saya, kamu belum merasakan perjuangan hidup kalau belum pernah tinggal dan bekerja di Jakarta. Dulu, setiap hari saya selalu cemas, apakah akan ada rapat di sore hari yang akan membuat saya terjebak macet? Apakah persediaan ASI di rumah cukup untuk si genduk? Apakah ada demo di KPK yang membuat depan kantor saya berubah menjadi lahan parkir?
Dan sekarang, disaat saya menghabiskan waktu menjaga Serafim yang semakin besar dan susah diatur, dan berubah julukan menjadi seorang Melburnian, di benua yang terpisahkan oleh ribuan kilometer samudera dari Jakarta saya yang tercinta, saya takjub kemana sungai kehidupan sudah membawa saya berlayar (berlagak jadi Sekspear). Dan saya merasa, hey, life is so adventurous, surprising and fabulous. It's a shame to let it fly by and go unnoticed.
Saya menulis note ini di laptop saya, yang terletak di atas meja diantara tumpukan mainan berwarna-warni di sebuah arena bermain. Di depan saya, menjulang 10 meter diatas kepala saya, dua anak laki-laki kecil berteriak-teriak saat mereka menuruni seluncuran tinggi itu. Di pojok, Serafim asyik membuka tutup pintu sebuah mobil-mobilan kuning-ungu, dan bergaya seperti pembalap memutar-mutar setir kecil di hadapannya. Sementara Okhi pastinya sedang bekerja membanting tulang demi membayar tagihan pemanas di rumah kami.
Saya menulis note ini di sebuah daerah bernama Ferntre Gully, sebuah tempat yang tidak pernah saya sadari eksistensinya di muka bumi sebelum minggu lalu, saat saya mencari-cari info di internet mengenai indoor play gym, dimana Sera bisa menyalurkan kelebihan energinya dengan nyaman di musim gugur yang menggigit ini.
Saya menulis note ini pada pukul 10.33 pagi di hari Jumat, dalam balutan celana jeans, sepatu keds dan jaket tebal. Setiap 5 menit, ketukan jari saya di keyboard terhenti saat saya harus beranjak dan berseru “Later Sera, somebody else is still playing with the toy.”
Di bulan Januari 2011, pukul 10.33 pagi di hari Jumat, saya akan berada di dalam suatu ruangan penuh komputer dan printer, tenggelam dalam tumpukan dokumen, dikelilingi belasan orang-orang yang either bos saya, teman saya, tapi sialnya tidak ada satupun yang merupakan anak buah saya. Dan here I am today, duduk diantara seluncuran raksasa dan bola karet berwarna-warni.
Di bulan Januari, pukul 10.33 pagi di hari Jumat, saya akan memakai kemeja dan celana kain saya dengan sepatu hak tinggi kalau sedang waras atau sandal jepit kalau sedang mood berani-mati-nggak-berani-dipecat. Dan here I am today, dengan celana jins, sepatu keds tua yang sudah saya miliki sejak jaman SMA, dan jaket bertudung.
Dan seperti semua orang tua akan mengamini, kemarin rasanya bayi saya si Serafim masih plontos rambutnya, masih pakai celana monyet, masih hanya bisa gulung-gulung di kasur. And look at her now, sudah berantem rebutan mainan dengan bayi lain, sudah mulai bisa pamer mainannya ke anak lain, sudah menginjak 18 bulan umurnya dan sudah semakin cantik rupawan dengan rambut ala Dora The Explorer aka potongan mangkok.
Dan rasanya baru beberapa saat yang lalu, saya menghabiskan malam minggu dengan kencan di bioskop bersama Okhi Oktanio. Makan salad di Pizza Hut (sambil deg-deg an menunggu bill nya) dan beli quickly coklat dengan ekstra mutiara. Dan diantar pulang olehnya dengan motor honda bututnya. And now, setiap subuh kami bertengkar tentang siapa yang harus bangun dari tempat tidur terlebih dulu untuk menyalakan pemanas.
Beberapa bulan lalu, saya akan menghabiskan pagi dengan memilih baju mana yang cocok dengan mood saya. Apakah merah meniru Megawati, atau kuning serupa pisang, atau lengan panjang karena mau rapat di ruangan ber-ac. Paling-paling saat langit diluar tampak mendung, saya memasukkan payung lipat ke dalam ransel. Today, setiap pagi saya wajib membuka website news.com.au, melihat perkiraan suhu hari ini. Suhu 20 derajat, melenggang santai dengan jaket tipis. Suhu 15 derajat, saatnya sweater keluar, dengan legging wol di kaki. Suhu 5 derajat? Wokeh, mari menyalakan pemanas dan menolak keluar rumah.
Hidup saya, tentu jauh dari menarik bila dibandingkan dengan hidupnya Bang Gayus, atau Nazrudin, atau bahkan seorang teman saya yang memilih meninggalkan pekerjaan bergengsinya di sebuah perusahaan multinasional di Singapura, demi menjadi seorang guru SD di pulau terpencil (andai saya jadi dia, saya akan langsung menulis buku, kalah laris deh Andrea Hirata). Hidup saya mah biasa wae, tidak seperti wajah dan body saya yang aduhai.
Tetapi, hidup saya yang memelas ini adalah harta saya yang paling berharga. Beberapa orang mengabadikan perjalanan hidupnya dengan membuat ribuan foto. Yang lain dengan memasak. Yang lain dengan mempunyai pacar dari setiap tempat yang dikunjunginya. Atau menggoreskannya di atas kanvas. Atau menulis lagu. Atau seperti anjing saya, menandai jejak langkah cakarnya di dunia dengan mengencingi setiap hidran air dan tong sampah yang dilaluinya.
Karena saya hanya pede dalam hal memasak air, karena gambar bayi yang saya buat sewaktu SD dulu disangka emak saya gambar pisang goreng, karena saya terlalu miskin untuk membeli kamera dengan lensa sepanjang belalai gajah plus terlalu bodoh untuk bisa mempotosop hasil jepretan saya, saya memilih cara yang sederhana saja. Yang hanya melibatkan dua jari saya, dengan media laptop rongsokan yang lengket penuh noda minyak dan setiap setengah jam hang. Saya mengabadikan hidup saya melalui note singkat. Setiap hari Senin. Sebagai pengingat bagi diri saya sendiri, bahwa seminggu lagi sudah saya lalui, berjalan di atas planet biru-hijau, di dataran yang sama dengan yang jutaan tahun lalu dilalui para dinosaurus.
Dulu, rasanya tidak ada hal spesial yang bisa saya tuliskan saat saya masih tinggal di Jakarta. Apa sih yang mau saya tulis, bahwa setiap pagi saya naik bis TransJakarta ke kantor, terus bekerja sampai jam 4, kadang dipuji bos tapi lebih sering sama terabaikannya dengan kain pel di pojok ruangan, lalu saya pulang naik bis itu lagi, sampai di rumah ngendon di depan TV, dilanjut makan malam dan tidur. Yeah, menarik sekali (sampai ngantuk waktu mengetiknya).
Ternyata saya memang butuh untuk enyah dulu ke Melbourne, untuk bisa menganggap hidup saya yang monoton itu ada juga unsur menariknya. Untuk bisa tertawa saat mengingat sewaktu saya turun dari mobil sehabis parkir di pinggiran Mampang, dan langsung satu kaki saya terjerembab ke lubang yang ada di trotoar. Dan bagaimana Pak Parkir dengan setengah kasihan dan setengah terbahak membantu mengangkat saya dan mengambilkan sandal saya yang nyemplung dengan sukses. Atau disuatu pagi dimana saya merasa tidak enak badan, saya mencari cara supaya tidak harus mengantri busway di Ragunan dan bisa mendapat tempat duduk. "Kalau gini kelihatan hamil nggak Dek?" saya memamerkan baju hamil yang saya pakai demi berpura-pura hamil. "Kamu tu hanya perlu dengan pede langsung mengantri di tempat orang hamil, jangan pasang tampang bersalah gitu." hardik adik saya memberi petuah.
Note saya, merupakan kontemplasi bagi saya, bahwa hidup itu ya adalah hari demi hari yang saya lalui. Sebagian kecil diisi dengan hal-hal heroik dan menakjubkan, seperti melaporkan ke rektorat bahwa saya kehilangan kartu mahasiswa tepat sesaat setelah upacara pelantikan mahasiswa baru (dan mencoba tampak berani saat ditatap petugas rektorat dengan galak). Tapi 95% dari hidup adalah kegiatan sederhana seperti mencuci tumpukan piring, menyetrika tumpukan baju, dan memandangi tumpukan lemak di pinggul. In three words I can sum up everything I've learned about life: it goes on.
Dan saat kontemplasi saya ternyata menarik minat teman-teman saya, membuat mereka terhibur, atau jengkel, atau tersenyum, atau menyeringai, atau 'agree to disagree' with my opinion, itu suatu nilai tambah bagi saya. Setiap komentar yang dituliskan membuat saya teringat satu lagi harta saya yang berharga, teman, sahabat, musuh dan semua pacar-pacar yang membuat hari saya lebih berwarna.
Betapa saya mencintai Arina dan Putri saya tersayang, dan kangen pengen ikutan Cak So ngelus-ngelus betisnya si Pentol. Atau betapa dulu saya selalu menempel Deka saat kelas komputer di SMA, merayu supaya dia mau membantu membuat gambar lingkaran muter-muter terpampang di layar komputer saya (saya masuk ke kelas yang diperuntukkan bagi anak-anak yang sangat pintar komputer karena saya menyontek waktu ujian penempatan. Satu-satunya pengalaman menyontek yang saya sesali).
Sigh... butuh waktu sampai saya sudah berumur 24 tahun untuk menyadari hidup saya itu tidak luar biasa tapi tetap 'mean everything to me' (setiap komentar terkait kalimat ini akan langsung saya delete).
Sekarang, saya sudah bisa ikut serta dalam peribahasa gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, Mega (nggak tega nulis mati untuk diri saya sendiri) menghadap tahta surga di langit ketujuh (serasa Sun Go Kong) meninggalkan note.
Well, what can I say, I’m just a lucky bastard.
Kalau ada yang sebodoh suami saya dan bertanya "Kontemplasi tu apaan sih?", sana googling dulu. Jangan ngaku manusia kalau belum tahu artinya (geleng-geleng kepala frustasi)
![]() |
| Buka pintu mobil, duduk, tutup pintu mobil, putar setir. Dilakukan berulang kali dengan urutan yang sama. Serafim memang antik.... |
![]() |
| Seluncuran raksasa yang diklaim pemiliknya tertinggi se-kecamatan. Pemandangan dari tempat saya duduk |
![]() |
| My humble sticky laptop, diantara tumpukan mainan warna-warni |
![]() |
| Dell memang Doll |
![]() |
| The beloved sneakers. Investasi termahal dalam pembelian sepatu, yet stl belasan tahun masih menjadi sepatu jalan yang teringan. |





No comments:
Post a Comment