Saya bertetangga dengan sebuah keluarga, ayah ibu dan dua anaknya. Si sulung adalah anak laki- laki yang seumuran dengan adik saya. Dan si bungsu lebih muda dari adik saya. Jadi, kakak beradik ini lebih muda dari saya. Huf, memang logika matematika saya paling yahud.
Nah, gosip mengenai keluarga ini, selalu berkisar tentang kedua kakak beradik tadi. Si adik, bersekolah di suatu SMU. Kemudian, saat kenaikan kelas dari kelas 1 ke kelas 2, dia tidak naik kelas. Lalu si adik meminta pindah sekolah. Alasannya, karena gurunya pada tidak becus mengajar. Plus gurunya pilih kasih, dan tidak suka padanya. Jadi, dia tidak naik kelas semata karena kebegoan bapak dan ibu guru yang tidak gape mengajar dan pilih kasih. Orang tuanya mengangguk- angguk setuju. Di SMU yang kedua ini, tak berapa lama kemudian si adik minta untuk dipindahkan lagi ke sekolah lain. Alasan dia minta pindah lagi setelah itu adalah karena di SMU kedua, teman- temannya jahat sama dia, tidak ada yang mengerti dia, dan menertawakan dia. Orang tuanya mengangguk- angguk setuju.
Lalu soal si kakak cowok. Si kakak ini karena tidak lulus UMPTN akhirnya kuliah di salah satu universitas swasta di Surabaya, jurusan teknik mesin. Itu jurusan pilihannya sendiri. Kemudian dia minta pindah ke Malang karena merasa jurusannya tidak cocok. Orang tuanya mengangguk- angguk setuju. Maka pindahlah si kakak ke salah satu universitas di Malang. Tidak sampai setahun disana, dia minta pindah. Alasannya? Malang terlalu dingin untuk tubuhnya yang sensitif. Dia tersiksa kedinginan kalau malam hari. Orang tuanya mengangguk- angguk setuju.
Saat mendengar gosip tentang tetangga saya ini, ya saya jadinya mengerutkan kening. Lalu saya bertanya pada trio sumber gosip saya (adik, emak dan pembantu saya). Gimana sih ceritanya kok dua anaknya semua bermasalah di sekolah? Menurut sumber gosip saya (yang berbincang panjang lebar dengan ibu kedua kakak beradik itu), masalahnya adalah ibunya percaya dan menelan mentah- mentah semua keterangan anaknya.
Saat si adik tidak naik kelas dan minta pindah, ibunya dengan seketika setuju dengan pendapat si anak bahwa iya benar dia tidak naik kelas karena kebodohan gurunya. Mungkin memang iya sih. Tapi saya bertanya- tanya kenapa si ibu tidak berusaha menggali lebih lanjut, bertanya ke guru dan ke teman si anak misalnya. Salah seorang anak tetangga saya, ternyata teman sekelas si adik di SMUnya yang pertama. Dan menurut temannya, memang si adik itu tidak bisa mengikuti pelajaran (SMU nya adalah SMU yang bagus dan diisi anak-anak pintar). Mungkin situasinya seperti kalau saya disuruh sekelas dengan para pemenang medali emas olimpiade sains. Okelah mungkin memindahkannya ke SMU lain yang lebih rendah kualitasnya adalah solusi yang masuk akal, tapi mengiyakan alasan si anak bahwa gurunya bego dan pilih kasih, apakah bijak? Plus, kalau saja orang tuanya mengerti bahwa anaknya mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran, kan mereka bisa melakukan tindakan pertolongan, semisal mengikutkan les privat atau bagaimanalah.
Lalu di SMU kedua, saat dia mengadu bahwa teman- temannya jahat hingga ia tidak betah? Oke, saya mencoba mengerti karena anak SMU itu memang bisa sangat kejam, dan tidak semua anak memilih menggunakan kepalan tinjunya untuk menyelesaikan masalah teman yang kejam ini (saya jadi ingat saat saya adu pukul dengan seorang anak cowok teman saya SMP). Jadi memindahkan sekolah bisa jadi solusi yang masuk akal untuk menghindari bullying ini. Tapi apakah orang tuanya sudah berusaha menggali lebih dalam apa alasan sebenarnya, mencari dari sumber lain selain keterangan si anak misalnya? Nah, lagi- lagi ada satu anak tetangga yang satu sekolah dengan si adik di SMU kedua. Jadilah si anak ini ditanya oleh para sumber gosip saya, sebetulnya kenapa sih si adik minta pindah? Apa memang teman- temannya jahat?
Menurut temannya, si adik ini selalu merasa yakin bahwa dia berbakat untuk menjadi model. Masalahnya adalah, bentuk fisik si adik ini, well, how to write it nicely yah, um, let just say tidak semenarik Giselle Bundchen atau Nadine Chandrawinata. In fact, bahkan saya bisa bilang bahwa dia bahkan lebih less attractive dari saya. Memang muka saya mirip homo sapiens yang belum berevolusi sempurna dan kulit saya penuh bercak- bercak jerawat, but at least I have flat tummy and slim waist gitu lho. Nah si adik ini gemuk, pendek, item dan buntek. Apa saya merasa bahwa mereka yang item, gemuk, pendek itu berarti lebih jelek dari yang putih langsing tinggi? Enggak, sama sekali enggak. Wong saya juga item dan pendek dan jerawatan. Hanya, di dunia modelling, bukannya seorang model diijinkan untuk tidak berotak tapi HARUS langsing dan tinggi? Kalau memang kita tidak masuk kategori itu, ya find other path, right? Sama seperti saya sudah tidak bermimpi masuk tim ahli riset nuklir, karena meskipun wajah saya sudah seperti korban Fukushima, tapi otak saya hanya mampu memikirkan bagaimana memotong kuku kaki yang berjamur.
Namanya anak SMU, saat ada temannya yang item buntek dan pendek tapi sangat pede bahwa dia berpotongan model, what will they do? Ya tentu saja menertawakan, dan yang lebih jahat, membenarkan si adik ini. "Iya dik, kamu memang cocok banget jadi model. Gila seksi banget lho kamu tu, kalau ikut lomba baju renang pasti menang." Dan di belakang si adik ini, mereka akan tertawa terbahak- bahak dan berkata bahwa iya si adik akan menang lomba baju renang, kalau lawannya kudanil yang lupa minum pil diet.
Nah, kalau saja si ibu bersedia menggali sedikit lebih dalam, dia akan menemukan permasalahan yang mendasari tingkah jahat teman- teman si adik. Dan akan menyadari 'there is something wrong with my kid'. Tapi tentu saja hal itu bisa dibilang mustahil. Kenapa? Karena sebetulnya si adik ini sejak SMP sudah sangat bernafsu menjadi seorang model. Dan ikut berbagai lomba. Dan selalu kalah. Kalau saya jadi orang tuanya, saya mungkin juga berada dalam dilema. Bagaimana caranya membuat anak saya sadar bahwa modelling bukan jalannya, tapi itu bukan berarti dia kalah cantik dari para pemenangnya? Hanya saja dunia modelling punya kriterianya sendiri, dan jalan bagi si anak ini adalah jalan lain yang akan lebih baik dari modelling. Saya membayangkan bahwa kalau saya jadi ibunya, memang dilema besar untuk menyadarkan si anak 'kamu tidak masuk kriteria di dunia modelling'. How to say it correctly agar anak saya tidak putus asa dan malah merasa minder dengan bentuk fisiknya?
Yang dilakukan si adik, setiap dia kalah lomba, dia akan marah-marah menyalahkan ibunya yang tidak bisa membelikan kostum yang lebih bagus atau karena tidak bisa menyekolahkan dia ke sekolah model ternama. Dia tidak bisa menerima bahwa itu karena bentuk fisiknya yang tidak masuk kriteria. Wajarlah, namanya anak kecil. Apa yang dilakukan si ibu? Minta maaf dengan mengiba-iba pada si anak, membenarkan bahwa si anak kalah karena kostumnya tidak sebagus yang lain, dan berjanji untuk menyisihkan lebih banyak uang untuk mengirim si anak ke sekolah modelling. Doh.
Lalu, kisah yang lain, saya punya saudara yang kira-kira seumur dengan saya. Setelah lulus kuliah, saya perlahan menapaki karier saya, dimulai dari pekerjaan yang membuat saya sering pulang jam delapan malam, dengan gaji hanya sejuta limaratus. Sementara saudara saya, menganggur beberapa lama, kemudian melakukan berbagai bisnis Geje, kemudian luntang lantung nggak jelas, hingga kemudian seorang Pakde saya membantunya mendapatkan pekerjaan di perusahaan tempat Pakde saya bekerja. Hanya beberapa saat, saudara saya itu mengundurkan diri dari pekerjaannya, yang dianggapnya tidak cocok dengan dirinya dan bosnya terlalu galak. Kami mendengar kisah ini dari ibunya, yang dengan penuh perasaan menceritakan betapa anak kesayangannya disia- sia di pekerjaannya, betapa bos nya sangat tidak berperi kemanusiaan, dengan sadis merobek- robek kertas hasil pekerjaan saudara saya itu, dan melemparnya ke wajah saudara saya.
Saat mendengar kisah itu, saya rada mengerutkan kening. Ini saudara saya menjadi karyawan di kantor atau jadi budak bangsawan arab abad pertengahan sih? Kok segitunya si bos. Sebagai seorang ibu, mungkin bisa dimaklumi bahwa hatinya mendidih dong mendengar anak kebanggaannya diperlakukan dengan semena- mena. Karena emak saya bukan ibunya dia, jadi emak saya enggak sebegitu emosi jiwa, dan kemudian bertanya pada Pakde saya, kok bisa sih si bos sekasar itu sama saudara saya? Jawabannya si bos (yang ternyata malu hati juga karena lepas kendali padahal biasanya selalu tenang), karena kejengkelannya sudah memuncak, karena saudara saya itu sama sekali nggak becus kerja, dibilangin bolak- balik kagak ngerti juga. Nah, gimana dong kalau sudah begini?
Setelah keluar dari kantor itu, saudara saya kemudian memulai petualangannya dengan berbagai pekerjaan dan selalu diakhiri dengan kisah dia keluar dari pekerjaannya karena : tempatnya nggak enak, bosnya jahat, gajinya kecil, temannya tidak menghargainya. Dan ibunya selalu yang mengisahkan ke kami dengan raut wajah terpukul. Terus terang saya agak bertanya- tanya, karena saya tidak bisa mengingat kapan terakhir kalinya saya mengadu ke emak saya bahwa teman kerja saya jahat atau bos saya tidak pengertian. Rasanya sejak SMA saya sudah tidak pernah lagi deh mengeluh akan hal- hal lebay semacam itu. That's life. Live it or just leave it.
Kemudian saudara saya mencoba berbisnis. Dia meminta uang dari orang tuanya untuk modal berbisnis. Dan kemudian meminta uang lagi. Dan lagi. Dan tidak ada hasilnya. Jangan salah sangka, saudara saya itu bukan anak nakal. Jadi uang yang dia minta juga bukannya untuk mabuk-mabukan atau beli putaw. Dia anak baik- baik. Hanya uang itu ia gunakan tidak dengan bijaksana. Salah satu contoh bisnis saudara saya ini adalah berjualan tanaman hias jenis apa sih namanya, gelombang setan? Pokoknya jenis tanaman ini pada pada satu masa harganya gila-gilaan, bisa mencapai ratusan juta. Saudara saya itu membeli banyak sekali bibit si gelombang setan untuk dikembangkan (membelinya juga dengan harga tinggi) dengan harapan nantinya satu tanaman bisa dijual dengan harga puluhan juta. Dia menanamkan seluruh modalnya hanya setelah membaca majalah semacam Trubus. Emak saya yang petani, sudah pernah memperingatkan bahwa harga tanaman yang melambung gila-gilaan hingga menyentuh ratusan juta rupiah itu hanya permainan para pedagang. Dalam sekejap, harga si gelombang setan akan kembali ke level normal. Benar saja, belum sampai si bibit setan bisa dijual, demam itu mereda. Dari sebuah tanaman eksotik, si gelombang setan kembali menjadi tanaman hias biasa. Duit modal melayang, saudara saya langsung meminta uang lagi, untuk bisnis lainnya. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung.
Yang menjadi masalah, orang tuanya terus memasok uang setiap saat anaknya meminta, hingga pada titik berdarah-darah. Mereka menjual sawah warisan, membongkar tabungan pensiun. Setiap ada saudara yang dengan prihatin menanyakan apakah memang bisnis ini akan menghasilkan (mengingat mereka berdua sudah sepuh, sakit-sakitan, dan seharusnya uang pensiun dan sawah itu untuk persiapan hari tua mereka), sang ibu menjadi sangat sensitif dan segalak macan. Dengan berurai air mata dia akan menuduh kami-kami ini tidak sayang pada anaknya, tidak peduli, tidak ingin anaknya sukses.
Saya bukannya hendak membahas soal bisnis. Sayapun mungkin tidak akan pernah bisa menjadi pebisnis yang sukses. Tapi melihat saudara saya menggelontorkan uang dengan mudah ke satu usaha tanpa perhitungan matang, dan kemudian gagal, dan tanpa belajar dari pengalaman itu langsung terjun ke usaha geje lainnya dengan modal besar lagi, saya ya rada terpana. Kalau saya jadi orang tuanya, setelah kegagalan yang pertama mungkin saya akan mengajak si anak duduk dan merapatkan hal tersebut. Kenapa bisnis itu gagal? Kalaupun hasil rapat itu entah mau mencoba bisnis yang lain, atau mungkin mau cari kerja dulu, itu hal lain. Yang jelas, kapanpun saudara saya gagal, maka (terutama) ibunya akan langsung dengan defensif melindungi anaknya. Persis kayak induk banteng saat anaknya hendak diserang singa.
Saya yakin setiap ibu selalu mempunyai best intention toward their children. Mana ada sih ibu yang tidak rela menempuh samudera api untuk menyelamatkan anaknya? Hanya saya jadinya berpikir, di dua kisah diatas, kedua ibu itu (tetangga dan saudara saya) cukup serupa. Mereka menjadi corong pembelaan bagi anaknya, dan selalu menemukan bahwa apapun kemalangan yang menimpa anaknya adalah sepenuhnya salah orang lain atau situasi yang ada. Dan pembelaan ini sangat berapi- api atau mendayu- dayu hingga sampai taraf kesurupan dan nggak ada logikanya sama sekali deh. Ini yang saya sebut, kadang hanya itikad baik saja bukan berarti hasilnya akan baik. Niat ibu itu baik, melindungi anaknya, tapi ya hasilnya anaknya selalu menyalahkan orang lain atas semua kegagalan yang menimpanya.
Saat seorang pria (atau wanita) 20 tahun masih datang kepada ibunya dan mengeluh bahwa teman sekerjanya jahat dan tidak mau mengerti dirinya atau bosnya menyakiti hatinya, dan kemudian ibunya dengan berapi- api ikut menyalahkan teman anaknya dan seketika mengatakan "Iya nak, kamu benar dan mereka yang salah", kok ya jatuhnya jadi terdengar konyol ya?
Namanya orang tua, cinta pada anak itu pastilah cinta yang paling besar di dunia. Kalau bisa, kita ingin menjaga anak-anak kita dalam pelukan kita seumur hidup. Dan kadang, mungkin cinta itu membuat kita buta dari realita. Oke deh, enggak usah yang ekstrim sekali seperti saudara dan tetangga saya itu, tapi saat seorang balita jatuh dan menimpa kursi, dan orang tua dengan maksud menghibur memukul si kursi yang dikatakannya nakal sehingga membuat kepalanya dedek sakit, kok rasanya seperti sedang mengajarkan pada si anak bahwa untuk setiap kejadian buruk yang menimpanya, itu adalah kesalahan pihak lain, bukannya karena si anak kurang berhati-hati saat melangkah.
Kemarin, saya membaca sebuah kisah di Inggris, dimana sepasang orang tua remaja akhirnya menikah saat mereka berusia 25 tahun. Jadi ceritanya, sepasang anak cowok cewek temen sekelas pacaran, dan di usia 14 tahun hamillah si cewek. Kemudian, saat mereka berusia 25 tahun, akhirnya mereka akan menikah, dan mereka sudah mempunyai anak kedua. Saya enggak sedang ingin berdebat masalah hamil di luar nikah atau hidup kumpul kebo, tapi saya terharu saat mendengar jawaban pasangan muda ini disaat seorang reporter bertanya bagaimana mereka bisa berhasil melewati ujian berat dengan mempunyai anak di usia remaja, dan berhasil mempunyai karir yang bagus, dan tetap bersama hingga tahun- tahun selanjutnya.
Menurut si cowok, saat ia mengetahui ceweknya hamil, maka orang tua mereka (setelah days of loathing and mourning), sampai pada keputusan bahwa si cowok ini harus tetap sekolah. Dan sore hari sepulang sekolah, maka si cowok abege ini harus bekerja sambilan untuk mendapatkan uang demi membeli popok anaknya. Jadilah si cowok ini bekerja keras banting tulang plus memeras otak belajar. Dia kehilangan kesenangan yang biasa dinikmati anak abege, jalan- jalan di mall atau main bola misalnya. Sementara si cewek, setelah melahirkan anaknya, harus merawat sendiri anaknya dan tidak bersekolah dulu. Bayangkan anak 14 tahun disuruh bertanggung jawab merawat bayi, sementara teman- teman sebayanya masih cekikikan jalan- jalan sore. Lalu, setelah bayinya mulai beranjak besar, dan si cowok sudah menyelesaikan sekolahnya, gantian si cewek yang mengikuti kursus keterampilan di malam hari. Cowoknya yang berganti merawat anaknya di malam hari, sepulangnya ia dari bekerja di siang harinya. Begitu terus hingga akhirnya mereka bisa hidup dengan mapan, baik cowok dan cewek ini bisa bekerja dan bahkan menyicil rumah.
Menurut si cowok, dia mengucapkan terima kasih tak berhingga pada orang tuanya karena mereka "Telah bersedia menemani sepanjang waktu, membantu kami merawat si bayi dan membantu membiayai kebutuhan si bayi. Tapi sekaligus mereka memaksa kami untuk bertanggung jawab dan menerima resiko dari memiliki anak. Dan akhirnya, kami menjadi pasangan muda yang bertanggung jawab dan mandiri hingga saat ini."
Saya kenal beberapa pasangan yang juga mengalami masalah serupa. Punya anak sebelum menikah. Dan orang tua mereka ada yang melakukan : mengusir anak itu dan tidak bersedia menerima mereka lagi (terserah anak dan bayinya mau mati kek, mau hidup kek) atau sebaliknya, mengambil tanggung jawab sepenuhnya perawatan dan pembiayaan cucu mereka. Sementara ibu si bayi yang anak sekolahan, lenggang kangkung jalan- jalan ke mall kayak nggak punya dosa, karena tidak mau masa mudanya terampas akibat keharusan mengganti popok.
Saya terharu pada orangtua abege Inggris itu, karena mereka mengharuskan anaknya merasakan pahit getir kehidupan yang harus mereka jalani karena kesalahan mereka, tapi sekaligus memberikan uluran tangan agar anaknya mampu melewatinya.
Di Australia, ada semacam tunjangan yang besar untuk para remaja yang hamil, atau istilahnya teen mom. Ini bukan karena pemerintah Australia senang dengan fenomena teen mom ini, hanya karena negara sadar para abege yang mungkin masih duduk di bangku SMP ini masih belum mampu membiayai dirinya sendiri, apalagi anak yang akan dilahirkannya. Masalah si abege ini berdosa, ya biar nanti dia dibakar di neraka, itu urusannya dia sendiri sama yang diatas. Tapi ada bayi tidak berdosa yang akan lahir dan butuh dirawat, dan bayi inilah yang harus dijamin kesejahteraannya.
Tampak baik dan mulia kan? Tapi ternyata, program ini menjadi bumerang. Masalahnya, karena para teen mom ini mendapatkan tunjangan yang lumayan, kebanyakan jadinya tidak melanjutkan sekolah, tidak punya keterampilan untuk bekerja, dan berakhir dengan hidup dari tunjangan pemerintah seumur hidupnya. Dan bayi mereka, banyak juga yang jadinya mengikuti jejak emaknya, hamil saat remaja dan menjadi penerima santunan negara pula. Sampai kemudian akhirnya pemerintah membuat gebrakan, yang disetujui mayoritas penduduk, bahwa santunan bagi para teen mom ini akan dihentikan bila mereka tidak kembali ke sekolah untuk menuntaskan studinya dan kemudian bekerja. Jadi, negara menolong mereka, tapi sekaligus mencambuk mereka untuk bisa berdiri di atas kaki mereka sendiri.
Cinta orang tua saya, adalah hal paling berharga yang mereka berikan ke saya. Saya merasa dicintai unconditionally. Mau nilai rapot saya bagus atau jelek, mau saya dipecat dari kerjaan atau dapat promosi, mereka akan tetap mencintai saya. Saya bahkan tidak pernah merasa dibandingkan dengan adik saya. Tapi, sebagai anak, saya butuh juga hal lain selain cinta. Yaitu dorongan untuk maju, dan bertanggung jawab atas semua keputusan yang saya ambil. Saat saya SD dulu, setiap sore hari emak saya akan mengingatkan saya mengenai PR yang harus saya kerjakan. Namanya anak kecil, kadang saya malas dan menunda mengerjakannya hingga akhirnya saya ketiduran tanpa menyentuh PR saya. Keesokan paginya, bangunlah saya dengan panik dan memohon emak untuk membantu saya mengerjakan PR atau mengijinkan saya pura - pura sakit hingga tidak perlu masuk sekolah. Alih- alih mengabulkan permohonan saya, maka saya akan mendapat tatapan galak dan gebukan di bokong, dan bahkan kalau perlu emak saya akan menyeret saya masuk ke dalam kelas, tempat saya akan menerima hukuman karena lalai mengerjakan PR.
Meskipun dulu saya sebel banget sama emak saya yang menurut saya tidak berperikemanusiaan, tapi sekarang saya menyadari manfaat kesadisannya : saya tidak pernah dengan lebay menceritakan ke emak saya bahwa dunia ini kejam, bos saya psikopat, teman kerja saya memberi pandangan benci ke saya atau segala alasan- alasan tolol atas segala kegagalan dalam hidup saya. Saat tubuh saya membesar, pantat saya bertambah montok dan pinggang saya bertambah ramping (hah, emang saya seksi banget yah), maka pikiran saya juga bertambah dewasa. Dan tidak lagi seperti balita yang marah pada kursi yang sudah membuatnya lecet.
Kata pepatah bule : When life gives you a lemon, make a lemonade.
Bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia: Saat kamu diberi kunyit, buatlah nasi kuning dan pepes ikan.
Dalam bahasa ibu : Saat kamu diberi anak, ajari anakmu bertanggung jawab atas hidupnya, tapi siapkan tangan untuk membantunya berdiri saat terjatuh.
Orang tua teladan, saat Serafim bersusah payah memanjat kursi yang tinggi dengan kakinya yang pendek dan montok, kami membiarkannya naik sendiri. Saat kemudian si genduk jatuh, kami tertawa terbahak- bahak :D

No comments:
Post a Comment