Ini pertama kalinya saya menulis note pesanan. Jadi ceritanya, salah seorang pendukung setia MondayNote (hah, memangnya hanya si SMASH saja yang boleh punya pom-pom girl pendukung?) meminta saya untuk menulis note dengan tema Pra-Jabatan CPNS. Tapi ini teman saya kagak mau modal, jadi dia memesan saya menulis note, tapi tidak memberikan pembayaran yang memadai. Ckckck, bahkan penulis kolom dukacita saja dibayar, padahal yang jadi kliennya orang mati. Nasib..nasib.... Demi menolak permintan teman saya ini (karena kagak ada duitnya), saya beralasan "Nggak enak ah nulis tentang pegawai negeri." Tapi saya luluh juga karena bujukannya "Toh mbak sudah nggak makan uang negara lagi sekarang..." Yeee si Puz, kapan saya makan uang negara? Emangnya saya Nazrudin? Saya dulu dibayar negara Bang! Untuk jasa saya bagi negara (berasa Pangeran Diponegoro jadinya).
Eniwei, note ini berkisah tentang masa pra- jabatan selama dua minggu, yang saya lalui bersama teman saya si Puz ini. Begini ceritanya. Alkisah, karena kecintaan saya pada bapak saya, dan terutama kecintaan saya pada harta kekayaannya, maka saya menuruti permintaannya untuk mencoba menjadi pegawai negeri daripada nama saya dicoret dari daftar ahli waris untuk digantikan oleh namanya si Sarden anjing saya. Maka, mendaftarlah saya untuk menjadi PNS. Saat itu saya sudah bekerja di perusahaan FMCG multinasional dengan gaji yang (menurut pendapat bos saya) sangat memadai. Jadi, berangkatlah saya menempuh ujian masuk CPNS di Gelora Bung Karno dengan menumpang bis TransJakarta. Diantar oleh suami saya tercinta yang sepanjang jalan sibuk mencolek- colek pinggang saya sambil cengar- cengir berkata "Ihi, yang mau jadi PNS ni yeee."
Di dalam stadion, saya menghadapi ujian bersama ribuan orang lainnya. Sebagian besar dari mereka membawa tas yang dipenuhi berbagai buku "Siap menghadapi tes CPNS". Sampai minder saya jadinya, dan berusaha menutup rapat tas saya agar tidak ada yang bisa melihat isinya; teh kotak, susu ultra, chitato dan komik detektif conan. In my defense, saya berpikir panjang ke depan, bahwa tes ini akan cukup menguras pikiran saya, dan saya membutuhkan bekal ransum yang cukup agar saya bisa berpikir. Saya memasukkan chitato ke dalam tas sambil membayangkan betapa asyiknya nanti bila saya mengerjakan soal sambil nyemil chitato dan menyedot susu cokelat. Pasti peserta lain akan iri melihat betapa panjang akal saya.
Nyatanya, saya tidak bisa menjalankan rencana saya untuk nyemil. Karena bete, saya menjadi peserta pertama yang meninggalkan tempat ujian, disaat peserta lain masih sibuk berpikir keras memikirkan jawaban pertanyaan "Apakah visi dan misi dari departemen ini?" In my defense, mau saya mikir sampai kepala saya pecah juga saya tidak mungkin tahu jawaban untuk soal visi dan misi ini. Dan terus terang ya, saya juga tidak hafal tuh visi dan misi perusahaan- perusahaan swasta tempat saya bekerja dulu. Dan memang tidak ada juga yang kurang kerjaan mengetes apakah saya hafal misi perusahaan. Yang jelas, perusahaan menggariskan misi saya adalah bekerja keras bagai romusha demi keuntungan perusahaan. Tapi ternyata menjadi pegawai negeri itu jauh lebih mulia syaratnya. Harus tahu visi, misi, dan program- program unggulan dari departemen yang ingin saya masuki. Oalah, saya pikir hal semacam itu justru akan saya dapatkan saat orientasi nantinya.
Tapi sialnya, rupanya saya datang ke tempat ujian dalam kondisi lupa melepas susuk pengasihan yang saya sembunyikan dengan rapi di balik bulu kaki. Alhasil, nama saya tercantum di daftar peserta yang lulus ujian. Jangan ditanya ya bagaimana perasaan saya saat itu, tapi salah satu perasaan yang mencuat adalah rasa bersalah, karena saya tahu ada ribuan orang Indonesia yang desperately ingin menjadi PNS, dan sudah dengan tekun mengikuti ujian di berbagai departemen untuk selalu gagal. Sementara saya, berangkat tes sambil setengah ogah- ogahan. Memang kadang orang jahat tuh banyak rejekinya. Petualangan saya di kantor pemerintah adalah cerita mengharukan yang akan saya simpan untuk kemudian hari. Saat ini, demi teman saya si Puz, saya akan terfokus mengisahkan soal Pra-Jabatan.
Saat seseorang diterima menjadi abdi negara alias PNS, statusnya belum sepenuhnya seorang Pegawai Negeri Sipil, tapi baru Calon Pegawai Negeri Sipil. Mungkin semacam status percobaan sebelum dianggap jadi pegawai tetap di perusahaan swasta. Nah, supaya saya dan teman- teman saya sesama Calon Pegawai Negeri Sipil atau biasa disingkat CPNS bisa menghilangkan huruf C dari status kami, dan menjadi Pegawai Negeri Sipil seutuhnya, hanya satu syaratnya. Lulus pendidikan Pra-Jabatan yang diselenggarakan selama dua minggu. Nggak ada syarat lainnya nih? Misalnya syarat nggak boleh telat datang atau kinerja yang baik? Ya adalah. Syarat lainnya, menahan diri supaya tidak melempar kursi ke seorang rekan senior yang bibirnya miwir selalu dan wiridan supaya keinginan meracun bos dijauhkan dari pikiran.
Pra- jabatan yang merupakan syarat seseorang agar bisa diangkat menjadi PNS ini adalah semacam program pendidikan yang diselenggarakan selama dua minggu. Para CPNS akan dikarantina selama dua minggu, tinggal di balai pelatihan dan menerima materi- materi pelatihan. Tujuan Pra-jabatan adalah untuk membentuk karakter dan membekali calon pegawai negeri sipil supaya mampu menjadi abdi negara dan masyarakat yang andal. Wuih, sampai ngiler saya ketiduran waktu mengcopy paste semboyan ini. Selama dua minggu ini saya dan sesama CPNS yang lain dikarantina di balai latihan, enggak boleh keluyuran, dan menerima materi yang akan membentuk diri kami agar bisa menjadi abdi massssssss.......grok grok.... (sori saya ketiduran lagi).
Kalau nanti anda membaca note saya ini rada- rada sinis dan menghina, mohon disadari bahwa masalahnya bukan pada pra- jabatan yang mulia itu, tapi pada diri saya yang sinis, sarkastis dan bombastis. Nggak percaya kalau saya punya masalah mental yang kronis? Lemme show you. Berikut ini saya copy paste status dari motivator terkenal se-nusantara yang seteguh batu karang.
Pak ****o, kekasih saya meminta saya menikah,
tapi saya mau kalau dia berhenti merokok.
Tapi dia keberatan.
Bagaimana ya Pak?
Adik saya yang baik hatinya,
Tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada cinta
untuk menyatukan kehidupan dua jiwa.
Mengorbankan kesenangan pribadi
untuk yang dicintainya, bukanlah pengorbanan,
tapi hadiah cinta.
Yang selain itu,
sikapilah dengan perlindungan bagi kemuliaan hatimu.
Nah, apa pendapat anda membaca status beliau di atas? Termotivasi? Merasa status itu inspirasional? Terbakar semangat hidupnya? Yah berarti anda normal, sama dengan jutaan masyarakat Indonesia yang mengagumi beliau (note : status diatas di-like oleh lebih 13 ribu orang! 13 ribu! Note saya saja sudah syukur- syukur kalau ada yang nge- like selain suami dan emak saya).
Nah, karena saya enggak normal, menurut saya jawabannya pak motivator untuk pertanyaan sederhana dan common banget (saya kenal at least 3 pasangan dengan masalah serupa, suaminya kecanduan rokok atau mancing atau nge-game yang membuat istrinya jengkel berat) diatas itu membingungkan plus membuat migren. Saya membayangkan kalau Okhi lah yang merokok, dan saya diberi saran diatas, saya hanya akan mengernyitkan kening kebingungan. Apa sih maksudnya sikapilah dengan perlindungan bagi kemuliaan hatimu? Kalau perlindungan terhadap Penyakit Menular Seksual sih masih ngerti saya. Jadi gue itu disuruh terima nasib saja kawin sama perokok atau cerai saja atau ngeracun saja nih cowok?
Kalau saya yang mendapat pertanyaan diatas, saya hanya akan jawab dengan realistis. Seberapa terganggunya kamu dengan kenyataan pacarmu merokok? Kalau enggak terganggu- terganggu amat ya sudah relakan saja. Kalau terganggu sedikit, ya berkompromilah; gak boleh ngerokok di dalam rumah, gak boleh ngerokok lebih sebungkus dalam sehari. Kalau kamu sangat terganggu dengan bau asap rokok, dengan kenyataan pacarmu bakal mati duluan kena kanker paru- paru, dengan kenyataan jutaan duit terbakar percuma dalam setahun, ya udah cari aja pacar lain. Masih jadi pacar saja dia menolak berhenti merokok, masak kamu mengharap dia bakal berhenti demi cinta saat kamu sudah menjadi istrinya yang buntek?
Jadi, percaya kan saya orang yang sinis dan komunis?
Balik lagi ke masalah pra- jabatan CPNS. Karena jadwal pra jabatan saya yang asli bersamaan dengan saat saya melahirkan Serafim, jadi saya ikut program susulan. Jadi, teman- teman pra jabatan saya bukan berasal dari divisi yang sama dengan saya, tapi dari berbagai instansi lain, contohnya rumah sakit. Nah, saat petugas kepegawaian saya memberitahukan bahwa ada jadwal susulan pra- jabatan ini, saya sebetulnya malas mengambilnya. Lha bayi saya masih merah, belum dua bulan umurnya. Tapi bapak kepegawaian yang baik itu membujuk saya supaya ikut. Toh dia sudah memilihkan lokasi prajab (singkatan pra jabatan) yang paling enak, saya bisa membawa bayi saya ikut menginap disana. Akhirnya, menyerahlah saya. Dan benar, lokasi prajab ini memang paling asoy geboy, dan bahkan saya mendapatkan kamar tersendiri sehingga saya bisa memboyong si Seratun dan embaknya.
Maka mulailah petualangan saya di prajab. Di malam pertama para peserta dikumpulkan untuk diberikan pengarahan, dibagi kelompok dan mendengarkan peraturan- peraturan. Um, apa ya yang saya ingat tentang peraturan yang diberikan ya? Hehehehe, gimme more time. Di note selanjutnya saya yakin saya akan bisa mengingatnya :D.
Setelah pengarahan dari ketua prajab, kami dibagi menjadi empat kelas. Ada beberapa teman sekelas saya yang cukup membekas di kenangan, tapi 80% nya sama sekali tidak saya ingat. Ya maklum, bagaimana juga caranya mengingat puluhan nama dalam waktu singkat. Yang saya ingat dengan baik adalah seorang dokter spesialis yang rencana menikahnya menunggu sampai ia selesai Prajab yang bernama Ronald (doh segitunya dehhhh). Lalu si Mas Puz ini, perawat di rumah sakit di Bandung, yang anaknya six pack lucu dengan senyum menawan. Lalu ada dua anak Bakorkamla (ini semacam badan penting banget untuk menjaga lautan kita, dan kalau enggak salah dua personelnya pernah ditangkap Malaysia untuk ditukar dengan maling ikan mereka. Memang geblek tuh Malaysia) yang namanya Ichlas dan Asia. Lalu cewek Jogja berjilbab yang imut- imut yang juga punya bayi kecil yang namanya Aisyah. Lalu saya lupa namanya siapa, dosen di mana gitu, yang membuat saya heran karena selalu memanggil semua peserta yang kebetulan seorang dokter dengan sapaan "Dok" dengan penuh takzim dan hormat, seolah si dokter ini Jendral Sudirman yang melintas. Saya sih berpikir paling mertuanya dokter kali, jadi dia punya kebiasaan membungkuk tiap melihat dokter. Si mantu dokter ini akhirnya terpilih menjadi ketua kelas kami. Tak terkira betapa sedih hati saya sewaktu saya tidak terpilih menjadi ketua kelas, kurang apa sih dedikasi saya?
Lalu apa lho acaranya Prajab? Ya kami dilatih, diberi pelajaran, pengetahuan dan wawasannya ditambah. Kebanyakan acara pelatihan kami dilakukan di dalam kelas. Kenapa enggak di lapangan atau hutan belantara? Karena kami bukan pramuka. Plus pesertanya sudah pada bangkotan semua dengan tulang berkelontangan. Kasihan nanti kalau dikejar macan. Seringnya sih kami akan dibagi menjadi kelompok kecil kemudian mendiskusikan materi, dan nantinya hasil diskusi kami akan dituangkan dalam satu lembar kertas besar. Salah satu yang saya ingat adalah kami harus menuangkan karakteristik apa saja yang harus dimiliki seorang PNS. Dari kegiatan berkelompok ini, saya bisa menilai tingkat keseriusan teman- teman saya. Ada yang sangat berapi- api menggebu menuangkan pemikirannya bahwa PNS itu yang terpenting adalah loyal dulu baru kemudian jujur, kemudian berdedikasi. Benar- benar PNS teladan. Atau butt licking brilian. Ada yang seperti Mas Puz, cukup serius menyimak dan ikut berkontribusi tapi enggak sebegitunya menggebu- gebu. Masih normal lah, ada jiwa PNS nya tapi otaknya juga masih lurus. Ada yang seperti saya, yang berusaha mengangguk- angguk di saat yang tepat, dan hanya sibuk melirik jam untuk menghitung berapa menit lagi ada coffe break. Realistis itu namanya. Atau lazy fat bastard.
Yang juga banyak adalah materi pelajaran. Semacam penataran P4 gitu kali ya? Saya selalu berusaha datang paling awal untuk acara pemberian materi ini. Kan saya berdedikasi. Plus saya ingin mencari bangku yang enak biar saya bisa konsentrasi berpikir. Kalau datang telat, saya takut akan mendapat tempat duduk terlalu dekat dengan pengajarnya. Saya kan minderan orangnya, jadi takut grogi. Biasanya sehabis materi, maka akan dimulai sesi tanya jawab. Lagi- lagi, saat tanya jawab adalah saat yang menegangkan. Bayangkan, betapa hampa hati saya kalau saya tidak mendapat kesempatan bertanya mengenai materi pola pikir cerdas dan sinergis yang baru saja saya terima. Anda nggak tahu apa itu pola pikir cerdas dan sinergis? Ckckckck, memalukan! Coba tanya sama Mas Puz, mungkin dia masih ingat definisinya :D. Hanya karena saya orang Jawa, saya selalu lebih suka mengalah pada yang lebih senior. Terpaksalah saya menyaksikan teman- teman saya yang lain berebut bertanya sementara saya malu- malu untuk mengangkat tangan.
Lalu selain materi kelas, ada juga tugas membuat jurnal. Jadi dari materi yang kami terima hari ini di dalam kelas, kami harus membuat rangkumannya. Asia teman saya, cukup rajin membaca dulu buku materi untuk kemudian merangkumnya. Seorang anak cewek lain yang saya lupa namanya, mengeluh bahwa kertas jatahnya sampai tidak cukup untuk membuat rangkuman (membuat saya mempertanyakan IQ nya, lha wong disuruhnya membuat rangkuman, bukan membuat buku lho). Saya, sebagai CPNS yang baik, sadar bahwa rangkuman itu suppose to be singkat dan padat. Jadi saya dengan tegas melarang tangan saya menulis lebih dari tiga perempat lembaran kertas HVS yang dibagikan. Dan agar ibu pengajar tidak sakit matanya, saya buat tulisan yang besar- besar dengan jarak antar kata yang lebar. Betapa sakit hati saya saat kemudian jurnal itu dibagikan sesudah dinilai, dan jurnal saya hanya diberi nilai 65, sementara si teman yang saya pertanyakan IQ nya mendapat nilai 85.
Saat tugas berkelompok, biasanya salah seorang anggota kelompok akan maju menjadi pembicara. Sumpah mati saya heran pada beberapa orang yang selalu sigap mengajukan dirinya. Dan berbicara dengan berapi- api di depan kelas akan pentingnya penegakan disiplin bagi PNS atau wawasan kebangsaan. Bahkan, saat sesi tanya jawab, yang seharusnya dijawab oleh anggota kelompok lainnya, dia juga dengan senang hati mengambil alih. Sumpah mati saya selalu berdoa agar saya sekelompok dengan si sigap ini. Saya senang bisa mendukung keaktifan sesama rekan. Kebahagiaannya, adalah kebahagiaan saya. Saya sudah senang kebagian tugas bertepuk tangan dengan sopan. Plok plok plok.
Setiap pagi, supaya para peserta yang sudah berkarat semua sendinya ini menjadi bugar kembali, selalu diadakan acara apel pagi dan senam kesegaran jasmani. Untuk apel, hanya orang gila yang semangat. Bahkan instruktur apelnya pun sebetulnya lebih senang bergelung selimut di pagi buta daripada memimpin apel. Untuk senam, hanya Mas Puz dan Ichlas yang semangat. Gimana nggak semangat kalau instrukturnya semlohai dengan training pants adidas merah menyala? Lha giliran instrukturnya cowok dan saya sudah siap untuk ngeceng, yang datang bapak tentara berperut gendut dengan kumis melintang bak Pak Raden. Life isn't fair at all!
Oya, kalau tidak salah, di hari terakhir diadakan upacara bendera demi meningingatkan lagi akan masa SD. Saat upacara bendera, saya ingat yang menjadi dirigen awalnya adalah seorang cewek berjilbab yang biasa saja orangnya, dengan gaya dirigen yang seadanya saja (ya iyalah, wong ya hanya memimpin lagu Satu Nusa Satu Bangsa plus penyanyinya hanya murid- murid Prajab dengan suara kayak kaleng kerupuk melempem dan saat bernyanyi matanya pada melihat ke atas berdoa semoga hujan turun dan upacara batal). Sampai kemudian seorang dokter spesialis jantung berbadan raksasa (yang menurut desas desus pansus pinter banget otaknya tapi rada aneh tingkahnya) merasa gusar melihat pertunjukan ketidakseriusan ini. Beliau maju, mendepak si cewek berjilbab ini, dan memproklamirkan dirinya sebagai dirigen yang baru (si cewek shock ditendang oleh seorang pria berbadan gede, tapi sebetulnya sangat lega ada yang bersedia menggantikan posisinya). Dan dengan amat sangat penuh penghayatan sekali menjadi dirigen. Saya harus menggigit bibir saya hingga perih untuk mencegah saya tergelak-gelak melihat betapa serunya si dokter mengayunkan lengannya kesana kemari dan sampai bergetar tubuhnya saat memberi tanda agar peserta koor menyanyi dengan suara lirih. Persis kayak Adi MS kesurupan. Ini baru namanya dedikasi.
Hah, anda sekarang pasti berpikir Prajab ini hanya formalitas dan semua pesertanya akan lulus. Hoho, enak saja. Dibutuhkan otak brilian agar bisa lulus. Kabarnya pernah ada peserta yang tidak lulus Prajab. Penyebabnya? Karena di kolom pesan dan kesan dia menulis bahwa Prajab itu tidak berguna dan hanya membuang uang negara. Huahahahaha, bodoh sekali. Meskipun memang rada- rada dipertanyakan kegunaannya bagi hajat hidup orang banyak, mbok ya sedikit diplomatis gitu lho. Tunggu sampai sudah dinyatakan lulus dan ijazah keluar dan SK PNS keluar, baru tulis di koran kalau Prajab itu hanya buang- buang waktu dan duit dan tenaga (ini diplomatis atau oportunis ya?). Atau seperti saya, sudah terdampar di benua lain, baru berani menulis note (tanpa ragu saya deklarasikan diri saya sebagai pengecut nomer wahid :D)
Jadi apa dong yang saya ingat dari materi Prajab? Saya hanya ingat tanya jawab antara seorang pengajar dan teman saya Ronald yang terhormat. Si pengajar memberi contoh soal kejujuran dengan menggunakan cerita klasik seorang raja yang membagikan pot berisi biji tanaman, dan siapa yang bisa menumbuhkan biji itu adalah pemenangnya. Maka seminggu kemudian berbondong- bondonglah orang datang dengan pot penuh tanaman menghijau. Kecuali Ronald, yang datang dengan pot kosong karena bijinya tidak mau tumbuh. Ternyata Ronald lah pemenangnya, meskipun bijinya tidak mau tumbuh. Kenapa Ronald menang? Karena sebetulnya bijinya Ronald dan biji peserta lain semuanya sudah dibakar. Jadi sudah tidak mungkin mempunyai batang. Saya membatalkan niat saya bertanya ke Ronald "Jadi lu ternyata nggak punya batang ya?" karena dokter Ronald yang mulia dengan memelas duluan berkata "Wah, jangan dibakar dong biji saya....."
Oke saya mengaku bahwa saya bukanlah peserta Prajab yang teladan. Saya agak kurang antusias mendengarkan materinya, saya agak enggan mendiskusikan kualitas apa yang harus dimiliki seorang PNS dan saya agak tidak berminat membuat karangan indah tentang peraturan kepegawaian dan wawasan nusantara. Jelas materi itu terlalu rumit untuk bisa ditelaah otak saya yang terbuat dari spons. Mungkin memang cocok bagi para dokter yang pintar dan dosen yang teladan, tapi saya kan hanya pegawai rendahan, dengan tugas hanya menata dokumen berdasar ketebalannya.... Materi tentang bagaimana caranya menumpuk dokumen tanpa membuatnya oleng pastinya lebih saya butuhkan daripada teori pola pikir cerdas dan sinergis wuzi wazi.
Plus ngapain juga sih saya harus belajar teori baris berbaris segala? Serius, ini baris berbaris ada buku teorinya, dan kemudian kami akan berpraktek di tengah lapangan di bawah terik mentari. Pelatihnya? Si bapak tentara dengan kumis melintang ala Pak Raden. Bahkan si bapak tentara ini juga sebetulnya mungkin kasihan melihat bentuk para peserta yang sudah keriput, berkerut, bungkring dan cungkring. Jadilah setiap 10 menit sekali ia memerintahkan kami untuk beristirahat di tempat teduh. Haha, memang TNI itu terbaik!
Di tempat prajab lain yang dibina oleh S**DN, sebelum makan saja harus baris berbaris dulu, masuk kelas baris, bubar kelas baris. Wah gawat, ini pasti kurikulum prajab bagi pegawai kantoran tercampur dengan kurikulum prajabnya satpam. Dengar- dengar sih isunya untuk melatih disiplin. Melatih disiplin? Yeah right.... Apa hubungannya disiplin kerja di kantor dengan baris berbaris balik kanan maju jalan grak sih? Enggak tahu ya dengan kantor anda, tapi di banyak kantor jaman sekarang setahu saya perjuangan menegakkan disiplin adalah perang melawan pemakaian FB dan chatting dan twitter pas jam kantor. Masalah disiplin bekerja berhubungan dengan baris berbaris saya rasa sudah punah sejak abad pertengahan (nggak tahu juga kalau di ST*D* masalahnya adalah saat seharusnya bekerja mengetik mereka malah sibuk keranjingan berbaris atau malah tendang- tendangan). Pegawai yang harus diragukan disiplinnya adalah mereka yang duduk dengan sangat tenang di bangkunya dengan wajah serius. Coba lihat layar komputernya, pasti lagi chatting.
Tapi, kalau saya berpikir lebih bijak, sebetulnya menguntungkan juga sih bahwa para petinggi PNS masih mengaitkan disiplin dengan kegiatan baris- berbaris. Kalau mereka sudah lebih pintar dan kemudian menemukan kaitan antara tingkat disiplin dengan pemblokiran situs setan semacam FB, youtube, twiter, nah kan malah berabe. Nasib PNS akan makin suram jadinya karena dikekang kebebasannya untuk update status dan mengupload foto.....
Lalu ilmu etos kerja. Ayolah, orang bego juga tahu gimana sih pekerja yang berdedikasi itu. Yang menyelesaikan tugas yang diembannya. Yang enggak pernah telat datang dan enggak kecepetan pulangnya. Yang mau mengupgrade ilmunya. Yang willing to go extra miles when necessary. Masak masih perlu teori wuzi wazi segala sih, dan berakhir dengan perdebatan apakah memakai sandal jepit di kantor itu etis atau enggak (tergantung dong, kalau dipakai untuk alas kaki ya etis, tapi kalau untuk melempar jidatnya bos ya nggak etis).
Dan terus terang saya paling jenuh dengan jejalan doktrin bahwa sebagai PNS, saya itu abdi negara dan harus memberi contoh baik di masyarakat bla bla bla. Itu dulu kali ya, waktu jadi PNS itu masih merupakan status terhormat, dipuja masyarakat. Saya sih, lebih suka dengan logika masuk akal saja deh. Status PNS nggak bikin saya bisa beli cabe di warung. Gaji saya yang bisa buat beli sembako. Jadi, give me a good salary and I'll be a good employer. Dan saya tertawa mendengar bunga-bunga manis bahwa yang saya kerjakan ini pengorbanan bagi negara dan saya harus iklas (sumpah di prajab bolak- balik senjata ampuhnya adalah kata iklas). Saat kamu berharap orang bekerja dengan imbalan iklas, kamu akan dapatkan segerombolan pemalas yang sudah kabur dari kantor jam 12 siang. Ya jangan disalahkan juga, lha wong dapatnya hanya iklas, berarti kan bekerjanya juga seiklasnya. Emangnya kerja bakti?
Agar saya termotivasi bekerja dengan baik, saya butuh gaji yang layak, jenjang karir yang bagus (kesadaran kalau saya bekerja keras akan ada reward bagi saya), dan hukuman kalau saya tidak perform (seperti waktu saya kerja di swasta, terlambat launching produk baru artinya kenaikan gaji saya akan berkurang persentasenya dan orang lain yang akan dapat promosi jadi manager). Tanpa tiga hal tersebut, saya terancam akan menjadi zombie yang masuk kerja jam 9, bekerja semaunya, pulang kerja jam 4, dan berkeliaran kemana- mana dengan sandal jepit siap dilemparkan ke jidat orang.
Jadi enggak ada asyiknya dong Prajab? Ada dong... Namanya pelatihan dimana- mana asyik in term of kita serasa muda lagi. Ketemu orang- orang seumuran yang sama gilanya. Bisa berkunjung ke kamar cowok dan ngegosip disana. Atau ramai- ramai fotokopi bocoran soal ujian. Menyelundup untuk nonton bioskop di tengah malam (ini sih bukan saya, lha wong saya bawa bayi merah). Dan saling menyapa dengan nama pertama. Tanpa embel- embel Pak, Bu, Mbak, Mas, Dok, Bro, Uda, Koko, dsb dsb. Saya cukup suka dengan suasananya, walau saya despise materinya. Dan saya beruntung karena menambah teman. Dua yang paling berkesan, tentunya Puz dan Ichlas :D. Dan saya cukup menikmati membuat yel- yel kelompok, dan bangga saat yel kelompok saya tampak paling keren. Dan bahkan saat tes kesehatan beberapa bulan kemudian, saya bertemu lagi dengan si Ronald. Dia bahkan memeriksa jari saya yang sakit bila ditekuk dan bersedia memeriksa saya dengan gratis. Lumayanlah!
Seorang teman saya bercerita bahwa ia diperingatkan bahwa di Prajab banyak terjadi cinlok ala sinetron. Saya langsung merasa ditipu dan diperlakukan tidak adil. Kenapa Prajab saya garing sekali yah? Nggak ada yang naksir saya atau bahkan sekedar bersuit nakal melihat saya dengan baju senam saya.... Kenapa ??????
Seorang teman di bagian saya, berakhir dengan menjadi peserta prajab dengan nilai terbaik. Saat ditanya bos bagaimana prajab saya, dengan jujur saya berkata "Saya sih sudah untung kalau bisa lulus Bu..."
Note : despite lack of revenue, career path, reward and punishment, hebatnya banyak anak muda yang masuk menjadi PNS sekarang ternyata orang yang sangat berdedikasi. Lot of my friends ngendon di kantor sampai jam 9 malam, dinas luar terus menerus dan bahkan terancam tidak bisa pulang kampung untuk sungkem saat lebaran karena tugas menumpuk.
Hanya berpegang pada keyakinan "Semua diciptakan Tuhan dengan sempurna" untuk mencegah bunuh diri setiap habis berkaca
Monday 26 September 2011
Monday 19 September 2011
My Monday Note -- Atas Nama Cinta, Kubela Kamu Nak!
Saya bertetangga dengan sebuah keluarga, ayah ibu dan dua anaknya. Si sulung adalah anak laki- laki yang seumuran dengan adik saya. Dan si bungsu lebih muda dari adik saya. Jadi, kakak beradik ini lebih muda dari saya. Huf, memang logika matematika saya paling yahud.
Nah, gosip mengenai keluarga ini, selalu berkisar tentang kedua kakak beradik tadi. Si adik, bersekolah di suatu SMU. Kemudian, saat kenaikan kelas dari kelas 1 ke kelas 2, dia tidak naik kelas. Lalu si adik meminta pindah sekolah. Alasannya, karena gurunya pada tidak becus mengajar. Plus gurunya pilih kasih, dan tidak suka padanya. Jadi, dia tidak naik kelas semata karena kebegoan bapak dan ibu guru yang tidak gape mengajar dan pilih kasih. Orang tuanya mengangguk- angguk setuju. Di SMU yang kedua ini, tak berapa lama kemudian si adik minta untuk dipindahkan lagi ke sekolah lain. Alasan dia minta pindah lagi setelah itu adalah karena di SMU kedua, teman- temannya jahat sama dia, tidak ada yang mengerti dia, dan menertawakan dia. Orang tuanya mengangguk- angguk setuju.
Lalu soal si kakak cowok. Si kakak ini karena tidak lulus UMPTN akhirnya kuliah di salah satu universitas swasta di Surabaya, jurusan teknik mesin. Itu jurusan pilihannya sendiri. Kemudian dia minta pindah ke Malang karena merasa jurusannya tidak cocok. Orang tuanya mengangguk- angguk setuju. Maka pindahlah si kakak ke salah satu universitas di Malang. Tidak sampai setahun disana, dia minta pindah. Alasannya? Malang terlalu dingin untuk tubuhnya yang sensitif. Dia tersiksa kedinginan kalau malam hari. Orang tuanya mengangguk- angguk setuju.
Saat mendengar gosip tentang tetangga saya ini, ya saya jadinya mengerutkan kening. Lalu saya bertanya pada trio sumber gosip saya (adik, emak dan pembantu saya). Gimana sih ceritanya kok dua anaknya semua bermasalah di sekolah? Menurut sumber gosip saya (yang berbincang panjang lebar dengan ibu kedua kakak beradik itu), masalahnya adalah ibunya percaya dan menelan mentah- mentah semua keterangan anaknya.
Saat si adik tidak naik kelas dan minta pindah, ibunya dengan seketika setuju dengan pendapat si anak bahwa iya benar dia tidak naik kelas karena kebodohan gurunya. Mungkin memang iya sih. Tapi saya bertanya- tanya kenapa si ibu tidak berusaha menggali lebih lanjut, bertanya ke guru dan ke teman si anak misalnya. Salah seorang anak tetangga saya, ternyata teman sekelas si adik di SMUnya yang pertama. Dan menurut temannya, memang si adik itu tidak bisa mengikuti pelajaran (SMU nya adalah SMU yang bagus dan diisi anak-anak pintar). Mungkin situasinya seperti kalau saya disuruh sekelas dengan para pemenang medali emas olimpiade sains. Okelah mungkin memindahkannya ke SMU lain yang lebih rendah kualitasnya adalah solusi yang masuk akal, tapi mengiyakan alasan si anak bahwa gurunya bego dan pilih kasih, apakah bijak? Plus, kalau saja orang tuanya mengerti bahwa anaknya mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran, kan mereka bisa melakukan tindakan pertolongan, semisal mengikutkan les privat atau bagaimanalah.
Lalu di SMU kedua, saat dia mengadu bahwa teman- temannya jahat hingga ia tidak betah? Oke, saya mencoba mengerti karena anak SMU itu memang bisa sangat kejam, dan tidak semua anak memilih menggunakan kepalan tinjunya untuk menyelesaikan masalah teman yang kejam ini (saya jadi ingat saat saya adu pukul dengan seorang anak cowok teman saya SMP). Jadi memindahkan sekolah bisa jadi solusi yang masuk akal untuk menghindari bullying ini. Tapi apakah orang tuanya sudah berusaha menggali lebih dalam apa alasan sebenarnya, mencari dari sumber lain selain keterangan si anak misalnya? Nah, lagi- lagi ada satu anak tetangga yang satu sekolah dengan si adik di SMU kedua. Jadilah si anak ini ditanya oleh para sumber gosip saya, sebetulnya kenapa sih si adik minta pindah? Apa memang teman- temannya jahat?
Menurut temannya, si adik ini selalu merasa yakin bahwa dia berbakat untuk menjadi model. Masalahnya adalah, bentuk fisik si adik ini, well, how to write it nicely yah, um, let just say tidak semenarik Giselle Bundchen atau Nadine Chandrawinata. In fact, bahkan saya bisa bilang bahwa dia bahkan lebih less attractive dari saya. Memang muka saya mirip homo sapiens yang belum berevolusi sempurna dan kulit saya penuh bercak- bercak jerawat, but at least I have flat tummy and slim waist gitu lho. Nah si adik ini gemuk, pendek, item dan buntek. Apa saya merasa bahwa mereka yang item, gemuk, pendek itu berarti lebih jelek dari yang putih langsing tinggi? Enggak, sama sekali enggak. Wong saya juga item dan pendek dan jerawatan. Hanya, di dunia modelling, bukannya seorang model diijinkan untuk tidak berotak tapi HARUS langsing dan tinggi? Kalau memang kita tidak masuk kategori itu, ya find other path, right? Sama seperti saya sudah tidak bermimpi masuk tim ahli riset nuklir, karena meskipun wajah saya sudah seperti korban Fukushima, tapi otak saya hanya mampu memikirkan bagaimana memotong kuku kaki yang berjamur.
Namanya anak SMU, saat ada temannya yang item buntek dan pendek tapi sangat pede bahwa dia berpotongan model, what will they do? Ya tentu saja menertawakan, dan yang lebih jahat, membenarkan si adik ini. "Iya dik, kamu memang cocok banget jadi model. Gila seksi banget lho kamu tu, kalau ikut lomba baju renang pasti menang." Dan di belakang si adik ini, mereka akan tertawa terbahak- bahak dan berkata bahwa iya si adik akan menang lomba baju renang, kalau lawannya kudanil yang lupa minum pil diet.
Nah, kalau saja si ibu bersedia menggali sedikit lebih dalam, dia akan menemukan permasalahan yang mendasari tingkah jahat teman- teman si adik. Dan akan menyadari 'there is something wrong with my kid'. Tapi tentu saja hal itu bisa dibilang mustahil. Kenapa? Karena sebetulnya si adik ini sejak SMP sudah sangat bernafsu menjadi seorang model. Dan ikut berbagai lomba. Dan selalu kalah. Kalau saya jadi orang tuanya, saya mungkin juga berada dalam dilema. Bagaimana caranya membuat anak saya sadar bahwa modelling bukan jalannya, tapi itu bukan berarti dia kalah cantik dari para pemenangnya? Hanya saja dunia modelling punya kriterianya sendiri, dan jalan bagi si anak ini adalah jalan lain yang akan lebih baik dari modelling. Saya membayangkan bahwa kalau saya jadi ibunya, memang dilema besar untuk menyadarkan si anak 'kamu tidak masuk kriteria di dunia modelling'. How to say it correctly agar anak saya tidak putus asa dan malah merasa minder dengan bentuk fisiknya?
Yang dilakukan si adik, setiap dia kalah lomba, dia akan marah-marah menyalahkan ibunya yang tidak bisa membelikan kostum yang lebih bagus atau karena tidak bisa menyekolahkan dia ke sekolah model ternama. Dia tidak bisa menerima bahwa itu karena bentuk fisiknya yang tidak masuk kriteria. Wajarlah, namanya anak kecil. Apa yang dilakukan si ibu? Minta maaf dengan mengiba-iba pada si anak, membenarkan bahwa si anak kalah karena kostumnya tidak sebagus yang lain, dan berjanji untuk menyisihkan lebih banyak uang untuk mengirim si anak ke sekolah modelling. Doh.
Lalu, kisah yang lain, saya punya saudara yang kira-kira seumur dengan saya. Setelah lulus kuliah, saya perlahan menapaki karier saya, dimulai dari pekerjaan yang membuat saya sering pulang jam delapan malam, dengan gaji hanya sejuta limaratus. Sementara saudara saya, menganggur beberapa lama, kemudian melakukan berbagai bisnis Geje, kemudian luntang lantung nggak jelas, hingga kemudian seorang Pakde saya membantunya mendapatkan pekerjaan di perusahaan tempat Pakde saya bekerja. Hanya beberapa saat, saudara saya itu mengundurkan diri dari pekerjaannya, yang dianggapnya tidak cocok dengan dirinya dan bosnya terlalu galak. Kami mendengar kisah ini dari ibunya, yang dengan penuh perasaan menceritakan betapa anak kesayangannya disia- sia di pekerjaannya, betapa bos nya sangat tidak berperi kemanusiaan, dengan sadis merobek- robek kertas hasil pekerjaan saudara saya itu, dan melemparnya ke wajah saudara saya.
Saat mendengar kisah itu, saya rada mengerutkan kening. Ini saudara saya menjadi karyawan di kantor atau jadi budak bangsawan arab abad pertengahan sih? Kok segitunya si bos. Sebagai seorang ibu, mungkin bisa dimaklumi bahwa hatinya mendidih dong mendengar anak kebanggaannya diperlakukan dengan semena- mena. Karena emak saya bukan ibunya dia, jadi emak saya enggak sebegitu emosi jiwa, dan kemudian bertanya pada Pakde saya, kok bisa sih si bos sekasar itu sama saudara saya? Jawabannya si bos (yang ternyata malu hati juga karena lepas kendali padahal biasanya selalu tenang), karena kejengkelannya sudah memuncak, karena saudara saya itu sama sekali nggak becus kerja, dibilangin bolak- balik kagak ngerti juga. Nah, gimana dong kalau sudah begini?
Setelah keluar dari kantor itu, saudara saya kemudian memulai petualangannya dengan berbagai pekerjaan dan selalu diakhiri dengan kisah dia keluar dari pekerjaannya karena : tempatnya nggak enak, bosnya jahat, gajinya kecil, temannya tidak menghargainya. Dan ibunya selalu yang mengisahkan ke kami dengan raut wajah terpukul. Terus terang saya agak bertanya- tanya, karena saya tidak bisa mengingat kapan terakhir kalinya saya mengadu ke emak saya bahwa teman kerja saya jahat atau bos saya tidak pengertian. Rasanya sejak SMA saya sudah tidak pernah lagi deh mengeluh akan hal- hal lebay semacam itu. That's life. Live it or just leave it.
Kemudian saudara saya mencoba berbisnis. Dia meminta uang dari orang tuanya untuk modal berbisnis. Dan kemudian meminta uang lagi. Dan lagi. Dan tidak ada hasilnya. Jangan salah sangka, saudara saya itu bukan anak nakal. Jadi uang yang dia minta juga bukannya untuk mabuk-mabukan atau beli putaw. Dia anak baik- baik. Hanya uang itu ia gunakan tidak dengan bijaksana. Salah satu contoh bisnis saudara saya ini adalah berjualan tanaman hias jenis apa sih namanya, gelombang setan? Pokoknya jenis tanaman ini pada pada satu masa harganya gila-gilaan, bisa mencapai ratusan juta. Saudara saya itu membeli banyak sekali bibit si gelombang setan untuk dikembangkan (membelinya juga dengan harga tinggi) dengan harapan nantinya satu tanaman bisa dijual dengan harga puluhan juta. Dia menanamkan seluruh modalnya hanya setelah membaca majalah semacam Trubus. Emak saya yang petani, sudah pernah memperingatkan bahwa harga tanaman yang melambung gila-gilaan hingga menyentuh ratusan juta rupiah itu hanya permainan para pedagang. Dalam sekejap, harga si gelombang setan akan kembali ke level normal. Benar saja, belum sampai si bibit setan bisa dijual, demam itu mereda. Dari sebuah tanaman eksotik, si gelombang setan kembali menjadi tanaman hias biasa. Duit modal melayang, saudara saya langsung meminta uang lagi, untuk bisnis lainnya. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung.
Yang menjadi masalah, orang tuanya terus memasok uang setiap saat anaknya meminta, hingga pada titik berdarah-darah. Mereka menjual sawah warisan, membongkar tabungan pensiun. Setiap ada saudara yang dengan prihatin menanyakan apakah memang bisnis ini akan menghasilkan (mengingat mereka berdua sudah sepuh, sakit-sakitan, dan seharusnya uang pensiun dan sawah itu untuk persiapan hari tua mereka), sang ibu menjadi sangat sensitif dan segalak macan. Dengan berurai air mata dia akan menuduh kami-kami ini tidak sayang pada anaknya, tidak peduli, tidak ingin anaknya sukses.
Saya bukannya hendak membahas soal bisnis. Sayapun mungkin tidak akan pernah bisa menjadi pebisnis yang sukses. Tapi melihat saudara saya menggelontorkan uang dengan mudah ke satu usaha tanpa perhitungan matang, dan kemudian gagal, dan tanpa belajar dari pengalaman itu langsung terjun ke usaha geje lainnya dengan modal besar lagi, saya ya rada terpana. Kalau saya jadi orang tuanya, setelah kegagalan yang pertama mungkin saya akan mengajak si anak duduk dan merapatkan hal tersebut. Kenapa bisnis itu gagal? Kalaupun hasil rapat itu entah mau mencoba bisnis yang lain, atau mungkin mau cari kerja dulu, itu hal lain. Yang jelas, kapanpun saudara saya gagal, maka (terutama) ibunya akan langsung dengan defensif melindungi anaknya. Persis kayak induk banteng saat anaknya hendak diserang singa.
Saya yakin setiap ibu selalu mempunyai best intention toward their children. Mana ada sih ibu yang tidak rela menempuh samudera api untuk menyelamatkan anaknya? Hanya saya jadinya berpikir, di dua kisah diatas, kedua ibu itu (tetangga dan saudara saya) cukup serupa. Mereka menjadi corong pembelaan bagi anaknya, dan selalu menemukan bahwa apapun kemalangan yang menimpa anaknya adalah sepenuhnya salah orang lain atau situasi yang ada. Dan pembelaan ini sangat berapi- api atau mendayu- dayu hingga sampai taraf kesurupan dan nggak ada logikanya sama sekali deh. Ini yang saya sebut, kadang hanya itikad baik saja bukan berarti hasilnya akan baik. Niat ibu itu baik, melindungi anaknya, tapi ya hasilnya anaknya selalu menyalahkan orang lain atas semua kegagalan yang menimpanya.
Saat seorang pria (atau wanita) 20 tahun masih datang kepada ibunya dan mengeluh bahwa teman sekerjanya jahat dan tidak mau mengerti dirinya atau bosnya menyakiti hatinya, dan kemudian ibunya dengan berapi- api ikut menyalahkan teman anaknya dan seketika mengatakan "Iya nak, kamu benar dan mereka yang salah", kok ya jatuhnya jadi terdengar konyol ya?
Namanya orang tua, cinta pada anak itu pastilah cinta yang paling besar di dunia. Kalau bisa, kita ingin menjaga anak-anak kita dalam pelukan kita seumur hidup. Dan kadang, mungkin cinta itu membuat kita buta dari realita. Oke deh, enggak usah yang ekstrim sekali seperti saudara dan tetangga saya itu, tapi saat seorang balita jatuh dan menimpa kursi, dan orang tua dengan maksud menghibur memukul si kursi yang dikatakannya nakal sehingga membuat kepalanya dedek sakit, kok rasanya seperti sedang mengajarkan pada si anak bahwa untuk setiap kejadian buruk yang menimpanya, itu adalah kesalahan pihak lain, bukannya karena si anak kurang berhati-hati saat melangkah.
Kemarin, saya membaca sebuah kisah di Inggris, dimana sepasang orang tua remaja akhirnya menikah saat mereka berusia 25 tahun. Jadi ceritanya, sepasang anak cowok cewek temen sekelas pacaran, dan di usia 14 tahun hamillah si cewek. Kemudian, saat mereka berusia 25 tahun, akhirnya mereka akan menikah, dan mereka sudah mempunyai anak kedua. Saya enggak sedang ingin berdebat masalah hamil di luar nikah atau hidup kumpul kebo, tapi saya terharu saat mendengar jawaban pasangan muda ini disaat seorang reporter bertanya bagaimana mereka bisa berhasil melewati ujian berat dengan mempunyai anak di usia remaja, dan berhasil mempunyai karir yang bagus, dan tetap bersama hingga tahun- tahun selanjutnya.
Menurut si cowok, saat ia mengetahui ceweknya hamil, maka orang tua mereka (setelah days of loathing and mourning), sampai pada keputusan bahwa si cowok ini harus tetap sekolah. Dan sore hari sepulang sekolah, maka si cowok abege ini harus bekerja sambilan untuk mendapatkan uang demi membeli popok anaknya. Jadilah si cowok ini bekerja keras banting tulang plus memeras otak belajar. Dia kehilangan kesenangan yang biasa dinikmati anak abege, jalan- jalan di mall atau main bola misalnya. Sementara si cewek, setelah melahirkan anaknya, harus merawat sendiri anaknya dan tidak bersekolah dulu. Bayangkan anak 14 tahun disuruh bertanggung jawab merawat bayi, sementara teman- teman sebayanya masih cekikikan jalan- jalan sore. Lalu, setelah bayinya mulai beranjak besar, dan si cowok sudah menyelesaikan sekolahnya, gantian si cewek yang mengikuti kursus keterampilan di malam hari. Cowoknya yang berganti merawat anaknya di malam hari, sepulangnya ia dari bekerja di siang harinya. Begitu terus hingga akhirnya mereka bisa hidup dengan mapan, baik cowok dan cewek ini bisa bekerja dan bahkan menyicil rumah.
Menurut si cowok, dia mengucapkan terima kasih tak berhingga pada orang tuanya karena mereka "Telah bersedia menemani sepanjang waktu, membantu kami merawat si bayi dan membantu membiayai kebutuhan si bayi. Tapi sekaligus mereka memaksa kami untuk bertanggung jawab dan menerima resiko dari memiliki anak. Dan akhirnya, kami menjadi pasangan muda yang bertanggung jawab dan mandiri hingga saat ini."
Saya kenal beberapa pasangan yang juga mengalami masalah serupa. Punya anak sebelum menikah. Dan orang tua mereka ada yang melakukan : mengusir anak itu dan tidak bersedia menerima mereka lagi (terserah anak dan bayinya mau mati kek, mau hidup kek) atau sebaliknya, mengambil tanggung jawab sepenuhnya perawatan dan pembiayaan cucu mereka. Sementara ibu si bayi yang anak sekolahan, lenggang kangkung jalan- jalan ke mall kayak nggak punya dosa, karena tidak mau masa mudanya terampas akibat keharusan mengganti popok.
Saya terharu pada orangtua abege Inggris itu, karena mereka mengharuskan anaknya merasakan pahit getir kehidupan yang harus mereka jalani karena kesalahan mereka, tapi sekaligus memberikan uluran tangan agar anaknya mampu melewatinya.
Di Australia, ada semacam tunjangan yang besar untuk para remaja yang hamil, atau istilahnya teen mom. Ini bukan karena pemerintah Australia senang dengan fenomena teen mom ini, hanya karena negara sadar para abege yang mungkin masih duduk di bangku SMP ini masih belum mampu membiayai dirinya sendiri, apalagi anak yang akan dilahirkannya. Masalah si abege ini berdosa, ya biar nanti dia dibakar di neraka, itu urusannya dia sendiri sama yang diatas. Tapi ada bayi tidak berdosa yang akan lahir dan butuh dirawat, dan bayi inilah yang harus dijamin kesejahteraannya.
Tampak baik dan mulia kan? Tapi ternyata, program ini menjadi bumerang. Masalahnya, karena para teen mom ini mendapatkan tunjangan yang lumayan, kebanyakan jadinya tidak melanjutkan sekolah, tidak punya keterampilan untuk bekerja, dan berakhir dengan hidup dari tunjangan pemerintah seumur hidupnya. Dan bayi mereka, banyak juga yang jadinya mengikuti jejak emaknya, hamil saat remaja dan menjadi penerima santunan negara pula. Sampai kemudian akhirnya pemerintah membuat gebrakan, yang disetujui mayoritas penduduk, bahwa santunan bagi para teen mom ini akan dihentikan bila mereka tidak kembali ke sekolah untuk menuntaskan studinya dan kemudian bekerja. Jadi, negara menolong mereka, tapi sekaligus mencambuk mereka untuk bisa berdiri di atas kaki mereka sendiri.
Cinta orang tua saya, adalah hal paling berharga yang mereka berikan ke saya. Saya merasa dicintai unconditionally. Mau nilai rapot saya bagus atau jelek, mau saya dipecat dari kerjaan atau dapat promosi, mereka akan tetap mencintai saya. Saya bahkan tidak pernah merasa dibandingkan dengan adik saya. Tapi, sebagai anak, saya butuh juga hal lain selain cinta. Yaitu dorongan untuk maju, dan bertanggung jawab atas semua keputusan yang saya ambil. Saat saya SD dulu, setiap sore hari emak saya akan mengingatkan saya mengenai PR yang harus saya kerjakan. Namanya anak kecil, kadang saya malas dan menunda mengerjakannya hingga akhirnya saya ketiduran tanpa menyentuh PR saya. Keesokan paginya, bangunlah saya dengan panik dan memohon emak untuk membantu saya mengerjakan PR atau mengijinkan saya pura - pura sakit hingga tidak perlu masuk sekolah. Alih- alih mengabulkan permohonan saya, maka saya akan mendapat tatapan galak dan gebukan di bokong, dan bahkan kalau perlu emak saya akan menyeret saya masuk ke dalam kelas, tempat saya akan menerima hukuman karena lalai mengerjakan PR.
Meskipun dulu saya sebel banget sama emak saya yang menurut saya tidak berperikemanusiaan, tapi sekarang saya menyadari manfaat kesadisannya : saya tidak pernah dengan lebay menceritakan ke emak saya bahwa dunia ini kejam, bos saya psikopat, teman kerja saya memberi pandangan benci ke saya atau segala alasan- alasan tolol atas segala kegagalan dalam hidup saya. Saat tubuh saya membesar, pantat saya bertambah montok dan pinggang saya bertambah ramping (hah, emang saya seksi banget yah), maka pikiran saya juga bertambah dewasa. Dan tidak lagi seperti balita yang marah pada kursi yang sudah membuatnya lecet.
Kata pepatah bule : When life gives you a lemon, make a lemonade.
Bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia: Saat kamu diberi kunyit, buatlah nasi kuning dan pepes ikan.
Dalam bahasa ibu : Saat kamu diberi anak, ajari anakmu bertanggung jawab atas hidupnya, tapi siapkan tangan untuk membantunya berdiri saat terjatuh.
Orang tua teladan, saat Serafim bersusah payah memanjat kursi yang tinggi dengan kakinya yang pendek dan montok, kami membiarkannya naik sendiri. Saat kemudian si genduk jatuh, kami tertawa terbahak- bahak :D
Nah, gosip mengenai keluarga ini, selalu berkisar tentang kedua kakak beradik tadi. Si adik, bersekolah di suatu SMU. Kemudian, saat kenaikan kelas dari kelas 1 ke kelas 2, dia tidak naik kelas. Lalu si adik meminta pindah sekolah. Alasannya, karena gurunya pada tidak becus mengajar. Plus gurunya pilih kasih, dan tidak suka padanya. Jadi, dia tidak naik kelas semata karena kebegoan bapak dan ibu guru yang tidak gape mengajar dan pilih kasih. Orang tuanya mengangguk- angguk setuju. Di SMU yang kedua ini, tak berapa lama kemudian si adik minta untuk dipindahkan lagi ke sekolah lain. Alasan dia minta pindah lagi setelah itu adalah karena di SMU kedua, teman- temannya jahat sama dia, tidak ada yang mengerti dia, dan menertawakan dia. Orang tuanya mengangguk- angguk setuju.
Lalu soal si kakak cowok. Si kakak ini karena tidak lulus UMPTN akhirnya kuliah di salah satu universitas swasta di Surabaya, jurusan teknik mesin. Itu jurusan pilihannya sendiri. Kemudian dia minta pindah ke Malang karena merasa jurusannya tidak cocok. Orang tuanya mengangguk- angguk setuju. Maka pindahlah si kakak ke salah satu universitas di Malang. Tidak sampai setahun disana, dia minta pindah. Alasannya? Malang terlalu dingin untuk tubuhnya yang sensitif. Dia tersiksa kedinginan kalau malam hari. Orang tuanya mengangguk- angguk setuju.
Saat mendengar gosip tentang tetangga saya ini, ya saya jadinya mengerutkan kening. Lalu saya bertanya pada trio sumber gosip saya (adik, emak dan pembantu saya). Gimana sih ceritanya kok dua anaknya semua bermasalah di sekolah? Menurut sumber gosip saya (yang berbincang panjang lebar dengan ibu kedua kakak beradik itu), masalahnya adalah ibunya percaya dan menelan mentah- mentah semua keterangan anaknya.
Saat si adik tidak naik kelas dan minta pindah, ibunya dengan seketika setuju dengan pendapat si anak bahwa iya benar dia tidak naik kelas karena kebodohan gurunya. Mungkin memang iya sih. Tapi saya bertanya- tanya kenapa si ibu tidak berusaha menggali lebih lanjut, bertanya ke guru dan ke teman si anak misalnya. Salah seorang anak tetangga saya, ternyata teman sekelas si adik di SMUnya yang pertama. Dan menurut temannya, memang si adik itu tidak bisa mengikuti pelajaran (SMU nya adalah SMU yang bagus dan diisi anak-anak pintar). Mungkin situasinya seperti kalau saya disuruh sekelas dengan para pemenang medali emas olimpiade sains. Okelah mungkin memindahkannya ke SMU lain yang lebih rendah kualitasnya adalah solusi yang masuk akal, tapi mengiyakan alasan si anak bahwa gurunya bego dan pilih kasih, apakah bijak? Plus, kalau saja orang tuanya mengerti bahwa anaknya mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran, kan mereka bisa melakukan tindakan pertolongan, semisal mengikutkan les privat atau bagaimanalah.
Lalu di SMU kedua, saat dia mengadu bahwa teman- temannya jahat hingga ia tidak betah? Oke, saya mencoba mengerti karena anak SMU itu memang bisa sangat kejam, dan tidak semua anak memilih menggunakan kepalan tinjunya untuk menyelesaikan masalah teman yang kejam ini (saya jadi ingat saat saya adu pukul dengan seorang anak cowok teman saya SMP). Jadi memindahkan sekolah bisa jadi solusi yang masuk akal untuk menghindari bullying ini. Tapi apakah orang tuanya sudah berusaha menggali lebih dalam apa alasan sebenarnya, mencari dari sumber lain selain keterangan si anak misalnya? Nah, lagi- lagi ada satu anak tetangga yang satu sekolah dengan si adik di SMU kedua. Jadilah si anak ini ditanya oleh para sumber gosip saya, sebetulnya kenapa sih si adik minta pindah? Apa memang teman- temannya jahat?
Menurut temannya, si adik ini selalu merasa yakin bahwa dia berbakat untuk menjadi model. Masalahnya adalah, bentuk fisik si adik ini, well, how to write it nicely yah, um, let just say tidak semenarik Giselle Bundchen atau Nadine Chandrawinata. In fact, bahkan saya bisa bilang bahwa dia bahkan lebih less attractive dari saya. Memang muka saya mirip homo sapiens yang belum berevolusi sempurna dan kulit saya penuh bercak- bercak jerawat, but at least I have flat tummy and slim waist gitu lho. Nah si adik ini gemuk, pendek, item dan buntek. Apa saya merasa bahwa mereka yang item, gemuk, pendek itu berarti lebih jelek dari yang putih langsing tinggi? Enggak, sama sekali enggak. Wong saya juga item dan pendek dan jerawatan. Hanya, di dunia modelling, bukannya seorang model diijinkan untuk tidak berotak tapi HARUS langsing dan tinggi? Kalau memang kita tidak masuk kategori itu, ya find other path, right? Sama seperti saya sudah tidak bermimpi masuk tim ahli riset nuklir, karena meskipun wajah saya sudah seperti korban Fukushima, tapi otak saya hanya mampu memikirkan bagaimana memotong kuku kaki yang berjamur.
Namanya anak SMU, saat ada temannya yang item buntek dan pendek tapi sangat pede bahwa dia berpotongan model, what will they do? Ya tentu saja menertawakan, dan yang lebih jahat, membenarkan si adik ini. "Iya dik, kamu memang cocok banget jadi model. Gila seksi banget lho kamu tu, kalau ikut lomba baju renang pasti menang." Dan di belakang si adik ini, mereka akan tertawa terbahak- bahak dan berkata bahwa iya si adik akan menang lomba baju renang, kalau lawannya kudanil yang lupa minum pil diet.
Nah, kalau saja si ibu bersedia menggali sedikit lebih dalam, dia akan menemukan permasalahan yang mendasari tingkah jahat teman- teman si adik. Dan akan menyadari 'there is something wrong with my kid'. Tapi tentu saja hal itu bisa dibilang mustahil. Kenapa? Karena sebetulnya si adik ini sejak SMP sudah sangat bernafsu menjadi seorang model. Dan ikut berbagai lomba. Dan selalu kalah. Kalau saya jadi orang tuanya, saya mungkin juga berada dalam dilema. Bagaimana caranya membuat anak saya sadar bahwa modelling bukan jalannya, tapi itu bukan berarti dia kalah cantik dari para pemenangnya? Hanya saja dunia modelling punya kriterianya sendiri, dan jalan bagi si anak ini adalah jalan lain yang akan lebih baik dari modelling. Saya membayangkan bahwa kalau saya jadi ibunya, memang dilema besar untuk menyadarkan si anak 'kamu tidak masuk kriteria di dunia modelling'. How to say it correctly agar anak saya tidak putus asa dan malah merasa minder dengan bentuk fisiknya?
Yang dilakukan si adik, setiap dia kalah lomba, dia akan marah-marah menyalahkan ibunya yang tidak bisa membelikan kostum yang lebih bagus atau karena tidak bisa menyekolahkan dia ke sekolah model ternama. Dia tidak bisa menerima bahwa itu karena bentuk fisiknya yang tidak masuk kriteria. Wajarlah, namanya anak kecil. Apa yang dilakukan si ibu? Minta maaf dengan mengiba-iba pada si anak, membenarkan bahwa si anak kalah karena kostumnya tidak sebagus yang lain, dan berjanji untuk menyisihkan lebih banyak uang untuk mengirim si anak ke sekolah modelling. Doh.
Lalu, kisah yang lain, saya punya saudara yang kira-kira seumur dengan saya. Setelah lulus kuliah, saya perlahan menapaki karier saya, dimulai dari pekerjaan yang membuat saya sering pulang jam delapan malam, dengan gaji hanya sejuta limaratus. Sementara saudara saya, menganggur beberapa lama, kemudian melakukan berbagai bisnis Geje, kemudian luntang lantung nggak jelas, hingga kemudian seorang Pakde saya membantunya mendapatkan pekerjaan di perusahaan tempat Pakde saya bekerja. Hanya beberapa saat, saudara saya itu mengundurkan diri dari pekerjaannya, yang dianggapnya tidak cocok dengan dirinya dan bosnya terlalu galak. Kami mendengar kisah ini dari ibunya, yang dengan penuh perasaan menceritakan betapa anak kesayangannya disia- sia di pekerjaannya, betapa bos nya sangat tidak berperi kemanusiaan, dengan sadis merobek- robek kertas hasil pekerjaan saudara saya itu, dan melemparnya ke wajah saudara saya.
Saat mendengar kisah itu, saya rada mengerutkan kening. Ini saudara saya menjadi karyawan di kantor atau jadi budak bangsawan arab abad pertengahan sih? Kok segitunya si bos. Sebagai seorang ibu, mungkin bisa dimaklumi bahwa hatinya mendidih dong mendengar anak kebanggaannya diperlakukan dengan semena- mena. Karena emak saya bukan ibunya dia, jadi emak saya enggak sebegitu emosi jiwa, dan kemudian bertanya pada Pakde saya, kok bisa sih si bos sekasar itu sama saudara saya? Jawabannya si bos (yang ternyata malu hati juga karena lepas kendali padahal biasanya selalu tenang), karena kejengkelannya sudah memuncak, karena saudara saya itu sama sekali nggak becus kerja, dibilangin bolak- balik kagak ngerti juga. Nah, gimana dong kalau sudah begini?
Setelah keluar dari kantor itu, saudara saya kemudian memulai petualangannya dengan berbagai pekerjaan dan selalu diakhiri dengan kisah dia keluar dari pekerjaannya karena : tempatnya nggak enak, bosnya jahat, gajinya kecil, temannya tidak menghargainya. Dan ibunya selalu yang mengisahkan ke kami dengan raut wajah terpukul. Terus terang saya agak bertanya- tanya, karena saya tidak bisa mengingat kapan terakhir kalinya saya mengadu ke emak saya bahwa teman kerja saya jahat atau bos saya tidak pengertian. Rasanya sejak SMA saya sudah tidak pernah lagi deh mengeluh akan hal- hal lebay semacam itu. That's life. Live it or just leave it.
Kemudian saudara saya mencoba berbisnis. Dia meminta uang dari orang tuanya untuk modal berbisnis. Dan kemudian meminta uang lagi. Dan lagi. Dan tidak ada hasilnya. Jangan salah sangka, saudara saya itu bukan anak nakal. Jadi uang yang dia minta juga bukannya untuk mabuk-mabukan atau beli putaw. Dia anak baik- baik. Hanya uang itu ia gunakan tidak dengan bijaksana. Salah satu contoh bisnis saudara saya ini adalah berjualan tanaman hias jenis apa sih namanya, gelombang setan? Pokoknya jenis tanaman ini pada pada satu masa harganya gila-gilaan, bisa mencapai ratusan juta. Saudara saya itu membeli banyak sekali bibit si gelombang setan untuk dikembangkan (membelinya juga dengan harga tinggi) dengan harapan nantinya satu tanaman bisa dijual dengan harga puluhan juta. Dia menanamkan seluruh modalnya hanya setelah membaca majalah semacam Trubus. Emak saya yang petani, sudah pernah memperingatkan bahwa harga tanaman yang melambung gila-gilaan hingga menyentuh ratusan juta rupiah itu hanya permainan para pedagang. Dalam sekejap, harga si gelombang setan akan kembali ke level normal. Benar saja, belum sampai si bibit setan bisa dijual, demam itu mereda. Dari sebuah tanaman eksotik, si gelombang setan kembali menjadi tanaman hias biasa. Duit modal melayang, saudara saya langsung meminta uang lagi, untuk bisnis lainnya. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung.
Yang menjadi masalah, orang tuanya terus memasok uang setiap saat anaknya meminta, hingga pada titik berdarah-darah. Mereka menjual sawah warisan, membongkar tabungan pensiun. Setiap ada saudara yang dengan prihatin menanyakan apakah memang bisnis ini akan menghasilkan (mengingat mereka berdua sudah sepuh, sakit-sakitan, dan seharusnya uang pensiun dan sawah itu untuk persiapan hari tua mereka), sang ibu menjadi sangat sensitif dan segalak macan. Dengan berurai air mata dia akan menuduh kami-kami ini tidak sayang pada anaknya, tidak peduli, tidak ingin anaknya sukses.
Saya bukannya hendak membahas soal bisnis. Sayapun mungkin tidak akan pernah bisa menjadi pebisnis yang sukses. Tapi melihat saudara saya menggelontorkan uang dengan mudah ke satu usaha tanpa perhitungan matang, dan kemudian gagal, dan tanpa belajar dari pengalaman itu langsung terjun ke usaha geje lainnya dengan modal besar lagi, saya ya rada terpana. Kalau saya jadi orang tuanya, setelah kegagalan yang pertama mungkin saya akan mengajak si anak duduk dan merapatkan hal tersebut. Kenapa bisnis itu gagal? Kalaupun hasil rapat itu entah mau mencoba bisnis yang lain, atau mungkin mau cari kerja dulu, itu hal lain. Yang jelas, kapanpun saudara saya gagal, maka (terutama) ibunya akan langsung dengan defensif melindungi anaknya. Persis kayak induk banteng saat anaknya hendak diserang singa.
Saya yakin setiap ibu selalu mempunyai best intention toward their children. Mana ada sih ibu yang tidak rela menempuh samudera api untuk menyelamatkan anaknya? Hanya saya jadinya berpikir, di dua kisah diatas, kedua ibu itu (tetangga dan saudara saya) cukup serupa. Mereka menjadi corong pembelaan bagi anaknya, dan selalu menemukan bahwa apapun kemalangan yang menimpa anaknya adalah sepenuhnya salah orang lain atau situasi yang ada. Dan pembelaan ini sangat berapi- api atau mendayu- dayu hingga sampai taraf kesurupan dan nggak ada logikanya sama sekali deh. Ini yang saya sebut, kadang hanya itikad baik saja bukan berarti hasilnya akan baik. Niat ibu itu baik, melindungi anaknya, tapi ya hasilnya anaknya selalu menyalahkan orang lain atas semua kegagalan yang menimpanya.
Saat seorang pria (atau wanita) 20 tahun masih datang kepada ibunya dan mengeluh bahwa teman sekerjanya jahat dan tidak mau mengerti dirinya atau bosnya menyakiti hatinya, dan kemudian ibunya dengan berapi- api ikut menyalahkan teman anaknya dan seketika mengatakan "Iya nak, kamu benar dan mereka yang salah", kok ya jatuhnya jadi terdengar konyol ya?
Namanya orang tua, cinta pada anak itu pastilah cinta yang paling besar di dunia. Kalau bisa, kita ingin menjaga anak-anak kita dalam pelukan kita seumur hidup. Dan kadang, mungkin cinta itu membuat kita buta dari realita. Oke deh, enggak usah yang ekstrim sekali seperti saudara dan tetangga saya itu, tapi saat seorang balita jatuh dan menimpa kursi, dan orang tua dengan maksud menghibur memukul si kursi yang dikatakannya nakal sehingga membuat kepalanya dedek sakit, kok rasanya seperti sedang mengajarkan pada si anak bahwa untuk setiap kejadian buruk yang menimpanya, itu adalah kesalahan pihak lain, bukannya karena si anak kurang berhati-hati saat melangkah.
Kemarin, saya membaca sebuah kisah di Inggris, dimana sepasang orang tua remaja akhirnya menikah saat mereka berusia 25 tahun. Jadi ceritanya, sepasang anak cowok cewek temen sekelas pacaran, dan di usia 14 tahun hamillah si cewek. Kemudian, saat mereka berusia 25 tahun, akhirnya mereka akan menikah, dan mereka sudah mempunyai anak kedua. Saya enggak sedang ingin berdebat masalah hamil di luar nikah atau hidup kumpul kebo, tapi saya terharu saat mendengar jawaban pasangan muda ini disaat seorang reporter bertanya bagaimana mereka bisa berhasil melewati ujian berat dengan mempunyai anak di usia remaja, dan berhasil mempunyai karir yang bagus, dan tetap bersama hingga tahun- tahun selanjutnya.
Menurut si cowok, saat ia mengetahui ceweknya hamil, maka orang tua mereka (setelah days of loathing and mourning), sampai pada keputusan bahwa si cowok ini harus tetap sekolah. Dan sore hari sepulang sekolah, maka si cowok abege ini harus bekerja sambilan untuk mendapatkan uang demi membeli popok anaknya. Jadilah si cowok ini bekerja keras banting tulang plus memeras otak belajar. Dia kehilangan kesenangan yang biasa dinikmati anak abege, jalan- jalan di mall atau main bola misalnya. Sementara si cewek, setelah melahirkan anaknya, harus merawat sendiri anaknya dan tidak bersekolah dulu. Bayangkan anak 14 tahun disuruh bertanggung jawab merawat bayi, sementara teman- teman sebayanya masih cekikikan jalan- jalan sore. Lalu, setelah bayinya mulai beranjak besar, dan si cowok sudah menyelesaikan sekolahnya, gantian si cewek yang mengikuti kursus keterampilan di malam hari. Cowoknya yang berganti merawat anaknya di malam hari, sepulangnya ia dari bekerja di siang harinya. Begitu terus hingga akhirnya mereka bisa hidup dengan mapan, baik cowok dan cewek ini bisa bekerja dan bahkan menyicil rumah.
Menurut si cowok, dia mengucapkan terima kasih tak berhingga pada orang tuanya karena mereka "Telah bersedia menemani sepanjang waktu, membantu kami merawat si bayi dan membantu membiayai kebutuhan si bayi. Tapi sekaligus mereka memaksa kami untuk bertanggung jawab dan menerima resiko dari memiliki anak. Dan akhirnya, kami menjadi pasangan muda yang bertanggung jawab dan mandiri hingga saat ini."
Saya kenal beberapa pasangan yang juga mengalami masalah serupa. Punya anak sebelum menikah. Dan orang tua mereka ada yang melakukan : mengusir anak itu dan tidak bersedia menerima mereka lagi (terserah anak dan bayinya mau mati kek, mau hidup kek) atau sebaliknya, mengambil tanggung jawab sepenuhnya perawatan dan pembiayaan cucu mereka. Sementara ibu si bayi yang anak sekolahan, lenggang kangkung jalan- jalan ke mall kayak nggak punya dosa, karena tidak mau masa mudanya terampas akibat keharusan mengganti popok.
Saya terharu pada orangtua abege Inggris itu, karena mereka mengharuskan anaknya merasakan pahit getir kehidupan yang harus mereka jalani karena kesalahan mereka, tapi sekaligus memberikan uluran tangan agar anaknya mampu melewatinya.
Di Australia, ada semacam tunjangan yang besar untuk para remaja yang hamil, atau istilahnya teen mom. Ini bukan karena pemerintah Australia senang dengan fenomena teen mom ini, hanya karena negara sadar para abege yang mungkin masih duduk di bangku SMP ini masih belum mampu membiayai dirinya sendiri, apalagi anak yang akan dilahirkannya. Masalah si abege ini berdosa, ya biar nanti dia dibakar di neraka, itu urusannya dia sendiri sama yang diatas. Tapi ada bayi tidak berdosa yang akan lahir dan butuh dirawat, dan bayi inilah yang harus dijamin kesejahteraannya.
Tampak baik dan mulia kan? Tapi ternyata, program ini menjadi bumerang. Masalahnya, karena para teen mom ini mendapatkan tunjangan yang lumayan, kebanyakan jadinya tidak melanjutkan sekolah, tidak punya keterampilan untuk bekerja, dan berakhir dengan hidup dari tunjangan pemerintah seumur hidupnya. Dan bayi mereka, banyak juga yang jadinya mengikuti jejak emaknya, hamil saat remaja dan menjadi penerima santunan negara pula. Sampai kemudian akhirnya pemerintah membuat gebrakan, yang disetujui mayoritas penduduk, bahwa santunan bagi para teen mom ini akan dihentikan bila mereka tidak kembali ke sekolah untuk menuntaskan studinya dan kemudian bekerja. Jadi, negara menolong mereka, tapi sekaligus mencambuk mereka untuk bisa berdiri di atas kaki mereka sendiri.
Cinta orang tua saya, adalah hal paling berharga yang mereka berikan ke saya. Saya merasa dicintai unconditionally. Mau nilai rapot saya bagus atau jelek, mau saya dipecat dari kerjaan atau dapat promosi, mereka akan tetap mencintai saya. Saya bahkan tidak pernah merasa dibandingkan dengan adik saya. Tapi, sebagai anak, saya butuh juga hal lain selain cinta. Yaitu dorongan untuk maju, dan bertanggung jawab atas semua keputusan yang saya ambil. Saat saya SD dulu, setiap sore hari emak saya akan mengingatkan saya mengenai PR yang harus saya kerjakan. Namanya anak kecil, kadang saya malas dan menunda mengerjakannya hingga akhirnya saya ketiduran tanpa menyentuh PR saya. Keesokan paginya, bangunlah saya dengan panik dan memohon emak untuk membantu saya mengerjakan PR atau mengijinkan saya pura - pura sakit hingga tidak perlu masuk sekolah. Alih- alih mengabulkan permohonan saya, maka saya akan mendapat tatapan galak dan gebukan di bokong, dan bahkan kalau perlu emak saya akan menyeret saya masuk ke dalam kelas, tempat saya akan menerima hukuman karena lalai mengerjakan PR.
Meskipun dulu saya sebel banget sama emak saya yang menurut saya tidak berperikemanusiaan, tapi sekarang saya menyadari manfaat kesadisannya : saya tidak pernah dengan lebay menceritakan ke emak saya bahwa dunia ini kejam, bos saya psikopat, teman kerja saya memberi pandangan benci ke saya atau segala alasan- alasan tolol atas segala kegagalan dalam hidup saya. Saat tubuh saya membesar, pantat saya bertambah montok dan pinggang saya bertambah ramping (hah, emang saya seksi banget yah), maka pikiran saya juga bertambah dewasa. Dan tidak lagi seperti balita yang marah pada kursi yang sudah membuatnya lecet.
Kata pepatah bule : When life gives you a lemon, make a lemonade.
Bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia: Saat kamu diberi kunyit, buatlah nasi kuning dan pepes ikan.
Dalam bahasa ibu : Saat kamu diberi anak, ajari anakmu bertanggung jawab atas hidupnya, tapi siapkan tangan untuk membantunya berdiri saat terjatuh.
Orang tua teladan, saat Serafim bersusah payah memanjat kursi yang tinggi dengan kakinya yang pendek dan montok, kami membiarkannya naik sendiri. Saat kemudian si genduk jatuh, kami tertawa terbahak- bahak :D
Monday 12 September 2011
My Monday Note -- Hello, knock knock, is there any brain inside??
Suami saya, sejak kami baru mulai pacaran sampai sekarang sudah jadi pasangan paruh baya, selalu punya beberapa teman cewek yang rada istimewa. Oh ya, masalah pasangan paruh baya, kami sadar bahwa kami sudah berubah menjadi sepasang orang tua yang nyinyir adalah di saat sedang menyetir mobil ke kota, dan kemudian melihat seorang anak muda dengan celana jins melorot sampai kelihatan separuh bokongnya yang ditutupi boxer warna- warni, maka saya dan Okhi langsung mengomentari bersahut- sahutan "Waduh keren banget nih si abege," "Gue suka gaya loe," "Cekci banget pantatnya dekkkk." Beberapa saat kemudian saya berkata ke Okhi yang mengangguk mengiyakan "Kita bener- bener udah tua dan nyinyir ya..."
Balik lagi ke teman ceweknya Okhi, biasanya dalam satu masa dia akan punya satu atau dua temen cewek yang jadi favoritnya. Sering chatting atau kadang keluar bareng. Apa saya cemburu dan takut dia berselingkuh? Saya berusaha untuk cemburu, karena memang itu yang sewajarnya saya lakukan bukan? Tapi entah kenapa kok ya saya nggak bisa cemburu tuh. Masalahnya, saya yakin enggak ada cewek waras yang bersedia berselingkuh dengan Okhi.
Nah, setelah saya perhati- perhatikan, kategori teman cewek favoritnya Okhi itu bentuk fisiknya sangat berbeda- beda. Ada yang semontok mentok, ada yang ceking dengan dada C cup, ada yang sederhana dandanannya ala ibu- ibu dharma wanita, dan ada yang trendi dengan stileto hanya untuk datang ke tempat kursus bahasa Inggris. Tapi, yang selalu sama adalah tipenya. Biasanya, Okhi paling senang dengan cewek yang cukup pintar, nyambung kalau diajak ngomong, dan nyantai orangnya. Mungkin untuk pelampiasan, karena dia mendapatkan istri yang rada bloon, kolot dan alot. Plus nggak bisa diajak berlogika.
Nah, sampai suatu ketika Okhi sering bercerita mengenai seorang cewek di salah satu tempat kursusnya. Sebagai catatan, Okhi ikut berbagai les dan kursus tidak bermutu hanya demi meluaskan pergaulan. Kalau saja peserta kursus merenda itu bukan hanya embah- embah peyot, mungkin bakal dijabanin juga tuh tempat kursus. Sebut saja nama si cewek ini Anu (yaelah, bikin nama samaran kok ya Anu, gak kreatif banget). Ganti deh, Ana (lumayan lah). Awalnya sih seperti biasa, Okhi yang memang genit suka menggoda- goda, membuat si cewek tersipu- sipu. Baru satu kalimat ini saja anda pasti sadar cewek ini berbeda dari tipe cewek lainnya. Tersipu- sipu digoda Okhi? Aneh sekali. Lalu Okhi juga pernah mengajaknya makan siang bareng ke Taman Mini, dan dengan tersipu- sipu si cewek berkata "Istri mas nggak marah ta?"
Gara- gara cewek ini, saya sampai dengan gusar berkata ke Okhi "Jangan menggoda cewek yang terlalu naif dan nggak bisa nyadar kalau kamu tuh kudanil genit."
Saat Okhi menggoda cewek semacam Putri saya yang cantik, dan Putri akan memberikan tanggapan hampa "Apa aja Khi. Dasar sableng." maka saya akan membiarkan saja. Tapi menggoda seorang cewek yang bertanya istri mas nggak marah ta? Krrrrrrr. Okhi tentu saja sudah jauh- jauh hari memamerkan rencananya itu ke saya dengan sok berbunga- bunga, dan saya menanggapi dengan dingin "Makan ke Taman Mini terus naik perahu angsa dayung? That's your best plan? Ini mau jalan sama anak umur lima tahun ya?" Makanya saya memperingatkan Okhi, kalau cewek itu tersipu- sipu saat digoda, jangan diterusin. Kasihan anak orang dikerjain.
Cerita punya cerita, sampai sekarang Okhi sih masih berhubungan dengan si Ana ini. Ana sudah tidak pernah tersipu- sipu lagi digoda Okhi, karena Okhi juga sudah kehilangan minat menggodanya. Dan Ana membuktikan, she is one of a kind. Suatu malam, Okhi pulang dari kantor dan mengeluh "Kenapa ada cewek sebodoh itu yaaaaaa...... Aku kayak ngobrol sama anak SD." Ternyata dia habis chatting dengan Ana, dan berakhir dengan cape deeeeh.
Jadi, si Ana ini mungkin umurnya sekitar tiga tahun dibawah saya. Untuk ukuran Jakarta, dia pastinya lebih cantik dari saya. Kulit putih, hidung mancung, rambut panjang, tubuh montok. Tujuan utama dan satu- satunya dalam hidupnya: menemukan suami. Apa ada yang salah dengan tujuan itu? Enggaklah. Kalau tujuannya menemukan istri nah baru aneh. Lesbi ya mbak? Dan apakah susah si Ana ini untuk dapat suami? Harusnya sih enggak. Wong dia lumayan cantik kok bentuknya. Tapi, suami macam apa yang dicari si Ana? Ini kriterianya. Bule. Setia. Pengertian. Kaya. Tampan. Dan Baik Hati. Oya satu lagi, nggak boleh minta seks sebelum kawin. Kata Okhi "Lha mana ada orang kayak gitu?" Saya bilang ke Okhi "Jawab aja gini, kalaupun ada cowok kayak gitu, ya nggak mungkin mau sama kamu."
Bagi saya, ada dua cara mencari suami. Yang pertama ya cara saya. Enggak pasang kriteria apapun, dan kemudian membiarkan saya jatuh cinta pada seorang pria yang juga mencintai saya. Kemudian pacaran. Kemudian selama masa pacaran dipertimbangkan apakah si pacar ini cocok untuk dijadikan suami. Kalau misalnya si Okhi ternyata tukang palak di terminal atau tidak punya ambisi sama sekali dalam karirnya, ya tinggal bilang putus dan cari lagi calon suami lain yang sesuai hati saya.
Cara yang kedua, cari suami dengan menetapkan kriteria terlebih dulu. Ganteng misalnya, atau kaya, atau bule, atau apalah. Itupun menurut saya sah- sah saja. Emang kenapa kalau ada cewek yang pingin punya suami kaya? Wajar dong. Itu namanya cewek realistis. Kalau kriterianya hanya mau dengan cowok miskin yang sampai harus menunggu acara bakti sosial nikah massal untuk bisa ijab kabul, nah itu baru ajaib. Kalau ada cewek baik yang mencari suami yang religius, kenapa enggak boleh ada cewek gaul yang ingin cari suami yang doyan ke pub? Sah- sah saja sih menurut saya.
Hanya, bedanya dengan cara pertama, cara kedua ini berarti cewek itu harus punya strategi dong. Jadinya setengah urusan cinta setengah urusan bisnis. Cari cowok ganteng? Coba ngaca dulu, perhatikan wajah kita dapat nilai berapa, dan kira- kira target yang masuk akal itu yang secakep Brad Pitt atau serupa Arm Pit. Bahkan kalau misalnya wajah kita hanya sedikit lebih mulus dari serabi solo tapi kita ngebet untuk dapat Mas Pitt, ya gimana dong strateginya? Ke gym kek biar bokongnya lebih seksi dari J.Lo, atau ke dukun untuk masang susuk berlian. Langkah berikutnya, tentu saja memikirkan dimana tempat ideal untuk bisa ketemu si cowok cakep, misal di agency modelling atau di Celebrity Fitness. Lalu, pikirkan taktik yang harus dilakukan untuk menarik minatnya.
Rada rumit ya? Itu baru satu kriteria. Kalau cari cowok yang kaya, ya lain lagi strateginya (sori saya juga gak kebayang bagaimana caranya menggaet si kaya. Kalau saya tahu, gak bakal saya kawin sama Okhi).
Nah sekarang kembali ke kriterianya si Ana. Ganteng. Okelah, dia juga lumayan cakep. Kaya. Ya mungkin ketemu kalau mencari di daftar duda yang baru ditinggal mati istrinya. Kalau seorang cowok masih single dan ganteng, kemungkinan dia juga berkocek tebal ya tipis lah. Kecuali gigolo kali ya. Atau anaknya Bakrie. Tapi itu kaya tapi enggak cakep. Walah, mulai rumit. Bule. Nah ini kriteria yang menarik. Saya selalu bertanya- tanya kenapa banyak cewek Indonesia senang punya suami bule tapi tidak banyak cowok Indonesia yang pingin punya istri bule. Tapi okelah, emangnya gak boleh pingin punya suami putih tinggi dengan bulu di dada, punggung, kaki, tangan, bokong (ini ngomongin bule apa simpanse sih?). Dapat bule itu ada untungnya lho, banyak bule disini yang jauh lebih fasih dalam mengganti popok anaknya yang basah daripada si Okhi, dan para bapak bule juga nggak canggung untuk menemani anaknya menari- nari di kelas bermain. Dan yang jelas, dapat bule berarti nggak harus tinggal satu atap sama mertua kan?
Nah, berarti harus dipikir dong gimana caranya ketemu bule. Ya kalau kayak saya tinggal di Australia, lebih gampanglah dapat bule, tetangga sebelah rumah yang sudah saya incar untuk jadi selingkuhan saya juga bule. Tapi kalau kamu tinggal di Jakarta, kerja di perusahaan lokal yang kagak ada rekan bulenya? Selamat berusaha deh. Bisa sih liburan ke Bali, cari bule di pinggir Kuta atau Seminyak. Seksi, cakep, tapi ya gitu, tongpes semua. Saya kan sudah cerita kebanyakan cowok ganteng Aussie yang ke Bali tu paling tukang nambal atap bocor di sini. Mau cari yang kaya? Coba ke Fiji, tempat orang kaya Aussie pada liburan. Duit untuk beli tiket kesana dan untuk menginap di resor mewahnya? Ya namanya cinta, butuh perjuangan dong. Jual rumah kek, atau jual mobil.
Kriteria berikutnya setia. Oh jangan dipikir orang bule tu nggak setia. Tetangga sebelah saya sudah menikah hampir 30 tahun. Tapi memang disini juga ada situs khusus untuk orang yang mau selingkuh, dengan moto "Life's short, have affairs." Kesimpulannya, gak beda cowok Indo atau bule. Kebanyakan kucing garong, tapi ada juga sih yang kucing siam.
Yang terakhir no sex before married. Bagus itu kriterianya. Tapi coba carinya di pesantren saja, atau sekalian di seminari calon pastor. Itu malah aman, seumur hidup mereka nggak mau kok ngeseks. Nyari bule yang kaya yang cakep yang setia dan nggak minta seks duluan, kalau ada satu juga nggak bakal saya kasih ke dia. Mending saya tuker aja sama Okhi yang nggak kaya, nggak seksi, nggak bule, tapi mesum.
Tapi okelah kalau memang Ana menargetkan impian besar itu. Wong saya saja suatu saat ingin dapat nobel dalam bidang fisika. Nah pertanyaannya, apa yang sudah Ana lakukan untuk mewujudkannya? Berkenalan dengan berbagai pria bule lewat internet. Dan langsung terkiwir- kiwir dengan berbagai gemerlap harta yang dipamerkan.
Ana : Aku kenalan sama bule. Dia yang punya toko Mercedes TERBESAR di Melbourne. Mas Okhi tinggalnya di mana?
Okhi : Mercedes mana? Tanyain nama tokonya. Aku tinggal di Glen Waverley, 30 menit dari Melbourne.
Ana : Katanya nama tokonya MERCEDES BENZ. Itu besar nggak mas? Jadi tempat tinggal mas jauh ya dari Melbourne?
Okhi : .......................................
Okhi : Iya, MERCEDES di daerah mana neng? Coba suruh kirim fotonya. Toko mercedez itu segambreng disini.
Ana : mengirimkan foto showroom mercedez tanpa nama toko & kabur (hasil mencomot dari google image, my guess)
Okhi : boleh nggak kubilang kamu kok goblok sih?(Okhi bertanya ke saya)
Saya : Jangan, it's kinda funny. Continue please..... (saya mengambil popcorn dan mulai mengunyah)
Ana : Melbourne itu kabupaten atau kecamatan Mas?
Saya : meringis kesakitan karena jatuh dari kursi gara- gara tertawa terlalu keras
Sebelumnya, Ana, yang sangat bernafsu untuk bisa pergi ke luar negeri bercerita ke Okhi bahwa dia berkenalan dengan seorang pria baik hati dari Perancis yang mengundang si Ana ke tempatnya dan bersedia menanggung semua biaya liburan si Ana ke Perancis. Okhi yang menjadi sangat khawatir, benar- benar berusaha mengingatkan. Saat seorang pria tak dikenal memberikan penawaran sebegitu generousnya, pasti ada udang dibalik batu. Either mau cari selingkuhan, atau mau menculik dan dijual di pasar budak, atau mau dikuliti dan disiram air keras. Menurut si Ana dengan yakin, "Dia itu baik kok Mas. Gak punya maksud apapun..." Hasil penilaian mendalam yang dihasilkan dari selembar foto dan keterangan diri yang dikirim via email.
Bagi saya, kalau memang Ana pingin liburan keluar negeri dan dia tidak keberatan melakukan apapun termasuk menjadi selingkuhan untuk menggapai mimpinya, that's fine. Tapi lagi- lagi kriteria no sex before married nya itu yang bikin kendala. Lha masak ada cowok kurang kerjaan ngasih duit tiket tanpa ada maunya?
Menurut saya, ini bahayanya seorang cewek (dan cowok) yang punya impian untuk hidup enak, kaya, dan sejahtera, tapi tanpa kemampuan untuk mewujudkannya dengan kerja kerasnya sendiri. Plus otak yang dodol juga tidak banyak membantu. Kalau kamu mau kaya, pilihannya jadilah pintar dan bekerja keras ala Paman Gober, atau jadilah seksi dengan stilleto merah menyala dan beredar di lingkungan the have. Saya kemarin baru saja membaca artikel tentang seorang cewek yang memang memilih cara hidup menjadi pacar pria- pria super kaya. I may not agree with her way of living, tapi saya terpaksa mengakui kehebatannya. Dia bisa menggaet para bilioner dengan taktik jitunya (semua dandanan, cara bicara, pub yang dia datangi sampai sekedar pilihan minumannya, semua adalah bagian dari taktik yang dipikirkan dengan matang demi menggaet pacar). Jadi, mencari pacar kaya menjadi profesinya, dan dia serius dalam melakoninya.
Kalau seseorang hanya pingin dapat suami kaya tapi dianya tidak cerdas atau tidak luar biasa cantik, ya bakalan hanya berakhir dengan menjadi calon korban penipuan potensial. Atau paling enggak menjadi object of ridicule yang menghangatkan malam hari yang beku di rumah saya, memberi kesempatan saya untuk terbahak saat mendengar ceritanya.
Terakhirnya, saat kami bersiap untuk tidur saya berkata ke Okhi "Kok aku merasa Ana itu cewek yang hanya mikirin dirinya sendiri yah. Coba, mana pernah sih dia balik bertanya sekedar menanyakan kabarmu misalnya."
Okhi terdiam dan berkata "Iya ya kok aku baru sadar. Dia itu sama sekali lho gak pernah bertanya apa kabarku kecuali nanya aku tinggal di negara mana."
Saya berkata "Ya soalnya kamu enggak kaya, enggak seksi, enggak setia, enggak bule dan mukanya mesum. Ngapain ditanyain?" Dengan masam Okhi membalikkan badan kembali ngorok.
Bahkan, meskipun Okhi itu penjahat, tapi ada saatnya dia benar- benar iba juga pada Ana. Dan berusaha menasehati.
Okhi : Bule itu nggak ada yang kaya raya seperti pemikiranmu lho, kecuali yang konglomerat kayak Donald Trump gitu
Ana : Ih, aku sih nggak mau sama Donald Trump, tua begitu
Okhi : #%^& !#@!# Maksudku enggak ada bule disini yang punya sopir, pembantu. Kecuali mungkin saat dia kerja di Indonesia baru dia terlihat kaya.
Ana : Ih, emangnya gue nggak tahu apa? Ya tahulah. Gue kan gaul sama orang bule juga! Emang gue udik?
Okhi : @#%$^%&*(&
Saya : LOL LOL LOL (tapi sekali ini saya sudah berpegangan jadi nggak gedubrakan terjatuh)
Ana... Ana... you are the perfect example that every mother will point out and tell their daughters "Jangan jadi kayak gitu ya nak. Makanya sekolah yang pintar....."
Pelajaran : kalau anda sebodoh Ana dan mengirimkan chatting setolol Ana ke Okhi, harap disadari bahwa chatting anda akan goes right to my eyes dan menjadi sarana saya untuk bisa tertawa terbahak- bahak. Tapi again, kalau anda sebodoh itu ya anda nggak akan sadar juga kan jadi bahan tertawaan.
Baru sekali ini saya pernah menertawakan orang sebegini kerasnya. Sampai saya merasa bersalah juga sebetulnya. Saya memulai menulis note ini dengan semangat jahat untuk menertawakan seseorang yang dumb at the lowest point. Tapi di paragraf terakhir, saya malahan jadi benar- benar iba pada cewek satu ini. Tanpa kemauan untuk bekerja keras demi masa depannya sendiri, tanpa kemampuan untuk memikirkan strategi bagi masa depannya, tanpa kemampuan untuk berpikir bijaksana, dengan impian tinggal di istana dengan kolam renang di halaman belakang dan kereta kuda untuk mengantarnya berbelanja dengan kartu kredit unlimited milik suaminya....
She is just a poor lost soul. Baby girl, I pity you....
Omong- omong soal kekayaan, saya pernah tercengang saat dulu, di Jakarta, seorang teman cewek sekantor saya yang jomblo menolak saat ia hendak dikenalkan ke seorang pria (dicomblangin ceritanya). Pria yang hendak dikenalkan ke teman saya itu adalah seorang pegawai negeri biasa, baik hatinya tapi ya enggak kaya raya (maklum, namanya bukan Gayus). Alasan teman saya menolak dikenalkan ke pria biasa ini adalah "Aku nggak pingin dapat pria yang nggak mapan. Aku capek hidup miskin Meg....."
Jangan menghakimi bahwa teman saya itu cewek mata duitan. Dia anak tertua dari 6 bersaudara, dan sejak lulus SMU dia bekerja keras demi menghidupi adik- adiknya. Ayah ibunya orang yang tidak mampu. Seumur hidup, dia adalah tulang punggung ekonomi bagi keluarganya. Nah, sekeras- kerasnya batu, ya akhirnya tergerus juga kalau ditetesin air terus- menerus (agak nggak cocok sih peribahasanya, tapi saya sudah terlanjur bangga akan kemampuan sastra saya).
Kata Oprah Winfrey, hidup berkecukupan itu baik, karena kita jadinya tidak hanya memikirkan uang setiap saat, dan bisa memfokuskan diri pada hal lain yang lebih penting dalam kehidupan. Jadi ya hidup berkecukupan itu harus jadi cita- cita semua orang. Tapi tentu saja jangan terjerembab ke level mimpi di siang bolong ala si Ana tersayang, yang berharap ada cowok kaya yang tiba- tiba jatuh dari langit dan meminangnya. Mau kaya ya berarti harus siap kerja keras dan hidup hemat.
Sebelum tidur kemarin malam, saya sempat browsing mengenai Tatts. Tatts ini program undian di Australia, dimana saya beli tiketnya dan bila menang undian bakal dapat 4 juta dolar. Semacam SDSB atau togel kali ya. Komentar si Okhi "Ngapain beli gituan, peluang kamu menang undian hanya satu dibanding sejuta."
Dengan sebal saya memandang suami saya dan menjawab ketus "Makanya aku mau beli lotere ini, karena masih ada peluang jadi kaya meskipun kecil. Lha kalau hanya mengharapkan gajimu, ya mustahil kita bakal kaya sampai kiamat."
Monday 5 September 2011
My Monday Note -- Miss Gunting Pita
Beberapa saat yang lalu, saya melihat tayangan ulang malam final Miss Universe di salah satu chanel TV di Australia sini. Dari yang awalnya iseng, akhirnya saya melanjutkan sampai selesai juga nih acara. Harap maklum, namanya juga ibu- ibu paruh baya pengangguran. Dan saya mau tidak mau teringat juga, bagaimana di Indonesia setiap tahunnya, setiap si Puteri Indonesia bakal beradu di ajang Miss Universe, bakal ada demo huru hara masalah ni eneng bakal pake bikini 2-pieces atau baju renang. Heran juga, gitu aja heboh. Kalau Puteri Indonesia di catwalk hanya pakai beha sama celana dalam katun rombeng bolong kayak saya, nah baru dong heboh. Miskin amat sih.
Eniwei, saya sih tidak berminat berdebat masalah bikini. Pendirian saya sudah jelas: menolak dengan tegas cewek manapun yang berusia dibawah 40 tahun untuk memamerkan tubuhnya, entah di catwalk atau di pantai. Baju yang baik itu ya paling enggak seperti yang saya pakai, menutup paha biar selulit dan stretch-mark di paha nggak kelihatan, berlengan 3/4 biar lengan yang melorot dan kulit ketiak yang menghitam tertutupi. Nah, kecuali ceweknya punya paha sebesar batang pohon jati dan setua embah saya, baru deh saya akan legowo membiarkannya berlenggang dengan bikini. Saya ini lagi pingin iseng menulis masalah kriteria untuk menjadi seorang Puteri atau Miss.
Kalau ada ajang olimpiade fisika atau matematika, sudah jelas deh kriteria yang akan dipakai untuk menentukan pemenang. Kasih saja para peserta soal fisika, dan siapa yang bisa jawab paling benar adalah pemenangnya. Atau kalau ajang lomba debat, siapa yang bisa memberi logika paling masuk akal, dan argumennya bisa mematahkan argumen peserta lain, dialah pemenangnya. Bila misalnya suatu saat ada ajang Miss Bikini, walaupun saya akan menontonnya dengan mulut melerot- melerot karena dengki, tapi ajang itu juga jelas kan kriterianya Ya tinggal lihat siapa yang paling aduhai dalam balutan bikini, lingkar pinggang maksimum 20 cm, dada minimum 36 D, kaki sepanjang jerapah mutan, ya dialah pemenangnya. Dan bahkan kalau ada ajang pemeran sinetron paling ciamik, kriterianya cukup mudah. Siapa yang kalau menangis paling berurai air mata, kalau marah paling lebar melototnya dan selalu ingat untuk berkacak pinggang, ya dialah Miss Sinetron kita.
Tapi kontes Miss atau Puteri, bagaimana kriterianya? Kata panitianya, bego amat sih pertanyaan saya. Kan sudah jelas semboyannya : 3B; Brain, Beauty, Behaviour. Kata seorang ibu petinggi dengan rambut disasak setinggi sarang tawon, seorang Puteri adalah wanita yang seimbang, memiliki kepandaian dan kecerdasan, kecantikan fisik dan perilaku yang menawan. Buset deh, keren banget yah kriterianya. Mendengar komentarnya si ibu sarang tawon, baru saya benar- benar paham arti 3B, setelah selama ini salah kaprah 3B= boobs, butt, botox. Maaci ya ibu sarang tawon atas pencerahannya....
Kalau mencari contoh seorang perempuan pintar, mungkin paling gampang ya comot saja Ibu Sri Mulyani atau anak- anak didiknya Yohanes Surya yang sedang ditempa menjadi calon penerima Nobel. Kalau cari yang cantik wajah dan bodinya, ya buka- buka saja majalah Playboy. Sudah cantik, pemalu lagi. Pasang wajah malu- malu sambil membentangkan paha lebar- lebar. Kalau cari yang baik perilakunya, mungkin yang semacam Bude saya yang rajin ikut pengajian atau Ibu Pendeta saya yang menyebut Tuhan dalam setiap tarikan nafasnya.
Sekarang kriteria pertama, Brain. Jreng jreng, mari kita tampilkan Miss Sri. Dan dia diberi pertanyaan standar kontes miss- miss an. "Bagaimana pendapatmu tentang masih adanya negara- negara yang sangat miskin?" Setelah berdehem singkat dengan wajah serius, Miss Sri akan menjawab "Kriteria kemiskinan sebuah negara bisa dilihat dari angka kematian anak dan pendapatan per kapita, dan cara paling efisien untuk membantu adalah dengan melebarkan pasar negara tersebut. Dengan kemampuan berdiri di atas kakinya sendiri, kita memberikan pancing dan bukannya hanya menggelontor ikan terus menerus. Itulah sebabnya community trade adalah salah satu jawabannya, dan tanggung jawab para negara kaya untuk melebarkan community trade."
Pada akhir ceramah singkat Miss Sri, jurinya, sama seperti suami saya si Okhi saat membaca note ini, akan bengong nyaris stroke. Dan semenit kemudian baru dengan gelagapan berkata "Um, menarik sekali Miss Sri, ummmm, yah sangat menarik mengenai ummm, komuni um, yah mengenai itulah. Ummm, mari sekarang kita dengarkan jawaban berikutnya dari Miss Udin."
Dengan senyum terkembang, mata berkaca- kaca dan tangan merapikan rambut panjang tergerai, Miss Udin menjawab "Saya sangat tersentuh karena masih banyak negara yang penduduknya terlilit kemiskinan. Itu menjadi tanggung jawab kita bersama untuk membantu mereka, terutama anak- anak kecil," dan kemudian melemparkan senyuman manis ke penonton sambil mengusap setetes air mata yang jatuh karena terharu (terharu karena dia akhrinya bisa dengan selamat mengucapkan kalimat panjang dalam bahasa Indonesia).
Para juri (termasuk ibu sarang tawon) akan ikut mengusap air mata dengan sapu tangan atau ujung dasi mereka. Setelah terdiam selama semenit, maka dengan suara bergetar bu tawon akan berkata "Kepedulian semacam inilah yang kita harapkan dari seorang Puteri. Benar- benar berhati mulia"
Beralih ke kriteria Beauty, maka marilah kita coba menjajarkan para Playmates dan Girls Next Door dari majalah Playboy (buset, hebat juga ya saya hafal istilah- istilah di Playboy) di catwalk. Siapa sih yang meragukan kecantikan dan kesemlohaian mereka. Sampai tiba saatnya acara melenggang dengan baju tradisional. Begini kata pembawa acara: Berikutnya, Miss Playgirl Bulan Maret. Lihatlah betapa cantiknya dia, rambutnya berkibar lembut, kulit sehalus sutera, dan tampak anggun dalam balutan kebaya. Loh loh ngapain si Miss? Yah dia keserimpet kain kebaya. Maklum pemirsa, Miss ini terbiasa pakai celana lebih pendek dari kaosnya. Loh, kok dia membuka kancing kebayanya? Nah lho, sekarang dia duduk di pangkuan bapak juri. Gimana sih ni eneng, jadinya acaranya terpaksa diberi label 17 tahun keatas dong! Coba bandingkan dengan Miss Udin, yang dengan gemulai berjalan dengan langkah kecil, pinggangnya ramping dalam balutan kebaya. Hmhm....
Kriteria terakhir, Behaviour. Bu pendeta saya pasti termasuk wanita dengan perilaku paling terpuji, karena dia enggak pernah lupa berdoa sebelum makan dan tidur, enggak pernah ngrasanin orang, dan amit- amit jabang bayi kagak pernah misuh dan nyumpah- nyumpahin orang. Kemudian sang juri bertanya "Jadi Miss Pendeta, sebutkan kenapa anda layak menjadi Puteri?" Dengan sangat santun, Miss Pendeta akan menjawab "Saya tidak memiliki kehebatan dan kelebihan, semua yang terjadi pada hidup saya semata pada anugerah dari sang Pencipta. Dialah yang berhak menerima segala sanjungan atas segala keberhasilan dan kesempurnaan hidup saya."
Setelah semenit memeras otak, bu sarang tawon akan menjawab "Um, sangat menarik Miss Pendeta, ummm, hanya masalahnya agak sulit untuk memasangkan selempang Puteri pada Sang Pencipta, ummm, Beliau enggak mau melenggang di catwalk sih... Oke, mari beralih ke Miss Udin."
Maka menjawablah Miss Udin "Saya sangat ingin menjadi Puteri karena saya sangat mencintai this beautiful city, dan saya ingin menyumbangkan kemampuan saya untuk mengiklankan this beautiful city ke seluruh dunia ! Merdeka!" (Masalah saya nggak hafal lagu kebangsaan dan nggak tahu siapa penciptanya, itu kan hanya masalah kecil, yang penting saya cinta this beautiful city! Yeah! Saya sudah tiga tahun lho hidup disini!)
Untuk pemenang Miss Brainy, maka terpilihlah Miss Sri. Untuk pemenang Miss Behaviour, terpilihlah Miss Pendeta. Untuk pemenang Miss Beauty, terpilihlah Miss Playgirl Bulan Maret. Tapi dunia ini adil. Bagi mereka yang tidak sepintar Miss Sri tapi sedikit lebih tinggi, lebih cantik dan lebih lebay (aka Miss Udin), maka ia berhak menyandang gelar Puteri. Bagi mereka yang tidak seseksi dan secantik Miss Playgirl Bulan Maret tapi sedikit lebih pintar untuk tahu Indonesia is a beautiful city (aka Miss Udin), maka ia berhak menyandang gelar Puteri. Bagi mereka yang tidak sereligius Miss Pendeta tapi lebih luwes menyalami tangan Pak Menteri yang akan menggunting pita dan bisa dengan anggun bercakap- cakap dengan Direktur PT. Angin Ribut yang menyeponsori acara (aka Miss Udin), maka ia berhak menyandang gelar Puteri. Kesimpulannya: Puteri = kombinasi dari PUNYA otak, PUNYA wajah dan bodi, PUNYA perilaku luwes.
Bukan karena di kontes itu ada acara berlenggang dengan bikini yang tidak sesuai dengan budaya bangsa (correct me if I'm wrong, tapi bahkan banyak suku di Papua yang wanitanya bahkan nggak pake beha kan yah? Dan sampai saat ini Papua masih masuk wilayah NKRI kan?) makanya saya tidak menganggap serius kontes ini, tapi karena konsep penjuriannya. Menilai sesuatu yang tidak bisa diukur dengan kriteria bermacam- macam. Makanya saya lebih tertawa lagi saat membaca kontes Muslimah Beauty di salah satu kolom berita online (maksudnya harus tetap terlihat cantik walau pake jilbab gitu? Kalau elu Muslimah yang cantik hatinya, nggak pernah lupa sholat tapi jelek mukanya ya tetep kelaut aje deh). Kalau kontes Puteri hanya mencoba mencari unsur wanita yang sempurna secara duniawi, maka kontes kecantikan dengan embel- embel agama lebih hebat lagi, mencari wanita sempurna dunia akhirat. Wow, hilarious!
Di negara lain malah ada kontes Istri Teladan. Huahahaha, ini lebih lagi, gimana penilaiannya yah? Anggun di luar rumah, tapi kinky di atas kasur? Oh yeah! Gape menggunakan panci untuk masak ayam tapi juga se-hot kompor saat menari striptis di depan suami? Itu sebabnya saya bukan istri teladan. Saya kinky dan pake tank top ketat di pom bensin saat membayar tagihan ke pemilik pom yang bule ganteng (kali- kali dapat diskonan dan dapat selingkuhan baru), tapi saya seanggun biarawati dengan celana dobel- dobel plus daster gedombrongan saat di dalam rumah.
Nah nah, saya jadi jahat sekarang, pasti karena dengki. Jangan dikira para kontestan Miss- miss an itu bego- bego lho. Seorang Miss Filipina, saat ditanya juri berapa jumlah pulau di Filipina, punya jawaban yang sangat jitu "In a low tide or high tide?-- Saat pasang naik atau pasang surut?" Wuhui, saya sampai tergelak mendengarnya. Dibandingkan dia, saya benar- benar nggak ada apa- apanya. Anda nggak ngerti kenapa saya anggap jawaban itu keren? Yah nggak papa. Nggak semua orang dibekali talenta kepandaian geografi dan ilmu alam kok. Saya hanya berharap anda menemukan kebahagiaan saat bercermin.
Balik lagi ke kontes Puteri, seperti saya bilang tadi, saya kagum pada pemenangnya seperti Artika Sari Devi. She is really something yah. Again, saya tidak punya masalah dengan kontestannya, saya hanya geli dengan kriteria kontesnya. Tapi saat seorang cewek yang nggak gape bahasa Indonesia, yang kagak tahu siapa pengarang lagu Indonesia Raya, yang mengira Indonesia is a beautiful city, dan si cantik ini yang terpilih menjadi Puteri Indonesia, nah, saat itu saya jadinya jatuh iba pada bangsa saya. Coba dengar alasan kenapa dia terpilih (disampaikan oleh pihak penyelenggara): "Karena si Udin ini punya peluang menang di kontes Miss Universe, karena wajah dan bentuk tubuhnya memenuhi selera internasional."
Saya sampai membaca berita itu beberapa kali, karena saya pikir saya salah membaca berita yang sebetulnya dilansir departemen pertanian dan peternakan. "Kami memilih mengimpor sapi jenis Udin karena bentuk fisiknya memenuhi selera pasar internasional. Masalah sapi Udin kagak pinter sejarah Indonesia dan kagak gape ngoceh bahasa Indonesia, ya kan dia sapi, jadi nggak harus pinter dong, asal bisa bilang moooooooooo."
Emang apa urusannya coba kita harus mengikuti keinginan dunia internasional? Ini pasti si penyelenggara salah membaca tren mengenai keharusan Indonesia untuk mengikuti standar internasional. Untuk sapi Indonesia, standarnya adalah bentuk fisik; berat badan, ukuran paha dan kemontokan susu. Sementara untuk manusia Indonesia yang diimpor alias TKI, yang harus memenuhi standar internasional adalah kemampuan profesionalnya either sebagai perawat atau tukang bangunan. Emangnya kulit saya yang coklat, hidung saya yang pesek dan rambut saya yang hitam (yang merupakan ciri mayoritas cewek Indonesia) lebih medioker dari kulit putih rambut pirang hidung mancung para bule? Kalau orang negara lain menganggap hidung pesek itu jelek, ya udah pusing amat. Minder amat sih jadi bangsa. Wong cowok bule aja pada kesengsem sama cewek Indonesia kok buktinya, yang menurut mereka seksi dan eksotis.
Nah, banyak orang yang mengutuk keras kontes puteri-puterian yang dianggap merendahkan derajat wanita. Salah satu argumennya, kenapa nggak ada kontes sejenis untuk pria? Kenapa nggak ada deretan pria yang disuruh melenggang hanya pakai celana thong dengan kantong di depannya? Kalau saya sih enggak segitunya merasa ini acara diadakan untuk merendahkan derajat wanita. Acara ini hanya keniscayaan hukum marketing, dimana ada demand, banyak iklan bisa digapai, ya acara ini akan diadakan. Sama alasannya dengan kenapa sinetron kacangan dengan hantu- hantu kesurupan sebagai pemerannya masih terus beredar di tipi- tipi.
Lha kenapa nggak ada kontes untuk pria lho? Saya sih mengaca saja dari pengalaman di rumah tangga saya. Saat acara para miss melenggang dengan bikini atau baju tradisional, saya akan menonton dengan hati senang. Kok bisa? Pernah baca pepatah saat seorang wanita bertemu dengan sepasang pria dan wanita, siapa yang akan dipedulikan si wanita? Bukan si pria, tapi wanita lain. Wanita lebih senang memperhatikan baju wanita lain, membandingkan bentuk badan, dandanan dan kecantikan. Jadi prianya akan diabaikan saja. Hanya mobil ferari nya yang akan menarik perhatian si wanita. Sementara bagi Okhi, ribuan pria dihadapannya akan lenyap saat ia terfokus pada seorang wanita yang rambut panjangnya disibakkan ke satu sisi dan dengan anggun menyilangkan kakinya saat duduk.
Di Australia pernah ada survey tentang kapan seorang pria atau wanita tampak paling seksi di mata lawan jenisnya. Bagi kaum pria, wanita tampak paling seksi saat telanjang bulat atau dengan balutan baju mini dan tipis (kok saya nggak heran ya baca hasil survey ini?). Nah ini yang lucu, bagi kaum wanita, pria tampak paling seksi bukan pada saat dia hanya pakai celana dalam mini atau celana renang, tapi pada saat ia berpakaian jas rapi dengan sepatu mengkilat. Hoho, aneh ya? Menurut survey itu, karena pada saat itu seorang pria akan tampak sangat mapan dan berkharisma, and that's gentlemen, kriteria seksi di mata wanita. Saya percaya sih survey ini, karena bila ditanya siapa pria paling seksi di Australia, saya akan menjawab Karl Stefanovic, pembawa acara berita yang selalu tampil rapi dengan jas dan dasi yang tampak mahal dan mapan. Saya mungkin malah rada geli kalau melihat si Karl melenggang di atas catwalk dalam balutan celana renang motif macan tutul. Hiiii, pasti penderita sifilis.
Saat ada parade wanita cantik, TV rumah kami akan memasang channel itu karena saya tidak akan keberatan melihatnya (seperti saya bilang, wanita suka memperhatikan wanita cantik lainnya) dan Okhi akan menonton dengan air liur menetes. Saat ada parade pria dengan celana dalam mini, saya mungkin akan cukup senang melihatnya, hanya akhirnya memilih mengganti saja channel TV ke acara masak memasak bersama Rudi Choirudin karena sebal mendengar suami saya yang tanpa diragukan lagi akan berkicau mengomentari bahwa kontestan cowok yang ini sudah pasti gay, yang itu kayak gigolo, yang ono kayak banci taman lawang, and so on and so on. Di mata suami saya, semua cowok yang seksi dan ganteng itu adalah gay yang gigolo. Dasar homofobic pendengki. Jadi sudah jelas kan kenapa acara Mister Universe tidak akan pernah sesukses Miss Universe?
Muter- muter ngalor ngidul terus maunya saya gimana sih? Terus diadakan atau dibubarkan saja nih ajang kontes- kontesan? Hahaha, emangnya ngefek ya apa yang saya inginkan? Bagi saya, kalau dibilang acara itu tidak sesuai budaya bangsa, merendahkan derajat wanita, meruntuhkan moral bangsa dan pesertanya mending pada dibakar saja, ya bagi saya itu lebay bajaj namanya. Kalau acara tidak bermutu memang mau dibubarkan, mendingan bubarkan dulu tayangan infotaiment dan sinetron hantu ngepel sambil keramas. Bukan hanya merendahkan derajat wanita yang hidup, acara itu juga merendahkan derajat para wanita sesudah meninggal. Masak yang jadi hantu kelayapan kurang kerjaan dan berpunggung bolong itu 90% wanita? Berarti wanita diklaim lebih banya dosanya dong, sampai pintu neraka dan surga tertutup dan terpaksalah arwah para wanita itu jadi tukang ronda kuburan?
Masalah meruntuhkan moral bangsa, halah masak ya foto seorang Miss Udin dalam bikini two-pieces bisa dianggap bertanggung jawab atas maraknya korupsi dan perselingkuhan dan sexting di seantero Indonesia? Foto- foto koleksi suami saya di laptopnya saja jauh lebih aduhai dari foto si Miss Udin. Itu namanya, menuduh seekor cicak sebagai penyebab binasanya moral sekawanan gajah. Acara miss- miss an hanya saya anggap acara untuk senang- senang doang, bukan perusak budaya bangsa, tapi juga lebay kalau disebut diadakan untuk menginspirasi wanita Indonesia (menurut pihak penyelenggara). Saya menganggap acara ini adalah sekedar ajang pencarian gadis sempurna untuk acara menggunting pita peresmian pembukaan mall baru.
Subscribe to:
Posts (Atom)
