Monday 22 August 2011

My Monday Note -- Menggigil kedinginan, minum air keran dan pakai tisyu toilet

Salah satu hal yang menarik saat tinggal di negara lain, adalah saat ada teman atau saudara yang kebetulan datang ke kota saya. Baik yang menginap di rumah saya, atau hanya mengajak ketemuan untuk reuni. Setelah saya kedatangan keluarganya Okhi, keluarga saya, dan beberapa teman-teman saya, ada beberapa keluhan, komentar dan pujian yang nyaris serupa dilontarkan semua orang.

Hal paling utama yang menarik minat para pendatang adalah mengomentari betapa 'bersahabatnya' udara Melbourne. Suatu kali, seorang teman saya menulis di chat bahwa dia hendak berkunjung di musim dingin ini, hendak menjelajahi seluruh penjuru kota. Saya menjawab "Asyik dong, tapi dingin banget lho ya. Bawa baju winter yang lengkap." Dengan yakin teman saya membalas "Gue emang sengaja milih winter, soalnya pingin sekali-sekali merasakan udara sejuk. Eh pakai sweater cukup nggak?"

Jiah, bergaya juga nih teman saya, saya bilang dingin banget, dia bilang sejuk. Sejuk mah di Bandung kang! Terus tanya pake sweater saja cukup enggak. Sweater hanya saya pakai di dalam rumah. Kalau di luar rumah berjalan-jalan hanya pake sweater, itu sama saja meniru gayanya sundel bolong, hanya pake sprei tipis untuk kelayapan di malam buta di area kuburan Jakarta. Dan terbahak-bahaklah saya saat akhirnya kami bertemu, sehabis dia menjadi 'Dora petualang', dan semua kalimatnya selalu diakhiri dengan "Gue mau pulang aja ke Jakarta..." yang diucapkan dengan gigi bergemeletuk.

Sepasang sahabat saya yang sekarang ngendon di Singapura, datang ke sini musim gugur lalu. Mereka menginap di rumah sepupunya. Nah, setahu saya pada hari itu mereka punya rencana untuk berkunjung ke suatu peternakan sejak jam 8 pagi, sampai saya saja menolak saat ditawari untuk ikut serta dalam rencana wisata mereka yang ambisisus itu. Thanks but no thanks. Jam segitu Serafim baru saja melek dan belum sarapan segala. Saat jam 11 siang saya membuka laptop, sekembalinya dari mengantar Sera berenang, lha kok mereka menyapa saya di skype. "Bukannya pada mau jalan?" tanya saya heran. "Nggak kuat dinginnyaaaa," jerit teman saya sambil menghangatkan bokongnya di depan pemanas. "Are you guys polar bears or penguins?" dia balik bertanya saat saya menjelaskan bahwa kami sudah nyemplung ke kolam sejak jam 9 pagi.   

Saat mama papanya Okhi berkunjung, dan kami mengajak mereka ke gereja, mama yang gemetar kedinginan dengan setengah kesal menggerutu "Wong dinginnya kayak gini kok dibilang panas, dibilang cuacanya bagus." Mama pantas kesal, karena semua orang di gereja, saat menyapa beliau selalu mengatakan "Wah beruntung sekali datangnya minggu ini, cuacanya lagi bagus dan hangat."

Orang-orang gereja membandingkan minggu itu (yang memang untuk ukuran musim gugur sangat menyenangkan, plenty of sunshine and windless) dengan minggu sebelumnya. Satu minggu sebelum mama datang, hujan badai mengguyur Melbourne, angin bertiup dengan menyebalkan, dan suhu drop hingga 5 derajat. Tapi untuk mama, yang seumur hidup dibuai panasnya terik Surabaya, suhu 15 derajat ya sudah setengah beku juga jadinya.

Gegar cuaca ini, penyebab utamanya ya karena tubuh belum bisa beradaptasi. Sesudah tiga bulan tinggal disini, saya sudah bisa dengan santai melenggang dengan sandal jepit dan celana pendek saat hendak ke supermarket, pada hari dimana matahari bersinar terik, meskipun termometer menunjukkan suhu 18 derajat doang. Sementara emak saya, untuk perjalanan singkat ke pom bensin saja (saya ajak agar bisa merasakan jadi tukang pom bensin karena disini kami mengoperasikan sendiri mesinnya) memakai jaket, sarung tangan, topi kupluk dan sepatu boot lengkap ala pendaki gunung Bromo (walau saya curiga sebetulnya hal itu juga dikarenakan unsur mau foto-foto, nggak keren dong kalau cuma pake sandal jepit kayak saya).

Makanya, saya menyarankan kalau pada mau berwisata, untuk memilih musim semi disaat kembang- kembang bermekaran, atau di musim gugur, disaat daun-daun berguguran kayak di pilem-pilem. Itupun harus siap-siap perlengkapan perang. Kalau datangnya di musim panas, bila sedang sial, maka kita bisa merasakan suhu 40 derajat (saya belum pernah sih merasakan). Meleleh semua deh lemak di pinggang. Tapi sisi positifnya, pantai dipenuhi pemandangan menarik.

Oya, salah kostum di Melbourne ini bukan hanya menjadi 'hak' para pelancong kok. Suhu di kota ini bisa berubah drastis dalam hitungan menit semata. Kejadian ini saya alami di bulan Februari, bulan peralihan antara musim panas dan musim gugur. Selama berhari- hari matahari bersinar terik sekali. Para penghuni Melbourne sudah melupakan dimana mereka menaruh mantel dan sepatu boot mereka.  Pagi itu, saya dan Okhi dan si anak pesut sudah berada di dalam kereta jam 9 pagi. Matahari cukup bersahabat dan udara sejuk menyenangkan. Gerbong kereta kami dipenuhi gerombolan abege dengan kostum serupa; bikini plus celana pendek nggak niat bagi para ceweknya dan celana sedengkul tanpa kaos bagi para cowoknya. Mereka sedang siap- siap untuk berjemur di pantai. Sera sampai melongo melihat susu dimana- mana, matanya langsung berbinar pingin nyusu. Bapaknya Sera langsung menyesal tidak membawa kacamata hitamnya.

Mendekati kota, tiba- tiba udara berubah. Angin bertiup kencang dan mendung menggayut. Saya, yang memakai celana jeans dan cardigan lengan panjang tipis, langsung merinding bulu kuduknya karena kedinginan. Lalu bagaimana dengan para abege seksi yang semlohai itu? Ada yang misuh- misuh, seolah semakin banyak kata f**k yang diucapkan akan mampu menghangatkan udara, ada yang meringkuk meniru bayi tikus, dan banyak juga yang saling berpelukan. Lengan beku bertemu dengan lengan beku ya tetap saja beku :D.      

Setelah urusan cuaca, masalah air menempati urutan berikutnya. Disini, semua orang minumnya tap water alias air keran. Kagak pakai direbus dulu. Nah, untuk anak kecil semacam sepupu saya, dia senang sekali dengan pengalaman bisa minum air langsung dari keran. Apalagi di taman, wuih riang gembira sekali kalau difoto lagi menyorongkan mulut di bawah keran. Serasa di luar negeri beneran deh! Sayangnya, antusiasme itu tidak menular kepada embah saya yang unik bin antik, yang masih sempat merasakan penjajahan Jepang. "Namanya air minum tu harus direbus dulu! Biar mati kumannya!" Ya sudah, saya manut saja sabda Embah, walau sambil berbisik ke Okhi "Emangnya aqua galon  itu pake acara direbus dulu apa, dasar katrok.

Kalau mamanya Okhi, karena tidak 'tega' minum air mentah, maka selalu merebus dulu air keran di ceret. Biar tidak ditertawakan anak- anak muda, mama beralasan 'pingin minum air yang hangat'. 

Sepupunya Okhi, dengan jahil berkata saat ia dan kakaknya berwisata ke Australia, maka ia akan meletakkan air keran di dalam teko atau botol air mineral. Dengan demikian, kakaknya yang menolak minum air keran tanpa direbus akan bisa tertipu, berpikir air itu sudah direbus terlebih dahulu. "Daripada repot Mbak, mending kutipu saja." katanya memberi alasan. Hm, boleh juga nih ditiru saat nanti embah saya datang lagi.....

Masalah berikutnya yang timbul, ada kaitannya dengan kegiatan 'pergi ke belakang'. Nah di sini, sama seperti kebanyakan negara barat, orang  hanya akan membekali diri dengan tisyu toilet untuk acara bersih- bersih. Nah, orang Indonesia disuruh bersih- bersih pakai tisyu doang? Hiiiii, bisa- bisa mimpi buruk sebulan penuh! Saat keluarga saya berkunjung, tiba- tiba rumah saya disibukkan oleh kegiatan mengisi ember untuk diletakkan di toilet. Maklum, toilet saya kan ala Ostrali, jadi enggak ada bak air atau selang airnya. Payahnya lagi, air disini itu dingin sekali. Meskipun embernya diisi air panas dari keran, tak berapa lama si air akan dingin membeku lagi. Hahaha, pusing deh tamu- tamu saya memastikan air yang di ember cukup hangat dan tidak membuat bokong membeku saat disiramkan.

Apa sih yang paling umum membuat pusing saat bepergian ke negara lain? Makanan pastinya. Sebetulnya makanan di Australia ini sih enggak parah- parah amat. Saat adik saya berwisata ke kawasan timur tengah (mesir, palestina, israel dll), makanannya benar- benar amit- amit. Semua masakan dicampur minyak zaitun yang kecut dan berminyak (ya namanya minyak lumrahnya ya berminyak tho?) dan bau prengus kambing. Nggak jelas apa memang semua makanan dicampur daging kambing atau restorannya kebetulan diatasnya kandang kambing. Adik saya bertahan hidup dengan mengandalkan persediaan pop mie yang dibawa dari tanah air. 

Di Australia ini, masih banyak restoran Indonesia, masih banyak supermarket Indonesia, dan yang jelas masih banyak McDonald dan KFC. Jadi enggak sampai harus mogok makan lah. Hanya biasanya orang Indonesia akan menganggap rasa ayam penyet ala Melbourne itu tidak semantap ayam penyet ala warteg di pinggiran jalan Gubeng. Sambelnya nggak nendang! Ya gimana mau nendang kalau harga cabe disini lima kali lipat lebih mahal dari harga ayamnya. Jadi, kalau di warteg anda boleh menambah sambel sekuatnya tapi harus puas dengan potongan ayam yang kuntet, maka di Melbourne anda akan menemukan piring anda dipenuhi potongan paha ayam yang sebesar paha gajah, tapi dengan sambel secuprit.

Yang jadi masalah, seringnya saat ada tamu berkunjung ya pastinya akan diajak berwisata. Nah, makanan di tempat wisata itu yang rada- rada bikin emosi jiwa. Apalagi saya dan Okhi kan juga newbie disini, jadi kami tidak tahu dimana harus mencari makanan yang aman bagi kesehatan mental para tamu. Saat berwisata ke Phillip Island, kami setengah mati kebingungan mencari restoran untuk makan siang. Masalahnya, kami pergi di hari Senin, dan ternyata Senin adalah hari dimana 80% restoran di wilayah itu tutup. Mampus deh! Papanya Okhi bakal drop gula darahnya kalau telat makan, adiknya Okhi yang lagi hamil bakal bergemuruh perutnya, dan yang jelas si Seradut bakal langsung ngak ngek ngok kalau perut gendutnya terlambat diisi. Dalam keadaan putus asa (setelah mendatangi lusinan restoran yang di pintunya bertuliskan Sorry We are closed) sampailah kami di sebuah restoran. Lega? Jangan dulu. Satu- satunya menu makan siang yang tersedia adalah nasi kari ala Bollywood. Bentuknya kayak muntahan anjing saya. Rasanya? Ya mirip- mirip sama muntahannya si gukguk juga. Sehabis makan, memang perut sedikit lega karena sudah terisi. Tapi selama dua hari berikutnya kami mengalami halusinasi. Nafsu makan menurun drastis karena setiap memandang nasi di piring langsung terbayang- bayang si kari bedebah itu. Papanya Okhi mengalami sakit kepala tak berkesudahan. Hanya Okhi yang tidak terpengaruh jiwanya oleh siksaan itu. Memang benar- benar omnivora sejati. Sampah pun terasa sedap. Eh si Seradut ternyata juga baik- baik saja. Benar- benar Okhi junior.    

Anda mengharap untuk merasakan makanan khas Australia? Saya sampai bertanya ke tetangga sebelah rumah yang bule asli sini. Dia garuk- garuk kepala bingung. "How about burger and fries?" sarannya. Yeee, kalau cuma itu mah di Indo juga banyak. Mungkin yang benar- benar khas Oz ya sebangsa daging buaya  atau daging kangguru kali ya (saya melihat si daging buaya dimasak di acara mastercep dan saya juga pernah menyaksikan filet kangguru dijual di tukang daging). Tapi nanti tamu saya jangan- jangan mengalami gangguan mental karena shock bila diajak menyantap si kadal gede. Plus malu juga saya mengetuk pintu restoran- restoran dan bertanya "Sampeyan jualan daging buaya gak?"

 Nah, hal lain yang bikin saya geli campur jengkel adalah kebiasaan emak- emak berkomentar tentang harga barang disini. Saat melihat daun pisang dijual dengan harga 5 dolar, emak- emak Indonesia akan langsung mengomel panjang lebar. "Di Surabaya daun pisang ya tinggal metik di kebon belakang. Wah bisa serangan jantung bulik kalau tahu harga daun pisang disini." Ya iyalah di Indonesia kan banyak orang menanam pohon pisang di lahan kosong, lha disini ya kagak ada bule kurang kerjaan yang mengisi halaman belakangnya dengan sebatang pisang. Aya- aya wae. 

Lalu saat hendak membuat pepes, dan menemukan bahwa harga kunyit, daun pisang, cabe dan daun kemanginya jadinya lebih mahal dari ikannya, mengomellah emak saya. "Gimana bisa kaya orang Australia kalau hanya untuk masak pepes aja mahal banget gini." Nah saya sih hanya berkomentar "Ya yang kurang kerjaan maksa buat pepes kan mama. Orang sini kan ya nggak ada yang butuh kunyit sama daun pisang segala untuk bikin burger."

Satu hal yang memang super duper menyebalkan dari Melbourne, semuanya itu mahal. Everything. Anda mau masuk ke kebun dimana anda bisa memberi makan kangguru? 10 dolar. Berfoto semenit doang bersama koala? 10 dolar. Naik angkutan umum seharian? 10 dolar. Makan sederhana di food court? 10 dolar. Beli sebotol kecil air mineral? 3 dolar. Mau wisata ke gunung salju? 60 dolar plus harus menyewa perlengkapan salju. Makanya saat saya melihat jadwal wisata yang ditawarkan tur- tur asal Indo (niatnya mencontek untuk mengajak tamu saya) kok acaranya hanya hari pertama city tour keliling Melbourne, hari kedua terbang ke Darwin dan cityt tour disana. Begitu terus. Kelihatan keren pindah- pindah kota melulu tapi hanya diisi kegiatan muter- muter kota naik bis. Ternyata ya karena masuk ke wahana wisata di sini itu muahal bener. Makanya, kita lihat- lihat kota trus beli suvenir aja yah, kata para tur.

Saya sih pingin juga meniru gaya tur yang mengajak wisatawan keliling kota. Tapi masalahnya saya tidak punya kemampuan dan kemauan untuk memasang wajah ramah dan di sepanjang perjalanan dengan manis berkata "Coba lihat di sebelah kanan anda, gedung yang cantik itu adalah stasiun paling ramai disini." Atau "Kalau anda melihat di kiri anda, ada pria tampan yang sedang berciuman di tangga gedung, nah memang disini orang dengan santai berpacaran di depan umum. Masalah yang diciumnya juga pria tampan lainnya, ya mungkin dia sedang khilaf saja. Wong saya nganggur gini kok ya dia lebih milih nyium cowok lain."  

Ih, saya ini kok malah menceritakan kepayahan kota saya sih. Di Melbourne, tentu banyak hal menarik bagi wisatawan, asal anda enggak bokek- bokek banget. Julukan negara bagian ini adalah the garden state. Kalau anda punya anak kecil atau anda penggemar taman, maka anda serasa di surga. Dari mulai taman kecil sebelah rumah hingga taman kota semacam Royal Botanic Garden bisa dijelajahi dengan gratis. Jadwal tetap saya setiap weekend adalah membawa si Sera muter- muter di Botanic Garden yang indah, luas, dan pastinya gratis. Enggak susah deh menyenangkan balita disini, enggak harus bingung mengajak jalan- jalan ke mall. 

Dan kalau anda datang kesini, saya akan mengajak anda menikmati transportasi umum. Tenang, enggak separah kopaja atau metromini kok. Untuk ukuran Australia pun angkutan umum di Melbourne paling baik dibanding kota lain. Anda akan naik kereta yang bersih, tram yang kuno dan cantik, dan bis yang modern. Saya dulu sempat jengkel sama orang Melbourne, yang isinya komplain terus soal kereta yang telat datang 5 menit doang. Cemen banget sih nih kota. Lima menit menunggu apa sih susahnya. Tapi sekarang Okhi juga ternyata ikut sebel kalau keretanya telat 5 menit. Kenapa? Biasanya sehabis turun dari kereta di stasiun, orang akan melanjutkan perjalanan dengan bis. Nah, kereta telat lima menit saja berarti tidak akan bisa mendapat bis yang tepat waktunya. Sialnya, meskipun kereta itu jadwalnya ada setiap 10 menit, jadwal bis lebih jarang, setiap setengah jam sekali. Makanya, jengkellah Okhi kalau dia terpaksa menunggu bis berikutnya, dan saat dia sampai rumah hari sudah malam dan si Sera jadinya sudah ngorok.

Oya, suatu saat, mungkin pengelola kereta jengkel juga disalah- salahkan melulu, lalu mereka membuat berita yang isinya "Coba lihat gambar ini dan apakah anda masih berniat komplain?" Gambar yang dipasang adalah gambar metromini dengan penumpang menggelantung hingga ke pintu, dan kernetnya melambai- lambaikan duit ribuan. Saya dengan cemas meneliti gambar itu, takut kalau- kalau saya menemukan wajah saya di antara wajah para penumpang yang bergelantungan.

Saya juga akan mengajak anda berbelanja dan melihat- lihat pasar. Meskipun harganya menyebalkan, tapi anda akan terpana melihat gantungan dan pajangan berbagai daging yang merangsang bener. Tidak ada toko daging di Indonesia yang se-merangsang pajangan daging di sini. Kambing utuh digantung (sudah dikuliti dan sudah mati lah), sosis- sosis sebesar jempol gajah bengkak, pokoknya bikin kagum deh. 

Apakah Melbourne lebih indah dari Surabaya? Tentu tidak. Melbourne berbeda dari kota di Indonesia. Dan kalau anda mengunjungi suatu tempat, jangan membandingkannya dengan tempat asal anda, karena anda akan stres bila membandingkan cuacanya atau rasa makanannya. Tips menjadi wisatawan: nikmati dan jangan ngomel. Burger anda hambar rasanya? Ya sudah bawa saja sambel ABC botolan dari rumah. Cuaca dingin banget? Anggap latihan memasuki ice age yang bakal datang sebentar lagi. Abege di depan anda pake baju yang enggak niat? Enggak usah menggerutu mengatakan betapa tidak sopannya orang sini berpakaian. Ya nikmati saja pemandangan menarik itu. Kan enggak dosa juga, wong ceritanya 'dipaksa' mau nggak mau harus lihat :D. Bukankah kita bepergian ke negara lain untuk bisa menikmati sesuatu yang berbeda?  

No comments:

Post a Comment