Setelah menetap di Australia, ternyata banyak juga perbedaan yang saya temui antara Indonesia dan Negeri Down Under ini. Oya, kalau ada yang penasaran, Down Under itu istilah yang sering digunakan untuk menyebut Australia dan New Zealand. Alasan utamanya, karena penduduknya senang dengan yang ada di 'down under'. Alasan sampingannya, karena dua negara ini berada di southern hemisphere, jadi seolah berada di bawah negara-negara lain.
Salah satu fakta yang menarik perhatian saya, selain tentunya fakta bahwa pinggul para surfer disini sangat menawan, adalah hubungan antara orang tua dan anak. Pada kasus yang ekstrim, anak hanya akan menjadi tanggungan orang tuanya sampai ia berumur 18 tahun. Sehabis itu, kalau si anak masih tinggal bersama orang tuanya, maka ni anak diwajibkan membayar uang sewa ke ortunya. " Wih sadis," pikir saya. Bandingkan dengan di Indonesia, dimana merupakan hal yang biasa bagi seorang anak untuk tinggal di rumah orang tuanya, sampai ni anak juga sudah beranak pinak. Saya pernah mewawancarai responden yang tinggal di rumah ortunya, bersama lima saudaranya yang lain, yang masing-masing sudah punya 2 anak. Bos Jepang saya sampai geleng-geleng kepala dengan takjub. Saat saya melihat film serial terkenal disini, The Big Bang Theory, salah satu tokohnya, yang masih single dan belum kawin, masih tinggal bersama emaknya. Fakta bahwa dia masih 'nebeng' bersama ortunya selalu menjadi bahan olok-olok temannya yang lain, meskipun dia membela diri "But I pay the rent....".
Nah, karena anak hanya ditanggung ortunya sampai umur 18 tahun, tidak ada kewajiban juga buat seorang anak disini untuk 'menghidupi' orang tuanya saat orang tuanya pensiun nanti. "It's your own business mom...". "Wih sadis," lagi-lagi begitu pikiran saya. Saya tahu banyak teman saya di Indonesia yang saat ini sudah membantu membiayai orang tuanya yang beranjak tua, atau bahkan membantu rumah tangga adik atau kakaknya.
Kabarnya, banyak orang sini yang lebih suka mewariskan hartanya untuk karya amal atau gereja pada saat mereka meninggal nanti, daripada mewariskannya ke anaknya. Bukannya kejam sih, hanya mungkin mereka beranggapan anaknya kan sudah dewasa, jadi ya harus berjuang sendiri dong.
Saya menyaksikan banyak orang tua dan anak yang punya hubungan yang dingin di Australia ini, tapi saya juga tahu banyak hubungan anak dan orang tua yang hangat menjurus 'panas' di Indonesia. Karena saya sudah menyaksikan budaya yang berbeda dari kedua negara ini, betapa bodohnya saya kalau tidak mengambil hal-hal positif dari keduanya.
Pertama, tentu saya menyadari budaya yang berbeda ini antara lain dikarenakan latar belakang yang berbeda juga. Di Australia, mencari pekerjaan part time bukanlah hal yang sulit. Banyak anak sekolah yang nyambi kerja di McDonalds misalnya. Sementara di Indonesia, yang sudah lulus sarjana saja susahnya setengah mati mencari kerja. Jadi tentu memang tidak memungkinkan kalau seorang anak yang baru lulus SMA di Indonesia disuruh membayar uang sewa ke orang tuanya.
Begitu juga soal membantu orang tuanya, disini semua pekerja mempunyai Super annuation, ini semacam tabungan pensiun yang wajib dibayarkan semua perusahaan pada para pekerjanya. Tapi tabungan ini tidak boleh diambil sebelum si pekerja pensiun. Jumlahnya mencukupi untuk hidup layak dan sejahtera, tapi tidak berfoya-foya. Jadi memang kebanyakan orang tua tidak membutuhkan uluran tangan anaknya untuk sekedar belanja ke pasar atau membayar tagihan PLN.
Saya dulu, juga tinggal di rumah bapak saya yang sebesar gudang amunisi. Dan saya senang karena saya bisa bertemu dengan orang tua dan adik saya setiap hari. Bapak saya juga senang karena dia bisa melihat Sera setiap hari. Namanya juga orang Indonesia, kita kan memang senang bisa kumpul-kumpul. Jadi saya rasa tidak adil kalau dibilang anak yang tinggal di rumah orang tuanya adalah anak yang manja. Hanya, saya akui terkadang saya juga jadi tidak dewasa. Karena tinggal di rumah ortu dan mereka masih kaya raya banyak harta, saya jadinya merasa kalau dulu saya kurang bertanggung jawab terhadap hidup saya.
Kalau Sera besar besok, tentu saya tidak ingin menggedor pintu kamarnya setiap tanggal satu dan menagih uang sewa. Jadi emaknya saja sudah cukup bikin saya ngomel-ngomel setiap hari, apalagi kalau harus merangkap jadi ibu kosnya. Enggak kebayang kalau saya harus duduk menekuri buku gede yang isinya hitungan hutangnya Sera ke saya. Kemaren si Sera makan ayam bakar 3 biji pake sambel terasi. Hmm, jadi untuk ayamnya harganya 3 dolar, sambel terasinya karena Sera nambah jadi dicharge nya dobel. Yah, bisa-bisa saya masuk rumah sakit jiwa deh ngitungin harga terasi. Saya terlalu cinta bokong montoknya untuk tega menagih duit sewa. Tapi, saya juga ingin dong Sera tumbuh menjadi seorang young lady yang bertanggung jawab dan mandiri.
Saya diberkati karena saya memiliki keluarga yang berkecukupan, jadi saya sudah bisa menikmati menyetir mobil sejak saya kuliah. Setelah saya lulus kuliah, gaji pertama saya tentunya belum cukup untuk membeli mobil. Dan meskipun saya bukan orang yang boros, saya mempunyai gaya hidup yang sudah settle sejak saya kuliah dulu, misal di restoran mana saya sudi membeli makan malam saya. Atau merk baju kesukaan saya. Atau jenis frapucino favorit saya di sterbek. Karena bapak dan emak saya sangat mapan, maka tanpa kesulitan mereka membantu saya mempertahankan gaya hidup saya, dan bahkan membelikan saya mobil. Padahal sebetulnya dengan gaji saya saat itu, pastinya saya belum sanggup untuk membeli mobil yaris atau belanja baju di SOGO.
Ini bukan masalah boros atau kaya, ini masalah betapa sulitnya menurunkan standar hidup yang sudah biasa kita pakai. Kayak misalnya biasa kemana-mana naik motor waktu kuliah, pusing juga kan kalau misalnya pas lulus kuliah dan baru kerja fasilitas motor itu dicabut sama orang tua? Padahal kan ya kita belum mampu beli motor sendiri. Dan orang tua mana sih, yang kalau memang mampu tidak dengan senang hati membantu anaknya?
Memang saya dan Okhi sekarang masih kere. Mau belanja cabai merah saja dijatah. Tapi by the time Sera besar nanti, kan ya kemungkinannya kami sudah akan mapan. Belajar dari pengalaman bahwa menurunkan standar hidup itu sulit, mau sekaya apapun nantinya kami, kami harus menjaga supaya Sera tidak terlena oleh gaya hidup yang tidak akan mampu ia biayai sendiri di awal karirnya. Bukan berarti saya berniat membuat Sera hidup dalam kekurangan, seperti dibiasakan makan nasi garam doang setiap harinya. Tapi misalnya saya berniat memberikan suatu kemewahan seperti mobil untuknya saat dia kuliah nanti, saya ingin sejak awal dia ikut berperan serta. Misalnya saya hanya akan membiayai pembelian mobil itu dan service ke bengkel, tapi Sera harus membiayai sendiri bensinnya. Jadi dia belajar bahwa kemewahan itu membutuhkan biaya.
Oya, masalah tanggung jawab saat kuliah, sepertinya saya ingin meniru caranya Bondan Winarno saat ia menyekolahkan anaknya ke Amrik. Kalau IP anaknya diatas 3.5, dia akan mendapat full fasilitas seperti mobil dan apartemen. IP 3, mobil dicabut. IP dibawah 3, udah balik aja deh ke Indonesia. Saya tidak mau kejadian seperti saudara saya yang ortu nya sudah habis-habisan membiayai dan tidak ada hasilnya, enggak lulus-lulus. Sera harus menghargai setiap sen yang dikeluarkan untuk membiayainya bersekolah.
Nah, kalau Sera sudah bekerja, saya tentu ingin juga membantu memodalinya supaya ia cepat bisa beli rumah. Karena menyewa rumah itu rugi sekali. Tapi saya tidak ingin langsung menghibahkan seluruh uang muka misalnya. Saya ingin Sera ikut berperan serta. Jadi, untuk setiap sen yang ia tabung untuk uang muka rumah, saya akan menambah tabungannya. Semakin banyak Sera menabung, semakin banyak saya akan membantunya, semakin cepat ia bisa membeli rumahnya sendiri.
Satu hal lagi, masalah pensiun. Sungguh tidak menarik minat saya bahwa nanti di masa pensiun saya 'minta-minta' ke anak saya untuk membantu saya. Mau beli beha saja menelpon Sera dulu minta ditransfer (eh kira-kira umur 70 saya masih butuh beha nggak sih?). Pertama, hal itu tidak baik bagi harga diri saya. Yang kedua, hal itu tidak baik bagi Sera. Bukan berarti saya dan Sera putus hubungan keuangan sama sekali, misal saya butuh uang mendadak untuk mendandani dengkul saya yang soak misalnya, ya saya mungkin berharap Sera bisa membantu, begitu juga sebaliknya. Tapi saya harus sadar, Sera mempunyai hidup dan keluarganya sendiri yang harus ia biayai. Ia mungkin punya impian untuk menyekolahkan anaknya kelak di Harvard. Saya tidak ingin menjadi penghalang mimpinya, hanya karena ia harus membiayai semua kebutuhan hidup saya. Belum lagi saya mungkin akan menyebabkan ketegangan antara Sera dan suaminya apabila mereka harus menyisihkan pendapatan mereka untuk membayari tagihan listrik saya. Solusinya adalah, saya dan Okhi harus mulai menyiapkan dana pensiun mulai saat ini, sehingga kami bisa hidup berkecukupan di usia senja nanti. Karena sekarang saja saya mencoba jual diri enggak laku, apalagi nanti waktu umur saya sudah 70an.
Saya ingin hubungan yang sehat dengan Sera. Rumah tangga saya dan rumah tangga Sera, dibiayai oleh diri kami masing-masing, tanpa saling tergantung satu sama lain. Tentu saya juga ingin hubungan yang hangat dengan Sera, anytime Sera membutuhkan uluran tangan saya, atau saya membutuhkan uluran tangannya, kami akan melakukannya tanpa hitung-hitungan bisnis.
Bagi saya, keputusan mempunyai anak adalah keputusan paling 'egois' yang pernah saya ambil. Saya ingin punya anak karena saya ingin menikmati kelucuan seorang anak, saya ingin menikmati kenikmatan dikunjungi cucu saya di hari tua saya, saya ingin menikmati membeli baju bayi yang super duper cute, dan segudang keinginan lainnya. In return, I couldn't ask more than her happiness. Kebahagiaannya, adalah bayaran tertinggi dan satu- satunya yang saya harapkan sebagai imbalan atas 'jerih- payah' saya membesarkannya. Serafim, bukan investasi finansial yang ingin saya petik hasilnya di masa tua saya nanti. Dia investasi bagi kekayaan batin saya.
Hmm, kok kepala saya jadi pening ya? Ini pasti akibat pembicaraan filosofi yang saya tulis. Emang otak lele agak susah diajak berpikir filsafat. Bentar ya, saya mau menikmati Kakang Brahma Kumbara di Saur Sepuh dulu.
No comments:
Post a Comment