Sejak jaman orang masih naik onta keliling padang pasir, sampai jaman orang beli terong di pasar aja naik helikopter, saya itu memang tidak punya bakat jadi orang kaya. Alhasil, kemana-mana saya selalu nyetir sendiri, enggak pernah punya sopir. Dulu... banget, waktu baru saja merajut kasih asmara bersama Okhi Oktanio (benar-benar bergidik sewaktu menulis kalimat ini), selama dua bulan pertama, dia yang selalu menyetir untuk saya. "Aku tu kok gak sreg ya kalau kamu yang nyetir... Gak tega..."
Setelah masa dua bulan yang penuh kekhilafan itu, kok ya makin kesini malah saya yang selalu berada di belakang kemudi. Macam-macam alasannya. Karena saya dituduh dodol dalam membaca peta, maka saat kami dalam perjalanan wisata, sayalah yang menyetir dan dia membaca peta. Atau karena saya masih perlu belajar menyetir di jalan tanjakan. Atau karena saya harus nurut sama suami saya. Sewaktu saya pergi dengan emak saya, kondisinya juga sami mawon. Saya harus menyetir karena dia sudah jompo. Atau karena dia yang mau nraktir. Atau karena saya bakal dicoret dari daftar warisan kalau menolak. Untung kesabaran adalah sifat saya yang paling dominan.
Sesudah kami pindah ke daerah Melbourne-pinggir-banget-nyaris-nyemplung-got, dan setelah kami mampu mengkredit mobil bekas yang semua bagiannya mengeluarkan bunyi kecuali klaksonnya, mau tidak mau saya harus jadi sopir lagi. Kali ini yang jadi calon bos saya si anak pesut. Maklum, meskipun dia itu seksi luar biasa, tapi kakinya masih pendek.
Sebetulnya, para pelajar Indonesia yang bersekolah di Australia diijinkan tetap menggunakan SIM Indonesianya, tapi karena tampang saya rupanya terlalu dungu atau terlalu uzur untuk bisa berpura-pura menjadi kandidat doktor dari Melbourne Univ, maka saya diwajibkan mempunyai SIM Victoria (buat panjenengan yang membolos waktu pelajaran geografi, Victoria itu adalah salah satu negara bagian di Australia dengan Melbourne sebagai ibu tirinya).
Sialnya, SIM Indonesia itu tidak otomatis bisa dibarter dengan SIM Victoria, enggak kayak SIM New Zealand, Inggris atau bahkan Singapura. Katanya sih karena kemampuan menyetir orang Indonesia dianggap belum setara dengan para sopir disini. Hah, coba saja kalau orang Oz bisa selamat nyetir di Mampang Prapatan jam 7 pagi atau bersaing melewati depan Pasar Wonokromo bersama para abang becak! Enak saja meragukan kemampuan menyetir seorang warga Jakarta.
Dulu di Indonesia, saat pembuatan SIM, saya hanya tahu jalur calo biasa atau calo hebat. Saya ingat pertama kali bikin SIM, karena calo saya kacangan, maka saya harus ikut semacam ujian tulis. Waktu saya mencoba memikirkan jawaban pertanyaan, Pak Pol nya malah menyuruh supaya saya mengisi saja cepat-cepat. "Yang penting diisi mbak." Wokeh Pak, lanjut! Kemudian saya ditanya, mau bikin SIM A atau SIM C. Saya tolah toleh bingung, mencari si calo kacangan. Mene ketehe saya mau ambil SIM apa, jadi saya jawab aja "Kalau SIM untuk mobil itu yang apa Pak?"
Nah, karena saya belum berhasil menemukan jaringan calo yang handal di sini, terpaksa saya mengikuti prosedur resminya. Langkah pertama dalam perjuangan mendapatkan SIM adalah lulus ujian untuk mendapatkan Learner Permit. Jadi, sebelum seseorang diijinkan belajar menyetir di jalan, dia harus lulus ujian tertulis dulu. Jadilah saya membuka buku primbon Road To Solo Driving, yang harus saya hafalkan dan hayati.
Buset dah, ni buku susye bener. Halaman pertamanya saja langsung diisi peringatan "Siapa bilang menyetir itu gampang!" Kemudian halaman-halaman selanjutnya dipenuhi berbagai grafik berwarna-warni mengenai berbagai ancaman kecelakaan yang bisa menimpa mereka yang tetap nekat nyetir. Bahkan ada satu halaman yang menasehatkan "Udah deh, mending naik public transport aja napa sih, maksa bener mau nyetir!" Saya jadi curiga kalau yang menulis buku ini adalah seorang korban ditinggal kawin oleh sopir truk.
Tapi sebenarnya, buku ini didesain sedemikian rupa terutama karena dia diperuntukkan bagi para ABEGE yang baru pertama kali ingin belajar nyetir. Maklum, darah muda, gampang naik darah. Ada orang ngelirik sedikit saja sudah merasa ditantang diajak adu balapan. Berhubung saya sudah sering mengeluh linu-linu di kedua dengkul, jadi tidak perlulah rasanya saya baca bagian ancaman ini.
Buku setebal 170 halaman ini dipenuhi berbagai aturan yang harus saya jejalkan ke otak saya yang encer. Sampai berkunang-kunang mata saya berusaha mengingat-ingat arti berbagai lambang yang bakal saya temui di jalanan nantinya. Banyak lambang yang sama dengan di Indonesia sih, tapi banyak juga yang beda. Disini lebih ruwet dan terperinci. Misal kalau di Indonesia kan hanya ada jalur cepat sama jalur lambat. Kalau saya ditanya apa bedanya, ya paling saya jawab kalau jalur cepat itu dipakai saat kita kebelet mau pipis, sementara jalur lambat kita pilih saat menuju ke rumah mertua :D.
Sialnya, di sini ada berbagai jalur; Service road, buat yang minta diservis kilat (becanda ding, entar Bayu Cahyadi maksa minta liburan kesini lagi), lalu ada jalur khusus sepeda, khusus trem, dll dengan berbagai spesifikasinya. Contohnya, saya tidak boleh masuk ke jalur sepeda kecuali saat ingin membelok, itupun dibatasi hanya boleh melintas maksimal 50 meter. Halah, masak ya saat mau masuk jalur ini saya harus turun dari mobil trus ngukur dulu pake meteran, bisa-bisa bokong saya disundul sama truk tronton lagi.
Contoh yang paling ekstrim ya soal parkir. Rasanya di Indonesia saya hanya tahu tanda P dan P dicoret. Dan jujur aja deh, kayaknya tanda ini masih kalah pamor dibandingkan Pak Ogah. Kalau Pak Ogah bilang boleh parkir, mau ada tanda P dicorat-coret juga kagak ngaruh. Memang Pak Ogah itu saya yakin titisan dewa petir, yang bisa menentukan tidak hanya ijin parkir, tapi sekaligus juga tarifnya. Nah kalau disini, kata aturan sih silahkan saja saya parkir di tempat dengan tanda P dicoret, asal saya jangan syok kalau tahu-tahu di kotak pos ada 'surat cinta' dari Vicroad.Dan kalau dibawah tanda dicoret tadi ada tanda mobil derek, ya siap-siap saja menebus mobil yang diderek, otherwise si mobil bakal dijadikan rumpon.
Aha, jadi kalau ada tanda P, bisa asoy geboy dong, bisa langsung jrueeet taruh bokong mobil saya? Hoho, sayangnya that's not the case. Kebanyakan tanda boleh parkir disini ditulis dengan berbagai embel-embel. Misal : 2P Mon-Fri 09.00 am - 04.00 pm Ticket. Apa sih artinya tanda itu? Artinya, anda ditantang dengan pertanyaan "Are you smarter than a fifth grader?"
Jadi untuk bisa parkir dibawah tanda ini, anda harus punya nilai TOEFL 600, biar tahu Mon itu bukannya kepanjangan Montok dan am pm itu bukannya Anda Meminta Papi Memberi. Lalu anda harus lulus pelajaran aljabar, agar bisa menghitung waktu, bahwa anda maksimal hanya boleh parkir selama 2 jam doang, kagak boleh minta perpanjangan waktu semenitpun. Dan terakhir, anda harus mempunyai kemampuan navigasi yang handal, agar bisa melacak letak mesin untuk membeli tiket parkir. Jadi, memang hanya orang jenius yang ditakdirkan parkir mobil di Melbourne, huahahaha (sombong prematur, padahal ujian saja belum lulus).
Selain soal lambang yang njelimet, perbedaan yang paling mencolok dengan Indonesia, terutama adalah soal RULES. Kalau di Indonesia saya lagi enak-enak nyetir di jalan raya trus melihat ada mobil ngintip-ngintip dari sebuah gang mau memotong jalan saya, apa yang harus saya lakukan, memberi jalan atau malah ngebut? Kalau dulu ya saya jawab tergantung muka si sopir sama bodi tu mobil. Kalau sopirnya tampangnya kayak pilot kamikaze berani mati, ya mending saya ngalah memberi dia jalan tho? Daripada mati konyol. Tapi kalau misalnya mobilnya BMW baru kinyis-kinyis, ya saya bakal ngebut terus pantang ngerem. Kalau tabrakan kan dia yang lebih rugi. Nah kalau lawannya bajaj, saya mending santai-santai sambil motongin kuku jempol kaki saya yang cantengan sambil menunggu paduka yang mulia melintas.
Sayangnya, modal tampang sangar tidak terlalu berguna disini. Semua jelas aturannya siapa yang harus memberi jalan pada siapa. Siapapun yang mau memotong jalan, harus menunggu lalu lintas sepi. Kalau saya misalnya mau keluar dari gang saya ke jalan raya, dan di jalan gang ada garis putih tidak terputus, berarti wajib hukumnya saya harus berhenti dulu sebelum memasuki jalan raya, meskipun saat itu sudah jam 2 pagi, dan yang mungkin melintas di hadapan saya hanya mbak kunti yang habis patroli. Di bunderan, kita harus memberi jalan pada mobil yang berada di kanan kita atau yang sudah berada di dalam bunderan. Bingung? Apalagi saya yang harus membaca versi bahasa bulenya. Gini ini kalau referensi vocabnya hanya dari koleksi film2nya si Okhi yang sejenis sama koleksinya Om Arifinto, perbendaharaan kata saya hanya terbatas pada dua kosakata.
Makanya, waktu liburan natal yang lalu Okhi kebetulan pulang ke Jakarta, saat dia berada di belakang kemudi, saya bingung kenapa dia terdiam lama termangu-mangu di jalan depan kompleks perumahan kami, enggak segera masuk ke jalan raya di depan kompleks. "Kita ini nunggu apa sih, kok nggak maju-maju?" tanya saya heran. "Nunggu lalu lintas sepi dulu" jawabnya. Yeee, sekalian aja nunggu sampai saya berhasil menang Miss Universe.
Oya, satu lagi yang membedakan adalah kendaraan umum khas Melbourne, si tuan trem. Pokoknya kita banyak kalahnya deh kalau sama si trem. Saat saya sedang menyetir disamping seekor trem dan dia berhenti di setopannya, saya harus ikut berhenti. Dan dengan sabar menunggu sampai pintu trem sudah tertutup lagi, jadi saya tidak akan menabrak penumpang yang turun dan calon penumpang yang berlari-lari mengejar trem. Masalahnya, setopan trem itu jaraknya dekat satu sama lainnya. Capek deh berenti mulu.
Sebetulnya untuk yang ini saya sudah terlatih. Dulu di Jakarta, saya sering harus mengerem mendadak gara-gara sopir kopaja yang gak lulus ujian matematika, yang tidak bisa membedakan antara menyetir lurus dan membentuk diagonal. Atau sopir bemo yang punya jiwa sosial kelewat tinggi, yang tidak tega menolak setiap lambaian tangan dari orang yang membutuhkan tumpangan.
Nah, setelah berjuang mati-matian, akhirnya saya mendaftarkan diri untuk ikut ujian. 15 menit doang di depan komputer menjawab 32 soal. Horeeee, saya lulus dong! Terbukti kan saya tidak hanya sekedar "Older than a fifth grader". Hanya satu pertanyaan yang salah dijawab: kalau ada orang kecelakaan dan kamu gak berhenti menolong, apa konsekuensinya? Saya mengira jawabannya adalah berarti saya terpaksa mencari berita lengkapnya di koran. Ternyata jawaban yang tepat, SIM saya bakal ditahan selama 2 tahun kalau terbukti saya cuek saat ada yang terluka dan membutuhkan bantuan saya. Oooooo
Sehabis ini, setelah mengantongi ijin belajar, saya akan menempuh Hazard Perception Test. Ini tes simulasi soal kemampuan kita memperkirakan bahaya. Nanti kalau sudah ujian bakal saya ceritain deh. Plus saya akan belajar nyetir dengan instruktur demi mempersiapkan diri menghadapi ujian praktek. Lho, saya kan sudah bangkotan nyetir, kok masih belajar sama instruktur? Karena saudara-saudara, kemungkinan gak lulus itu besar sekali, jadi saya perlu minta tips-tips jitu.
Saat saya mengambil ujian tulis, saya menyaksikan ada seorang ibu asal korea yang gagal saat ujian praktek ini, bahkan saat dia belum masuk ke dalam mobil, masih di konter pendaftaran. Jadi, sehabis dipanggil ke depan konter, si petugas melihat si ibu pakai kacamata. Nah, lalu si petugas menyuruh si ibu membaca deretan angka dan huruf kayak kalau kita periksa di dokter mata "Please read the third line for me." Si ibu kriyep-kriyep matanya dan membaca sambil memicingkan mata. Ternyata dia enggak bisa membaca deretan huruf itu dengan sempurna. Si petugas sebetulnya bukannya sadis, dia masih memberi si ibu kesempatan 3 kali lagi. Masih belum bisa juga. Terus si orang ini bahkan sampai diajak keluar sama si petugas, kayaknya disuruh baca rambu gitu, dan tetap aja dia sebuta kelelawar. Dengan sangat menyesal, melayanglah uang 50 dolar dengan sia-sia.
Juga tetangga saya yang gagal ujian bahkan saat dia baru saja menghidupkan mesin mobilnya. Sebabnya? Salah satu lampu remnya mati! Dasar orang Indonesia, dia berkilah bahwa tadi pagi lampu remnya masih baik-baik saja, nggak tahu nih kok tiba-tiba mati. Huahaha, si petugas mah kagak peduli. Emang gue pikirin....
No comments:
Post a Comment