Saat melihat si Serafim lagi tidur sambil nungging siang-siang begini, sambil berpikir-pikir enaknya ditongseng aja apa digulai nih anak pesut biang ribut yang baru saja menyemplungkan hape nokia saya ke bak mandinya, saya jadi mengenang lagi masa-masa saya hamil dulu. Saya ingat-ingat, apa ya yang paling membuat saya bete soal the whole having kids thing ini? Kebanyakan teman saya mengeluh punggung yang sakit, atau rasa mual yang ampun-ampunan, atau kaki yang bengkak sekali sampai menyerupai telapak gajah. Tidurpun menjadi sebuah perjuangan berat karena telentang salah, miring juga salah. Kalau nekat mencoba telungkup sih berarti rada-rada sinting.
Untungnya, saya tidak mengalami semua masalah diatas. Hamil kebo, kata orang. Itu untungnya kawin sama mutan kebo, saya jadi ketularan. Hmm, setelah saya pertimbangkan, akhirnya saya memasukkan perubahan bentuk tubuh sebagai kendala terberat dalam fase hamil saya. Gara-gara bentuk tubuh yang berubah terus, pemilihan pakaian saya jadi amburadul.
Dimulai dari kehamilan awal. Sampai usia kehamilan 3 bulan sih saya tidak merasakan perubahan bentuk tubuh yang berarti. Lengan dan betis saya tetap sebungkring ranting. Hanya permasalahannya, karena selama ini saya selalu pakai baju dan celana yang ngepas banget badan ala superman, sedikit perubahan pada perut yang perlahan membesar sudah bikin celana gak bisa dikancingkan. Jadilah selama bulan-bulan awal kehamilan saya tetap memakai baju lama saya, dengan celana enggak dikancingkan, plus memilih kaos dan hem yang agak panjang untuk menutupinya. Enggak nyaman banget deh. Celananya sering melorot. Plus, karena saya lebih mirip orang cacingan daripada orang hamil, saat saya naik busway, nobody cared. Gak ada yang nawarin tempat duduknya. Saya malu juga mau bilang "Mas, meskipun saya tampak sedatar cacing pita gini, saya ini hamil lhooo."
Setelah kehamilan saya semakin membesar, saya menyerah. Hem-hem saya yang emang dasarnya kayak baju kekurangan bahan, plus celana-celana fit body saya bener2 sudah gak cukup. Terpaksa mulai memakai baju hamil. Menurut teman saya yang merasa dirinya berhak didengarkan nasehatnya karena saat itu sudah hamil 9 bulan, dengan lingkar pinggang sudah 9 meter, paling enak itu langsung mencari celana dan baju hamil yang besar sekalian, jadi bisa cukup sampai entar kehamilan 9 bulan. Wokeh saya cari. Masalahnya, baju yang emang diperuntukkan utk orang hamil besar itu benar2 menggunakan pegulat sumo sebagai model ukurannya. Saya, literally, benar-benar serasa dikarungin pake karung kentang. Masalahnya lagi-lagi, hanya perut saya yang membesar. Yang lainnya tetap cungkring sumengkring. Tapi ya kan rugi kalau beli baju hamil yang kecil dulu, terus nanti beli lagi yang agak gedean. Ckckckck, saya kan medit. Dan suami saya pailit.
Oya, gara-gara badan saya yang tetap mengenaskan, suami saya Okhi Oktanio yang tidak-pernah-sekolah-medis-tapi-belagu jadi panik. Dia merasa bayi kami kekurangan gizi. Jadilah pada kehamilan 7 bulan saya dipaksa dia makan es krim, nasi, dan segala karbohidrat banyak-banyak. Saya sampai blokekan pingin muntah. Badan saya tetap mengenaskan. Dia semakin panik. Sampai akhirnya saat kehamilan 8 bulan saya kontrol ke dokter, dan ternyata dari hasil pemeriksaan USG, TADA... bayinya kegendutan! Sampai-sampai saya diperintahkan diet karbohidrat sama si dokter, karena bisa-bisa bayi saya lahir diatas 4 kg. Kalau saja pandangan bisa membunuh, yang namanya Okhi Oktanio pasti sudah kelojotan sekarat di ruang periksa dokter.
Anyway, karena ini kehamilan pertama saya, saya tidak tahu baju apa yang seharusnya saya punya. Emak saya menggelontor saya dengan berbagai daster dan baju-baju yang saya tatap dengan curiga "Ini baju apa taplak meja sih?" Kesel juga si emak, ni anak udah minta tolong dicariin tapi mencela. Tapi ternyata, meskipun saya hamil gede, saya tetap sebal memakai baju gombrong-gombrong ala daster ibu-ibu mau lomba kelompencapir. Sayangnya saat itu saya tidak tahu kalau sebetulnya ada banyak baju hamil bermerk yang tetap stylish dan seksi. Lha referensinya si emak pasar wonokromo sama pasar turi, jelas saja baju beliannya mirip kantong kresek semua. Tapi ya sudahlah, saya pasrah saja.
Selesai melahirkan yang penuh perjuangan (ciee... gayanya, soalnya kok semua orang selalu menulis status begitu, lahir normal walau dengan perjuangan, suit..suit kayaknya romantis gitu), saya dengan naif berpikir masalah berat badan ini akan dengan sendirinya teratasi. Apalagi gembar-gembor kalau memberi ASI eksklusif, berat badan akan cepat menyusut. Ha! Saya peluk baju-baju lama saya dengan penuh kerinduan. Come to mommy !!!
Harwakadah, ternyata mimpi tetaplah mimpi. Perut saya memang kempes, tapi badan saya secara keseluruhan malah semakin membengkak. Teman kantor saya, saat saya masuk setelah cuti berkomentar, "Kok kamu sekarang malah lebih gemuk daripada waktu hamil sih?" Saya nggak tahu ya dengan ibu-ibu yang lain, tapi nafsu makan saya benar-benar menggila saat awal-awal menyusui. Saya kelaparan, saya kehausan, bahkan setiap malam wajib hukumnya ada segelas teh, susu kotak dan roti di samping tempat tidur. Kelaparannya sampai selalu setingkat orang kaliren (apa sih bahasa indonesianya kaliren?). Benar-benar tidak bisa dibendung. Di kantor sayapun selalu ngemil. Jam 11 siang, saat orang lain kerja, saya sudah intip2 dapur.
Akibatnya, badan saya benar-benar serupa bayi ikan paus. Kalau dulu saya serupa seruling, sekarang saya seperti gendang. Kapan dong kayak gitar spanyolnya? Dan akibatnya, ya jelas semua baju kerja lama saya kagak cukup semua. Padahal saya sudah membayangkan datang ke kantor dengan badan langsing dan baju stylish setelah 6 bulan memakai taplak meja makan. Terus, saya harus pakai baju apa dong? Masak ya harus beli lagi? Masalahnya koleksi baju kerja saya yang selemari itu kan didapat selama bertahun-tahun, membeli satu demi satu. Lha kalau ini diharuskan membeli sekaligus banyak ya klenger dong.
Tapi emangnya saya Okhi Oktanio yang baju kerjanya bisa dihitung jari? Senin kaos polo abu2, selasa kaos garis2 mbulak, rabu kaos orange yang lebih bladus lagi, kamis kaos polo ijo, jumat kaos singlet. Sigh.... Plus saya kan tidak tahu, ini sebetulnya berat badan saya akan kembali seperti semula, tetap di berat yang sekarang atau malah naik lagi sih?
Akhirnya saya memutuskan membeli dua celana panjang baru, item sama coklat. Itu basic banget deh. Dan itu saja sudah menghabiskan duit. Habis saya malu juga naik busway sambil make celana gak dikancingin. Lha kalau pas berdiri bergelantungan kan kasihan orang di depan saya, entar dia syok lagi. Untuk baju saya kompromi. Minjem koleksinya emak saya yang jadul banget, dengan kerah-kerah lebar dan motif bunga gede, plus memakai beberapa baju hamil dulu yang masih agak lumayan. Sekarang saya tahu rasanya menjadi seekor brontosaurus berkasta paria.
Dan terus terang, saya merasa tidak seksi. Sebetulnya ini bukan karena dulunya saya sekseh, tapi selama puluhan tahun, saya hidup dengan badan ala ikan bandeng yang menderita anoreksia. Dan dengan bentuk badan yang seperti itu, saya sudah mengembangkan gaya berpakaian yang cocok dengannya. Ternyata, gaya saya yang dulu, enggak cocok untuk diterapkan pada bentuk badan saya yang baru. Jadi dulu, tanpa sadar saya mengkamuflase kekurusan saya dengan menggunakan kaos-kaos dari bahan stretch yang menempel di tubuh, sehingga memberi sedikit image montok pada badan saya yang rata depan belakang. Nah, saat badan saya bengkak, saya tetap memaksa memakai kaus-kaus stretch itu. Hasilnya, saya seperti ikan pesut yang hendak bertransformasi menjadi The Incredible Hulk. Padahal saya sudah tahan nafas demi membuat perut tampak langsing.
Menjelang kepergian ke Oz untuk mengejar cita-cita, hiks..hiks jadi terharu lagi, mau nggak mau saya beli baju. Terutama baju kerja. Karena beli disini pasti mahal, plus menghabiskan waktu. Selama 2 minggu saya sibuk berbelanja. Serius, saya pikir bisa berbelanja sampai puas terus menerus itu menyenangkan, tapi saat saya sadar saya hanya punya 1 celana jeans dan harus pergi membeli satu pasang lagi, saya nyaris muntah. Saya bosan berbelanja.
Cerita punya cerita, saya datang ke Oz dengan koleksi baju kerja yang cukup mumpuni lah. Keyen gitu lho !!! Dan sesampainya di sini, Sera berulah. Dia nggak mau makan sama sekali, dan minta gendong terus. Rewel setengah mati. Saya stres, bapak pesut stres, pak lurah stres. Dan sebagai akibatnya, berat badan saya turun 4 kg dalam seminggu. Kemudian, saat Sera sudah tidak stres, gantian saya yang stres berat, karena melihat bule-bule seksi berkeliaran di depan mata, tanpa saya bisa menjangkaunya. Godaan itu terlalu berat untuk saya tanggung... Jadilah berat badan saya menyusut lagi lebih lanjut.
Akibatnya, tumpukan baju kerja yang sudah saya pilih satu demi satu, yang sudah saya beli dengan ngutang dari Mas Gayus, sekarang semuanya kedodoran. Celana panjangnya pun melorot, dan celana jins baru yang diklaim oleh tokonya bergaya pensil ala cowok-cowok abege (sampai saya bertanya-tanya bagaimana caranya mereka membuka celana mereka yang sangat ngapret di kaki itu saat sedang keburu-buru kebelet pipis), saat saya pakai untuk ngeceng di pinggir jalan melbourne, lebih mirip seperti celana berpotongan baggy ala tahun 80an.
Kemarin sore, saat bersiap-siap ke gereja, suami saya yang sangat mencintai saya apa adanya, terpingkal-pingkal sampai perutnya terguncang-guncang, saat melihat saya mencoba menata diri supaya beha yang saya beli saat hamil dulu agar tampak pas di badan saya. "Disumpel handuk aja sana," sarannya berbaik hati.
No comments:
Post a Comment