Monday 8 August 2011

My Monday Note -- Uhui, Dapat SIM Euy !


Note saya ini lanjutan note Getting My Learner Permit. 

Setelah berhasil lulus ujian tertulis untuk mendapatkan Learner Permit, yang membuktikan otak saya yang lelet ini bisa juga disuruh menghafal buku primbon setebal bantal yang berisi berbagai aturan dan ketentuan berlalu- lintas, saya langsung merasa sudah sepintar Ibu Polwan. 

Sehabis tes Learner Permit, saya masih harus menempuh jalan berliku untuk mendapatkan secarik pengakuan bahwa saya itu berbakat kok untuk jadi supir. Berikutnya, saya menjalani ujian Hazard Perception Test. Keren ya namanya? Ujian ini maksudnya ingin melihat kemampuan seorang calon supir mengenali dan bereaksi terhadap bahaya yang menghadang di saat ia menunaikan tugasnya. Kalau di Jakarta, mungkin semacam ujian untuk mampu mengenali anggota kapak merah dari jarak 500 meter, atau kemampuan mengendus bahwa FPI sedang hendak menggunakan jalan raya untuk tempat parkir bokong dan goloknya. 

Jadi ceritanya, ujian ini adalah simulasi keadaan di jalan raya. Saat Okhi bercerita bahwa ini ujian simulasi, saya langsung membayangkan seperti di film- film Hollywood ala Star Trek. Saya akan memasuki sebuah ruangan seperi tiruan kokpit pesawat ulang alik, dan kemudian di belakang setir saya akan mengemudikan pesawat bak film 3 dimensi, meliuk- liuk menghindari hujan meteor atau beratraksi jungkir balik seperti pilot pesawat tempur. Kalau beruntung, saya juga akan mengobrol dengan Lieutenant Commander Data.

Hanya tentu saja, itu impian yang kesiangan. Lha kan saya bukannya mau naik pesawat ulang- alik menuju ke bulan. Instead, saya hanya akan naik mobil sedan honda ke kelas bermainnya Sera yang hanya berjarak 10 menit dari rumah. Jadi, bukannya mendapat ruangan simulasi ala kokpit pesawat, simulasi saya hanya berupa duduk di kursi lipat, di depan layar komputer jadul yang nantinya akan menayangkan video seolah saya sedang berada di belakang kemudi mobil, dan menyetir di jalan raya. Sebelah kanan kiri saya, ya para peserta tes lainnya. Dan bukannya memakai headphone keren ala pilot pesawat tempur, saya memasangkan headphone sebesar gambreng ke telinga saya. Mana headphonenya mungkin untuk ukuran kepala bule lagi, jadi melorot terus di kepala saya. "Nggak keren banget sih," gerutu saya.      

Tidak seperti untuk ujian Learner Permit yang menguji teori, untuk ujian Hazard ini saya tidak perlu belajar. Jadi, langsung saja saya duduk di depan si komputer IBM jadul, dengan hati deg- deg an juga, ini bakal disuruh ngapain sih? Sebelum ujian sesungguhnya, ada tiga contoh soal untuk saya melatih kelenturan jari. Soal pertama, di layar komputer ada perintah tertulis : Tekan mouse saat menurut anda aman untuk menyalip mobil di depan anda. Lalu kemudian ada video bergerak, yang menunjukkan situasi di jalan raya dari sudut pandang saya sebagai sopir. Di depan saya ada mobil yang harus saya salip, dan disebelah kanan saya adalah lalu- lintas dari arah yang berseberangan. Saat lalu lintas dari arah depan saya kosong, saya menekan mouse yang menunjukkan menurut saya kondisi sudah aman untuk menyalip mobil depan saya.

Gampang kan? Hanya kenyataannya, sebagian besar orang sih lulus dalam percobaan pertama saat ujian ini, tapi biasanya nilainya minim. Batas kelulusan adalah 50, Okhi dapat nilai 55 dan saya 57. Lha gimana, simulasinya payah begitu. Layar komputernya kecil, videonya sering agak gelap. Dan soal yang diujikan cukup banyak, sekitar 32. Nah, jari telunjuk saya ya lama- lama kram juga bersiaga terus di atas mouse. Saat ada soal: Tekan mouse saat menurutmu kamu harus mengurangi kecepatan, kemudian ada video tentang jalan raya yang lengang tanpa kendaraan. Setelah beberapa saat, saya mulai bosan dan tanpa sengaja telunjuk saya menekan mouse. Halah, kaget saya! Berarti saya memutuskan untuk menginjak rem di kondisi jalan kosong melompong dong?? Berkurang satu poin hanya gara- gara telunjuk tergelincir.

Lalu ada soal: Pencet mouse saat menurutmu aman untuk berbelok ke kanan. Nah, dari arah sebaliknya saya melihat sebuah truk melintas. Logikanya, begitu truk ini sudah setengah berlalu, saya boleh dong mulai memajukan kendaraan saya. Eh lha kok ternyata di sebelahnya si truk, tertutup badan truk yang bongsor, ada sepeda motor. Dalam kehidupan nyata nih, ya sudah tinggal saya injak lagi saja rem saat melihat ada si motor. Tapi di simulasi ini, begitu saya tekan mouse, berarti saya menginjak gas mobil dan menabrak si motor. Dodol banget kan simulasinya? Meskipun saya lulus, tak urung saya ngomel- ngomel juga saat keluar dari ruangan. Ngomelnya ke Okhi sih, mana berani ngomel ke petugasnya :D.

Selesai ujian simulasi, sampailah saya pada tahap tes mengemudi praktek yang sesungguhnya. Akhirnya..... Tapi sebelumnya, saya menghubungi dulu si Martin, orang Indonesia yang jadi guru les nyetir berijazah. Soalnya, meskipun saya sudah bangkotan nyetir, saya perlu juga dong membiasakan dengan peraturan sini, dan juga supaya saya mengerti perintah- perintah saat ujian nanti. Si Martin ini, meskipun menyenangkan dan ramah tamah, tapi tetap saja menyebalkan soal fee. Dalam sesi belajar selama sejam doang dengan mobilnya, saya harus merogoh kocek 80 dolar. Sebal.

Di saat kursus yang pertama, di hari Sabtu pagi, saya mengendap- endap membuka pintu rumah seperti maling kesiangan. Maklum, takut si genduk tahu saya kabur dan mulai menangis menjerit- jerit. Sera sudah diamankan, diajak bapaknya membuang sampah di halaman belakang (keren banget kan usaha mengalihkan perhatiannya?). Saya berjalan ke arah si Martin yang menunggu di depan mobilnya, sebuah sedan toyota putih. Setelah berjabat tangan berkenalan, saya masuk ke dalam mobil. Karena status saya barulah seorang calon sopir, maka di bagian depan dan belakang mobilnya Martin ada plat gede warna kuning dengan huruf L hitam besar. L for Learner. Maksudnya, minggir.. minggir... sopir dodol lagi nyetir. Kalau kesenggol salah sendiri ye...

Sebelum memulai kursus, Martin bertanya ke saya di daerah mana saya dulu bekerja di Jakarta. Saat saya jawab daerah Kuningan, dia kemudian bertanya "Kamu tahu berapa batas kecepatan mobil di Kuningan?" Dengan sopan saya menjawab "Jam berapa? Kalau jam 8 pagi ya 20 km/ jam. Kalau jam 12 malam ya semau saya." Sambil tertawa Martin berkata, bahwa di Australia ini, berbeda dari Jakarta, semua jalan mempunyai aturan kecepatan yang harus dipatuhi. Bahkan di area perumahan yang tidak ada petunjuk kecepatannya, itu berarti kecepatan maksimal adalah 50 km/ jam.

"Ok, off you go," katanya memerintahkan saya menghidupkan kendaraan dan menjalankan mobil. Baru saja saya menghidupkan mobil dan mengarahkan setir ke kanan, Martin sudah menginterupsi. Ada beberapa kesalahan yang sudah saya perbuat bahkan sebelum saya mulai menyetir. Pertama, kalau saya hendak masuk ke jalan dari posisi berhenti, saya harus memberikan lampu sign minimal 5 kali. Kemudian, sebelum saya menyetir, saya harus melihat bukan saja ke kaca spion tapi juga ke jendela di belakang saya, untuk mengecek blind spot yang tidak bisa dilihat dari spion. Mulai pusing bahkan saat mobil masih terparkir.   

Kemudian, dia mengajak saya berputar- putar, dimulai dari daerah perumahan. Dia memperhatikan saya membelok, masuk ke jalan raya dari gang, kemudian bagaimana saya menyalip kendaraan, berganti jalur dan sebagainya, tanpa memberi komentar apapun. Setelah setengah jam berlalu, dia menyuruh saya meminggirkan mobil, dan mulai memberikan komentarnya tentang cara saya menyetir. Intinya, dia bilang saya jelas seorang sopir yang sudah berpengalaman (wow, masak sih?) tapi gaya saya jelas gaya sopir Indonesia (ah masak sih?). Yang pertama, ada beberapa kebiasaan saya yang harus diperbaiki, seperti saya harus selalu melihat ke kaca spion dalam sebelum saya mengerem. Dan bahkan ia menasehatkan saya untuk melihat spion dalam secara teratur setiap beberap menit. Ini cukup sulit karena saya tidak terbiasa melakukannya. Dulu si Okhi waktu kursus juga dikomentari hal ini. Okhi sih memang selalu melihat kaca spion dalam sejak dulu, tapi dia melihat hanya dengan melirikkan matanya yang sipit. Kata Martin, kalau saat ujian, bisa- bisa si instruktur tidak melihat bahwa Okhi sudah melihat spion. "Kepalamu harus kamu gerakkan sedikit," katanya memberi saran ke Okhi.

Kebiasaan lain yang harus diubah, enggak pernah ada ceritanya mobil di Australia ini, saat dikemudikan di jalan, persnelingnya masuk ke gigi netral. Jadi, saya harus selalu meletakkan persneling saya di gigi 1 (kalau mobil manual) atau D (kalau otomatis) bahkan saat saya berhenti di lampu merah. Alasannya, karena begitu lampu berubah hijau, saya harus langsung tancap gas ngebut. Bagaimana kalau saya tetap pada kebiasaan Indonesia saya, yang saat berhenti di lampu merah, maka saya ubah posisi gigi mobil saya ke nol dan kadang bahkan menggunakan rem tangan? Alamat mobil saya bakal dilindas mobil dibelakang saya yang langsung maju terus pantang ngerem. Dan kata Martin mengomentari gaya saya "Kalau lampu sudah hijau langsung jalan cepat. Jangan pelan- pelan sambil clingak clinguk kanan kiri." Ye si Martin, puluhan tahun kan saya begitu, meskipun lampu sudah hijau, saya harus tetap waspada kalau ada becak nyelonong atau bajaj menggelinding. 

Nah, karena peraturan disini harus selalu melihat ke berbagai spion dan blind spot setiap hendak berpindah jalur, atau memutar balik atau ngapain aja deh, jadi saya ambil gampangnya saja. Misalnya saya hendak berputar di jalan buntu, saya akan lihat spion kanan, kiri, dalam, dan melongokkan kepala ke jendela belakang saya. Sampai si Martin berkomentar "Tadi kan sebelah kirimu tembok, ngapain juga kamu harus lihat kiri segala sih?" Saya jawab karena saya pusing memikirkan kira- kira saya harus melongok ke arah mana dulu, jadi ya sudah saya putuskan saya akan melihat ke semua penjuru, enggak peduli perlu apa enggak. "Kalau aku kelupaan lihat spion, nilaiku kan berkurang. Nah, kalau aku kebanyakan melihat spion, nilaiku gak akan dikurangi kan?" jawab saya berargurmen.  Martin sih diam saja, hanya mungkin membayangkan instruktur tes saya nanti akan mempertanyakan IQ saya saat melihat saya celingak celinguk nggak jelas juntrungan. 

Satu lagi kebiasaan jelek saya (yang bahkan juga salah saat dilakukan di Indonesia). Saya terbiasa menyetir hanya memakai satu tangan, dan kalau sedang berhenti di lampu merah misalnya, langsung saja tangan saya terlepas dari setir, entah hanya iseng ditaruh pangkuan, atau sambil ngupil, atau garuk- garuk dengkul. Pokoknya saya paling anti kalau disuruh meletakkan kedua tangan di setir. Sungguh, perjuangan untuk merubah kebiasaan itu susah sekali. Hidung saya selalu gatal menggelitik minta dikilik- kilik jari saya...

Soal batas kecepatan, orang Australia sih cukup disiplin mematuhi, tapi ya enggak patuh- patuh amat. Di zona 60 km/ jam, mereka jalan 65. Di zona 70, mereka jalan 75. Pokoknya nggak mau rugi deh. Nah, berhubung saya akan tes, jadi saya sama sekali tidak boleh melewati batas kecepatan. Bahkan saya disarankan untuk sedikit di bawah batas kecepatan maksimal waktu ujian nanti. Si Okhi gagal dalam ujian pertamanya, karena dia tidak melihat tanda kecepatan sudah berubah menjadi 60 km/ jam dan dia masih melaju di 70 km. Hahaha, susah emang kalau buta huruf.

Nah, yang menyebalkan adalah kalau ada pekerjaan jalan. Jadi disini, misalnya ada satu bohlam lampu jalan mau diganti (ganti bohlam saja pakai truk canggih dengan jumlah personel segambreng, kurang kerjaan banget) maka di area si lampu tadi mau diganti akan diberi rambu sementara. Beberapa puluh meter sebelum tempat si truk yang akan melakukan perbaikan diparkir, akan diletakkan rambu- rambu yang memberi warning "Sedang ada perbaikan". Di rambu itu akan tertulis kecepatan yang harus saya patuhi, misalnya 40 km. Jadi, meskipun di jalan itu biasanya saya boleh jalan sampai 100 km/ jam pun, ya saya harus mengikuti rambu itu, dan hanya boleh jalan 40 km/jam doang.  Harusnya, beberapa puluh meter setelah lokasi tempat perbaikan itu,si pekerja jalan harus meletakkan tanda bahwa para sopir sudah boleh kembali ke kecepatan normal. Yang bikin kesal, ni para pekerja jalan sering lupa meletakkan rambu itu. Jadi selama berkilo- kilometer, saya terpaksa berjalan dengan kecepatan ala siput. Kalau dalam kondisi normal sih orang- orang akan langsung kembali memacu mobil mereka begitu area perbaikan sudah dilalui. Ya pakai logika saja, ngapain juga jalan pelan- pelan kalau sudah tidak ada halangan? Tapi lagi- lagi karena saya sedang ujian, ya saya harus mengikuti peraturan secara saklek. Sebelum ketemu tanda yang menyatakan saya sudah boleh jalan normal, saya haram untuk mengubah kecepatan saya. Mampus deh jalan 40 km disaat orang lain sudah pada ngebut lagi. I hate you tradie ! 

Setelah kursus selama lima kali, akhirnya tiba saatnya saya ikut ujian. Ujiannya jam setengah sembilan pagi. Jam delapan kurang, Martin sudah menjemput saya (menyewa dia untuk ujian membuat saya merogoh kocek 150 dolar $%$^&*). Selama 30 menit dia membawa saya berputar- putar agar saya bisa menyetir dengan lentur. Kemudian, saya mengarahkan mobil ke arah kantor VicRoad yang mengurusi soal SIM. Saya memarkir mobil di tempat parkir khusus untuk orang- orang yang akan ujian SIM. Kemudian, saya masuk ke dalam ruangan kantornya. Sudah banyak orang sih, tapi karena saya sudah buat janji dulu lewat telpon, ya nggak pake lama deh nunggunya. 

Lalu nama saya dipanggil oleh seorang petugas, bapak- bapak gemuk tua dengan nafas yang berat. Karena kemampuan saya untuk mengerti dialek Oz sangat parah, saya bolak- balik salah mengartikan pertanyaannya, yang membuat moodnya si Bapak langsung drop. Dia jadi so grumpy. Dan yang menyedihkan, bapak tua penggerutu ini yang akan menjadi instruktur ujian saya. Mati deh! Tapi si Martin menghibur dengan berkata bahwa Bapak ini memang penggerutu tapi dia enggak pelit nilai kok. Saya mendengus tidak percaya.

Sebelum memulai tes, si Bapak memeriksa kelengkapan mobil. Kalau ada satu saja lampu yang mati, saya akan langsung dianggap gagal. Istilahnya, layu sebelum ujian. Mulai lagi deh telinga soak saya bikin masalah. Disuruh menyalakan lampu sen, saya menyalakan lampu dim. Disuruh menginjak rem biar si Bapak bisa memeriksa lampu rem, saya memegang gagang rem tangan. Si Bapak memerah mukanya karena sebal, Martin memerah karena malu, saya memerah karena  berkeringat dingin. Tapi untungnya semua beres, dan masuklah si Bapak ke dalam mobil, di kursi belakang, sementara Martin duduk di samping saya. Kata si Bapak "Young lady, bla bla bla..." Saya tidak mendengarkan selebihnya karena saya langsung memerah tersipu dipanggil young lady. Pasti karena saya pakai tank top ketat nih!   

Kalau orang yang baru belajar nyetir gagal dalam ujian, itu biasanya karena memang dia belum ahli menyetir. Tapi kalau yang semacam saya yang sebetulnya sudah gape nyetir gagal, biasanya karena kurang beruntung. Martin sempat bercerita mengenai murid- muridnya yang gagal. Ada yang gagal karena tidak sadar lampu merah sudah berganti hijau (padahal itu sudah lampu merah terakhir sebelum ujiannya selesai, ngenes banget gak gagal di menit terakhir), ada yang gagal karena ban mobilnya menyenggol trotoar saat parkir (saya juga sering parkir terlalu mepet) atau yang gagal karena tanpa sadar dia menepikan mobilnya di depan jalan masuk ke halaman rumah orang. Bahkan kalau instrukturnya killer, hanya sekedar menerjang ranting pohon yang menjulur saja bisa dianggap gagal (lha kan itu ranting diem saja, ngapain juga ditabrak, gak bisa lihat apa?).

Tapi yang paling parah, ada muridnya si Martin yang telinganya lebih soak dari saya. Diberi perintah sekali, dia bilang "Sorry can you repeat?" Si instruktur mengulangi lagi, dan dia tetap tidak mengerti. Saat si instruktur mengulangi perintahnya untuk yang ketiga kalinya, si murid langsung menginjak rem dan menghentikan mobilnya, kemudian menolehkan kepalanya ke belakang dan bertanya ke si instruktur "Sorry please say it again." Yak saudara- saudara, kejadian itu terjadi di tengah jalan besar. Si instruktur langsung pucat dan berteriak "Go go go, move move move!

Ujian SIM disini berlangsung kira- kira 30 menit. Sesi yang pertama, instruktur tes menyuruh saya berputar- putar di daerah perumahan yang agak sepi dan melakukan berbagai manuver seperti parkir pararel, berputar di jalan buntu, menepikan kendaraan dan berbalik arah. Masalah berputar di gang buntu sih saya jago sekali.Ceritanya, demi menghemat uang kursus, saya berniat mengurangi frekuensi kursus dengan si Martin, dan meminta Okhi untuk berpura- pura menjadi Martin. Jadi Okhi duduk di samping saya dan mulai memberi perintah ala instruktur semacam "In the end of the road, turn right." Berhubung Okhi juga nggak hafal jalan perumahan yang berliku- liku, setiap 5 menit sekali dia membuat saya menemui jalan atau gang buntu. Setelah untuk yang kesepuluh kalinya lagi- lagi bertemu gang buntu, kesabaran saya menguap sudah. Kapan saya belajar ilmu yang lain kalau bolak- balik harus memutar mobil di gang buntu?

Yah, namanya juga berusaha ngirit. Tapi setelah sekali saja dibawah komando si Okhi, saya menyerah dan menolak untuk mengulangi. Sudah bolak- balik mengarahkan ke jalan buntu, cerewetnya juga nggak ketulungan. Bikin bete aja deh. Belum lagi sedang asyik- asyiknya nyetir, eh dia meringis dan berkata kebelet! Katanya para abege, capek deh.... Oya, kalau Martin memberi saya perintah untuk belok kanan, dia akan mengatakannya hanya dengan mulutnya, dengan wajah tenang. Kalau Okhi, tangannya sibuk menunjuk- nunjuk seolah saya tidak bisa membedakan kanan dan kiri, dan kalau saya salah sedikit saja, dia langsung ngomel. Again, tired deh.... Suami anda menyebalkan tingkahnya di rumah? Jangan tanya kalau di dalam mobil. DUI (Driving Under Influence) of Husband is Hell in the world.

Setelah kurang lebih 10 menit di daerah perumahan, maka si instruktur memerintahkan saya menepikan mobil. Dia kemudian akan menjumlahkan skor saya untuk menentukan apakah saya bisa melanjutkan ke sesi yang kedua. Sesi kedua adalah sesi jalan besar, disini saya akan diperintahkan untuk menyalip, berpindah jalur, menyeberang jalan, dan sebagainya. Sesi itu berjalan lancar sampai saya bertemu dengan satu lampu merah. Saya diperintahkan untuk belok kanan di lampu merah. Di depan saya sudah ada lima mobil, dan jarak saya masih jauh di belakang mereka. Saya, merasa pede bahwa saya masih akan dapat giliran lampu hijau. Ternyata, lampu berubah menjadi kuning tepat disaat saya hampir mencapai si lampu lalu lintas. Setelah saya melirik sekilas spion dan menemukan di belakang saya tidak ada mobil lain, langsung saya mengerem sekuat tenaga. Dan itupun saya masih berhenti melewati garis pembatas. Kemudian, saya segera memasukkan persneling mundur dan memundurkan mobil saya hingga berada di belakang garis pembatas. Hayo, kenapa hal ini bisa bikin saya gagal ujian?

Beda dari Indonesia, saat kita menyetir mengarah ke lampu lampu lalu lintas dan lampu berubah kuning, maka sopir wajib berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan mobil. Kalau di Indonesia kan mending terus saja kalau sudah nanggung begitu, karena bisa- bisa ditabrak mobil belakangnya. Di sini, setelah melirik spion dan yakin tidak ada mobil yang terlalu dekat jaraknya di belakang mobil saya, maka saya wajib hukumnya untuk mencoba berhenti, bahkan kalau itu berarti saya harus mengerem dengan keras. Jadi saya tidak berdosa karena mengerem mendadak. Lalu, secara peraturan juga saya diperbolehkan untuk memundurkan mobil bila saya berhenti setelah garis batas. Yang bikin saya berada dalam bahaya tidak lulus, adalah karena saya gagal mengantisipasi bahwa lampu lalu lintas sudah cukup lama berwarna hijau, dan di depan saya sudah ada banyak mobil. Seharusnya saya sudah mengantisipasi bahwa lampu akan berubah kuning at any time, dan seharusnya saya mulai mengurangi kecepatan dan bersiap berhenti.    

Sesudah 30 menit, kami kembali ke kantor VicRoad. Si bapak masuk dulu ke kantor untuk menjumlahkan poin, dan saya mengikutinya. Yes, ternyata saya lulus (dengan banyak catatan perbaikan tertulis di lembar penilaian saya). Kesalahan bodoh saya yang gagal mengantisipasi lampu berhasil ditutup dengan kenyataan saya sudah memastikan kondisi aman sebelum mengerem, dan karena saya jelas- jelas pengemudi yang sudah mahir. Setelah membayar biaya, saya menuju ke tempat foto. Foto SIM Indonesia saya jelek sekali, karena saya marah saat itu. Saya marah karena sudah bayar mahal pakai calo dan saya tetap mengantri seharian hanya untuk foto. Foto SIM Victoria saya ternyata juga jelek sekali. Padahal saya nggak marah karena saya hanya mengantri 5 menit saja, dan bahkan petugas fotonya menyapa saya dengan sebutan "Hey sweet girl, come here." Kenapa ya? Heran saya.

Oya, karena saya mempunyai SIM Indonesia yang sudah berlaku selama lebih dari tiga tahun, jadi begitu lulus ujian ini saya berhak mendapat full license. Kalau saja saya baru belajar nyetir, maka saya akan mendapat SIM Probationary, dan nantinya saat menyetir saya harus meletakkan plat P di bagian depan dan belakang mobil saya. Dengan mendapat SIM full license, itu berarti saya boleh menenggak sekaleng bir atau segelas anggur sebelum menyetir, sementara para P-plater hanya boleh minum air keran dan susu hangat. Huahahahahaha, kayak minumannya Sera aja :D


Kalau boleh milih sih, saya lebih senang dapat instruktur cowok. Soalnya instruktur cewek (katanya) lebih pelit nilai. Jadi, meskipun instruktur saya itu galak, grumpy dan menakutkan, tapi benar katanya Martin, dia murah nilai. Saat Okhi ujian pertama kali, si Martin berbisik "Ini instruktur yang paling cantik lho." Si Okhi menjawab "Justru biasanya yang cantik itu jahat ...." Eh, mungkin kena karma, beneran si Okhi nggak lulus. Hahahaha, kurang bakar kemenyan sih. Kata pepatah kan always the pretty one is the most dangerous of all. Makanya, kawin sama saya mah dijamin aman deh !!!  

No comments:

Post a Comment