Monday 24 October 2011

My Monday Note -- Saya Benci Kamu Bahkan Sebelum Saya Kenal Kamu

Suatu hari, saya sedang sibuk googling tentang blog- blog mengenai travelling. Ceritanya, saya sedang berniat menulis kisah perjalanan, mencoba mengirimnya ke majalah- majalah, dan kali-kali dimuat, saya dapat honor, dan saya bisa pakai honor saya untuk foya-foya mabuk- mabukan. Amin haleluyah. Lalu, sampailah saya pada satu blog yang menarik minat saya. Gambar yang terpampang adalah gambar sebuah gedung tua yang tampak kelabu, suram, dan terselimuti salju. Melihat gambar itu, saya merasa heran, biasanya kan foto yang dipajang di sebuah blog travelling adalah foto yang indah, lha ini kenapa ya kok yang dipasang adalah gambar yang dingin dan suram. Kemudian saya baca deskripsi sang penulis mengenai tempat itu. Ternyata, gambar itu adalah gambar museum Auschwitz di Polandia. Museum ini dulunya adalah kamp konsentrasi di jaman NAZI, tempat mereka mengurung dan membunuh tawanan Yahudi. Oya saya lupa, dan menyiksa.

Ini sedikit deskripsi mengenai kisah perjalanan orang itu ke dalam bekas kamp. Saya berkunjung ke kamp itu saat natal. Suhu udara jatuh dibawah 0 derajat. Pemandu wisata mengajak kami berkeliling, dimulai dari sebuah bangunan yang disebutnya 'rumah sakit'. Rumah sakit ini adalah tempat bagi para tawanan yang lemah, sakit dan tidak kuat bekerja. Mereka dikirim ke rumah sakit untuk 'dirawat', dijadikan 'eksperimen'. Salah satu bentuk eksperimennya, dioperasi tanpa anestesi. Kemudian kami masuk ke bangunan berikutnya, barak tempat para tawanan tinggal. Barak itu aslinya adalah kandang kuda, dan satu tempat tidur harus diisi 7 orang, dengan ember sebagai toiletnya. Tikus dan kutu adalah sahabat baik. Bangunan itu amat lembab, suram, dan entah bagaimana, aura kematian serasa menggantung di langit-langit. Mungkin itu aura ribuan orang yang tahu bahwa entah esok entah lusa, hidupnya akan berakhir dengan kejam.

Saat itu, saya menggunakan semua baju yang saya miliki; baju termal, jaket tebal, sarung tangan dan kaus kaki wol. Dan saya masih menggigil kedinginan. Sementara para tawanan hanya menggunakan baju tipis compang camping tanpa alas kaki. Pemandu tur menunjukkan barang-barang yang dimiliki para tawanan, dan diantara yang sedikit, tersembul selimut yang terbuat dari jalinan rambut manusia, yang dipotong para tawanan dari rambut mereka sendiri, sebagai usaha terakhir membuat diri mereka sedikit lebih hangat. Yang terakhir, adalah tempat genosida, tempat para tawanan dihukum mati dengan cara yang paling murah dan efisien, dengan membariskan ratusan tawanan untuk masuk ke dalam ruang tertutup, mengunci ruang itu, dan menyemburkan gas beracun ke dalamnya. Setelah beberapa menit menjerit dan meronta, mereka semua akan terdiam. Tinggal dilempar ke dalam lubang yang mereka gali sendiri di malam sebelumnya.

Oke, membaca deskripsi orang itu, dan pengakuannya bahwa ia mengalami mimpi buruk selama beberapa hari sesudahnya, saya merinding. Bahkan menuliskan deskripsi singkat diatas pun, bulu kuduk saya meremang. Melihat gambar- gambar pria, wanita dan anak-anak dalam seragam penjara garis -garis putih hitam, berbaris berjejer, dengan lengan ditato nomor tawanan mereka, menunggu untuk dipilih antara dikirim ke pabrik untuk bekerja sampai mati, atau ke rumah sakit untuk dicacah sampai halus atau langsung ke semburan gas genosida, sungguh membuat saya tidak nyaman. Salah satu gambar yang menunjukkan foto wanita tawanan tanpa baju, dengan dada keriput menggelantung hingga menyentuh perutnya yang cekung, dan ia berusaha menekuk tangan dan kakinya sedemikian rupa menirukan posisi janin, mungkin sebagai usaha terakhirnya membuat tubuhnya lebih hangat, oh foto terkutuk yang membuat nafas saya sesak.

Nah, saya sih tidak pernah punya sentimen sedemikian kuatnya terhadap satu bangsa atau agama, tapi terus terang hidup saya juga dipenuhi prasangka semacam itu. Enggak sampai membuat saya menghalalkan darah mereka sih, tapi mempengaruhi cara pandang saya terhadap mereka. Let me get straight. Saya orang Jawa, saya orang Indonesia. Kata orang, gajah di pelupuk mata tak nampak, selumbar di ujung lautan nampak. Karena saya orang Jawa, saya punya prasangka terhadap suku bangsa lain. Kalau ada sopir metromini yang ngawur nyerobot dan kemudian malah marah- marah padahal salah, dalam hati saya akan langsung memaki "Dasar Batak gendeng. Ya gitu itu orang Batak, dasar bebal SEMUA." Kalau saya belanja di pasar wonokromo dan saya ditipu seorang pedagang dengan logat Madura maka saya akan memaki " Ya gitu itu orang Madura, pada tukang tipu SEMUA." Dan saat saya mempunyai teman seorang Padang yang pelit setengah mati, saya akan langsung ngedumel "Dasar Padang, pelit mata duitan SEMUA."

Begitu juga karena saya orang Indonesia, saat mendengar Malaysia mencuri tarian bangsa saya maka saya akan langsung menggeram "Udah dibom aja tuh senegara. Dasar Maling SEMUA." Atau saat mendengar berita TKI saya diperkosa dan dibunuh di Arab Saudi, saya akan serta merta menuduh "Dasar orang Arab sodaranya onta semua. Barbar jaman batu SEMUA."

Oke, saya sih tidak pernah berpikir saya bakal tega untuk mengirim salah satu dari yang saya sebut diatas itu untuk dioperasi tanpa anestesi. Meskipun pada detik disaat saya memaki si sopir metromini yang menyerempet mobil saya itu, kebencian saya memuncak pada dia dan sukunya, saya tidak akan pernah membayangkan saya akan tega mengirimkan dirinya, dan semua anggota sukunya, termasuk bayi- bayi merah mereka yang baru lahir ke Auschwitz. Jadi saya nggak akan mendapat julukan Hitler. Tapi dengan mempunyai prasangka terhadap mereka, mungkin saya boleh disebut Hitler Junior mungkin? Saya yakin kita semua pasti punya prasangka terhadap suatu suku, bangsa atau agama lain. Atau mungkin ada yang hidupnya bebas dari prasangka? Saya pingin tahu bagaimana kiatnya.

Waktu saya tinggal di Indonesia, karena suku saya merupakan mayoritas, saya tidak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi sasaran prasangka secara langsung. Tapi saat saya tinggal di Melbourne, saya baru bisa merasakannya. Di Melbourne ini, saya bisa bilang sebagian besar orangnya sangatlah toleran. Mereka kebanyakan sudah terbiasa dengan berbagai budaya yang ada di sekeliling mereka. Tapi saat saya naik ke suatu bis, dan kemudian bertanya dengan sangat sopan kepada sopirnya apakah bis ini akan menuju ke stasiun Blackburn (dan biasanya si sopir akan dengan sangat helpful menjawab pertanyaan saya), dan kali ini sopirnya dengan kasar menjawab "Emangnya kamu nggak bisa baca di petunjuk di depan bis? Ya sana turun dan baca dulu."

Dan beberapa saat kemudian, seorang bule menanyakan hal yang sama. Dengan ramah, si sopir menganggukkan kepala. Duer, kesadaran memasuki kepala saya, sopir ini benci saya semata - mata karena saya orang Asia. Padahal dia enggak kenal saya, dan saya yakin saya jauh lebih sopan dari si bule. Guys, it's hurt. Really hit me like a truck. Dibenci karena misalnya saya tidak sopan atau menyebalkan is one thing. Tapi dibenci karena rambut saya hitam, kulit saya coklat, well, I can't help it, right? Saya nggak bisa milih minta dilahirkan dengan mata biru dan rambut pirang atau dengan rambut hitam dan kulit coklat.

Mungkin anda berpikir bahwa si sopir bis ini enggak punya alasan untuk membenci orang Asia, atau imigran in general. Masalahnya, dia sebetulnya punya 'alasan' dibalik ketidaksukaannya. Kemungkinannya, karena banyak imigran berakhir lebih sukses dari dia yang penduduk asli sini. Dan memang banyak imigran yang seenak udelnya sendiri. Di rumah orang kok nggak ngikutin aturan orang, malah menuntut si tuan rumah yang menyesuaikan dengan hukum maunya dia. Juga kebanyakan area yang rawan kejahatan adalah kantung- kantung imigran. Tapi, saya kan bukan penjahat kayak imigran yang lain itu? Dan apakah dosa kalau saya lebih sukses dari dia?

Dan saat saya berada dalam kereta yang akan membawa saya ke rumah saudara saya, dan segerombolan cowok bule menirukan aksen orang India yang memang aneh, dan seorang cewek India duduk sendirian di kursi depan mereka, dengan wajah yang memerah tapi tak berdaya melawan, well, mata saya memerah. Kalau saja saya tidak membawa Serafim, mungkin saya akan berdiri dan dengan gemetar karena sebetulnya takut berkata "That's not funny guys." Saya sendiri tidak bisa bilang bahwa orang India adalah favorit saya, tapi membully seseorang hanya karena dia seorang India, dan melihat ketidakberdayaan di wajahnya, well, I just can't.

Malamnya, saya berkata ke Okhi, "Sekarang aku mengerti apa yang kadang dirasakan orang keturunan Cina di Indonesia." Didiskriminasi semata karena mata sipit dan kulit kuning mereka. Diskriminasi yang tidak terucapkan, tapi menggantung rendah di langit- langit. Saat saya terlibat tabrakan dengan orang Cina misalnya, saya akan mempunyai 'rasa aman' karena kalau sampai perkara ini diajukan ke polisi, pasti saya yang akan menang. Polisinya kan orang pribumi seperti saya. Bayangkan rasanya saat anda di negara barat misalnya, dan semua orang menatap curiga dan mengernyit saat anda lewat, hanya karena kebetulan anda berasal dari negara yang sama dengan Amrozi. That's hurt right? Enggak woi, meskipun saya orang Indonesia, tas ransel saya ini isinya gantungan kunci untuk oleh- oleh emak di kampung, bukannya bom untuk bunuh diri. Atau mentang- mentang orang Jawa lalu saya dituduh bakal sukanya berbaik- baik di depan, tapi menjelek-jelekkan di belakang. Saya sih, akan langsung menghina orang didepan orang itu langsung :D.

Di Australia ini, meskipun diskriminasi terhadap ras dan agama lain itu ada, tapi satu hal yang saya kagumi. Saat teman saya Addion, yang hanya mahasiswa 'miskin' penerima beasiswa dari Jambi terlibat tabrakan dengan seorang bule, dan si bule berkata bahwa suaminya adalah seorang polisi (bayangkan kalau anda tabrakan di Jakarta dan ternyata yang menabrak anda seorang istri polisi), Addion bisa dengan pede berkata "Ya sudah, kalau mau ke polisi ya ayo." Dia tidak perlu takut bahwa polisi, atau hukum disini akan mendiskriminasinya hanya karena dia orang Asia, hanya karena si bule istri polisi.

Ada satu kejadian yang membuat berbagai kolom berita di Australia ini bergolak. Ceritanya, seorang imigran golongan minoritas di Australia, dihentikan polisi di pinggir jalan karena melanggar lalu lintas. Dan kemudian, si imigran ini teriak menuduh si polisi rasis. Dan kemudian melayangkan surat pengaduan ke kantor polisi, menuduh petugas polisi yang menghentikan dia di jalan telah bertindak rasis. Nah, dituduh rasis di Oz ini masalah berat, hukumannya berat. Ternyata, seluruh kejadian saat si polisi menghentikan si imigran di jalan itu terekam di kamera video di mobil si polisi (si imigran nggak nyadar bahwa dia terekam). Dan dari rekaman tampak bahwa si polisi tidak sekalipun melakukan hal yang rasis. Bahkan sangat sabar. Kalau saya yang jadi polisi, sudah saya tembak tuh ibu- ibu bawel yang sibuk membentak-bentak polisi.

Karena si imigran sudah mengirimkan surat tuduhan bahwa si polisi rasis, dan kemudian dari rekaman video ternyata terbukti tuduhan itu palsu, si imigran dihukum karena membuat pengaduan palsu. Lalu kemudian, si imigran menyangkal bahwa dia pernah membuat surat pengaduan itu. Dan oleh pengadilan dia dibebaskan, karena secara administrasi memang tidak bisa dibuktikan bahwa dia yang membuat surat itu. Secara akal sehat, pasti si imigran yang membuat surat itu, tapi secara administrasi tidak bisa dibuktikan karena cacat prosedur.

Masuk akal nggak kalau mayoritas orang Australia marah besar? Kamu datang kesini, kamu berbohong menuduh polisi kami rasis, kamu mengirim surat pengaduan, dan saat ketahuan ternyata tuduhan kamu tidak berdasar, kamu bilang bukan kamu yang bikin surat itu. Kalau di Indonesia, mati tuh orang. Tapi disini, semarah apapun publik, tapi hakimnya (yang berkulit putih dan mungkin dalam hati juga pingin nembak si imigran) tetap berpegang bahwa dia harus membebaskan si imigran karena dia tidak bisa 100% yakin bahwa si imigran lah yang mengirim surat itu. Dan dalam hukum, itu berarti dia harus dibebaskan. Nope, saya sih tidak bilang Australia bebas diskirminasi, tetap adalah yang namanya diskriminasi. Hanya perlindungan hukum terhadap diskriminasi lebih bisa diharapkan.

Kalau di masyarakat ada diskriminasi, itu tidak baik. Tapi saat negara dan hukum mengijinkannya, itu sama sekali unacceptable. Bayangkan saat seorang anggota DPR berkomentar bahwa menteri Mari Elka memutuskan membeli pesawat dari Cina karena pertimbangan 'asal tanah leluhurnya'. Ya Tuhan, komentar rasis semacam itu diucapkan seorang pejabat tinggi negara, dan tidak ada konsekuensi hukum. Atau saat segerombolan orang bisa dengan bebas menekan dan menindas kelompok lain yang dianggap sesat, dan membunuh, dan terekam di video, dan polisi hanya diam saja. Apa kita sama buruknya dengan Hitler? Tidak, kita lebih buruk lagi. Kita melihat orang lain playing Hitler, dan kita membiarkannya, cari aman untuk diri kita, seperti yang saya lakukan saat saya memutuskan hanya duduk diam di kereta membiarkan para cowok itu menyakiti hati orang lain (toh bukan saya yang mereka hina).

Kalau orang Indonesia pingin semua orang Malaysia masuk neraka, kalau orang Islam pingin semua orang Kristen masuk neraka, kalau orang Kristen pingin semua orang Islam masuk neraka, kalau semua orang Jawa pingin semua orang Batak masuk neraka, dan orang Cina pingin semua orang Jawa masuk neraka, dan kalau saja Tuhan sama piciknya dengan kita dan mengabulkan semua permohonan itu, yah, saya membayangkan betapa sepinya surga...... Jangan- jangan hanya anjing saya si Noel yang nantinya bakal duduk- duduk di surga sambil garuk- garuk kutu.

Oh, bagi saya naif kalau kita bisa hidup tanpa prasangka. Mungkin itu mekanisme alami bahwa kita akan 'waspada' terhadap sesuatu yang berbeda dari kita. Hewanpun akan memandang curiga hewan lain yang ciri fisiknya berbeda dari mereka. Tapi kita kan manusia, jadi tentu segala prasangka dan insting waspada itu harus diimbangi dengan logika dan akal budi.

Note : saya juga enggak tahu kenapa saya membuat note segarang ini, secara biasanya note saya hanya soal kue dadar yang gosong. Mungkin rasa sakit hati dan marah yang saya rasakan saat saya menjadi korban prasangka di bis yang hit me like a truck (anda tidak akan mengerti bagaimana rasa sakit hati itu sampai anda sendiri yang menjadi sasaran prasangka-- sakit hati, marah, tak berdaya, merasa dilecehkan). Dan mungkin, si supir bis tidak akan menyangka, betapa sakit hatinya saya akibat satu kalimat yang ia ucapkan. Sungguh menyesakkan dibenci semata karena warna kulit atau kepercayaan kita, jadi saya berjanji pada diri sendiri, seburuk apapun prasangka saya pada satu kelompok, saya tidak akan pernah membiarkannya lepas kontrol. Saya janji, saya hanya akan benci pada seseorang hanya setelah saya mengenalnya secara pribadi, bukan karena kebetulan matanya sipit misalnya.

kalau anda menganggap ada manusia ciptaan Tuhan yang layak diperlakukan seperti ini hanya karena agama atau sukunya, coba dicek akte kelahiran anda, jangan2 nama tengah anda Hitler
And to hate the children just only because of their origin?

No comments:

Post a Comment