Monday 31 October 2011

My Monday Note -- Mungkin Perlu Ke Gunung Kawi

Saat sedang asyik meng-klik berbagai tombol untuk membalas status- status di FB dan memberi ucapan met ultah basa- basi ke berbagai teman FB yang saya bahkan lupa dia masih hidup kalau saja tidak ada notifikasi birthday, eh tiba- tiba muncul status seorang sahabat di masa muda. Begini statusnya : Duh Gusti Allah menopo sare nggih, kula sampun nyobi tes PNS bolak- balik kok nggih mboten ketompo. Wis jan, ancene usahaku ora diregani blas! Terjemahannya semacam : Duh Tuhan apa sedang tidur ya, wong saya sudah mencoba tes PNS bolak- balik kok ya enggak keterima juga. Memang usahaku itu tidak dihargai!

Tangan saya terdiam beberapa saat. Saat seseorang berkeluh kesah atau mengucap syukur dengan menyebut-nyebut Tuhan di FB, sebagai seorang yang setengah kapirun, biasanya saya tidak akan terlalu mempedulikan. Status semacamhanya kepada Tuhan aku berserah atau Meski kecewa tapi kupercaya pada Tuhan paling- paling hanya membuat saya mencibir. Lebay ah. Maklum- maklum, saya kan penyembah dewa kodok, jadi status religius nggak masuk ke nurani saya.

Tapi status teman saya diatas membuat saya entah kenapa sedikit sesak di dada (kata suami saya, "Itu karena kamu tambah gendut, jadi behanya gak cukup lagi"). Mungkin karena teman saya itu memakai bahasa Jawa. Dan karena saya orang Jawa (mohon diingat ya, saya ini keturunan trah SINGODIMEJO aka. singa di atas meja), jadi saat seseorang bertutur dalam bahasa jawa halus, maka ada sisi lembut di hati saya yang terketuk. Dan status teman saya itu membuat saya bisa merasakan betapa sedang sesak dadanya, betapa sedang putus asa dirinya, betapa dia menyalahkan Gusti Allahnya nya yang tercinta, tapi tetap hormat kepada Nya (kalau anda mengerti bahasa Jawa, di kalimat pertama saat ia sedang mengeluh pada Gustinya, dia memakai bahasa paling halus yang hanya dipakai saat kita bercakap dengan orang yang lebih tua dan dihormati. Tapi di kalimat berikutnya, dia memakai kata- kata yang ngoko alias bahasa kasaran).

Dan sebagai lazimnya nasib status semacam itu, balasan komen dari teman- temannya adalah semacam Sabar ya Broooo, atau Eh nggak boleh menyalahkan Tuhan, Ia akan memberi kamu yang terbaik kok dan komen- komen penghiburan dan teguran ala Mario Teguh deh. Saya, memilih tidak membalas status itu. Semata karena saya tidak tahu harus membalas apa. Bisa sih saya balas semacam sabar, atau terus berusaha atau Tuhan tahu waktu terbaik, tapi entah kenapa rasanya balasan semacam itu sekedar basa- basi dan dangkal. Jadi ya sudah, saya memilih bobok siang saja sambil ngupil. Memang saya itu bijaksana.

Saya tentu mengerti bahwa teman saya itu hanya sedang gundah gulana. Dia anak baik kok, hanya sedang ingin berkeluh kesah kepada Tuhannya. Hanya jadinya saya berpikir juga, kenapa ya saya yang sudah tiap hari pasang lilin di gereja tetap aja nggak naik- naik gajinya? Atau dalam status teman saya, yang sudah selalu berdoa kok ya nggak keterima- keterima juga. Katanya yang jaga gereja, "Mbak, mbak, kalau minta naik gaji ya jangan ke gereja dong, mintanya ya ke bosnya." Maka saya akan menjawab "Masalahnya saya takut pak mau minta ke bos, bos saya kan galak. Makanya mending mintanya ke sini aja, hehehehe."

Begini deh, kalau logikanya siapa yang paling rajin berdoa, paling khusuk beribadah harusnya yang paling sukses hidupnya dan karirnya, lalu kenapa negara- negara yang paling kaya tu kebanyakan malah negara yang rada- rada kapirun, yang gerejanya kosong melompong kalau hari minggu? Sementara Indonesia yang masjid dan gereja dan pura dan wihara dan klentengnya penuh sesak tiap hari, kok malah tambah miskin dan amburadul? Nah, saya juga nggak tahu ya apa jawaban religius untuk hal ini, monggo ditanya ke romo, pendeta, ustad dan kawan anda yang rajin pengajian. Ini sih hanya pemikiran awam saya.

Karena, meskipun Tuhan itu adalah pencipta tanah, dan bibit kedelai, dan air, dan eek nya si sapi, tapi tangan manusialah yang harus bekerja mengolah semua bahan mentah dari Tuhan ini. Jadi ya manusia harus bangun pagi- pagi untuk membajak tanahnya, kemudian membungkuk- bungkuk untuk menanam bibit kedelai satu demi satu di tanah, kemudian mengambil air seember demi seember dari sungai untuk menyiram tanamannya, dan tanpa jijik memunguti eek nya sapi untuk ditaburkan diatas tanah. Ini proses kehidupan kan? Enggak ada urusannya sama sekali dengan mau anda doa dulu kek, atau wiridan semalam suntuk, tetap saja kalau mau dapat tempe ya harus bersusah payah dulu menanam kedelai. Masak dengan berdoa menengadahkan tangan ke langit lalu tahu- tahu ada sekarung kedelai jatuh dari langit? Emangnya film Sun Go Kong?

Saat saya ingin tempe, saya tahu bahwa saya harus bekerja keras menanam kedelai. Tidak bisa tidak. Saya harus berusaha sekuat tenaga bekerja dan berotak pintar untuk mengkalkulasi berbagai kemungkinan, semisal cuaca atau hama yang mungkin menyerang. No pain, no gain. Tapi, saya lalu akan menundukkan kepala dan berucap kepada Tuhan di surga, mengucap syukur karena saya masih diberi kesempatan untuk mengolah berkat pemberianNya. Dan saya memohon bantuan penyertaanNya, supaya tanaman kedelai saya tumbuh subur dan nantinya bisa saya panen. Karena saya tahu banyak hal di dunia ini berada di luar kendali tangan saya.

Lalu sampailah saya pada saat panen. Sawah sebelah saya adalah milik seorang ateis yang pintar. Dia meneliti dengan seksama segala masalah pertanian dan bekerja lebih keras dari saya. Lho, kok ternyata meskipun saya sudah bekerja keras, kok panen saya tidak memuaskan ya hasilnya? Sementara tetangga ateis saya sukses besar? Wajar saya kecewa, dan mungkin sempat mengeluh ke Tuhan, gimana ini, saya sudah kerja keras dan memohon padaMu, tapi kok hasilnya enggak bagus?

Setelah days of mourning, sampailah saya pada kemampuan untuk berakal sehat lagi. Karena saya percaya Tuhan, maka saya yakin selalu ada maksud di balik setiap kejadian di hidup saya, termasuk saat saya gagal. Jadi sekali lagi saya menundukkan kepala dan berucap "Maaf Tuhan, aku sempat putus asa. Terimakasih ya, Engkau tidak mengirim petir untuk menyambar bokong saya. Sekarang saya akan berjuang, memeriksa apa yang kurang dari usaha saya, apa mungkin pupuknya kurang banyak, atau saya kurang pagi bangunnya. Mohon penyertaanMu yah...."

Dan bahkan, saat mungkin lagi- lagi saya gagal, saat saya percaya pada Tuhan, saya akan merasa ayem karena tahu saya punya Seseorang tempat saya mengadu. Dan kalau saya sudah bekerja keras sekali, saya sudah berdoa dan tetap saja panen saya gagal, ya mungkin berarti memang saya tidak berbakat jadi petani kedelai kan? Mungkin saya harus mencoba profesi yang lain. Bagi saya, kalau anda mengharapkan saat anda berdoa maka hidup anda akan mudah, karir moncer, jodoh gampang, ya jangan berdoa kepada Tuhan. Ia kan memang tidak pernah menjanjikan akan membuat anda kaya, dan sukses, dan rupawan. Doanya ke Jin Iprit saja. Pasti manjur, plus anda dikasih peliharaan tuyul. Top kan? Paling- paling dia minta bayaran jiwa anda, huahahahaha.

Makanya saya rada bete saat ada novel religius (sehabis booming novel AAC) yang dibagikan gratis di majalah K**T***. Ceritanya tentang seorang pemuda desa miskin yang di kampungnya disia- sia karena dia mencoba mempertahankan surau yang hendak rubuh. Di sisi lain, kakaknya yang rupawan dan ramah tapi jarang mengaji dicintai orang sekampung. Lalu kakak ini merantau ke kota, dan jadi sukses (di akhir cerita ternyata si kakak jadi bandar narkoba). Wah, semakin banggalah orang tuanya pada si kakak, sementara si adik jadi cemoohan di kampung ya karena dia mencoba mempertahankan surau yang mengakibatkan perang antar desa. Akhirnya diusirlah si adik dari kampung. Sampai sini masih okelah ceritanya. Beberapa tahun berselang, tiba- tiba pulanglah si adik, dengan diantar orang- orang berkopiah semua, naik mobil mercy. Ceritanya, si adik abrakadabra menjadi sangat sukses di kota. Caranya gimana? Gak penting. Pokoknya dia sukses karena kesucian hatinya. Titik. Dan dia berteman dengan orang- orang kaya yang tetap condong pada Tuhan.

Bagi saya, novel ini menyesatkan. Seolah asal anda rajin berdoa, semua akan beres. Meskipun anda pemuda dusun kecil yang nggak tamat sekolah, dan terusir ke Jakarta tanpa modal duit dan pendidikan, pokoknya sim salabim anda akan bisa kaya raya banyak harta. Syaratnya, berhati bersih dan rajin berdoa. Kenapa si novelis tidak menceritakan misal si adik ini bekerja keras di jakarta, jadi kuli, hidupnya getir tapi karena dia beriman jadi dia tabah menjalani. Lalu gimana kek, dia bersekolah lagi, trus karena dia pintar dan rajin berdoa maka dia keterima jadi satpam, trus karena dia jujur jadi dia naik pangkat, and so on and so on. Intinya, ora et labora, bekerja dan berdoa. Ini mah novel khas orang Indonesia namanya, maunya nggak kerja keras tahu- tahu sukses dan kaya cara instan. Pake embel- embel agama lagi. Halah. Lagi- lagi, emangnya Tuhan itu jin iprit apa? Makanya urbanisasi menggila di Indonesia.

Kemarin saya membaca status beberapa ex teman sekantor saya. Biasa, sehabis lebaran selalu ada acara halal bihalal di pabrik cikarang. Saya dulu selalu rajin datang meskipun itu berarti saya harus mengancam teman untuk meminjamkan kerudung kepala. Daripada duduk ngetik di kantor sambil ngelihat mukanya bos yang asem, kan mending ikut halal bihalal, dapat snack, bisa ngobrol sama cowok pabrik yang caem- caem lagi. Nah, tahun ini topik hangatnya adalah ustad yang akan mengisi ceramah di halal bihalal. Ni ustad populer banget, charming, lucu, bisa menyampaikan khotbah dengan sangat membumi dan tidak terkesan menghakimi. Pokoknya otre deeeeeh. Jadilah pak ustad ini laris manis kembang kimpul. Cewek- cewek pun selalu menyambut dengan setengah histeris, membayangkan bagaimana rasanya punya suami yang sebaik, seteduh, dan sesuci pak ustad. Lalu dulu di surabaya, saya pernah punya pastor yang suci sekali orangnya, baik sekali hatinya, dan tidak punya pikiran jelek pada siapapun. Siapapun yang berada di dekatnya akan merasa damai. Hanya, romo sepuh ini tidak pernah menjabat menjadi romo pemimpin gereja, atau jabatan- jabatan lainnya. Semata karena beliau memang tidak memiliki kapasitas organisasi yang sebaik pastor lainnya. What I'm trying to say is, bahkan di ranah keagamaan pun, yang namanya kemampuan profesional itu tetap diperlukan saat seorang pemimpin agama hendak didudukkan dalam suatu jabatan duniawi. Dan dalam kasus pak ustad beken, mungkin banyak ustad dan kyai lain yang lebih tekun berdoa, tapi ternyata ustad yang sukses diundang ke acara- acara juga tetap ustad yang bisa menyampaikan khotbah dengan segar dan mengena kan?

Nah, kalau karir yang nyerempet surga saja tetap membutuhkan kemampuan profesional, bagaimana bisa untuk karir yang kapitalis dan materialis aka. karir duniawi pada umumnya, seseorang mengharap hanya dengan modal doa maka dia akan sukses? Masalahnya juga, meskipun dunia itu diisi penjahat dan penjahit, tapi Tuhan menurunkan hujan untuk keduanya kan? Masak hanya si penjahit yang dikasih hujan? Sama juga kenapa di rumah sakit, yang kena kanker ya ada yang ustad dan ada yang penjahat. Ya gimana lagi, memang beginilah cara dunia berputar.

Jadi enggak ada gunanya dong orang berdoa? Emang nggak ada gunanya, kalau seseorang mengharap dengan berdoa maka hidupnya akan mudah, bisa menang lotere 4 juta dolar, bisa kaya, bisa sukses karirnya, bisa cantik mukanya, bisa gampang jodohnya, bla bla bla. Doa kok jadi tawar menawar. Hayo, bikin saya kaya nggak, kan saya sudah doa lhoooo.

Tapi dengan berdoa, saya bahagia karena saya bisa bercakap- cakap dengan Sang Pencipta yang telah mencintai saya, saya bisa merasa damai karena tahu saya tidak sendirian di dunia yang kejam ini, dan saya bisa yakin bahwa apapun kegagalan yang terjadi, selama saya mau terus maju, maka akan ada jalan yang lebih terang yang disediakan bagi saya.

Kembali ke status teman saya, saya sadar sih dia hanya sedang berkeluh kesah. Manusiawi lah. Makanya saya juga enggak pingin membalas komentarnya dengan teguran jangan berani- berani mempertanyakan keputusan Tuhan wahai dikau manusia tak beriman! Ya namanya manusia kan tempatnya kecewa dan mengeluh. Hanya kalau saja saya ingin membalas nakal, mungkin saya akan membalas dengan semacam: masalahnya kan peserta yang lain juga berdoa? :D Atau saya akan menjawab PNS kan abdi negara dan masyarakat. Lha kalau Tuhan hanya sekedar memilih berdasar siapa yang doanya paling rajin dan paling sering ikut tes, padahal dia goblok petok- petok, lha cilaka dong bangsa saya, karena PNS nya kagak gape melayani masyarakat?

Selain kenyataan bahwa orang yang rajin berdoa itu bukan jaminan hidupnya bakal sukses juga dunia, saya jadi ingat dulu saat saya ngobrol- ngobrol dengan teman sekantor dulu. Kami menggosipkan (ckckck, jangan pernah menuduh saya biang gosip, saya hanya bergosip untuk pergaulan kok) tentang seorang rekan yang menyebalkan, jahat, tapi karirnya paling moncer. Kata seorang teman, "Aneh ya, wong dia tu jahat dan licik, tapi kok malah naik level terus." Saya jadi berpikir- pikir, iya ya, kenapa ada orang baik yang sukses, tapi banyak juga orang jahat yang sukses.

Gini, misalnya anda ditunjuk jadi komandan pasukan Amerika dan akan diterjunkan ke belantara Vietnam yang penuh tentara Vietkong. Anda diminta memilih 20 orang anggota pasukan. Nah, dengan resiko mati ditembak Vietkong atau menginjak ranjau darat, kira- kira personel macam apa yang akan anda pilih? Saya nggak tahu ya dengan anda, tapi kalau saya sih masih sayang sama bokong saya yang mulus ini, jadi saya akan melakukan segalanya untuk menjaga sang bokong dari terjangan peluru. Nah, otomatis personel yang saya pilih adalah para penembak tepat, prajurit yang tangguh, bisa melacak musuh dan punya kemampuan hebat dalam bertempur. Apa saya peduli kalau si personel ini jahat orangnya, judes mukanya dan kasar bicaranya? Ya enggaklah. Yang penting dia mampu menembak dan lari cepat. Nah, baru kalau pilihannya dua orang yang sama- sama jago nembak, tapi yang satu ramah tamah dan tampan rupawan sementara yang satu jahat judes, tentu saya akan memilih si ramah nan rupawan. Kalau ramah dan tampan tapi enggak bisa megang senapan? Ya itu mending saya jadikan suami saja deh!

Begitu juga suatu perusahaan. Pegawai yang bisa memenuhi target penjualan, atau bisa membuat program software yang canggih atau yang punya kemampuan memimpin, atau yang bisa luwes berhaha hihi dengan klien, ya itulah yang akan maju karirnya. Kalau mau jadi manager pemasaran, ya seseorang harus pinter memasarkan. Kalau mau jadi manager keuangan ya seseorang harus pinter akuntansi. Titik. Nggak ada urusannya dengan "Saya tuh memang nggak bisa menghitung 2 x 3 berapa, tapi kan saya selalu baik hati, jadi kenapa bukan saya yang dipercaya untuk menjadi bendahara?? Kenapa..Kenapa?? Hidup memang tidak adil!!! Ya sudah saya mau menari muter- muter kayak pilem India!!!"

Nah, kalau si manager pemasaran ini jahat, ya dia akan jadi manager pemasaran yang disumpahin anak buahnya masuk neraka. Sementara kalau yang jadi manager pemasaran selembut dan sebaik saya, ya maka dia akan jadi manager yang disayangi anak buahnya, didoakan supaya diterima amal ibadahnya :D. Tapi siapa yang karirnya bagus dan bakal jadi direktur? Ya siapa yang bisa membawa keuntungan lebih banyak bagi perusahaan dong. Bisa si jahat bisa si baik, siapa yang lebih pinter.

Jadi nggak ada untungnya dong jadi seorang yang baik? Mending jadi yang jahat aja kalau gitu. Nah, sebetulnya jadi baik itu ada untungnya juga. Yang pertama, ya orang- orang akan lebih sayang pada si baik daripada si jahat. Kalau saya jadi bos, dan ada dua anak buah saya dengan kemampuan profesional yang sama, yang satu baik dan yang satunya lagi jahat, ya saya akan milih si baik untuk saya naikkan pangkatnya. Tapi, itu kalau kualitasnya SAMA ya.... Keuntungan lainnya, ya teman- teman bakal sayang sama si baik, dia mungkin bakal diajak makan siang dan jalan- jalan ke mall lebih sering dari si jahat, kalau ultah dikasih ucapan selamat, dan mungkin setiap pagi disapa dengan ramah. Sementara si jahat? Ya mungkin dicuekin aja, nggak diajak makan siang, dan nggak diajak jalan- jalan ke mall. Saat si baik mati, banyak yang akan datang ke pemakamannya untuk mendoakan. Saat si jahat yang mati, banyak yang datang juga sih, untuk menghibur dewa bumi yang harus menerima makhluk sejahat itu.

Tapi selain urusan untung atau nggak untung dengan menjadi orang baik, bukannya kita seharusnya menjadi seseorang yang baik semata karena kita ingin menjadi orang yang baik ya? Kok jadi semacam balas budi, kalau aku baik, sebagai balasannya harusnya karirku juga jadi cemerlang dong....

Saya : Gimana sih ini, saya sudah berdoa tanpa henti, selalu menyumbang gereja, kok karir saya tetap mandeg!!!!
Malaikat : Lha ya salah kalau kamu berharap dengan berdoa di gereja, lalu semua keinginan duniawimu akan terkabul
Saya : Jadi saya harus kemana dong???? Masjid? Pura? Klenteng?????
Malaikat : (Menggeleng- geleng dengan masam) Sana lho bertapa ke gunung kawi !
Saya : Sibuk mencari di google map posisi si gunung kawi (hm, kenapa ada bau belerang ya ???)

Monday 24 October 2011

My Monday Note -- Saya Benci Kamu Bahkan Sebelum Saya Kenal Kamu

Suatu hari, saya sedang sibuk googling tentang blog- blog mengenai travelling. Ceritanya, saya sedang berniat menulis kisah perjalanan, mencoba mengirimnya ke majalah- majalah, dan kali-kali dimuat, saya dapat honor, dan saya bisa pakai honor saya untuk foya-foya mabuk- mabukan. Amin haleluyah. Lalu, sampailah saya pada satu blog yang menarik minat saya. Gambar yang terpampang adalah gambar sebuah gedung tua yang tampak kelabu, suram, dan terselimuti salju. Melihat gambar itu, saya merasa heran, biasanya kan foto yang dipajang di sebuah blog travelling adalah foto yang indah, lha ini kenapa ya kok yang dipasang adalah gambar yang dingin dan suram. Kemudian saya baca deskripsi sang penulis mengenai tempat itu. Ternyata, gambar itu adalah gambar museum Auschwitz di Polandia. Museum ini dulunya adalah kamp konsentrasi di jaman NAZI, tempat mereka mengurung dan membunuh tawanan Yahudi. Oya saya lupa, dan menyiksa.

Ini sedikit deskripsi mengenai kisah perjalanan orang itu ke dalam bekas kamp. Saya berkunjung ke kamp itu saat natal. Suhu udara jatuh dibawah 0 derajat. Pemandu wisata mengajak kami berkeliling, dimulai dari sebuah bangunan yang disebutnya 'rumah sakit'. Rumah sakit ini adalah tempat bagi para tawanan yang lemah, sakit dan tidak kuat bekerja. Mereka dikirim ke rumah sakit untuk 'dirawat', dijadikan 'eksperimen'. Salah satu bentuk eksperimennya, dioperasi tanpa anestesi. Kemudian kami masuk ke bangunan berikutnya, barak tempat para tawanan tinggal. Barak itu aslinya adalah kandang kuda, dan satu tempat tidur harus diisi 7 orang, dengan ember sebagai toiletnya. Tikus dan kutu adalah sahabat baik. Bangunan itu amat lembab, suram, dan entah bagaimana, aura kematian serasa menggantung di langit-langit. Mungkin itu aura ribuan orang yang tahu bahwa entah esok entah lusa, hidupnya akan berakhir dengan kejam.

Saat itu, saya menggunakan semua baju yang saya miliki; baju termal, jaket tebal, sarung tangan dan kaus kaki wol. Dan saya masih menggigil kedinginan. Sementara para tawanan hanya menggunakan baju tipis compang camping tanpa alas kaki. Pemandu tur menunjukkan barang-barang yang dimiliki para tawanan, dan diantara yang sedikit, tersembul selimut yang terbuat dari jalinan rambut manusia, yang dipotong para tawanan dari rambut mereka sendiri, sebagai usaha terakhir membuat diri mereka sedikit lebih hangat. Yang terakhir, adalah tempat genosida, tempat para tawanan dihukum mati dengan cara yang paling murah dan efisien, dengan membariskan ratusan tawanan untuk masuk ke dalam ruang tertutup, mengunci ruang itu, dan menyemburkan gas beracun ke dalamnya. Setelah beberapa menit menjerit dan meronta, mereka semua akan terdiam. Tinggal dilempar ke dalam lubang yang mereka gali sendiri di malam sebelumnya.

Oke, membaca deskripsi orang itu, dan pengakuannya bahwa ia mengalami mimpi buruk selama beberapa hari sesudahnya, saya merinding. Bahkan menuliskan deskripsi singkat diatas pun, bulu kuduk saya meremang. Melihat gambar- gambar pria, wanita dan anak-anak dalam seragam penjara garis -garis putih hitam, berbaris berjejer, dengan lengan ditato nomor tawanan mereka, menunggu untuk dipilih antara dikirim ke pabrik untuk bekerja sampai mati, atau ke rumah sakit untuk dicacah sampai halus atau langsung ke semburan gas genosida, sungguh membuat saya tidak nyaman. Salah satu gambar yang menunjukkan foto wanita tawanan tanpa baju, dengan dada keriput menggelantung hingga menyentuh perutnya yang cekung, dan ia berusaha menekuk tangan dan kakinya sedemikian rupa menirukan posisi janin, mungkin sebagai usaha terakhirnya membuat tubuhnya lebih hangat, oh foto terkutuk yang membuat nafas saya sesak.

Nah, saya sih tidak pernah punya sentimen sedemikian kuatnya terhadap satu bangsa atau agama, tapi terus terang hidup saya juga dipenuhi prasangka semacam itu. Enggak sampai membuat saya menghalalkan darah mereka sih, tapi mempengaruhi cara pandang saya terhadap mereka. Let me get straight. Saya orang Jawa, saya orang Indonesia. Kata orang, gajah di pelupuk mata tak nampak, selumbar di ujung lautan nampak. Karena saya orang Jawa, saya punya prasangka terhadap suku bangsa lain. Kalau ada sopir metromini yang ngawur nyerobot dan kemudian malah marah- marah padahal salah, dalam hati saya akan langsung memaki "Dasar Batak gendeng. Ya gitu itu orang Batak, dasar bebal SEMUA." Kalau saya belanja di pasar wonokromo dan saya ditipu seorang pedagang dengan logat Madura maka saya akan memaki " Ya gitu itu orang Madura, pada tukang tipu SEMUA." Dan saat saya mempunyai teman seorang Padang yang pelit setengah mati, saya akan langsung ngedumel "Dasar Padang, pelit mata duitan SEMUA."

Begitu juga karena saya orang Indonesia, saat mendengar Malaysia mencuri tarian bangsa saya maka saya akan langsung menggeram "Udah dibom aja tuh senegara. Dasar Maling SEMUA." Atau saat mendengar berita TKI saya diperkosa dan dibunuh di Arab Saudi, saya akan serta merta menuduh "Dasar orang Arab sodaranya onta semua. Barbar jaman batu SEMUA."

Oke, saya sih tidak pernah berpikir saya bakal tega untuk mengirim salah satu dari yang saya sebut diatas itu untuk dioperasi tanpa anestesi. Meskipun pada detik disaat saya memaki si sopir metromini yang menyerempet mobil saya itu, kebencian saya memuncak pada dia dan sukunya, saya tidak akan pernah membayangkan saya akan tega mengirimkan dirinya, dan semua anggota sukunya, termasuk bayi- bayi merah mereka yang baru lahir ke Auschwitz. Jadi saya nggak akan mendapat julukan Hitler. Tapi dengan mempunyai prasangka terhadap mereka, mungkin saya boleh disebut Hitler Junior mungkin? Saya yakin kita semua pasti punya prasangka terhadap suatu suku, bangsa atau agama lain. Atau mungkin ada yang hidupnya bebas dari prasangka? Saya pingin tahu bagaimana kiatnya.

Waktu saya tinggal di Indonesia, karena suku saya merupakan mayoritas, saya tidak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi sasaran prasangka secara langsung. Tapi saat saya tinggal di Melbourne, saya baru bisa merasakannya. Di Melbourne ini, saya bisa bilang sebagian besar orangnya sangatlah toleran. Mereka kebanyakan sudah terbiasa dengan berbagai budaya yang ada di sekeliling mereka. Tapi saat saya naik ke suatu bis, dan kemudian bertanya dengan sangat sopan kepada sopirnya apakah bis ini akan menuju ke stasiun Blackburn (dan biasanya si sopir akan dengan sangat helpful menjawab pertanyaan saya), dan kali ini sopirnya dengan kasar menjawab "Emangnya kamu nggak bisa baca di petunjuk di depan bis? Ya sana turun dan baca dulu."

Dan beberapa saat kemudian, seorang bule menanyakan hal yang sama. Dengan ramah, si sopir menganggukkan kepala. Duer, kesadaran memasuki kepala saya, sopir ini benci saya semata - mata karena saya orang Asia. Padahal dia enggak kenal saya, dan saya yakin saya jauh lebih sopan dari si bule. Guys, it's hurt. Really hit me like a truck. Dibenci karena misalnya saya tidak sopan atau menyebalkan is one thing. Tapi dibenci karena rambut saya hitam, kulit saya coklat, well, I can't help it, right? Saya nggak bisa milih minta dilahirkan dengan mata biru dan rambut pirang atau dengan rambut hitam dan kulit coklat.

Mungkin anda berpikir bahwa si sopir bis ini enggak punya alasan untuk membenci orang Asia, atau imigran in general. Masalahnya, dia sebetulnya punya 'alasan' dibalik ketidaksukaannya. Kemungkinannya, karena banyak imigran berakhir lebih sukses dari dia yang penduduk asli sini. Dan memang banyak imigran yang seenak udelnya sendiri. Di rumah orang kok nggak ngikutin aturan orang, malah menuntut si tuan rumah yang menyesuaikan dengan hukum maunya dia. Juga kebanyakan area yang rawan kejahatan adalah kantung- kantung imigran. Tapi, saya kan bukan penjahat kayak imigran yang lain itu? Dan apakah dosa kalau saya lebih sukses dari dia?

Dan saat saya berada dalam kereta yang akan membawa saya ke rumah saudara saya, dan segerombolan cowok bule menirukan aksen orang India yang memang aneh, dan seorang cewek India duduk sendirian di kursi depan mereka, dengan wajah yang memerah tapi tak berdaya melawan, well, mata saya memerah. Kalau saja saya tidak membawa Serafim, mungkin saya akan berdiri dan dengan gemetar karena sebetulnya takut berkata "That's not funny guys." Saya sendiri tidak bisa bilang bahwa orang India adalah favorit saya, tapi membully seseorang hanya karena dia seorang India, dan melihat ketidakberdayaan di wajahnya, well, I just can't.

Malamnya, saya berkata ke Okhi, "Sekarang aku mengerti apa yang kadang dirasakan orang keturunan Cina di Indonesia." Didiskriminasi semata karena mata sipit dan kulit kuning mereka. Diskriminasi yang tidak terucapkan, tapi menggantung rendah di langit- langit. Saat saya terlibat tabrakan dengan orang Cina misalnya, saya akan mempunyai 'rasa aman' karena kalau sampai perkara ini diajukan ke polisi, pasti saya yang akan menang. Polisinya kan orang pribumi seperti saya. Bayangkan rasanya saat anda di negara barat misalnya, dan semua orang menatap curiga dan mengernyit saat anda lewat, hanya karena kebetulan anda berasal dari negara yang sama dengan Amrozi. That's hurt right? Enggak woi, meskipun saya orang Indonesia, tas ransel saya ini isinya gantungan kunci untuk oleh- oleh emak di kampung, bukannya bom untuk bunuh diri. Atau mentang- mentang orang Jawa lalu saya dituduh bakal sukanya berbaik- baik di depan, tapi menjelek-jelekkan di belakang. Saya sih, akan langsung menghina orang didepan orang itu langsung :D.

Di Australia ini, meskipun diskriminasi terhadap ras dan agama lain itu ada, tapi satu hal yang saya kagumi. Saat teman saya Addion, yang hanya mahasiswa 'miskin' penerima beasiswa dari Jambi terlibat tabrakan dengan seorang bule, dan si bule berkata bahwa suaminya adalah seorang polisi (bayangkan kalau anda tabrakan di Jakarta dan ternyata yang menabrak anda seorang istri polisi), Addion bisa dengan pede berkata "Ya sudah, kalau mau ke polisi ya ayo." Dia tidak perlu takut bahwa polisi, atau hukum disini akan mendiskriminasinya hanya karena dia orang Asia, hanya karena si bule istri polisi.

Ada satu kejadian yang membuat berbagai kolom berita di Australia ini bergolak. Ceritanya, seorang imigran golongan minoritas di Australia, dihentikan polisi di pinggir jalan karena melanggar lalu lintas. Dan kemudian, si imigran ini teriak menuduh si polisi rasis. Dan kemudian melayangkan surat pengaduan ke kantor polisi, menuduh petugas polisi yang menghentikan dia di jalan telah bertindak rasis. Nah, dituduh rasis di Oz ini masalah berat, hukumannya berat. Ternyata, seluruh kejadian saat si polisi menghentikan si imigran di jalan itu terekam di kamera video di mobil si polisi (si imigran nggak nyadar bahwa dia terekam). Dan dari rekaman tampak bahwa si polisi tidak sekalipun melakukan hal yang rasis. Bahkan sangat sabar. Kalau saya yang jadi polisi, sudah saya tembak tuh ibu- ibu bawel yang sibuk membentak-bentak polisi.

Karena si imigran sudah mengirimkan surat tuduhan bahwa si polisi rasis, dan kemudian dari rekaman video ternyata terbukti tuduhan itu palsu, si imigran dihukum karena membuat pengaduan palsu. Lalu kemudian, si imigran menyangkal bahwa dia pernah membuat surat pengaduan itu. Dan oleh pengadilan dia dibebaskan, karena secara administrasi memang tidak bisa dibuktikan bahwa dia yang membuat surat itu. Secara akal sehat, pasti si imigran yang membuat surat itu, tapi secara administrasi tidak bisa dibuktikan karena cacat prosedur.

Masuk akal nggak kalau mayoritas orang Australia marah besar? Kamu datang kesini, kamu berbohong menuduh polisi kami rasis, kamu mengirim surat pengaduan, dan saat ketahuan ternyata tuduhan kamu tidak berdasar, kamu bilang bukan kamu yang bikin surat itu. Kalau di Indonesia, mati tuh orang. Tapi disini, semarah apapun publik, tapi hakimnya (yang berkulit putih dan mungkin dalam hati juga pingin nembak si imigran) tetap berpegang bahwa dia harus membebaskan si imigran karena dia tidak bisa 100% yakin bahwa si imigran lah yang mengirim surat itu. Dan dalam hukum, itu berarti dia harus dibebaskan. Nope, saya sih tidak bilang Australia bebas diskirminasi, tetap adalah yang namanya diskriminasi. Hanya perlindungan hukum terhadap diskriminasi lebih bisa diharapkan.

Kalau di masyarakat ada diskriminasi, itu tidak baik. Tapi saat negara dan hukum mengijinkannya, itu sama sekali unacceptable. Bayangkan saat seorang anggota DPR berkomentar bahwa menteri Mari Elka memutuskan membeli pesawat dari Cina karena pertimbangan 'asal tanah leluhurnya'. Ya Tuhan, komentar rasis semacam itu diucapkan seorang pejabat tinggi negara, dan tidak ada konsekuensi hukum. Atau saat segerombolan orang bisa dengan bebas menekan dan menindas kelompok lain yang dianggap sesat, dan membunuh, dan terekam di video, dan polisi hanya diam saja. Apa kita sama buruknya dengan Hitler? Tidak, kita lebih buruk lagi. Kita melihat orang lain playing Hitler, dan kita membiarkannya, cari aman untuk diri kita, seperti yang saya lakukan saat saya memutuskan hanya duduk diam di kereta membiarkan para cowok itu menyakiti hati orang lain (toh bukan saya yang mereka hina).

Kalau orang Indonesia pingin semua orang Malaysia masuk neraka, kalau orang Islam pingin semua orang Kristen masuk neraka, kalau orang Kristen pingin semua orang Islam masuk neraka, kalau semua orang Jawa pingin semua orang Batak masuk neraka, dan orang Cina pingin semua orang Jawa masuk neraka, dan kalau saja Tuhan sama piciknya dengan kita dan mengabulkan semua permohonan itu, yah, saya membayangkan betapa sepinya surga...... Jangan- jangan hanya anjing saya si Noel yang nantinya bakal duduk- duduk di surga sambil garuk- garuk kutu.

Oh, bagi saya naif kalau kita bisa hidup tanpa prasangka. Mungkin itu mekanisme alami bahwa kita akan 'waspada' terhadap sesuatu yang berbeda dari kita. Hewanpun akan memandang curiga hewan lain yang ciri fisiknya berbeda dari mereka. Tapi kita kan manusia, jadi tentu segala prasangka dan insting waspada itu harus diimbangi dengan logika dan akal budi.

Note : saya juga enggak tahu kenapa saya membuat note segarang ini, secara biasanya note saya hanya soal kue dadar yang gosong. Mungkin rasa sakit hati dan marah yang saya rasakan saat saya menjadi korban prasangka di bis yang hit me like a truck (anda tidak akan mengerti bagaimana rasa sakit hati itu sampai anda sendiri yang menjadi sasaran prasangka-- sakit hati, marah, tak berdaya, merasa dilecehkan). Dan mungkin, si supir bis tidak akan menyangka, betapa sakit hatinya saya akibat satu kalimat yang ia ucapkan. Sungguh menyesakkan dibenci semata karena warna kulit atau kepercayaan kita, jadi saya berjanji pada diri sendiri, seburuk apapun prasangka saya pada satu kelompok, saya tidak akan pernah membiarkannya lepas kontrol. Saya janji, saya hanya akan benci pada seseorang hanya setelah saya mengenalnya secara pribadi, bukan karena kebetulan matanya sipit misalnya.

kalau anda menganggap ada manusia ciptaan Tuhan yang layak diperlakukan seperti ini hanya karena agama atau sukunya, coba dicek akte kelahiran anda, jangan2 nama tengah anda Hitler
And to hate the children just only because of their origin?

Monday 17 October 2011

My Monday Note -- Pelajaran Hidup Bernama Serafim

Hari kamis jam 9 pagi. Hari ini adalah harinya Sera ikut kelas bermain. Saya mendudukkan Sera di atas car seatnya, menyetir selama 10 menit, dan sampailah ke tempat kelasnya Sera. Saya menuntun Sera masuk ke dalam gedung. Di ruang tunggu di depan aula yang sudah disulap menjadi arena bermain, sudah ada beberapa anak lain dengan diantar entah emaknya, bapaknya atau neneknya. Saya menyapa mereka, Sera sih cuek saja. Lalu saya mengajak Sera mencari namanya dan memasangnya di rompi yang kemudian saya pakaikan ke badannya. Sera dengan ngawur asal mencomot nama anak lain. Kemudian, pintu kelas dibuka, dan Liz, si instruktur kelas sudah duduk menunggu. Saya memberikan buku Gymbaroo kepada Sera, dan memberikan perintah "Put the book into the red basket Sera." Dengan berderap Sera memasukkan bukunya ke keranjang merah. Lalu saya mengajaknya untuk antri di depan Liz. Dengan penuh perhatian, Sera memperhatikan Liz membubuhkan stempel bergambar sapi di kaki kanan dan tangan kanannya. Lalu kemudian, Sera bebas menjelajah arena bermain.

Saya bukan sedang berusaha membuat buku harian tentang kegiatannya si Sera. Mungkin bagi yang membaca paragraf di atas, hal itu hanya cerita biasa soal kegiatan seorang batita. Tapi hari itu, saya menjadi ibu yang paling bangga sedunia. Lebay ya? Lemme start from the very beginning.

The major setback in my life adalah saat Serafim ternyata tidak berkenan dimasukkan ke dalam Childcare. Dia menjerit dan menangis tanpa henti. Kami datang ke Australia dengan segudang rencana, dan hanya karena si nyaris-2-tahun kami menolak untuk dititipkan, semua rencana itu buyar. Saya tidak bisa bekerja, penghasilan hanya didapat dari Okhi. Rencana finansial buyar, dan yang tak kalah parahnya, saya kehilangan kesempatan yang sudah saya tunggu untuk bisa bekerja di luar negeri. Plus, saya tidak merasa memiliki ketertarikan kimiawi dengan sapu dan wajan.

Sesudah days of self-loathing, depresi, dan keinginan yang besar untuk menggunakan pisau dapur untuk menggorok si makhluk 70 senti yang suka menjerit itu, saya menjadi lebih tenang. Dan menyadari keprihatinan terbesar saya adalah mengenai anak saya. Saya sangat ketakutan. Apakah Sera bisa beradaptasi dengan cara Australia? Yang di umur 3 tahun saja anak- anaknya sudah melompat ke kolam renang dengan pelatih renangnya, tanpa didampingi orang tuanya. Yang di umur 3 tahun sudah masuk Early Learning Center dengan santai? Pusing kepala saya.

Anda belum kenal siapa Sera sebenarnya sampai anda mendengar deskripsi ini. Serafim, punya ketakutan yang sangat besar terhadap orang asing. Sangat besar. Jangankan memegangnya, menyapanya saja sudah bisa membuatnya menangis menjerit dengan histeris. Dia tidak bisa ditinggal sendiri. Dia harus selalu bersama saya. Ketakutannya terhadap orang, benar- benar sudah sampai taraf fobia menurut saya. Sialnya lagi, dia paling takut pada orang tinggi, berkulit putih dan berambut terang alias bule. Memang katrok kok si Sera.

Akhirnya saya berkata ke Okhi, dengan anak yang sangat ketakutan saat berinteraksi dengan orang lain (bahkan ia tidak mengijinkan mamanya Okhi menyentuhnya), akan sangatlah kejam kalau kami memaksa untuk melemparnya ke tangan segerombolan orang asing sepanjang hari di tempat penitipan anak. Tapi, membiarkan saja ketakutannya berkembang tanpa berusaha memperbaikinya, saya juga tidak merasa itu hal yang tepat untuk dilakukan.

Akhirnya, kami sepakat memasukkan Sera ke kelas- kelas bermain dengan saya menemaninya. Harapan saya sederhana, Sera tidak menjerit setiap disapa orang lain. Kelas pertama yang saya ikuti adalah Gymbaroo, ini kelas 50 menit yang kegiatannya main- main selama 15 menit di playgroundnya, kemudian semua anak dan orang tuanya akan duduk melingkar dan kami akan bernyanyi bersama dan menari bersama. Lalu kemudian bermain- main lagi. Kemudian duduk lagi. Sederhana kan?

Di grupnya Sera saat itu ada 15 anak lainnya. Saat pertama kali masuk kelas, saya harus menggendong Sera karena ia menolak berjalan, takut pada kerumunan orang. Kemudian, sebelum si anak boleh bermain di playground, Liz akan menstempel kaki dan tangannya. Sudah bisa ditebak, Sera panik dan histeris saat saya mengajaknya mendekati Liz, bahkan sebelum Liz mencoba menyentuhnya. Saat bermain di playground, saya tidak menemui masalah. Sera sangat senang bermain. Tapi, saat tiba ke sesi duduk bersama, mulailah dia membuat saya putus asa.

Saat anak lain bernyanyi, Sera merengut. Saat Liz membawa keranjang penuh berisi bola, anak lain akan maju ke depan untuk mengambil sendiri bola itu, sementara Sera menolak usaha saya mendorongnya maju. Saat anak lain mengikuti instruksi Liz untuk duduk di atas bola, Sera berusaha kabur dan kembali bermain di playground. Saat anak lain mengembalikan sendiri si bola ke dalam keranjang, Sera menangis menolak menyerahkan si bola. Begitu seterusnya. Dia menangis, menjerit, berontak, marah- marah. Saat anak lain maju ke tengah lingkaran untuk mendengarkan Liz bercerita, Sera menangis saat saya mencoba membuatnya terlepas dari pangkuan saya.

Membaca pengalaman saya, mungkin anda akan berkata itu lucu, atau wajar. Tapi saat anda berada di posisi saya, dan anak saya adalah anak paling nakal dan paling tidak bisa diatur diantara anak lainnya, hal itu jauh dari lucu. Saya sedikit (becanda ding, bukan sedikit tapi sangat) malu melihat betapa jauh kemampuan anak saya dibanding anak lain. Pada minggu kedua, saya berharap Sera akan membaik. Mimpi kaliiiii. Dia sama parahnya dengan sebelumnya. Dari malu, saya beralih menjadi putus asa. Dan bahkan berkata ke Okhi "Can I just drop this class? I don't think I can continue on. It just so hard..."

Ini bukan masalah kata- kata klise "Setiap anak memang unik" atau "Terimalah anakmu apa adanya." Unik itu misalnya Sera lebih memilih untuk bermain dengan papan petunjuk di playground yang bertuliskan "Biarkan anak anda memilih sendiri dia ingin bermain apa." Sementara anak lain bermain seluncuran atau menerobos lorong, Sera memilih menciumi dan memeluk papan itu. Aneh sih, tapi saya bisa bilang itu uniknya Sera. Atau saat tiba giliran bernyanyi, dan seorang anak lebih memilih berjalan berkeliling menyentuh hidung semua anak lain. Itu unik. Dan bisa membuat orang lain berkomentar aww atau how cute....

Tapi menangis saat anak lain menyanyi, menjerit saat anak lain bergoyang, meronta saat disuruh maju ke depan, itu bukan unik namanya. It was just devastating. Dan masalah menerima anakmu apa adanya, cinta saya tetaplah besar untuk Sera. Saya tidak akan mau menukar Sera dengan si Mathew yang dengan pede maju ke depan menerima bukunya dari Liz, sementara sayalah yang harus mengambilkan bukunya Sera yang mendekam ketakutan. Jadi ceramah mengenai terimalah anakmu apa adanya hanya seperti angin berhembus pelan, nggak terdengar di telinga saya karena tertutup jeritannya Sera. Oh ya, yang membuat keadaan lebih parah, kalau Sera menangis, dia akan BERTERIAK. Sumpah, telinga saya selalu berdenging setiap menggendongnya saat ia berteriak. Suaranya melengking tinggi sekali. Suatu kali di gereja, Sera menjerit- jerit. Segera bapaknya membawanya lari keluar. Dan bahkan, setelah dia berada di luar, orang se-gereja masih bisa mendengar lengkingan suaranya. Jadi, saat Sera menangis, sengsaranya saya itu dobel dibanding saat ibu lain mendengar anaknya menangis.

Saya bukan seorang tiger mom yang ingin anaknya selalu menjadi yang nomor satu, tapi saya ingin sekedar anak saya bukan yang paling parah deh. Saat Sera menangis dan meronta, dan ibu lain menatap saya, saya merasa mereka berpikir betapa begonya saya tidak bisa mengatur dan mendiamkan anak saya sendiri. Kemudian, di minggu keempat, datanglah seorang anak baru, yang jauh lebih parah dari Sera. Menangis lebih keras, meronta lebih kencang, pokoknya lebih menyebalkan dari Sera. Anda boleh bilang saya jahat, tapi saya LEGA..... Yes, Sera bukan lagi yang paling nakal. Dua minggu anak itu membuat Sera menjadi runner-up yang paling nakal. Hingga suatu hari, si anak nakal itu tidak pernah datang lagi. Saya mengerti kenapa anak itu tidak hadir lagi di kelas. Ibunya, pasti sudah sampai pada taraf putus asa. Saat saya melihat wajah si ibu, saya melihat cerminan wajah saya dulu. Marah, malu, putus asa. Waktu itu, ingin sekali saya bilang ke si ibu, "It' ok, he's adorable. Kalau dia menjerit paling keras, emangnya kenapa?"

Saya sadar bukan berarti Sera yang lebih suka menjerit dan paling nakal di kelas bermain balita ini akan menjadi kurang sukses dibanding si Aaleya, anak India yang sudah bisa bernyanyi, yang selalu paling dulu maju ke depan, yang membuat ibunya bisa memasang wajah puas dan bangga. Saya sadar itu. Saya sadar mungkin saja si anak nakal dan cengeng yang akhirnya drop out dari kelas bermain itu sebetulnya jenius dan nantinya akan jadi profesor nuklir. Tapi peduli amat apa yang akan terjadi di masa depan. Yang jelas di masa sekarang, saya menderita karena anak saya less than other. Berat melihat anak saya tidak bisa melakukan yang bisa dilakukan anak lain dengan sangat mudah.

Malam harinya, saya berkata lagi ke Okhi, menceritakan bahwa si anak nakal tidak datang lagi. Saya berkata mungkin ibunya sudah tidak tahan. Dan saya bisa memahami. Tapi hal itu sekaligus membulatkan tekad saya untuk terus bertahan. Saya sadar sekarang kenapa kelasnya Sera dipenuhi anak- anak yang hebat. Karena saat anak kita bisa beradaptasi dengan baik di kelasnya, kita akan bersemangat melanjutkan, tapi kalau anak kita selalu menjadi yang paling parah, yah, seperti saya yang ingin give up saja deh. Saya bilang ke Okhi, kalau memang nantinya saya lihat Sera tidak cocok dengan kelas itu dan menderita, saya akan mengeluarkannya dan mencari metode lain. Tapi saya tidak ingin merampas kesempatan Sera untuk bergoyang saat mendengarkan musik (karena saya tahu Sera sangat suka musik) hanya karena saya tidak tahan akan rasa malu yang mendera. Let's give her another shot. Dan setiap kamis, saya merasa perlu menenggak dua gelas besar kopi untuk menenangkan saraf saya.

Hingga di suatu minggu, tiba- tiba Sera tidak menangis lagi saat duduk melingkar. Orang lain tidak akan menyadari perubahan Sera yang sangat minor, tapi saya sadar bahwa minggu ini ia tidak menjerit sekencang minggu lalu. Lalu di minggu berikutnya, dia mau mengambil sendiri bolanya, lalu minggu berikutnya dia bisa mengembalikan si bola! Saat itu, dia masih menolak untuk distempel, tapi saya sudah menjadi the happiest mom ever. Saat kami selesai bernyanyi satu lagu, dan sementara anak lain hanya diam saja, dan Sera tiba- tiba berdiri dan bertepuk tangan dan berteriak yeeee dengan nyaring, dan membuat si instruktur berkata "Well done Sera" dan ibu- ibu lain menatap dengan tersenyum, saya melayang ke nirwana! Saya menyetir pulang sambil cengar- cengir tak terkendali. Bahkan untuk kemajuan kecil, yang mungkin tidak berarti bagi ibu lain, seperti bersedia distempel tangannya, hal itu sudah membuat saya di awang- awang.
Kamis kemarin, sepulang dari kelas, saya mengajak Sera bermain dulu di lapangan rumput di sebelah gedung kelasnya. Sambil memperhatikannya berlari dan terjatuh di tengah hamparan rumput, dan melihat rambut Doranya berkibar ditiup angin, saya tersenyum sendiri. Betapa beruntungnya saya, bisa menghabiskan hari saya dengan melihatnya berlari- lari. Dan baru sekarang saya menghargai kesempatan yang diberikan kepada saya. Karena anak saya memiliki keterbatasan, karena ketakutan Sera akan orang asing, saya diberi kesempatan untuk menghargai setiap kemajuan sekecil apapun yang dia raih. Saya terharu melihat Sera maju untuk distempel tangannya, saya tersenyum melihat dia sekarang tidak menangis saat seseorang menyapanya. Tentu saja dia masih menangis saat instruktur renangnya menyentuhnya, tapi saya tahu akan ada harinya tiba- tiba ia akan mengagetkan saya dengan tidak menangis lagi, dan sekali lagi saya akan merasakan berada di awang- awang!

Saya bersyukur, kendala yang saya hadapi dengan Sera sangatlah ringan. Saya kagum pada para orang tua yang dikaruniai anak dengan penyakit kanker misalnya. Saya tidak akan bisa setabah mereka. Tapi, mereka akan selalu bangun di pagi hari dan serasa berada di awang- awang saat anaknya bisa melalui hari itu dengan sehat, sementara karena saya dikaruniai bayi tersehat sedunia, saya merasa bahwa anak yang sehat adalah biasa saja, bukan mukjizat. Atau orang tua dengan anak yang terkena sindrom autis. Mungkin mereka akan merasa berada di awang- awang saat anaknya tiba- tiba memeluk mereka dari belakang. Sementara saya, karena bayi saya sangatlah penyayang, dan ia memeluk saya dari belakang puluhan kali dalam sehari, I take it for granted.

Saat Sera mempunyai masalah, ia memberi saya kesempatan untuk ikut serta dalam perjalanan panjang, dan sedikit demi sedikit meraih kemajuan. Dia memberi saya kesempatan untuk mensyukuri setiap kemajuan kecil yang ia raih. Saya, mungkin mengajarinya cara menghadapi kehidupan, tapi ia mengajari saya tentang arti kehidupan itu sendiri. Perjalanan menuju bisa dititipkan di Childcare masih panjang, dan masih akan ada saat dimana saya ingin menggetok kepalanya dengan wajan, tapi ketidaksempurnaan Serafim, menyempurnakan hidup saya.

Seorang teman bertanya dengan heran kenapa saya tetap bertahan memasukkan Sera ke kelas berenang, padahal Sera selalu menjerit dan meronta dan membuat orang se-kolam renang menolehkan kepala (dan membuat saya selalu merah padam malu). Well, what can I say? Lha saya kan emaknya, bukan pengasuhnya, bukan baby sitternya, bukan neneknya, bukan tantenya. Tanggung jawab saya memang menjaga dan merawatnya (seperti tugas seorang baby sitter juga), tapi lebih dari itu, tanggung jawab yang sama besarnya adalah untuk mendidiknya, membantunya mengatasi masalahnya, membantunya untuk siap menghadapi dunia. Kalau saya neneknya Sera, saya hanya akan menjaganya, memeluknya, menggendongnya, membuatnya merasa aman dan dicintai. Sera menangis saat berenang? Pukul kolamnya yang nakal, peluk Sera dan tenangkan dia. Beres kan masalah.Tapi saya ibunya. As much as I want to hold her tight, terkadang saya harus mengeraskan hati, mengambil jalan yang lebih sulit dan berliku dan mendorongnya maju, dan mendengarnya menjerit- jerit panik sambil berkata "It's alright, I'm with you, mummy gets your hand."

Saya pikir- pikir ya, punya anak itu adalah gambaran kecil dari bagaimana dunia berputar. Saat anda sudah mempunyai rencana di kepala, sudah menyiapkan kamera untuk merekam, dan kemudian menyuruh si balita beraksi, dia malah bertingkah menyebalkan. Menangis atau malah hanya memandang ke kamera dengan tatapan "Emang gue apaan, disuruh-suruh." Tapi saat anda tidak siap, kamera tersimpan di laci paling bawah, eh tiba- tiba si anak bergoyang lucu sekali atau tiba- tiba memeluk dari belakang dan berkata I love you mommy..... Persis seperti kehidupan.

Saat saya menceritakan soal kegagalan Sera dimasukkan Childcare, ada dua tanggapan yang biasa saya dapatkan (dan dua-duanya bikin jengkel). Yang pertama menganggap saya terlalu awal memasukkan Sera ke Childcare (seolah saya ibu kejam tanpa peri kemanusiaan). Yang kedua menganggap saya terlalu lebay akan ketakutan saya tentang Sera ("Yang namanya anak kecil itu ya pasti takut sama orang asing, gitu kok nggak tahu). Sebel? Pasti. Iya dia enak bisa ngomong gitu, lha wong bukan dia yang mengalami.

Tapi sekarang saya sudah menemukan jawabannya. Sama seperti selama berbulan- bulan kami mengajari Sera berbicara, membacakan belasan buku cerita dan Sera hanya seolah tidak peduli dan merobek bukunya. Dan pada suatu hari, Sera tiba- tiba menunjuk gambar sapi di bukunya dan berkata "Muuuuuuu", lalu ia menunjuk halaman yang dipenuhi para hewan sedang pikinik, dan tangannya menjumput gambar kue tart dan berpura- pura memasukkannya ke mulut sambil berkecap- kecap nikmat serta bergumam Hmmmmmm. Dan baru kemarin saat anjing tetangga menggonggong, Sera menunjuknya dan berkata "Dag, wuf wuf"". Butuh sesaat untuk menyadari Sera berkata DOG. Hah, akhirnya anak saya mengucapkan kata pertamanya, dog :D.

Menurut teman saya Mbak Ayu, setiap anak akan menemukan sendiri momentum waktunya, kapan ia tiba- tiba mampu melakukan sesuatu hal yang sebelumnya tidak mampu ia lakukan. Saya setuju, tapi tentu saja momentum itu tidak akan dicapai si anak kalau dia tidak dikenalkan pada hal itu. Kalau saya tidak mengajak Sera membaca buku (yang sebagian besar sudah habis dimutilasi oleh beliau), ya sampai sekarang ia tidak akan bisa berkata Dog yang terdengar seperti duck. Kalau saya tidak berusaha mengajaknya ke kelas bermain, mungkin sampai sekarang Sera masih akan mendekam ketakutan saat seseorang ingin menyetempel tangannya.

Note : saya berkenalan dengan seorang ibu di kelas bermainnya Sera, yang anaknya juga rada rewel (saat itu Sera sudah bertingkah manis). Suatu hari dia membawa suaminya ke kelas itu, dan kemudian berbisik ke saya bahwa ia memaksa suaminya datang agar suaminya bisa ikut merasakan penderitaannya saat si Lucas kecil lebih memilih untuk memutar tubuhnya sambil menjerit- jerit saat anak lain (termasuk Sera) sedang bergoyang- goyang diiringi lagu Tik Tok Tik Tok I'm a Little Kuku Clok.

Terharu saat si genduk mau mengembalikan sendiri mainan ke keranjangnya
Dan tetap, saat disuruh menyanyi, Sera memilih mengemuti spidolnya
Antri untuk mengembalikan krincingan (boong ding, bocah2 itu pada rebutan berlari)

Monday 10 October 2011

My Monday Note -- Siapa yang tahu bagaimana seharusnya perasaan anak kelas 1 SD? Buku pelajarannya pasti!

Siang itu, saya duduk menghadapi beberapa lembar soal ujian. Minggu itu adalah minggu ujian kenaikan kelas, dan hari itu giliran ujian bahasa Indonesia yang harus saya hadapi. Saya membuka lembar pertama. Ada sekitar 7 soal pilihan ganda, dan soal yang tertulis antara lain semacam apakah kata dasar dari memukuli (a.pukul b.mukul c.memukul). Dengan pensil, saya memberi tanda silang pada jawaban yang menurut saya benar (b. mukul). Kemudian berlanjut ke halaman kedua, dan ketiga dan selanjutnya. Perasaan saya? Ya seperti lazimnya seorang anak kecil saat menghadapi ujian. Deg- degan, bingung saat melihat soal yang tidak bisa saya jawab, senang saat bab yang saya pelajari tadi malam ternyata keluar di ujian (nggak sia- sia belajar). Yah sewajarnya orang menghadapi ujian.

Sampai di halaman soal yang terakhir, ada satu baris soal yang membuat saya terkesiap. Mata saya berbinar- binar. Di depan saya terpampang soal ujian esay. Dengan perintah: buatlah karangan mengenai ....(saya lupa apa subjeknya). Saat itu saya tidak sadar kenapa dada saya berdegup kencang. Penuh gairah. Baru sekarang saya sadar kenapa pada hari itu saya merasa sangat alive; saya menemukan passion terbesar dalam diri saya: menulis, bercerita melalui goresan pena. Dan terus terang, mengarang sangatlah jarang menjadi soal ujian atau sekedar PR dimasa kecil saya. Pelajaran Bahasa Indonesia berarti pelajaran mengenai kosa kata, tanda baca, dan mengenali yang manakah subyek, predikat dan obyek.

Dengan tangan bergetar karena terlampau bersemangat, saya segera menuangkan pemikiran saya baris demi baris. Karena tidak terlatih, saya langsung saja menuangkan apa yang terlintas di benak saya pada lembar jawaban yang tersedia. Tidak pakai membuat kerangka karangan dahulu, menata supaya paragraf demi paragraf mengalir lancar. Satu paragraf selesai. Saya membaca sekilas. Hm, kalimat yang ketiga kok nggak bagus ya? Langsung dengan bergairah saya mengambil tipex dan menghapus kalimat tidak sempurna itu. Bahkan saya tidak sabar untuk menunggu si tipex mengering, langsung saya timpa lagi dengan bolpen saya. Begitu terus, hingga kertas jawaban saya terisi penuh. Dengan telapak tangan dan lengan dan rok seragam merah saya coreng moreng terkena noda tipex dan bolpen, saya menatap lembar jawaban saya dengan SANGAT PUAS. Karangan itu, saya yakin adalah karangan terindah yang pernah dibuat oleh seorang siswa kelas 5 SD.

Kemudian, saat ujian selesai, kami diminta bertukar kertas jawaban dengan teman sebelah. Kami memeriksa jawaban bersama- sama. Pak Guru membacakan kunci jawaban untuk soal- soal pilihan ganda, saya memeriksa jawaban teman yang duduk di sebelah saya, dan teman saya memeriksa jawaban saya. Dengan sembunyi- sembunyi, saya membaca jawaban essay teman saya. Karena saya adalah seorang pembaca cepat, maka dalam sekejap saya sudah selesai membaca karangan teman saya itu. Dengan bangga, saya berkata dalam hati bahwa karangan saya jauh lebih bagus dari karangan teman saya itu.

Kemudian, kertas jawaban dikumpulkan. Tinggallah soal essay mengarang yang belum dinilai. Itu tugas Pak Guru untuk menilainya. Rupanya, hari itu Pak Guru ingin menilainya saat itu juga. Maka beliau mengambil pena, dan mulai menilai karangan murid- muridnya satu demi satu. Saya berjinjit-jinjit di belakang Pak Guru dengan bergairah, ingin tahu apa pendapat Pak Guru akan hasil karya saya yang monumental. Dengan cepat beliau memeriksa dan memberi nilai karangan teman- teman saya. Kebanyakan teman cewek saya mendapat nilai 7 atau 8, termasuk teman yang saya periksa jawabannya tadi. Kebanyakan teman cowok saya mendapat nilai 5 atau 6. Sampai kemudian saya melihat giliran karangan saya yang ada dihadapan Pak Guru. Pak Guru memperhatikan lembar jawaban saya sekilas, dan kemudian membubuhkan nilai besar dengan bolpen merahnya. 5.

Saya terpana. Tak percaya. Tapi tentu saja saya tidak mungkin memprotes nilai itu. Sombong sekali kesannya kan, kok saya bisa dengan pede protes bahwa karangan saya sangatlah bagus untuk hanya mendapat nilai yang begitu rendah. Dan kemudian, kesadaran memasuki otak saya. Pak guru, menilai jawaban mengarang murid- muridnya, dengan melihat tingkat kerapian lembar jawaban si murid. Itu kenapa kebanyakan anak cewek mendapat nilai lebih bagus dari anak cowok. Dan itu kenapa, lembar jawaban saya yang coreng moreng penuh noda tipex akibat terlalu bergairah untuk menyempurnakan kalimat, mendapat nilai yang begitu rendah. Karena kertas saya sama menjijikkannya dengan kertas bekas bungkus tahu goreng.

Saat itu, untuk pertama kalinya saya merasakan yang namanya sakit hati. Dan patah hati. Saat anak- anak lain hanya sekedar mengarang karena hal itu diperintahkan oleh soal ujian, saya mengarang dengan segenap kesungguhan hati saya. Dan sebagai balasannya, karangan saya bahkan tidak dibaca. Hanya sekedar dilirik sekilas, dan karena berantakan maka langsung mendapat nilai jelek. Barantakan yang dihasilkan karena gairah saya yang terlalu menggebu- gebu untuk membuat karangan yang sempurna. Saya menangis tersedu- sedu di dalam kamar saya sore itu. Tidak mampu memprotes atau bahkan bertanya atau bahkan menceritakan perasaan saya pada siapapun. Saya sangat terpukul. Dan merasa diperlakukan tidak adil. Ini kan tugas mengarang, bukan menulis indah? Kenapa yang dinilai bentuk tulisan saya, bukannya isinya? Kalau nilai saya dikurangi karena kertas saya berantakan, saya masih bisa terima. Tapi dinilai semata dari bentuk kertas saya, tanpa sebarispun kalimat yang sudah saya susun dengan susah payah dibaca?

Dan saat seorang anak kecil sakit hati, maka biasanya akan lebih dalam daripada orang dewasa. Bahkan menuliskan note ini saja membuat saya menyeka mata, karena teringat betapa dahsyat rasa kecewa yang saya rasakan saat itu, belasan tahun yang lalu (menurut suami saya, trauma ini yang membuat jiwa saya agak goncang sampai sekarang). Saya sudah lupa berapa nilai yang saya terima saat itu, saya lupa siapa nama teman sebelah saya, tapi saya ingat bagaimana sedihnya saya hari itu.

Tahun demi tahun berlalu, dan saya melupakan kejadian itu. Dan melupakan gairah yang membakar diri saya pada saat untuk pertama kalinya dalam hidup saya membuat sebuah karangan. I simply burried the memory six feet under. Sampai beberapa waktu yang lalu membaca cerita di sebuah kolom koran online. Menceritakan anak yang mogok sekolah karena disalahkan. Padahal merasa tidak salah. Ceritanya, si anak disuruh menjawab pertanyaan: membersihkan lantai dengan alat apa........ ? Sesuai dengan kenyataan di rumahnya, dia menjawab dengan mesin apa gitu. Dan tentu saja salah. Satu-satunya alat yang diperbolehkan kurikulum SD sebagai pembersih lantai adalah sapu. Mogoklah si anak, tidak mau pergi lagi ke sekolah. Dan sekali lagi saya kembali ke masa belasan tahun yang lalu. Ke masa dimana sistem pendidikan membuat saya melupakan gairah saya dan kembali menekuri puluhan soal tentang subjek predikat objek.

Kekurang sempurnaan sistem pendidikan kita, saya sudah bosan hendak menulisnya, dan anda juga sudah bosan membacanya. Masalah uang sekolah yang mahal, buku teks yang berganti terus, standar kelulusan yang mencekik, dan lain sebagainya. Saya eneg. Dan andapun akan muntah kalau membacanya lagi. Tapi semoga anda meluangkan waktu membaca beberapa paragraf ini.

Apa sih kualitas paling berharga dari seorang anak kelas 1 SD? Saya akan menjawab kreatifitas dan daya khayal seluas samudera. Coba berikan sebuah kotak sepatu di depan saya yang sudah berusia setengah abad, dan di depan Serafim yang nyaris dua tahun. Saya akan memandang si kotak sepatu tanpa minat dan mendumel"Ngapain sih saya dikasih kotak sepatu butut? Mending kalau ada isinya..." Tapi, si nyaris dua tahun saya akan berbinar matanya, dan sambil menggumam "ab ab abu" akan mengambil si kotak sepatu, dan asyiklah dia dengan harta karun barunya. Kotak itu bukan kotak sepatu semata bagi Serafim. Dia akan masuk ke dalam si kotak, dan mulai mendayung kesana kemari, menjadikan si kotak perahunya. Lalu, dia akan meletakkan si kotak di atas kepalanya, dan menjadikannya topi. Atau dia akan mencoba memanjat kotak itu, seolah bukit yang terjal.

Dan sayangnya, saat Sera masuk SD nanti, maka kurikulum akan memaksanya memandang kotak sepatu semata sebagai kotak sepatu. Tidak boleh lagi ada khayalan kesana kemari. Padahal, ada logika di balik semua khayalan anehnya Serafim. Menjadikan si kotak perahu, karena bentuknya. Menjadikan si kotak sebagai topi karena bisa menutupi kepalanya. Menjadikan kotak sebagai bukit karena ketinggiannya. Dikembangkan sedikit, saya bisa mengajaknya berdiskusi apakah memang si kotak bisa dijadikan perahu sesungguhnya?

Kalau kurikulum SD masih kurang parah karena memaksa anak untuk hanya boleh percaya bahwa satu- satunya alat yang bisa membersihkan lantai adalah sapu, maka saya meringis membaca contoh soal yang ini.

Soal : Melihat pasar malam merupakan pengalaman yang.....
a. Menyenangkan
b. Menyedihkan
c. Menakutkan
Kunci jawaban (a).

Hahaha, soal ini ada di buku pelajaran IPS kelas 1. Tingkat kekonyolan soal ini setara dengan bila saya memberi anda soal: apa yang anda rasakan saat anda melihat Okhi, suami saya?
a. Mual
b. Jatuh cinta
c. Tidak peduli

dan satu- satunya jawaban yang benar adalah (a). Konyol kan? Tentu saja harusnya semua orang menjawab (b), wong Okhi seksi banget gitu. Saya saja selalu berdebar- debar setiap melihat dia :D.

Jadi, anak kita sejak SD sudah akan dibimbing untuk menghafal bahwa pasar malam adalah tempat yang menyenangkan. Kenapa menyenangkan? Mene ketehe, gak penting the logic behind it. Kenapa salah kalau anaknya menjawab menakutkan (mungkin dia takut karena gelap, ramai, hiruk pikuk)? Karena bu guru memang terpaksa menyalahkan, karena bu guru harus tunduk pada kunci jawaban.

Saya geregetan sekali membaca soal ini, dan dengan jengkel berpikir kenapa DPR menghabiskan duit triliunan untuk studi banding ke galaksi Milky Way, tapi tidak pernah pergi ke kementerian pendidikan negara lain dan mengintip bagaimana kurikulum disana? Tapi ternyata, masalah serupa tapi tak sama tidak hanya terjadi di Indonesia. Pada edisi 26 Maret 2010, salah satu jurnal sains paling bergengsi di dunia,Science, memuat sebuah artikel singkat berjudul “Asian Test-Score Culture Thwarts Creativity”, yang ditulis oleh William K. Lim dari Universiti Malaysia Sarawak. Isinya, garis besar pendidikan di Asia memanglah test-score oriented. Oleh sebab itu kebanyakan siswa di Asia akan digenjot untuk bisa mencapai skor tes yang tinggi. Salah satunya, les bimbingan belajar secara intensif (tidak hanya di Indonesia, pelajar di Singapura, Korea pun mengalaminya).

Sebagai akibat sistem berorientasi nilai tes ini, memang para siswa Asia akan mempunyai skor yang lebih baik dari pelajar dari Eropa Barat dan Amerika Utara dalam berbagai ujian. Tapi, pelajar Asia sangat lemah dalam hal menelaah, menyambungkan logika, dan berkreatifitas. Saat membuat tesis atau penelitian, maka siswa Asia akan kesulitan melihat hubungan- hubungan antara literatur, membuat ide - ide kemungkinan dan menginvestigasinya. Mereka hanya ahli menghafal fakta untuk kemudian menuangkannya lagi pada kertas jawaban ujian.

Bahasanya merlip yah? Saya sampai harus minum Panadol sehabis mengcopi-paste paragraf diatas. Maklum, hasil penelitian tingkat dunia. Saya menuliskannya hanya untuk menunjukkan bahwa masalah kurikulum pendidikan SD yang aneh itu mempunyai akar permasalahan yang jauh lebih besar; arah pendidikan yang berorientasi pada hasil ujian semata. Dan itu tidak hanya dialami Indonesia, tapi juga negara- negara lain di Asia. In other word, maksud saya adalah, jangan berharap dalam waktu dekat sistem ini akan bisa berubah. Karena merubah sistem ini berarti merubah pondasi dan arah pendidikan Indonesia. Sama seperti repotnya bila merubah bentuk pemerintahan kita dari presidensil menjadi parlementer. Wong merubah bentuk rumah kita dari dua kamar menjadi tiga kamar saja susah.

Bayangkan, pondasi pendidikan diubah, kurikulum diubah total, ratusan ribu guru di seantero Indonesia harus ditatar dan dididik ulang untuk menyesuaikan dengan pola pendidikan baru. Buku pelajaran ditarik semua dan diganti dengan yang baru. Saya bergidik membayangkannya. Wong mau mengubah kabinet yang hanya belasan menteri saja slintat slintut kok. Dan masalah terbesarnya, entah kurikulum sudah dirubah atau belum, pada saat anak saya sudah berumur 7 tahun, dia harus masuk SD, mau tidak mau, tidak bisa ditunda. Jadi, anak saya akan mendapatkan pembelajaran yang bertujuan membuatnya menjadi mesin penghafal bahwa pasar malam itu harus menyenangkan. Menafikkan kenyataan bahwa ia mungkin bahkan belum pernah pergi ke pasar malam. Seperti seorang anak yang menangis karena menjawab dimana bisa melihat singa? Discovery channel. Dan ia seumur- umur belum pernah pergi ke kebun binatang, jadi marahlah ia dipaksa menjawab kebun binatang.

Hari Selasa kemarin, saya mengajak Sera berjalan- jalan ke kebun binatang menemani seorang teman saya yang ngidam (ngidam kok ya lihat monyet, gak elit banget). Saya pikir kebun binatang akan sepi karena hari kerja. Wadalah, ternyata ramainya kayak pasar senggol. Kebun binatang Melbourne dipenuhi rombongan demi rombongan siswa dengan celana pendek, sweater dan topi ala Crocodile Dundee. Mulai dari siswa SD yang imut- imut sampai siswa ABG genit yang amit- amit. Di kandang kangguru, saya menunjukkan si kangguru ke Sera "Look Ser, the kangaroo is resting. It's bigger than you, isn't it? (bangga juga saya mampu mengenali kangguru).

Dari sebelah kanan saya, datanglah serombongan siswa SD, dengan seorang pembimbing. Dan mulailah sang pembimbing mengecepret mengenai si kangguru. Lalu ia bertanya siapa yang tahu kenapa kangguru disebut binatang marsupial? Dan seorang muridnya menjawab karena si kangguru mempunyai kantong. Dan kemudian diskusi berlanjut mengenai apa gunanya si kantong, kenapa kaki depan kangguru kecil sekali, kenapa muka si kangguru jelek sekali (yang terakhir itu pertanyaan saya sebetulnya). Dan para bocah kecil ini asyik mendengarkan dan menjawab pertanyaan sambil saling menendang temannya diam- diam. Atau menarik tali tas ransel temannya. Dan sambil terpekik- pekik setiap kanggurunya melompat.

Beberapa hari yang lalu, saya mencari info mengenai Queen Victoria Market (atau biasa disingkat Vicmart), pasar terbesar di Melbourne, dan salah satu tujuan utama wisatawan. Saya sedang ingin membuat tulisan mengenai pasar itu, jadi saya mencari fakta- faktanya di internet. Sampailah saya di suatu blog sederhana, dan tulisan di blog itu adalah "Saya pergi ke Vicmart bersama mama, papa dan adik bayi saya, Lola. Saya senang pergi ke Vicmart karena ada toko yang menjual burung dan anak anjing. Mama senang karena ia bisa membeli sayuran. Papa senang karena ia bisa membeli sepatu. Tapi Lola hanya tidur saja."

Di kolom komentar di bawahnya, seseorang yang bernama Cathy berkomentar "Tulisanmu semakin bagus Josh. Aku juga senang pergi ke Vicmart, walau sudah lama aku tidak kesana. Bisakah kamu gambarkan suasana di pasar? Barang apa saja yang dijual? Ramaikah pengunjungnya?"

Wanita bernama Cathy ini ternyata adalah gurunya si Josh, bocah cilik penulis blog. Dan si Josh ini rupanya mendapat tugas menulis pengalamannya ke pasar. Sederhana banget ya karangannya, tapi saya melihat ada logika di dalamnya. Josh, mama dan papanya senang karena mereka bisa membeli sesuatu atau melihat sesuatu yang menarik minat. Tapi, Josh tidak menulis bahwa adik bayinya senang, karena si bayi hanya tidur saja. Bagaimana ia bisa tahu bagaimana perasaan si bayi? Dan kemudian gurunya memberinya semangat untuk menceritakan dengan lebih detil mengenai apa yang dilihatnya di pasar.

Saya mengeluh iri. Karena sementara si kecil Josh dibebaskan untuk mengeksplorasi semua perasaan dan panca inderanya mengenai PASAR, anak- anak Indonesia saya yang tercinta dipaksa untuk duduk di depan buku pelajarannya untuk mempelajari tentang PASAR, dan memberi tanda silang pada satu jawaban yang benar. Satu- satunya jawaban yang benar menurut dewa pembuat kurikulum. Siapa yang paling tahu bagaimana seharusnya perasaan seorang anak kelas 1 SD terhadap pasar? Buku pelajarannya pasti!

Dan saya mengeluh sedih, karena saya yakin karangan saya dulu, jauh lebih bagus dari si Josh. Tapi dia mendapat tepukan pujian dan diminta untuk membuat karangan yang lebih lengkap lagi. Saya, mendapat nilai terendah sekelas, enggak pakai dibaca lagi karangan saya!

Oke, enough mellownya. Mau saya nangis 7 hari 7 malam juga hanya berakibat membuat mata saya sebengkak jengkol. Saya, tidak bisa merelakan Serafim hanya akan berakhir menjadi tukang hafal nama camat seJakarta Utara (beberapa tahun lalu saya membaca protes seorang bapak yang anaknya dipaksa menghafal nama- nama camat. Ngapain amat coba?). Jadi, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Serafim menjadi seorang anak dengan daya kreatifitas seluas samudera.

Kemarin, saat saya memandikan Serafim sehabis berenang, dari bilik sebelah saya mendengar suara berdebam. Kemudian terdengarlah tangisan seorang balita. Saya mendengar ibunya mencoba menenangkan si balita. Saat tangisnya reda, ini yang saya dengar dari bilik sebelah:

Ibu : Kamu takut ya?
Anak : (sambil terisak- isak) Iya Mami....
Ibu : Apa yang membuat kamu takut? Suaranya yang keras?
Anak : (masih terisak) Iya ma, suaranya keraaaaasssss banget
Ibu : Suara meja kalau jatuh ternyata keras ya? Wajar kalau kamu takut. Tapi sekarang coba kita lihat, kamu nggak luka kan? (si anak sepertinya menggeleng) Apa sekarang kamu masih takut?
Anak : Sedikit mami.......
Ibu : Jadi kita harus hati- hati ya lain kali, supaya tidak membuat si meja jatuh, karena suaranya keras banget, dan sepertinya sakit kalau kena kita. Kamu setuju?
Anak : Yes mommy....
Ibu : Now give me a kiss.

Saya tidak tahu dengan anda, tapi percakapan sederhana ini membuat saya tersenyum simpul. Dan membandingkan dengan diri saya. Mungkin kalau saya di posisi si ibu, saya hanya akan menenangkan dan memeluk Sera dan berkata "Jangan takut". Si ibu memberi saya contoh mengubah situasi sederhana menjadi arena pembelajaran, mengajari bahwa rasa takut adalah suatu hal yang wajar, mengajari logika bahwa suara keras disebabkan meja yang membentur lantai. Dan cerdik juga, menyelipkan nasehat biar lain kali anaknya tidak sembarangan gedubrakan menjatuhkan barang.
Keluarga Kennedy terkenal karena kemampuannya berpidato dengan memikat. Saat ditanya apa resepnya kenapa semua anaknya sangat pintar bicara mengeluarkan pendapat, ibunya membagikan resepnya. Setiap hari, anak- anak akan diminta membaca berita di koran atau majalah. Soal apa saja. Lalu, di meja makan sembari menyantap makan malam, masing- masing anak akan diminta menceritakan berita yang dibacanya, dan mereka akan berdiskusi mengenai topik itu. Keren banget ya? Dan sederhana banget, jadi saya yakin semua keluarga mampu melakukannya.

Buku pelajaran SD memang bikin sedih. Tapi, saya akan membaca dengan sangat teliti setiap halamannya sebelum memberikannya ke Serafim. Dan saya akan menjadikan si buku teman baik saya. Soal konyol semacam apa perasaanmu di pasar malam, akan saya jadikan panduan. Berarti, saya harus membawa Sera ke pasar malam (bagus juga si buku membuat saya terpaksa tidak malas dan terpaksa membawa Sera ke pasar malam). Dan kemudian, saya akan minta Sera bercerita atau menuliskannya di blog mengenai apa yang ia rasakan di pasar malam. Jadi saya akan selangkah lebih maju dari si buku. Pasar, stasiun, bandara, taman, mall, perpustakaan, wah banyak juga tempat yang harus saya datangi bersama Sera.

Dan saya akan mengantisipasi masalah yang mungkin timbul seperti si anak yang marah karena harus menjawab sapu. Saya akan meminta Sera menceritakan secara detil apa yang diajarkan hari itu, dan mengingatkan dia bahwa bila ada hal yang mengganggu nuraninya, dia bisa menceritakan ke saya dan kami akan mencari solusinya bersama. Ini terutama untuk soal teramat konyol semacam Sebelum makan apa yang harus kita lakukan?
a. Berdoa
b. Mencuci tangan
c. Membantu ibu

Saya saja kelabakan harus menjawab yang mana......
Lha saya tidak pernah melakukan ketiganya.....

Saya jadi ingat perlawanan yang saya berikan di kelas 6. Untuk pelajaran IPA, dengan soal Pada siang hari tumbuhan bernafas dengan....? Saat membaca soal itu, saya berada dalam dilema. Saya tahu tumbuhan pada siang hari lebih banyak menghisap karbon dioksida untuk fotosintesis, tapi soalnya kan bertanya tumbuhan bernafas dengan apa? Dan semua makhluk hidup (pengetahuan tingkat anak SD) bernafas dengan oksigen. Maka dengan keyakinan penuh saya menulis jawaban oksigen. Saat hasil ujian diperiksa, menurut kunci, jawabannya adalah karbon dioksida. Dengan muka merah padam, dengan terbata- bata karena gugup akibat emosi (saya sudah sangat emosian sejak balita ternyata), saya menghadap pak guru dan menyampaikan argumen saya. Guru saya kelas 6 galak sekali, tapi saya pantang mundur. Saat itu, saya sudah sekalap banteng matador. I'd rather die than step back (buset sudah gawat sekali sifat saya sejak balita yah). Tidak seperti soal mengarang, untuk soal ini saya lebih pede untuk protes, karena ada dasar ilmiahnya kan? Dia mementahkan protes saya. Saya ikuti dia ke ruang guru. Dan dengan lantang berkata "Soalnya kan bertanya tumbuhan bernafas dengan apa? Saya tahu tumbuhan menghisap CO2 di siang hari, tapi itu kan untuk fotosintesis Pak? Bukan untuk bernafas?"

Mungkin karena melihat seraut wajah kecil keras kepala di hadapannya, mungkin mengakui kebenaran logika saya, maka kemudian Pak Guru membenarkan jawaban saya (dia berkonsultasi dengan guru- guru lain di ruang guru, berbisik- bisik sementara saya berdiri dihadapannya dengan nafas menderu). Itu kemenangan terbesar yang pernah saya rasakan. Saya menari- nari dengan riang masuk ke kelas. Dan sepertinya ditatap penuh sebal oleh teman yang lain (karena 90% teman saya menjawab karbon dioksida). Tapi saya ingat wajah- wajah heran teman sekelas saya. Mungkin mereka heran kenapa saya sebegitu nekatnya, toh ya hanya satu soal tiada arti. Toh sebetulnya meskipun jawaban saya yang itu disalahkan, saya sudah mengantongi nilai IPA tertinggi sekelas (saya masih pintar saat duduk di bangku SD, selalu ranking satu). Dan saya yakin anak Indonesia memang tidak terbiasa untuk berargumen.

Jadi, belajar dari pengalaman saya dulu, saya harus mengantisipasi permasalahan semacam ini saat Sera masuk SD. Saat Sera merasakan dilema seperti itu, sebetulnya merupakan kesempatan yang baik untuk membuatnya belajar lebih mendalam soal fotosintesis dan tumbuhan kan? Saya akan mengajak Sera untuk dengan tenang mencari literatur demi mendukung argumennya. Saya yakin Sera akan dengan tekun bersedia membaca dan mencari tahu hal mengenai tumbuhan dan fotosintesis dengan gairah yang besar (yang dalam keadaan normal mungkin dia akan malas- malasan melakukannya). Saya harus membimbing Sera untuk tahu bahwa perdebatan haruslah ilmiah, bukan pukrul bambu. Dia harus berani berargumen dengan gurunya, tapi dia harus melakukannya dengan membawa literatur ilmiah, bukan sekedar debat kusir berkepanjangan. Dan tidak dengan hati panas seperti saya dulu. Hati boleh panas, kepala harus dingin. Rok boleh panjang, celana dalam harus G-string (lhoooo).

Dan mungkin, kalau anak- anak kita diajari untuk berpikir dengan logika dan kepala dingin sejak kecil, semoga mereka tidak menjadi seperti para komentator yang saya baca di sebuah situs, mengomentari berita mengenai hasil simulasi riset Bagaimana jika bumi tanpa bulan? Hasil penelitian menunjukkan bulan ternyata tidak sebegitunya mempengaruhi kehidupan di bumi (tidak seperti anggapan selama ini bulan sangat mempengaruhi pasang surut, iklim dan sebagainya). Jadi kesimpulannya, bukan bulan faktor utama pasang surut laut dan iklim.

Saya orang bego, tapi yang terlintas di benak saya adalah pemikiran semacam apa ya aplikasi penemuan ini? Mungkin berarti penentuan pasang surut bukan lagi tergantung bulan, tapi faktor lain. Berarti harus dicari apa penyebab utama pasang laut, sehingga bisa diaplikasikan ke usaha tambak misalnya. Lha kok komentar- komentar terhadap penelitian ini semacam "Dasar kurang kerjaan. Wong bulan memang sudah ada di langit kok pakai acara dihancurkan segala?" atau "Ni peneliti nggak percaya sama kuasa Tuhan ya, pasti ada maksudnya kenapa bulan diciptakan."

Aduh, gimana ya, saya kok jadi malu mengakui bahwa mungkin komentar- komentar semacam ini diberikan oleh orang yang dulu mungkin sekelas dengan saya di SMP. Lha yang mau menghancurkan bulan itu siapa Paklik? Dan apa si peneliti ini bermaksud bilang "Hah, ternyata Tuhan menciptakan barang nggak berguna?" Ya enggaklah. Dia justru meneliti apa gunanya bulan, dia melakukan tindakan nyata mencari tahu apa maksud dibalik penciptaan setiap benda langit. Sementara saya hanya bisanya melihat bulan sambil bergumam kagum "Waduh bulan purnama, banyak manusia serigala berkeliaran nih," (korban Twilight).

Karena menyalahkan kurikulum tidak akan membawa kebaikan. Mau protes sama Menteri Pendidikan juga susah. Belum kenalan sih. Menyalahkan guru juga tidaklah adil. Mereka dipaksa mengikuti kurikulum, dan mereka harus mengurusi 40 orang anak setiap harinya. Guru- guru itu juga stres. Bude saya yang guru matematika, selalu gelisah jika terlalu banyak hari libur. Bagaimana dia harus menyelesaikan kurikulum yang seabrek kalau libur melulu? Sampai dia bela- belain memberi jam tambahan supaya buku teks matematika yang setebal bantal itu bisa diajarkan semua ke muridnya. Para guru mengurus 40 anak, saya hanya mengurus anak saya seorang. Jadi, wajar dong saya yang lebih punya banyak waktu dan kesempatan terjun langsung.

Kurikulum Indonesia tentu ada positifnya. Anak terdidik untuk belajar dengan giat dan punya daya hafal hebat. Dan karena toh memang kurikulum itu yang tersedia di depan mata (pada saat ini) ya mari gunakan sebaik mungkin. Biarkan buku teks mengajarkan cara menghafal, saya akan membimbing Sera untuk mengasah bakat kreatifitasnya. Karena di dalam diri seorang anak pasti ada potensi ilmuwan (itu kan alasannya mereka selalu memberondong dengan berbagai pertanyaan kenapa begini kenapa begitu yayayaya).

Lalu bagaimana bila kurikulum memaksa Sera menjawab tidak sesuai nurani? Saya juga belum tahu harus bagaimana, karena memang penting bagi Sera untuk mendapat skor tinggi sehingga bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya (realistis saja deh). Tapi saya ingat sebuah kisah di Amerika. Kisah ini diceritakan oleh seorang milyader, yang mempunyai peternakan terbesar di wild wild west. Dia berkisah dulu di masa kecilnya, sang guru memerintahkan agar ia membuat sebuah karangan mengenai apa cita- citamu? Dengan penuh gairah, si anak menuliskan dengan detail cita-citanya; mempunyai peternakan beberapa ribu hektar, punya sapi ribuan, kuda ratusan. Si anak ini dibesarkan di lingkungan miskin dari keluarga sangat miskin.

Membaca karangan si anak, si guru berkata bahwa ia terpaksa akan memberi nilai F untuk karangan itu karena tidak realistis. Pak Guru memberi kesempatan anak itu untuk mengganti karangannya dengan cita- cita yang lebih nyata. Maka pulanglah si anak dengan kalut dan menghadap ibunya, menunjukkan karangannya yang harus diubah. Ibunya membaca karangan si anak dan berkata "Apa memang ini benar- benar cita- citamu? Apa kamu benar- benar yakin akan yang kamu tuliskan?"

Dengan mantap si anak mengangguk. Kemudian ibunya berkata lagi "Kalau begitu kamu serahkan karangan ini kembali ke Pak Guru, dan katakan bahwa ini MEMANG cita-citamu."

Si anak menjawab "Tapi nanti aku bakal dapat nilai F." Dan si ibu menjawab "Kamu akan dapat nilai F, tapi kamu akan punya ribuan hektar peternakan, dengan ratusan kuda dan ribuan sapi."

Saya sudah membayangkan jika nanti Sera diberi pertanyaan siapa wanita paling cantik sedunia, dan dia menjawab "Mama saya." Dan saat semua orang (termasuk Pak guru dan suami saya) mengatakan jawaban Sera salah, Sera akan berani bertahan dan dengan gagah berkata "Memang mama saya yang paling aduhai." Duh,,,, memang hebat anak saya....
Saat anak anda mulai bawel bertanya ini itu kenapa, bagaimana, dimana, dan anda tergoda untuk mencekik si bawel ini, ingatlah satu hal. Sebentar lagi dia akan menjadi abege. Dan saat itu, gantian kita yang akan bertanya gimana di sekolah, gimana pelajaranmu, gimana ujiannya? Dan jawaban untuk semua pertanyaan kita adalah "Ya gitulah Ma. Biasa aja." Hahaha, saya sudah ngenes membayangkan Sera kecil saya mengangkat bahu tidak peduli dan menjawab sambil lalu untuk semua pertanyaan saya.

Note: meskipun saya menentang beban pelajaran yang terlalu besar untuk anak SD, dan saya bukan tipe orang yang ingin anak saya belajar membaca di usia 3 tahun, saya terpaksa kurang sepakat dengan keluhan seorang teman saat anaknya yang duduk di SD kelas 1 sudah mulai belajar bahasa Inggris. Bahasa, along with swimming and tennis, adalah subyek yang "semakin awal kamu belajar, semakin bagus hasilnya". Walau saya tidak bisa berkata kemampuan bahasa Inggris saya saat ini adalah hasil pembelajaran di sekolah (jaman saya dulu, pelajaran Bahasa Inggris adalah pelajaran tentang perbedaan Past Perfect atau Simple Present, tapi lupa mengajari saya bagaimana cara menerapkannya dalam percakapan sesungguhnya).
http://edukasi.kompasiana.com/2011/07/11/membunuh-kecerdasan-anak-itukah-tujuan-pendidikan-di-indonesia/
http://psikologi-online.com/kegagalan-sistem-pendidikan-asia

Roll roll Sera's boat gently down the stream, merrily merrily life is but a dream.......

Monday 3 October 2011

My Monday Note -- Hari ini harinya siapa ya??

Saya baru saja terbahak-bahak karena membaca status teman saya. Dia mengganti status relationshipnya menjadi OPEN RELATIONSHIP. Teman saya itu cewek pendiam yang sudah menikah dengan satu anak. Karena heran, saya berkomentar "Serius nih kamu emang bermaksud gitu? Nakal juga ya, hehehe" Dan dia menjawab semacam "Aku hanya lagi lebay kok." Saat ini saya jadinya berada dalam dilema, do I need to tell her apa yang sebenarnya dimaksud dengan istilah open relationship atau open marriage itu? Sebetulnya saya yakin teman saya dan teman- temannya dia juga kagak tahu sih arti istilah itu, jadi diam saja adalah keputusan yang bijaksana. Tapi, jadinya saya selalu terpingkal- pingkal setiap melihat statusnya itu. Open marriage.... ane juga mau :D. Nah, omong- omong soal nikah, saya jadinya pingin nikah lagi deh, eh maksud saya pingin nulis note tentang pernikahan deh.

Beberapa saat yang lalu, saya membaca sebuah note lucu yang ditulis seorang teman saya. Ayu namanya. Dia menulis note mengenai : Pernikahan itu acaranya siapa? Mantennya atau orang tua? Sebetulnya itu isu global yang abadi, atau pertarungan tiada akhir antara keinginan pasangan yang hendak mengucapkan janji sehidup semati, dengan pihak orang tua di Indonesia (enggak tahu ya kalau di negara lain bagaimana). Tidak semua kasusnya seperti ini sih, tapi permasalahan tipikal yang mayoritas saya saksikan adalah pihak ortu ingin pesta mewah, besar- besaran, adat lengkap, dengan jumlah undangan sepuluh ribu (orang + tuyul). Di lain pihak, pasangan calon mantennya biasanya berbeda 180 derajat keinginannya; perayaan simpel tapi syahdu, dengan dandanan yang enggak norak dan hanya mengundang selusin makhluk yang dekat dihati (orang+jin).

Di note nya si Ayu, as she is a very strong- hearted girl, dan gadis paling logis dan sekaligus humble yang saya kenal, dia memutuskan bahwa hari pernikahannya adalah harinya DIA. Jadi ya My Wedding, My Way. Dengan My Way, maksudnya pestanya adalah gambaran dari pribadinya si Ayu; sederhana, penuh makna, nggak pake gengsi- gengsian (gadis Pancasilais sejati deh). Dia menuliskan bahwa pesta nikahnya akan diselenggarakan di rumah makan, dengan dia hanya memakai kebaya dari bahan katun sederhana, dan make-up yang ia pakai hanyalah bedak dan lip-gloss. Lalu tidak ada undangan yang dikirim via pos (beliau memanfaatkan FB, twitter, sms), tidak ada suvenir tacky tapi mahal, tidak ada seragam panitia, dan jelas tidak pakai foto pre-wedding. Karena, bagi prinsipnya dia, tidak boleh ada sesuatu yang berlebihan dan terbuang percuma (undangan mahal- mahal juga bakal langsung masuk tong sampah kan?). Dan suvenir pun tidak boleh barang yang nantinya akan ditumpuk doang di rumah penerimanya. Suvenirnya Ayu, bibit pohon alpukat. Pokoknya semuanya penuh makna. Sayangnya dia tidak menceritakan bagaimana caranya sehingga dia bisa meyakinkan orang tuanya plus orang tua calon suaminya akan keinginan ajaibnya itu. Mungkin Ayu beruntung, punya orang tua yang tidak sekuno Pangeran Diponegoro.

Saya tergelak saat membaca note itu. Kalau itu saya yang berkeras untuk menikah dengan modal lip-gloss dan bedak doang, dengan kebaya katun sederhana plus rok batik, maka emak saya akan:
1. Mencoret saya dari daftar ahli waris dan menggantinya dengan nama si Sarden anjing saya
2. Menangis tersengguk- sengguk 7 hari 7 malam
3. Berdoa dan berpuasa untuk memohon agar saya kembali waras, dan saat ternyata gagal, mohon pertolongan mbah dukun agar saya dipelet saja biar nurut

Setiap keluarga punya cara tersendiri dalam menyelesaikan perseteruan tiada akhir ini. Tidak ada cara penyelesaian yang salah. Selama baik mantennya dan ortunya tidak ada yang bunuh diri minum baygon, ya berarti semua baik- baik saja. Ada yang berdebat panjang lebar dan berakhir dengan anaknya ngalah deh sama orang tuanya. Ada yang kompromi. Ada yang malah gak jadi kawin karena terlalu seru berantemnya. Saat ini, saya menulis untuk menceritakan pengalaman saya saat pesta pernikahan saya.

Saat saya dan Okhi memutuskan menikah, sejak awal kami sudah menyadari perayaan semacam apa yang akan ada di benak orang tua saya. Lazimnya orang tua di Jawa lah, dengan teman kantor dan saudara dan tetangga yang bejibun jumlahnya. Pesta pernikahan di gedung besar, standing party dengan katering prasmanan, undangan mahal yang dikirim ke seribu orang, dengan didahului serangkaian upacara adat, dengan baju manten bling- bling ala rapper Chicago, dengan sanggul besar ala belahan bokong dan make-up setebal waria di perempatan. Dan tentu saja itu berbeda dengan apa yang saya inginkan.

Kalau saya disuruh memilih, pastinya saya akan memilih melakukannya dengan cara saya. Tapi saat teman saya Ayu memilih pendekatan "My wedding, my way', kami memilih pendekatan 'Tidak peduli dengan bentuk pesta nikah kami'. Jadi sejak awal, saya berkata ke emak saya, "Terserah mama mau bikin pesta nikah seperti apa, tapi aku sama sekali tidak mau membantu apapun. In term of money, tenaga dan pikiran."

Sadis? Mungkin iya. Hanya, itu adalah pendekatan yang paling sesuai bagi saya dan emak saya, walau tentu saja mungkin tidak sesuai bagi keluarga lain. Pertama, karena emak saya adalah orang yang paling konsekuen. Saat ia menginginkan pesta mewah nan mahal, maka ia tidak akan merusuhi saya untuk membantu pembiayaan misalnya. Dan emak saya juga orang yang logis, jadi dia merencanakan pesta mewah beradat lengkap karena dia memang MAMPU membiayai dan merencanakannya sendiri. Jadi, saya tidak mengalami dilema seperti yang dialami beberapa pasangan lain, dimana orang tuanya mengharap pesta mahal, tapi anaknyalah yang diharapkan untuk membiayai (padahal anaknya lebih memilih menggunakan tabungannya untuk mulai menyicil rumah dibanding membongkar tabungan hanya demi pesta sehari semalam doang).

Pertimbangan kedua kenapa saya cuek bebek, karena saya adalah orang paling ngeyelan dan keras kepala dan egois yang ada di muka bumi. Plus saya orang yang paling seksi dan rupawan. Kalau saya diminta urun rembug membantu, apalagi kalau emak saya merusuhi saya untuk misalnya mencari tahu upacara adat Jawa yang harus dijalani oleh pengantin, saya bakal mengamuk seperti anjing rabies. Sudah tahu saya tidak suka dengan acara adat, kok ya saya disuruh membantu mensukseskan acara yang tidak saya sukai. Dan emak saya fine with that. Dia lebih suka sibuk sendiri bersama embah saya dan tante saya, daripada harus memaksa saya membantu (dan pastinya saya akan membantu dengan mulut mecucu 10 senti). Jadi, persiapan perayaan pernikahan saya dilalui dengan relatif damai, dengan emak saya sibuk luar biasa kesana kemari (dan dia sangat menikmatinya) sementara saya dan Okhi santai- santai tidak peduli (dan kami sangat menikmatinya).

Selain urusan antara saya dan emak saya, urusan berikutnya pastinya dengan pihak keluarganya Okhi dong. Sejak awal juga, saya dan Okhi sudah berembug, dan kami sampai pada kesimpulan "Ini acaranya orang tua saya" (di adat Jawa, biasanya pihak cewek yang akan membuat pesta). Jadi, Okhi mengabarkan tentang rencana pernikahan kami ke orang tuanya dengan paradigma 'keluarganya Mega yang akan mengurus semua'. Paradigma itu, sungguh membantu membuat segalanya lebih mudah. Saya malas sekali harus membayangkan pertengkaran antara dua keluarga karena perbedaan keinginan, apalagi si Okhi itu ada darah Batak pula, kalau keluarganya dia memaksa mau melakukan adat mereka, sementara emak saya tidak mau, walah bisa perang dunia ketiga jadinya. Dan kedua orang tua kami, dengan paradigma itu, jadinya malah bisa akur sumekur. Mama saya yang sibuk dengan segala sesuatu, sementara emaknya Okhi adem ayem dan occasionally akan bertanya apakah ada yang bisa dibantu? Emak saya juga tidak pernah berharap keluarga Okhi akan membantu pembiayaan, dan saat kemudian emaknya Okhi memberikan sejumlah uang, maka uang itu diterima dengan suka hati, berapapun jumlahnya, dan kemudian disimpan oleh emak saya untuk nantinya diberikan ke saya dan Okhi sebagai hadiah pernikahan. Dan kemudian ganti emak saya yang bertanya apakah ada tambahan upacara adat yang ingin dilakukan keluarganya Okhi. Semuanya damai, dan tenang. Hidup sekali kok dibikin susah. Emaknya Okhi pingin merayakan juga? Beliau kemudian membuat pesta sederhana di depan rumahnya di Gubeng, dengan mengundang tetangga sekitar dan teman gerejanya.

Saat itu saya dan Okhi bekerja di Jakarta, sementara pesta pernikahan kami akan diselenggarakan di Surabaya. Jadi, dari minggu ke minggu, emak saya akan menelepon dan memerintahkan saya dan Okhi untuk pulang ke Surabaya, untuk mengukur baju lah, atau urusan apalah. Saya, tidak tahu dimana gedung tempat pesta akan diselenggarakan, mobil pengantin apa yang akan kami pakai, apa nama kateringnya, apa acara hiburannya. Saya tidak tahu dan tidak mau tahu.

Maka sampailah saya pada saat dimulainya prosesi pernikahan saya. Saya ingat sekali, hari itu saya melangkahkan kaki memasuki kompleks rumah saya menjelang maghrib, sehabis terbang dari Jakarta. Dengan celana pendek, kaos lusuh dan sandal jepit. Membawa tas billabong kecil yang hanya berisi beha dan celana dalam (biasanya saya akan merampok baju adik saya di Surabaya,daripada harus berat- berat bawa baju). Di gang depan rumah, saya menghentikan langkah. Terdiam. Dan kemudian menundukkan kepala lunglai dengan ekspresi "Oh damn it!"

Di depan rumah saya, sudah terpasang tenda nan mewah, magrong- magrong dengan rumbai- rumbai yang tertiup angin, seolah menertawakan saya sambil bernyanyi Marilah kemari hei hei hei hei, hei Mega..... Akulah disini hei hei hei hei, hei Mega.... Mari bergembira, bersama-sama, hilangkan hati duka lara, yeyeyeye...... Dibandingkan si tenda mewah, kaos saya hanya serupa gumpalan gombal untuk mengelap muntahannya Sarden. Dengan gontai saya melangkahkan kaki ke arah rumah.

Sebelum acara pesta, maka ada serangkaian upacara adat yang dilakukan. Saya, tentunya tidak suka dengan upacara adat. Ribet, bikin pusing, kagak jelas juga apa sih maksudnya. Tapi saya tidak keberatan untuk melakukannya karena hal itu yang diinginkan emak saya. Saya tidak suka pakai kebaya dan sanggul lengkap, tapi saya tidak keberatan untuk melakukannya, karena itu yang diinginkan emak saya. Sampai tiba saatnya ada upacara dimana saya harus sungkem ke Okhi. Saat mendengar hal yang satu ini, hm bagaimana ya saya menerangkannya, saya merasa sangat terhina. Sungkem di depan Okhi? Meskipun itu sekedar upacara adat, saya merasa direndahkan. Saya menundukkan kepala, menggigit bibir, dan air mata saya mulai mengalir. Okhi, dari seberang ruangan, menatap tak berdaya melihat penderitaan di wajah saya. Adik saya, serta merta berdiri dan berkata ke arah emak saya "Ma, lihat mukanya Mbak. Jangan paksa dia sungkem di depan Okhi." Mas Wandi si pembawa acara, melongo menatap drama itu. Dan akhirnya, acara itu dihapuskan. Tapi hati saya sudah terlanjur gloomy. Well, ini salah saya sih, karena saya terlalu cuek akan detil acara, sehingga tidak bisa meminta perombakan jauh-jauh hari sebelumnya.

Lalu acara adat di gedung sebelum mulainya pesta. Saya melalui rangkaian adat seperti suap-suapan, pangku- pangkuan dengan tidak peduli. Hanya lagi- lagi wajah saya memerah saat tiba saatnya upacara dimana saya mencuci kakinya Okhi. I've never been humiliated this low before. Saya? Mencuci kaki suami saya sebagai tanda kepatuhan padanya? Saya memilih tidak menikah daripada harus mematuhi seseorang semata karena ia seorang pria, dan ia suami saya. Tapi saat itu saya memutuskan melakukan saja upacara itu karena sudah terlanjur. Sebenci- bencinya saya pada acara itu, saya akan lebih benci lagi bila saya harus bertingkah dan mempermalukan orang tua saya dihadapan para tamu. Lagi- lagi ini salah saya karena tidak mengecek detil acara sebelumnya. Sebagai akibatnya, telapak kakinya Okhi berbilur- bilur merah karena saya cakar- cakar saat seharusnya saya mencucinya (tapi nggak ada orang lain yang tahu, dan Okhi hanya bisa meringis sebal tanpa bisa memprotes).

Acara pestanya? Saya bisa berkata I couldn't care less. Saya, semata melakukan apa yang diharapkan dari saya. Tersenyum saat disalami. Bagaimana saya harus menikmati acara dimana saya hanya dipajang di atas panggung, menyalami ribuan orang yang tidak saya kenal, dan mungkin juga tidak tahu nama panggilan saya? Saya hanya benar- benar tersenyum saat yang menyalami saya adalah teman- teman saya.

Dan penderitaan saya itu mungkin lebih dari pengantin wanita lain, karena deep down inside saya sama sekali tidak suka dipestakan. Bahkan terakhir kali saya merayakan ulang tahun dengan pesta adalah saat SD. Saya tidak suka dirayakan untuk apapun juga. Sebut saja itu akibat minder kelas berat. Plus, semua yang kenal saya juga tahu, kebaikan hati itu bukan bagian dari sifat alami saya. Jadi, kenapa dong saya mau- maunya mengikuti keinginan orang tua saya?

Nah, sementara saya memilih berantem dengan mertua saya saat ia ingin memberi Sera bakso dari warung, kenapa saya memilih tidak bertengkar dengan emak saya dan menerima saja pesta pernikahan maunya emak? Ada dua alasan. Yang pertama, karena saya mencoba menempatkan diri di posisi orang tua saya. Bagaimana rasanya jika saya ada di posisi mereka? Saya adalah anak sulung mereka, emak bapak saya punya ribuan kolega dari kantor mereka, kami adalah orang Jawa. Maka saya bisa mengerti mengapa penting sekali bagi orang tua saya untuk mengadakan upacara pernikahan yang proper. Walau mungkin alasannya cemen, seperti apa kata orang kalau tidak dipestakan, nanti dipikir karena saya hamil duluan, atau alasan semacam nanti bapaknya dipikir tidak mampu membiayai lagi. Tapi saya mencoba memahami. Karena emak bapak saya, sama seperti juga saya dan semua orang lain di dunia, membutuhkan persetujuan dari lingkungan mereka, dan tidak ingin jadi bahan omongan. Setelah semua yang telah mereka lakukan bagi saya, hal ini hanyalah balasan yang tidak berarti yang bisa saya berikan; mengabulkan keinginan mereka mengadakan pesta pernikahan impian bagi anak mereka. Masalah saya malu dan kecut, yah, anggap saja balasan karena selama ini sayalah yang sudah mempermalukan dan menyusahkan hati orang tua saya yang sering dipanggil guru karena kebengalan saya.

Alasan kedua kenapa saya oke saja dengan keinginan orang tua saya, adalah karena, meskipun saya tidak suka dengan konsepnya, tidak tertarik dengan adatnya, tapi hal itu tidak menyinggung prinsip hidup saya. Inilah alasannya kenapa saya memilih berantem saat ada yang ingin memberi Sera bakso warung, karena itu bertentangan dengan prinsip saya untuk sebisa mungkin tidak memberi makanan sampah bagi Sera. My kid, My way. Sama seperti saya bisa bertoleransi saat seorang teman selalu datang terlambat bila ada janji bertemu. Saya jengkel, tapi saya bisa memaklumi. Gak prinsip. Pakai sanggul ala belahan bokong? Je deteste ca! Tapi itu bukan hal prinsip, jadi saya bisa memaklumi. Pakai gedung besar dan mengundang ribuan orang? Bikin geleng- geleng, tapi itu nggak prinsip (bagi saya). Suka- sukalah!

Saat anda mengabarkan keinginan untuk menikah pada orang tua anda, it's better to discuss it first between the two of you. Paradigma apa yang ingin anda bawa? Seperti Ayu yang melakukannya dengan caranya dia, atau seperti saya yang memilih mengikuti saja maunya orang tua saya. Untuk dua paradigma ini, saya sebut paradigma yang ekstrim. Seperti si Ayu, karena dia memutuskan pakai caranya dia sepenuhnya, ya dia konsekuen; dia yang repot dan dia yang mendanai semuanya. Seperti saya yang manut sepenuhnya saja terserah emak, ya saya juga konsekuen; emak saya yang repot dan membiayai semua :D.

Hanya sepertinya lebih banyak adalah mereka yang harus kompromi. Maksudnya, biaya ditanggung berdua, pihak ortu dan anak. Acara juga dirembug berdua, ortu dan anak. Nah, saya tidak berpengalaman dalam hal kompromi begini, jadi mungkin ada yang punya pengalaman dan bersedia berbagi? Kompromi ini bagus sih, hanya ya pasti lebih rawan berantem. Banyak kepala, banyak maunya dong. Hanya mungkin semua akan lebih gampang kalau perundingan dimulai dengan mencari kesamaan ide, daripada belum- belum sudah berdebat si emak maunya pakai sinden dan dalang sementara anaknya pingin mendatangkan trio macan. Jadi mulai saja dari "Hei, ternyata kita sama- sama setuju bahwa menu favorit kita berdua (emak dan anak) adalah kambing guling. Hore.... sudah ketemu satu menu pestanya!!" Mungkin nantinya malah bisa kompromi juga soal penghibur acara; ibu sinden dengan kostum trio macan. Voila!

Dari pengalaman saya, saat anda memilih mengikuti keinginan orang lain atau harus berkompromi dengan keinginan orang lain, maka kuncinya : berkompromilah untuk hal- hal yang tidak prinsip bagi anda, tapi keukeh untuk hal- hal yang merupakan prinsip hidup anda, nilai yang anda anut. Seperti saya, kalau saya bisa mengulang pesta saya lagi, maka saya hanya akan mengubah hal yang benar- benar mengganggu saya. Saya akan sejak awal dengan tegas menolak segala upacara adat yang tidak sesuai dengan prinsip hidup saya. Sungkem ke suami dan mencuci kaki suami, akan dengan tegas saya tolak. Untuk hal yang ini, saya tidak akan kompromi. Saya sudah bersedia kompromi untuk semua hal lain, maka untuk yang satu ini saya tidak akan mundur selangkahpun. Mungkin bila prinsip hidup anda adalah tidak mau berhutang, maka jangan biarkan orang tua anda membuat diri mereka (atau anda) berhutang pada pihak lain hanya demi menyelenggarakan pesta anda. Keukehlah dalam hal itu. Atau kalau seorang pengantin pria menolak untuk mengenakan baju pengantin solo basahan (karena bertentangan dengan prinsip hidupnya untuk tidak bersedia memamerkan dada berlemaknya di depan ribuan tamu), tirulah alibinya Okhi, "Aku mau pakai baju itu hanya kalau Mega juga pakai baju yang sama." Dan solo basahan tidak pernah lagi hadir dalam rapat keluarga.

Anda yang paling tahu apa yang prinsip bagi anda, dan tegaslah dalam hal itu. Soal bunga apa yang dipakai untuk dekorasi, yah selama bukan bunga kamboja atau sedap malam, ya sudah direlakan saja kalau emak anda ingin mengaturnya. Nggak penting amat kan? Mau yang menari- nari di acara itu Gatotkaca kek, atau Semar Mendem kek, biarin saja. Selama bukan penari bugil. Nanti suami saya menyesal lagi menikahi saya.

Lalu apakah saya tidak merasa eman atau sayang karena acara pernikahan yang sakral tidak saya nikmati? Hm, bagaimana ya menjawabnya. Saat saya menikah, sebetulnya intinya kan pada saat pengucapan janji kan? Kalau saya di gereja di depan romo, kalau anda mungkin di depan penghulu. Hanya "I do-I do" part kan yang merupakan pernikahan sesungguhnya? Jadi, saya hanya sedikit campur tangan untuk urusan gereja. Saya yang memilih daftar lagunya, saya memilih paduan suaranya, saya memohon agar tatanan bunganya sederhana tapi indah, dan tentu saja saya memastikan tidak ada kata Mematuhi suami dalam janji pernikahan saya. Selain itu, soal pesta tujuh hari tujuh malam, itu saya anggap cara saya membahagiakan emak bapak saya semata. Saya kira emak anda juga tidak akan terlalu bawel soal memilih Pak Penghulu mana yang harus diundang.

Dan masalahnya lagi, saya dan Okhi bahkan tidak pernah merayakan hari pernikahan kami. Hari terpenting bagi hidup kami adalah hari dimana ia menyatakan cintanya ke saya, dan saya mengiyakan. Dan sampai saat ini, tanggal jadian kamilah yang selalu kami peringati. Tanggal pernikahan kami? Itu hanyalah tanggal dimana kami mengumumkan dengan resmi ke seluruh dunia bahwa kami itu Man and Wife. Kami memperingati tanggal dimana cinta kami dimulai, bukan tanggal dimana kami sudah legal tidur satu kamar.

Dan tentu saja suatu hari nanti, saya ingin juga mengadakan acara pernikahan kami sendiri, merayakan cinta kami bersama sahabat- sahabat kami. Untuk merayakan perjalanan cinta kami dan menguatkan ikatan itu, someday kami akan melakukan pemberkatan pernikahan ulangan (apa ya istilahnya, pemberkatan penguatan begitu?). Dan saat itu, di suatu kapel kecil, dengan Romo Ellen memimpin misa, saya akan berjalan sambil menggandeng Serafim, berjalan ke arah suami saya tercinta yang menunggu saya di depan altar. Dan kami akan sekali lagi mengucapkan janji sehidup semati, aku hidup kamu mati :D. Saya hanya akan mengenakan baju putih sederhana (tapi Vera Wang) dengan rambut ditata sederhana (tapi ditata di Peter Saerang) dengan make-up sederhana (tapi MAC). Meskipun tampang saya kayak orang utan, tapi selera saya mahal. Dan sehabis upacara pemberkatan, kami akan mengadakan pesta kecil, hanya bersama teman dan saudara yang dekat di hati.

Saya membayangkan mungkin suatu kapel kecil di Bali, yang terpencil, will do the magic. Dengan rangkaian bunga putih sederhana (tapi lili dan hyancith) sebagai dekorasinya, yang akan dirangkai oleh Mbak Luh (dengan harga pertemanan pastinya). Dengan teman saya Rendy, yang suaranya Alhamdulilah ya sedikit lebih merdu dari burung gagak, menyanyikan lagu favorit kami berdua Quando quando, dan dengan syahdu melantunkan Amazing Grace. Dan kami akan mengirimkan undangan yang cantik pada sekitar dua lusin orang yang memiliki tempat istimewa di hati kami, agar mereka bisa ikut merayakan kebahagiaan kami. Sesuatu banget dech.....

Mungkin kami akan memberikan suvenir, yang akan kami rancang khusus bagi para sahabat kami itu, bukan sekedar suvenir mass production tiada arti. Dan tentu saja saya akan mengharapkan para sahabat saya akan membawa hadiah bagi kami; kehadiran mereka dan kesediaan mereka berfoto di samping kami, dan memberikan speech atau doa singkat bagi kami, dan toast untuk kebahagiaan kami. Sampanye bagi yang ingin mabuk, air keran bagi yang tidak boleh menyentuh alkohol :D. Tentu saja tidak akan ada kotak dengan lubang kecil untuk menyemplungkan amplop......

A girl can have a dream, right?

Bahkan untuk acara yang maunya saya ini saja, mungkin saya akan jadinya membuat musuh. Kenapa saya mengundang teman sekelas yang ini tapi tidak mengundang yang ono? Kenapa saya mengundang tante yang ini tapi tidak mengundang om yang ono? Tapi, sekali ini saya akan berkeras. Acara ini, hanya akan saya adakan untuk dua lusin orang terdekat di hati. Orang yang punya kesan bagi kami, dan kami juga berkesan bagi mereka. Tidak sekedar orang yang akan memberikan speech semacam "Yah, mega itu keponakan saya." Lalu zingggggggg, terdiam karena memang tidak pernah mengenal saya sebagai pribadi. Saya sudah menjalankan kewajiban mengadakan acara bagi semua orang, sekarang giliran saya membuat acara bagi kebahagiaan saya. Mungkin emak saya akan protes kenapa anjing saya si Sarden akan saya undang dan mendapat kursi tersendiri di samping kursi Mbak Putri. Saya akan mengshussh emak saya dengan mendelik. Meskipun berkaki empat dan berekor, dia salah satu makhluk paling spesial bagi saya.

Acara pernikahan impian saya diatas, adalah penggambaran kepribadian saya; sok kaya (pinginnya menghidangkan sampanye tapi kantong hanya mampu beli tuak beras), besar pasak daripada tiang, sok beken (yakin si Rendy bakal mau nyanyi untuk saya) dan yang pasti sombong sok punya banyak teman (sok pede semua bakal berebut untuk mendapatkan undangan dari saya).

 gedung dan taman idaman untuk pesta, tapi kenapa ada dua makhluk menghalangi pemandangan?