Saya baru saja terbahak-bahak karena membaca status teman saya. Dia mengganti status relationshipnya menjadi OPEN RELATIONSHIP. Teman saya itu cewek pendiam yang sudah menikah dengan satu anak. Karena heran, saya berkomentar "Serius nih kamu emang bermaksud gitu? Nakal juga ya, hehehe" Dan dia menjawab semacam "Aku hanya lagi lebay kok." Saat ini saya jadinya berada dalam dilema, do I need to tell her apa yang sebenarnya dimaksud dengan istilah open relationship atau open marriage itu? Sebetulnya saya yakin teman saya dan teman- temannya dia juga kagak tahu sih arti istilah itu, jadi diam saja adalah keputusan yang bijaksana. Tapi, jadinya saya selalu terpingkal- pingkal setiap melihat statusnya itu. Open marriage.... ane juga mau :D. Nah, omong- omong soal nikah, saya jadinya pingin nikah lagi deh, eh maksud saya pingin nulis note tentang pernikahan deh.
Beberapa saat yang lalu, saya membaca sebuah note lucu yang ditulis seorang teman saya. Ayu namanya. Dia menulis note mengenai : Pernikahan itu acaranya siapa? Mantennya atau orang tua? Sebetulnya itu isu global yang abadi, atau pertarungan tiada akhir antara keinginan pasangan yang hendak mengucapkan janji sehidup semati, dengan pihak orang tua di Indonesia (enggak tahu ya kalau di negara lain bagaimana). Tidak semua kasusnya seperti ini sih, tapi permasalahan tipikal yang mayoritas saya saksikan adalah pihak ortu ingin pesta mewah, besar- besaran, adat lengkap, dengan jumlah undangan sepuluh ribu (orang + tuyul). Di lain pihak, pasangan calon mantennya biasanya berbeda 180 derajat keinginannya; perayaan simpel tapi syahdu, dengan dandanan yang enggak norak dan hanya mengundang selusin makhluk yang dekat dihati (orang+jin).
Di note nya si Ayu, as she is a very strong- hearted girl, dan gadis paling logis dan sekaligus humble yang saya kenal, dia memutuskan bahwa hari pernikahannya adalah harinya DIA. Jadi ya My Wedding, My Way. Dengan My Way, maksudnya pestanya adalah gambaran dari pribadinya si Ayu; sederhana, penuh makna, nggak pake gengsi- gengsian (gadis Pancasilais sejati deh). Dia menuliskan bahwa pesta nikahnya akan diselenggarakan di rumah makan, dengan dia hanya memakai kebaya dari bahan katun sederhana, dan make-up yang ia pakai hanyalah bedak dan lip-gloss. Lalu tidak ada undangan yang dikirim via pos (beliau memanfaatkan FB, twitter, sms), tidak ada suvenir tacky tapi mahal, tidak ada seragam panitia, dan jelas tidak pakai foto pre-wedding. Karena, bagi prinsipnya dia, tidak boleh ada sesuatu yang berlebihan dan terbuang percuma (undangan mahal- mahal juga bakal langsung masuk tong sampah kan?). Dan suvenir pun tidak boleh barang yang nantinya akan ditumpuk doang di rumah penerimanya. Suvenirnya Ayu, bibit pohon alpukat. Pokoknya semuanya penuh makna. Sayangnya dia tidak menceritakan bagaimana caranya sehingga dia bisa meyakinkan orang tuanya plus orang tua calon suaminya akan keinginan ajaibnya itu. Mungkin Ayu beruntung, punya orang tua yang tidak sekuno Pangeran Diponegoro.
Saya tergelak saat membaca note itu. Kalau itu saya yang berkeras untuk menikah dengan modal lip-gloss dan bedak doang, dengan kebaya katun sederhana plus rok batik, maka emak saya akan:
1. Mencoret saya dari daftar ahli waris dan menggantinya dengan nama si Sarden anjing saya
2. Menangis tersengguk- sengguk 7 hari 7 malam
3. Berdoa dan berpuasa untuk memohon agar saya kembali waras, dan saat ternyata gagal, mohon pertolongan mbah dukun agar saya dipelet saja biar nurut
Setiap keluarga punya cara tersendiri dalam menyelesaikan perseteruan tiada akhir ini. Tidak ada cara penyelesaian yang salah. Selama baik mantennya dan ortunya tidak ada yang bunuh diri minum baygon, ya berarti semua baik- baik saja. Ada yang berdebat panjang lebar dan berakhir dengan anaknya ngalah deh sama orang tuanya. Ada yang kompromi. Ada yang malah gak jadi kawin karena terlalu seru berantemnya. Saat ini, saya menulis untuk menceritakan pengalaman saya saat pesta pernikahan saya.
Saat saya dan Okhi memutuskan menikah, sejak awal kami sudah menyadari perayaan semacam apa yang akan ada di benak orang tua saya. Lazimnya orang tua di Jawa lah, dengan teman kantor dan saudara dan tetangga yang bejibun jumlahnya. Pesta pernikahan di gedung besar, standing party dengan katering prasmanan, undangan mahal yang dikirim ke seribu orang, dengan didahului serangkaian upacara adat, dengan baju manten bling- bling ala rapper Chicago, dengan sanggul besar ala belahan bokong dan make-up setebal waria di perempatan. Dan tentu saja itu berbeda dengan apa yang saya inginkan.
Kalau saya disuruh memilih, pastinya saya akan memilih melakukannya dengan cara saya. Tapi saat teman saya Ayu memilih pendekatan "My wedding, my way', kami memilih pendekatan 'Tidak peduli dengan bentuk pesta nikah kami'. Jadi sejak awal, saya berkata ke emak saya, "Terserah mama mau bikin pesta nikah seperti apa, tapi aku sama sekali tidak mau membantu apapun. In term of money, tenaga dan pikiran."
Sadis? Mungkin iya. Hanya, itu adalah pendekatan yang paling sesuai bagi saya dan emak saya, walau tentu saja mungkin tidak sesuai bagi keluarga lain. Pertama, karena emak saya adalah orang yang paling konsekuen. Saat ia menginginkan pesta mewah nan mahal, maka ia tidak akan merusuhi saya untuk membantu pembiayaan misalnya. Dan emak saya juga orang yang logis, jadi dia merencanakan pesta mewah beradat lengkap karena dia memang MAMPU membiayai dan merencanakannya sendiri. Jadi, saya tidak mengalami dilema seperti yang dialami beberapa pasangan lain, dimana orang tuanya mengharap pesta mahal, tapi anaknyalah yang diharapkan untuk membiayai (padahal anaknya lebih memilih menggunakan tabungannya untuk mulai menyicil rumah dibanding membongkar tabungan hanya demi pesta sehari semalam doang).
Pertimbangan kedua kenapa saya cuek bebek, karena saya adalah orang paling ngeyelan dan keras kepala dan egois yang ada di muka bumi. Plus saya orang yang paling seksi dan rupawan. Kalau saya diminta urun rembug membantu, apalagi kalau emak saya merusuhi saya untuk misalnya mencari tahu upacara adat Jawa yang harus dijalani oleh pengantin, saya bakal mengamuk seperti anjing rabies. Sudah tahu saya tidak suka dengan acara adat, kok ya saya disuruh membantu mensukseskan acara yang tidak saya sukai. Dan emak saya fine with that. Dia lebih suka sibuk sendiri bersama embah saya dan tante saya, daripada harus memaksa saya membantu (dan pastinya saya akan membantu dengan mulut mecucu 10 senti). Jadi, persiapan perayaan pernikahan saya dilalui dengan relatif damai, dengan emak saya sibuk luar biasa kesana kemari (dan dia sangat menikmatinya) sementara saya dan Okhi santai- santai tidak peduli (dan kami sangat menikmatinya).
Selain urusan antara saya dan emak saya, urusan berikutnya pastinya dengan pihak keluarganya Okhi dong. Sejak awal juga, saya dan Okhi sudah berembug, dan kami sampai pada kesimpulan "Ini acaranya orang tua saya" (di adat Jawa, biasanya pihak cewek yang akan membuat pesta). Jadi, Okhi mengabarkan tentang rencana pernikahan kami ke orang tuanya dengan paradigma 'keluarganya Mega yang akan mengurus semua'. Paradigma itu, sungguh membantu membuat segalanya lebih mudah. Saya malas sekali harus membayangkan pertengkaran antara dua keluarga karena perbedaan keinginan, apalagi si Okhi itu ada darah Batak pula, kalau keluarganya dia memaksa mau melakukan adat mereka, sementara emak saya tidak mau, walah bisa perang dunia ketiga jadinya. Dan kedua orang tua kami, dengan paradigma itu, jadinya malah bisa akur sumekur. Mama saya yang sibuk dengan segala sesuatu, sementara emaknya Okhi adem ayem dan occasionally akan bertanya apakah ada yang bisa dibantu? Emak saya juga tidak pernah berharap keluarga Okhi akan membantu pembiayaan, dan saat kemudian emaknya Okhi memberikan sejumlah uang, maka uang itu diterima dengan suka hati, berapapun jumlahnya, dan kemudian disimpan oleh emak saya untuk nantinya diberikan ke saya dan Okhi sebagai hadiah pernikahan. Dan kemudian ganti emak saya yang bertanya apakah ada tambahan upacara adat yang ingin dilakukan keluarganya Okhi. Semuanya damai, dan tenang. Hidup sekali kok dibikin susah. Emaknya Okhi pingin merayakan juga? Beliau kemudian membuat pesta sederhana di depan rumahnya di Gubeng, dengan mengundang tetangga sekitar dan teman gerejanya.
Saat itu saya dan Okhi bekerja di Jakarta, sementara pesta pernikahan kami akan diselenggarakan di Surabaya. Jadi, dari minggu ke minggu, emak saya akan menelepon dan memerintahkan saya dan Okhi untuk pulang ke Surabaya, untuk mengukur baju lah, atau urusan apalah. Saya, tidak tahu dimana gedung tempat pesta akan diselenggarakan, mobil pengantin apa yang akan kami pakai, apa nama kateringnya, apa acara hiburannya. Saya tidak tahu dan tidak mau tahu.
Maka sampailah saya pada saat dimulainya prosesi pernikahan saya. Saya ingat sekali, hari itu saya melangkahkan kaki memasuki kompleks rumah saya menjelang maghrib, sehabis terbang dari Jakarta. Dengan celana pendek, kaos lusuh dan sandal jepit. Membawa tas billabong kecil yang hanya berisi beha dan celana dalam (biasanya saya akan merampok baju adik saya di Surabaya,daripada harus berat- berat bawa baju). Di gang depan rumah, saya menghentikan langkah. Terdiam. Dan kemudian menundukkan kepala lunglai dengan ekspresi "Oh damn it!"
Di depan rumah saya, sudah terpasang tenda nan mewah, magrong- magrong dengan rumbai- rumbai yang tertiup angin, seolah menertawakan saya sambil bernyanyi Marilah kemari hei hei hei hei, hei Mega..... Akulah disini hei hei hei hei, hei Mega.... Mari bergembira, bersama-sama, hilangkan hati duka lara, yeyeyeye...... Dibandingkan si tenda mewah, kaos saya hanya serupa gumpalan gombal untuk mengelap muntahannya Sarden. Dengan gontai saya melangkahkan kaki ke arah rumah.
Sebelum acara pesta, maka ada serangkaian upacara adat yang dilakukan. Saya, tentunya tidak suka dengan upacara adat. Ribet, bikin pusing, kagak jelas juga apa sih maksudnya. Tapi saya tidak keberatan untuk melakukannya karena hal itu yang diinginkan emak saya. Saya tidak suka pakai kebaya dan sanggul lengkap, tapi saya tidak keberatan untuk melakukannya, karena itu yang diinginkan emak saya. Sampai tiba saatnya ada upacara dimana saya harus sungkem ke Okhi. Saat mendengar hal yang satu ini, hm bagaimana ya saya menerangkannya, saya merasa sangat terhina. Sungkem di depan Okhi? Meskipun itu sekedar upacara adat, saya merasa direndahkan. Saya menundukkan kepala, menggigit bibir, dan air mata saya mulai mengalir. Okhi, dari seberang ruangan, menatap tak berdaya melihat penderitaan di wajah saya. Adik saya, serta merta berdiri dan berkata ke arah emak saya "Ma, lihat mukanya Mbak. Jangan paksa dia sungkem di depan Okhi." Mas Wandi si pembawa acara, melongo menatap drama itu. Dan akhirnya, acara itu dihapuskan. Tapi hati saya sudah terlanjur gloomy. Well, ini salah saya sih, karena saya terlalu cuek akan detil acara, sehingga tidak bisa meminta perombakan jauh-jauh hari sebelumnya.
Lalu acara adat di gedung sebelum mulainya pesta. Saya melalui rangkaian adat seperti suap-suapan, pangku- pangkuan dengan tidak peduli. Hanya lagi- lagi wajah saya memerah saat tiba saatnya upacara dimana saya mencuci kakinya Okhi. I've never been humiliated this low before. Saya? Mencuci kaki suami saya sebagai tanda kepatuhan padanya? Saya memilih tidak menikah daripada harus mematuhi seseorang semata karena ia seorang pria, dan ia suami saya. Tapi saat itu saya memutuskan melakukan saja upacara itu karena sudah terlanjur. Sebenci- bencinya saya pada acara itu, saya akan lebih benci lagi bila saya harus bertingkah dan mempermalukan orang tua saya dihadapan para tamu. Lagi- lagi ini salah saya karena tidak mengecek detil acara sebelumnya. Sebagai akibatnya, telapak kakinya Okhi berbilur- bilur merah karena saya cakar- cakar saat seharusnya saya mencucinya (tapi nggak ada orang lain yang tahu, dan Okhi hanya bisa meringis sebal tanpa bisa memprotes).
Acara pestanya? Saya bisa berkata I couldn't care less. Saya, semata melakukan apa yang diharapkan dari saya. Tersenyum saat disalami. Bagaimana saya harus menikmati acara dimana saya hanya dipajang di atas panggung, menyalami ribuan orang yang tidak saya kenal, dan mungkin juga tidak tahu nama panggilan saya? Saya hanya benar- benar tersenyum saat yang menyalami saya adalah teman- teman saya.
Dan penderitaan saya itu mungkin lebih dari pengantin wanita lain, karena deep down inside saya sama sekali tidak suka dipestakan. Bahkan terakhir kali saya merayakan ulang tahun dengan pesta adalah saat SD. Saya tidak suka dirayakan untuk apapun juga. Sebut saja itu akibat minder kelas berat. Plus, semua yang kenal saya juga tahu, kebaikan hati itu bukan bagian dari sifat alami saya. Jadi, kenapa dong saya mau- maunya mengikuti keinginan orang tua saya?
Nah, sementara saya memilih berantem dengan mertua saya saat ia ingin memberi Sera bakso dari warung, kenapa saya memilih tidak bertengkar dengan emak saya dan menerima saja pesta pernikahan maunya emak? Ada dua alasan. Yang pertama, karena saya mencoba menempatkan diri di posisi orang tua saya. Bagaimana rasanya jika saya ada di posisi mereka? Saya adalah anak sulung mereka, emak bapak saya punya ribuan kolega dari kantor mereka, kami adalah orang Jawa. Maka saya bisa mengerti mengapa penting sekali bagi orang tua saya untuk mengadakan upacara pernikahan yang proper. Walau mungkin alasannya cemen, seperti apa kata orang kalau tidak dipestakan, nanti dipikir karena saya hamil duluan, atau alasan semacam nanti bapaknya dipikir tidak mampu membiayai lagi. Tapi saya mencoba memahami. Karena emak bapak saya, sama seperti juga saya dan semua orang lain di dunia, membutuhkan persetujuan dari lingkungan mereka, dan tidak ingin jadi bahan omongan. Setelah semua yang telah mereka lakukan bagi saya, hal ini hanyalah balasan yang tidak berarti yang bisa saya berikan; mengabulkan keinginan mereka mengadakan pesta pernikahan impian bagi anak mereka. Masalah saya malu dan kecut, yah, anggap saja balasan karena selama ini sayalah yang sudah mempermalukan dan menyusahkan hati orang tua saya yang sering dipanggil guru karena kebengalan saya.
Alasan kedua kenapa saya oke saja dengan keinginan orang tua saya, adalah karena, meskipun saya tidak suka dengan konsepnya, tidak tertarik dengan adatnya, tapi hal itu tidak menyinggung prinsip hidup saya. Inilah alasannya kenapa saya memilih berantem saat ada yang ingin memberi Sera bakso warung, karena itu bertentangan dengan prinsip saya untuk sebisa mungkin tidak memberi makanan sampah bagi Sera. My kid, My way. Sama seperti saya bisa bertoleransi saat seorang teman selalu datang terlambat bila ada janji bertemu. Saya jengkel, tapi saya bisa memaklumi. Gak prinsip. Pakai sanggul ala belahan bokong? Je deteste ca! Tapi itu bukan hal prinsip, jadi saya bisa memaklumi. Pakai gedung besar dan mengundang ribuan orang? Bikin geleng- geleng, tapi itu nggak prinsip (bagi saya). Suka- sukalah!
Saat anda mengabarkan keinginan untuk menikah pada orang tua anda, it's better to discuss it first between the two of you. Paradigma apa yang ingin anda bawa? Seperti Ayu yang melakukannya dengan caranya dia, atau seperti saya yang memilih mengikuti saja maunya orang tua saya. Untuk dua paradigma ini, saya sebut paradigma yang ekstrim. Seperti si Ayu, karena dia memutuskan pakai caranya dia sepenuhnya, ya dia konsekuen; dia yang repot dan dia yang mendanai semuanya. Seperti saya yang manut sepenuhnya saja terserah emak, ya saya juga konsekuen; emak saya yang repot dan membiayai semua :D.
Hanya sepertinya lebih banyak adalah mereka yang harus kompromi. Maksudnya, biaya ditanggung berdua, pihak ortu dan anak. Acara juga dirembug berdua, ortu dan anak. Nah, saya tidak berpengalaman dalam hal kompromi begini, jadi mungkin ada yang punya pengalaman dan bersedia berbagi? Kompromi ini bagus sih, hanya ya pasti lebih rawan berantem. Banyak kepala, banyak maunya dong. Hanya mungkin semua akan lebih gampang kalau perundingan dimulai dengan mencari kesamaan ide, daripada belum- belum sudah berdebat si emak maunya pakai sinden dan dalang sementara anaknya pingin mendatangkan trio macan. Jadi mulai saja dari "Hei, ternyata kita sama- sama setuju bahwa menu favorit kita berdua (emak dan anak) adalah kambing guling. Hore.... sudah ketemu satu menu pestanya!!" Mungkin nantinya malah bisa kompromi juga soal penghibur acara; ibu sinden dengan kostum trio macan. Voila!
Dari pengalaman saya, saat anda memilih mengikuti keinginan orang lain atau harus berkompromi dengan keinginan orang lain, maka kuncinya : berkompromilah untuk hal- hal yang tidak prinsip bagi anda, tapi keukeh untuk hal- hal yang merupakan prinsip hidup anda, nilai yang anda anut. Seperti saya, kalau saya bisa mengulang pesta saya lagi, maka saya hanya akan mengubah hal yang benar- benar mengganggu saya. Saya akan sejak awal dengan tegas menolak segala upacara adat yang tidak sesuai dengan prinsip hidup saya. Sungkem ke suami dan mencuci kaki suami, akan dengan tegas saya tolak. Untuk hal yang ini, saya tidak akan kompromi. Saya sudah bersedia kompromi untuk semua hal lain, maka untuk yang satu ini saya tidak akan mundur selangkahpun. Mungkin bila prinsip hidup anda adalah tidak mau berhutang, maka jangan biarkan orang tua anda membuat diri mereka (atau anda) berhutang pada pihak lain hanya demi menyelenggarakan pesta anda. Keukehlah dalam hal itu. Atau kalau seorang pengantin pria menolak untuk mengenakan baju pengantin solo basahan (karena bertentangan dengan prinsip hidupnya untuk tidak bersedia memamerkan dada berlemaknya di depan ribuan tamu), tirulah alibinya Okhi, "Aku mau pakai baju itu hanya kalau Mega juga pakai baju yang sama." Dan solo basahan tidak pernah lagi hadir dalam rapat keluarga.
Anda yang paling tahu apa yang prinsip bagi anda, dan tegaslah dalam hal itu. Soal bunga apa yang dipakai untuk dekorasi, yah selama bukan bunga kamboja atau sedap malam, ya sudah direlakan saja kalau emak anda ingin mengaturnya. Nggak penting amat kan? Mau yang menari- nari di acara itu Gatotkaca kek, atau Semar Mendem kek, biarin saja. Selama bukan penari bugil. Nanti suami saya menyesal lagi menikahi saya.
Lalu apakah saya tidak merasa eman atau sayang karena acara pernikahan yang sakral tidak saya nikmati? Hm, bagaimana ya menjawabnya. Saat saya menikah, sebetulnya intinya kan pada saat pengucapan janji kan? Kalau saya di gereja di depan romo, kalau anda mungkin di depan penghulu. Hanya "I do-I do" part kan yang merupakan pernikahan sesungguhnya? Jadi, saya hanya sedikit campur tangan untuk urusan gereja. Saya yang memilih daftar lagunya, saya memilih paduan suaranya, saya memohon agar tatanan bunganya sederhana tapi indah, dan tentu saja saya memastikan tidak ada kata Mematuhi suami dalam janji pernikahan saya. Selain itu, soal pesta tujuh hari tujuh malam, itu saya anggap cara saya membahagiakan emak bapak saya semata. Saya kira emak anda juga tidak akan terlalu bawel soal memilih Pak Penghulu mana yang harus diundang.
Dan masalahnya lagi, saya dan Okhi bahkan tidak pernah merayakan hari pernikahan kami. Hari terpenting bagi hidup kami adalah hari dimana ia menyatakan cintanya ke saya, dan saya mengiyakan. Dan sampai saat ini, tanggal jadian kamilah yang selalu kami peringati. Tanggal pernikahan kami? Itu hanyalah tanggal dimana kami mengumumkan dengan resmi ke seluruh dunia bahwa kami itu Man and Wife. Kami memperingati tanggal dimana cinta kami dimulai, bukan tanggal dimana kami sudah legal tidur satu kamar.
Dan tentu saja suatu hari nanti, saya ingin juga mengadakan acara pernikahan kami sendiri, merayakan cinta kami bersama sahabat- sahabat kami. Untuk merayakan perjalanan cinta kami dan menguatkan ikatan itu, someday kami akan melakukan pemberkatan pernikahan ulangan (apa ya istilahnya, pemberkatan penguatan begitu?). Dan saat itu, di suatu kapel kecil, dengan Romo Ellen memimpin misa, saya akan berjalan sambil menggandeng Serafim, berjalan ke arah suami saya tercinta yang menunggu saya di depan altar. Dan kami akan sekali lagi mengucapkan janji sehidup semati, aku hidup kamu mati :D. Saya hanya akan mengenakan baju putih sederhana (tapi Vera Wang) dengan rambut ditata sederhana (tapi ditata di Peter Saerang) dengan make-up sederhana (tapi MAC). Meskipun tampang saya kayak orang utan, tapi selera saya mahal. Dan sehabis upacara pemberkatan, kami akan mengadakan pesta kecil, hanya bersama teman dan saudara yang dekat di hati.
Saya membayangkan mungkin suatu kapel kecil di Bali, yang terpencil, will do the magic. Dengan rangkaian bunga putih sederhana (tapi lili dan hyancith) sebagai dekorasinya, yang akan dirangkai oleh Mbak Luh (dengan harga pertemanan pastinya). Dengan teman saya Rendy, yang suaranya Alhamdulilah ya sedikit lebih merdu dari burung gagak, menyanyikan lagu favorit kami berdua Quando quando, dan dengan syahdu melantunkan Amazing Grace. Dan kami akan mengirimkan undangan yang cantik pada sekitar dua lusin orang yang memiliki tempat istimewa di hati kami, agar mereka bisa ikut merayakan kebahagiaan kami. Sesuatu banget dech.....
Mungkin kami akan memberikan suvenir, yang akan kami rancang khusus bagi para sahabat kami itu, bukan sekedar suvenir mass production tiada arti. Dan tentu saja saya akan mengharapkan para sahabat saya akan membawa hadiah bagi kami; kehadiran mereka dan kesediaan mereka berfoto di samping kami, dan memberikan speech atau doa singkat bagi kami, dan toast untuk kebahagiaan kami. Sampanye bagi yang ingin mabuk, air keran bagi yang tidak boleh menyentuh alkohol :D. Tentu saja tidak akan ada kotak dengan lubang kecil untuk menyemplungkan amplop......
A girl can have a dream, right?
Bahkan untuk acara yang maunya saya ini saja, mungkin saya akan jadinya membuat musuh. Kenapa saya mengundang teman sekelas yang ini tapi tidak mengundang yang ono? Kenapa saya mengundang tante yang ini tapi tidak mengundang om yang ono? Tapi, sekali ini saya akan berkeras. Acara ini, hanya akan saya adakan untuk dua lusin orang terdekat di hati. Orang yang punya kesan bagi kami, dan kami juga berkesan bagi mereka. Tidak sekedar orang yang akan memberikan speech semacam "Yah, mega itu keponakan saya." Lalu zingggggggg, terdiam karena memang tidak pernah mengenal saya sebagai pribadi. Saya sudah menjalankan kewajiban mengadakan acara bagi semua orang, sekarang giliran saya membuat acara bagi kebahagiaan saya. Mungkin emak saya akan protes kenapa anjing saya si Sarden akan saya undang dan mendapat kursi tersendiri di samping kursi Mbak Putri. Saya akan mengshussh emak saya dengan mendelik. Meskipun berkaki empat dan berekor, dia salah satu makhluk paling spesial bagi saya.
Acara pernikahan impian saya diatas, adalah penggambaran kepribadian saya; sok kaya (pinginnya menghidangkan sampanye tapi kantong hanya mampu beli tuak beras), besar pasak daripada tiang, sok beken (yakin si Rendy bakal mau nyanyi untuk saya) dan yang pasti sombong sok punya banyak teman (sok pede semua bakal berebut untuk mendapatkan undangan dari saya).
gedung dan taman idaman untuk pesta, tapi kenapa ada dua makhluk menghalangi pemandangan?

No comments:
Post a Comment