Monday 17 October 2011

My Monday Note -- Pelajaran Hidup Bernama Serafim

Hari kamis jam 9 pagi. Hari ini adalah harinya Sera ikut kelas bermain. Saya mendudukkan Sera di atas car seatnya, menyetir selama 10 menit, dan sampailah ke tempat kelasnya Sera. Saya menuntun Sera masuk ke dalam gedung. Di ruang tunggu di depan aula yang sudah disulap menjadi arena bermain, sudah ada beberapa anak lain dengan diantar entah emaknya, bapaknya atau neneknya. Saya menyapa mereka, Sera sih cuek saja. Lalu saya mengajak Sera mencari namanya dan memasangnya di rompi yang kemudian saya pakaikan ke badannya. Sera dengan ngawur asal mencomot nama anak lain. Kemudian, pintu kelas dibuka, dan Liz, si instruktur kelas sudah duduk menunggu. Saya memberikan buku Gymbaroo kepada Sera, dan memberikan perintah "Put the book into the red basket Sera." Dengan berderap Sera memasukkan bukunya ke keranjang merah. Lalu saya mengajaknya untuk antri di depan Liz. Dengan penuh perhatian, Sera memperhatikan Liz membubuhkan stempel bergambar sapi di kaki kanan dan tangan kanannya. Lalu kemudian, Sera bebas menjelajah arena bermain.

Saya bukan sedang berusaha membuat buku harian tentang kegiatannya si Sera. Mungkin bagi yang membaca paragraf di atas, hal itu hanya cerita biasa soal kegiatan seorang batita. Tapi hari itu, saya menjadi ibu yang paling bangga sedunia. Lebay ya? Lemme start from the very beginning.

The major setback in my life adalah saat Serafim ternyata tidak berkenan dimasukkan ke dalam Childcare. Dia menjerit dan menangis tanpa henti. Kami datang ke Australia dengan segudang rencana, dan hanya karena si nyaris-2-tahun kami menolak untuk dititipkan, semua rencana itu buyar. Saya tidak bisa bekerja, penghasilan hanya didapat dari Okhi. Rencana finansial buyar, dan yang tak kalah parahnya, saya kehilangan kesempatan yang sudah saya tunggu untuk bisa bekerja di luar negeri. Plus, saya tidak merasa memiliki ketertarikan kimiawi dengan sapu dan wajan.

Sesudah days of self-loathing, depresi, dan keinginan yang besar untuk menggunakan pisau dapur untuk menggorok si makhluk 70 senti yang suka menjerit itu, saya menjadi lebih tenang. Dan menyadari keprihatinan terbesar saya adalah mengenai anak saya. Saya sangat ketakutan. Apakah Sera bisa beradaptasi dengan cara Australia? Yang di umur 3 tahun saja anak- anaknya sudah melompat ke kolam renang dengan pelatih renangnya, tanpa didampingi orang tuanya. Yang di umur 3 tahun sudah masuk Early Learning Center dengan santai? Pusing kepala saya.

Anda belum kenal siapa Sera sebenarnya sampai anda mendengar deskripsi ini. Serafim, punya ketakutan yang sangat besar terhadap orang asing. Sangat besar. Jangankan memegangnya, menyapanya saja sudah bisa membuatnya menangis menjerit dengan histeris. Dia tidak bisa ditinggal sendiri. Dia harus selalu bersama saya. Ketakutannya terhadap orang, benar- benar sudah sampai taraf fobia menurut saya. Sialnya lagi, dia paling takut pada orang tinggi, berkulit putih dan berambut terang alias bule. Memang katrok kok si Sera.

Akhirnya saya berkata ke Okhi, dengan anak yang sangat ketakutan saat berinteraksi dengan orang lain (bahkan ia tidak mengijinkan mamanya Okhi menyentuhnya), akan sangatlah kejam kalau kami memaksa untuk melemparnya ke tangan segerombolan orang asing sepanjang hari di tempat penitipan anak. Tapi, membiarkan saja ketakutannya berkembang tanpa berusaha memperbaikinya, saya juga tidak merasa itu hal yang tepat untuk dilakukan.

Akhirnya, kami sepakat memasukkan Sera ke kelas- kelas bermain dengan saya menemaninya. Harapan saya sederhana, Sera tidak menjerit setiap disapa orang lain. Kelas pertama yang saya ikuti adalah Gymbaroo, ini kelas 50 menit yang kegiatannya main- main selama 15 menit di playgroundnya, kemudian semua anak dan orang tuanya akan duduk melingkar dan kami akan bernyanyi bersama dan menari bersama. Lalu kemudian bermain- main lagi. Kemudian duduk lagi. Sederhana kan?

Di grupnya Sera saat itu ada 15 anak lainnya. Saat pertama kali masuk kelas, saya harus menggendong Sera karena ia menolak berjalan, takut pada kerumunan orang. Kemudian, sebelum si anak boleh bermain di playground, Liz akan menstempel kaki dan tangannya. Sudah bisa ditebak, Sera panik dan histeris saat saya mengajaknya mendekati Liz, bahkan sebelum Liz mencoba menyentuhnya. Saat bermain di playground, saya tidak menemui masalah. Sera sangat senang bermain. Tapi, saat tiba ke sesi duduk bersama, mulailah dia membuat saya putus asa.

Saat anak lain bernyanyi, Sera merengut. Saat Liz membawa keranjang penuh berisi bola, anak lain akan maju ke depan untuk mengambil sendiri bola itu, sementara Sera menolak usaha saya mendorongnya maju. Saat anak lain mengikuti instruksi Liz untuk duduk di atas bola, Sera berusaha kabur dan kembali bermain di playground. Saat anak lain mengembalikan sendiri si bola ke dalam keranjang, Sera menangis menolak menyerahkan si bola. Begitu seterusnya. Dia menangis, menjerit, berontak, marah- marah. Saat anak lain maju ke tengah lingkaran untuk mendengarkan Liz bercerita, Sera menangis saat saya mencoba membuatnya terlepas dari pangkuan saya.

Membaca pengalaman saya, mungkin anda akan berkata itu lucu, atau wajar. Tapi saat anda berada di posisi saya, dan anak saya adalah anak paling nakal dan paling tidak bisa diatur diantara anak lainnya, hal itu jauh dari lucu. Saya sedikit (becanda ding, bukan sedikit tapi sangat) malu melihat betapa jauh kemampuan anak saya dibanding anak lain. Pada minggu kedua, saya berharap Sera akan membaik. Mimpi kaliiiii. Dia sama parahnya dengan sebelumnya. Dari malu, saya beralih menjadi putus asa. Dan bahkan berkata ke Okhi "Can I just drop this class? I don't think I can continue on. It just so hard..."

Ini bukan masalah kata- kata klise "Setiap anak memang unik" atau "Terimalah anakmu apa adanya." Unik itu misalnya Sera lebih memilih untuk bermain dengan papan petunjuk di playground yang bertuliskan "Biarkan anak anda memilih sendiri dia ingin bermain apa." Sementara anak lain bermain seluncuran atau menerobos lorong, Sera memilih menciumi dan memeluk papan itu. Aneh sih, tapi saya bisa bilang itu uniknya Sera. Atau saat tiba giliran bernyanyi, dan seorang anak lebih memilih berjalan berkeliling menyentuh hidung semua anak lain. Itu unik. Dan bisa membuat orang lain berkomentar aww atau how cute....

Tapi menangis saat anak lain menyanyi, menjerit saat anak lain bergoyang, meronta saat disuruh maju ke depan, itu bukan unik namanya. It was just devastating. Dan masalah menerima anakmu apa adanya, cinta saya tetaplah besar untuk Sera. Saya tidak akan mau menukar Sera dengan si Mathew yang dengan pede maju ke depan menerima bukunya dari Liz, sementara sayalah yang harus mengambilkan bukunya Sera yang mendekam ketakutan. Jadi ceramah mengenai terimalah anakmu apa adanya hanya seperti angin berhembus pelan, nggak terdengar di telinga saya karena tertutup jeritannya Sera. Oh ya, yang membuat keadaan lebih parah, kalau Sera menangis, dia akan BERTERIAK. Sumpah, telinga saya selalu berdenging setiap menggendongnya saat ia berteriak. Suaranya melengking tinggi sekali. Suatu kali di gereja, Sera menjerit- jerit. Segera bapaknya membawanya lari keluar. Dan bahkan, setelah dia berada di luar, orang se-gereja masih bisa mendengar lengkingan suaranya. Jadi, saat Sera menangis, sengsaranya saya itu dobel dibanding saat ibu lain mendengar anaknya menangis.

Saya bukan seorang tiger mom yang ingin anaknya selalu menjadi yang nomor satu, tapi saya ingin sekedar anak saya bukan yang paling parah deh. Saat Sera menangis dan meronta, dan ibu lain menatap saya, saya merasa mereka berpikir betapa begonya saya tidak bisa mengatur dan mendiamkan anak saya sendiri. Kemudian, di minggu keempat, datanglah seorang anak baru, yang jauh lebih parah dari Sera. Menangis lebih keras, meronta lebih kencang, pokoknya lebih menyebalkan dari Sera. Anda boleh bilang saya jahat, tapi saya LEGA..... Yes, Sera bukan lagi yang paling nakal. Dua minggu anak itu membuat Sera menjadi runner-up yang paling nakal. Hingga suatu hari, si anak nakal itu tidak pernah datang lagi. Saya mengerti kenapa anak itu tidak hadir lagi di kelas. Ibunya, pasti sudah sampai pada taraf putus asa. Saat saya melihat wajah si ibu, saya melihat cerminan wajah saya dulu. Marah, malu, putus asa. Waktu itu, ingin sekali saya bilang ke si ibu, "It' ok, he's adorable. Kalau dia menjerit paling keras, emangnya kenapa?"

Saya sadar bukan berarti Sera yang lebih suka menjerit dan paling nakal di kelas bermain balita ini akan menjadi kurang sukses dibanding si Aaleya, anak India yang sudah bisa bernyanyi, yang selalu paling dulu maju ke depan, yang membuat ibunya bisa memasang wajah puas dan bangga. Saya sadar itu. Saya sadar mungkin saja si anak nakal dan cengeng yang akhirnya drop out dari kelas bermain itu sebetulnya jenius dan nantinya akan jadi profesor nuklir. Tapi peduli amat apa yang akan terjadi di masa depan. Yang jelas di masa sekarang, saya menderita karena anak saya less than other. Berat melihat anak saya tidak bisa melakukan yang bisa dilakukan anak lain dengan sangat mudah.

Malam harinya, saya berkata lagi ke Okhi, menceritakan bahwa si anak nakal tidak datang lagi. Saya berkata mungkin ibunya sudah tidak tahan. Dan saya bisa memahami. Tapi hal itu sekaligus membulatkan tekad saya untuk terus bertahan. Saya sadar sekarang kenapa kelasnya Sera dipenuhi anak- anak yang hebat. Karena saat anak kita bisa beradaptasi dengan baik di kelasnya, kita akan bersemangat melanjutkan, tapi kalau anak kita selalu menjadi yang paling parah, yah, seperti saya yang ingin give up saja deh. Saya bilang ke Okhi, kalau memang nantinya saya lihat Sera tidak cocok dengan kelas itu dan menderita, saya akan mengeluarkannya dan mencari metode lain. Tapi saya tidak ingin merampas kesempatan Sera untuk bergoyang saat mendengarkan musik (karena saya tahu Sera sangat suka musik) hanya karena saya tidak tahan akan rasa malu yang mendera. Let's give her another shot. Dan setiap kamis, saya merasa perlu menenggak dua gelas besar kopi untuk menenangkan saraf saya.

Hingga di suatu minggu, tiba- tiba Sera tidak menangis lagi saat duduk melingkar. Orang lain tidak akan menyadari perubahan Sera yang sangat minor, tapi saya sadar bahwa minggu ini ia tidak menjerit sekencang minggu lalu. Lalu di minggu berikutnya, dia mau mengambil sendiri bolanya, lalu minggu berikutnya dia bisa mengembalikan si bola! Saat itu, dia masih menolak untuk distempel, tapi saya sudah menjadi the happiest mom ever. Saat kami selesai bernyanyi satu lagu, dan sementara anak lain hanya diam saja, dan Sera tiba- tiba berdiri dan bertepuk tangan dan berteriak yeeee dengan nyaring, dan membuat si instruktur berkata "Well done Sera" dan ibu- ibu lain menatap dengan tersenyum, saya melayang ke nirwana! Saya menyetir pulang sambil cengar- cengir tak terkendali. Bahkan untuk kemajuan kecil, yang mungkin tidak berarti bagi ibu lain, seperti bersedia distempel tangannya, hal itu sudah membuat saya di awang- awang.
Kamis kemarin, sepulang dari kelas, saya mengajak Sera bermain dulu di lapangan rumput di sebelah gedung kelasnya. Sambil memperhatikannya berlari dan terjatuh di tengah hamparan rumput, dan melihat rambut Doranya berkibar ditiup angin, saya tersenyum sendiri. Betapa beruntungnya saya, bisa menghabiskan hari saya dengan melihatnya berlari- lari. Dan baru sekarang saya menghargai kesempatan yang diberikan kepada saya. Karena anak saya memiliki keterbatasan, karena ketakutan Sera akan orang asing, saya diberi kesempatan untuk menghargai setiap kemajuan sekecil apapun yang dia raih. Saya terharu melihat Sera maju untuk distempel tangannya, saya tersenyum melihat dia sekarang tidak menangis saat seseorang menyapanya. Tentu saja dia masih menangis saat instruktur renangnya menyentuhnya, tapi saya tahu akan ada harinya tiba- tiba ia akan mengagetkan saya dengan tidak menangis lagi, dan sekali lagi saya akan merasakan berada di awang- awang!

Saya bersyukur, kendala yang saya hadapi dengan Sera sangatlah ringan. Saya kagum pada para orang tua yang dikaruniai anak dengan penyakit kanker misalnya. Saya tidak akan bisa setabah mereka. Tapi, mereka akan selalu bangun di pagi hari dan serasa berada di awang- awang saat anaknya bisa melalui hari itu dengan sehat, sementara karena saya dikaruniai bayi tersehat sedunia, saya merasa bahwa anak yang sehat adalah biasa saja, bukan mukjizat. Atau orang tua dengan anak yang terkena sindrom autis. Mungkin mereka akan merasa berada di awang- awang saat anaknya tiba- tiba memeluk mereka dari belakang. Sementara saya, karena bayi saya sangatlah penyayang, dan ia memeluk saya dari belakang puluhan kali dalam sehari, I take it for granted.

Saat Sera mempunyai masalah, ia memberi saya kesempatan untuk ikut serta dalam perjalanan panjang, dan sedikit demi sedikit meraih kemajuan. Dia memberi saya kesempatan untuk mensyukuri setiap kemajuan kecil yang ia raih. Saya, mungkin mengajarinya cara menghadapi kehidupan, tapi ia mengajari saya tentang arti kehidupan itu sendiri. Perjalanan menuju bisa dititipkan di Childcare masih panjang, dan masih akan ada saat dimana saya ingin menggetok kepalanya dengan wajan, tapi ketidaksempurnaan Serafim, menyempurnakan hidup saya.

Seorang teman bertanya dengan heran kenapa saya tetap bertahan memasukkan Sera ke kelas berenang, padahal Sera selalu menjerit dan meronta dan membuat orang se-kolam renang menolehkan kepala (dan membuat saya selalu merah padam malu). Well, what can I say? Lha saya kan emaknya, bukan pengasuhnya, bukan baby sitternya, bukan neneknya, bukan tantenya. Tanggung jawab saya memang menjaga dan merawatnya (seperti tugas seorang baby sitter juga), tapi lebih dari itu, tanggung jawab yang sama besarnya adalah untuk mendidiknya, membantunya mengatasi masalahnya, membantunya untuk siap menghadapi dunia. Kalau saya neneknya Sera, saya hanya akan menjaganya, memeluknya, menggendongnya, membuatnya merasa aman dan dicintai. Sera menangis saat berenang? Pukul kolamnya yang nakal, peluk Sera dan tenangkan dia. Beres kan masalah.Tapi saya ibunya. As much as I want to hold her tight, terkadang saya harus mengeraskan hati, mengambil jalan yang lebih sulit dan berliku dan mendorongnya maju, dan mendengarnya menjerit- jerit panik sambil berkata "It's alright, I'm with you, mummy gets your hand."

Saya pikir- pikir ya, punya anak itu adalah gambaran kecil dari bagaimana dunia berputar. Saat anda sudah mempunyai rencana di kepala, sudah menyiapkan kamera untuk merekam, dan kemudian menyuruh si balita beraksi, dia malah bertingkah menyebalkan. Menangis atau malah hanya memandang ke kamera dengan tatapan "Emang gue apaan, disuruh-suruh." Tapi saat anda tidak siap, kamera tersimpan di laci paling bawah, eh tiba- tiba si anak bergoyang lucu sekali atau tiba- tiba memeluk dari belakang dan berkata I love you mommy..... Persis seperti kehidupan.

Saat saya menceritakan soal kegagalan Sera dimasukkan Childcare, ada dua tanggapan yang biasa saya dapatkan (dan dua-duanya bikin jengkel). Yang pertama menganggap saya terlalu awal memasukkan Sera ke Childcare (seolah saya ibu kejam tanpa peri kemanusiaan). Yang kedua menganggap saya terlalu lebay akan ketakutan saya tentang Sera ("Yang namanya anak kecil itu ya pasti takut sama orang asing, gitu kok nggak tahu). Sebel? Pasti. Iya dia enak bisa ngomong gitu, lha wong bukan dia yang mengalami.

Tapi sekarang saya sudah menemukan jawabannya. Sama seperti selama berbulan- bulan kami mengajari Sera berbicara, membacakan belasan buku cerita dan Sera hanya seolah tidak peduli dan merobek bukunya. Dan pada suatu hari, Sera tiba- tiba menunjuk gambar sapi di bukunya dan berkata "Muuuuuuu", lalu ia menunjuk halaman yang dipenuhi para hewan sedang pikinik, dan tangannya menjumput gambar kue tart dan berpura- pura memasukkannya ke mulut sambil berkecap- kecap nikmat serta bergumam Hmmmmmm. Dan baru kemarin saat anjing tetangga menggonggong, Sera menunjuknya dan berkata "Dag, wuf wuf"". Butuh sesaat untuk menyadari Sera berkata DOG. Hah, akhirnya anak saya mengucapkan kata pertamanya, dog :D.

Menurut teman saya Mbak Ayu, setiap anak akan menemukan sendiri momentum waktunya, kapan ia tiba- tiba mampu melakukan sesuatu hal yang sebelumnya tidak mampu ia lakukan. Saya setuju, tapi tentu saja momentum itu tidak akan dicapai si anak kalau dia tidak dikenalkan pada hal itu. Kalau saya tidak mengajak Sera membaca buku (yang sebagian besar sudah habis dimutilasi oleh beliau), ya sampai sekarang ia tidak akan bisa berkata Dog yang terdengar seperti duck. Kalau saya tidak berusaha mengajaknya ke kelas bermain, mungkin sampai sekarang Sera masih akan mendekam ketakutan saat seseorang ingin menyetempel tangannya.

Note : saya berkenalan dengan seorang ibu di kelas bermainnya Sera, yang anaknya juga rada rewel (saat itu Sera sudah bertingkah manis). Suatu hari dia membawa suaminya ke kelas itu, dan kemudian berbisik ke saya bahwa ia memaksa suaminya datang agar suaminya bisa ikut merasakan penderitaannya saat si Lucas kecil lebih memilih untuk memutar tubuhnya sambil menjerit- jerit saat anak lain (termasuk Sera) sedang bergoyang- goyang diiringi lagu Tik Tok Tik Tok I'm a Little Kuku Clok.

Terharu saat si genduk mau mengembalikan sendiri mainan ke keranjangnya
Dan tetap, saat disuruh menyanyi, Sera memilih mengemuti spidolnya
Antri untuk mengembalikan krincingan (boong ding, bocah2 itu pada rebutan berlari)

No comments:

Post a Comment