Monday 11 July 2011

My Monday Note -- She Deserves It

Suatu hari, saya tertegun melihat status seorang teman saya di facebook, yang mengungkapkan kekesalannya pada ibu-ibu lain yang dengan bangga (dan mungkin setengah sok) membanggakan their motherhood experience. "Gue bete sama ibu-ibu yang sibuk pamer di FB atau blog atau forum2 diskusi bahwa dia hanya ngasih ASI untuk bayinya, yang bikin masakan rumahan tanpa garam dan gula, yang hanya ngasih makanan organik, blablabla".

Saya sih tidak pernah merasa pamer soal ngasih ASI, tapi saya merasa tertohok karena saya memang dulu hanya beli sayur organik untuk Sera (walau saya tidak merasa pernah memamerkannya juga sih, tapi ya kali-kali tanpa sengaja status saya menyinggung soal ini). Nah soal beli sayur organik, ini karena saya punya emak seorang petani, dan dia selalu bercerita bagaimana pertanian di Indonesia, bagaimana semangkanya dikasih pemanis dan pewarna, bagaimana jagung manisnya sudah direndam pestisida sejak masih berupa bibit. Nyebelin kan? Kalau kita enggak tahu sih nggak jadi masalah, tapi begitu tahu behind the scene nya ya jadi nggak tega deh memberi semangka pinggir jalan ke Sera.

Balik lagi ke teman saya tadi, saat ada yang menanyakan kenapa dia bete, dia berkata karena dia merasa dihakimi, bahwa dengan memberi tambahan susu formula ke bayinya, dengan membeli makanan bayi instan, dengan memberi makanan yang mengandung garam dan gula, seolah dia adalah ibu yang tidak sebaik ibu-ibu itu. Hmmm.....

Sejak internet benar-benar menjadi sarapan, makan siang dan makan malam semua orang, dan sejak gelombang kesadaran mengenai era baru membesarkan anak melanda para ibu-ibu muda,  rasanya satu hal yang paling alami di dunia, yaitu melahirkan dan membesarkan seorang bayi, berubah menjadi semacam ajang adu siapa paling hebat.  Ayo, siapa yang paling kreatif bikin makanan bayi, siapa paling rajin mompa ASI nya di kantor, siapa paling tegas tidak memberi coklat untuk cemilan. 

Sebetulnya, ada bagusnya sih hal ini. Sekarang, banyak orang tua yang tidak sekedar membiarkan anaknya tumbuh begitu saja, tanpa perlu dipupuk dan disirami, membesarkan ala rumput liar. Sebagian besar teman saya yang akan mempunyai bayi selalu sibuk googling kanan kiri, langganan majalah ayah bunda, tanya teman. Kita tidak lagi merasa cukup hanya dengan ilmu turun temurun seperti bagaimana cara membedong bayi, tapi bahkan soal botol susu apa yang aman untuk bayi, yang BPA free, rumah sakit apa yang mendukung kelahiran normal, dsb dsb.

Kan jaman memang sudah berbeda. Dulu embah saya memberi makan bapak saya pisang sejak umur sehari, kalau bertahan hidup ya bagus, kalau mati ya berarti kehendak alam. Sekarang, makanan padat saja baru diberikan setelah 6 bulan. Metode memberi makan juga macam-macam. Belum lagi nanti saat balita, mau dimasukkan sekolah mana? Playgroup yang bagaimana? Sera saja baru 18 bulan sudah ikut kelas musik, kelas main dan kursus renang. Tuh kan, saya malah mulai pamer jadinya.

Sekali lagi saya katakan, jaman memang sudah berubah. Dan karena tingkat persaingan semakin tinggi, pengetahuan baru tentang membesarkan anak semakin banyak, maka wajar semua orang tua berlomba-lomba mempersiapkan anaknya sedini mungkin. Hanya mungkin bedanya, meskipun kita juga berlomba-lomba dalam karir kita, berjuang mendapatkan gaji paling tinggi, jabatan paling mentereng, tapi kita cenderung tidak pernah kan membuat blog atau menulis di status FB tentang pekerjaan kita. Dan membanggakan gaji kita tentulah tabu dilakukan. Tetapi, rasanya saat ini adalah hal yang biasa saat seorang ibu (biasanya) membuat blog khusus tentang perkembangan anaknya, atau menulis di status FB soal kehebatan anaknya. Di sebuah tabloid di Melbourne saya membaca komentar seseorang yang berkata dia bosan dengan para ibu yang setiap 10 menit sekali menulis status di FB tentang anak mereka yang "over-achiever".

Saya pernah membaca satu blog teman saya. Dia menulis masalah perjuangannya memompa ASI di kantor, dedikasinya, semangatnya, dan lain sebagainya. Ini lucunya. Saya dulu juga memompa ASI. Saya dulu juga sampai membawa kulkas portable agar ASI saya bisa tetap beku selama saya menunggu pesawat yang delay di bandara. Jadi, sebetulnya saya juga sangat kompeten dalam hal memompa. Tapi saat membaca tulisan teman saya itu, entah bagaimana saya bisa merasa iri. Seolah saya merasa teman saya lebih hebat dari saya. Kenapa begitu ya? Jangan ditanya bagaimana mindernya saya saat membaca blog mereka yang senang berkreasi memasak untuk bayi mereka. Sementara saya hanya memberi Sera telur ceplok dan brokoli rebus. 

Mungkin benar kata emak saya, disaat belum memiliki anak, fokus kebanggaan adalah diri sendiri. Jadi manajer di usia muda, sudah keliling dunia, sudah punya mobil mewah. Tapi saat seorang anak datang, kebanggan itu bergeser. Saya sekarang bangga sekali saat Sera bisa bertepuk tangan seusai menyanyi, sementara anak lain hanya melongo saja. Dan banyak Ibu yang tanpa sadar mengubah fokusnya  pada si anak. Berapa banyak makanan yang dimakan si anak, bagaimana kandungan gizinya, berapa lama ia menerima ASI eksklusif, bagaimana rangsangan motorik yang diberikan. Kadang rasanya membesarkan anak menjadi sebuah perlombaan, sebuah racing. Seperti saya yang sibuk membandingkan kemampuan Sera di kelas bermainnya dibandingkan anak lainnya. Terkadang saya terlalu sibuk menganalisa dan berkompetisi hingga melupakan the real joy saat melihat Sera menikmati kelasnya dengan caranya sendiri yang mungkin aneh.  

Lalu, apakah sekarang saya masih iri dengan kisah sukses dan heroik para ibu yang lain? Haha, tentu tidak. Kenapa? Karena saya dengan jujur akan mengatakan (dalam hati) "Sori, tapi saya nggak tertarik tuh membaca kisah hebat anakmu dan pengalamanmu yang mencengangkan dalam membesarkan anak".

Saya sadar saya orang yang kompetitif, saya orang yang nggak mau kalah dalam segala hal. Bila saya mulai membaca blog orang atau ikut di forum diskusi, semangat bersaing dan iri hati saya akan timbul. Maaf ya, tapi saya ingin menikmati setiap detik dengan Serafim, tanpa harus merasa iri saat tahu anaknya si Anu sudah bisa makan sendiri saat baru berumur setahun sementara Sera masih memegang sendok seperti megang pacul saja. Atau saya harus tahu kalau si Ono itu selalu memasakkan menu berbeda yang selalu lengkap mengandung semua sumber gizi untuk anaknya sementara saya hanya menggoreng tahu untuk si genduk. Bodo amat deh bagaimana ibu lain membesarkan anaknya dengan cara ala ilmuwan NASA.

Tentu saya tidak masa bodoh tentang cara merawat dan membesarkan anak. Saya juga ingin dong Sera mendapat yang terbaik. Tapi biasanya saya akan mencari info sesuai kebutuhan saya, misal sedang cari resep untuk membuat Sera tertarik makan sayur, maka saya akan googling resepnya. Saat saya menemukan resep di sebuah blog misalnya, saya baca resepnya, tapi saya abaikan saja kalimat-kalimat si Ibu yang bakal membuat saya bete seperti "Aduh senangnya melihat si Adik mau makan wortel dengan lahap, sampai minta nambah lagi coba!" Gimana nggak bete kalau saya jadi membandingkan dengan anak saya yang dengan lihai bisa menemukan potongan labu siem kecil yang sudah saya sembunyikan dengan rapi di sendoknya. 

Atau kalau saya mencari info tentang memompa ASI, saya akan mencari pengetahuannya. Bagaimana tehnik memompa, kiat biar hasilnya banyak, alat apa saja yang harus dipersiapkan, dan seterusnya. Saya akan langsung mengabaikan forum diskusi atau blog dimana para emak sibuk menceritakan pengalamannya yang 'mengharukan' dan pengorbanan yang harus mereka lakukan demi memompa ASI. Dan terus terang, saya benci melihat sebuah foto yang memperlihatkan tumpukan botol penuh ASI yang tak terhitung banyaknya di dalam frezer, disertai keterangan "Mama siapkan hanya untuk dedek, walaupun mama bekerja tapi tetap memberikan yang terbaik untukmu." Blah! Apa memang foto itu bisa membakar semangat ibu lain untuk menirunya yah? Kok kalau saya malah jadi down lihat foto itu, karena rasanya saya nggak bakal sanggup kalau disuruh menyetok ASI segitu banyaknya. Memangnya saya siluman sapi apa?  

Tapi, sementara yang menulis di tabloid Melbourne bahwa dia benci sama ibu-ibu yang selalu menulis status di FB setiap 10 menit untuk membanggakan anaknya itu adalah seorang single, saya sendiri seorang ibu. Sementara si single tidak mengerti kenapa emak-emak ini harus sibuk membanggakan anaknya, saya mengerti. Karena disaat saya bekerja di kantor, saya mendapatkan penghargaan atas hasil kerja saya, berupa gaji dan kenaikan gaji serta promosi jabatan, nah saat sekarang saya menjadi emaknya Sera, saya tidak pernah mendapatkan hal itu. Saat di kantor saya bisa mendiskusikan masalah pekerjaan dengan teman-teman, dan bisa memamerkan ide cerdik saya saat meeting antar divisi, saya tidak bisa melakukan hal itu kan, membuat meeting dengan tetangga dan teman untuk memamerkan kemampuan terbarunya Sera. Saat saya bisa mengegolkan satu penjualan besar di kantor, maka secara instan semua orang di kantor akan tahu, bos saya akan menepuk-nepuk pundak saya dengan senang, rekan saya akan memberi selamat dengan riang dan mungkin setengah iri. Lha kalau ini, saat Sera mau makan hanya dengan tahu goreng sementara anak lain harus diberi resep macem-macem, maka yang dipuji pinter adalah Sera, bukan emaknya yang susah payah melarang berbagai makanan aneh masuk mulutnya. Tapi saat Sera selalu menjerit kalau disapa orang lain, maka yang 'disalahkan' adalah emaknya, karena tidak mengenalkan Sera ke orang lain sejak dini, tidak membiasakan anaknya dirawat orang lain. 

Jadi wajar untuk aktualisasi, untuk mendapatkan pengakuan atas 'kerja keras' saya dalam mengurus si anak, saya memamerkannya melalui FB dan blog. Saya pikir-pikir, itu harga yang murah yang diminta emak-emak atas pekerjaan yang sudah mereka lakukan. Jadi next time ada seorang emak yang menghabiskan waktu anda yang berharga untuk ngoceh mengenai kehebatan anaknya, berlapang hatilah untuk mendengarkan. She deserves it. Kalau ocehannya menjengkelkan, ya pasang saja senyuman di wajah sambil membayangkan kencan dengan Jake Gylenhaal. Dan kalau ngocehnya gak berhenti-berhenti, melampaui ambang batas kesabaran anda, ya pura-pura saja sakit perut kebelet.   

No comments:

Post a Comment