Monday 21 March 2011

My Monday Note -- It wasn't by accident, but by God's plan

Sepanjang ingatan, sejauh mata memandang, saya tidak bisa menemukan satu fase dalam kehidupan dimana saya menjadi orang yang populer dan punya banyak teman (ya kagak mungkinlah, wong tampangnya lusuh, kulitnya dekil, otaknya tumpul, plus perilakunya bejat).

Ada beberapa orang yang seperti matahari, kayaknya semua pingin jadi teman mereka. Entah karena hatinya yg baik, auranya yang kinclong, atau fisiknya yang aduhai. Saya sebetulnya juga seperti matahari, hanya sayangnya tertutup mendung. Ini salahnya emak saya yang ngasih nama Mega.

Meskipun saya tidak seberuntung para anak populer dan baik hati itu, lagi-lagi sejauh mata memandang, setiap fase dalam hidup selalu punya teman yang (kayaknya sih, gak yakin juga) mau tuh dianggap sahabat. Enggak banyak emang, ngitung pake jari tangan aja masih sisa.

Sahabat pertama saya namanya Thomas Ryan Indarto. Teman masa kecil di jogja. Persahabatan kami diisi nyabutin bayam di sawah, kecipak kecipuk di kali, sepedaan malem2 ke gereja latihan koor. Yup, saya masih cukup religius saat itu (ada mas2 ganteng di grup koor). He was cool, penuh ide ("yuk manjat atap liat sarang burung") dan punya sepeda keren yg sering saya pinjam. Anjing sayapun suka bertandang minta makan ke rumahnya. Saya juga punya 2 sepupu yang jadi teman main, Daniel Yoga dan Christian Chandra. Tiap malam minggu, dengan naik motor bebek merah, saya, emak, bapak dan Dionisia Vidya bergegas ke rumah mereka untuk main benteng2an. Brum..brum...

Sayangnya saya tidak punya kenangan siapa sahabat saya di SD. Yang saya ingat hanya komentar adik saya yang bersekolah di SD yang sama bahwa dia sering sekali melihat saya dihukum berlari2 keliling lapangan ataupun memunguti daun di halaman. Itu saya anggap fitnah.

Masa SMP saya di Jogja hanya setahun. Adriana Widya Arianti adalah nama sahabat saya, teman satu bangku. Kenapa ya saya berteman sama dia? Lupa juga sih. Mungkin karena dia mau dicontekin pas ulangan. Saya pernah ranking 31 dari 40 anak. Emak nyaris pingsan waktu ambil rapor. Percaya enggak, saya ikut ekskul menari jawa? Tiap mau jam latihan, saya berdoa semoga tiba2 ada gempa bumi dan gedung sekolah ambruk.

Kelas 2 SMP saya pindah ke Surabaya. Tinggal di Bendul di rumah embah saya yang menurunkan gen pesut di keluarga. Yang saya ingat dari sekolah, saya ikut pelajaran tata boga. Dari sini saya menemukan memasak bukanlah panggilan hidup saya. Masa sekolah bagi anak cewek, harus punya peer group. Kalau tidak hidup akan sengsara. Grup saya terdiri dari Kartika Sari yang kayaknya ketawa terus, Widya yang tampangnya Kristen banget (emang ada gitu ya tampang kristen- tp sejak liat anak ini saya hakul yakin dia pasti orang kristen), Gusti Antung yang selalu disuit2 gerombolan cowok sementara saya dihalau minggir oleh mereka :( dan Chika yang punya rumah kosong utk tempat mabuk2an (sayang kami mampunya hanya mabuk sprite). Kami grup menengah lah, gak populer2 amat, gak kaya2 amat, gak pinter2 amat, gak cakep2 amat kecuali si Antung. Masih untung idup. Sahabat saya di rumah justru om saya Antonius Rachmat Witarto. Walau setelah dipikir2 sekarang kayaknya saya hanya dimanfaatkan dia untuk beli rokok sembunyi2 biar gak ketahuan embah. Tapi dia sering ngajak saya muter2 naik motor keliling kampung. Jadi impaslah.

SMA, ini masanya saya berjaya. Berjaya menemukan kelas yang antik banget. Yang isinya hasil persilangan landak sama bekicot semua. I think I befriended dengan sebagian besar anak di kelas. Sahabat terbaik saya, tentu saja Lynda Rossyanti. Kalau ini, saya yang menentukan ingin duduk dengannya (" Beti minggir, aku mau duduk sama Lynda !") Dan sejak itu, dia jadi milik saya, hahaha. Cinta memang kejam. Lynda ini kalemnya setengah mampus, kayaknya ga pernah marah dan suabar polll. Saya rasa dia keturunan terwelu. Bersama dengan Lynda, saya membentuk geng motor dengan Puspita Pramiluwati, Nia Ayya, Dian Kristiyani dan Erika Windy. Nia itu temen nonton dan jalan2 ke mall. Pokoknya dulu kalo ke Delta Plaza atau Mitra, cucoknya sama ni anak. Kalau Pipit, Dian dan Windy, saya juga bingung kami bersahabat dengan cara gimana ya? Pipit suka menggambar dan komik, which I deteste. Dian sukanya melototin guru yg ganteng. Windy sukanya dijarah catetannya karena rapi. Kayaknya sih nothing in common dengan saya. Ya sudahlah.

Selain dengan temen sekelas, saya menemukan kebahagiaan di grup SKK. Rasanya saya berteman baik dengan semuanya, Aditya Agita Sondakh yang selalu pake jaket merah, Sulistyo Wuryantobroto yang pinternya gak aturan, Febri Ferdinand Laleno yang senyumnya menghangatkan hati....

Lulus SMA, dengan menyogok panitia UMPTN, saya berhasil masuk farmasi UNAIR. Saya bersahabat dengan Dewi Kartina, cewek kecil yang rajin tapi cerewet. Padahal soal selera kami bagai langit dan bumi. Di semester2 atas, saya menemukan grup yang sampai sekarang masih membuat saya nyengir kalau teringat mereka. Endah Ekayani yang genitnya anjrut2an, sampai tukang parkir kampus aja disapa mesra. Pharmasinta Putri Hapsari yang selalu ga pede akan wajah dan otaknya, padahal hati semua cowok dan dosen dibuat terkiwir-kiwir. Dengan 2 orang ini, jalan ke kantin selalu jadi bertele2, kebanyakan berhenti menyapa kanan kiri tebar pesona. Saya yang pasti dengan gusar menggebuk bokong mereka biar maju, sudah laper ini!!! Arina Nur Alia yang jilbabnya lebih panjang dari rok saya, dan sering saya tanya dengan prihatin apa dia gak malu berteman sama Endah.... Last but not least, Yusnita Rachmawati yang telminya kebangetan. Cerita apapun atau bercandaan jadi ga lucu kalau sama yusi, karena dia selalu dengan melas bilang "Ulangin po'o, aku gak ngerti..." Hanya Putri yang mau melayani permintaannya. Saya hanya mendengus sebal. Kantin farmasi dan warung nasi goreng Fisip selalu dijadikan tempat ngumpul karena murah... Rasanya, 5 tahun di lab jadi fun karena para nonik-nonik ini. Oya satu lagi, Franky Thomas. Saya nggak punya nyali mengakui dia sahabat saya, as he has golden heart towards everybody...

Setelah bekerja, lebih susah untuk mendapatkan sahabat. Suasananya beda, ada sikut2an, ada persaingan. Saya beruntung bos pertama saya, ternyata jadi sahabat terbaik saya. Eka Savitri Tamanbali. Sampai sekarang, saya masih selalu kangen dia, dan cita-cita saya keliling eropa bareng dia. Vara Cuty jadi penghibur lara saya saat deadline bikin saya masih mendekam jam 9 malam. Oh how I love our sushi Tei and Soto Mie adventure :) Wahyu Indarto Setyadi dan Amie Adi Pratama yang berikutnya jadi temen gosip saya sambil merobek2 berkas... Niat makan sushi bareng yang belum kesampaian. Syarat berteman dengan teman kerja, ga boleh ada rasa iri dengan karir masing2. Saya bahagia sekali saat Vara diangkat jadi Asmen.

Justru di Jakarta, orang2 yang sebetulnya sudah lama saya kenal, baru bisa menjadi sahabat saya. Awal di jakarta, sendirian ngekos, saya diberkati sekali karena bisa bersahabat dekat dengan Antonius Agung Nugroho. Tiap weekend, kami ke gereja bareng, makan mi bangka bareng, muterin Mall Kelapa Gading bareng dan saling berkeluh kesah. A friend in need is a friend indeed. Tak disangka tak diduga, saya justru bisa berteman dengan Fuank de Blovtsneek, setelah masa SMA yang dilalui penuh onak dan duri. Di balik tampang siamang dan lengan gorilanya, he is loyal and warm-hearted. Marhendra Lidiansa yang mengisi hidup saya dengan kunjungan ke pameran seni, mencoba naik busway untuk pertama kalinya, dan mengambil mobil di dealer.... Dia kerja di BI dan masih single, kalau2 ada yg berminat. Saya sudah mencoba menggaetnya tapi gagal.

Di Facebook, saya menjadi sahabat dengan Christina Vega dan Bunga Ayu. Mungkin kesamaan nasib menjadi emak-emak di perantauan yang membuat kami dekat. Christina's passion is for food, Bunga is diskonan. Me? Of course six-packers.

Dan of course mereka yang menjadi sahabat karena suratan takdir. Adik saya Dionisia Vidya, yang sudah berhasil menjual novelnya lebih dari 1000 buku dalam tempo 3 bulan saja, yang meskipun gak pernah baik sama Serafim, saya tahu saya bisa mempercayakan Sera padanya in case something happen to me. Dan mama saya Sita Purwandari yang pasrah hanya ditelpon anak-anaknya saat lagi butuh dan disuruh-suruh.

Sahabat terbaik saya di dunia, pastinya Okhi Oktanio. Orang yang gak protes kalau saya tidur duluan dan bangun belakangan, yang rela diperintah ini itu, yang komentarnya menghangatkan hati saya "Ngapain kamu bergaya kayak walrus berjemur gitu?" He knows everything about me, and still wanna spend his life with me (matur nuwun mbah dukun atas susuk berliannya).

I have no idea why they chose me as friend. Sometimes you pick your friends, sometimes they pick you. But I believe it wasn't by accident, but by God's plan.

Kalau ada orang yang namanya saya sebut ternyata tidak ingin diakui sebagai teman saya, mohon japri saja, biar saya tidak malu .... Please show mercy...

1 comment:

  1. saya viktor a.k.a pitik, dan belum disebut..

    ReplyDelete