Minggu yang lalu, seorang teman menulis pesan di chat. "Meg, bener nih gue boleh datang ke tempat lu?" Dengan serius saya menjawab,"Boleh, tapi 2 tahun lagi aja ya, karena sekarang gue belum punya duit."
Teman saya kemudian membalas yang intinya dia enggak percaya bahwa saya itu gak punya duit. Saya dengan serius mencoba menjelaskan situasinya. Tapi yang bersangkutan kayaknya susah menerima. "Elu udah tinggal di luar negeri, elu pasti orang kaya."
Keki juga saya dibuatnya. Ni anak susah bener sih dibilangin. Tapi saya maklum dengan logika bengkoknya bahwa siapapun yang tinggal di luar negeri ya pasti kaya dong, kalau enggak ngapain susah-susah pindah dari Indonesia? Saya ingat duluuuu banget, waktu teman saya Christina Vega, yang kerja di perusahaan minyak, yang kawin sama orang bule, yang udah keliling dunia, yang udah ngendon di Eropah, tanya2 soal harga perlengkapan bayi ke saya. Mau budgeting katanya. Saya dengan polos bilang "Bukannya elu udah kaya Chris? Ngapain kok susah2 itung2an lagi?"
Jawaban Bude Christina sih sama dengan saya. Tapi dia hanya memberi alasan "Gue bakal kaya kalau dengan gaji gue sekarang, gue hidupnya di Indo. Kalau hidupnya di Jerman ya sami mawon." Waktu itu saya juga rada sinis, dalam hati bilang "Yeah right...." Lha wong negaranya aja masuk negara kaya, dengan pendapatan per kapita warganya naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali.
Tapi sekarang, setelah saya mengalami tinggal dan bekerja di negara lain, saya mengamini Christina. Hidup di negara lain, tidak berarti menjadi orang kaya. Paling tidak, tidak kaya dalam definisi ala Indonesia. Logika paling sederhana saja, memang sekarang penghasilan dalam dolar, yang kalau dirupiahin bener-bener aje gile.... Tapi, masalahnya, pengeluaran kan ya dalam dolar. Dan harganya mengikuti harga sini dong, yang aje sinting ye ye ye. Sebagai gambaran, biaya sewa rumah dengan 2 kamar di daerah pinggiran aja rata-rata 1500 dolar per bulan. Nah hitung aja tuh berapa rupiah. Saya dan Okhi Oktanio pernah ngakak membaca email dari calon mahasiswa doktoral dari Indonesia, yang mencari rumah kontrakan di pusat Melbourne dengan kriteria dekat kampus, kamar 2 atau 3, dengan kisaran harga 800 dolar sebulan. Lha dia itu mau nyewa rumah apa tenda aborigin sih?
Selain biaya hidup yang pastinya jauh lebih tinggi dari Indonesia, ada satu hal yang membedakan. Pajak. Pajak di Australia itu tinggi sekali. Saat Okhi Oktanio dari pekerjaannya yang pertama, yang misalnya gajinya 500 ribu rupiah, kemudian dia berpindah kerja ke tempat dengan gaji 700 ribu rupiah, kenaikan pajaknya ternyata luar biasa melonjak. Sistem pajak disini kayaknya emang didesain mencegah orang untuk bisa kaya. Apalagi eropa. Saat dulu Okhi dapat tawaran ke Belanda, terus dihitung2, ternyata kok ya hasil yang bisa ditabung sedikit sekali, sama kayak kalau kerja di Indonesia saja. Itu karena pajaknya melayang oh melayang jauh.
Kalau memang pajaknya anjrut2an, lalu kenapa orang pada tertarik migrasi ke Australia sih? Meminjam istilah Dirjen Pajak, di Australia itu bayar pajaknya, laporkan SPT nya, nikmati penggunaannya. Kalau di Indonesia kan, meminjam istilah teman saya Andreas Indra Pradana, bayar pajaknya, laporkan SPT nya, ikhlaskan penggunaannya. Dengan pajak yang tinggi, pemerintah membuat semacam jaring pengaman. Biaya kesehatan ditanggung. Biaya sekolah sampai SMA ditanggung. Angkutan umum asoy geboy. Jalanan enggak kayak permukaan kawah bulan. Jadi enggak ada ceritanya anak drop out sekolah karena nggak bisa beli seragam. Di eropa yang pajaknya denger-denger ada yang sampai 80% penghasilan, biaya sekolah sampe Master ditanggung, kalau kuliah PhD malah dibayar. Tapi ya gitu, uang di tangan hanya 20% gaji deh. Makanya sekarang ngeh kan, kenapa olahragawan kaya dari Jerman dan Swis, pada hijrah ke Monako? Karena di negara mereka sendiri pajaknya bikin mereka gak beda tingkat kekayaannya dari tukang sapu jalan..
Tapi kan kelihatannya orang-orang yang pada tinggal di luar negeri bisa sering wisata ke negara-negara lain? Lihat saja foto-foto di FB... Kalau itu, jangan menuduh karena mereka kaya, tapi gara-gara rupiah kita aja yang nilainya mendelosor di lantai, kita jadi harus sekuat tenaga kalau mau pergi keluar negeri. Kayak saya misalnya mau wisata ke Amrik, kan 1 dolar Amrik setara sama 1 dolar Oz. Lha kalau rupiah? Bawa sekeranjang rupiah, sampai di money changer bisa-bisa dapetnya hanya 5 lembar dolar.
Makanya saya nyengir lebar waktu jalan-jalan di Seminyak Bali, melihat segerombolan cowok Australia berjalan dengan gagah kayak yang punya dunia. Makan-makan dengan santai, beli bir kayak gak mikir. Dan merasa hebat ditatap penuh kekaguman sama embak-embak yang jaga toko. Halah, mereka itu lho di sini paling juga tukang, rumah paling juga masih ngontrak, mobil paling juga yang budget car. Tapi lagi-lagi karena rupiah itu lemah, ya berasa konglomerat kan pas dolar mereka dibawa ke Bali? Plus, karena pemerintahnya sudah mendesain supaya kebutuhan warganya akan kesehatan, pendidikan dan pensiun sudah terpenuhi, orang sini tidak punya kebutuhan menabung sebesar orang Indonesia. Gaji bulan ini, ya habis bulan ini. Plus, mereka gak terbiasa mengumpulkan uang untuk membantu anaknya atau untuk warisan. Anaknya ya harus berusaha sendiri dong...
Tapi saya ngaku juga sih memandang mereka dengan ngiler. Bukan karena kantongnya, karena kantongnya Okhi aja masih lebih tebel dari abege2 ini. Tapi liat body surfernya itu lho, karena kok ya bodinya si Okhi juga kayak kantongnya, jauh lebih tebel dari para brondong ini.
Berikutnya, banyak kemewahan-kemewahan yang ada di Indonesia, tidak akan bisa lagi dinikmati di Australia. Pembantu Rumah Tangga dengan gaji 300 rebu, tanpa cuti kecuali pas lebaran? Consider it as a slavery. Enggak ada ceritanya, pekerjaan seremeh apapun disini yang gajinya sak-welase begitu. Untuk pembantu rumah tangga, hitungannya per jam. Dan hanya orang kaya banget yang mampu untuk membayarnya. Jadi, seumur hidup saya di Australia nantinya, saya hakul yakin saya tidak bakal punya sopir, pembantu, dan konco-konconya. Bandingkan dengan teman saya di Jakarta, yang rumah ukuran 46 saja masih nyicil di daerah Jakarta Coret aka Bekasi, dan dia punya 2 pembantu, satu untuk mengurus rumah, satu mengurus anaknya. Jadi siapa lebih kaya?
Omong-omong soal teori relativitas, saya dulu kerja di perusahaan Jepang. Saya, yang karyawan rendahan, pergi ke kantor naik yaris merah darah. Bos besar dari Jepang, yang menentukan hidup mati perusahaan, pergi ke kantor di Tokyo naik kereta umum. Makanya orang Jepang seneng banget kalau diposkan di Indonesia, karena mereka berasa kaisar, dapet mobil, dapet sopir, dapet pembantu.
Kebayang kan, saya memang gak usah kuatir soal kesehatan atau pendidikan, atau soal pensiun entar, tapi ya uang di tangan yang bisa untuk parteeehhh all night long ya lebih sedikit persentasenya dibanding di Indonesia, karena dipotong gunting pajak.
Oya, beberapa minggu lalu, saat saya makan siang dengan ibu-ibu PKK dari gereja, salah satunya berkata "Di Melbourne ini, kalau saja udah ditemukan alat pendeteksi kentut, kentut aja kita bakalan disuruh bayar."
Fakta yang menyedihkan, tapi it's true. Di Jakarta dulu, rumah saya memakai air tanah. Jadi saya nggak usah bingung mau bayar berapa. Plus pakai airnya bisa seenak dengkul. Disini, dimana air hanya didapat dari air hujan, berani-berani sembarangan menggali air tanah, sama saja menggali kubur sendiri. Air disini selalu mengalir lancar jaya, plus bisa langsung diminum. Bandingkan dengan di Indonesia, yang ada daerah airnya bercacing lah. Ada yang mengalirnya tiap satu suro doang. Tapi ya gitu, with big power, comes big responsibility. Air disini adalah komoditas yang berharga. Karena pemerintah mau semua warganya dapat suplai air yang mencukupi, maka air berharga mahal disini. Ditambah aturan-aturan pembatasan. Kagak boleh nyuci mobil. Kagak boleh siram-siram jalan depan (yang saya juga enggak ngarti apa fungsinya sih tuh tetangga saya dulu di bekasi rajin menyirami jalan aspal depan rumah). Intinya, air dan listrik dan bensin, yang harganya murah di Jakarta, disini sangat mahal. Tapi untuk yang ini saya setuju. Saya benci orang yang membuang-buang air dengan membiarkan kerannya rusak dan menetes terus. Air itu berharga you know (mulai deh jiwa Greenwar nya keluar).
Satu lagi, kalau siap tinggal di luar, berarti siap semua semuanya sendiri. Kalau saya butuh pergi tanpa membawa sera, saya harus memasukkan dia ke daycare, yang harganya amat sangat mencekik leher. Enggak kayak di Indonesia yang bisa minta tolong emak, adek, eyang, teteh.
Oya, kalau di Indonesia, mau ada teman yang menginap sih hayuk saja. Disuruh tidur di teras depan pake sarung doang juga beres. Lha kalau disini, saya harus memastikan saya punya kasur untuk dia berbaring. Saya punya quilt (selimut tebal) untuk dia melungker. Saya harus punya pemanas (yang notabene pakai tenaga listrik yang seperti saya bilang tadi, mahal). Kalau enggak, siap-siap aja saya melihat tamu saya mati kaku bin beku kayak ikan salmon awetan. Tentu saja saya nggak mau itu terjadi, soalnya membuang mayat itu repot disini. Mahal lagi. Masuk penjara lagi. Apa saya nggak suka ada yang datang? Oh saya senang sekali. Saya benar-benar senang membayangkan suatu hari Arina Nur Alia atau Pharmasinta Putri Hapsari bisa bobok-bobok sore di rumah saya. Atau bisa ngelencer bareng anak-anak Classix yang berisik. Tapi saya juga senang kalau yang datang menginap di rumah saya itu bisa merasa nyaman, dan saya mampu membawa mereka jalan-jalan naik mobil saya. Dan saya juga senang kalau saya bisa mengatur supaya kantong saya nyaman juga. Masak jauh-jauh jadi orang bule, makannya tetep aja hanya mampu indomie goreng? Halah...
Dalam kasus saya, kondisinya lebih lagi. Kami baru saja pindah ke Australia. Tanpa tabungan, karena udah habis untuk beli mesin cuci, kulkas, kontrak rumah, dll. Seperti orang baru pertama kerja habis lulus kuliah lah. Tapi udah punya anak. Jadi kebayang kan, untuk beli perabot aja dicicil. Bulan ini beli TV. Bulan depan beli kursi. Plus saya belum kerja karena genduk menolak dititipkan, plus daycare nya menolak si genduk. Hiks...
Enggak, saya enggak minta dikasihani kok. Saya hanya minta disumbang.
Terakhir-terakhir, teman saya tadi memberi alasan kenapa dia pede bahwa saya itu kaya, "Soalnya elu tu auranya aura orang sukses Meg. Aura orang kaya."
Grr, saya langsung memencet tombol hape dengan geram begitu mendengarnya.
Saya : Simbah dukun, saya kan mintanya susuk pengasihan biar keliatan cantik. Kenapa malah saya jadi keliatan kaya??
Simbah : Mangap neng, waktu itu simbah lagi shortage (gile keren banget istilahnya). Jadi susuk kecantikan yang ada tinggal satu, ya udah simbah kasih dulu ke istrinya si Umar...
Yee si simbah, berarti tiap 6 bulan saya harus minta susuknya di-recharge lagi dong...
No comments:
Post a Comment