Saya terpikir menulis note ini akibat sebuah status yang ditulis oleh suami saya, yang menceritakan betapa Serafim terdiam dan merasa bersalah saat saya memarahinya. Beberapa komentar sih netral saja, mengenai kasihan ya si Sera, atau pinternya Sera bisa merasa bersalah, atau kejamnya nih emaknya Serafim. Tapi ada beberapa komentar yang saya hakul yakin niatnya baik dan mulia, karena yang memberikan adalah teman-teman saya juga, yang entah kenapa membuat hati saya sebal. Mereka berkata jangan mudah memarahi anak, nanti kreatifitasnya tidak berkembang. Juga jangan sedikit-sedikit anak dilarang, dan seterusnya.
Tapi meskipun lidah saya tajam, saya menekan naluri defensif saya dan tidak tergoda untuk membalas komentar mereka dengan sindiran yang sadis (oh sudah ada beberapa setan hijau kecil yang menari-nari membawakan inspirasi sindiran kejam di otak saya). Kenapa? Karena yang pertama, saya yakin mereka berniat baik. Kedua, ada unsur kebenaran dalam komentar yang mereka berikan.
Meskipun 'nasehat' gratis itu bukannya salah, kenapa ya kok saya mengkal membacanya? Mungkin yang utama, karena saya merasa dihakimi, bukannya dipahami. Mereka ini kan tidak tahu latar belakang, alasan kenapa saya marah pada Serafim. Instead of asking me first why I did it, mereka langsung menjudge bahwa saya terlalu gampang memarahi anak.
Plus, memang di status tertulis 'memarahi'. Definisi memarahi ini kan luas, dari mulai menyabetkan pedang laser ala Darth Vader ke bokong montoknya Sera, sampai hanya tepukan halus di pipi sambil berkata "Jangan dong sayang..." Tapi saya mafhum juga sih, karena mereka teman saya, jadi ya yang ada dalam otak mereka adalah image yang sudah tertanam, bahwa saya menghabiskan 5 jam sehari untuk mengasah pisau saya, kapak saya dan gigi saya agar tetap Setajam Singlet, cring..cring.
Alasan kedua saya menjadi seperti kebo kebakaran jempol, karena dengan nasehat itu, seolah kemampuan saya diragukan. Oh memang saya orang yang easy-going dan easy-touching, jadi kalau ada yang mengomentari masakan saya atau wajah saya (saya tidak tahu mana diantara keduanya yang lebih sempurna adanya), saya tidak akan marah. Tetapi semua orang punya 'titik sensitif' yang bila disentil bisa bikin mereka siap menghisap cerutu perang, huff..huff... Ternyata salah satu titik sensitif saya adalah soal anak. Kalau saya dikritik bahwa saya mendandani Sera seperti bekicot dibuntel daun tales, saya akan cuek saja. Tapi kalau saya disentil soal cara saya menegakkan disiplin ke Sera, itu sama saja mengibarkan bendera putih ke depan seekor banteng rabun ayam. Tetep aja diseruduk karena dikira bendera merah. Oya, saya juga paling marah kalau disinggung soal suami pilihan saya. Berapa kali sih sudah saya bilang, manusia juga bisa khilaf???
Okeh, berarti bukan salah teman saya dong, kan mereka tidak mengerti bahwa saya gampang muntup-muntup kalau dikritik soal anak. Wong kayaknya saya ya bukannya gambaran Super Nanny yang emang pakar soal anak. Yup, memang mereka innocent (makanya saya enggak menembakkan meriam ke bokong mereka). Jadi permasalahan status FB ini dikubur saja dalam-dalam. Trus diatasnya dikasih nisan dan ditabur bunga kantil. Dan saya masih tetap me-list mereka sebagai sahabat saya. Seriously guys, no hard feeling.
Setelah saya ingat-ingat, saya juga sering ternyata berbaik hati memberi nasehat pada sahabat- sahabat saya, walaupun yang lebih sering saya berikan memang hinaan. Yang paling saya ingat, saat seorang sahabat saya yang tinggal di luar negeri memamerkan foto bayinya yang lucuuu banget. Bener deh, tu bayi cantik banget. Dengan baju pink, mata cokelat dan kulit bule. Saat yang lain berkomentar aduh lucunya, aduh cantiknya, aduh imutnya, mata saya terpaku pada satu hal. Empeng di mulutnya. Kebetulan, hari sebelumnya saya baru membaca artikel di majalah tentang efek negatif empeng. Jadi dengan semangat membuktikan bahwa saya nggak buta huruf dan bahwa bacaan saya enggak hanya komik doraemon, dengan berapi-api saya menulis "Kenapa kok kamu kasih empeng ke bayimu? Tahu nggak empeng itu nggak bagus, bla..bla..." Saya bahkan tidak berbasa-basi mengatakan betapa cantik bayinya dahulu.
Setelah saya renungkan sekarang, mungkin juga teman saya itu jengkel juga sama saya. Pertama, dia kan lagi mau pamer bayi cantiknya, kok malah diceramahin soal empeng bisa bikin pertumbuhan gusi dan bentuk mulut terganggu (ini juga baru teori, kayaknya sih enggak segitu mengerikannya). Kalau saja teman saya itu sejahat saya, mungkin dia bakal membalas "Tenang aja Meg, sejelek-jeleknya tampang bayi gue karena empeng, tetep aja bakalan lebih bagus dari muka elu."
Dan saat itu, saya juga tidak mau bersusah payah mencari tahu alasan dia pakai empeng. Juga, saya 'mempermalukannya' di wall nya sendiri. Seolah saya menunjukkan kesalahan yang dia lakukan. Dan ratusan orang bisa membaca komentar saya. Oke, kalau saya melihat seorang ibu memberi mainan botol baygon ke anaknya, sah dan memang sudah seharusnya saya langsung teriak " Dasar bego, take that bottle away from your baby, stupid mother!!!" Tapi untuk hal yang apa ya istilahnya, bukannya haram tapi makruh (asal nyomot istilah-soalnya kok kayaknya pas) semacam empeng, kan ya nggak perlu saya meneriakkan keras-keras ke seluruh dunia bahwa teman saya itu bersalah.
Setelah tinggal di Australia, saya menemukan memang banyak ibu-ibu disini memberikan empeng ke anaknya. Alasannya? Karena mereka harus melakukan semuanya sendiri. Tidak ada aa, teteh, embak, iyem, bulik untuk membantu mereka. Mereka menyetir mobil sendiri, bayinya diletakkan di car seat di belakang. Bayangkan menyetir sepanjang jalan sambil mendengarkan teriakan dan jeritan tangis bayi. Lucifer aja bakalan lebih milih nyemplung balik ke neraka. Makanya, demi menjaga kewarasan si ibu, disumpellah mulut si bayi dengan empeng. Saya tidak berniat berdebat apakah hal itu tepat atau tidak, tapi dengan memahami latar belakang tindakannya, dengan berempati pada situasi yang dihadapinya, saya akan terhindar dari memberi nasehat yang congkak dan keminter.
Mungkin akan lebih manis, kalau saya memang kebelet banget ngasih nasehat, saya akan bertanya kenapa bayinya dikasih empeng? Berapa jam dalam sehari? Dan mungkin dengan gaya yang lebih santun bilang bahwa saya kok pernah baca artikel yang bilang kalau empeng itu ada dampak negatifnya. Apa iya ya? Intinya, memberi nasehat dengan empati, dengan memahami alasan dia melakukannya. Kalau tidak, ya mending I just keep my mouth shut. Toh bayi teman saya juga bukannya bakalan sekarat karena dikasih empeng.
Dan kalau boleh saya simpulkan ( ya bolehlah, wong ini note saya sendiri, basa-basi banget sih), dari pengalaman saya sebagai seorang ibu dan bergaul dengan ibu-ibu yang lain, jangan pernah deh sekali-sekali memberi nasehat atau menyalahkan cara orang tua dalam mendidik dan merawat anaknya, kalau mereka memang nggak minta pendapat kita. There's no good come from it. Membesarkan anak adalah kewenangan dan hak prerogatif masing-masing orang tua. Bahkan saya akan bersikap lebih berhati-hati kalau itu saudara saya atau teman dekat saya. Again, itu hak mereka 100%. Kalau nanti Anak Pesut menikah dan punya anak, saya bakalan harus lebih bisa menahan diri untuk menyadari bahwa Anak Pesut mempunyai caranya sendiri dalam mendidik Cucu Pesut, jadi Emak Pesut nyantai aja sambil minum bir pletok :). Secara saya juga bakal jengkel kalau keluarga saya mulai komplain soal cara saya mendidik Sera.
Makanya saya mengancingkan mulut ndower saya waktu kemarin melihat anak teman saya, umur 8 tahun, dan masih harus dikejar-kejar disuapin makannya, masih harus berantem dulu kalau mau dikasih baju, masih berantakan dimana-mana mainannya. Kalau itu Serafim, sudah saya uleg2 hidungnya. Memang sial jadi Sera dan Bapaknya Sera, harus hidup dengan mutan doberman.
"Hati-hati dalam memberi nasehat. Memberi nasehat tanpa diminta, biasanya hanya akan membawa kesulitan."
Karena semua orang lebih suka dikasih duit daripada dikasih bon tagihan. Namaste.....
PS. Semoga FB sudah musnah saat Sera remaja, atau dia akan membaca note saya dan menyeringai senang menemukan senjata untuk melakban mulut saya yang bawel memarahinya.
No comments:
Post a Comment