Ini pertama kalinya saya menulis note pesanan. Jadi ceritanya, salah seorang pendukung setia MondayNote (hah, memangnya hanya si SMASH saja yang boleh punya pom-pom girl pendukung?) meminta saya untuk menulis note dengan tema Pra-Jabatan CPNS. Tapi ini teman saya kagak mau modal, jadi dia memesan saya menulis note, tapi tidak memberikan pembayaran yang memadai. Ckckck, bahkan penulis kolom dukacita saja dibayar, padahal yang jadi kliennya orang mati. Nasib..nasib.... Demi menolak permintan teman saya ini (karena kagak ada duitnya), saya beralasan "Nggak enak ah nulis tentang pegawai negeri." Tapi saya luluh juga karena bujukannya "Toh mbak sudah nggak makan uang negara lagi sekarang..." Yeee si Puz, kapan saya makan uang negara? Emangnya saya Nazrudin? Saya dulu dibayar negara Bang! Untuk jasa saya bagi negara (berasa Pangeran Diponegoro jadinya).
Eniwei, note ini berkisah tentang masa pra- jabatan selama dua minggu, yang saya lalui bersama teman saya si Puz ini. Begini ceritanya. Alkisah, karena kecintaan saya pada bapak saya, dan terutama kecintaan saya pada harta kekayaannya, maka saya menuruti permintaannya untuk mencoba menjadi pegawai negeri daripada nama saya dicoret dari daftar ahli waris untuk digantikan oleh namanya si Sarden anjing saya. Maka, mendaftarlah saya untuk menjadi PNS. Saat itu saya sudah bekerja di perusahaan FMCG multinasional dengan gaji yang (menurut pendapat bos saya) sangat memadai. Jadi, berangkatlah saya menempuh ujian masuk CPNS di Gelora Bung Karno dengan menumpang bis TransJakarta. Diantar oleh suami saya tercinta yang sepanjang jalan sibuk mencolek- colek pinggang saya sambil cengar- cengir berkata "Ihi, yang mau jadi PNS ni yeee."
Di dalam stadion, saya menghadapi ujian bersama ribuan orang lainnya. Sebagian besar dari mereka membawa tas yang dipenuhi berbagai buku "Siap menghadapi tes CPNS". Sampai minder saya jadinya, dan berusaha menutup rapat tas saya agar tidak ada yang bisa melihat isinya; teh kotak, susu ultra, chitato dan komik detektif conan. In my defense, saya berpikir panjang ke depan, bahwa tes ini akan cukup menguras pikiran saya, dan saya membutuhkan bekal ransum yang cukup agar saya bisa berpikir. Saya memasukkan chitato ke dalam tas sambil membayangkan betapa asyiknya nanti bila saya mengerjakan soal sambil nyemil chitato dan menyedot susu cokelat. Pasti peserta lain akan iri melihat betapa panjang akal saya.
Nyatanya, saya tidak bisa menjalankan rencana saya untuk nyemil. Karena bete, saya menjadi peserta pertama yang meninggalkan tempat ujian, disaat peserta lain masih sibuk berpikir keras memikirkan jawaban pertanyaan "Apakah visi dan misi dari departemen ini?" In my defense, mau saya mikir sampai kepala saya pecah juga saya tidak mungkin tahu jawaban untuk soal visi dan misi ini. Dan terus terang ya, saya juga tidak hafal tuh visi dan misi perusahaan- perusahaan swasta tempat saya bekerja dulu. Dan memang tidak ada juga yang kurang kerjaan mengetes apakah saya hafal misi perusahaan. Yang jelas, perusahaan menggariskan misi saya adalah bekerja keras bagai romusha demi keuntungan perusahaan. Tapi ternyata menjadi pegawai negeri itu jauh lebih mulia syaratnya. Harus tahu visi, misi, dan program- program unggulan dari departemen yang ingin saya masuki. Oalah, saya pikir hal semacam itu justru akan saya dapatkan saat orientasi nantinya.
Tapi sialnya, rupanya saya datang ke tempat ujian dalam kondisi lupa melepas susuk pengasihan yang saya sembunyikan dengan rapi di balik bulu kaki. Alhasil, nama saya tercantum di daftar peserta yang lulus ujian. Jangan ditanya ya bagaimana perasaan saya saat itu, tapi salah satu perasaan yang mencuat adalah rasa bersalah, karena saya tahu ada ribuan orang Indonesia yang desperately ingin menjadi PNS, dan sudah dengan tekun mengikuti ujian di berbagai departemen untuk selalu gagal. Sementara saya, berangkat tes sambil setengah ogah- ogahan. Memang kadang orang jahat tuh banyak rejekinya. Petualangan saya di kantor pemerintah adalah cerita mengharukan yang akan saya simpan untuk kemudian hari. Saat ini, demi teman saya si Puz, saya akan terfokus mengisahkan soal Pra-Jabatan.
Saat seseorang diterima menjadi abdi negara alias PNS, statusnya belum sepenuhnya seorang Pegawai Negeri Sipil, tapi baru Calon Pegawai Negeri Sipil. Mungkin semacam status percobaan sebelum dianggap jadi pegawai tetap di perusahaan swasta. Nah, supaya saya dan teman- teman saya sesama Calon Pegawai Negeri Sipil atau biasa disingkat CPNS bisa menghilangkan huruf C dari status kami, dan menjadi Pegawai Negeri Sipil seutuhnya, hanya satu syaratnya. Lulus pendidikan Pra-Jabatan yang diselenggarakan selama dua minggu. Nggak ada syarat lainnya nih? Misalnya syarat nggak boleh telat datang atau kinerja yang baik? Ya adalah. Syarat lainnya, menahan diri supaya tidak melempar kursi ke seorang rekan senior yang bibirnya miwir selalu dan wiridan supaya keinginan meracun bos dijauhkan dari pikiran.
Pra- jabatan yang merupakan syarat seseorang agar bisa diangkat menjadi PNS ini adalah semacam program pendidikan yang diselenggarakan selama dua minggu. Para CPNS akan dikarantina selama dua minggu, tinggal di balai pelatihan dan menerima materi- materi pelatihan. Tujuan Pra-jabatan adalah untuk membentuk karakter dan membekali calon pegawai negeri sipil supaya mampu menjadi abdi negara dan masyarakat yang andal. Wuih, sampai ngiler saya ketiduran waktu mengcopy paste semboyan ini. Selama dua minggu ini saya dan sesama CPNS yang lain dikarantina di balai latihan, enggak boleh keluyuran, dan menerima materi yang akan membentuk diri kami agar bisa menjadi abdi massssssss.......grok grok.... (sori saya ketiduran lagi).
Kalau nanti anda membaca note saya ini rada- rada sinis dan menghina, mohon disadari bahwa masalahnya bukan pada pra- jabatan yang mulia itu, tapi pada diri saya yang sinis, sarkastis dan bombastis. Nggak percaya kalau saya punya masalah mental yang kronis? Lemme show you. Berikut ini saya copy paste status dari motivator terkenal se-nusantara yang seteguh batu karang.
Pak ****o, kekasih saya meminta saya menikah,
tapi saya mau kalau dia berhenti merokok.
Tapi dia keberatan.
Bagaimana ya Pak?
Adik saya yang baik hatinya,
Tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada cinta
untuk menyatukan kehidupan dua jiwa.
Mengorbankan kesenangan pribadi
untuk yang dicintainya, bukanlah pengorbanan,
tapi hadiah cinta.
Yang selain itu,
sikapilah dengan perlindungan bagi kemuliaan hatimu.
Nah, apa pendapat anda membaca status beliau di atas? Termotivasi? Merasa status itu inspirasional? Terbakar semangat hidupnya? Yah berarti anda normal, sama dengan jutaan masyarakat Indonesia yang mengagumi beliau (note : status diatas di-like oleh lebih 13 ribu orang! 13 ribu! Note saya saja sudah syukur- syukur kalau ada yang nge- like selain suami dan emak saya).
Nah, karena saya enggak normal, menurut saya jawabannya pak motivator untuk pertanyaan sederhana dan common banget (saya kenal at least 3 pasangan dengan masalah serupa, suaminya kecanduan rokok atau mancing atau nge-game yang membuat istrinya jengkel berat) diatas itu membingungkan plus membuat migren. Saya membayangkan kalau Okhi lah yang merokok, dan saya diberi saran diatas, saya hanya akan mengernyitkan kening kebingungan. Apa sih maksudnya sikapilah dengan perlindungan bagi kemuliaan hatimu? Kalau perlindungan terhadap Penyakit Menular Seksual sih masih ngerti saya. Jadi gue itu disuruh terima nasib saja kawin sama perokok atau cerai saja atau ngeracun saja nih cowok?
Kalau saya yang mendapat pertanyaan diatas, saya hanya akan jawab dengan realistis. Seberapa terganggunya kamu dengan kenyataan pacarmu merokok? Kalau enggak terganggu- terganggu amat ya sudah relakan saja. Kalau terganggu sedikit, ya berkompromilah; gak boleh ngerokok di dalam rumah, gak boleh ngerokok lebih sebungkus dalam sehari. Kalau kamu sangat terganggu dengan bau asap rokok, dengan kenyataan pacarmu bakal mati duluan kena kanker paru- paru, dengan kenyataan jutaan duit terbakar percuma dalam setahun, ya udah cari aja pacar lain. Masih jadi pacar saja dia menolak berhenti merokok, masak kamu mengharap dia bakal berhenti demi cinta saat kamu sudah menjadi istrinya yang buntek?
Jadi, percaya kan saya orang yang sinis dan komunis?
Balik lagi ke masalah pra- jabatan CPNS. Karena jadwal pra jabatan saya yang asli bersamaan dengan saat saya melahirkan Serafim, jadi saya ikut program susulan. Jadi, teman- teman pra jabatan saya bukan berasal dari divisi yang sama dengan saya, tapi dari berbagai instansi lain, contohnya rumah sakit. Nah, saat petugas kepegawaian saya memberitahukan bahwa ada jadwal susulan pra- jabatan ini, saya sebetulnya malas mengambilnya. Lha bayi saya masih merah, belum dua bulan umurnya. Tapi bapak kepegawaian yang baik itu membujuk saya supaya ikut. Toh dia sudah memilihkan lokasi prajab (singkatan pra jabatan) yang paling enak, saya bisa membawa bayi saya ikut menginap disana. Akhirnya, menyerahlah saya. Dan benar, lokasi prajab ini memang paling asoy geboy, dan bahkan saya mendapatkan kamar tersendiri sehingga saya bisa memboyong si Seratun dan embaknya.
Maka mulailah petualangan saya di prajab. Di malam pertama para peserta dikumpulkan untuk diberikan pengarahan, dibagi kelompok dan mendengarkan peraturan- peraturan. Um, apa ya yang saya ingat tentang peraturan yang diberikan ya? Hehehehe, gimme more time. Di note selanjutnya saya yakin saya akan bisa mengingatnya :D.
Setelah pengarahan dari ketua prajab, kami dibagi menjadi empat kelas. Ada beberapa teman sekelas saya yang cukup membekas di kenangan, tapi 80% nya sama sekali tidak saya ingat. Ya maklum, bagaimana juga caranya mengingat puluhan nama dalam waktu singkat. Yang saya ingat dengan baik adalah seorang dokter spesialis yang rencana menikahnya menunggu sampai ia selesai Prajab yang bernama Ronald (doh segitunya dehhhh). Lalu si Mas Puz ini, perawat di rumah sakit di Bandung, yang anaknya six pack lucu dengan senyum menawan. Lalu ada dua anak Bakorkamla (ini semacam badan penting banget untuk menjaga lautan kita, dan kalau enggak salah dua personelnya pernah ditangkap Malaysia untuk ditukar dengan maling ikan mereka. Memang geblek tuh Malaysia) yang namanya Ichlas dan Asia. Lalu cewek Jogja berjilbab yang imut- imut yang juga punya bayi kecil yang namanya Aisyah. Lalu saya lupa namanya siapa, dosen di mana gitu, yang membuat saya heran karena selalu memanggil semua peserta yang kebetulan seorang dokter dengan sapaan "Dok" dengan penuh takzim dan hormat, seolah si dokter ini Jendral Sudirman yang melintas. Saya sih berpikir paling mertuanya dokter kali, jadi dia punya kebiasaan membungkuk tiap melihat dokter. Si mantu dokter ini akhirnya terpilih menjadi ketua kelas kami. Tak terkira betapa sedih hati saya sewaktu saya tidak terpilih menjadi ketua kelas, kurang apa sih dedikasi saya?
Lalu apa lho acaranya Prajab? Ya kami dilatih, diberi pelajaran, pengetahuan dan wawasannya ditambah. Kebanyakan acara pelatihan kami dilakukan di dalam kelas. Kenapa enggak di lapangan atau hutan belantara? Karena kami bukan pramuka. Plus pesertanya sudah pada bangkotan semua dengan tulang berkelontangan. Kasihan nanti kalau dikejar macan. Seringnya sih kami akan dibagi menjadi kelompok kecil kemudian mendiskusikan materi, dan nantinya hasil diskusi kami akan dituangkan dalam satu lembar kertas besar. Salah satu yang saya ingat adalah kami harus menuangkan karakteristik apa saja yang harus dimiliki seorang PNS. Dari kegiatan berkelompok ini, saya bisa menilai tingkat keseriusan teman- teman saya. Ada yang sangat berapi- api menggebu menuangkan pemikirannya bahwa PNS itu yang terpenting adalah loyal dulu baru kemudian jujur, kemudian berdedikasi. Benar- benar PNS teladan. Atau butt licking brilian. Ada yang seperti Mas Puz, cukup serius menyimak dan ikut berkontribusi tapi enggak sebegitunya menggebu- gebu. Masih normal lah, ada jiwa PNS nya tapi otaknya juga masih lurus. Ada yang seperti saya, yang berusaha mengangguk- angguk di saat yang tepat, dan hanya sibuk melirik jam untuk menghitung berapa menit lagi ada coffe break. Realistis itu namanya. Atau lazy fat bastard.
Yang juga banyak adalah materi pelajaran. Semacam penataran P4 gitu kali ya? Saya selalu berusaha datang paling awal untuk acara pemberian materi ini. Kan saya berdedikasi. Plus saya ingin mencari bangku yang enak biar saya bisa konsentrasi berpikir. Kalau datang telat, saya takut akan mendapat tempat duduk terlalu dekat dengan pengajarnya. Saya kan minderan orangnya, jadi takut grogi. Biasanya sehabis materi, maka akan dimulai sesi tanya jawab. Lagi- lagi, saat tanya jawab adalah saat yang menegangkan. Bayangkan, betapa hampa hati saya kalau saya tidak mendapat kesempatan bertanya mengenai materi pola pikir cerdas dan sinergis yang baru saja saya terima. Anda nggak tahu apa itu pola pikir cerdas dan sinergis? Ckckckck, memalukan! Coba tanya sama Mas Puz, mungkin dia masih ingat definisinya :D. Hanya karena saya orang Jawa, saya selalu lebih suka mengalah pada yang lebih senior. Terpaksalah saya menyaksikan teman- teman saya yang lain berebut bertanya sementara saya malu- malu untuk mengangkat tangan.
Lalu selain materi kelas, ada juga tugas membuat jurnal. Jadi dari materi yang kami terima hari ini di dalam kelas, kami harus membuat rangkumannya. Asia teman saya, cukup rajin membaca dulu buku materi untuk kemudian merangkumnya. Seorang anak cewek lain yang saya lupa namanya, mengeluh bahwa kertas jatahnya sampai tidak cukup untuk membuat rangkuman (membuat saya mempertanyakan IQ nya, lha wong disuruhnya membuat rangkuman, bukan membuat buku lho). Saya, sebagai CPNS yang baik, sadar bahwa rangkuman itu suppose to be singkat dan padat. Jadi saya dengan tegas melarang tangan saya menulis lebih dari tiga perempat lembaran kertas HVS yang dibagikan. Dan agar ibu pengajar tidak sakit matanya, saya buat tulisan yang besar- besar dengan jarak antar kata yang lebar. Betapa sakit hati saya saat kemudian jurnal itu dibagikan sesudah dinilai, dan jurnal saya hanya diberi nilai 65, sementara si teman yang saya pertanyakan IQ nya mendapat nilai 85.
Saat tugas berkelompok, biasanya salah seorang anggota kelompok akan maju menjadi pembicara. Sumpah mati saya heran pada beberapa orang yang selalu sigap mengajukan dirinya. Dan berbicara dengan berapi- api di depan kelas akan pentingnya penegakan disiplin bagi PNS atau wawasan kebangsaan. Bahkan, saat sesi tanya jawab, yang seharusnya dijawab oleh anggota kelompok lainnya, dia juga dengan senang hati mengambil alih. Sumpah mati saya selalu berdoa agar saya sekelompok dengan si sigap ini. Saya senang bisa mendukung keaktifan sesama rekan. Kebahagiaannya, adalah kebahagiaan saya. Saya sudah senang kebagian tugas bertepuk tangan dengan sopan. Plok plok plok.
Setiap pagi, supaya para peserta yang sudah berkarat semua sendinya ini menjadi bugar kembali, selalu diadakan acara apel pagi dan senam kesegaran jasmani. Untuk apel, hanya orang gila yang semangat. Bahkan instruktur apelnya pun sebetulnya lebih senang bergelung selimut di pagi buta daripada memimpin apel. Untuk senam, hanya Mas Puz dan Ichlas yang semangat. Gimana nggak semangat kalau instrukturnya semlohai dengan training pants adidas merah menyala? Lha giliran instrukturnya cowok dan saya sudah siap untuk ngeceng, yang datang bapak tentara berperut gendut dengan kumis melintang bak Pak Raden. Life isn't fair at all!
Oya, kalau tidak salah, di hari terakhir diadakan upacara bendera demi meningingatkan lagi akan masa SD. Saat upacara bendera, saya ingat yang menjadi dirigen awalnya adalah seorang cewek berjilbab yang biasa saja orangnya, dengan gaya dirigen yang seadanya saja (ya iyalah, wong ya hanya memimpin lagu Satu Nusa Satu Bangsa plus penyanyinya hanya murid- murid Prajab dengan suara kayak kaleng kerupuk melempem dan saat bernyanyi matanya pada melihat ke atas berdoa semoga hujan turun dan upacara batal). Sampai kemudian seorang dokter spesialis jantung berbadan raksasa (yang menurut desas desus pansus pinter banget otaknya tapi rada aneh tingkahnya) merasa gusar melihat pertunjukan ketidakseriusan ini. Beliau maju, mendepak si cewek berjilbab ini, dan memproklamirkan dirinya sebagai dirigen yang baru (si cewek shock ditendang oleh seorang pria berbadan gede, tapi sebetulnya sangat lega ada yang bersedia menggantikan posisinya). Dan dengan amat sangat penuh penghayatan sekali menjadi dirigen. Saya harus menggigit bibir saya hingga perih untuk mencegah saya tergelak-gelak melihat betapa serunya si dokter mengayunkan lengannya kesana kemari dan sampai bergetar tubuhnya saat memberi tanda agar peserta koor menyanyi dengan suara lirih. Persis kayak Adi MS kesurupan. Ini baru namanya dedikasi.
Hah, anda sekarang pasti berpikir Prajab ini hanya formalitas dan semua pesertanya akan lulus. Hoho, enak saja. Dibutuhkan otak brilian agar bisa lulus. Kabarnya pernah ada peserta yang tidak lulus Prajab. Penyebabnya? Karena di kolom pesan dan kesan dia menulis bahwa Prajab itu tidak berguna dan hanya membuang uang negara. Huahahahaha, bodoh sekali. Meskipun memang rada- rada dipertanyakan kegunaannya bagi hajat hidup orang banyak, mbok ya sedikit diplomatis gitu lho. Tunggu sampai sudah dinyatakan lulus dan ijazah keluar dan SK PNS keluar, baru tulis di koran kalau Prajab itu hanya buang- buang waktu dan duit dan tenaga (ini diplomatis atau oportunis ya?). Atau seperti saya, sudah terdampar di benua lain, baru berani menulis note (tanpa ragu saya deklarasikan diri saya sebagai pengecut nomer wahid :D)
Jadi apa dong yang saya ingat dari materi Prajab? Saya hanya ingat tanya jawab antara seorang pengajar dan teman saya Ronald yang terhormat. Si pengajar memberi contoh soal kejujuran dengan menggunakan cerita klasik seorang raja yang membagikan pot berisi biji tanaman, dan siapa yang bisa menumbuhkan biji itu adalah pemenangnya. Maka seminggu kemudian berbondong- bondonglah orang datang dengan pot penuh tanaman menghijau. Kecuali Ronald, yang datang dengan pot kosong karena bijinya tidak mau tumbuh. Ternyata Ronald lah pemenangnya, meskipun bijinya tidak mau tumbuh. Kenapa Ronald menang? Karena sebetulnya bijinya Ronald dan biji peserta lain semuanya sudah dibakar. Jadi sudah tidak mungkin mempunyai batang. Saya membatalkan niat saya bertanya ke Ronald "Jadi lu ternyata nggak punya batang ya?" karena dokter Ronald yang mulia dengan memelas duluan berkata "Wah, jangan dibakar dong biji saya....."
Oke saya mengaku bahwa saya bukanlah peserta Prajab yang teladan. Saya agak kurang antusias mendengarkan materinya, saya agak enggan mendiskusikan kualitas apa yang harus dimiliki seorang PNS dan saya agak tidak berminat membuat karangan indah tentang peraturan kepegawaian dan wawasan nusantara. Jelas materi itu terlalu rumit untuk bisa ditelaah otak saya yang terbuat dari spons. Mungkin memang cocok bagi para dokter yang pintar dan dosen yang teladan, tapi saya kan hanya pegawai rendahan, dengan tugas hanya menata dokumen berdasar ketebalannya.... Materi tentang bagaimana caranya menumpuk dokumen tanpa membuatnya oleng pastinya lebih saya butuhkan daripada teori pola pikir cerdas dan sinergis wuzi wazi.
Plus ngapain juga sih saya harus belajar teori baris berbaris segala? Serius, ini baris berbaris ada buku teorinya, dan kemudian kami akan berpraktek di tengah lapangan di bawah terik mentari. Pelatihnya? Si bapak tentara dengan kumis melintang ala Pak Raden. Bahkan si bapak tentara ini juga sebetulnya mungkin kasihan melihat bentuk para peserta yang sudah keriput, berkerut, bungkring dan cungkring. Jadilah setiap 10 menit sekali ia memerintahkan kami untuk beristirahat di tempat teduh. Haha, memang TNI itu terbaik!
Di tempat prajab lain yang dibina oleh S**DN, sebelum makan saja harus baris berbaris dulu, masuk kelas baris, bubar kelas baris. Wah gawat, ini pasti kurikulum prajab bagi pegawai kantoran tercampur dengan kurikulum prajabnya satpam. Dengar- dengar sih isunya untuk melatih disiplin. Melatih disiplin? Yeah right.... Apa hubungannya disiplin kerja di kantor dengan baris berbaris balik kanan maju jalan grak sih? Enggak tahu ya dengan kantor anda, tapi di banyak kantor jaman sekarang setahu saya perjuangan menegakkan disiplin adalah perang melawan pemakaian FB dan chatting dan twitter pas jam kantor. Masalah disiplin bekerja berhubungan dengan baris berbaris saya rasa sudah punah sejak abad pertengahan (nggak tahu juga kalau di ST*D* masalahnya adalah saat seharusnya bekerja mengetik mereka malah sibuk keranjingan berbaris atau malah tendang- tendangan). Pegawai yang harus diragukan disiplinnya adalah mereka yang duduk dengan sangat tenang di bangkunya dengan wajah serius. Coba lihat layar komputernya, pasti lagi chatting.
Tapi, kalau saya berpikir lebih bijak, sebetulnya menguntungkan juga sih bahwa para petinggi PNS masih mengaitkan disiplin dengan kegiatan baris- berbaris. Kalau mereka sudah lebih pintar dan kemudian menemukan kaitan antara tingkat disiplin dengan pemblokiran situs setan semacam FB, youtube, twiter, nah kan malah berabe. Nasib PNS akan makin suram jadinya karena dikekang kebebasannya untuk update status dan mengupload foto.....
Lalu ilmu etos kerja. Ayolah, orang bego juga tahu gimana sih pekerja yang berdedikasi itu. Yang menyelesaikan tugas yang diembannya. Yang enggak pernah telat datang dan enggak kecepetan pulangnya. Yang mau mengupgrade ilmunya. Yang willing to go extra miles when necessary. Masak masih perlu teori wuzi wazi segala sih, dan berakhir dengan perdebatan apakah memakai sandal jepit di kantor itu etis atau enggak (tergantung dong, kalau dipakai untuk alas kaki ya etis, tapi kalau untuk melempar jidatnya bos ya nggak etis).
Dan terus terang saya paling jenuh dengan jejalan doktrin bahwa sebagai PNS, saya itu abdi negara dan harus memberi contoh baik di masyarakat bla bla bla. Itu dulu kali ya, waktu jadi PNS itu masih merupakan status terhormat, dipuja masyarakat. Saya sih, lebih suka dengan logika masuk akal saja deh. Status PNS nggak bikin saya bisa beli cabe di warung. Gaji saya yang bisa buat beli sembako. Jadi, give me a good salary and I'll be a good employer. Dan saya tertawa mendengar bunga-bunga manis bahwa yang saya kerjakan ini pengorbanan bagi negara dan saya harus iklas (sumpah di prajab bolak- balik senjata ampuhnya adalah kata iklas). Saat kamu berharap orang bekerja dengan imbalan iklas, kamu akan dapatkan segerombolan pemalas yang sudah kabur dari kantor jam 12 siang. Ya jangan disalahkan juga, lha wong dapatnya hanya iklas, berarti kan bekerjanya juga seiklasnya. Emangnya kerja bakti?
Agar saya termotivasi bekerja dengan baik, saya butuh gaji yang layak, jenjang karir yang bagus (kesadaran kalau saya bekerja keras akan ada reward bagi saya), dan hukuman kalau saya tidak perform (seperti waktu saya kerja di swasta, terlambat launching produk baru artinya kenaikan gaji saya akan berkurang persentasenya dan orang lain yang akan dapat promosi jadi manager). Tanpa tiga hal tersebut, saya terancam akan menjadi zombie yang masuk kerja jam 9, bekerja semaunya, pulang kerja jam 4, dan berkeliaran kemana- mana dengan sandal jepit siap dilemparkan ke jidat orang.
Jadi enggak ada asyiknya dong Prajab? Ada dong... Namanya pelatihan dimana- mana asyik in term of kita serasa muda lagi. Ketemu orang- orang seumuran yang sama gilanya. Bisa berkunjung ke kamar cowok dan ngegosip disana. Atau ramai- ramai fotokopi bocoran soal ujian. Menyelundup untuk nonton bioskop di tengah malam (ini sih bukan saya, lha wong saya bawa bayi merah). Dan saling menyapa dengan nama pertama. Tanpa embel- embel Pak, Bu, Mbak, Mas, Dok, Bro, Uda, Koko, dsb dsb. Saya cukup suka dengan suasananya, walau saya despise materinya. Dan saya beruntung karena menambah teman. Dua yang paling berkesan, tentunya Puz dan Ichlas :D. Dan saya cukup menikmati membuat yel- yel kelompok, dan bangga saat yel kelompok saya tampak paling keren. Dan bahkan saat tes kesehatan beberapa bulan kemudian, saya bertemu lagi dengan si Ronald. Dia bahkan memeriksa jari saya yang sakit bila ditekuk dan bersedia memeriksa saya dengan gratis. Lumayanlah!
Seorang teman saya bercerita bahwa ia diperingatkan bahwa di Prajab banyak terjadi cinlok ala sinetron. Saya langsung merasa ditipu dan diperlakukan tidak adil. Kenapa Prajab saya garing sekali yah? Nggak ada yang naksir saya atau bahkan sekedar bersuit nakal melihat saya dengan baju senam saya.... Kenapa ??????
Seorang teman di bagian saya, berakhir dengan menjadi peserta prajab dengan nilai terbaik. Saat ditanya bos bagaimana prajab saya, dengan jujur saya berkata "Saya sih sudah untung kalau bisa lulus Bu..."
Note : despite lack of revenue, career path, reward and punishment, hebatnya banyak anak muda yang masuk menjadi PNS sekarang ternyata orang yang sangat berdedikasi. Lot of my friends ngendon di kantor sampai jam 9 malam, dinas luar terus menerus dan bahkan terancam tidak bisa pulang kampung untuk sungkem saat lebaran karena tugas menumpuk.
Cerita yang bagus
ReplyDeleteNgakak baca ceritanya...thanx 4 sharing...
ReplyDelete