Monday 15 August 2011

My Monday Note -- Just Let Her Try

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat pesan di facebook yang cukup membuat saya kaget. Pesan itu dikirim oleh seorang pria yang dahulu kala pernah mengisi hati, jiwa dan mimpi- mimpi saya. Pacar masa lalu saya? Sayangnya ini bukan kisah indah mengenai cinta lama bersemi kembali. Pria yang mengirim pesan itu adalah pria yang bisa disebut cinta pertama saya. Sejak pertama kali saya melihatnya, saya jatuh cinta padanya. Jadi dia pacar saya dulu dong? Bukan, berapa kali sih saya harus bilang, bukan! Nah lho, kok saya jadi emosi sih? Saya dulu, cinta mati padanya. Dia dulu, menganggap saya bagaikan sebutir debu semata.

Dia mengajak berteman di FB, menanyakan kabar saya dan mengajak bertemu. Enggak hanya berduaan sih, tapi bareng dengan teman les kami dulu. Saya, agak ragu untuk mengiyakan. Apakah saya takut saya akan jatuh cinta lagi padanya? Saya sampai memandang- mandang foto profilnya, membayang- bayangkan tampangnya untuk mengecek apakah masih ada sedikit saja rasa cinta tersisa. Enggak tuh. Dan apakah saya akan menyesal dulu tidak menikah dengannya yang sekarang ternyata menjadi orang sukses? Well, sekarang saya tinggal di Australia sementara dia masih menumpang di rumah orang tuanya. Istrinya, meskipun tidak lebih jelek dari saya, tapi di foto- fotonya memakai baju yang jauh lebih sederhana dari baju saya. Dan anak perempuan saya, undoubtfully jauh lebih seksi dari anak perempuannya. Di wall nya, saya membaca statusnya yang bertanya enaknya pakai Lion Air atau Air Asia ya yang murah kalau hendak liburan ke Bali. Sementara saya, bingung apakah enaknya pulang ke Indonesia lewat Singapura atau sekalian ke Taiwan dulu mumpung si Yuli masih ngendon disana. Jadi, kalau kebahagiaan diukur semata dari kesuksesan karir dan materi, saya jelas sudah memilih suami yang tepat (walau tentu saja logika yang sesuai adalah kalau saja saya menikah dengan si kumbang tampan ini, dialah yang akan pindah ke Australia dan Okhi yang masih akan menumpang di rumah emaknya).

Jadi kenapa saya enggan bertemu dengannya kalau bukan karena takut jatuh cinta lagi padanya? Lemme go back to many many years before. Saat pertama kali saya melihatnya, dia benar- benar makhluk terkeren yang saya kenal. Dia terkenal di seantero tempat les, dia punya banyak teman kaya, dia anggota geng makhluk gaul. Pokoknya, dia tipe cowok yang paling gaul deh jaman kita SMA dulu. Kebayang kan? And then me. Cewek ceking item berkaca mata yang hanya berteman dengan makhluk- makhluk kurang keren lainnya. Saya jelas bukan anak paling jelek, atau paling bodoh, atau paling nggak gaul di lingkungan per-abegean dulu, walau jelas bukan yang paling keren juga.

Saya cinta padanya seperti layaknya seorang wanita jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Total, setengah mati, sepenuhnya buta, dan seutuhnya tolol. Dan si kumbang tampan ini, menyadari ada belatung yang jatuh cinta padanya. Apakah dia geer? Tentu tidak, digilai wanita bukan hal baru baginya. Apakah dia membalas cinta saya? Hoho, sejak kapan kumbang sudi kencan sama belatung. Tapi, dia sadar sesadar- sadarnya akan mata saya yang memuja. Dan dia memanfaatkannya. Kami pernah nonton bioskop berdua (saya serasa melayang ke nirwana saat ia mengajak nonton). Pada hari H, dia datang bersama segerombolan cowok temannya. Jadi kami nonton bioskop plus plus (plus gengnya). Siapa yang membayar? Tentu si belatung. Kadang dia menarik saya ke kantin depan tempat les, yang membuat lutut saya lemas karena bersentuhan dengan tangannya. Siapa yang membayar? Oh ayolah, masak nggak bisa menebak sih?

Apa saya nggak sadar saya dimanfaatkan? Bagaimana nggak sadar kalau saban kali kami bertemu dulu, saya melihatnya sedang menggoda cewek cantik dan keren lainnya. Dan saya bahkan tahu dia naksir cewek yang paling cantik di kelas sebelah, yang bibirnya merah dan kulitnya sebening embun. Tapi saya tak berdaya. Seorang teman baik saya tahu akan hal ini, dan dia sudah bolak- balik mengingatkan saya akan ketololan saya. But, I was helpless..... 

Itulah kenapa saya enggan bertemu dengannya. Meskipun sekarang saya yakin saya punya segudang hal yang bisa saya sombongkan di depannya, tapi dia mengingatkan saya akan ketololan saya dulu. Mengingatkan saya akan masa dimana saya tidak menjadi diri saya sendiri. Mengingatkan pada masa saat ia hanya iseng mengomentari kaki saya, dan saya jadinya ingin mengamputasi kaki saya yang tiba- tiba tampak seperti kayu lapuk dimata saya. And I am embarassed. Saya nggak tahan membayangkan mungkin dia menceritakan ke teman- teman kami yang lain betapa dia dulu bisa memanfaatkan saya. Betapa cinta saya dulu membuat saya rela menyembah kakinya. Walau kalau ada yang seharusnya malu, seharusnya dialah yang malu karena sudah bertindak kejam.

Kemudian, saat saya sudah jauh lebih dewasa, sudah sepenuhnya get over him, sudah jatuh cinta setengah mati ke Okhi yang juga mencintai saya setengah hidup, saya berteman dengan seorang pria. Yang mencintai seorang gadis setengah mati. Yang mengingatkan saya akan cinta buta saya jaman remaja dulu. Dan sejak awal saya tahu, gadis ini not into him. Mereka berpacaran (entah kenapa, mungkin si gadis lagi kosong aja kali). Saya berada di sampingnya saat ia mencoba menelpon si gadis pacarnya itu. Dan melongok ke layar hapenya saat balasan sms dari si gadis datang, bertuliskan "Jangan telpon aku dulu. Aku lagi enggak mood."   

Saya dan sahabat saya itu sedang makan berdua di warung bakmi, saat ada sms datang, dari si gadis pujaan, bertuliskan "Kalau nanti aku sudah bilang boleh, baru kamu boleh telpon aku lagi. Ditelpon kamu itu benar- benar bikin aku nggak mood. Aku mau ujian, jadi kamu nggak mau jadi penyebab kegagalanku kan?"

Saat itu, saya ingin menyiram sambel ke tenggorokan saya sendiri, mencolok kedua bola mata saya sendiri dan menggigit putus jari saya. Instead, saya menatap teman saya itu dan kami saling bertatapan tanpa berkata apapun dan kemudian kembali menekuri mangkuk bakmi kami. Beberapa saat kemudian, teman saya itu menghembuskan nafas dan berkata "Thanks ya, udah diem aja nggak nasehatin gue..."

Saat pertama sahabat saya itu menceritakan hubungannya dengan si cewek, yang dimata saya adalah makhluk paling egois dan paling brengsek, saya sudah enggak sreg. Dengan hati- hati bahkan saya berkata pada sahabat saya "I don't think she can love somebody else beside herself."

Sahabat saya, terbutakan oleh cinta, tentu saja juga tuli akan nasehat saya. Hari demi hari berlalu, dan perlahan teman saya itu menyadari sih bahwa cewek itu jauh lebih mencintai egonya daripada hati teman saya. Tapi sama seperti saya dulu, sahabat saya itu juga helpless. Satu sms cukup manis dari si cewek semacam "Kamu lembur nggak hari ini?" sudah cukup membuat hatinya berbunga- bunga. Sudah cukup untuk menghapus puluhan SMS bedebah yang memenuhi inboxnya, yang dikirim oleh si cewek bedebah itu.  

 Saya, yang menatap sahabat saya dengan tatapan penuh kasih dan kasihan, terkadang ingin membenamkan wajah sendunya saat menerima sms si bedebah. Sungguh terkadang saya ingin menyepak bokongnya ke dalam empang, biar otaknya yang tumpul dan berkabut itu jadi bersih lagi. Bagaimana mungkin seorang pria, yang sangat pintar, yang sudah dewasa, yang punya karir cemerlang, yang punya wajah lumayan, yang bodinya masih lebih berbentuk daripada si Okhi, bisa- bisanya menyerahkan cintanya, dan harga dirinya pada seorang bedebah tak berhati.

Sahabat saya bukannya tidak berusaha untuk mengambil kembali harga dirinya. Sudah berapa kali saya menjadi saksi tekadnya bahwa 'ini yang terakhir kalinya dia boleh seenaknya sama aku'. Dan menjadi saksi bahwa sahabat saya kembali memaafkan si bedebah. Untuk kemudian membuat tekad lagi. Hingga yang terakhir dia berkata bahwa dia akan melamar si bedebah, dan kalau dia menolak maka hubungan mereka akan langsung berakhir. Untungnya kami berbicara di tengah kegelapan malam sepulangnya dari menonton konser, jadi sahabat saya itu tidak bisa melihat kilatan penghinaan dan melecehkan di mata saya. Saya mengantarkan sahabat saya ke bandara untuk terbang ke kota tempat si bedebah tinggal, saya menepuk bahunya, dan dia minta saya mendoakan supaya berhasil. Saya memang berdoa, tapi saya berdoa supaya si bedebah tidak menerima sahabat saya, dan menolaknya dengan cara yang kasar agar sahabat saya bisa sadar. Dan benar saja, si bedebah menolak lamaran teman saya, dan bahkan marah karena teman saya itu membuatnya merasa tidak nyaman dan diburu- buru. Sahabat saya, kembali ke samping saya dengan hati terluka. Dan beberapa hari kemudian kembali memaafkan si bedebah. Saya, kembali tergoda untuk mencolok keluar bola mata saya sendiri.

Apakah saya tidak pernah berusaha menasehati sahabat saya itu? Million times. Tidak terhitung. Tapi sama dengan pengalaman saya dulu, terkadang ada beberapa hal dimana hanya waktu yang bisa menyembuhkan. Saya tentu saja tetap memberi masukan ke sahabat saya, dan dia juga tetap mencari nasehat dan pendapat saya. Dan saya yakin saran sayalah yang membuatnya bisa tahu bahwa dia itu dimanfaatkan dengan semena- mena. Masalah dia helpless seperti pecandu heroin, yah there was nothing I could do. Saya hanya menjadi sahabatnya, menjadi tempatnya berkeluh kesah. Saya menemaninya melalui jalan yang menyedihkan, sampai tiba waktunya sahabat saya itu bisa bangkit sendiri. Kadang memang bikin frustasi, tapi saya tahu sahabat saya harus menjalaninya dulu sebelum ia bisa terlepas dari si bedebah. Terserah saya apakah ingin pergi saja dari sampingnya karena bosan dengan ketololannya, atau tetap di sampingnya untuk again and again menjadi tempatnya berkeluh kesah. Sekarang sih sahabat saya itu sudah menikah dengan cewek imut sederhana yang memujanya, dan sudah sepenuhnya get rid of the bastard.

Kemarin, saat saya dan Okhi sedang menemani Sera bermain di taman, Sera berlari menuruni semacam bukit kecil. Saya kuatir dia akan jatuh. Saat saya hendak melarangnya berlari Okhi berkata " Biarin aja. Toh aman enggak ada barang tajam."
"Tapi nanti Sera jatuh gimana?"
"Ya dia bakal jatuh kalau begitu."
"Kalau dia luka gimana?"
"Ya dia akan luka kalau gitu. Kita akan menunggu disini, dan kita akan will be there for her saat dia butuh kita."

Dan Sera memang terjatuh. Terguling- guling. Dan bangun kembali dengan bingung. Menatap kami yang duduk dengan tenang di atas bukit. Dan kemudian tertawa. Dan kemudian mencoba lagi menuruni bukit itu, dengan lebih perlahan.


Sometimes that's the point of loving somebody. Ada saatnya saya harus membiarkan Sera melakukan kesalahan atau mungkin nantinya mencintai seseorang dengan cara tolol seperti saya dulu agar Sera can learn the lesson (selama Sera jatuh cinta pada temannya seumuran yang masih single tapi sedikit bastard, kalau dia jatuh cinta pada pria beristri of course I will not let her continue on). Karena terkadang nasehat bukanlah yang dia butuhkan (walau tentu saya akan tetap memberikannya), dan dia butuh menjalani sendiri dulu kesalahan itu untuk bisa membuatnya sadar. Selama saya tahu bahwa dia bakal aman dan baik- baik saja, I just need to let her try. Saya akan bersiap sedia di sampingnya saat dia terjatuh, entah dari bukit kecilnya, atau saat cintanya kelak bertepuk sebelah tangan. Sometimes, mengalami sendiri adalah satu- satunya obat untuk ketololan dan kegilaan. Dan sekarang, saya berterima kasih pada si kumbang tampan saya dulu, for his cruel but invaluable lesson (walau saya tetap enggan bertemu dengannya, hahahaha. Saya memang pengecut).

No comments:

Post a Comment