Monday 31 October 2011

My Monday Note -- Mungkin Perlu Ke Gunung Kawi

Saat sedang asyik meng-klik berbagai tombol untuk membalas status- status di FB dan memberi ucapan met ultah basa- basi ke berbagai teman FB yang saya bahkan lupa dia masih hidup kalau saja tidak ada notifikasi birthday, eh tiba- tiba muncul status seorang sahabat di masa muda. Begini statusnya : Duh Gusti Allah menopo sare nggih, kula sampun nyobi tes PNS bolak- balik kok nggih mboten ketompo. Wis jan, ancene usahaku ora diregani blas! Terjemahannya semacam : Duh Tuhan apa sedang tidur ya, wong saya sudah mencoba tes PNS bolak- balik kok ya enggak keterima juga. Memang usahaku itu tidak dihargai!

Tangan saya terdiam beberapa saat. Saat seseorang berkeluh kesah atau mengucap syukur dengan menyebut-nyebut Tuhan di FB, sebagai seorang yang setengah kapirun, biasanya saya tidak akan terlalu mempedulikan. Status semacamhanya kepada Tuhan aku berserah atau Meski kecewa tapi kupercaya pada Tuhan paling- paling hanya membuat saya mencibir. Lebay ah. Maklum- maklum, saya kan penyembah dewa kodok, jadi status religius nggak masuk ke nurani saya.

Tapi status teman saya diatas membuat saya entah kenapa sedikit sesak di dada (kata suami saya, "Itu karena kamu tambah gendut, jadi behanya gak cukup lagi"). Mungkin karena teman saya itu memakai bahasa Jawa. Dan karena saya orang Jawa (mohon diingat ya, saya ini keturunan trah SINGODIMEJO aka. singa di atas meja), jadi saat seseorang bertutur dalam bahasa jawa halus, maka ada sisi lembut di hati saya yang terketuk. Dan status teman saya itu membuat saya bisa merasakan betapa sedang sesak dadanya, betapa sedang putus asa dirinya, betapa dia menyalahkan Gusti Allahnya nya yang tercinta, tapi tetap hormat kepada Nya (kalau anda mengerti bahasa Jawa, di kalimat pertama saat ia sedang mengeluh pada Gustinya, dia memakai bahasa paling halus yang hanya dipakai saat kita bercakap dengan orang yang lebih tua dan dihormati. Tapi di kalimat berikutnya, dia memakai kata- kata yang ngoko alias bahasa kasaran).

Dan sebagai lazimnya nasib status semacam itu, balasan komen dari teman- temannya adalah semacam Sabar ya Broooo, atau Eh nggak boleh menyalahkan Tuhan, Ia akan memberi kamu yang terbaik kok dan komen- komen penghiburan dan teguran ala Mario Teguh deh. Saya, memilih tidak membalas status itu. Semata karena saya tidak tahu harus membalas apa. Bisa sih saya balas semacam sabar, atau terus berusaha atau Tuhan tahu waktu terbaik, tapi entah kenapa rasanya balasan semacam itu sekedar basa- basi dan dangkal. Jadi ya sudah, saya memilih bobok siang saja sambil ngupil. Memang saya itu bijaksana.

Saya tentu mengerti bahwa teman saya itu hanya sedang gundah gulana. Dia anak baik kok, hanya sedang ingin berkeluh kesah kepada Tuhannya. Hanya jadinya saya berpikir juga, kenapa ya saya yang sudah tiap hari pasang lilin di gereja tetap aja nggak naik- naik gajinya? Atau dalam status teman saya, yang sudah selalu berdoa kok ya nggak keterima- keterima juga. Katanya yang jaga gereja, "Mbak, mbak, kalau minta naik gaji ya jangan ke gereja dong, mintanya ya ke bosnya." Maka saya akan menjawab "Masalahnya saya takut pak mau minta ke bos, bos saya kan galak. Makanya mending mintanya ke sini aja, hehehehe."

Begini deh, kalau logikanya siapa yang paling rajin berdoa, paling khusuk beribadah harusnya yang paling sukses hidupnya dan karirnya, lalu kenapa negara- negara yang paling kaya tu kebanyakan malah negara yang rada- rada kapirun, yang gerejanya kosong melompong kalau hari minggu? Sementara Indonesia yang masjid dan gereja dan pura dan wihara dan klentengnya penuh sesak tiap hari, kok malah tambah miskin dan amburadul? Nah, saya juga nggak tahu ya apa jawaban religius untuk hal ini, monggo ditanya ke romo, pendeta, ustad dan kawan anda yang rajin pengajian. Ini sih hanya pemikiran awam saya.

Karena, meskipun Tuhan itu adalah pencipta tanah, dan bibit kedelai, dan air, dan eek nya si sapi, tapi tangan manusialah yang harus bekerja mengolah semua bahan mentah dari Tuhan ini. Jadi ya manusia harus bangun pagi- pagi untuk membajak tanahnya, kemudian membungkuk- bungkuk untuk menanam bibit kedelai satu demi satu di tanah, kemudian mengambil air seember demi seember dari sungai untuk menyiram tanamannya, dan tanpa jijik memunguti eek nya sapi untuk ditaburkan diatas tanah. Ini proses kehidupan kan? Enggak ada urusannya sama sekali dengan mau anda doa dulu kek, atau wiridan semalam suntuk, tetap saja kalau mau dapat tempe ya harus bersusah payah dulu menanam kedelai. Masak dengan berdoa menengadahkan tangan ke langit lalu tahu- tahu ada sekarung kedelai jatuh dari langit? Emangnya film Sun Go Kong?

Saat saya ingin tempe, saya tahu bahwa saya harus bekerja keras menanam kedelai. Tidak bisa tidak. Saya harus berusaha sekuat tenaga bekerja dan berotak pintar untuk mengkalkulasi berbagai kemungkinan, semisal cuaca atau hama yang mungkin menyerang. No pain, no gain. Tapi, saya lalu akan menundukkan kepala dan berucap kepada Tuhan di surga, mengucap syukur karena saya masih diberi kesempatan untuk mengolah berkat pemberianNya. Dan saya memohon bantuan penyertaanNya, supaya tanaman kedelai saya tumbuh subur dan nantinya bisa saya panen. Karena saya tahu banyak hal di dunia ini berada di luar kendali tangan saya.

Lalu sampailah saya pada saat panen. Sawah sebelah saya adalah milik seorang ateis yang pintar. Dia meneliti dengan seksama segala masalah pertanian dan bekerja lebih keras dari saya. Lho, kok ternyata meskipun saya sudah bekerja keras, kok panen saya tidak memuaskan ya hasilnya? Sementara tetangga ateis saya sukses besar? Wajar saya kecewa, dan mungkin sempat mengeluh ke Tuhan, gimana ini, saya sudah kerja keras dan memohon padaMu, tapi kok hasilnya enggak bagus?

Setelah days of mourning, sampailah saya pada kemampuan untuk berakal sehat lagi. Karena saya percaya Tuhan, maka saya yakin selalu ada maksud di balik setiap kejadian di hidup saya, termasuk saat saya gagal. Jadi sekali lagi saya menundukkan kepala dan berucap "Maaf Tuhan, aku sempat putus asa. Terimakasih ya, Engkau tidak mengirim petir untuk menyambar bokong saya. Sekarang saya akan berjuang, memeriksa apa yang kurang dari usaha saya, apa mungkin pupuknya kurang banyak, atau saya kurang pagi bangunnya. Mohon penyertaanMu yah...."

Dan bahkan, saat mungkin lagi- lagi saya gagal, saat saya percaya pada Tuhan, saya akan merasa ayem karena tahu saya punya Seseorang tempat saya mengadu. Dan kalau saya sudah bekerja keras sekali, saya sudah berdoa dan tetap saja panen saya gagal, ya mungkin berarti memang saya tidak berbakat jadi petani kedelai kan? Mungkin saya harus mencoba profesi yang lain. Bagi saya, kalau anda mengharapkan saat anda berdoa maka hidup anda akan mudah, karir moncer, jodoh gampang, ya jangan berdoa kepada Tuhan. Ia kan memang tidak pernah menjanjikan akan membuat anda kaya, dan sukses, dan rupawan. Doanya ke Jin Iprit saja. Pasti manjur, plus anda dikasih peliharaan tuyul. Top kan? Paling- paling dia minta bayaran jiwa anda, huahahahaha.

Makanya saya rada bete saat ada novel religius (sehabis booming novel AAC) yang dibagikan gratis di majalah K**T***. Ceritanya tentang seorang pemuda desa miskin yang di kampungnya disia- sia karena dia mencoba mempertahankan surau yang hendak rubuh. Di sisi lain, kakaknya yang rupawan dan ramah tapi jarang mengaji dicintai orang sekampung. Lalu kakak ini merantau ke kota, dan jadi sukses (di akhir cerita ternyata si kakak jadi bandar narkoba). Wah, semakin banggalah orang tuanya pada si kakak, sementara si adik jadi cemoohan di kampung ya karena dia mencoba mempertahankan surau yang mengakibatkan perang antar desa. Akhirnya diusirlah si adik dari kampung. Sampai sini masih okelah ceritanya. Beberapa tahun berselang, tiba- tiba pulanglah si adik, dengan diantar orang- orang berkopiah semua, naik mobil mercy. Ceritanya, si adik abrakadabra menjadi sangat sukses di kota. Caranya gimana? Gak penting. Pokoknya dia sukses karena kesucian hatinya. Titik. Dan dia berteman dengan orang- orang kaya yang tetap condong pada Tuhan.

Bagi saya, novel ini menyesatkan. Seolah asal anda rajin berdoa, semua akan beres. Meskipun anda pemuda dusun kecil yang nggak tamat sekolah, dan terusir ke Jakarta tanpa modal duit dan pendidikan, pokoknya sim salabim anda akan bisa kaya raya banyak harta. Syaratnya, berhati bersih dan rajin berdoa. Kenapa si novelis tidak menceritakan misal si adik ini bekerja keras di jakarta, jadi kuli, hidupnya getir tapi karena dia beriman jadi dia tabah menjalani. Lalu gimana kek, dia bersekolah lagi, trus karena dia pintar dan rajin berdoa maka dia keterima jadi satpam, trus karena dia jujur jadi dia naik pangkat, and so on and so on. Intinya, ora et labora, bekerja dan berdoa. Ini mah novel khas orang Indonesia namanya, maunya nggak kerja keras tahu- tahu sukses dan kaya cara instan. Pake embel- embel agama lagi. Halah. Lagi- lagi, emangnya Tuhan itu jin iprit apa? Makanya urbanisasi menggila di Indonesia.

Kemarin saya membaca status beberapa ex teman sekantor saya. Biasa, sehabis lebaran selalu ada acara halal bihalal di pabrik cikarang. Saya dulu selalu rajin datang meskipun itu berarti saya harus mengancam teman untuk meminjamkan kerudung kepala. Daripada duduk ngetik di kantor sambil ngelihat mukanya bos yang asem, kan mending ikut halal bihalal, dapat snack, bisa ngobrol sama cowok pabrik yang caem- caem lagi. Nah, tahun ini topik hangatnya adalah ustad yang akan mengisi ceramah di halal bihalal. Ni ustad populer banget, charming, lucu, bisa menyampaikan khotbah dengan sangat membumi dan tidak terkesan menghakimi. Pokoknya otre deeeeeh. Jadilah pak ustad ini laris manis kembang kimpul. Cewek- cewek pun selalu menyambut dengan setengah histeris, membayangkan bagaimana rasanya punya suami yang sebaik, seteduh, dan sesuci pak ustad. Lalu dulu di surabaya, saya pernah punya pastor yang suci sekali orangnya, baik sekali hatinya, dan tidak punya pikiran jelek pada siapapun. Siapapun yang berada di dekatnya akan merasa damai. Hanya, romo sepuh ini tidak pernah menjabat menjadi romo pemimpin gereja, atau jabatan- jabatan lainnya. Semata karena beliau memang tidak memiliki kapasitas organisasi yang sebaik pastor lainnya. What I'm trying to say is, bahkan di ranah keagamaan pun, yang namanya kemampuan profesional itu tetap diperlukan saat seorang pemimpin agama hendak didudukkan dalam suatu jabatan duniawi. Dan dalam kasus pak ustad beken, mungkin banyak ustad dan kyai lain yang lebih tekun berdoa, tapi ternyata ustad yang sukses diundang ke acara- acara juga tetap ustad yang bisa menyampaikan khotbah dengan segar dan mengena kan?

Nah, kalau karir yang nyerempet surga saja tetap membutuhkan kemampuan profesional, bagaimana bisa untuk karir yang kapitalis dan materialis aka. karir duniawi pada umumnya, seseorang mengharap hanya dengan modal doa maka dia akan sukses? Masalahnya juga, meskipun dunia itu diisi penjahat dan penjahit, tapi Tuhan menurunkan hujan untuk keduanya kan? Masak hanya si penjahit yang dikasih hujan? Sama juga kenapa di rumah sakit, yang kena kanker ya ada yang ustad dan ada yang penjahat. Ya gimana lagi, memang beginilah cara dunia berputar.

Jadi enggak ada gunanya dong orang berdoa? Emang nggak ada gunanya, kalau seseorang mengharap dengan berdoa maka hidupnya akan mudah, bisa menang lotere 4 juta dolar, bisa kaya, bisa sukses karirnya, bisa cantik mukanya, bisa gampang jodohnya, bla bla bla. Doa kok jadi tawar menawar. Hayo, bikin saya kaya nggak, kan saya sudah doa lhoooo.

Tapi dengan berdoa, saya bahagia karena saya bisa bercakap- cakap dengan Sang Pencipta yang telah mencintai saya, saya bisa merasa damai karena tahu saya tidak sendirian di dunia yang kejam ini, dan saya bisa yakin bahwa apapun kegagalan yang terjadi, selama saya mau terus maju, maka akan ada jalan yang lebih terang yang disediakan bagi saya.

Kembali ke status teman saya, saya sadar sih dia hanya sedang berkeluh kesah. Manusiawi lah. Makanya saya juga enggak pingin membalas komentarnya dengan teguran jangan berani- berani mempertanyakan keputusan Tuhan wahai dikau manusia tak beriman! Ya namanya manusia kan tempatnya kecewa dan mengeluh. Hanya kalau saja saya ingin membalas nakal, mungkin saya akan membalas dengan semacam: masalahnya kan peserta yang lain juga berdoa? :D Atau saya akan menjawab PNS kan abdi negara dan masyarakat. Lha kalau Tuhan hanya sekedar memilih berdasar siapa yang doanya paling rajin dan paling sering ikut tes, padahal dia goblok petok- petok, lha cilaka dong bangsa saya, karena PNS nya kagak gape melayani masyarakat?

Selain kenyataan bahwa orang yang rajin berdoa itu bukan jaminan hidupnya bakal sukses juga dunia, saya jadi ingat dulu saat saya ngobrol- ngobrol dengan teman sekantor dulu. Kami menggosipkan (ckckck, jangan pernah menuduh saya biang gosip, saya hanya bergosip untuk pergaulan kok) tentang seorang rekan yang menyebalkan, jahat, tapi karirnya paling moncer. Kata seorang teman, "Aneh ya, wong dia tu jahat dan licik, tapi kok malah naik level terus." Saya jadi berpikir- pikir, iya ya, kenapa ada orang baik yang sukses, tapi banyak juga orang jahat yang sukses.

Gini, misalnya anda ditunjuk jadi komandan pasukan Amerika dan akan diterjunkan ke belantara Vietnam yang penuh tentara Vietkong. Anda diminta memilih 20 orang anggota pasukan. Nah, dengan resiko mati ditembak Vietkong atau menginjak ranjau darat, kira- kira personel macam apa yang akan anda pilih? Saya nggak tahu ya dengan anda, tapi kalau saya sih masih sayang sama bokong saya yang mulus ini, jadi saya akan melakukan segalanya untuk menjaga sang bokong dari terjangan peluru. Nah, otomatis personel yang saya pilih adalah para penembak tepat, prajurit yang tangguh, bisa melacak musuh dan punya kemampuan hebat dalam bertempur. Apa saya peduli kalau si personel ini jahat orangnya, judes mukanya dan kasar bicaranya? Ya enggaklah. Yang penting dia mampu menembak dan lari cepat. Nah, baru kalau pilihannya dua orang yang sama- sama jago nembak, tapi yang satu ramah tamah dan tampan rupawan sementara yang satu jahat judes, tentu saya akan memilih si ramah nan rupawan. Kalau ramah dan tampan tapi enggak bisa megang senapan? Ya itu mending saya jadikan suami saja deh!

Begitu juga suatu perusahaan. Pegawai yang bisa memenuhi target penjualan, atau bisa membuat program software yang canggih atau yang punya kemampuan memimpin, atau yang bisa luwes berhaha hihi dengan klien, ya itulah yang akan maju karirnya. Kalau mau jadi manager pemasaran, ya seseorang harus pinter memasarkan. Kalau mau jadi manager keuangan ya seseorang harus pinter akuntansi. Titik. Nggak ada urusannya dengan "Saya tuh memang nggak bisa menghitung 2 x 3 berapa, tapi kan saya selalu baik hati, jadi kenapa bukan saya yang dipercaya untuk menjadi bendahara?? Kenapa..Kenapa?? Hidup memang tidak adil!!! Ya sudah saya mau menari muter- muter kayak pilem India!!!"

Nah, kalau si manager pemasaran ini jahat, ya dia akan jadi manager pemasaran yang disumpahin anak buahnya masuk neraka. Sementara kalau yang jadi manager pemasaran selembut dan sebaik saya, ya maka dia akan jadi manager yang disayangi anak buahnya, didoakan supaya diterima amal ibadahnya :D. Tapi siapa yang karirnya bagus dan bakal jadi direktur? Ya siapa yang bisa membawa keuntungan lebih banyak bagi perusahaan dong. Bisa si jahat bisa si baik, siapa yang lebih pinter.

Jadi nggak ada untungnya dong jadi seorang yang baik? Mending jadi yang jahat aja kalau gitu. Nah, sebetulnya jadi baik itu ada untungnya juga. Yang pertama, ya orang- orang akan lebih sayang pada si baik daripada si jahat. Kalau saya jadi bos, dan ada dua anak buah saya dengan kemampuan profesional yang sama, yang satu baik dan yang satunya lagi jahat, ya saya akan milih si baik untuk saya naikkan pangkatnya. Tapi, itu kalau kualitasnya SAMA ya.... Keuntungan lainnya, ya teman- teman bakal sayang sama si baik, dia mungkin bakal diajak makan siang dan jalan- jalan ke mall lebih sering dari si jahat, kalau ultah dikasih ucapan selamat, dan mungkin setiap pagi disapa dengan ramah. Sementara si jahat? Ya mungkin dicuekin aja, nggak diajak makan siang, dan nggak diajak jalan- jalan ke mall. Saat si baik mati, banyak yang akan datang ke pemakamannya untuk mendoakan. Saat si jahat yang mati, banyak yang datang juga sih, untuk menghibur dewa bumi yang harus menerima makhluk sejahat itu.

Tapi selain urusan untung atau nggak untung dengan menjadi orang baik, bukannya kita seharusnya menjadi seseorang yang baik semata karena kita ingin menjadi orang yang baik ya? Kok jadi semacam balas budi, kalau aku baik, sebagai balasannya harusnya karirku juga jadi cemerlang dong....

Saya : Gimana sih ini, saya sudah berdoa tanpa henti, selalu menyumbang gereja, kok karir saya tetap mandeg!!!!
Malaikat : Lha ya salah kalau kamu berharap dengan berdoa di gereja, lalu semua keinginan duniawimu akan terkabul
Saya : Jadi saya harus kemana dong???? Masjid? Pura? Klenteng?????
Malaikat : (Menggeleng- geleng dengan masam) Sana lho bertapa ke gunung kawi !
Saya : Sibuk mencari di google map posisi si gunung kawi (hm, kenapa ada bau belerang ya ???)

No comments:

Post a Comment