Siang itu, saya duduk menghadapi beberapa lembar soal ujian. Minggu itu adalah minggu ujian kenaikan kelas, dan hari itu giliran ujian bahasa Indonesia yang harus saya hadapi. Saya membuka lembar pertama. Ada sekitar 7 soal pilihan ganda, dan soal yang tertulis antara lain semacam apakah kata dasar dari memukuli (a.pukul b.mukul c.memukul). Dengan pensil, saya memberi tanda silang pada jawaban yang menurut saya benar (b. mukul). Kemudian berlanjut ke halaman kedua, dan ketiga dan selanjutnya. Perasaan saya? Ya seperti lazimnya seorang anak kecil saat menghadapi ujian. Deg- degan, bingung saat melihat soal yang tidak bisa saya jawab, senang saat bab yang saya pelajari tadi malam ternyata keluar di ujian (nggak sia- sia belajar). Yah sewajarnya orang menghadapi ujian.
Sampai di halaman soal yang terakhir, ada satu baris soal yang membuat saya terkesiap. Mata saya berbinar- binar. Di depan saya terpampang soal ujian esay. Dengan perintah: buatlah karangan mengenai ....(saya lupa apa subjeknya). Saat itu saya tidak sadar kenapa dada saya berdegup kencang. Penuh gairah. Baru sekarang saya sadar kenapa pada hari itu saya merasa sangat alive; saya menemukan passion terbesar dalam diri saya: menulis, bercerita melalui goresan pena. Dan terus terang, mengarang sangatlah jarang menjadi soal ujian atau sekedar PR dimasa kecil saya. Pelajaran Bahasa Indonesia berarti pelajaran mengenai kosa kata, tanda baca, dan mengenali yang manakah subyek, predikat dan obyek.
Dengan tangan bergetar karena terlampau bersemangat, saya segera menuangkan pemikiran saya baris demi baris. Karena tidak terlatih, saya langsung saja menuangkan apa yang terlintas di benak saya pada lembar jawaban yang tersedia. Tidak pakai membuat kerangka karangan dahulu, menata supaya paragraf demi paragraf mengalir lancar. Satu paragraf selesai. Saya membaca sekilas. Hm, kalimat yang ketiga kok nggak bagus ya? Langsung dengan bergairah saya mengambil tipex dan menghapus kalimat tidak sempurna itu. Bahkan saya tidak sabar untuk menunggu si tipex mengering, langsung saya timpa lagi dengan bolpen saya. Begitu terus, hingga kertas jawaban saya terisi penuh. Dengan telapak tangan dan lengan dan rok seragam merah saya coreng moreng terkena noda tipex dan bolpen, saya menatap lembar jawaban saya dengan SANGAT PUAS. Karangan itu, saya yakin adalah karangan terindah yang pernah dibuat oleh seorang siswa kelas 5 SD.
Kemudian, saat ujian selesai, kami diminta bertukar kertas jawaban dengan teman sebelah. Kami memeriksa jawaban bersama- sama. Pak Guru membacakan kunci jawaban untuk soal- soal pilihan ganda, saya memeriksa jawaban teman yang duduk di sebelah saya, dan teman saya memeriksa jawaban saya. Dengan sembunyi- sembunyi, saya membaca jawaban essay teman saya. Karena saya adalah seorang pembaca cepat, maka dalam sekejap saya sudah selesai membaca karangan teman saya itu. Dengan bangga, saya berkata dalam hati bahwa karangan saya jauh lebih bagus dari karangan teman saya itu.
Kemudian, kertas jawaban dikumpulkan. Tinggallah soal essay mengarang yang belum dinilai. Itu tugas Pak Guru untuk menilainya. Rupanya, hari itu Pak Guru ingin menilainya saat itu juga. Maka beliau mengambil pena, dan mulai menilai karangan murid- muridnya satu demi satu. Saya berjinjit-jinjit di belakang Pak Guru dengan bergairah, ingin tahu apa pendapat Pak Guru akan hasil karya saya yang monumental. Dengan cepat beliau memeriksa dan memberi nilai karangan teman- teman saya. Kebanyakan teman cewek saya mendapat nilai 7 atau 8, termasuk teman yang saya periksa jawabannya tadi. Kebanyakan teman cowok saya mendapat nilai 5 atau 6. Sampai kemudian saya melihat giliran karangan saya yang ada dihadapan Pak Guru. Pak Guru memperhatikan lembar jawaban saya sekilas, dan kemudian membubuhkan nilai besar dengan bolpen merahnya. 5.
Saya terpana. Tak percaya. Tapi tentu saja saya tidak mungkin memprotes nilai itu. Sombong sekali kesannya kan, kok saya bisa dengan pede protes bahwa karangan saya sangatlah bagus untuk hanya mendapat nilai yang begitu rendah. Dan kemudian, kesadaran memasuki otak saya. Pak guru, menilai jawaban mengarang murid- muridnya, dengan melihat tingkat kerapian lembar jawaban si murid. Itu kenapa kebanyakan anak cewek mendapat nilai lebih bagus dari anak cowok. Dan itu kenapa, lembar jawaban saya yang coreng moreng penuh noda tipex akibat terlalu bergairah untuk menyempurnakan kalimat, mendapat nilai yang begitu rendah. Karena kertas saya sama menjijikkannya dengan kertas bekas bungkus tahu goreng.
Saat itu, untuk pertama kalinya saya merasakan yang namanya sakit hati. Dan patah hati. Saat anak- anak lain hanya sekedar mengarang karena hal itu diperintahkan oleh soal ujian, saya mengarang dengan segenap kesungguhan hati saya. Dan sebagai balasannya, karangan saya bahkan tidak dibaca. Hanya sekedar dilirik sekilas, dan karena berantakan maka langsung mendapat nilai jelek. Barantakan yang dihasilkan karena gairah saya yang terlalu menggebu- gebu untuk membuat karangan yang sempurna. Saya menangis tersedu- sedu di dalam kamar saya sore itu. Tidak mampu memprotes atau bahkan bertanya atau bahkan menceritakan perasaan saya pada siapapun. Saya sangat terpukul. Dan merasa diperlakukan tidak adil. Ini kan tugas mengarang, bukan menulis indah? Kenapa yang dinilai bentuk tulisan saya, bukannya isinya? Kalau nilai saya dikurangi karena kertas saya berantakan, saya masih bisa terima. Tapi dinilai semata dari bentuk kertas saya, tanpa sebarispun kalimat yang sudah saya susun dengan susah payah dibaca?
Dan saat seorang anak kecil sakit hati, maka biasanya akan lebih dalam daripada orang dewasa. Bahkan menuliskan note ini saja membuat saya menyeka mata, karena teringat betapa dahsyat rasa kecewa yang saya rasakan saat itu, belasan tahun yang lalu (menurut suami saya, trauma ini yang membuat jiwa saya agak goncang sampai sekarang). Saya sudah lupa berapa nilai yang saya terima saat itu, saya lupa siapa nama teman sebelah saya, tapi saya ingat bagaimana sedihnya saya hari itu.
Tahun demi tahun berlalu, dan saya melupakan kejadian itu. Dan melupakan gairah yang membakar diri saya pada saat untuk pertama kalinya dalam hidup saya membuat sebuah karangan. I simply burried the memory six feet under. Sampai beberapa waktu yang lalu membaca cerita di sebuah kolom koran online. Menceritakan anak yang mogok sekolah karena disalahkan. Padahal merasa tidak salah. Ceritanya, si anak disuruh menjawab pertanyaan: membersihkan lantai dengan alat apa........ ? Sesuai dengan kenyataan di rumahnya, dia menjawab dengan mesin apa gitu. Dan tentu saja salah. Satu-satunya alat yang diperbolehkan kurikulum SD sebagai pembersih lantai adalah sapu. Mogoklah si anak, tidak mau pergi lagi ke sekolah. Dan sekali lagi saya kembali ke masa belasan tahun yang lalu. Ke masa dimana sistem pendidikan membuat saya melupakan gairah saya dan kembali menekuri puluhan soal tentang subjek predikat objek.
Kekurang sempurnaan sistem pendidikan kita, saya sudah bosan hendak menulisnya, dan anda juga sudah bosan membacanya. Masalah uang sekolah yang mahal, buku teks yang berganti terus, standar kelulusan yang mencekik, dan lain sebagainya. Saya eneg. Dan andapun akan muntah kalau membacanya lagi. Tapi semoga anda meluangkan waktu membaca beberapa paragraf ini.
Apa sih kualitas paling berharga dari seorang anak kelas 1 SD? Saya akan menjawab kreatifitas dan daya khayal seluas samudera. Coba berikan sebuah kotak sepatu di depan saya yang sudah berusia setengah abad, dan di depan Serafim yang nyaris dua tahun. Saya akan memandang si kotak sepatu tanpa minat dan mendumel"Ngapain sih saya dikasih kotak sepatu butut? Mending kalau ada isinya..." Tapi, si nyaris dua tahun saya akan berbinar matanya, dan sambil menggumam "ab ab abu" akan mengambil si kotak sepatu, dan asyiklah dia dengan harta karun barunya. Kotak itu bukan kotak sepatu semata bagi Serafim. Dia akan masuk ke dalam si kotak, dan mulai mendayung kesana kemari, menjadikan si kotak perahunya. Lalu, dia akan meletakkan si kotak di atas kepalanya, dan menjadikannya topi. Atau dia akan mencoba memanjat kotak itu, seolah bukit yang terjal.
Dan sayangnya, saat Sera masuk SD nanti, maka kurikulum akan memaksanya memandang kotak sepatu semata sebagai kotak sepatu. Tidak boleh lagi ada khayalan kesana kemari. Padahal, ada logika di balik semua khayalan anehnya Serafim. Menjadikan si kotak perahu, karena bentuknya. Menjadikan si kotak sebagai topi karena bisa menutupi kepalanya. Menjadikan kotak sebagai bukit karena ketinggiannya. Dikembangkan sedikit, saya bisa mengajaknya berdiskusi apakah memang si kotak bisa dijadikan perahu sesungguhnya?
Kalau kurikulum SD masih kurang parah karena memaksa anak untuk hanya boleh percaya bahwa satu- satunya alat yang bisa membersihkan lantai adalah sapu, maka saya meringis membaca contoh soal yang ini.
Soal : Melihat pasar malam merupakan pengalaman yang.....
a. Menyenangkan
b. Menyedihkan
c. Menakutkan
Kunci jawaban (a).
Hahaha, soal ini ada di buku pelajaran IPS kelas 1. Tingkat kekonyolan soal ini setara dengan bila saya memberi anda soal: apa yang anda rasakan saat anda melihat Okhi, suami saya?
a. Mual
b. Jatuh cinta
c. Tidak peduli
dan satu- satunya jawaban yang benar adalah (a). Konyol kan? Tentu saja harusnya semua orang menjawab (b), wong Okhi seksi banget gitu. Saya saja selalu berdebar- debar setiap melihat dia :D.
Jadi, anak kita sejak SD sudah akan dibimbing untuk menghafal bahwa pasar malam adalah tempat yang menyenangkan. Kenapa menyenangkan? Mene ketehe, gak penting the logic behind it. Kenapa salah kalau anaknya menjawab menakutkan (mungkin dia takut karena gelap, ramai, hiruk pikuk)? Karena bu guru memang terpaksa menyalahkan, karena bu guru harus tunduk pada kunci jawaban.
Saya geregetan sekali membaca soal ini, dan dengan jengkel berpikir kenapa DPR menghabiskan duit triliunan untuk studi banding ke galaksi Milky Way, tapi tidak pernah pergi ke kementerian pendidikan negara lain dan mengintip bagaimana kurikulum disana? Tapi ternyata, masalah serupa tapi tak sama tidak hanya terjadi di Indonesia. Pada edisi 26 Maret 2010, salah satu jurnal sains paling bergengsi di dunia,Science, memuat sebuah artikel singkat berjudul “Asian Test-Score Culture Thwarts Creativity”, yang ditulis oleh William K. Lim dari Universiti Malaysia Sarawak. Isinya, garis besar pendidikan di Asia memanglah test-score oriented. Oleh sebab itu kebanyakan siswa di Asia akan digenjot untuk bisa mencapai skor tes yang tinggi. Salah satunya, les bimbingan belajar secara intensif (tidak hanya di Indonesia, pelajar di Singapura, Korea pun mengalaminya).
Sebagai akibat sistem berorientasi nilai tes ini, memang para siswa Asia akan mempunyai skor yang lebih baik dari pelajar dari Eropa Barat dan Amerika Utara dalam berbagai ujian. Tapi, pelajar Asia sangat lemah dalam hal menelaah, menyambungkan logika, dan berkreatifitas. Saat membuat tesis atau penelitian, maka siswa Asia akan kesulitan melihat hubungan- hubungan antara literatur, membuat ide - ide kemungkinan dan menginvestigasinya. Mereka hanya ahli menghafal fakta untuk kemudian menuangkannya lagi pada kertas jawaban ujian.
Bahasanya merlip yah? Saya sampai harus minum Panadol sehabis mengcopi-paste paragraf diatas. Maklum, hasil penelitian tingkat dunia. Saya menuliskannya hanya untuk menunjukkan bahwa masalah kurikulum pendidikan SD yang aneh itu mempunyai akar permasalahan yang jauh lebih besar; arah pendidikan yang berorientasi pada hasil ujian semata. Dan itu tidak hanya dialami Indonesia, tapi juga negara- negara lain di Asia. In other word, maksud saya adalah, jangan berharap dalam waktu dekat sistem ini akan bisa berubah. Karena merubah sistem ini berarti merubah pondasi dan arah pendidikan Indonesia. Sama seperti repotnya bila merubah bentuk pemerintahan kita dari presidensil menjadi parlementer. Wong merubah bentuk rumah kita dari dua kamar menjadi tiga kamar saja susah.
Bayangkan, pondasi pendidikan diubah, kurikulum diubah total, ratusan ribu guru di seantero Indonesia harus ditatar dan dididik ulang untuk menyesuaikan dengan pola pendidikan baru. Buku pelajaran ditarik semua dan diganti dengan yang baru. Saya bergidik membayangkannya. Wong mau mengubah kabinet yang hanya belasan menteri saja slintat slintut kok. Dan masalah terbesarnya, entah kurikulum sudah dirubah atau belum, pada saat anak saya sudah berumur 7 tahun, dia harus masuk SD, mau tidak mau, tidak bisa ditunda. Jadi, anak saya akan mendapatkan pembelajaran yang bertujuan membuatnya menjadi mesin penghafal bahwa pasar malam itu harus menyenangkan. Menafikkan kenyataan bahwa ia mungkin bahkan belum pernah pergi ke pasar malam. Seperti seorang anak yang menangis karena menjawab dimana bisa melihat singa? Discovery channel. Dan ia seumur- umur belum pernah pergi ke kebun binatang, jadi marahlah ia dipaksa menjawab kebun binatang.
Hari Selasa kemarin, saya mengajak Sera berjalan- jalan ke kebun binatang menemani seorang teman saya yang ngidam (ngidam kok ya lihat monyet, gak elit banget). Saya pikir kebun binatang akan sepi karena hari kerja. Wadalah, ternyata ramainya kayak pasar senggol. Kebun binatang Melbourne dipenuhi rombongan demi rombongan siswa dengan celana pendek, sweater dan topi ala Crocodile Dundee. Mulai dari siswa SD yang imut- imut sampai siswa ABG genit yang amit- amit. Di kandang kangguru, saya menunjukkan si kangguru ke Sera "Look Ser, the kangaroo is resting. It's bigger than you, isn't it? (bangga juga saya mampu mengenali kangguru).
Dari sebelah kanan saya, datanglah serombongan siswa SD, dengan seorang pembimbing. Dan mulailah sang pembimbing mengecepret mengenai si kangguru. Lalu ia bertanya siapa yang tahu kenapa kangguru disebut binatang marsupial? Dan seorang muridnya menjawab karena si kangguru mempunyai kantong. Dan kemudian diskusi berlanjut mengenai apa gunanya si kantong, kenapa kaki depan kangguru kecil sekali, kenapa muka si kangguru jelek sekali (yang terakhir itu pertanyaan saya sebetulnya). Dan para bocah kecil ini asyik mendengarkan dan menjawab pertanyaan sambil saling menendang temannya diam- diam. Atau menarik tali tas ransel temannya. Dan sambil terpekik- pekik setiap kanggurunya melompat.
Beberapa hari yang lalu, saya mencari info mengenai Queen Victoria Market (atau biasa disingkat Vicmart), pasar terbesar di Melbourne, dan salah satu tujuan utama wisatawan. Saya sedang ingin membuat tulisan mengenai pasar itu, jadi saya mencari fakta- faktanya di internet. Sampailah saya di suatu blog sederhana, dan tulisan di blog itu adalah "Saya pergi ke Vicmart bersama mama, papa dan adik bayi saya, Lola. Saya senang pergi ke Vicmart karena ada toko yang menjual burung dan anak anjing. Mama senang karena ia bisa membeli sayuran. Papa senang karena ia bisa membeli sepatu. Tapi Lola hanya tidur saja."
Di kolom komentar di bawahnya, seseorang yang bernama Cathy berkomentar "Tulisanmu semakin bagus Josh. Aku juga senang pergi ke Vicmart, walau sudah lama aku tidak kesana. Bisakah kamu gambarkan suasana di pasar? Barang apa saja yang dijual? Ramaikah pengunjungnya?"
Wanita bernama Cathy ini ternyata adalah gurunya si Josh, bocah cilik penulis blog. Dan si Josh ini rupanya mendapat tugas menulis pengalamannya ke pasar. Sederhana banget ya karangannya, tapi saya melihat ada logika di dalamnya. Josh, mama dan papanya senang karena mereka bisa membeli sesuatu atau melihat sesuatu yang menarik minat. Tapi, Josh tidak menulis bahwa adik bayinya senang, karena si bayi hanya tidur saja. Bagaimana ia bisa tahu bagaimana perasaan si bayi? Dan kemudian gurunya memberinya semangat untuk menceritakan dengan lebih detil mengenai apa yang dilihatnya di pasar.
Saya mengeluh iri. Karena sementara si kecil Josh dibebaskan untuk mengeksplorasi semua perasaan dan panca inderanya mengenai PASAR, anak- anak Indonesia saya yang tercinta dipaksa untuk duduk di depan buku pelajarannya untuk mempelajari tentang PASAR, dan memberi tanda silang pada satu jawaban yang benar. Satu- satunya jawaban yang benar menurut dewa pembuat kurikulum. Siapa yang paling tahu bagaimana seharusnya perasaan seorang anak kelas 1 SD terhadap pasar? Buku pelajarannya pasti!
Dan saya mengeluh sedih, karena saya yakin karangan saya dulu, jauh lebih bagus dari si Josh. Tapi dia mendapat tepukan pujian dan diminta untuk membuat karangan yang lebih lengkap lagi. Saya, mendapat nilai terendah sekelas, enggak pakai dibaca lagi karangan saya!
Oke, enough mellownya. Mau saya nangis 7 hari 7 malam juga hanya berakibat membuat mata saya sebengkak jengkol. Saya, tidak bisa merelakan Serafim hanya akan berakhir menjadi tukang hafal nama camat seJakarta Utara (beberapa tahun lalu saya membaca protes seorang bapak yang anaknya dipaksa menghafal nama- nama camat. Ngapain amat coba?). Jadi, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Serafim menjadi seorang anak dengan daya kreatifitas seluas samudera.
Kemarin, saat saya memandikan Serafim sehabis berenang, dari bilik sebelah saya mendengar suara berdebam. Kemudian terdengarlah tangisan seorang balita. Saya mendengar ibunya mencoba menenangkan si balita. Saat tangisnya reda, ini yang saya dengar dari bilik sebelah:
Ibu : Kamu takut ya?
Anak : (sambil terisak- isak) Iya Mami....
Ibu : Apa yang membuat kamu takut? Suaranya yang keras?
Anak : (masih terisak) Iya ma, suaranya keraaaaasssss banget
Ibu : Suara meja kalau jatuh ternyata keras ya? Wajar kalau kamu takut. Tapi sekarang coba kita lihat, kamu nggak luka kan? (si anak sepertinya menggeleng) Apa sekarang kamu masih takut?
Anak : Sedikit mami.......
Ibu : Jadi kita harus hati- hati ya lain kali, supaya tidak membuat si meja jatuh, karena suaranya keras banget, dan sepertinya sakit kalau kena kita. Kamu setuju?
Anak : Yes mommy....
Ibu : Now give me a kiss.
Saya tidak tahu dengan anda, tapi percakapan sederhana ini membuat saya tersenyum simpul. Dan membandingkan dengan diri saya. Mungkin kalau saya di posisi si ibu, saya hanya akan menenangkan dan memeluk Sera dan berkata "Jangan takut". Si ibu memberi saya contoh mengubah situasi sederhana menjadi arena pembelajaran, mengajari bahwa rasa takut adalah suatu hal yang wajar, mengajari logika bahwa suara keras disebabkan meja yang membentur lantai. Dan cerdik juga, menyelipkan nasehat biar lain kali anaknya tidak sembarangan gedubrakan menjatuhkan barang.
Keluarga Kennedy terkenal karena kemampuannya berpidato dengan memikat. Saat ditanya apa resepnya kenapa semua anaknya sangat pintar bicara mengeluarkan pendapat, ibunya membagikan resepnya. Setiap hari, anak- anak akan diminta membaca berita di koran atau majalah. Soal apa saja. Lalu, di meja makan sembari menyantap makan malam, masing- masing anak akan diminta menceritakan berita yang dibacanya, dan mereka akan berdiskusi mengenai topik itu. Keren banget ya? Dan sederhana banget, jadi saya yakin semua keluarga mampu melakukannya.
Buku pelajaran SD memang bikin sedih. Tapi, saya akan membaca dengan sangat teliti setiap halamannya sebelum memberikannya ke Serafim. Dan saya akan menjadikan si buku teman baik saya. Soal konyol semacam apa perasaanmu di pasar malam, akan saya jadikan panduan. Berarti, saya harus membawa Sera ke pasar malam (bagus juga si buku membuat saya terpaksa tidak malas dan terpaksa membawa Sera ke pasar malam). Dan kemudian, saya akan minta Sera bercerita atau menuliskannya di blog mengenai apa yang ia rasakan di pasar malam. Jadi saya akan selangkah lebih maju dari si buku. Pasar, stasiun, bandara, taman, mall, perpustakaan, wah banyak juga tempat yang harus saya datangi bersama Sera.
Dan saya akan mengantisipasi masalah yang mungkin timbul seperti si anak yang marah karena harus menjawab sapu. Saya akan meminta Sera menceritakan secara detil apa yang diajarkan hari itu, dan mengingatkan dia bahwa bila ada hal yang mengganggu nuraninya, dia bisa menceritakan ke saya dan kami akan mencari solusinya bersama. Ini terutama untuk soal teramat konyol semacam Sebelum makan apa yang harus kita lakukan?
a. Berdoa
b. Mencuci tangan
c. Membantu ibu
Saya saja kelabakan harus menjawab yang mana......
Lha saya tidak pernah melakukan ketiganya.....
Saya jadi ingat perlawanan yang saya berikan di kelas 6. Untuk pelajaran IPA, dengan soal Pada siang hari tumbuhan bernafas dengan....? Saat membaca soal itu, saya berada dalam dilema. Saya tahu tumbuhan pada siang hari lebih banyak menghisap karbon dioksida untuk fotosintesis, tapi soalnya kan bertanya tumbuhan bernafas dengan apa? Dan semua makhluk hidup (pengetahuan tingkat anak SD) bernafas dengan oksigen. Maka dengan keyakinan penuh saya menulis jawaban oksigen. Saat hasil ujian diperiksa, menurut kunci, jawabannya adalah karbon dioksida. Dengan muka merah padam, dengan terbata- bata karena gugup akibat emosi (saya sudah sangat emosian sejak balita ternyata), saya menghadap pak guru dan menyampaikan argumen saya. Guru saya kelas 6 galak sekali, tapi saya pantang mundur. Saat itu, saya sudah sekalap banteng matador. I'd rather die than step back (buset sudah gawat sekali sifat saya sejak balita yah). Tidak seperti soal mengarang, untuk soal ini saya lebih pede untuk protes, karena ada dasar ilmiahnya kan? Dia mementahkan protes saya. Saya ikuti dia ke ruang guru. Dan dengan lantang berkata "Soalnya kan bertanya tumbuhan bernafas dengan apa? Saya tahu tumbuhan menghisap CO2 di siang hari, tapi itu kan untuk fotosintesis Pak? Bukan untuk bernafas?"
Mungkin karena melihat seraut wajah kecil keras kepala di hadapannya, mungkin mengakui kebenaran logika saya, maka kemudian Pak Guru membenarkan jawaban saya (dia berkonsultasi dengan guru- guru lain di ruang guru, berbisik- bisik sementara saya berdiri dihadapannya dengan nafas menderu). Itu kemenangan terbesar yang pernah saya rasakan. Saya menari- nari dengan riang masuk ke kelas. Dan sepertinya ditatap penuh sebal oleh teman yang lain (karena 90% teman saya menjawab karbon dioksida). Tapi saya ingat wajah- wajah heran teman sekelas saya. Mungkin mereka heran kenapa saya sebegitu nekatnya, toh ya hanya satu soal tiada arti. Toh sebetulnya meskipun jawaban saya yang itu disalahkan, saya sudah mengantongi nilai IPA tertinggi sekelas (saya masih pintar saat duduk di bangku SD, selalu ranking satu). Dan saya yakin anak Indonesia memang tidak terbiasa untuk berargumen.
Jadi, belajar dari pengalaman saya dulu, saya harus mengantisipasi permasalahan semacam ini saat Sera masuk SD. Saat Sera merasakan dilema seperti itu, sebetulnya merupakan kesempatan yang baik untuk membuatnya belajar lebih mendalam soal fotosintesis dan tumbuhan kan? Saya akan mengajak Sera untuk dengan tenang mencari literatur demi mendukung argumennya. Saya yakin Sera akan dengan tekun bersedia membaca dan mencari tahu hal mengenai tumbuhan dan fotosintesis dengan gairah yang besar (yang dalam keadaan normal mungkin dia akan malas- malasan melakukannya). Saya harus membimbing Sera untuk tahu bahwa perdebatan haruslah ilmiah, bukan pukrul bambu. Dia harus berani berargumen dengan gurunya, tapi dia harus melakukannya dengan membawa literatur ilmiah, bukan sekedar debat kusir berkepanjangan. Dan tidak dengan hati panas seperti saya dulu. Hati boleh panas, kepala harus dingin. Rok boleh panjang, celana dalam harus G-string (lhoooo).
Dan mungkin, kalau anak- anak kita diajari untuk berpikir dengan logika dan kepala dingin sejak kecil, semoga mereka tidak menjadi seperti para komentator yang saya baca di sebuah situs, mengomentari berita mengenai hasil simulasi riset Bagaimana jika bumi tanpa bulan? Hasil penelitian menunjukkan bulan ternyata tidak sebegitunya mempengaruhi kehidupan di bumi (tidak seperti anggapan selama ini bulan sangat mempengaruhi pasang surut, iklim dan sebagainya). Jadi kesimpulannya, bukan bulan faktor utama pasang surut laut dan iklim.
Saya orang bego, tapi yang terlintas di benak saya adalah pemikiran semacam apa ya aplikasi penemuan ini? Mungkin berarti penentuan pasang surut bukan lagi tergantung bulan, tapi faktor lain. Berarti harus dicari apa penyebab utama pasang laut, sehingga bisa diaplikasikan ke usaha tambak misalnya. Lha kok komentar- komentar terhadap penelitian ini semacam "Dasar kurang kerjaan. Wong bulan memang sudah ada di langit kok pakai acara dihancurkan segala?" atau "Ni peneliti nggak percaya sama kuasa Tuhan ya, pasti ada maksudnya kenapa bulan diciptakan."
Aduh, gimana ya, saya kok jadi malu mengakui bahwa mungkin komentar- komentar semacam ini diberikan oleh orang yang dulu mungkin sekelas dengan saya di SMP. Lha yang mau menghancurkan bulan itu siapa Paklik? Dan apa si peneliti ini bermaksud bilang "Hah, ternyata Tuhan menciptakan barang nggak berguna?" Ya enggaklah. Dia justru meneliti apa gunanya bulan, dia melakukan tindakan nyata mencari tahu apa maksud dibalik penciptaan setiap benda langit. Sementara saya hanya bisanya melihat bulan sambil bergumam kagum "Waduh bulan purnama, banyak manusia serigala berkeliaran nih," (korban Twilight).
Karena menyalahkan kurikulum tidak akan membawa kebaikan. Mau protes sama Menteri Pendidikan juga susah. Belum kenalan sih. Menyalahkan guru juga tidaklah adil. Mereka dipaksa mengikuti kurikulum, dan mereka harus mengurusi 40 orang anak setiap harinya. Guru- guru itu juga stres. Bude saya yang guru matematika, selalu gelisah jika terlalu banyak hari libur. Bagaimana dia harus menyelesaikan kurikulum yang seabrek kalau libur melulu? Sampai dia bela- belain memberi jam tambahan supaya buku teks matematika yang setebal bantal itu bisa diajarkan semua ke muridnya. Para guru mengurus 40 anak, saya hanya mengurus anak saya seorang. Jadi, wajar dong saya yang lebih punya banyak waktu dan kesempatan terjun langsung.
Kurikulum Indonesia tentu ada positifnya. Anak terdidik untuk belajar dengan giat dan punya daya hafal hebat. Dan karena toh memang kurikulum itu yang tersedia di depan mata (pada saat ini) ya mari gunakan sebaik mungkin. Biarkan buku teks mengajarkan cara menghafal, saya akan membimbing Sera untuk mengasah bakat kreatifitasnya. Karena di dalam diri seorang anak pasti ada potensi ilmuwan (itu kan alasannya mereka selalu memberondong dengan berbagai pertanyaan kenapa begini kenapa begitu yayayaya).
Lalu bagaimana bila kurikulum memaksa Sera menjawab tidak sesuai nurani? Saya juga belum tahu harus bagaimana, karena memang penting bagi Sera untuk mendapat skor tinggi sehingga bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya (realistis saja deh). Tapi saya ingat sebuah kisah di Amerika. Kisah ini diceritakan oleh seorang milyader, yang mempunyai peternakan terbesar di wild wild west. Dia berkisah dulu di masa kecilnya, sang guru memerintahkan agar ia membuat sebuah karangan mengenai apa cita- citamu? Dengan penuh gairah, si anak menuliskan dengan detail cita-citanya; mempunyai peternakan beberapa ribu hektar, punya sapi ribuan, kuda ratusan. Si anak ini dibesarkan di lingkungan miskin dari keluarga sangat miskin.
Membaca karangan si anak, si guru berkata bahwa ia terpaksa akan memberi nilai F untuk karangan itu karena tidak realistis. Pak Guru memberi kesempatan anak itu untuk mengganti karangannya dengan cita- cita yang lebih nyata. Maka pulanglah si anak dengan kalut dan menghadap ibunya, menunjukkan karangannya yang harus diubah. Ibunya membaca karangan si anak dan berkata "Apa memang ini benar- benar cita- citamu? Apa kamu benar- benar yakin akan yang kamu tuliskan?"
Dengan mantap si anak mengangguk. Kemudian ibunya berkata lagi "Kalau begitu kamu serahkan karangan ini kembali ke Pak Guru, dan katakan bahwa ini MEMANG cita-citamu."
Si anak menjawab "Tapi nanti aku bakal dapat nilai F." Dan si ibu menjawab "Kamu akan dapat nilai F, tapi kamu akan punya ribuan hektar peternakan, dengan ratusan kuda dan ribuan sapi."
Saya sudah membayangkan jika nanti Sera diberi pertanyaan siapa wanita paling cantik sedunia, dan dia menjawab "Mama saya." Dan saat semua orang (termasuk Pak guru dan suami saya) mengatakan jawaban Sera salah, Sera akan berani bertahan dan dengan gagah berkata "Memang mama saya yang paling aduhai." Duh,,,, memang hebat anak saya....
Saat anak anda mulai bawel bertanya ini itu kenapa, bagaimana, dimana, dan anda tergoda untuk mencekik si bawel ini, ingatlah satu hal. Sebentar lagi dia akan menjadi abege. Dan saat itu, gantian kita yang akan bertanya gimana di sekolah, gimana pelajaranmu, gimana ujiannya? Dan jawaban untuk semua pertanyaan kita adalah "Ya gitulah Ma. Biasa aja." Hahaha, saya sudah ngenes membayangkan Sera kecil saya mengangkat bahu tidak peduli dan menjawab sambil lalu untuk semua pertanyaan saya.
Note: meskipun saya menentang beban pelajaran yang terlalu besar untuk anak SD, dan saya bukan tipe orang yang ingin anak saya belajar membaca di usia 3 tahun, saya terpaksa kurang sepakat dengan keluhan seorang teman saat anaknya yang duduk di SD kelas 1 sudah mulai belajar bahasa Inggris. Bahasa, along with swimming and tennis, adalah subyek yang "semakin awal kamu belajar, semakin bagus hasilnya". Walau saya tidak bisa berkata kemampuan bahasa Inggris saya saat ini adalah hasil pembelajaran di sekolah (jaman saya dulu, pelajaran Bahasa Inggris adalah pelajaran tentang perbedaan Past Perfect atau Simple Present, tapi lupa mengajari saya bagaimana cara menerapkannya dalam percakapan sesungguhnya).
http://edukasi.kompasiana.com/2011/07/11/membunuh-kecerdasan-anak-itukah-tujuan-pendidikan-di-indonesia/
http://psikologi-online.com/kegagalan-sistem-pendidikan-asia
Roll roll Sera's boat gently down the stream, merrily merrily life is but a dream.......

No comments:
Post a Comment