Dalam hidup ini, banyak sekali hal yang membuat saya ternganga bingung. Saya bingung saat membaca berita bahwa Miranda Kerr sudah bisa berbikini ria tiga bulan setelah melahirkan. How come? Saya juga bingung saat anak lain dengan mudah bisa dititipkan di Daycare, sementara anak saya menjerit- jerit seperti angsa dalam lagu potong bebek angsa masak di kuali. How come? Tapi ada satu hal yang tidak hanya membuat saya ternganga, tapi juga membuat saya tanpa sadar menggeleng- gelengkan kepala dengan takjub. Yaitu saat saya berhadapan atau mendengar cerita tentang seorang Tukang Ngutang.
Tukang Ngutang disini maksud saya ya orang yang meminjam baik uang, barang, atau apa kek dari orang lain. Saya yakin, mungkin ada diantara mereka yang masuk golongan ini adalah mereka yang memang hidupnya kekurangan. Ya kayak di sinetron-sinetron itulah, pake daster ngutang di warung sana sini demi membeli beras dan garam untuk anaknya yang selusin jumlahnya.
Tapi, karena lingkungan pergaulan saya kebanyakan adalah orang kantoran dan sebagian besar teman-teman saya lulusan perguruan tinggi, sebetulnya para Tukang Ngutang yang saya temui dalam kehidupan saya bukanlah mereka yang kondisinya memelas banget. Kebanyakan punya baju yang layak, baju kerjanya juga setiap hari ganti. Ada juga yang punya motor atau mobil. Bahkan ada juga yang lebih sering beli makan siang diluar dibandingkan dengan saya yang setia dengan menu katering gratisan yang disediakan kantor. Jadi kalau kemiskinan bukanlah alasan mereka ngutang, lalu apa dong?
Lemme share my true story. Suatu hari, saya ngomel-ngomel di kantor. Penyebabnya, saya mendapat uang rapelan dalam jumlah yang cukup besar. Masalahnya, uang rapelan itu diberikan dalam bentuk cash. Nah, saya kan orang yang paling malas kalau harus mengantri di bank untuk tujuan apapun kecuali kalau ada teller ganteng untuk dikecengin. Tapi masalahnya, kalau uang rapelan ini ngendon di dompet saya, bisa dipastikan akan habis tanpa jelas juntrungannya. Mendengar saya ngomel- ngomel ngalor ngidul mengata- ngatai orang HRD, seorang teman sekantor saya berkata "Ya sudah, sini kuambil aja, aku kan lagi mau bayar asuransiku. Nanti tinggal kutransfer pake ATM ke rekeningmu kan gampang."
You may call me stupid or naif, tapi dalam pikiran saya, itu kan win-win solution. Saya tidak perlu repot memasukkan uang ke Bank dan teman saya hanya tinggal jalan ke ATM disebelah kantor yang pasti akan kami lewati juga bila hendak membeli gorengan. Toh, dia bukannya butuh ngutang kan? Wong sebelumnya dia tidak mengutarakan keinginan meminjam uang dari saya. Tebak punya tebak, tentu saja dia tidak mengembalikan uang saya. Pertama saya tagih, dia bilang "Entar ya nunggu gajian". Kedua kali saya tagih dia bilang masih terpakai untuk bayar cicilan rumah.
Nah, aneh nggak sih. Tadinya toh dia nggak butuh ngutang. Dan kalau alasannya masih terpakai untuk cicilan rumah, itu kan pengeluaran yang sudah terencana, pasti sudah dialokasikan dong dananya secara rutin setiap bulan. Kecuali alasannya tiba-tiba dia kena rabies karena ciuman sama si gukguk jadi harus dirawat di RS, jadi uang saya jadinya terpakai deh. Setelah tiga kali menagih tanpa hasil, saya menyerah. Males ah (soalnya jaman itu saya masih belum kawin dan belum punya Serafim, jadi kehilangan uang masih bukan masalah besar. Coba ada yang berani minjem sekarang, bakal saya golok orangnya).
Saat saya bercerita mengenai masalah ini ke teman kantor lainnya (dalam rangka memperingatkan supaya berhati-hati kalau-kalau ni orang juga minjem ke orang lain), ternyata malah teman saya itu balik berkata bahwa orang itu memangnya sudah terkenal sebagai tukang minjem tanpa ada tendensi untuk mengembalikan. Langsung saya omelin teman saya, kenapa dia enggak memperingatkan saya dari dulu.
Ini kisah yang saya alami sendiri. Selain itu, saya juga sering mendengar kisah- kisah sejenis. Seperti pembantunya emak saya yang meminjamkan uang untuk tetangga saya, istrinya cleaning service kantor. Saat mendengar kisah ini dalam hati saya jengkel juga sama pembantu saya, lha wong dia sendiri miskin kok ya pake acara minjem- minjemin duit segala. Eniwei, saat si pembantu mencoba menagih, dengan amat santun dan baik- baik, dan sebetulnya dengan hati yang berat, tapi apa daya sudah kepepet butuh duitnya, eh si istri cleaning service malah mengata- ngatai pembantu saya. Boro- boro mengembalikan duitnya, pembantu saya malah diomelin bahwa pembantu saya itu bikin dia malu saja, menagih- nagih kayak si ibu tetangga itu enggak punya duit untuk mengembalikan uang yang hanya recehan (lha buktinya kan dia enggak mengembalikan sampai batas waktu yang dia janjikan sendiri kan?) dan bahkan menantang pembantu saya untuk mengambil saja motornya sebagai jaminan kalau memang pembantu saya melecehkan kemampuan si tetangga dalam membayar utangnya.
Nah, karena saya hanya mendengarkan cerita ini, tanpa terlibat aktif di dalamnya, maka saya hanya bisa geleng- geleng sambil menggumam "Jagad jungkir balik." Yang berhutang siapa, yang marah siapa? Yang lupa membayar siapa, yang tersinggung siapa. Mungkin anda akan bilang harusnya pembantu saya balik marah dong ke tetangga itu. Kan pembantu saya dalam posisi yang benar. Tapi saya mengerti juga sih posisi pembantu saya, karena meskipun saya orang yang sadis dan sarkastis, tapi berkaca dari pengalaman saya sewaktu hendak menagih uang ke teman saya dulu, rasanya berat sekali. Iya saya tahu secara logika dialah yang harusnya malu, tapi entah kenapa kok dia rasanya enggak malu dan justru saya yang merasa tidak enak hati. Bahkan, saya sampai merelakan uang saya tidak kembali daripada saya harus mengumpulkan keberanian untuk keempat kalinya, dan menagihnya lagi. Kalau sudah begini, saya sedikit mengerti kenapa para debt collector itu terkadang kejam. Lha yang hutang siapa, yang ngamuk siapa.
Saya yakin sih bahwa saya tidak punya reputasi sebagai tukang ngutang. Tapi ada satu pengalaman saya yang membuat saya sadar, bahwa manusia itu memang bawaannya enggan untuk membayar hutang. Suatu ketika, saya mendapat uang dalam jumlah cukup besar. Dititipin ceritanya. Karena uang itu ada di tas, tanpa sadar saya memakainya sedikit demi sedikit. Walau setiap kali memakainya saya hanya beralasan daripada harus ke ATM. Cerita punya cerita, saat tiba waktunya mengembalikan uang itu, saya syok juga. Sewaktu menghabiskan uang itu sedikit demi sedikit, ya tidak terasa, wong hanya untuk membayar atau membeli hal remeh yang saya tidak bisa mengingat apa itu. Tapi, sekarang saya harus mengembalikan dalam jumlah yang besar. Terpaksa membobol tabungan. Dan terus terang, berat sekali bagi saya untuk mengembalikan ratusan ribu uang itu. Sigh...
Saya sadar, memang seperti manusia pada umumnya, saya lebih mudah saat berhutang daripada saat mengembalikan. Jadi, untuk diri saya, saya berusaha tidak berhutang atau iseng meminjam uang dari teman untuk sekedar beli bakso sekalipun. Karena saya juga punya tendensi untuk malas mengembalikan. Dan kebijakan saya sekarang, kalau ada teman atau saudara yang ingin meminjam uang saya, saya hanya akan meminjamkan kalau memang saya bisa merelakan uang itu hilang, tidak dikembalikan. Daripada saya angot, dan menyewa debt collector untuk menagih.
Apalagi terhadap teman dekat atau saudara, saya berusaha supaya tidak terlibat utang piutang sama sekali. Oh betapa mudahnya masalah uang ini menjadi pengganjal pertemanan. Misalnya saya beli barang di tokonya Arin (sekalian promo: Quinsha SimplyBatik), waktu itu saya mencomot baju dengan total harga 300 ribu. Nah, sudah berbulan-bulan saya lupa plus males untuk membayarnya karena harus pake e-banking (lha ya malah gampang kan pake e-banking). Arin, tentu saja tidak pernah sekalipun menagih. Namanya juga teman dekat. Nah sekarang bayangkan saat saya belum bayar, dan saya kebetulan main lagi ke tokonya dan ambil baju lagi. Hayo, yang bakalan lebih berasa nggak enak hati saya atau Arinnya? Pokoknya, saya ekstra hati-hati kalau ngutang ke orang yang bakal merasa sungkan untuk menagih.
Selain para pengutang, lucunya saya terkadang juga sebal pada mereka yang anti utang. Maksud saya dengan para anti utang, adalah mereka yang dengan angkuh berkata bahwa kartu kredit itu penjelmaan setan. Kalau seseorang memutuskan bahwa ia tidak ingin terlibat kartu kredit, that's fine. Suka-suka dia. Tapi disuatu kencan makan siang dengan teman-teman saya, dan saat saya membayar bill dengan kartu kredit saya, dan seorang teman saya dengan congkak berkata bahwa dia sih nggak akan mau punya kartu kredit, karena hanya orang yang suka ngutang yang pake kartu kredit, ya saya keki juga (dan guess what, teman saya itu tadi ternyata kemudian membeli rumah dengan cara kredit ke bank -- yeah, kredit rumah itu bukan hutang ya....)
Ada alasannya kenapa saya punya kartu kredit. Pertama, karena jenis pekerjaan saya dulu membutuhkan saya untuk menemani klien saya dari berbagai penjuru dunia, dan saya sering keluar kota, kartu kredit is a must. Masak mau bayar makan siang di Shangrila saya harus mengeluarkan uang segempok? Emangnya makan di warteg? Atau saat menginap di hotel, dan harus open credit card, masak ya saya ngasih uang muka dalam bentuk cash. Bisa bingung resepsionis hotelnya. Dan bisa bingung klien saya. Jangan-jangan dia meragukan kredibilitas perusahaan saya.
Lalu, saya merasakan manfaat dalam hal diskon. Karena saya suka makan di sushi tei, saya bisa dapat lucky dip dan makan gratis karena kartu kredit. Atau saya bisa upsize di Starbuck. Atau bisa beli blazer setengah harga di G2000. Atau bisa masuk lounge gratis di bandara. Belum lagi urusan beli tiket pesawat online. Kalau Okhi sih masih baik hati, mau membantu siapa saja untuk membeli tiket pesawat online dengan kartu kreditnya. Kalau saya, dengan tegas menolak (kecuali teman terdekat saya atau saudara dekat saya). Kalau kamu memutuskan nggak mau pake kartu kredit, kamu terima sendiri resiko nggak bisa beli tiket diskonan di internet. Jangan bikin saya yang harus repot-repot mengurusi.
Saya sadar memang banyak cerita soal kesialan yang menimpa para pengguna kartu kredit. Saya punya tetangga yang sampai harus mengungsi sekeluarga karena diteror debt collector. Jadi dia belanja dengan kartu kredit dalam batas maksimal (misal 6 juta sebulan) tapi hanya membayar tagihan minimum (misal sejuta sebulan). Nah mampus deh dia kena bunga berbunga. Plus dia punya selusin kartu kredit. Ini tentu saja tolol sekali. Dan yang lebih bego, dia menggunakan uangnya untuk membiayai pembangunan rumah pacarnya. Teman saya itu cewek single seumuran saya, dan pacarnya adalah pria tua beristri beranak. Oh bodohnya dobel-dobel. Kalau seorang cewek muda dan single mau pacaran sama orang tua yang sudah melorot semua bagian tubuhnya, ya wajarnya si cewek kinyis2 ini yang morotin kantong pacar tuanya tho. Lha kok ini mau2nya diporotin.
Tapi, meskipun banyak kisah mengenaskan soal kartu kredit, well, toh saya nggak minta dibayarin situ kan? Jadi ya enggak usah segitu siriknya dong melihat deretan kartu di dompet saya (note: satu kartu kredit dan lusinan kartu keanggotaan lainnya-- kartu makro, kartu erha klinik, kartu langganan salon Bang Alvin, dll)
Tapi kalaupun ada yang menganggap kartu kredit itu penjelmaan setan dan penggunanya adalah calon penghuni neraka, ya please keep that thought for yourself. Sama seperti saya enggak pernah berkoar-koar juga kan menyuarakan opini saya bahwa mereka yang tidak punya kartu kredit itu orang ndeso dan a modern-banking illiterate :D (lha ini apa gak koar-koar ya namanya).
No comments:
Post a Comment