Monday 25 April 2011

My Monday Note -- Tidak tahukah kamu kapan harus berhenti

Karena di Australia ini saya hanya tinggal dengan Okhi Oktanio dan Serafim, tanpa saudara atau orang tua untuk membantu, maka saya mencoba menitipkan Serafim di daycare. Agar saya bisa beres-beres rumah, dan agar saya bisa kembali bekerja. Petualangan Sera di daycare adalah hal lain. Hari ini saya ingin membagi satu pengalaman berharga yang saya dapatkan.

Saya mendaftarkan Serafim di salah satu Daycare dekat rumah. Gedungnya baru, terang, bersih, dan stafnya baik sekali. Biaya menitipkan Serafim ke daycare adalah $ 74 per hari. Metode pembayarannya adalah dengan cara pihak daycare akan mendebit langsung dari rekening bank saya setiap minggu pada hari senin untuk biaya penitipan di minggu itu.

Pada hari Jumat tanggal 1 April, pihak daycare menelepon memberitahu bahwa mereka punya hari kosong di hari Selasa. Hore, sorak saya gembira. Ohya, sebelum Sera dititipkan secara full, Sera berhak mendapatkan jatah kelas orientasi selama dua kali. Kelas orientasi ini gratis, semacam kelas perkenalan dimana Sera akan coba dititipkan selama dua jam saja. Saya memutuskan akan menitipkan Sera untuk orientasi pada hari Selasa dan Kamis, tanggal 5 dan 7 April.

Setelah Sera menyelesaikan kelas orientasinya, maka minggu berikutnya dimulailah petualangan Sera di daycare. Minggu pertama, saya menitipkan Sera hari Selasa sesuai informasi per telepon yang saya terima. Kemudian di minggu kedua dan ketiga, ganti hari kamislah saya menitipkan Sera, karena pihak daycare menelpon mengatakan ternyata Sera itu mendapat jadwal hari Kamis, bukannya Selasa. Karena saya belum bekerja, jadi ya pergantian hari ini tidak menjadi masalah.

Jadi selama tiga minggu ini, seharusnya setiap senin rekening bank saya dipotong sebesar $74. Tapi kemudian, Okhi Oktanio menemukan bahwa pada minggu kedua kami dicharge $148, bukannya $74.

Saat saya menanyakan ke direkturnya, dia menunjukkan catatan pembayarannya. Katanya, dia belum melakukan pemotongan di minggu pertama, jadi di minggu kedua saya dicharge dobel. Okelah, masuk akal. Kemudian di rumah, Okhi memeriksa catatan dari bank, dan ternyata pada minggu pertama sebetulnya kami sudah dipotong $ 74. Sampai disini, saya menganggap ini kesalahan administrasi biasa. Maka saya mengirimkan email untuk menjelaskan. Saya akan menuliskan email dari saya dan balasan dari si daycare.

Email saya :

Coba dicek dong. Di catatan bank saya tertulis sebetulnya minggu pertama saya sudah bayar. Hanya tidak tercatat di laporanmu

Email Daycare :

Kami sudah mengeceknya. Jadi kamu memang sudah bayar minggu pertama, tapi masalahnya Sera itu sebetulnya booking untuk hari Kamis, tapi kamu datang di hari selasa di minggu pertama itu. Jadi seharusnya kamu bayar 2 hari untuk minggu itu. Tapi okelah, kalau memang kamu minta uangmu dikembalikan, akan kami kembalikan. (Note: sistemnya, kalau saya sudah booking untuk hari Selasa misalnya, dan ternyata si anak nggak datang karena sakit, ya saya harus tetap membayar penuh biaya penitipan sehari. Masuk akal dong, kan mereka tetap saja harus membayar pegawai dan biaya operasional)

Saya mulai jengkel. Pertama, kok alasannya lain lagi, tadi katanya karena saya belum bayar di minggu pertama, lha sekarang kok jadi karena saya salah hari. Dan kedua,  kejadian sebetulnya kan saya ditelpon, diberitahu bahwa mereka punya tempat kosong di hari selasa (tuesday). Okelah mungkin saya salah dengar karena Tuesday dan Thursday kan mirip (walau saya yakin enggak salah dengar karena saya beberapa kali memastikan Tuesday right? Not Thursday?).

Tapi kenapa waktu saya datang di hari selasa itu tidak ada seorangpun yang heran melihat saya dan memberitahu bahwa saya salah hari? Dan sebetulnya, saat pegawai daycare menelepon saya memberitahu Sera seharusnya dapat tempat di hari Kamis, bukan Selasa, pegawai itu berkata "Maaf ya Mega, tampaknya ada kesalahan. Disini Sera tertulis harusnya datang di hari kamis, bukan selasa. Aku nggak tahu kok bisa salah dan kacau begini. Tapi mulai minggu depan Sera datang hari kamis ya."  Kayaknya dari kata-kata si pegawai di telepon tadi, saya boleh dong pede bahwa bukan kuping saya yang soak gak bisa membedakan Tuesday dan Thursday?  

Dari sini saya menilai, oke, kemungkinannya sebetulnya yang salah ya si karyawan, tapi karena dia gak mau diomelin si direktur, jadi dia sedikit memutarbalikkan fakta, seolah saya yang bego. Saya jengkel, tapi masih punya niat meluruskan, karena saya enggak mau dia menganggap saya yang salah tapi ya udahlah daripada ribut nih uangmu kukembalikan. Nope, kamu harus mengembalikan uang itu karena memang kamu yang salah.

Email saya :

Saya definitely diberitahu bahwa saya disuruh datang hari selasa. Karena itu saya membawa Sera hari selasa, bukannya kamis. Kemudian, beberapa hari kemudian, ada pegawaimu yang menelpon bilang ada kesalahan, jadi minggu berikutnya Sera jadinya saya bawa hari Kamis. Saya akan ambil uangnya hari kamis besok.

Email Daycare :

Yang kamu booking hari selasa dan rabu itu untuk orientasi yang gratis. Harusnya Sera datang hari kamis, bukan selasa untuk yang kelas bayar. Oke, no problem silahkan ambil uangnya di hari kamis.

Saya yakin, direktur ini tidak bersalah dalam arti dia memang mungkin mendapat laporan yang salah dari karyawannya. Manusiawi kok karyawannya berbohong demi saving her ass. Atau mungkin memang saya yang gobloknya kelewatan, jadi memang saya yang salah. Note lagi, saya tidak pernah membooking hari rabu untuk orientasi. Saya bahkan tidak pernah datang di hari rabu. Jadi info yang diterima si direktur ini kacau balau sekali deh.

Tapi ada pelajaran berharga dari si direktur ini; untuk apa sih dia melanjutkan berdebat dengan saya tentang siapa yang salah? Toh intinya dia mau mengembalikan uang saya. Coba dipikir, apa sih untungnya mencoba menekankan bahwa saya yang salah? Padahal sebetulnya this whole mesh thing bisa dianggap kesalahan administrasi biasa. Dengan email terakhirnya itu, dia membuat saya, sebagai seorang customer, merasa dipermalukan, dianggap bodoh. Meskipun uang saya dikembalikan, hati saya tetap mengkal. Karena harga diri saya dilukai (cie... romantis deh, sejak kapan juga saya punya harga diri).

Terlepas dari siapa yang salah, naluri saya sebagai manusia menjadi defensif. Lha kok jadi saya yang salah melulu? Dan coba dipikir, apa ya tidak ada kemungkinan saya menyebarkan cerita ini, dengan bumbu-bumbu ke ibu-ibu yang lain. Dia itu direktur lho. Lulusan master bisnis universitas terkenal disini. Kalau saya jadi dia, saat membaca email saya yang terakhir, yang menekankan keyakinan saya sebagai customer bahwa itu bukan salah saya, it's better to set back. Kalau saya jadi dia, saya akan bilang saja, "However, saya senang kita sudah bisa menuntaskan masalah ini. Saya sangat senang bisa memiliki anda sebagai customer saya."  Beres kan?

Tapi saya senang juga dengan pelajaran ini. Berapa kali sih saya terlibat perdebatan dengan orang lain, hanya demi mempertahankan pendapat saya? Padahal seringnya ya nggak penting-penting amat. Hanya ingin memuaskan ego saya.

Karena saya berterimakasih pada si direktur untuk pembelajarannya, maka email balasan saya hanya berbunyi  "Thank you for your kind cooperation."  Toh tujuan saya sudah tercapai, mendapatkan uang saya kembali. Sebodo setan si direktur mikir saya orang bego dan ini semua salah saya. Saya bisa saja sih menjelaskan kronologisnya panjang lebar, tapi keuntungan apa yang saya dapatkan? Either direkturnya tambah ngambek kayak embek, atau dia jadi malu dan marah sama anak buahnya, pokoknya toh saya nggak dapat keuntungan apapun, kecuali perasaan menang. 

Dale Carnegie, dalam salah satu bukunya pernah berkisah dia mendengar seorang kakek pada suatu pesta berkata "Hamlet itu kisah di alkitab."  Salah satu anak muda yang mendengarnya berkata "Enggak dong, Hamlet itu kisah di Shakspeare."

Si kakek ngeyel, bahwa Hamlet itu kisah alkitab. Terus kakek itu berkata ke arah si Dale Carnegie. "Bener kan itu kisah alkitab?" Si Dale menjawab "Iya kamu benar, itu kisah dari alkitab."  

Saat si kakek berlalu, si anak muda bilang ke Dale. "Lho kan kamu tahu Hamlet itu kisah Shakspeare, bukan alkitab. Kok kamu bilang gitu sih?"

Begini katanya si Dale, "Iya aku tahu, tapi coba kamu pikir, apa gunanya sih kamu berdebat dengannya? Dia hanya akan merasa sakit hati dan kalah."Terus apa keuntungannya buatmu kecuali membuatmu merasa senang karena menang? "

Note : saya menulis note ini setelah minggu sebelumnya saya ngeyel-ngeyelan dengan Okhi tentang apakah dia sudah mengingatkan saya soal 1 dokumen yang terlupa atau belum. Yang penting sekarang kan dokumennya belum ada, jadi harus diapain dong? Tapi kami malah sibuk berdebat Your fault! No, it's you who forgot ! 

No comments:

Post a Comment