Monday 29 August 2011

My Monday Note -- Hayo Pilih, Jadi Jomblo Abadi atau Kawin Sama Kungkang?

Tadinya saya berniat libur minggu ini, karena toh pada pulang kampung semua jadi ya nggak pada online, lalu suami saya juga sejak minggu lalu tergila- gila mendownload film kartun Ironman yang membuat saya nggak kebagian jatah laptop, plus hati saya sedang gundah setelah seorang mahasiswa umur 21 tahun memanggil saya dengan sebutan Tante. Tante pala lu! Tapi seorang teman mengancam akan memutus tali silaturahmi jika saya tidak mengupload note. "Aku lagi sembelit, kalau baca notemu jadi lancar ke belakangnya." Sial, serasa pencahar saja tulisan saya. Ya sudah deh, untung lagi bulan puasa, jadi saya masih sabar. 

Sebetulnya, saya itu merasa lebih 'feminis' dibandingkan banyak wanita di Indonesia (baca: lebih urakan dan seenak udel). Saya mengutuk upacara mencuci kaki suami yang ada di adat pernikahan Jawa, saya tidak tertarik untuk punya anak (walau sekarang punya bayi bandel yang saya cintai lebih dari dunia ini), dan yang jelas saya tidak pernah merasa 'wajib' untuk menikah. Prospek menjadi seorang istri tidak lebih menarik minat saya dibanding prospek untuk bebas merdeka keliling dunia seumur hidup saya. Jadi, note ini tidak cocok diaplikasikan untuk diri saya, dan mungkin pada diri banyak wanita atau pria lain.

Suatu malam, sambil menyantap sambal yang saya buat sambil menempelkan cellphone (note: hanya di Indonesia ada istilah handphone, di negara lain semua cellphone-- sok global) di telinga saya dan mendengarkan wejangan step by step cara memasaknya dari tante saya nun jauh di Kelapa Gading sono, Okhi berkata, " Tahu nggak, tadi aku video call lewat skype sama si Tralala (salah satu dari saudaranya Okhi yang berjibun jumlahnya)Dia cerita bahwa dia gelisah juga karena nggak dapat2 jodoh. Sampe minta cariin suami lho ke aku, kali- kali di sini ada cowok Indonesia nganggur."

Dengan cuek, saya menanggapi "Trus kamu jawab apa?"  Jawab si Okhi, "Aku lho bilang kalau si Trondol tu kan juga belum punya pacar. Aku tanya kalau2 si Tralala mau sama dia. Tahu jawabannya Tralala? Dia bilang asal Trondol mau, langsung kawin deh!"

Saya terbeliak mendengarnya. Pertama, saya mengenal kedua makhluk ini, yang satu saudaranya Okhi satunya teman saya di gereja. Dan mereka berdua juga sudah saling mengenal sejak belasan tahun yang lalu sejak di bangku SMA tanpa ada sedikitpun romansa terlibat. Si Tralala ini cewek bertampang lumayan lah, dan si Trondol juga sedikit lebih ganteng dari Deni manusia belut. Hanya ya itu tadi, rasanya tidak ada chemistry at all diantara mereka. Dan membayangkan mereka sebagai pasangan, tampak aneh di mata saya.

Yang membuat saya heran, kenapa tanggapan si Tralala sebegitunya ditelinga saya. Asal Trondol mau, langsung kawin deh! Bandingkan kalau Okhi mengusulkan si Trondol disaat si Tralala masih SMA, saat ia dan Tralala menjadi teman sekelas. Mungkin jawabannya "Aku nggak naksir tuh sama dia."    In my ears, it's not about love anymore, it's about is there anybody who wants to marry me?

Okhi, yang berjenis kelamin laki-laki setelah operasi transgender, yang sudah menikah sejak usia 27 tahun, yang setiap hari menyesal karena peluangnya mencium wanita lain sudah menguap (yeah, of course that's because he's married, not because his troll-alike face), berusaha keras memahami kenapa si Tralala harus gelisah. She's only turning 30, she's gorgeous, she has a good career. What's so big deal about being single? 

Saya, yang berjenis kelamin perempuan tanpa operasi transgender, yang menyaksikan satu persatu teman saya menikah, dan kemudian menyaksikan mereka hamil dan mempunyai anak, yang meskipun saya bilang tadi 'lebih liberal' dari kebanyakan cewek, sangat bisa memahami kegelisahan si Tralala.

Kita lahir, hidup dan dibesarkan di Indonesia. Dan as much as we declare we don't give a damn care apa pendapat orang lain, hidup tidaklah mudah bila kita berbeda dari sekeliling kita. Saya merasakannya sendiri saat saya, yang membenci anak-anak sejak dulu, melihat ke dalam hati kecil saya dan menemukan bahwa saya tidak terlalu tertarik dengan ide mempunyai anak. Perasaan saya itu tentu terasa janggal bagi kebanyakan orang Indonesia, yang bahkan susah disuruh ber KB. Seolah saya tu berdosa karena perasaan saya itu. Nggak normal. Bukan wanita seutuhnya. Haiyai.

Tekanan sosial untuk menjadi sama dengan mainstream itu memang ada. Belum lagi ngomongin tekanan, yang halus atau terang-terangan, yang datang dari keluarga; emak, bapak, kucing peliharaan. Setelah saya pindah ke Australia, baru saya merasakan bahwa saya tuh normal-normal saja menurut pendapat umum, dimana setengah populasi disini kayaknya lebih tertarik membeli makanan anjing daripada mengganti popok bayi. Tekanan sosial itu ada, dan sangat mempengaruhi. Kalau ada motivator atau pembicara yang bilang bahwa tekanan sosial tidak seharusnya menekan dan menjadi pertimbangan dalam membuat keputusan, bakal saya sumpel mulutnya sama pampersnya Serafim. Elo hidup di dunia nyata apa enggak sih? Turning mid 30 and still single? Consider others will start whispering on your back, sibuk memutuskan apakah kamu masih single karena terlalu jelek, atau terlalu menyebalkan, atau terlalu sok jual mahal, atau punya punggung yang penuh kurap. Saat seseorang jengkel pada si single ini, komentar yang cukup common mungkin "Dasar perawan tua!" Atau "Makanya nggak laku-laku! Atau "Dia tu jadi jahat gitu karena belum kawin-kawin juga."  

Beside it, kita memang mempunyai kebutuhan untuk menemukan seseorang yang akan menemani kita menghabiskan hari-hari kita. Seseorang yang lebih intim dari kakak atau adik, lebih sensual dari sahabat, lebih muda daripada kakek buyut, lebih pintar dari anjing kesayangan, dan lebih memilih gedung DPR hancur kena bom nuklir daripada bila kita terpercik kembang api.

Saya ingat sekali saat SMA, masalah pacar tidak pernah mengganggu benak saya, meskipun saya jomblo dan tampaknya tidak ada yang tertarik dengan seorang cewek ceking bertampang judes. Tapi disuatu hari, disaat saya sedang mengikuti suatu kegiatan di pegunungan, ditengah jajaran pohon-pohon pinus, dibawah siraman cahaya bintang, saat itu saya rasanya rela menyerahkan apa saja asalkan ada seseorang yang menggenggam tangan saya, menemani langkah saya di tengah malam yang menggigit dan gulita. Ke-mellow-an saya sirna saat seekor pocong jadi-jadian tiba-tiba melompat ke depan muka saya. Dasar kakak kelas brengsek.

Dan tampaknya, masalah ini lebih terasa berat bagi kita yang berjenis kelamin perempuan. Call me sexist, tapi siapa bilang sih dunia ini tempat yang adil? It's all because the stereotype. Cowok single? Dia suka kebebasan. Cewek single? Cowok tidak suka dia. Sama aja dengan Cewek ke WC berduaan? Sahabat Akrab. Cowok Ke WC berduaan? Either penggemar Brokeback Mountain atau mau mbolos lompat pagar bersama. Plus, secara umum, lebih banyak cewek yang bisa menerima cowok yang lebih tua dari usianya daripada cowok menerima cewek yang lebih senior darinya. 

Kebanyakan dari kita, tidak bisa dipungkiri, ingin menikah someday. Dan mencari jodoh itu tidaklah mudah. So, if somebody say he or she falls in love with you, don't turn your face away too soon. Meskipun yang menyatakan cinta itu lebih mirip siluman daripada batman, dan semua indra peraba dan perasa menolaknya, just calm down, dan sadari bahwa makhluk didepan kita ini memuji kita dengan cara yang terindah, dengan mencintai kita. Kecuali indra keenam kita dengan keras meneriakkan agar kita menjauhinya (I always believe my instinct) atau dia punya record suka mukulin tetangga, we may consider her/ him as one opportunity to find our real love.

Some of us are lucky to find a match in a sinetron way, cinta pandangan pertama atau terjebak didalam lift bersama (pass the sick bucket please). Tapi sebagian besar dari kita menemukan cinta melalui cara yang lebih sederhana. Dengan berteman, dengan terbiasa akan kehadirannya. Orang Jawa punya peribahasa yang bijak sekali "Witing Tresna Jalaran Saka Kulina" atau cinta bisa tumbuh dari kebersamaan. Nope, I didn't say you must jump on the bed in a second. Maksud saya, jangan keburu kabur dari pemuja kita, paling jelek kita hanya akan dapat satu teman biasa kan, kalau ternyata menciumnya tetap tidak mungkin diterima akal sehat kita.

Saya punya pengalaman akan hal ini. Menjauhi seseorang yang mengungkapkan cintanya ke saya. Kalau saja alam semesta tidak ikut turut campur membantu, saya akan kehilangan seseorang yang ternyata menjadi salah satu sahabat terbaik saya, tempat saya bersandar saat membutuhkan seseorang yang tidak pernah menghakimi saya, meskipun sampai reinkarnasi kelima belas pun kami tidak akan menjadi pasangan. 

Jadi apa si Tralala itu salah karena tampak 'Asal ada yang mau sama gue deh.' Tidak juga. Menurut saya itu cara yang realistis. Toh dia bereaksi begitu karena dia sudah kenal lama sama si Trondol, dan apa salahnya dicoba. Hanya, mungkin dalam bahasa yang lebih diplomatis, "Aku sih enggak naksir dia, hanya tampaknya dia pria yang baik dan bisa diandalkan. Why don't give it a try? Kira-kira dia mau nggak ya kenal lebih dekat sama aku?"

Gile bener, habis ini saya mau ngelamar jadi pengarang novel roman picisan ah, udah pinter ngegombal gini.

Terus kalau emang belum dapet jodoh juga gimana? Ya either mencoba cara saya memakai susuk berlian, atau mengikuti nasehat orang bijak (yaitu saya, hahahahaha) bahwa kita akan bahagia saat kita mensyukuri apa yang kita miliki saat ini, banyak-sedikit, bagus-jelek, meskipun kita harus tetap mempunyai banyak target dan impian yang besar.

Dalam bahasa realistisnya, ya seperti saya yang memimpikan kawin sama Jake Gylenhaal, jalan-jalan keliling galeri lukisan sampai capek memilih lukisan Van Gogh mana yang ingin saya beli untuk menghiasi garasi, punya pinggang ramping ala Giselle Bundchen. Tetapi tetap bersyukur meski mendapat jodoh siluman kudanil, jalan-jalannya keliling pasar cari yang jual brokoli paling murah sampai encok melanda, dan punya pinggang yang lebih lebar dari pinggul.

Dalam bahasa diplomatisnya, kalau ada yang iseng nanya kenapa belum kawin juga, jawab saja "Saya tentu mengharap Tuhan akan mengirimkan jodoh untuk saya, dan saya juga tetap berusaha. Tapi sekarang, saya menikmati anugerah yang saya miliki, yaitu memiliki sahabat seperti kamu, yang saya yakin juga mendoakan agar saya segera mendapat jodoh."Nyahok nggak tuh orang yang mungkin sudah siap dengan cemoohan soal betapa nggak lakunya kita.  

Cinta, deritanya tiada akhir..... 
Nikah, bahagianya tiada jua....
Emang cucah jadi manusia
Mending jadi cicak aja deh

Monday 22 August 2011

My Monday Note -- Menggigil kedinginan, minum air keran dan pakai tisyu toilet

Salah satu hal yang menarik saat tinggal di negara lain, adalah saat ada teman atau saudara yang kebetulan datang ke kota saya. Baik yang menginap di rumah saya, atau hanya mengajak ketemuan untuk reuni. Setelah saya kedatangan keluarganya Okhi, keluarga saya, dan beberapa teman-teman saya, ada beberapa keluhan, komentar dan pujian yang nyaris serupa dilontarkan semua orang.

Hal paling utama yang menarik minat para pendatang adalah mengomentari betapa 'bersahabatnya' udara Melbourne. Suatu kali, seorang teman saya menulis di chat bahwa dia hendak berkunjung di musim dingin ini, hendak menjelajahi seluruh penjuru kota. Saya menjawab "Asyik dong, tapi dingin banget lho ya. Bawa baju winter yang lengkap." Dengan yakin teman saya membalas "Gue emang sengaja milih winter, soalnya pingin sekali-sekali merasakan udara sejuk. Eh pakai sweater cukup nggak?"

Jiah, bergaya juga nih teman saya, saya bilang dingin banget, dia bilang sejuk. Sejuk mah di Bandung kang! Terus tanya pake sweater saja cukup enggak. Sweater hanya saya pakai di dalam rumah. Kalau di luar rumah berjalan-jalan hanya pake sweater, itu sama saja meniru gayanya sundel bolong, hanya pake sprei tipis untuk kelayapan di malam buta di area kuburan Jakarta. Dan terbahak-bahaklah saya saat akhirnya kami bertemu, sehabis dia menjadi 'Dora petualang', dan semua kalimatnya selalu diakhiri dengan "Gue mau pulang aja ke Jakarta..." yang diucapkan dengan gigi bergemeletuk.

Sepasang sahabat saya yang sekarang ngendon di Singapura, datang ke sini musim gugur lalu. Mereka menginap di rumah sepupunya. Nah, setahu saya pada hari itu mereka punya rencana untuk berkunjung ke suatu peternakan sejak jam 8 pagi, sampai saya saja menolak saat ditawari untuk ikut serta dalam rencana wisata mereka yang ambisisus itu. Thanks but no thanks. Jam segitu Serafim baru saja melek dan belum sarapan segala. Saat jam 11 siang saya membuka laptop, sekembalinya dari mengantar Sera berenang, lha kok mereka menyapa saya di skype. "Bukannya pada mau jalan?" tanya saya heran. "Nggak kuat dinginnyaaaa," jerit teman saya sambil menghangatkan bokongnya di depan pemanas. "Are you guys polar bears or penguins?" dia balik bertanya saat saya menjelaskan bahwa kami sudah nyemplung ke kolam sejak jam 9 pagi.   

Saat mama papanya Okhi berkunjung, dan kami mengajak mereka ke gereja, mama yang gemetar kedinginan dengan setengah kesal menggerutu "Wong dinginnya kayak gini kok dibilang panas, dibilang cuacanya bagus." Mama pantas kesal, karena semua orang di gereja, saat menyapa beliau selalu mengatakan "Wah beruntung sekali datangnya minggu ini, cuacanya lagi bagus dan hangat."

Orang-orang gereja membandingkan minggu itu (yang memang untuk ukuran musim gugur sangat menyenangkan, plenty of sunshine and windless) dengan minggu sebelumnya. Satu minggu sebelum mama datang, hujan badai mengguyur Melbourne, angin bertiup dengan menyebalkan, dan suhu drop hingga 5 derajat. Tapi untuk mama, yang seumur hidup dibuai panasnya terik Surabaya, suhu 15 derajat ya sudah setengah beku juga jadinya.

Gegar cuaca ini, penyebab utamanya ya karena tubuh belum bisa beradaptasi. Sesudah tiga bulan tinggal disini, saya sudah bisa dengan santai melenggang dengan sandal jepit dan celana pendek saat hendak ke supermarket, pada hari dimana matahari bersinar terik, meskipun termometer menunjukkan suhu 18 derajat doang. Sementara emak saya, untuk perjalanan singkat ke pom bensin saja (saya ajak agar bisa merasakan jadi tukang pom bensin karena disini kami mengoperasikan sendiri mesinnya) memakai jaket, sarung tangan, topi kupluk dan sepatu boot lengkap ala pendaki gunung Bromo (walau saya curiga sebetulnya hal itu juga dikarenakan unsur mau foto-foto, nggak keren dong kalau cuma pake sandal jepit kayak saya).

Makanya, saya menyarankan kalau pada mau berwisata, untuk memilih musim semi disaat kembang- kembang bermekaran, atau di musim gugur, disaat daun-daun berguguran kayak di pilem-pilem. Itupun harus siap-siap perlengkapan perang. Kalau datangnya di musim panas, bila sedang sial, maka kita bisa merasakan suhu 40 derajat (saya belum pernah sih merasakan). Meleleh semua deh lemak di pinggang. Tapi sisi positifnya, pantai dipenuhi pemandangan menarik.

Oya, salah kostum di Melbourne ini bukan hanya menjadi 'hak' para pelancong kok. Suhu di kota ini bisa berubah drastis dalam hitungan menit semata. Kejadian ini saya alami di bulan Februari, bulan peralihan antara musim panas dan musim gugur. Selama berhari- hari matahari bersinar terik sekali. Para penghuni Melbourne sudah melupakan dimana mereka menaruh mantel dan sepatu boot mereka.  Pagi itu, saya dan Okhi dan si anak pesut sudah berada di dalam kereta jam 9 pagi. Matahari cukup bersahabat dan udara sejuk menyenangkan. Gerbong kereta kami dipenuhi gerombolan abege dengan kostum serupa; bikini plus celana pendek nggak niat bagi para ceweknya dan celana sedengkul tanpa kaos bagi para cowoknya. Mereka sedang siap- siap untuk berjemur di pantai. Sera sampai melongo melihat susu dimana- mana, matanya langsung berbinar pingin nyusu. Bapaknya Sera langsung menyesal tidak membawa kacamata hitamnya.

Mendekati kota, tiba- tiba udara berubah. Angin bertiup kencang dan mendung menggayut. Saya, yang memakai celana jeans dan cardigan lengan panjang tipis, langsung merinding bulu kuduknya karena kedinginan. Lalu bagaimana dengan para abege seksi yang semlohai itu? Ada yang misuh- misuh, seolah semakin banyak kata f**k yang diucapkan akan mampu menghangatkan udara, ada yang meringkuk meniru bayi tikus, dan banyak juga yang saling berpelukan. Lengan beku bertemu dengan lengan beku ya tetap saja beku :D.      

Setelah urusan cuaca, masalah air menempati urutan berikutnya. Disini, semua orang minumnya tap water alias air keran. Kagak pakai direbus dulu. Nah, untuk anak kecil semacam sepupu saya, dia senang sekali dengan pengalaman bisa minum air langsung dari keran. Apalagi di taman, wuih riang gembira sekali kalau difoto lagi menyorongkan mulut di bawah keran. Serasa di luar negeri beneran deh! Sayangnya, antusiasme itu tidak menular kepada embah saya yang unik bin antik, yang masih sempat merasakan penjajahan Jepang. "Namanya air minum tu harus direbus dulu! Biar mati kumannya!" Ya sudah, saya manut saja sabda Embah, walau sambil berbisik ke Okhi "Emangnya aqua galon  itu pake acara direbus dulu apa, dasar katrok.

Kalau mamanya Okhi, karena tidak 'tega' minum air mentah, maka selalu merebus dulu air keran di ceret. Biar tidak ditertawakan anak- anak muda, mama beralasan 'pingin minum air yang hangat'. 

Sepupunya Okhi, dengan jahil berkata saat ia dan kakaknya berwisata ke Australia, maka ia akan meletakkan air keran di dalam teko atau botol air mineral. Dengan demikian, kakaknya yang menolak minum air keran tanpa direbus akan bisa tertipu, berpikir air itu sudah direbus terlebih dahulu. "Daripada repot Mbak, mending kutipu saja." katanya memberi alasan. Hm, boleh juga nih ditiru saat nanti embah saya datang lagi.....

Masalah berikutnya yang timbul, ada kaitannya dengan kegiatan 'pergi ke belakang'. Nah di sini, sama seperti kebanyakan negara barat, orang  hanya akan membekali diri dengan tisyu toilet untuk acara bersih- bersih. Nah, orang Indonesia disuruh bersih- bersih pakai tisyu doang? Hiiiii, bisa- bisa mimpi buruk sebulan penuh! Saat keluarga saya berkunjung, tiba- tiba rumah saya disibukkan oleh kegiatan mengisi ember untuk diletakkan di toilet. Maklum, toilet saya kan ala Ostrali, jadi enggak ada bak air atau selang airnya. Payahnya lagi, air disini itu dingin sekali. Meskipun embernya diisi air panas dari keran, tak berapa lama si air akan dingin membeku lagi. Hahaha, pusing deh tamu- tamu saya memastikan air yang di ember cukup hangat dan tidak membuat bokong membeku saat disiramkan.

Apa sih yang paling umum membuat pusing saat bepergian ke negara lain? Makanan pastinya. Sebetulnya makanan di Australia ini sih enggak parah- parah amat. Saat adik saya berwisata ke kawasan timur tengah (mesir, palestina, israel dll), makanannya benar- benar amit- amit. Semua masakan dicampur minyak zaitun yang kecut dan berminyak (ya namanya minyak lumrahnya ya berminyak tho?) dan bau prengus kambing. Nggak jelas apa memang semua makanan dicampur daging kambing atau restorannya kebetulan diatasnya kandang kambing. Adik saya bertahan hidup dengan mengandalkan persediaan pop mie yang dibawa dari tanah air. 

Di Australia ini, masih banyak restoran Indonesia, masih banyak supermarket Indonesia, dan yang jelas masih banyak McDonald dan KFC. Jadi enggak sampai harus mogok makan lah. Hanya biasanya orang Indonesia akan menganggap rasa ayam penyet ala Melbourne itu tidak semantap ayam penyet ala warteg di pinggiran jalan Gubeng. Sambelnya nggak nendang! Ya gimana mau nendang kalau harga cabe disini lima kali lipat lebih mahal dari harga ayamnya. Jadi, kalau di warteg anda boleh menambah sambel sekuatnya tapi harus puas dengan potongan ayam yang kuntet, maka di Melbourne anda akan menemukan piring anda dipenuhi potongan paha ayam yang sebesar paha gajah, tapi dengan sambel secuprit.

Yang jadi masalah, seringnya saat ada tamu berkunjung ya pastinya akan diajak berwisata. Nah, makanan di tempat wisata itu yang rada- rada bikin emosi jiwa. Apalagi saya dan Okhi kan juga newbie disini, jadi kami tidak tahu dimana harus mencari makanan yang aman bagi kesehatan mental para tamu. Saat berwisata ke Phillip Island, kami setengah mati kebingungan mencari restoran untuk makan siang. Masalahnya, kami pergi di hari Senin, dan ternyata Senin adalah hari dimana 80% restoran di wilayah itu tutup. Mampus deh! Papanya Okhi bakal drop gula darahnya kalau telat makan, adiknya Okhi yang lagi hamil bakal bergemuruh perutnya, dan yang jelas si Seradut bakal langsung ngak ngek ngok kalau perut gendutnya terlambat diisi. Dalam keadaan putus asa (setelah mendatangi lusinan restoran yang di pintunya bertuliskan Sorry We are closed) sampailah kami di sebuah restoran. Lega? Jangan dulu. Satu- satunya menu makan siang yang tersedia adalah nasi kari ala Bollywood. Bentuknya kayak muntahan anjing saya. Rasanya? Ya mirip- mirip sama muntahannya si gukguk juga. Sehabis makan, memang perut sedikit lega karena sudah terisi. Tapi selama dua hari berikutnya kami mengalami halusinasi. Nafsu makan menurun drastis karena setiap memandang nasi di piring langsung terbayang- bayang si kari bedebah itu. Papanya Okhi mengalami sakit kepala tak berkesudahan. Hanya Okhi yang tidak terpengaruh jiwanya oleh siksaan itu. Memang benar- benar omnivora sejati. Sampah pun terasa sedap. Eh si Seradut ternyata juga baik- baik saja. Benar- benar Okhi junior.    

Anda mengharap untuk merasakan makanan khas Australia? Saya sampai bertanya ke tetangga sebelah rumah yang bule asli sini. Dia garuk- garuk kepala bingung. "How about burger and fries?" sarannya. Yeee, kalau cuma itu mah di Indo juga banyak. Mungkin yang benar- benar khas Oz ya sebangsa daging buaya  atau daging kangguru kali ya (saya melihat si daging buaya dimasak di acara mastercep dan saya juga pernah menyaksikan filet kangguru dijual di tukang daging). Tapi nanti tamu saya jangan- jangan mengalami gangguan mental karena shock bila diajak menyantap si kadal gede. Plus malu juga saya mengetuk pintu restoran- restoran dan bertanya "Sampeyan jualan daging buaya gak?"

 Nah, hal lain yang bikin saya geli campur jengkel adalah kebiasaan emak- emak berkomentar tentang harga barang disini. Saat melihat daun pisang dijual dengan harga 5 dolar, emak- emak Indonesia akan langsung mengomel panjang lebar. "Di Surabaya daun pisang ya tinggal metik di kebon belakang. Wah bisa serangan jantung bulik kalau tahu harga daun pisang disini." Ya iyalah di Indonesia kan banyak orang menanam pohon pisang di lahan kosong, lha disini ya kagak ada bule kurang kerjaan yang mengisi halaman belakangnya dengan sebatang pisang. Aya- aya wae. 

Lalu saat hendak membuat pepes, dan menemukan bahwa harga kunyit, daun pisang, cabe dan daun kemanginya jadinya lebih mahal dari ikannya, mengomellah emak saya. "Gimana bisa kaya orang Australia kalau hanya untuk masak pepes aja mahal banget gini." Nah saya sih hanya berkomentar "Ya yang kurang kerjaan maksa buat pepes kan mama. Orang sini kan ya nggak ada yang butuh kunyit sama daun pisang segala untuk bikin burger."

Satu hal yang memang super duper menyebalkan dari Melbourne, semuanya itu mahal. Everything. Anda mau masuk ke kebun dimana anda bisa memberi makan kangguru? 10 dolar. Berfoto semenit doang bersama koala? 10 dolar. Naik angkutan umum seharian? 10 dolar. Makan sederhana di food court? 10 dolar. Beli sebotol kecil air mineral? 3 dolar. Mau wisata ke gunung salju? 60 dolar plus harus menyewa perlengkapan salju. Makanya saat saya melihat jadwal wisata yang ditawarkan tur- tur asal Indo (niatnya mencontek untuk mengajak tamu saya) kok acaranya hanya hari pertama city tour keliling Melbourne, hari kedua terbang ke Darwin dan cityt tour disana. Begitu terus. Kelihatan keren pindah- pindah kota melulu tapi hanya diisi kegiatan muter- muter kota naik bis. Ternyata ya karena masuk ke wahana wisata di sini itu muahal bener. Makanya, kita lihat- lihat kota trus beli suvenir aja yah, kata para tur.

Saya sih pingin juga meniru gaya tur yang mengajak wisatawan keliling kota. Tapi masalahnya saya tidak punya kemampuan dan kemauan untuk memasang wajah ramah dan di sepanjang perjalanan dengan manis berkata "Coba lihat di sebelah kanan anda, gedung yang cantik itu adalah stasiun paling ramai disini." Atau "Kalau anda melihat di kiri anda, ada pria tampan yang sedang berciuman di tangga gedung, nah memang disini orang dengan santai berpacaran di depan umum. Masalah yang diciumnya juga pria tampan lainnya, ya mungkin dia sedang khilaf saja. Wong saya nganggur gini kok ya dia lebih milih nyium cowok lain."  

Ih, saya ini kok malah menceritakan kepayahan kota saya sih. Di Melbourne, tentu banyak hal menarik bagi wisatawan, asal anda enggak bokek- bokek banget. Julukan negara bagian ini adalah the garden state. Kalau anda punya anak kecil atau anda penggemar taman, maka anda serasa di surga. Dari mulai taman kecil sebelah rumah hingga taman kota semacam Royal Botanic Garden bisa dijelajahi dengan gratis. Jadwal tetap saya setiap weekend adalah membawa si Sera muter- muter di Botanic Garden yang indah, luas, dan pastinya gratis. Enggak susah deh menyenangkan balita disini, enggak harus bingung mengajak jalan- jalan ke mall. 

Dan kalau anda datang kesini, saya akan mengajak anda menikmati transportasi umum. Tenang, enggak separah kopaja atau metromini kok. Untuk ukuran Australia pun angkutan umum di Melbourne paling baik dibanding kota lain. Anda akan naik kereta yang bersih, tram yang kuno dan cantik, dan bis yang modern. Saya dulu sempat jengkel sama orang Melbourne, yang isinya komplain terus soal kereta yang telat datang 5 menit doang. Cemen banget sih nih kota. Lima menit menunggu apa sih susahnya. Tapi sekarang Okhi juga ternyata ikut sebel kalau keretanya telat 5 menit. Kenapa? Biasanya sehabis turun dari kereta di stasiun, orang akan melanjutkan perjalanan dengan bis. Nah, kereta telat lima menit saja berarti tidak akan bisa mendapat bis yang tepat waktunya. Sialnya, meskipun kereta itu jadwalnya ada setiap 10 menit, jadwal bis lebih jarang, setiap setengah jam sekali. Makanya, jengkellah Okhi kalau dia terpaksa menunggu bis berikutnya, dan saat dia sampai rumah hari sudah malam dan si Sera jadinya sudah ngorok.

Oya, suatu saat, mungkin pengelola kereta jengkel juga disalah- salahkan melulu, lalu mereka membuat berita yang isinya "Coba lihat gambar ini dan apakah anda masih berniat komplain?" Gambar yang dipasang adalah gambar metromini dengan penumpang menggelantung hingga ke pintu, dan kernetnya melambai- lambaikan duit ribuan. Saya dengan cemas meneliti gambar itu, takut kalau- kalau saya menemukan wajah saya di antara wajah para penumpang yang bergelantungan.

Saya juga akan mengajak anda berbelanja dan melihat- lihat pasar. Meskipun harganya menyebalkan, tapi anda akan terpana melihat gantungan dan pajangan berbagai daging yang merangsang bener. Tidak ada toko daging di Indonesia yang se-merangsang pajangan daging di sini. Kambing utuh digantung (sudah dikuliti dan sudah mati lah), sosis- sosis sebesar jempol gajah bengkak, pokoknya bikin kagum deh. 

Apakah Melbourne lebih indah dari Surabaya? Tentu tidak. Melbourne berbeda dari kota di Indonesia. Dan kalau anda mengunjungi suatu tempat, jangan membandingkannya dengan tempat asal anda, karena anda akan stres bila membandingkan cuacanya atau rasa makanannya. Tips menjadi wisatawan: nikmati dan jangan ngomel. Burger anda hambar rasanya? Ya sudah bawa saja sambel ABC botolan dari rumah. Cuaca dingin banget? Anggap latihan memasuki ice age yang bakal datang sebentar lagi. Abege di depan anda pake baju yang enggak niat? Enggak usah menggerutu mengatakan betapa tidak sopannya orang sini berpakaian. Ya nikmati saja pemandangan menarik itu. Kan enggak dosa juga, wong ceritanya 'dipaksa' mau nggak mau harus lihat :D. Bukankah kita bepergian ke negara lain untuk bisa menikmati sesuatu yang berbeda?  

Monday 15 August 2011

My Monday Note -- Just Let Her Try

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat pesan di facebook yang cukup membuat saya kaget. Pesan itu dikirim oleh seorang pria yang dahulu kala pernah mengisi hati, jiwa dan mimpi- mimpi saya. Pacar masa lalu saya? Sayangnya ini bukan kisah indah mengenai cinta lama bersemi kembali. Pria yang mengirim pesan itu adalah pria yang bisa disebut cinta pertama saya. Sejak pertama kali saya melihatnya, saya jatuh cinta padanya. Jadi dia pacar saya dulu dong? Bukan, berapa kali sih saya harus bilang, bukan! Nah lho, kok saya jadi emosi sih? Saya dulu, cinta mati padanya. Dia dulu, menganggap saya bagaikan sebutir debu semata.

Dia mengajak berteman di FB, menanyakan kabar saya dan mengajak bertemu. Enggak hanya berduaan sih, tapi bareng dengan teman les kami dulu. Saya, agak ragu untuk mengiyakan. Apakah saya takut saya akan jatuh cinta lagi padanya? Saya sampai memandang- mandang foto profilnya, membayang- bayangkan tampangnya untuk mengecek apakah masih ada sedikit saja rasa cinta tersisa. Enggak tuh. Dan apakah saya akan menyesal dulu tidak menikah dengannya yang sekarang ternyata menjadi orang sukses? Well, sekarang saya tinggal di Australia sementara dia masih menumpang di rumah orang tuanya. Istrinya, meskipun tidak lebih jelek dari saya, tapi di foto- fotonya memakai baju yang jauh lebih sederhana dari baju saya. Dan anak perempuan saya, undoubtfully jauh lebih seksi dari anak perempuannya. Di wall nya, saya membaca statusnya yang bertanya enaknya pakai Lion Air atau Air Asia ya yang murah kalau hendak liburan ke Bali. Sementara saya, bingung apakah enaknya pulang ke Indonesia lewat Singapura atau sekalian ke Taiwan dulu mumpung si Yuli masih ngendon disana. Jadi, kalau kebahagiaan diukur semata dari kesuksesan karir dan materi, saya jelas sudah memilih suami yang tepat (walau tentu saja logika yang sesuai adalah kalau saja saya menikah dengan si kumbang tampan ini, dialah yang akan pindah ke Australia dan Okhi yang masih akan menumpang di rumah emaknya).

Jadi kenapa saya enggan bertemu dengannya kalau bukan karena takut jatuh cinta lagi padanya? Lemme go back to many many years before. Saat pertama kali saya melihatnya, dia benar- benar makhluk terkeren yang saya kenal. Dia terkenal di seantero tempat les, dia punya banyak teman kaya, dia anggota geng makhluk gaul. Pokoknya, dia tipe cowok yang paling gaul deh jaman kita SMA dulu. Kebayang kan? And then me. Cewek ceking item berkaca mata yang hanya berteman dengan makhluk- makhluk kurang keren lainnya. Saya jelas bukan anak paling jelek, atau paling bodoh, atau paling nggak gaul di lingkungan per-abegean dulu, walau jelas bukan yang paling keren juga.

Saya cinta padanya seperti layaknya seorang wanita jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Total, setengah mati, sepenuhnya buta, dan seutuhnya tolol. Dan si kumbang tampan ini, menyadari ada belatung yang jatuh cinta padanya. Apakah dia geer? Tentu tidak, digilai wanita bukan hal baru baginya. Apakah dia membalas cinta saya? Hoho, sejak kapan kumbang sudi kencan sama belatung. Tapi, dia sadar sesadar- sadarnya akan mata saya yang memuja. Dan dia memanfaatkannya. Kami pernah nonton bioskop berdua (saya serasa melayang ke nirwana saat ia mengajak nonton). Pada hari H, dia datang bersama segerombolan cowok temannya. Jadi kami nonton bioskop plus plus (plus gengnya). Siapa yang membayar? Tentu si belatung. Kadang dia menarik saya ke kantin depan tempat les, yang membuat lutut saya lemas karena bersentuhan dengan tangannya. Siapa yang membayar? Oh ayolah, masak nggak bisa menebak sih?

Apa saya nggak sadar saya dimanfaatkan? Bagaimana nggak sadar kalau saban kali kami bertemu dulu, saya melihatnya sedang menggoda cewek cantik dan keren lainnya. Dan saya bahkan tahu dia naksir cewek yang paling cantik di kelas sebelah, yang bibirnya merah dan kulitnya sebening embun. Tapi saya tak berdaya. Seorang teman baik saya tahu akan hal ini, dan dia sudah bolak- balik mengingatkan saya akan ketololan saya. But, I was helpless..... 

Itulah kenapa saya enggan bertemu dengannya. Meskipun sekarang saya yakin saya punya segudang hal yang bisa saya sombongkan di depannya, tapi dia mengingatkan saya akan ketololan saya dulu. Mengingatkan saya akan masa dimana saya tidak menjadi diri saya sendiri. Mengingatkan pada masa saat ia hanya iseng mengomentari kaki saya, dan saya jadinya ingin mengamputasi kaki saya yang tiba- tiba tampak seperti kayu lapuk dimata saya. And I am embarassed. Saya nggak tahan membayangkan mungkin dia menceritakan ke teman- teman kami yang lain betapa dia dulu bisa memanfaatkan saya. Betapa cinta saya dulu membuat saya rela menyembah kakinya. Walau kalau ada yang seharusnya malu, seharusnya dialah yang malu karena sudah bertindak kejam.

Kemudian, saat saya sudah jauh lebih dewasa, sudah sepenuhnya get over him, sudah jatuh cinta setengah mati ke Okhi yang juga mencintai saya setengah hidup, saya berteman dengan seorang pria. Yang mencintai seorang gadis setengah mati. Yang mengingatkan saya akan cinta buta saya jaman remaja dulu. Dan sejak awal saya tahu, gadis ini not into him. Mereka berpacaran (entah kenapa, mungkin si gadis lagi kosong aja kali). Saya berada di sampingnya saat ia mencoba menelpon si gadis pacarnya itu. Dan melongok ke layar hapenya saat balasan sms dari si gadis datang, bertuliskan "Jangan telpon aku dulu. Aku lagi enggak mood."   

Saya dan sahabat saya itu sedang makan berdua di warung bakmi, saat ada sms datang, dari si gadis pujaan, bertuliskan "Kalau nanti aku sudah bilang boleh, baru kamu boleh telpon aku lagi. Ditelpon kamu itu benar- benar bikin aku nggak mood. Aku mau ujian, jadi kamu nggak mau jadi penyebab kegagalanku kan?"

Saat itu, saya ingin menyiram sambel ke tenggorokan saya sendiri, mencolok kedua bola mata saya sendiri dan menggigit putus jari saya. Instead, saya menatap teman saya itu dan kami saling bertatapan tanpa berkata apapun dan kemudian kembali menekuri mangkuk bakmi kami. Beberapa saat kemudian, teman saya itu menghembuskan nafas dan berkata "Thanks ya, udah diem aja nggak nasehatin gue..."

Saat pertama sahabat saya itu menceritakan hubungannya dengan si cewek, yang dimata saya adalah makhluk paling egois dan paling brengsek, saya sudah enggak sreg. Dengan hati- hati bahkan saya berkata pada sahabat saya "I don't think she can love somebody else beside herself."

Sahabat saya, terbutakan oleh cinta, tentu saja juga tuli akan nasehat saya. Hari demi hari berlalu, dan perlahan teman saya itu menyadari sih bahwa cewek itu jauh lebih mencintai egonya daripada hati teman saya. Tapi sama seperti saya dulu, sahabat saya itu juga helpless. Satu sms cukup manis dari si cewek semacam "Kamu lembur nggak hari ini?" sudah cukup membuat hatinya berbunga- bunga. Sudah cukup untuk menghapus puluhan SMS bedebah yang memenuhi inboxnya, yang dikirim oleh si cewek bedebah itu.  

 Saya, yang menatap sahabat saya dengan tatapan penuh kasih dan kasihan, terkadang ingin membenamkan wajah sendunya saat menerima sms si bedebah. Sungguh terkadang saya ingin menyepak bokongnya ke dalam empang, biar otaknya yang tumpul dan berkabut itu jadi bersih lagi. Bagaimana mungkin seorang pria, yang sangat pintar, yang sudah dewasa, yang punya karir cemerlang, yang punya wajah lumayan, yang bodinya masih lebih berbentuk daripada si Okhi, bisa- bisanya menyerahkan cintanya, dan harga dirinya pada seorang bedebah tak berhati.

Sahabat saya bukannya tidak berusaha untuk mengambil kembali harga dirinya. Sudah berapa kali saya menjadi saksi tekadnya bahwa 'ini yang terakhir kalinya dia boleh seenaknya sama aku'. Dan menjadi saksi bahwa sahabat saya kembali memaafkan si bedebah. Untuk kemudian membuat tekad lagi. Hingga yang terakhir dia berkata bahwa dia akan melamar si bedebah, dan kalau dia menolak maka hubungan mereka akan langsung berakhir. Untungnya kami berbicara di tengah kegelapan malam sepulangnya dari menonton konser, jadi sahabat saya itu tidak bisa melihat kilatan penghinaan dan melecehkan di mata saya. Saya mengantarkan sahabat saya ke bandara untuk terbang ke kota tempat si bedebah tinggal, saya menepuk bahunya, dan dia minta saya mendoakan supaya berhasil. Saya memang berdoa, tapi saya berdoa supaya si bedebah tidak menerima sahabat saya, dan menolaknya dengan cara yang kasar agar sahabat saya bisa sadar. Dan benar saja, si bedebah menolak lamaran teman saya, dan bahkan marah karena teman saya itu membuatnya merasa tidak nyaman dan diburu- buru. Sahabat saya, kembali ke samping saya dengan hati terluka. Dan beberapa hari kemudian kembali memaafkan si bedebah. Saya, kembali tergoda untuk mencolok keluar bola mata saya sendiri.

Apakah saya tidak pernah berusaha menasehati sahabat saya itu? Million times. Tidak terhitung. Tapi sama dengan pengalaman saya dulu, terkadang ada beberapa hal dimana hanya waktu yang bisa menyembuhkan. Saya tentu saja tetap memberi masukan ke sahabat saya, dan dia juga tetap mencari nasehat dan pendapat saya. Dan saya yakin saran sayalah yang membuatnya bisa tahu bahwa dia itu dimanfaatkan dengan semena- mena. Masalah dia helpless seperti pecandu heroin, yah there was nothing I could do. Saya hanya menjadi sahabatnya, menjadi tempatnya berkeluh kesah. Saya menemaninya melalui jalan yang menyedihkan, sampai tiba waktunya sahabat saya itu bisa bangkit sendiri. Kadang memang bikin frustasi, tapi saya tahu sahabat saya harus menjalaninya dulu sebelum ia bisa terlepas dari si bedebah. Terserah saya apakah ingin pergi saja dari sampingnya karena bosan dengan ketololannya, atau tetap di sampingnya untuk again and again menjadi tempatnya berkeluh kesah. Sekarang sih sahabat saya itu sudah menikah dengan cewek imut sederhana yang memujanya, dan sudah sepenuhnya get rid of the bastard.

Kemarin, saat saya dan Okhi sedang menemani Sera bermain di taman, Sera berlari menuruni semacam bukit kecil. Saya kuatir dia akan jatuh. Saat saya hendak melarangnya berlari Okhi berkata " Biarin aja. Toh aman enggak ada barang tajam."
"Tapi nanti Sera jatuh gimana?"
"Ya dia bakal jatuh kalau begitu."
"Kalau dia luka gimana?"
"Ya dia akan luka kalau gitu. Kita akan menunggu disini, dan kita akan will be there for her saat dia butuh kita."

Dan Sera memang terjatuh. Terguling- guling. Dan bangun kembali dengan bingung. Menatap kami yang duduk dengan tenang di atas bukit. Dan kemudian tertawa. Dan kemudian mencoba lagi menuruni bukit itu, dengan lebih perlahan.


Sometimes that's the point of loving somebody. Ada saatnya saya harus membiarkan Sera melakukan kesalahan atau mungkin nantinya mencintai seseorang dengan cara tolol seperti saya dulu agar Sera can learn the lesson (selama Sera jatuh cinta pada temannya seumuran yang masih single tapi sedikit bastard, kalau dia jatuh cinta pada pria beristri of course I will not let her continue on). Karena terkadang nasehat bukanlah yang dia butuhkan (walau tentu saya akan tetap memberikannya), dan dia butuh menjalani sendiri dulu kesalahan itu untuk bisa membuatnya sadar. Selama saya tahu bahwa dia bakal aman dan baik- baik saja, I just need to let her try. Saya akan bersiap sedia di sampingnya saat dia terjatuh, entah dari bukit kecilnya, atau saat cintanya kelak bertepuk sebelah tangan. Sometimes, mengalami sendiri adalah satu- satunya obat untuk ketololan dan kegilaan. Dan sekarang, saya berterima kasih pada si kumbang tampan saya dulu, for his cruel but invaluable lesson (walau saya tetap enggan bertemu dengannya, hahahaha. Saya memang pengecut).

Monday 8 August 2011

My Monday Note -- Uhui, Dapat SIM Euy !


Note saya ini lanjutan note Getting My Learner Permit. 

Setelah berhasil lulus ujian tertulis untuk mendapatkan Learner Permit, yang membuktikan otak saya yang lelet ini bisa juga disuruh menghafal buku primbon setebal bantal yang berisi berbagai aturan dan ketentuan berlalu- lintas, saya langsung merasa sudah sepintar Ibu Polwan. 

Sehabis tes Learner Permit, saya masih harus menempuh jalan berliku untuk mendapatkan secarik pengakuan bahwa saya itu berbakat kok untuk jadi supir. Berikutnya, saya menjalani ujian Hazard Perception Test. Keren ya namanya? Ujian ini maksudnya ingin melihat kemampuan seorang calon supir mengenali dan bereaksi terhadap bahaya yang menghadang di saat ia menunaikan tugasnya. Kalau di Jakarta, mungkin semacam ujian untuk mampu mengenali anggota kapak merah dari jarak 500 meter, atau kemampuan mengendus bahwa FPI sedang hendak menggunakan jalan raya untuk tempat parkir bokong dan goloknya. 

Jadi ceritanya, ujian ini adalah simulasi keadaan di jalan raya. Saat Okhi bercerita bahwa ini ujian simulasi, saya langsung membayangkan seperti di film- film Hollywood ala Star Trek. Saya akan memasuki sebuah ruangan seperi tiruan kokpit pesawat ulang alik, dan kemudian di belakang setir saya akan mengemudikan pesawat bak film 3 dimensi, meliuk- liuk menghindari hujan meteor atau beratraksi jungkir balik seperti pilot pesawat tempur. Kalau beruntung, saya juga akan mengobrol dengan Lieutenant Commander Data.

Hanya tentu saja, itu impian yang kesiangan. Lha kan saya bukannya mau naik pesawat ulang- alik menuju ke bulan. Instead, saya hanya akan naik mobil sedan honda ke kelas bermainnya Sera yang hanya berjarak 10 menit dari rumah. Jadi, bukannya mendapat ruangan simulasi ala kokpit pesawat, simulasi saya hanya berupa duduk di kursi lipat, di depan layar komputer jadul yang nantinya akan menayangkan video seolah saya sedang berada di belakang kemudi mobil, dan menyetir di jalan raya. Sebelah kanan kiri saya, ya para peserta tes lainnya. Dan bukannya memakai headphone keren ala pilot pesawat tempur, saya memasangkan headphone sebesar gambreng ke telinga saya. Mana headphonenya mungkin untuk ukuran kepala bule lagi, jadi melorot terus di kepala saya. "Nggak keren banget sih," gerutu saya.      

Tidak seperti untuk ujian Learner Permit yang menguji teori, untuk ujian Hazard ini saya tidak perlu belajar. Jadi, langsung saja saya duduk di depan si komputer IBM jadul, dengan hati deg- deg an juga, ini bakal disuruh ngapain sih? Sebelum ujian sesungguhnya, ada tiga contoh soal untuk saya melatih kelenturan jari. Soal pertama, di layar komputer ada perintah tertulis : Tekan mouse saat menurut anda aman untuk menyalip mobil di depan anda. Lalu kemudian ada video bergerak, yang menunjukkan situasi di jalan raya dari sudut pandang saya sebagai sopir. Di depan saya ada mobil yang harus saya salip, dan disebelah kanan saya adalah lalu- lintas dari arah yang berseberangan. Saat lalu lintas dari arah depan saya kosong, saya menekan mouse yang menunjukkan menurut saya kondisi sudah aman untuk menyalip mobil depan saya.

Gampang kan? Hanya kenyataannya, sebagian besar orang sih lulus dalam percobaan pertama saat ujian ini, tapi biasanya nilainya minim. Batas kelulusan adalah 50, Okhi dapat nilai 55 dan saya 57. Lha gimana, simulasinya payah begitu. Layar komputernya kecil, videonya sering agak gelap. Dan soal yang diujikan cukup banyak, sekitar 32. Nah, jari telunjuk saya ya lama- lama kram juga bersiaga terus di atas mouse. Saat ada soal: Tekan mouse saat menurutmu kamu harus mengurangi kecepatan, kemudian ada video tentang jalan raya yang lengang tanpa kendaraan. Setelah beberapa saat, saya mulai bosan dan tanpa sengaja telunjuk saya menekan mouse. Halah, kaget saya! Berarti saya memutuskan untuk menginjak rem di kondisi jalan kosong melompong dong?? Berkurang satu poin hanya gara- gara telunjuk tergelincir.

Lalu ada soal: Pencet mouse saat menurutmu aman untuk berbelok ke kanan. Nah, dari arah sebaliknya saya melihat sebuah truk melintas. Logikanya, begitu truk ini sudah setengah berlalu, saya boleh dong mulai memajukan kendaraan saya. Eh lha kok ternyata di sebelahnya si truk, tertutup badan truk yang bongsor, ada sepeda motor. Dalam kehidupan nyata nih, ya sudah tinggal saya injak lagi saja rem saat melihat ada si motor. Tapi di simulasi ini, begitu saya tekan mouse, berarti saya menginjak gas mobil dan menabrak si motor. Dodol banget kan simulasinya? Meskipun saya lulus, tak urung saya ngomel- ngomel juga saat keluar dari ruangan. Ngomelnya ke Okhi sih, mana berani ngomel ke petugasnya :D.

Selesai ujian simulasi, sampailah saya pada tahap tes mengemudi praktek yang sesungguhnya. Akhirnya..... Tapi sebelumnya, saya menghubungi dulu si Martin, orang Indonesia yang jadi guru les nyetir berijazah. Soalnya, meskipun saya sudah bangkotan nyetir, saya perlu juga dong membiasakan dengan peraturan sini, dan juga supaya saya mengerti perintah- perintah saat ujian nanti. Si Martin ini, meskipun menyenangkan dan ramah tamah, tapi tetap saja menyebalkan soal fee. Dalam sesi belajar selama sejam doang dengan mobilnya, saya harus merogoh kocek 80 dolar. Sebal.

Di saat kursus yang pertama, di hari Sabtu pagi, saya mengendap- endap membuka pintu rumah seperti maling kesiangan. Maklum, takut si genduk tahu saya kabur dan mulai menangis menjerit- jerit. Sera sudah diamankan, diajak bapaknya membuang sampah di halaman belakang (keren banget kan usaha mengalihkan perhatiannya?). Saya berjalan ke arah si Martin yang menunggu di depan mobilnya, sebuah sedan toyota putih. Setelah berjabat tangan berkenalan, saya masuk ke dalam mobil. Karena status saya barulah seorang calon sopir, maka di bagian depan dan belakang mobilnya Martin ada plat gede warna kuning dengan huruf L hitam besar. L for Learner. Maksudnya, minggir.. minggir... sopir dodol lagi nyetir. Kalau kesenggol salah sendiri ye...

Sebelum memulai kursus, Martin bertanya ke saya di daerah mana saya dulu bekerja di Jakarta. Saat saya jawab daerah Kuningan, dia kemudian bertanya "Kamu tahu berapa batas kecepatan mobil di Kuningan?" Dengan sopan saya menjawab "Jam berapa? Kalau jam 8 pagi ya 20 km/ jam. Kalau jam 12 malam ya semau saya." Sambil tertawa Martin berkata, bahwa di Australia ini, berbeda dari Jakarta, semua jalan mempunyai aturan kecepatan yang harus dipatuhi. Bahkan di area perumahan yang tidak ada petunjuk kecepatannya, itu berarti kecepatan maksimal adalah 50 km/ jam.

"Ok, off you go," katanya memerintahkan saya menghidupkan kendaraan dan menjalankan mobil. Baru saja saya menghidupkan mobil dan mengarahkan setir ke kanan, Martin sudah menginterupsi. Ada beberapa kesalahan yang sudah saya perbuat bahkan sebelum saya mulai menyetir. Pertama, kalau saya hendak masuk ke jalan dari posisi berhenti, saya harus memberikan lampu sign minimal 5 kali. Kemudian, sebelum saya menyetir, saya harus melihat bukan saja ke kaca spion tapi juga ke jendela di belakang saya, untuk mengecek blind spot yang tidak bisa dilihat dari spion. Mulai pusing bahkan saat mobil masih terparkir.   

Kemudian, dia mengajak saya berputar- putar, dimulai dari daerah perumahan. Dia memperhatikan saya membelok, masuk ke jalan raya dari gang, kemudian bagaimana saya menyalip kendaraan, berganti jalur dan sebagainya, tanpa memberi komentar apapun. Setelah setengah jam berlalu, dia menyuruh saya meminggirkan mobil, dan mulai memberikan komentarnya tentang cara saya menyetir. Intinya, dia bilang saya jelas seorang sopir yang sudah berpengalaman (wow, masak sih?) tapi gaya saya jelas gaya sopir Indonesia (ah masak sih?). Yang pertama, ada beberapa kebiasaan saya yang harus diperbaiki, seperti saya harus selalu melihat ke kaca spion dalam sebelum saya mengerem. Dan bahkan ia menasehatkan saya untuk melihat spion dalam secara teratur setiap beberap menit. Ini cukup sulit karena saya tidak terbiasa melakukannya. Dulu si Okhi waktu kursus juga dikomentari hal ini. Okhi sih memang selalu melihat kaca spion dalam sejak dulu, tapi dia melihat hanya dengan melirikkan matanya yang sipit. Kata Martin, kalau saat ujian, bisa- bisa si instruktur tidak melihat bahwa Okhi sudah melihat spion. "Kepalamu harus kamu gerakkan sedikit," katanya memberi saran ke Okhi.

Kebiasaan lain yang harus diubah, enggak pernah ada ceritanya mobil di Australia ini, saat dikemudikan di jalan, persnelingnya masuk ke gigi netral. Jadi, saya harus selalu meletakkan persneling saya di gigi 1 (kalau mobil manual) atau D (kalau otomatis) bahkan saat saya berhenti di lampu merah. Alasannya, karena begitu lampu berubah hijau, saya harus langsung tancap gas ngebut. Bagaimana kalau saya tetap pada kebiasaan Indonesia saya, yang saat berhenti di lampu merah, maka saya ubah posisi gigi mobil saya ke nol dan kadang bahkan menggunakan rem tangan? Alamat mobil saya bakal dilindas mobil dibelakang saya yang langsung maju terus pantang ngerem. Dan kata Martin mengomentari gaya saya "Kalau lampu sudah hijau langsung jalan cepat. Jangan pelan- pelan sambil clingak clinguk kanan kiri." Ye si Martin, puluhan tahun kan saya begitu, meskipun lampu sudah hijau, saya harus tetap waspada kalau ada becak nyelonong atau bajaj menggelinding. 

Nah, karena peraturan disini harus selalu melihat ke berbagai spion dan blind spot setiap hendak berpindah jalur, atau memutar balik atau ngapain aja deh, jadi saya ambil gampangnya saja. Misalnya saya hendak berputar di jalan buntu, saya akan lihat spion kanan, kiri, dalam, dan melongokkan kepala ke jendela belakang saya. Sampai si Martin berkomentar "Tadi kan sebelah kirimu tembok, ngapain juga kamu harus lihat kiri segala sih?" Saya jawab karena saya pusing memikirkan kira- kira saya harus melongok ke arah mana dulu, jadi ya sudah saya putuskan saya akan melihat ke semua penjuru, enggak peduli perlu apa enggak. "Kalau aku kelupaan lihat spion, nilaiku kan berkurang. Nah, kalau aku kebanyakan melihat spion, nilaiku gak akan dikurangi kan?" jawab saya berargurmen.  Martin sih diam saja, hanya mungkin membayangkan instruktur tes saya nanti akan mempertanyakan IQ saya saat melihat saya celingak celinguk nggak jelas juntrungan. 

Satu lagi kebiasaan jelek saya (yang bahkan juga salah saat dilakukan di Indonesia). Saya terbiasa menyetir hanya memakai satu tangan, dan kalau sedang berhenti di lampu merah misalnya, langsung saja tangan saya terlepas dari setir, entah hanya iseng ditaruh pangkuan, atau sambil ngupil, atau garuk- garuk dengkul. Pokoknya saya paling anti kalau disuruh meletakkan kedua tangan di setir. Sungguh, perjuangan untuk merubah kebiasaan itu susah sekali. Hidung saya selalu gatal menggelitik minta dikilik- kilik jari saya...

Soal batas kecepatan, orang Australia sih cukup disiplin mematuhi, tapi ya enggak patuh- patuh amat. Di zona 60 km/ jam, mereka jalan 65. Di zona 70, mereka jalan 75. Pokoknya nggak mau rugi deh. Nah, berhubung saya akan tes, jadi saya sama sekali tidak boleh melewati batas kecepatan. Bahkan saya disarankan untuk sedikit di bawah batas kecepatan maksimal waktu ujian nanti. Si Okhi gagal dalam ujian pertamanya, karena dia tidak melihat tanda kecepatan sudah berubah menjadi 60 km/ jam dan dia masih melaju di 70 km. Hahaha, susah emang kalau buta huruf.

Nah, yang menyebalkan adalah kalau ada pekerjaan jalan. Jadi disini, misalnya ada satu bohlam lampu jalan mau diganti (ganti bohlam saja pakai truk canggih dengan jumlah personel segambreng, kurang kerjaan banget) maka di area si lampu tadi mau diganti akan diberi rambu sementara. Beberapa puluh meter sebelum tempat si truk yang akan melakukan perbaikan diparkir, akan diletakkan rambu- rambu yang memberi warning "Sedang ada perbaikan". Di rambu itu akan tertulis kecepatan yang harus saya patuhi, misalnya 40 km. Jadi, meskipun di jalan itu biasanya saya boleh jalan sampai 100 km/ jam pun, ya saya harus mengikuti rambu itu, dan hanya boleh jalan 40 km/jam doang.  Harusnya, beberapa puluh meter setelah lokasi tempat perbaikan itu,si pekerja jalan harus meletakkan tanda bahwa para sopir sudah boleh kembali ke kecepatan normal. Yang bikin kesal, ni para pekerja jalan sering lupa meletakkan rambu itu. Jadi selama berkilo- kilometer, saya terpaksa berjalan dengan kecepatan ala siput. Kalau dalam kondisi normal sih orang- orang akan langsung kembali memacu mobil mereka begitu area perbaikan sudah dilalui. Ya pakai logika saja, ngapain juga jalan pelan- pelan kalau sudah tidak ada halangan? Tapi lagi- lagi karena saya sedang ujian, ya saya harus mengikuti peraturan secara saklek. Sebelum ketemu tanda yang menyatakan saya sudah boleh jalan normal, saya haram untuk mengubah kecepatan saya. Mampus deh jalan 40 km disaat orang lain sudah pada ngebut lagi. I hate you tradie ! 

Setelah kursus selama lima kali, akhirnya tiba saatnya saya ikut ujian. Ujiannya jam setengah sembilan pagi. Jam delapan kurang, Martin sudah menjemput saya (menyewa dia untuk ujian membuat saya merogoh kocek 150 dolar $%$^&*). Selama 30 menit dia membawa saya berputar- putar agar saya bisa menyetir dengan lentur. Kemudian, saya mengarahkan mobil ke arah kantor VicRoad yang mengurusi soal SIM. Saya memarkir mobil di tempat parkir khusus untuk orang- orang yang akan ujian SIM. Kemudian, saya masuk ke dalam ruangan kantornya. Sudah banyak orang sih, tapi karena saya sudah buat janji dulu lewat telpon, ya nggak pake lama deh nunggunya. 

Lalu nama saya dipanggil oleh seorang petugas, bapak- bapak gemuk tua dengan nafas yang berat. Karena kemampuan saya untuk mengerti dialek Oz sangat parah, saya bolak- balik salah mengartikan pertanyaannya, yang membuat moodnya si Bapak langsung drop. Dia jadi so grumpy. Dan yang menyedihkan, bapak tua penggerutu ini yang akan menjadi instruktur ujian saya. Mati deh! Tapi si Martin menghibur dengan berkata bahwa Bapak ini memang penggerutu tapi dia enggak pelit nilai kok. Saya mendengus tidak percaya.

Sebelum memulai tes, si Bapak memeriksa kelengkapan mobil. Kalau ada satu saja lampu yang mati, saya akan langsung dianggap gagal. Istilahnya, layu sebelum ujian. Mulai lagi deh telinga soak saya bikin masalah. Disuruh menyalakan lampu sen, saya menyalakan lampu dim. Disuruh menginjak rem biar si Bapak bisa memeriksa lampu rem, saya memegang gagang rem tangan. Si Bapak memerah mukanya karena sebal, Martin memerah karena malu, saya memerah karena  berkeringat dingin. Tapi untungnya semua beres, dan masuklah si Bapak ke dalam mobil, di kursi belakang, sementara Martin duduk di samping saya. Kata si Bapak "Young lady, bla bla bla..." Saya tidak mendengarkan selebihnya karena saya langsung memerah tersipu dipanggil young lady. Pasti karena saya pakai tank top ketat nih!   

Kalau orang yang baru belajar nyetir gagal dalam ujian, itu biasanya karena memang dia belum ahli menyetir. Tapi kalau yang semacam saya yang sebetulnya sudah gape nyetir gagal, biasanya karena kurang beruntung. Martin sempat bercerita mengenai murid- muridnya yang gagal. Ada yang gagal karena tidak sadar lampu merah sudah berganti hijau (padahal itu sudah lampu merah terakhir sebelum ujiannya selesai, ngenes banget gak gagal di menit terakhir), ada yang gagal karena ban mobilnya menyenggol trotoar saat parkir (saya juga sering parkir terlalu mepet) atau yang gagal karena tanpa sadar dia menepikan mobilnya di depan jalan masuk ke halaman rumah orang. Bahkan kalau instrukturnya killer, hanya sekedar menerjang ranting pohon yang menjulur saja bisa dianggap gagal (lha kan itu ranting diem saja, ngapain juga ditabrak, gak bisa lihat apa?).

Tapi yang paling parah, ada muridnya si Martin yang telinganya lebih soak dari saya. Diberi perintah sekali, dia bilang "Sorry can you repeat?" Si instruktur mengulangi lagi, dan dia tetap tidak mengerti. Saat si instruktur mengulangi perintahnya untuk yang ketiga kalinya, si murid langsung menginjak rem dan menghentikan mobilnya, kemudian menolehkan kepalanya ke belakang dan bertanya ke si instruktur "Sorry please say it again." Yak saudara- saudara, kejadian itu terjadi di tengah jalan besar. Si instruktur langsung pucat dan berteriak "Go go go, move move move!

Ujian SIM disini berlangsung kira- kira 30 menit. Sesi yang pertama, instruktur tes menyuruh saya berputar- putar di daerah perumahan yang agak sepi dan melakukan berbagai manuver seperti parkir pararel, berputar di jalan buntu, menepikan kendaraan dan berbalik arah. Masalah berputar di gang buntu sih saya jago sekali.Ceritanya, demi menghemat uang kursus, saya berniat mengurangi frekuensi kursus dengan si Martin, dan meminta Okhi untuk berpura- pura menjadi Martin. Jadi Okhi duduk di samping saya dan mulai memberi perintah ala instruktur semacam "In the end of the road, turn right." Berhubung Okhi juga nggak hafal jalan perumahan yang berliku- liku, setiap 5 menit sekali dia membuat saya menemui jalan atau gang buntu. Setelah untuk yang kesepuluh kalinya lagi- lagi bertemu gang buntu, kesabaran saya menguap sudah. Kapan saya belajar ilmu yang lain kalau bolak- balik harus memutar mobil di gang buntu?

Yah, namanya juga berusaha ngirit. Tapi setelah sekali saja dibawah komando si Okhi, saya menyerah dan menolak untuk mengulangi. Sudah bolak- balik mengarahkan ke jalan buntu, cerewetnya juga nggak ketulungan. Bikin bete aja deh. Belum lagi sedang asyik- asyiknya nyetir, eh dia meringis dan berkata kebelet! Katanya para abege, capek deh.... Oya, kalau Martin memberi saya perintah untuk belok kanan, dia akan mengatakannya hanya dengan mulutnya, dengan wajah tenang. Kalau Okhi, tangannya sibuk menunjuk- nunjuk seolah saya tidak bisa membedakan kanan dan kiri, dan kalau saya salah sedikit saja, dia langsung ngomel. Again, tired deh.... Suami anda menyebalkan tingkahnya di rumah? Jangan tanya kalau di dalam mobil. DUI (Driving Under Influence) of Husband is Hell in the world.

Setelah kurang lebih 10 menit di daerah perumahan, maka si instruktur memerintahkan saya menepikan mobil. Dia kemudian akan menjumlahkan skor saya untuk menentukan apakah saya bisa melanjutkan ke sesi yang kedua. Sesi kedua adalah sesi jalan besar, disini saya akan diperintahkan untuk menyalip, berpindah jalur, menyeberang jalan, dan sebagainya. Sesi itu berjalan lancar sampai saya bertemu dengan satu lampu merah. Saya diperintahkan untuk belok kanan di lampu merah. Di depan saya sudah ada lima mobil, dan jarak saya masih jauh di belakang mereka. Saya, merasa pede bahwa saya masih akan dapat giliran lampu hijau. Ternyata, lampu berubah menjadi kuning tepat disaat saya hampir mencapai si lampu lalu lintas. Setelah saya melirik sekilas spion dan menemukan di belakang saya tidak ada mobil lain, langsung saya mengerem sekuat tenaga. Dan itupun saya masih berhenti melewati garis pembatas. Kemudian, saya segera memasukkan persneling mundur dan memundurkan mobil saya hingga berada di belakang garis pembatas. Hayo, kenapa hal ini bisa bikin saya gagal ujian?

Beda dari Indonesia, saat kita menyetir mengarah ke lampu lampu lalu lintas dan lampu berubah kuning, maka sopir wajib berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan mobil. Kalau di Indonesia kan mending terus saja kalau sudah nanggung begitu, karena bisa- bisa ditabrak mobil belakangnya. Di sini, setelah melirik spion dan yakin tidak ada mobil yang terlalu dekat jaraknya di belakang mobil saya, maka saya wajib hukumnya untuk mencoba berhenti, bahkan kalau itu berarti saya harus mengerem dengan keras. Jadi saya tidak berdosa karena mengerem mendadak. Lalu, secara peraturan juga saya diperbolehkan untuk memundurkan mobil bila saya berhenti setelah garis batas. Yang bikin saya berada dalam bahaya tidak lulus, adalah karena saya gagal mengantisipasi bahwa lampu lalu lintas sudah cukup lama berwarna hijau, dan di depan saya sudah ada banyak mobil. Seharusnya saya sudah mengantisipasi bahwa lampu akan berubah kuning at any time, dan seharusnya saya mulai mengurangi kecepatan dan bersiap berhenti.    

Sesudah 30 menit, kami kembali ke kantor VicRoad. Si bapak masuk dulu ke kantor untuk menjumlahkan poin, dan saya mengikutinya. Yes, ternyata saya lulus (dengan banyak catatan perbaikan tertulis di lembar penilaian saya). Kesalahan bodoh saya yang gagal mengantisipasi lampu berhasil ditutup dengan kenyataan saya sudah memastikan kondisi aman sebelum mengerem, dan karena saya jelas- jelas pengemudi yang sudah mahir. Setelah membayar biaya, saya menuju ke tempat foto. Foto SIM Indonesia saya jelek sekali, karena saya marah saat itu. Saya marah karena sudah bayar mahal pakai calo dan saya tetap mengantri seharian hanya untuk foto. Foto SIM Victoria saya ternyata juga jelek sekali. Padahal saya nggak marah karena saya hanya mengantri 5 menit saja, dan bahkan petugas fotonya menyapa saya dengan sebutan "Hey sweet girl, come here." Kenapa ya? Heran saya.

Oya, karena saya mempunyai SIM Indonesia yang sudah berlaku selama lebih dari tiga tahun, jadi begitu lulus ujian ini saya berhak mendapat full license. Kalau saja saya baru belajar nyetir, maka saya akan mendapat SIM Probationary, dan nantinya saat menyetir saya harus meletakkan plat P di bagian depan dan belakang mobil saya. Dengan mendapat SIM full license, itu berarti saya boleh menenggak sekaleng bir atau segelas anggur sebelum menyetir, sementara para P-plater hanya boleh minum air keran dan susu hangat. Huahahahahaha, kayak minumannya Sera aja :D


Kalau boleh milih sih, saya lebih senang dapat instruktur cowok. Soalnya instruktur cewek (katanya) lebih pelit nilai. Jadi, meskipun instruktur saya itu galak, grumpy dan menakutkan, tapi benar katanya Martin, dia murah nilai. Saat Okhi ujian pertama kali, si Martin berbisik "Ini instruktur yang paling cantik lho." Si Okhi menjawab "Justru biasanya yang cantik itu jahat ...." Eh, mungkin kena karma, beneran si Okhi nggak lulus. Hahahaha, kurang bakar kemenyan sih. Kata pepatah kan always the pretty one is the most dangerous of all. Makanya, kawin sama saya mah dijamin aman deh !!!  

Monday 1 August 2011

My Monday Note -- Sera (Tidak) Harus Bayar Sewa

Setelah menetap di Australia, ternyata banyak juga perbedaan yang saya temui antara Indonesia dan Negeri Down Under ini. Oya, kalau ada yang penasaran, Down Under itu istilah yang sering digunakan untuk menyebut Australia dan New Zealand. Alasan utamanya, karena penduduknya senang dengan yang ada di 'down under'. Alasan sampingannya, karena dua negara ini berada di southern hemisphere, jadi seolah berada di bawah negara-negara lain.

Salah satu fakta yang menarik perhatian saya, selain tentunya fakta bahwa pinggul para surfer disini sangat menawan, adalah hubungan antara orang tua dan anak. Pada kasus yang ekstrim, anak hanya akan menjadi tanggungan orang tuanya sampai ia berumur 18 tahun. Sehabis itu, kalau si anak masih tinggal bersama orang tuanya, maka ni anak diwajibkan membayar uang sewa ke ortunya. " Wih sadis," pikir saya. Bandingkan dengan di Indonesia, dimana merupakan hal yang biasa bagi seorang anak untuk tinggal di rumah orang tuanya, sampai ni anak juga sudah beranak pinak. Saya pernah mewawancarai responden yang tinggal di rumah ortunya, bersama lima saudaranya yang lain, yang masing-masing sudah punya 2 anak. Bos Jepang saya sampai geleng-geleng kepala dengan takjub. Saat saya melihat film serial terkenal disini, The Big Bang Theory, salah satu tokohnya, yang masih single dan belum kawin, masih tinggal bersama emaknya. Fakta bahwa dia masih 'nebeng' bersama ortunya selalu menjadi bahan olok-olok temannya yang lain, meskipun dia membela diri "But I pay the rent...."

Nah, karena anak hanya ditanggung ortunya sampai umur 18 tahun, tidak ada kewajiban juga buat seorang anak disini untuk 'menghidupi' orang tuanya saat orang tuanya pensiun nanti. "It's your own business mom...". "Wih sadis,"  lagi-lagi begitu pikiran saya. Saya tahu banyak teman saya di Indonesia yang saat ini sudah membantu membiayai orang tuanya yang beranjak tua, atau bahkan membantu rumah tangga adik atau kakaknya. 

Kabarnya, banyak orang sini yang lebih suka mewariskan hartanya untuk karya amal atau gereja pada saat mereka meninggal nanti, daripada mewariskannya ke anaknya. Bukannya kejam sih, hanya mungkin mereka beranggapan anaknya kan sudah dewasa, jadi ya harus berjuang sendiri dong.

Saya menyaksikan banyak orang tua dan anak yang punya hubungan yang dingin di Australia ini, tapi saya juga tahu banyak hubungan anak dan orang tua yang hangat menjurus 'panas' di Indonesia. Karena saya sudah menyaksikan budaya yang berbeda dari kedua negara ini, betapa bodohnya saya kalau tidak mengambil hal-hal positif dari keduanya.

Pertama, tentu saya menyadari budaya yang berbeda ini antara lain dikarenakan latar belakang yang berbeda juga. Di Australia, mencari pekerjaan part time bukanlah hal yang sulit. Banyak anak sekolah yang nyambi kerja di McDonalds misalnya. Sementara di Indonesia, yang sudah lulus sarjana saja susahnya setengah mati mencari kerja. Jadi tentu memang tidak memungkinkan kalau seorang anak yang baru lulus SMA di Indonesia disuruh membayar uang sewa ke orang tuanya.

Begitu juga soal membantu orang tuanya, disini semua pekerja mempunyai Super annuation, ini semacam tabungan pensiun yang wajib dibayarkan semua perusahaan pada para pekerjanya. Tapi tabungan ini tidak boleh diambil sebelum si pekerja pensiun. Jumlahnya mencukupi untuk hidup layak dan sejahtera, tapi tidak berfoya-foya. Jadi memang kebanyakan orang tua tidak membutuhkan uluran tangan anaknya untuk sekedar belanja ke pasar atau membayar tagihan PLN.

Saya dulu, juga tinggal di rumah bapak saya yang sebesar gudang amunisi. Dan saya senang karena saya bisa bertemu dengan orang tua dan adik saya setiap hari. Bapak saya juga senang karena dia bisa melihat Sera setiap hari. Namanya juga orang Indonesia, kita kan memang senang bisa kumpul-kumpul.  Jadi saya rasa tidak adil kalau dibilang anak yang tinggal di rumah orang tuanya adalah anak yang manja. Hanya, saya akui terkadang saya juga jadi tidak dewasa. Karena tinggal di rumah ortu dan mereka masih kaya raya banyak harta, saya jadinya merasa kalau dulu saya kurang bertanggung jawab terhadap hidup saya.

Kalau Sera besar besok, tentu saya tidak ingin menggedor pintu kamarnya setiap tanggal satu dan menagih uang sewa. Jadi emaknya saja sudah cukup bikin saya ngomel-ngomel setiap hari, apalagi kalau harus merangkap jadi ibu kosnya. Enggak kebayang kalau saya harus duduk menekuri buku gede yang isinya hitungan hutangnya Sera ke saya. Kemaren si Sera makan ayam bakar 3 biji pake sambel terasi. Hmm, jadi untuk ayamnya harganya 3 dolar, sambel terasinya karena Sera nambah jadi dicharge nya dobel. Yah, bisa-bisa saya masuk rumah sakit jiwa deh ngitungin harga terasi. Saya terlalu cinta bokong montoknya untuk tega menagih duit sewa. Tapi, saya juga ingin dong Sera tumbuh menjadi seorang young lady yang bertanggung jawab dan mandiri.    

Saya diberkati karena saya memiliki keluarga yang berkecukupan, jadi saya sudah bisa menikmati menyetir mobil sejak saya kuliah. Setelah saya lulus kuliah, gaji pertama saya tentunya belum cukup untuk membeli mobil. Dan meskipun saya bukan orang yang boros, saya mempunyai gaya hidup yang sudah settle sejak saya kuliah dulu, misal di restoran mana saya sudi membeli makan malam saya. Atau merk baju kesukaan saya. Atau jenis frapucino favorit saya di sterbek. Karena bapak dan emak saya sangat mapan, maka tanpa kesulitan mereka membantu saya mempertahankan gaya hidup saya, dan bahkan membelikan saya mobil. Padahal sebetulnya dengan gaji saya saat itu, pastinya saya belum sanggup untuk membeli mobil yaris atau belanja baju di SOGO.

Ini bukan masalah boros atau kaya, ini masalah betapa sulitnya menurunkan standar hidup yang sudah biasa kita pakai. Kayak misalnya biasa kemana-mana naik motor waktu kuliah, pusing juga kan kalau misalnya pas lulus kuliah dan baru kerja fasilitas motor itu dicabut sama orang tua? Padahal kan ya kita belum mampu beli motor sendiri. Dan orang tua mana sih, yang kalau memang mampu tidak dengan senang hati membantu anaknya?

Memang saya dan Okhi sekarang masih kere. Mau belanja cabai merah saja dijatah. Tapi by the time Sera besar nanti, kan ya kemungkinannya kami sudah akan mapan. Belajar dari pengalaman bahwa menurunkan standar hidup itu sulit, mau sekaya apapun nantinya kami, kami harus menjaga supaya Sera tidak terlena oleh gaya hidup yang tidak akan mampu ia biayai sendiri di awal karirnya. Bukan berarti saya berniat membuat Sera hidup dalam kekurangan, seperti dibiasakan makan nasi garam doang setiap harinya. Tapi misalnya saya berniat memberikan suatu kemewahan seperti mobil untuknya saat dia kuliah nanti, saya ingin sejak awal dia ikut berperan serta. Misalnya saya hanya akan membiayai pembelian mobil itu dan service ke bengkel, tapi Sera harus membiayai sendiri bensinnya. Jadi dia belajar bahwa kemewahan itu membutuhkan biaya.    

Oya, masalah tanggung jawab saat kuliah, sepertinya saya ingin meniru caranya Bondan Winarno saat ia menyekolahkan anaknya ke Amrik. Kalau IP anaknya diatas 3.5, dia akan mendapat full fasilitas seperti mobil dan apartemen. IP 3, mobil dicabut. IP dibawah 3, udah balik aja deh ke Indonesia. Saya tidak mau kejadian seperti saudara saya yang ortu nya sudah habis-habisan membiayai dan tidak ada hasilnya, enggak lulus-lulus. Sera harus menghargai setiap sen yang dikeluarkan untuk membiayainya bersekolah.

Nah, kalau Sera sudah bekerja, saya tentu ingin juga membantu memodalinya supaya ia cepat bisa beli rumah. Karena menyewa rumah itu rugi sekali. Tapi saya tidak ingin langsung menghibahkan seluruh uang muka misalnya. Saya ingin Sera ikut berperan serta. Jadi, untuk setiap sen yang ia tabung untuk uang muka rumah, saya akan menambah tabungannya. Semakin banyak Sera menabung, semakin banyak saya akan membantunya, semakin cepat ia bisa membeli rumahnya sendiri.

Satu hal lagi, masalah pensiun. Sungguh tidak menarik minat saya bahwa nanti di masa pensiun saya 'minta-minta' ke anak saya untuk membantu saya. Mau beli beha saja menelpon Sera dulu minta ditransfer (eh kira-kira umur 70 saya masih butuh beha nggak sih?). Pertama, hal itu tidak baik bagi harga diri saya. Yang kedua, hal itu tidak baik bagi Sera. Bukan berarti saya dan Sera putus hubungan keuangan sama sekali, misal saya butuh uang mendadak untuk mendandani dengkul saya yang soak misalnya, ya saya mungkin berharap Sera bisa membantu, begitu juga sebaliknya. Tapi saya harus sadar, Sera mempunyai hidup dan keluarganya sendiri yang harus ia biayai. Ia mungkin punya impian untuk menyekolahkan anaknya kelak di Harvard. Saya tidak ingin menjadi penghalang mimpinya, hanya karena ia harus membiayai semua kebutuhan hidup saya. Belum lagi saya mungkin akan menyebabkan ketegangan antara Sera dan suaminya apabila mereka harus menyisihkan pendapatan mereka untuk membayari tagihan listrik saya. Solusinya adalah, saya dan Okhi harus mulai menyiapkan dana pensiun mulai saat ini, sehingga kami bisa hidup berkecukupan di usia senja nanti. Karena sekarang saja saya mencoba jual diri enggak laku, apalagi nanti waktu umur saya sudah 70an.

Saya ingin hubungan yang sehat dengan Sera. Rumah tangga saya dan rumah tangga Sera, dibiayai oleh diri kami masing-masing, tanpa saling tergantung satu sama lain. Tentu saya juga ingin hubungan yang hangat dengan Sera, anytime Sera membutuhkan uluran tangan saya, atau saya membutuhkan uluran tangannya, kami akan melakukannya tanpa hitung-hitungan bisnis.

Bagi saya, keputusan mempunyai anak adalah keputusan paling 'egois' yang pernah saya ambil. Saya ingin punya anak karena saya ingin menikmati kelucuan seorang anak, saya ingin menikmati kenikmatan dikunjungi cucu saya di hari tua saya, saya ingin menikmati membeli baju bayi yang super duper cute, dan segudang keinginan lainnya. In return, I couldn't ask more than her happiness. Kebahagiaannya, adalah bayaran tertinggi dan satu- satunya yang saya harapkan sebagai imbalan atas 'jerih- payah' saya membesarkannya. Serafim, bukan investasi finansial yang ingin saya petik hasilnya di masa tua saya nanti. Dia investasi bagi kekayaan batin saya. 

Hmm, kok kepala saya jadi pening ya? Ini pasti akibat pembicaraan filosofi yang saya tulis. Emang otak lele agak susah diajak berpikir filsafat. Bentar ya, saya mau menikmati Kakang Brahma Kumbara di Saur Sepuh dulu.