Monday 5 September 2011

My Monday Note -- Miss Gunting Pita

Beberapa saat yang lalu, saya melihat tayangan ulang malam final Miss Universe di salah satu chanel TV di Australia sini. Dari yang awalnya iseng, akhirnya saya melanjutkan sampai selesai juga nih acara. Harap maklum, namanya juga ibu- ibu paruh baya pengangguran. Dan saya mau tidak mau teringat juga, bagaimana di Indonesia setiap tahunnya, setiap si Puteri Indonesia bakal beradu di ajang Miss Universe, bakal ada demo huru hara masalah ni eneng bakal pake bikini 2-pieces atau baju renang. Heran juga, gitu aja heboh. Kalau Puteri Indonesia di catwalk hanya pakai beha sama celana dalam katun rombeng bolong kayak saya, nah baru dong heboh. Miskin amat sih. 

Eniwei, saya sih tidak berminat berdebat masalah bikini. Pendirian saya sudah jelas: menolak dengan tegas cewek manapun yang berusia dibawah 40 tahun untuk memamerkan tubuhnya, entah di catwalk atau di pantai. Baju yang baik itu ya paling enggak seperti yang saya pakai, menutup paha biar selulit dan stretch-mark di paha nggak kelihatan, berlengan 3/4 biar lengan yang melorot dan kulit ketiak yang menghitam tertutupi. Nah, kecuali ceweknya punya paha sebesar batang pohon jati dan setua embah saya, baru deh saya akan legowo membiarkannya berlenggang dengan bikini. Saya ini lagi pingin iseng menulis masalah kriteria untuk menjadi seorang Puteri atau Miss.  

Kalau ada ajang olimpiade fisika atau matematika, sudah jelas deh kriteria yang akan dipakai untuk menentukan pemenang. Kasih saja para peserta soal fisika, dan siapa yang bisa jawab paling benar adalah pemenangnya. Atau kalau ajang lomba debat, siapa yang bisa memberi logika paling masuk akal, dan argumennya bisa mematahkan argumen peserta lain, dialah pemenangnya. Bila misalnya suatu saat ada ajang Miss Bikini, walaupun saya akan menontonnya dengan mulut melerot- melerot karena dengki, tapi ajang itu juga jelas kan kriterianya Ya tinggal lihat siapa yang paling aduhai dalam balutan bikini, lingkar pinggang maksimum 20 cm, dada minimum 36 D, kaki sepanjang jerapah mutan, ya dialah pemenangnya. Dan bahkan kalau ada ajang pemeran sinetron paling ciamik, kriterianya cukup mudah. Siapa yang kalau menangis paling berurai air mata, kalau marah paling lebar melototnya dan selalu ingat untuk berkacak pinggang, ya dialah Miss Sinetron kita.

Tapi kontes Miss atau Puteri, bagaimana kriterianya? Kata panitianya, bego amat sih pertanyaan saya. Kan sudah jelas semboyannya : 3B; Brain, Beauty, Behaviour. Kata seorang ibu petinggi dengan rambut disasak setinggi sarang tawon, seorang Puteri adalah wanita yang seimbang, memiliki kepandaian dan kecerdasan, kecantikan fisik dan perilaku yang menawan. Buset deh, keren banget yah kriterianya. Mendengar komentarnya si ibu sarang tawon, baru saya benar- benar paham arti 3B, setelah selama ini salah kaprah 3B= boobs, butt, botox. Maaci ya ibu sarang tawon atas pencerahannya....

 Kalau mencari contoh seorang perempuan pintar, mungkin paling gampang ya comot saja Ibu Sri Mulyani atau anak- anak didiknya Yohanes Surya yang sedang ditempa menjadi calon penerima Nobel. Kalau cari yang cantik wajah dan bodinya, ya buka- buka saja majalah Playboy. Sudah cantik, pemalu lagi. Pasang wajah malu- malu sambil membentangkan paha lebar- lebar. Kalau cari yang baik perilakunya, mungkin yang semacam Bude saya yang rajin ikut pengajian atau Ibu Pendeta saya yang menyebut Tuhan dalam setiap tarikan nafasnya.

Sekarang kriteria pertama, Brain. Jreng jreng, mari kita tampilkan Miss Sri. Dan dia diberi pertanyaan standar kontes miss- miss an. "Bagaimana pendapatmu tentang masih adanya negara- negara yang sangat miskin?" Setelah berdehem singkat dengan wajah serius, Miss Sri akan menjawab  "Kriteria kemiskinan sebuah negara bisa dilihat dari angka kematian anak dan pendapatan per kapita, dan cara paling efisien untuk membantu adalah dengan melebarkan pasar negara tersebut. Dengan kemampuan berdiri di atas kakinya sendiri, kita memberikan pancing dan bukannya hanya menggelontor ikan terus menerus. Itulah sebabnya community trade adalah salah satu jawabannya, dan tanggung jawab para negara kaya untuk melebarkan community trade."

Pada akhir ceramah singkat Miss Sri, jurinya, sama seperti suami saya si Okhi saat membaca note ini, akan bengong nyaris stroke. Dan semenit kemudian baru dengan gelagapan berkata "Um, menarik sekali Miss Sri, ummmm, yah sangat menarik mengenai ummm, komuni um, yah mengenai itulah. Ummm, mari sekarang kita dengarkan jawaban berikutnya dari Miss Udin."

Dengan senyum terkembang, mata berkaca- kaca dan tangan merapikan rambut panjang tergerai, Miss Udin menjawab "Saya sangat tersentuh karena masih banyak negara yang penduduknya terlilit kemiskinan. Itu menjadi tanggung jawab kita bersama untuk membantu mereka, terutama anak- anak kecil," dan kemudian melemparkan senyuman manis ke penonton sambil mengusap setetes air mata yang jatuh karena terharu (terharu karena dia akhrinya bisa dengan selamat mengucapkan kalimat panjang dalam bahasa Indonesia).

Para juri (termasuk ibu sarang tawon) akan ikut mengusap air mata dengan sapu tangan atau ujung dasi mereka. Setelah terdiam selama semenit, maka dengan suara bergetar bu tawon akan berkata "Kepedulian semacam inilah yang kita harapkan dari seorang Puteri. Benar- benar berhati mulia"

Beralih ke kriteria Beauty, maka marilah kita coba menjajarkan para Playmates dan Girls Next Door dari majalah Playboy (buset, hebat juga ya saya hafal istilah- istilah di Playboy) di catwalk. Siapa sih yang meragukan kecantikan dan kesemlohaian mereka. Sampai tiba saatnya acara melenggang dengan baju tradisional. Begini kata pembawa acara: Berikutnya, Miss Playgirl Bulan Maret. Lihatlah betapa cantiknya dia, rambutnya berkibar lembut, kulit sehalus sutera, dan tampak anggun dalam balutan kebaya. Loh loh ngapain si Miss? Yah dia keserimpet kain kebaya. Maklum pemirsa, Miss ini terbiasa pakai celana lebih pendek dari kaosnya. Loh, kok dia membuka kancing kebayanya? Nah lho, sekarang dia duduk di pangkuan bapak juri. Gimana sih ni eneng, jadinya acaranya terpaksa diberi label 17 tahun keatas dong! Coba bandingkan dengan Miss Udin, yang dengan gemulai berjalan dengan langkah kecil, pinggangnya ramping dalam balutan kebaya. Hmhm.... 

Kriteria terakhir, Behaviour. Bu pendeta saya pasti termasuk wanita dengan perilaku paling terpuji, karena dia enggak pernah lupa berdoa sebelum makan dan tidur, enggak pernah ngrasanin orang, dan amit- amit jabang bayi kagak pernah misuh dan nyumpah- nyumpahin orang. Kemudian sang juri bertanya "Jadi Miss Pendeta, sebutkan kenapa anda layak menjadi Puteri?" Dengan sangat santun, Miss Pendeta akan menjawab "Saya tidak memiliki kehebatan dan kelebihan, semua yang terjadi pada hidup saya semata pada anugerah dari sang Pencipta. Dialah yang berhak menerima segala sanjungan atas segala keberhasilan dan kesempurnaan hidup saya."

Setelah semenit memeras otak, bu sarang tawon akan menjawab "Um, sangat menarik Miss Pendeta, ummm, hanya masalahnya agak sulit untuk memasangkan selempang Puteri pada Sang Pencipta, ummm, Beliau enggak mau melenggang di catwalk sih... Oke, mari beralih ke Miss Udin."

Maka menjawablah Miss Udin "Saya sangat ingin menjadi Puteri karena saya sangat mencintai this beautiful city, dan saya ingin menyumbangkan kemampuan saya untuk mengiklankan this beautiful city ke seluruh dunia ! Merdeka!" (Masalah saya nggak hafal lagu kebangsaan dan nggak tahu siapa penciptanya, itu kan hanya masalah kecil, yang penting saya cinta this beautiful city! Yeah! Saya sudah tiga tahun lho hidup disini!) 

Untuk pemenang Miss Brainy, maka terpilihlah Miss Sri. Untuk pemenang Miss Behaviour, terpilihlah Miss Pendeta. Untuk pemenang Miss Beauty, terpilihlah Miss Playgirl Bulan Maret. Tapi dunia ini adil. Bagi mereka yang tidak sepintar Miss Sri tapi sedikit lebih tinggi, lebih cantik dan lebih lebay (aka Miss Udin), maka ia berhak menyandang gelar Puteri. Bagi mereka yang tidak seseksi dan secantik Miss Playgirl Bulan Maret tapi sedikit lebih pintar untuk tahu Indonesia is a beautiful city (aka Miss Udin), maka ia berhak menyandang gelar Puteri. Bagi mereka yang tidak sereligius Miss Pendeta tapi lebih luwes menyalami tangan Pak Menteri yang akan menggunting pita dan bisa dengan anggun bercakap- cakap dengan Direktur PT. Angin Ribut yang menyeponsori acara (aka Miss Udin), maka ia berhak menyandang gelar Puteri. Kesimpulannya: Puteri = kombinasi dari PUNYA otak, PUNYA wajah dan bodi, PUNYA perilaku luwes.


Bukan karena di kontes itu ada acara berlenggang dengan bikini yang tidak sesuai dengan budaya bangsa (correct me if I'm wrong, tapi bahkan banyak suku di Papua yang wanitanya bahkan nggak pake beha kan yah? Dan sampai saat ini Papua masih masuk wilayah NKRI kan?) makanya saya tidak menganggap serius kontes ini, tapi karena konsep penjuriannya. Menilai sesuatu yang tidak bisa diukur dengan kriteria bermacam- macam. Makanya saya lebih tertawa lagi saat membaca kontes Muslimah Beauty di salah satu kolom berita online (maksudnya harus tetap terlihat cantik walau pake jilbab gitu? Kalau elu Muslimah yang cantik hatinya, nggak pernah lupa sholat tapi jelek mukanya ya tetep kelaut aje deh). Kalau kontes Puteri hanya mencoba mencari unsur wanita yang sempurna secara duniawi, maka kontes kecantikan dengan embel- embel agama lebih hebat lagi, mencari wanita sempurna dunia akhirat. Wow, hilarious! 

Di negara lain malah ada kontes Istri Teladan. Huahahaha, ini lebih lagi, gimana penilaiannya yah? Anggun di luar rumah, tapi kinky di atas kasur? Oh yeah! Gape menggunakan panci untuk masak ayam tapi juga se-hot kompor saat menari striptis di depan suami? Itu sebabnya saya bukan istri teladan. Saya kinky dan pake tank top ketat di pom bensin saat membayar tagihan ke pemilik pom yang bule ganteng (kali- kali dapat diskonan dan dapat selingkuhan baru), tapi saya seanggun biarawati dengan celana dobel- dobel plus daster gedombrongan saat di dalam rumah. 

Nah nah, saya jadi jahat sekarang, pasti karena dengki. Jangan dikira para kontestan Miss- miss an itu bego- bego lho. Seorang Miss Filipina, saat ditanya juri berapa jumlah pulau di Filipina, punya jawaban yang sangat jitu "In a low tide or high tide?-- Saat pasang naik atau pasang surut?" Wuhui, saya sampai tergelak mendengarnya. Dibandingkan dia, saya benar- benar nggak ada apa- apanya. Anda nggak ngerti kenapa saya anggap jawaban itu keren? Yah nggak papa. Nggak semua orang dibekali talenta kepandaian geografi dan ilmu alam kok. Saya hanya berharap anda menemukan kebahagiaan saat bercermin.

Balik lagi ke kontes Puteri, seperti saya bilang tadi, saya kagum pada pemenangnya seperti Artika Sari Devi. She is really something yah. Again, saya tidak punya masalah dengan kontestannya, saya hanya geli dengan kriteria kontesnya. Tapi saat seorang cewek yang nggak gape bahasa Indonesia, yang kagak tahu siapa pengarang lagu Indonesia Raya, yang mengira Indonesia is a beautiful city, dan si cantik ini yang terpilih menjadi Puteri Indonesia, nah, saat itu saya jadinya jatuh iba pada bangsa saya. Coba dengar alasan kenapa dia terpilih (disampaikan oleh pihak penyelenggara): "Karena si Udin ini punya peluang menang di kontes Miss Universe, karena wajah dan bentuk tubuhnya memenuhi selera internasional."

Saya sampai membaca berita itu beberapa kali, karena saya pikir saya salah membaca berita yang sebetulnya dilansir departemen pertanian dan peternakan. "Kami memilih mengimpor sapi jenis Udin karena bentuk fisiknya memenuhi selera pasar internasional. Masalah sapi Udin kagak pinter  sejarah Indonesia dan kagak gape ngoceh bahasa Indonesia, ya kan dia sapi, jadi nggak harus pinter dong, asal bisa bilang moooooooooo.

Emang apa urusannya coba kita harus mengikuti keinginan dunia internasional? Ini pasti si penyelenggara salah membaca tren mengenai keharusan Indonesia untuk mengikuti standar internasional. Untuk sapi Indonesia, standarnya adalah bentuk fisik; berat badan, ukuran paha dan kemontokan susu. Sementara untuk manusia Indonesia yang diimpor alias TKI, yang harus memenuhi standar internasional adalah kemampuan profesionalnya either sebagai perawat atau tukang bangunan. Emangnya kulit saya yang coklat, hidung saya yang pesek dan rambut saya yang hitam (yang merupakan ciri mayoritas cewek Indonesia) lebih medioker dari kulit putih rambut pirang hidung mancung para bule? Kalau orang negara lain menganggap hidung pesek itu jelek, ya udah pusing amat. Minder amat sih jadi bangsa. Wong cowok bule aja pada kesengsem sama cewek Indonesia kok buktinya, yang menurut mereka seksi dan eksotis.

Nah, banyak orang yang mengutuk keras kontes puteri-puterian yang dianggap merendahkan derajat wanita. Salah satu argumennya, kenapa nggak ada kontes sejenis untuk pria? Kenapa nggak ada deretan pria yang disuruh melenggang hanya pakai celana thong dengan kantong di depannya? Kalau saya sih enggak segitunya merasa ini acara diadakan untuk merendahkan derajat wanita. Acara ini hanya keniscayaan hukum marketing, dimana ada demand, banyak iklan bisa digapai, ya acara ini akan diadakan. Sama alasannya dengan kenapa sinetron kacangan dengan hantu- hantu kesurupan sebagai pemerannya masih terus beredar di tipi- tipi.

Lha kenapa nggak ada kontes untuk pria lho? Saya sih mengaca saja dari pengalaman di rumah tangga saya. Saat acara para miss melenggang dengan bikini atau baju tradisional, saya akan menonton dengan hati senang. Kok bisa? Pernah baca pepatah saat seorang wanita bertemu dengan sepasang pria dan wanita, siapa yang akan dipedulikan si wanita? Bukan si pria, tapi wanita lain. Wanita lebih senang memperhatikan baju wanita lain, membandingkan bentuk badan, dandanan dan kecantikan. Jadi prianya akan diabaikan saja. Hanya mobil ferari nya yang akan menarik perhatian si wanita. Sementara bagi Okhi, ribuan pria dihadapannya akan lenyap saat ia terfokus pada seorang wanita yang rambut panjangnya disibakkan ke satu sisi dan dengan anggun menyilangkan kakinya saat duduk. 

Di Australia pernah ada survey tentang kapan seorang pria atau wanita tampak paling seksi di mata lawan jenisnya. Bagi kaum pria, wanita tampak paling seksi saat telanjang bulat atau dengan balutan baju mini dan tipis (kok saya nggak heran ya baca hasil survey ini?). Nah ini yang lucu, bagi kaum wanita, pria tampak paling seksi bukan pada saat dia hanya pakai celana dalam mini atau celana renang, tapi pada saat ia berpakaian jas rapi dengan sepatu mengkilat. Hoho, aneh ya? Menurut survey itu, karena pada saat itu seorang pria akan tampak sangat mapan dan berkharisma, and that's gentlemen, kriteria seksi di mata wanita. Saya percaya sih survey ini, karena bila ditanya siapa pria paling seksi di Australia, saya akan menjawab Karl Stefanovic, pembawa acara berita yang selalu tampil rapi dengan jas dan dasi yang tampak mahal dan mapan. Saya mungkin malah rada geli kalau melihat si Karl melenggang di atas catwalk dalam balutan celana renang motif macan tutul. Hiiii, pasti penderita sifilis.

Saat ada parade wanita cantik, TV rumah kami akan memasang channel itu karena saya tidak akan keberatan melihatnya (seperti saya bilang, wanita suka memperhatikan wanita cantik lainnya) dan Okhi akan menonton dengan air liur menetes. Saat ada parade pria dengan celana dalam mini, saya mungkin akan cukup senang melihatnya, hanya akhirnya memilih mengganti saja channel TV ke acara masak memasak bersama Rudi Choirudin karena sebal mendengar suami saya yang tanpa diragukan lagi akan berkicau mengomentari bahwa kontestan cowok yang ini sudah pasti gay, yang itu kayak gigolo, yang ono kayak banci taman lawang, and so on and so on. Di mata suami saya, semua cowok yang seksi dan ganteng itu adalah gay yang gigolo. Dasar homofobic pendengki. Jadi sudah jelas kan kenapa acara Mister Universe tidak akan pernah sesukses Miss Universe? 

Muter- muter ngalor ngidul terus maunya saya gimana sih? Terus diadakan atau dibubarkan saja nih ajang kontes- kontesan? Hahaha, emangnya ngefek ya apa yang saya inginkan? Bagi saya, kalau dibilang acara itu tidak sesuai budaya bangsa, merendahkan derajat wanita, meruntuhkan moral bangsa dan pesertanya mending pada dibakar saja, ya bagi saya itu lebay bajaj namanya. Kalau acara tidak bermutu memang mau dibubarkan, mendingan bubarkan dulu tayangan infotaiment dan sinetron hantu ngepel sambil keramas. Bukan hanya merendahkan derajat wanita yang hidup, acara itu juga merendahkan derajat para wanita sesudah meninggal. Masak yang jadi hantu kelayapan kurang kerjaan dan berpunggung bolong itu 90% wanita? Berarti wanita diklaim lebih banya dosanya dong, sampai pintu neraka dan surga tertutup dan terpaksalah arwah para wanita itu jadi tukang ronda kuburan?

Masalah meruntuhkan moral bangsa, halah masak ya foto seorang Miss Udin dalam bikini two-pieces bisa dianggap bertanggung jawab atas maraknya korupsi dan perselingkuhan dan sexting di seantero Indonesia? Foto- foto koleksi suami saya di laptopnya saja jauh lebih aduhai dari foto si Miss Udin. Itu namanya, menuduh seekor cicak sebagai penyebab binasanya moral sekawanan gajah. Acara miss- miss an hanya saya anggap acara untuk senang- senang doang, bukan perusak budaya bangsa, tapi juga lebay kalau disebut diadakan untuk menginspirasi wanita Indonesia (menurut pihak penyelenggara). Saya menganggap acara ini adalah sekedar ajang pencarian gadis sempurna untuk acara menggunting pita peresmian pembukaan mall baru.

No comments:

Post a Comment