Dulu, waktu saya masih berstatus bujang lapuk (kalau sekarang madam lapuk), saya sering terheran- heran mendengar teman- teman kantor saya (yang kebetulan sudah jadi emak dan punya anak balita) yang sepertinya sibuk banget memilihkan berbagai playgroup untuk anak balitanya. Sibuk survey sana- sini. Sibuk bertanya- tanya apa sekolah playgroup yang ini bagus karena materinya yang dekat dengan alam atau playgroup yang ono karena lokasinya dekat dengan kuburan. Manager saya dulu pernah bercerita bahwa dia baru saja survey dan memutuskan tidak jadi memasukkan anaknya ke sebuah playgroup karena "Waktu aku tanya materinya, ternyata anak- anaknya bakal diajak berkesperimen kayak nyemplungin tangan ke baskom yang isinya air hangat dan air dingin supaya mereka bisa membedakan sensasi panas dan dingin. Dan hanya diajarin angka sampai 10. Kalau hanya sampai 10 sih si Abel (nama balitanya) sudah bisa. Kalau hanya nyemplungin tangan ke baskom di rumah juga bisa!"
Bagi saya si bujang lapuk, bagi telinga saya, ni emak ambisius banget sih. Anak baru dua tahun saja sudah heboh banget mau minta anaknya diajarin berhitung sampai 10.000.000. Dulu kayaknya emak saya juga nggak serepot itu waktu memilihkan TK untuk saya dan adik saya. Enggak pakai survey membuktikan segala. Apa sih yang harus dihebohkan soal materi kurikulum untuk anak playgroup? Bukannnya isinya ya anak main seluncuran, main ayunan, main bak pasir, mewarnai dan menempel? Belum lagi membicarakan biayanya. Bujubune, masak playgroup saja biaya masuknya 7 juta? Kalah biaya kuliah saya! Sudah begitu, daftar tunggunya jauh lebih panjang dari daftar belanjaan saya. Benar- benar serasa daftar tunggu untuk masuk Harvard deh rasanya.....
Dan kemudian saya mempunyai Serafim. Tentu saja saya bukan tipe orang tua yang sebegitu ambisiusnya ingin anak saya sudah melek huruf sebelum 2 tahun usianya. Dan saya tidak pernah terpikir harus memasukkan anak saya ke sekolah yang paling mahal dan terkenal semata karena omongan orang dan rasa gengsi. Kemudian, karena yang namanya anak balita itu pastinya pembosan bila terkurung saja di dalam rumah, karena saya ingin juga berkenalan dengan emak- emak lain, dan terutama karena Sera menolak masuk ke penitipan anak sehingga saya tidak bisa bekerja juga, jadilah saya mencoba memasukkan si Sera ke beberapa kelas bermain. Karena saya baru saja pindah ke Australia, tentu saya tidak punya teman atau referensi. Setelah mencoba googling, saya menemukan beberapa kelas bermain dan menyanyi yang sepertinya cucok buat si genduk. Maka saya kemudian mendaftarkan Sera ke kelas bermain itu.
Saat awal saya memasukkan ke kelas bermain bernama Gymbaroo, motivasi saya sederhana. Biar Sera belajar berinteraksi dengan orang lain, nggak bosan di rumah, dan jadi lebih berani. Saya masih menganggap Sera sebagai seorang anak yang yah, sama saja dengan anak lain. Karena kelas Gymbaroo ini sepertinya terkenal disini, saya yakin saja bahwa Sera pasti ya bakal suka juga, seperti anak lain. Dan Sera ternyata memang suka. Kemudian saya menambah satu kelas musik. Dan kemudian saya memasukkan Sera ke playgroup. Dan dengan semakin banyak kelas yang kami ikuti, saya menjadi sadar bahwa Serafim, walau belum berusia dua tahun, adalah seorang pribadi yang sudah terbentuk dengan unik. Bukan seorang anak kecil yang belum punya selera pribadi, yang tidak bisa membedakan antara goyangan di kelas Gymbaroo dan kelas musiknya.
Karena kelas pertama Sera si Gymbaroo turned out sangat sesuai dengan Sera, karena Sera serasa sangat menikmati kelas itu, maka saya awalnya berpikir "Ah, asal namanya kelas bermain, pasti ya Sera senang- senang saja." Dan kemudian saya memasukkannya ke kelas musik. Setelah beberapa minggu, saya melihat bahwa Sera kok tidak sangat antusias ya menggerak- gerakkan pita atau tongkat yang diberikan padanya? Oh, Sera did very well in her class, dan di mata gurunya dan emak yang lain, Sera sudah cukup menonjol. Disaat anak lain melongo, Sera bergoyang. Dia bisa mengikuti instruksi untuk menyembunyikan wajahnya dibalik syal, dan baru menariknya saat si guru berkata Booooo. Jadi, di mata orang lain, she did well. Tapi mata saya menangkap bahwa seringkali Sera tidak memutar pita yang diberikan padanya seturut irama musik bukan karena dia tidak bisa melakukannya, tapi kok rasanya karena anak saya sedikit bosan ya?
Setelah saya perhatikan, ternyata metode pengajaran di gymbaroo lebih sesuai bagi Sera. Kedua kelas ini sama- sama mengajarkan gerakan seturut lagu, tapi metodenya berbeda. Di Gymbaro contohnya, untuk Twinkle Little Star, instrukturnya akan membuat gerakan seturut lagu. Saat lirik Twinkle Twinkle, jari si guru akan membuka menutup, kemudian saat lirik Up above the world so high, jari telunjuk si guru akan mengarah ke atas, dan saat lirik like a diamond, maka tangan si guru membentuk diamond. Dan sampai sekarang, bahkan saat Sera sudah merem melek mengantuk, saat ia mendengar irama musik twinkle, jari- jari montoknya langsung otomatis membuat 'twinkle hands'. Sementara di kelas musiknya, musik akan dimainkan dengan tempo lambat dan kemudian berubah cepat, dan si balita akan diajak menggoyangkan pitanya sesuai dengan tempo musik. Dan hal ini, di mata Sera, membosankan. Dia tidak bisa memahami kenapa dia harus memutar pita dalam tempo yang cukup lama. Nggak acik ah!
Awalnya saya berpikir mungkin memang gymbaroo lebih profesional dibanding si kelas musik. Eh suatu hari, di kelas musik, saya bertemu seorang emak lain yang balitanya dulu pernah sekelas dengan Sera di gymbaroo. Saat saya bertanya kenapa dia tidak datang lagi ke Gymbaroo, dia berkata bahwa si John kecil tampaknya tidak menyukai Gymbaroo, karena terlalu banyak instrumen yang diberikan dan lagunya berganti dengan cepat. John lebih menikmati menggoyang pita dengan santai di kelas musik (yang membuat Sera bosan setengah mati). Duh duh balita jaman sekarang, urusan menggoyang pita saja sudah mempunyai preference masing- masing!
Nah, kelas- kelas semacam Gymbaroo ini adalah kelas yang dikelola secara private. Jadi benar- benar swasta dan bisnis profesional. Harganya tentunya profesional juga dong. Untuk kelas satu jam seminggu, saya harus merogoh koceknya Okhi untuk merampok duit 200 dolar per 3 bulan. Karena Sera ikut 3 kelas profesional semacam ini (kelas renang), maka saya mencoba men-switch si kelas musik yang mahal tapi membosankan ini ke kegiatan Playgroup. Di Australia, banyak playgroup dikelola oleh komunitas dan didukung dana oleh pemerintah. Jadi bayarannya juga lumayan murah. Sementara si gymbaroo dalam setahun membuat saya lebih miskin 800 dolar, playgroup hanya dibanderol 100 dolar setahun. Sudah begitu kelasnya dua kali seminggu @ 2 jam pula! Murah banget kan?
Dan mulailah saya menelpon beberapa playgroup untuk 'mencoba' kelas mereka. Kalau memang cocok, maka saya akan mendaftarkan si Sera untuk tahun depan. Dan gara- gara mencoba playgroup ini, saya jadinya memahami, bahwa bukan hanya metode dan kurikulumnya saja yang berpengaruh pada 'kebahagiaan' Serafim, tapi juga bagaimana lingkungan sekitarnya. Di gymbaroo, instrukturnya memegang peran utama, dan emak- emaknya watch their kiddos closely. Jadi, nggak ada ceritanya si anak ini rebutan mainan misalnya. Tapi di playgroup, sistemnya lebih bebas dan tidak terlalu terstruktur. Anak- anak akan bermain bersama di hall yang diisi berbagai mainan. Dan mereka bebas memilih sendiri mainan yang ingin mereka mainkan. Dan seringkali para ibu hanya akan mengawasi dari bangku sambil mengobrol. Otomatis, interaksi antar anak lebih intens, yang berarti kemungkinan mereka bentrok rebutan mainan misalnya juga semakin besar.
Di suatu playgroup yang kebetulan kebanyakan anaknya adalah anak imigran dari berbagai negara, anak- anaknya lebih kasar saat merebut mainan yang sedang dipegang temannya, dan kemudian mereka akan saling mendorong. Emak- emaknya mereka, walau tentu melerai, tapi tidak dengan sepenuh hati juga. Mereka menganggap ya wajarlah namanya anak- anak rebutan mainan. Dan hal ini, membuat Sera bingung. Dan kemudian menangis marah. Masalahnya, selama ini, sesuai dengan situasi di gymbaroo misalnya (dimana mayoritas adalah orang bule atau orang Asia tapi yang well mannered dan sudah lama tinggal di Aussie), aturan dalam bermain bersama itu jelas. Siapa yang memegang mainan itu pertama kali, dia yang berhak memainkannya. Dan haram hukumnya untuk merebut mainan atau menyerobot giliran bermain ayunan misalnya. Dan semua emak, akan sangat tegas menegur anaknya saat si anak sedikit saja mencoba merebut mainan. Dan itulah yang dimengerti Sera. Saat seorang anak dengan kasar mendorongnya untuk mendahuluinya main di ayunan, bingunglah Sera. Dan bingunglah saya melihat Sera bingung. Karena saya tentu tidak berhak menegur anak itu. Hanya ibunya yang berhak menegur. Tapi ibunya tidak merasa bahwa yang dilakukan si anak itu salah. Halah! Dan sedihlah hati saya melihat Sera menangis karena merasa dizolimi (karena Sera pun langsung mendapat teguran dari emaknya saat dia tidak tertib mengantri giliran).
Gara- gara berbagai pengalaman dengan segala macam model kelas dan playgroup yang saya ikuti bersama Sera, sekarang saya mengerti bahwa memang apa yang dilakukan para ibu ini (mensurvey berbagai kelas untuk mencari yang paling cocok untuk anaknya) bukanlah karena mereka lebay bajaj. Tapi karena kita ingin yang terbaik bagi anak kita. Dan yang terbaik bagi anak saya yang belum dua tahun ini adalah tempat yang membuat dia content dan bahagia. Sekilas, semua playgroup itu tampak sama kalau saya hanya melihat brosur dan ruangannya. Hall besar penuh mainan, halaman penuh ayunan dan seluncuran dan bak pasir, acara menyanyi bersama, dan seorang koordinator yang biasanya ibu paruh baya berbadan subur bertampang baik. Tapi saat saya ikut merasakannya langsung, first hand experience, baru saya bisa merasakan apakah tempat ini akan membuat Sera bahagia atau tidak. Karena instruktur yang berbeda berarti berbeda cara mengajarnya, teman bermain yang berbeda berarti berbeda cara mereka berinteraksi.
Tahun 2013, Sera akan masuk ke program preschool. Berkaca dari pengalaman saya mengikuti Sera ke berbagai kelasnya, saya benar- benar meluangkan waktu untuk datang ke berbagai preschool dan duduk meresapi situasi di tempat itu. Tentu saya membaca dulu kurikulumnya, mendengarkan pendapat para emak yang lain yang sudah lebih berpengalaman, dan mendengarkan para guru preschool menjelaskan program sekolahnya ke saya. Tapi lebih penting lagi, saya butuh merasakan sendiri bagaimana sih suasananya? Setelah mensurvey berbagai preschool, saya kemudian memutuskan mendaftarkan Sera ke preschool bernama Appletreehill. Saya mendengar semua orang berkata bahwa ini adalah preschool yang favorit, kurikulumnya bagus. Reputasi yang bagus tentunya adalah nilai tambah bagi saya.
Tapi saya memutuskan untuk memasukkan Sera ke Appletree setelah saya datang ke sana, berbincang- bincang dengan gurunya, dan meresapi suasananya. Saya melihat anak- anak disana tampak lebih ceria, lebih aktif, tapi juga lebih terstruktur (sesuai kesenangannya Sera akan structured play). Saat saya berbincang dengan sang guru, saya mendengarkan penjelasannya, tapi yang lebih penting, saya menajamkan indera saya untuk bisa merasakan apakah saya bisa mempercayai guru ini untuk menjaga anak saya? Apakah insting saya mengatakan bahwa guru ini adalah orang yang nice dan trustworthy? Saya melihat seperti apa sih para anak yang sekolah disana? Apakah yang ber- manner baik sehingga cocok bagi seleranya Sera atau yang bakal rebutan mainan yang akan membuat Sera tidak happy?
Anda menganggap saya berlebihan? Oh I couldn't care less. Setelah saya menderita berpuasa minum kopi selama 9 bulan masa kehamilan demi si janin, setelah selama 2 tahun saya selalu memakai beha menyusui yang menurut Okhi amat tidak seksi, setelah saya merelakan tidak bekerja dan menjadi supir pribadi si ratu, I will definetely only want what best for Sera. Masak susah- susah membesarkan Sera dan kemudian saya membiarkan Sera memasuki preschool yang tidak akan membuatnya bahagia? Masalahnya, karena Sera masih begitu kecil, saya harus meminjamkan mata, telinga, dan insting saya untuk memilihkan tempat terbaik untuknya. Tempat yang akan membuatnya nyaman, bahagia, dan make her flourish.
Hanya tentu saja, meskipun keputusan mutlak ada di tangan saya, meskipun sayalah yang akan melihat, mendengar dan merasakan, meskipun saya berambisi untuk memberikan yang terbaik, tapi tentu saya harus ingat bahwa saya melakukannya in behalf of my daughter. Memang mata saya yang melihat, tapi saya harus berusaha menempatkan mata saya pada posisi matanya Sera, karena dia yang akan menjalaninya. Jadi meskipun saya sangat menyukai sebuah playgroup yang programnya bagus sekali dan emak- emaknya menyenangkan untuk diajak ngobrol, tapi saya batal memasukkan si Sera kesana. Simply karena jam bermainnya 11.00 - 13.00. Sementara yang namanya Sera, jam 12 itu dia harus tidur siang. Saat saya coba, Sera jadi cranky, mengantuk dan rewel. Saat anak saya tidak bahagia, sebagus apapun sekolah itu, ya berarti tidak cocok bagi Sera. Ambisi saya adalah memberi yang terbaik. Tapi terbaik bagi siapa? Saya atau Sera?
Saya berusaha bahwa kata terbaik disini bukanlah terbaik dari kacamata saya. Bukan karena harganya mahal, bukan karena bergengsi, bukan karena jam kelasnya convenient buat saya, bukan karena ambisi saya agar anak saya segera lancar membaca mengalahkan balita lain (agar saya bisa sombong dan membanggakan anak saya). Terbaik buat Sera, di usianya yang baru 2 tahun, adalah tempat yang membuatnya nyaman, bahagia, dan menarik minatnya. Jangan sampai ambisi pribadi saya membuat saya melupakan bahwa anak saya yang masih kecil ini sudah mempunyai selera pribadi. Bahwa dia sudah capable untuk menentukan apakah dia menyukai suatu kelas atau tidak. Dan bahwa perasaannya Sera 'very matter' dan menjadi pertimbangan utama bagi emaknya.
Ah Sera, kadang jadinya emak merasa bersyukur juga karena terpaksa nganggur di rumah..... Jadinya, tidak ada orang lain yang lebih mengenalmu daripada emakmu...


