Monday 29 August 2011

My Monday Note -- Hayo Pilih, Jadi Jomblo Abadi atau Kawin Sama Kungkang?

Tadinya saya berniat libur minggu ini, karena toh pada pulang kampung semua jadi ya nggak pada online, lalu suami saya juga sejak minggu lalu tergila- gila mendownload film kartun Ironman yang membuat saya nggak kebagian jatah laptop, plus hati saya sedang gundah setelah seorang mahasiswa umur 21 tahun memanggil saya dengan sebutan Tante. Tante pala lu! Tapi seorang teman mengancam akan memutus tali silaturahmi jika saya tidak mengupload note. "Aku lagi sembelit, kalau baca notemu jadi lancar ke belakangnya." Sial, serasa pencahar saja tulisan saya. Ya sudah deh, untung lagi bulan puasa, jadi saya masih sabar. 

Sebetulnya, saya itu merasa lebih 'feminis' dibandingkan banyak wanita di Indonesia (baca: lebih urakan dan seenak udel). Saya mengutuk upacara mencuci kaki suami yang ada di adat pernikahan Jawa, saya tidak tertarik untuk punya anak (walau sekarang punya bayi bandel yang saya cintai lebih dari dunia ini), dan yang jelas saya tidak pernah merasa 'wajib' untuk menikah. Prospek menjadi seorang istri tidak lebih menarik minat saya dibanding prospek untuk bebas merdeka keliling dunia seumur hidup saya. Jadi, note ini tidak cocok diaplikasikan untuk diri saya, dan mungkin pada diri banyak wanita atau pria lain.

Suatu malam, sambil menyantap sambal yang saya buat sambil menempelkan cellphone (note: hanya di Indonesia ada istilah handphone, di negara lain semua cellphone-- sok global) di telinga saya dan mendengarkan wejangan step by step cara memasaknya dari tante saya nun jauh di Kelapa Gading sono, Okhi berkata, " Tahu nggak, tadi aku video call lewat skype sama si Tralala (salah satu dari saudaranya Okhi yang berjibun jumlahnya)Dia cerita bahwa dia gelisah juga karena nggak dapat2 jodoh. Sampe minta cariin suami lho ke aku, kali- kali di sini ada cowok Indonesia nganggur."

Dengan cuek, saya menanggapi "Trus kamu jawab apa?"  Jawab si Okhi, "Aku lho bilang kalau si Trondol tu kan juga belum punya pacar. Aku tanya kalau2 si Tralala mau sama dia. Tahu jawabannya Tralala? Dia bilang asal Trondol mau, langsung kawin deh!"

Saya terbeliak mendengarnya. Pertama, saya mengenal kedua makhluk ini, yang satu saudaranya Okhi satunya teman saya di gereja. Dan mereka berdua juga sudah saling mengenal sejak belasan tahun yang lalu sejak di bangku SMA tanpa ada sedikitpun romansa terlibat. Si Tralala ini cewek bertampang lumayan lah, dan si Trondol juga sedikit lebih ganteng dari Deni manusia belut. Hanya ya itu tadi, rasanya tidak ada chemistry at all diantara mereka. Dan membayangkan mereka sebagai pasangan, tampak aneh di mata saya.

Yang membuat saya heran, kenapa tanggapan si Tralala sebegitunya ditelinga saya. Asal Trondol mau, langsung kawin deh! Bandingkan kalau Okhi mengusulkan si Trondol disaat si Tralala masih SMA, saat ia dan Tralala menjadi teman sekelas. Mungkin jawabannya "Aku nggak naksir tuh sama dia."    In my ears, it's not about love anymore, it's about is there anybody who wants to marry me?

Okhi, yang berjenis kelamin laki-laki setelah operasi transgender, yang sudah menikah sejak usia 27 tahun, yang setiap hari menyesal karena peluangnya mencium wanita lain sudah menguap (yeah, of course that's because he's married, not because his troll-alike face), berusaha keras memahami kenapa si Tralala harus gelisah. She's only turning 30, she's gorgeous, she has a good career. What's so big deal about being single? 

Saya, yang berjenis kelamin perempuan tanpa operasi transgender, yang menyaksikan satu persatu teman saya menikah, dan kemudian menyaksikan mereka hamil dan mempunyai anak, yang meskipun saya bilang tadi 'lebih liberal' dari kebanyakan cewek, sangat bisa memahami kegelisahan si Tralala.

Kita lahir, hidup dan dibesarkan di Indonesia. Dan as much as we declare we don't give a damn care apa pendapat orang lain, hidup tidaklah mudah bila kita berbeda dari sekeliling kita. Saya merasakannya sendiri saat saya, yang membenci anak-anak sejak dulu, melihat ke dalam hati kecil saya dan menemukan bahwa saya tidak terlalu tertarik dengan ide mempunyai anak. Perasaan saya itu tentu terasa janggal bagi kebanyakan orang Indonesia, yang bahkan susah disuruh ber KB. Seolah saya tu berdosa karena perasaan saya itu. Nggak normal. Bukan wanita seutuhnya. Haiyai.

Tekanan sosial untuk menjadi sama dengan mainstream itu memang ada. Belum lagi ngomongin tekanan, yang halus atau terang-terangan, yang datang dari keluarga; emak, bapak, kucing peliharaan. Setelah saya pindah ke Australia, baru saya merasakan bahwa saya tuh normal-normal saja menurut pendapat umum, dimana setengah populasi disini kayaknya lebih tertarik membeli makanan anjing daripada mengganti popok bayi. Tekanan sosial itu ada, dan sangat mempengaruhi. Kalau ada motivator atau pembicara yang bilang bahwa tekanan sosial tidak seharusnya menekan dan menjadi pertimbangan dalam membuat keputusan, bakal saya sumpel mulutnya sama pampersnya Serafim. Elo hidup di dunia nyata apa enggak sih? Turning mid 30 and still single? Consider others will start whispering on your back, sibuk memutuskan apakah kamu masih single karena terlalu jelek, atau terlalu menyebalkan, atau terlalu sok jual mahal, atau punya punggung yang penuh kurap. Saat seseorang jengkel pada si single ini, komentar yang cukup common mungkin "Dasar perawan tua!" Atau "Makanya nggak laku-laku! Atau "Dia tu jadi jahat gitu karena belum kawin-kawin juga."  

Beside it, kita memang mempunyai kebutuhan untuk menemukan seseorang yang akan menemani kita menghabiskan hari-hari kita. Seseorang yang lebih intim dari kakak atau adik, lebih sensual dari sahabat, lebih muda daripada kakek buyut, lebih pintar dari anjing kesayangan, dan lebih memilih gedung DPR hancur kena bom nuklir daripada bila kita terpercik kembang api.

Saya ingat sekali saat SMA, masalah pacar tidak pernah mengganggu benak saya, meskipun saya jomblo dan tampaknya tidak ada yang tertarik dengan seorang cewek ceking bertampang judes. Tapi disuatu hari, disaat saya sedang mengikuti suatu kegiatan di pegunungan, ditengah jajaran pohon-pohon pinus, dibawah siraman cahaya bintang, saat itu saya rasanya rela menyerahkan apa saja asalkan ada seseorang yang menggenggam tangan saya, menemani langkah saya di tengah malam yang menggigit dan gulita. Ke-mellow-an saya sirna saat seekor pocong jadi-jadian tiba-tiba melompat ke depan muka saya. Dasar kakak kelas brengsek.

Dan tampaknya, masalah ini lebih terasa berat bagi kita yang berjenis kelamin perempuan. Call me sexist, tapi siapa bilang sih dunia ini tempat yang adil? It's all because the stereotype. Cowok single? Dia suka kebebasan. Cewek single? Cowok tidak suka dia. Sama aja dengan Cewek ke WC berduaan? Sahabat Akrab. Cowok Ke WC berduaan? Either penggemar Brokeback Mountain atau mau mbolos lompat pagar bersama. Plus, secara umum, lebih banyak cewek yang bisa menerima cowok yang lebih tua dari usianya daripada cowok menerima cewek yang lebih senior darinya. 

Kebanyakan dari kita, tidak bisa dipungkiri, ingin menikah someday. Dan mencari jodoh itu tidaklah mudah. So, if somebody say he or she falls in love with you, don't turn your face away too soon. Meskipun yang menyatakan cinta itu lebih mirip siluman daripada batman, dan semua indra peraba dan perasa menolaknya, just calm down, dan sadari bahwa makhluk didepan kita ini memuji kita dengan cara yang terindah, dengan mencintai kita. Kecuali indra keenam kita dengan keras meneriakkan agar kita menjauhinya (I always believe my instinct) atau dia punya record suka mukulin tetangga, we may consider her/ him as one opportunity to find our real love.

Some of us are lucky to find a match in a sinetron way, cinta pandangan pertama atau terjebak didalam lift bersama (pass the sick bucket please). Tapi sebagian besar dari kita menemukan cinta melalui cara yang lebih sederhana. Dengan berteman, dengan terbiasa akan kehadirannya. Orang Jawa punya peribahasa yang bijak sekali "Witing Tresna Jalaran Saka Kulina" atau cinta bisa tumbuh dari kebersamaan. Nope, I didn't say you must jump on the bed in a second. Maksud saya, jangan keburu kabur dari pemuja kita, paling jelek kita hanya akan dapat satu teman biasa kan, kalau ternyata menciumnya tetap tidak mungkin diterima akal sehat kita.

Saya punya pengalaman akan hal ini. Menjauhi seseorang yang mengungkapkan cintanya ke saya. Kalau saja alam semesta tidak ikut turut campur membantu, saya akan kehilangan seseorang yang ternyata menjadi salah satu sahabat terbaik saya, tempat saya bersandar saat membutuhkan seseorang yang tidak pernah menghakimi saya, meskipun sampai reinkarnasi kelima belas pun kami tidak akan menjadi pasangan. 

Jadi apa si Tralala itu salah karena tampak 'Asal ada yang mau sama gue deh.' Tidak juga. Menurut saya itu cara yang realistis. Toh dia bereaksi begitu karena dia sudah kenal lama sama si Trondol, dan apa salahnya dicoba. Hanya, mungkin dalam bahasa yang lebih diplomatis, "Aku sih enggak naksir dia, hanya tampaknya dia pria yang baik dan bisa diandalkan. Why don't give it a try? Kira-kira dia mau nggak ya kenal lebih dekat sama aku?"

Gile bener, habis ini saya mau ngelamar jadi pengarang novel roman picisan ah, udah pinter ngegombal gini.

Terus kalau emang belum dapet jodoh juga gimana? Ya either mencoba cara saya memakai susuk berlian, atau mengikuti nasehat orang bijak (yaitu saya, hahahahaha) bahwa kita akan bahagia saat kita mensyukuri apa yang kita miliki saat ini, banyak-sedikit, bagus-jelek, meskipun kita harus tetap mempunyai banyak target dan impian yang besar.

Dalam bahasa realistisnya, ya seperti saya yang memimpikan kawin sama Jake Gylenhaal, jalan-jalan keliling galeri lukisan sampai capek memilih lukisan Van Gogh mana yang ingin saya beli untuk menghiasi garasi, punya pinggang ramping ala Giselle Bundchen. Tetapi tetap bersyukur meski mendapat jodoh siluman kudanil, jalan-jalannya keliling pasar cari yang jual brokoli paling murah sampai encok melanda, dan punya pinggang yang lebih lebar dari pinggul.

Dalam bahasa diplomatisnya, kalau ada yang iseng nanya kenapa belum kawin juga, jawab saja "Saya tentu mengharap Tuhan akan mengirimkan jodoh untuk saya, dan saya juga tetap berusaha. Tapi sekarang, saya menikmati anugerah yang saya miliki, yaitu memiliki sahabat seperti kamu, yang saya yakin juga mendoakan agar saya segera mendapat jodoh."Nyahok nggak tuh orang yang mungkin sudah siap dengan cemoohan soal betapa nggak lakunya kita.  

Cinta, deritanya tiada akhir..... 
Nikah, bahagianya tiada jua....
Emang cucah jadi manusia
Mending jadi cicak aja deh

No comments:

Post a Comment