Jumat malam 29 April 2010, mata saya dan Okhi Oktanio terpaku pada layar kaca. Siaran langsung dari Westminster Abbey, Katedral tempat Pangeran William tied the knot with Ms. Catherine Elizabeth Middleton. Sebagai negara persemakmuran Inggris, Australia had been buzzing about this Royal Wedding for about a week. 90% halaman di koran didedikasikan untuk meliput pernikahan ini, dan untuk berita diluar masalah pernikahan ini, sampai-sampai ditulis di judul atasnya " Not about the wedding". Perdana menteri Australia saja, yang tidak percaya pernikahan, yang ateis, yang ingin Australia berubah menjadi republik, diundang untuk hadir dalam acara pernikahan, di dalam gereja, di kerjaan Inggris. Saya jadinya tertular juga dengan demam ini.
Dari layar kaca, melihat Pangeran William dan Pangeran Harry, dalam seragam resmi warna merah menyala dengan berbagai medali yang berkilat-kilat, berada dalam mobil kuno yang akan membawa mereka ke Katedral, dengan ribuan penduduk Ingris raya melambai-lambaikan bendera dengan semangat 45. Hmm... rasanya hati saya jadi berdesir dibuatnya. Gagahnya....
Di dalam katedral, ratusan pria dengan jas lengkap, dan wanita- wanita yang tampak begitu ningrat dengan gaun cantik dan hiasan kepala so cute sudah menanti. Dan saat Kate Middleton dengan gaun putih panjangnya menapakkan kaki di pintu gereja, dan semua orang berdiri menyambutnya, dan sang pangeran tampan menantinya di altar, aw..aw.. hati saya jadi dag dig dug. What a fortunate girl! Saya yakin ribuan gadis di penjuru dunia juga ber-awwww....
The royal wedding ini membuat saya mau tidak mau menghembuskan nafas. Bagaimana ya rasanya menikahi seorang pangeran? Bagaimana rasanya menjadi bukan hanya a bride to be tapi juga The Queen of England wannabe? Bagaimana rasanya menikah dalam gaun berekor panjang dengan lengan menggelembung, mengucapkan janji sehidup semati di tempat yang seagung katedral berusia ratusan tahun? Bagaimana rasanya menjadi seorang putri yang akan tinggal di kastil mewah dengan puluhan pelayan? Bagaimana rasanya melaju di kereta kuda mewah, sambil dengan anggun membalas lambaian tangan para pengagum yang bahkan sudah bermalam di pinggir jalan London yang dingin hanya demi bisa melihat sekilas putri mereka. Sigh, kelu jadinya hati saya.
You may call me naive, but there is still a little girl inside of me, who loves a fairy tale about a handsome brave prince whose come to rescue me from the dreadful dragon. Cewek mana sih yang tidak pernah once in a while memimpikan menikah dengan seorang pangeran. Makanya saya senang juga melihat film Cinderella versi modern semacam Maid in Manhattan. Dan itu sebabnya banyak sekali sinetron dan telenovela yang mengangkat tema Cinderella, dimana seorang putri keluarga kaya tertukar dengan seekor siamang dari hutan Kalimantan, dan terakhirnya setelah hidup penuh derita, tiba-tiba terjadilah keajaiban. Ayah si putri yang kaya raya tiba-tiba sadar bahwa siamang berbulu hitam yang selama ini dipeluknya sebelum tidur bukanlah putrinya. Putrinya adalah si gadis pelayan jelata yang selama ini mengepel rumahnya, yang berbaju kumel tapi rambutnya tidak pernah lupa di-rebonding dan memakai blush-on pink di pipinya, hehehehe. Maaf maaf, ini kok notenya jadi melenceng menghina sinetronnya Ram Punjabi.
Of course saya bukan a big fan terhadap prospek mempunyai seorang mertua yang berkuasa. Punya mertua yang biasa-biasa saja sudah cukup membuat seorang menantu pening kepala. Punya mertua yang merasa dirinya ratu rumah tangga saja sudah bisa menimbulkan perselisihan soal bagaimana seharusnya melipat celana jins dengan benar, dilipat dua atau tiga? Sekarang bayangkan punya mertua seorang ratu yang sebenarnya, Ratu Kerajaan Inggris Raya. Mertua yang punya kuasa untuk berkata bahwa celana jins dan sepatu keds itu tidak layak dipakai dalam acara makan malam dengan raja Bahrain. Mertua yang saya bahkan harus belajar bagaimana menyapa dan menyentuh beliau. Apa boleh saya menepuk-nepuk bahunya tanda sayang? Apa saya boleh berkomentar tentang baju kuning ngejrengnya yang secerah jagung? Apa saya harus membungkuk di hadapannya atau bahkan berjalan mundur?
Saya jadi ingat saat seorang supplier asal Jepang terkagum-kagum dengan kenyataan bahwa pria Indonesia boleh mempunyai 4 istri. "What a heaven," komentarnya. Sambil cengengesan saya jawab "Yes, but it means you will also have 4 mothers in law nagging you . What you say?" Dengan terbelalak dia menjawab "Even having one is more than enough!"
Of course saya bukan a big fan terhadap tetek bengek tata krama kerajaan. Dalam semacam note edaran tentang bagaimana harus bertingkah laku saat menghadiri pernikahan, salah satu aturannya mengatakan para tamu diharap tidak mengaduk tehnya dengan gerakan sendok berputar-putar tetapi dalam gerakan longitudinal dengan arah tertentu. Hm, sepertinya para tamu harus membawa kompas atau GPS kalau berniat minum teh. Kalau gitu mending minum air keran saja deh, nggak usah bingung mengaduknya.
Itu baru panduan untuk para tamu, bayangkan buku panduan untuk jadi istrinya William. Mungkin ada aturan soal seberapa lebar senyum yang diperbolehkan, mungkin hanya boleh terlihat ujung gigi taringnya. Dan karena sebagai putri saya harus dihormati, maka hilang sudah kesempatan saya melihat bokong seksi para peselancar, kan semua pria harus memakai jas saat berhadapan dengan saya.
Of course saya bukan a big fan terhadap cara bertingkah laku dihadapan suami. Siapa tidak stres kalau harus mengingat-ingat harus berada beberapa langkah di belakang suami saat berjalan. Dan bayangkan di saat hati sedang kesal terhadap William yang ternyata kalau tidur ngorok juga, saya tetap harus pasang tampang bahagia saat mendampinginya membuka perlombaan adu balap kodok.
Of course saya bukan a big fan terhadap keharusan bertemu berbagai orang dan terlibat berbagai acara sosial dan acara resmi kenegaraan. Untuk orang yang setiap menghadapi arisan RT saja berkeringat dingin, harus melakukan makan malam kenegaraan setiap minggu, harus bercakap-cakap dengan raja Brunei atau mencoba bercanda dengan anaknya Obama, bisa-bisa membuat saya diare selama seminggu.
Of course saya bukan a big fan terhadap resiko dikuntit paparazi dimanapun saya berada. Membayangkan bangun setiap pagi dengan hati was-was, ada foto apa di koran pagi ini? Apakah waktu saya mabuk durian kemarin ada paparazi yang kebetulan melihat saya muntah-muntah? Apakah saat saya berbikini kemarin ada paparazi yang membuat foto paha saya, sehingga orang sejagad raya bisa menghitung jumlah selulit saya?
Dan of course saya bukan a big fan terhadap upacara pernikahan yang besar. Acara pernikahan yang saya inginkan hanyalah upacara yang intim di gereja kecil, dihadiri teman-teman terdekat saya, dengan baju dan riasan yang sangat sederhana, dan dilanjutkan dengan pesta kecil di tepi pantai. Bahkan acara pernikahan saya dulu saja sudah terlalu mewah dan berbelit-belit untuk selera saya, dan membuat saya cemberut terus selama seminggu. Ngapain juga sih harus mengundang orang-orang yang bahkan tidak tahu siapa nama panggilan saya? Jadi sebetulnya, punya pesta pernikahan yang disaksikan 2 milyar orang yang sibuk memperhatikan setiap gerakan saya, pastilah akan menjadi armagedon, end of the world.
Meskipun logika saya mengatakan bahwa lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya untuk menikahi seorang pangeran, tapi hati saya tetap berdesir saat menyaksikan Pangeran William dan Princess Kate naik kereta kuda mewah yang dibuat pada tahun 1900an, ditarik 4 kuda putih nan gagah dan diikuti barisan pasukan kavaleri nan gagah. Dan seantero Inggris menggila saat pasangan ini melewati mereka. Betapa agungnya....
Salah satu penyebab hati berdesir ini mungkin karena cerita-cerita yang saya dengar di masa kecil saya. Cerita Putri Tidur yang diselamatkan pangeran dari kutukannya (saya tidak bisa membayangkan bagaimana bau nafas sang putri saat dicium pangeran). Cerita Cinderella yang diselamatkan pangeran dari ibu tirinya yang sadis. Cerita Putri Salju yang lagi-lagi diselamatkan dari tidurnya oleh seorang pangeran yang kok ya sempat-sempatnya kesasar ke tengah hutan. Semua cerita ini membuai bahwa semua kesulitan hidup akan hilang saat seorang pangeran tampan menyelamatkanmu. Happily ever after!
Walaupun para putri dalam cerita disney diatas itu bukanlah role model yang ideal, karena kerjaan mereka hanya tidur dan menunggu diselamatkan, atau menunggu seekor kodok datang untuk menciumnya, tapi untuk orang kebanyakan seperti saya, yang setiap hari bergelut dengan tumpukan tagihan dan pekerjaan rumah, mimpi untuk diselamatkan seorang pangeran, dimana kita tidak perlu lagi kuatir tentang hidup ini, dimana semua keputusan penting dalam hidup sudah dihandle oleh sang penyelamat, benar-benar impian yang menyenangkan.
Mungkin saat saya menceritakan kisah Cinderella ke Serafim, saya harus merubahnya menjadi betapa Cinderella belajar dengan keras di loteng rumahnya dengan diam-diam, dan pada akhirnya bisa masuk sekolah hukum di Harvard, menjadi hakim dan kemudian memenjarakan ibu tirinya. Baru kemudian bertemu pangeran tampannya.
Sedang asyik-asyiknya membayangkan sayalah yang duduk di sebelah sang pangeran di kereta kuda, sambil menyelesaikan 3 ember tumpukan setrikaan dan memandang tagihan listrik yang ditempel di pintu kulkas, tiba-tiba terdengar suara ngek ngek dari dalam kamar. Saya dan Okhi Oktanio langsung berderap menuju ke sumber bunyi. Itu suara Ratu Inggris kami, yang terbangun dari tidurnya dan menuntut dua budaknya untuk segera menepuk-nepuknya agar bisa kembali tidur. Nasib.. nasib...
No comments:
Post a Comment