Monday 21 November 2011

My Monday Note -- Enaknya Punya Berapa Anak Yah?

Nasib jadi manusia ya, selalu saja dikelilingi orang- orang iseng yang tiada hentinya bertanya. Waktu masih kuliah ditanya kapan lulus, waktu sudah lulus ditanya kapan kerja, waktu sudah kerja ditanya kapan kawin, waktu sudah kawin ditanya kapan punya anak. Nah, saya pikir setelah punya anak, maka rentetan pertanyaan itu akan berhenti, dan baru nanti waktu saya berumur 70 an, orang baru mulai bertanya lagi "Jadi kapan matinya?" Sialnya, bahkan setelah saya mempunyai si Seradut, masih saja orang dengan iseng bertanya "Jadi kapan Sera bakal dikasih adik?"

Nah sebetulnya saya itu paling sebel kalau orang mulai iseng tanya- tanya soal pribadi seperti itu. Bagi saya, kalau saya ingin orang tahu masalah pribadi saya, ya saya akan bercerita. Kalau saya tidak bercerita, ya berarti saya memang tidak tertarik untuk memberitahu soal pribadi saya pada orang itu. Tapi saat ini saya tidak sedang ingin membahas masalah sifat 'ingin tahu' yang annoying dari orang Indonesia, tapi saya sedang ingin iseng menulis soal sebetulnya paling pas itu punya anak berapa sih? Satu, dua, tiga, empat, lima atau enam???

Beberapa minggu yang lalu saya sedang tercenung- cenung setelah mendengarkan cerita dari seorang teman. Teman saya itu bercerita bahwa dia punya teman (jadi istilahnya temannya teman) yang baru saja memiliki anak ke empat. Masalahnya adalah, kehidupan si temannya teman ini bisa dikatakan cukup sulit. Suaminya hanya bekerja sebagai apa gitu di perusahaan kecil, dengan gaji dua juta rupiah di Jakarta. Istrinya tidak bekerja karena ya tentu saja sudah kelabakan sendiri mengurus tiga orang anaknya yang masih kecil- kecil. Mereka mengontrak rumah petak kecil dan yah, hidup cukuplah tough untuk keluarga ini. Saya tentu saja menganggap keputusan si temannya teman untuk punya anak lagi (karena banyak anak banyak rejeki to?) ini tentu saja tolol sekali. Tapi teman saya mengatakan bahwa ia sih setuju- setuju saja dengan keputusan temannya itu untuk menambah momongan. Karena rejeki pasti ada dan menurutnya "Tukang becak saja dengan anak selusin bisa hidup kok."

Sebaliknya, suatu kali saya membaca artikel di satu tabloid ibu dan anak disini. Ceritanya, si ibu ini sedikit lelah karena keputusannya untuk hanya mempunyai satu anak saja serasa ditentang oleh semua orang. Oke memang banyak pasangan disini memilih tidak mempunyai anak, dan hal itu biasa saja. Tapi saat seseorang memutuskan mereka ingin punya anak, maka biasanya mereka akan mempunyai lebih dari satu, bisa dua bisa tiga walau sangat jarang empat dan lima. Alasan si ibu dengan satu anak ini mungkin tampak konyol di telinga saya, tapi ia tidak ingin cintanya terbagi dengan anak lainnya. Dia merasa cintanya hanya bisa ia serahkan bulat- bulat untuk seorang anaknya ini. Dia sadar bahwa mungkin keputusan itu salah, dan mungkin di kemudian hari si anak tunggalnya protes kenapa ia tidak mempunyai seorang saudara kandungpun. Tapi saat ini, dia memang tidak ingin mempunyai anak lagi. Titik.

Dua cerita yang ekstrim dan bertolak belakang di atas, awalnya membuat saya merasa nih dua orang kok ya rada aneh ya? Yang satu punya anak kayak nggak make mikir mau ngasih makan anaknya pakai duit darimana, yang satu kebanyakan mikir sampai- sampai timbul ketakutan pada hal yang mengada- ada (dalam pendapat saya). Tapi, kemudian saya membayangkan kalau saya yang misalnya berkata ingin punya dua anak, dan kemudian ada orang yang berkata bahwa keputusan saya itu salah, bahwa dua anak saja itu tidak cukup dan saya akan kesepian di masa tua misalnya, saya pasti akan jengkel juga jadinya. Lha wong yang mau punya anak dan membesarkan anak ya saya sendiri, lha wong saya ya nggak minta bantuannya dia, kenapa juga nih orang berani bilang bahwa keputusan saya untuk hanya punya dua anak saja salah? Siapa elu? Suka- suka gue dong!

Berkaca dari ketidaksukaan saya bila dihakimi soal anak, saya juga jadinya berusaha untuk tidak sok menghakimi keputusan orang lain. Selama dia tidak merepotkan saya, ya terserah dia saja mau punya anak berapa. Wong ya anak- anaknya dia sendiri. Bagi saya, keputusan soal jumlah anak adalah selera pribadi yang sama pribadinya dengan selera masing- masing orang akan warna celana dalamnya. Mau pakai celana dalam warna merah, hitam, belang- belang, atau malah nggak pakai sama sekali, itu kan selera masing- masing orang kan? Masak sih ada teori yang menyatakan bahwa celana dalam terbaik adalah yang berpita dan transparan. Selain itu, pasti jelek!

Meskipun saya tidak berniat menghakimi keputusan orang lain soal jumlah anak yang ideal, tapi saya pikir- pikir asyik juga membuat note untuk menuliskan pendapat saya mengenai jumlah anak ini. Jadi kalau lain kali ada orang yang iseng bertanya, saya bisa menjawab dengan "Just read my note if you wanna know my answer."

Yang jelas, sebetulnya dari dulu saya bukanlah orang yang suka- suka banget sama anak kecil. Terus terang saya tidak pernah tertarik menggendong atau bercanda dengan bayi- bayi orang lain. Dan saya tidak pernah punya impian atau obsesi untuk harus mempunyai seorang anak. Dan kemudian saya menikah dengan si Okhi yang sama santainya dengan saya. Dikasih anak ya syukur, enggak dikasih ya alhamdulilah. Bahkan saat kemudian saya memutuskan bahwa saya ingin mempunyai anak, doa saya pada Tuhan "Tuhan, kalau engkau memang berkenan memberiku seorang anak, aku akan senang. Tapi kalau memang persediaan bayi di surga itu terbatas, mohon berikan saja pada pasangan lain yang memang sangat ingin untuk mempunyai anak." Saya tahu bahwa saya dan Okhi akan baik- baik saja bila kami tidak dikaruniai seorang anak. Kami tidak memiliki keharusan mempunyai anak untuk meneruskan marga atau nama keluarga, dan kami orang yang tidak terlalu peduli apa kata orang akan hidup kami. Jadi, pandangan hidup ini sedikit banyak mempengaruhi keputusan saya soal anak.

Saat saya baru saja menikah dengan Okhi, kami memutuskan untuk menunda punya anak. Sampai kapan? Ya sampai kami memang ingin punya. Kami ingin menikmati dulu masa- masa berdua dengan santai dan romantis. Dunia benar- benar milik berdua. Dan bagi saya, keputusan kami saat itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kami buat. Selama enam bulan pertama pernikahan kami, kami menikmati hidup hanya berdua saja di rumah kontrakan di daerah bekasi. Hidup hanya dihabiskan untuk bersenang- senang dengan pasangan kami. Karena kami dulu bekerja di daerah yang berdekatan, maka kami selalu berangkat kerja dan pulang kerja bersama. Pulang kerja jalanan macet atau kami sedang malas pulang, ya marilah mampir dulu di warteg atau Starbuck (tergantung kondisi keuangan). Mau nonton midnight atau mau keluar semalaman dengan teman kami, tidak ada bayi yang harus dipikirkan. Hidup benar- benar indah, santai dan mudah. Makanya saya kagum juga pada pasangan yang langsung tancap gas punya anak sejak hari pertama menikah. Apa mereka tidak penasaran bagaimana rasanya bisa lenggang kangkung dengan santai hanya dengan baju amburadul di dalam rumah karena tidak ada orang lain selain pasangan kita ya?

Sampai kemudian, setelah enam bulan puas berasyik masyuk, kami mulai memikirkan bahwa sepertinya kami ingin mempunyai anak. Kami sudah puas bersenang- senang pacaran, dan sepertinya kami sudah siap untuk memiliki anak. Yah sebetulnya kalau ditanya, tidak ada juga sih orang yang benar- benar 'siap' punya anak. Hanya secara perhitungan logika, saya merasa sudah mapan; kami berdua sudah mempunyai pekerjaan yang decent, kami sudah mempunyai tempat tinggal dan setelah dihitung- hitung kami mampulah untuk membiayai proses kelahiran calon bayi kami. Dan situasi di Indonesia memang membuat punya anak di usia muda itu lebih baik, sehingga jangan sampai kita sudah tua dan tidak punya penghasilan sementara anak kita masih duduk di bangku SMP misalnya.

Wokeh, singkat cerita lahirlah si Serafim Kieva. Nama Kieva diambil karena kami dulu pingin sekali berlibur ke kota Kiev. Eh, setelah si Sera lahir, kami malah jadinya tidak tertarik lagi untuk pergi ke sana. Dan sekarang malah punya impian untuk menjejakkan kaki ke Machu Picchu. Tapi ya untung juga sih dulu kami punya obsesi ke Kiev, at least it sounds beautiful right? Coba kalau dari dulu kami sudah ngebet ke Machu Picchu, kan namanya si Sera jadi Serafim Picchu Mecucu dong. Jelek amat. Dan kelahiran si prentul cilik ini totally merubah dunia kami upside down.

Kata pepatah, kamu tidak tahu sedalam apa kamu bisa mencintai, sebelum kamu memiliki anak. Saat Serafim hadir dalam kehidupan kami, maka ia merubah semuanya. Merubah fokus hidup kami, merubah cara hidup kami, merubah cara kami mencintai, merubah segalanya. Ia menjadi pusat semesta baru bagi kami. Pergi bekerja yang sebelumnya untuk mendapat promosi supaya menjadi manager, bergaji 20 juta dan bisa jalan- jalan keluar negeri, sekarang menjadi bekerja sebaik- baiknya untuk mengumpulkan duit untuk menabung bagi kuliahnya Sera besok. Pulang bekerja yang sebelumnya santai dulu di kantin belakang kantor sambil cekikikan bersama para begundal- begundal, sekarang selalu cepat- cepat mengejar lift supaya bisa mendapatkan busway yang masih kosong agar cepat sampai rumah, agar saya bisa bermain dulu bersama Sera sebelum dia pergi tidur. Pergi berwisata dengan teman sekantor ke Singapura, yang sebelumnya fokus saya adalah berjalan- jalan, berfoto- foto dan belanja bersama teman- teman kantor saya, sekarang bahkan hal pertama yang saya cari di Universal Studio bukanlah wahana yang menguras adrenalin, melainkan kulkas tempat saya bisa menyimpan ASI saya. Dan mengetuk kamar teman- teman saya untuk menitipkan ASI saya yang tidak muat di kulkas di kamar hotel saya. Dan saat saya dinas ke Bogor, saya lebih memilih untuk ngebut pulang ke Jakarta, menyetir sendiri pada jam 1 dini hari, demi supaya bisa tidur disamping Sera selama beberapa jam, untuk kemudian jam 6 pagi kembali lagi menyetir ke Bogor. What a life!

Bukan hanya jam hidup saya berubah secara drastis, gaji saya dan Okhi pun berubah alokasinya. Begitu Sera lahir, pengeluaran terbesar kami langsung beralih; menuju pos bejudul SERAFIM. Membeli botol Medela, membeli pampers yang anjrit mahalnya, membayar vaksin ke dokter, membeli karpet maze seharga 300 ribu yang sialnya bahkan tidak dilirik oleh si prentul, dan membayar gaji baby sitternya Sera.

Apa saya bahagia dengan kehadiran Serafim? She's better than the best and I'm lucky just to linger in her light. Saya belum pernah merasakan cinta sebesar dan sedalam dan seluas yang saya rasakan pada Sera. Of course I'm happier than ever.

Jadi kalau Sera memang merupakan kebahagiaan terbesar dalam hidup saya, berarti saya pasti tidak akan segan dong untuk mempunyai anak lagi? Bahkan kalau perlu lima anak lagi! Well, here is the thing :D. Seperti saya bilang tadi, Sera merupakan pusat tata surya kami yang baru. Masalah akhir pekan hendak berjalan- jalan kemana saja, semuanya harus berpusat pada pertanyaan terpenting "Apakah Kanjeng Ratu Sera akan suka?" Dan terus terang, as much as I love her, si kecil Sera adalah black hole yang menyedot semua energi yang ada dari saya dan Okhi. Meskipun saya tidak menyesal bahwa saya harus menyetir pulang dini hari, tapi terkadang saya rindu bisa nongkrong- nongkrong santai bersama teman- teman kantor saya di hotel, cangkruk beli jagung rebus atau malah karaoke an semalam suntuk (dan keesokan paginya menghadiri meeting dengan mata memerah dan bercangkir- cangkir kopi habis ditenggak). Saya rindu bisa ngelembur di kantor sambil sibuk menggosipkan bos kami, instead of pulang terburu- buru demi mengejar jam macet. Saya rindu bisa pergi nonton bioskop berdua dengan Okhi tanpa harus memikirkan bagaimana ya ASI nya Sera, cukup enggak? Saya rindu juga sesekali dengan kehidupan saya yang dulu, yang tidak melulu berpusat pada diri Sera seorang.

Oleh karena itu, keputusan mengenai berapa jumlah anak yang ideal bagi masing- masing pasangan tergantung padabagaimana pasangan itu menikmati pusat semesta baru yang can be very demanding ini. Memang ada emak- emak yang sangat puas dengan sepenuhnya mengabdikan dirinya untuk merawat anaknya. Seorang teman saya benar- benar mendedikasikan hidupnya bagi anaknya semata, bayinya bergerak sedikit saja dia langsung sigap mendekap. Untuk mereka yang seperti ini, yang kepuasan hidupnya semata memang dari merawat anaknya, ya tentu saja tidaklah mengherankan bila mereka merasa puas mempunyai anak yang banyak.

Tapi sebaliknya, ada juga teman saya yang mempunyai tiga anak, dan dia merasa tidak bermasalah dengan jumlah anaknya itu. Masalahnya, hidupnya tidak banyak berubah juga setelah punya anak. Semua anaknya sepenuhnya diurus pembantunya, dan bahkan tidur dengan pembantunya. Semua anaknya tidak disusui olehnya, dan ia tetap bekerja dan menjalani hidup ala bujang (tidak harus terburu- buru pulang). Yah, sorry sister, but we are not in the same boat.

Saya, disisi lain, adalah orang yang ekstrim. Saat saya memutuskan untuk mempunyai anak, saya akan ekstrim. Saat saya memutuskan untuk memberikan ASI, maka benar- benar saya berjuang sekuat tenaga supaya Sera bisa sepenuhnya ASI. Saat saya mempunyai anak, meskipun ada baby sitter, saya tidak bisa menikmati jalan- jalan santai nongkrong bersama geng saya sementara anak saya dirumah bersama pembantu saya. Dan sebagai akibatnya, saya terkadang merasa exhausted. Capek lahir batin. Dan terlebih lagi, saya bukanlah orang yang puas dengan hanya status saya sebagai ibu. Beberapa saat lalu, saya sempat merasa sebal karena status saya yang seolah- olah adalah "Ibunya Serafim". As much as I love Sera, saya membutuhkan orang untuk mengenal saya sebagai Mega, bukan emaknya Sera atau istrinya Okhi. Saya tidak bisa merasa puas hanya dengan menjadi emaknya Sera. Jadi saya harus bertanya pada diri saya, apakah saya mempunyai kemampuan batin (kok jadi berasa dukun yah) untuk mempunyai seorang anak lagi? Atau dua orang anak lagi, atau tiga, atau empat.

Hal kedua yang menjadi pertimbangan saya untuk memiliki anak tentulah kemampuan finansial. Saya orang yang selalu senang membuat rencana. Hdiup saya selalu saya rencanakan. Dan saya senang menggunakan logika saya. Jadi forgive me kalau saya tidak bisa sepenuhnya menyetujui pendapat orang yang berkata enggak usah terlalu dipikir soal uang, setiap anak mempunyai rejekinya masing- masing kok. Tentu saya orang yang beriman juga, dan saya dibesarkan dengan lagu "Burung pipit yang kecil dikasihi Tuhan, terlebih diriku dikasihi Tuhan," jadi tentu saya mengenal iman. Saya mengenal teori bahwa ada kekuatan yang lebih besar daripada logika. Buktinya ya itu tadi, tukang becak saja bisa kok menghidupi selusin anaknya.

Cukup lama juga saya bimbang mengenai hal ini. apa memang saya bisa mempercayai bahwa semua anak membawa rejekinya masing- masing, jadi saya tidak perlu kuatir dan bisa punya anak selusin tanpa memikirkan kemampuan finansial saya? Setelah mempunyai Serafim, saya sadar bahwa mungkin yang disebut rejeki anak itu termanifestasikan pada diri orang tuanya. Anak adalah dorongan terbesar bagi setiap orang tua untuk berusaha sekeras dan sebaik mungkin. Segala jalan akan ditempuh orang tua untuk mampu membawa beras pulang bagi anaknya. Dan saat seseorang sebegitu determinan nya untuk sukses, semesta pun akan mendukung kan? Kalau saja kami tidak mempunyai Serafim, kami tidak akan mau bersusah payah pindah ke Australia demi kehidupan yang lebih baik. Tapi karena dorongan yang besar setiap kami ingat anak kami, maka lautan api pun kan dijalani.

Dan memang saya juga yakin bahwa Sera akan mempunyai kemampuan dan jalan rejekinya sendiri. Dia mungkin akan sangat pintar di sekolah sehingga mendapat beasiswa, atau jenius dalam hal bermusik. Dan kalau seperti kata teman saya tadi, tukang becak saja bisa hidup dengan selusin anak, kenapa saya tidak? Tapi sekarang saya ingin balik bertanya pada teman saya itu, apakah dia puas dengan hanya memberi taraf penghidupan kepada anaknya setara dengan abang tukang becak? (tiada maksud saya menghina profesi abang becak). Maksud saya, masing- masing dari kita pasti punya standar masing- masing kan, apakah ingin minimal anak kita lulus SMA, atau malah kita punya target untuk bisa menyekolahkan anak kita sampai jenjang S2 misalnya. Kita punya standar baju macam apa yang ingin kita pakaikan ke badan anak kita, makanan seperti apa yang menurut kita layak untuk masuk ke mulut anak kita. Dan meskipun semua anak mempunyai rejekinya masing- masingpun, saya merasa term itu bukanlah sebuah ungkapan ajaib yang harus ditelan bulat- bulat. Toh kenyataannya banyak juga anak Indonesia yang busung lapar, banyak juga anak di Afrika yang mati kelaparan, dan anaknya si abang becak di depan gang rumah saya dulu juga hanya sekolah sampai tamat SD. Apa berarti anak- anak itu tidak membawa rejeki?

Pertimbangan terakhir saya masalah berapa anak yang ingin saya miliki dan kapan saya akan punya anak lagi adalah masalah waktu yang ingin saya berikan untuk masing- masing anak saya. Apakah saya sanggup meng-handle dua anak, tiga anak, empat anak? Dan kapan waktu yang tepat untuk punya anak lagi? Apakah sekarang saat Sera masih kecil atau nanti menunggu Sera sudah lebih besar? Mungkin, balik di Indonesia dulu, saya akan lebih mudah memutuskan hal ini. Karena saya tahu saya bisa mengharapkan bantuan baby sitter atau pembantu atau saudara saya atau emak saya atau mertua saya untuk membantu merawat dua prentul cilik. Tapi disini, dimana saya hanya sendirian mengurusi si Sera, sementara Sera masih harus ditemani nyemplung ke kolam renang saat les, masih harus diantar kesana sini ke berbagai kelas menyanyi dan hura- hura nya. Jadi tentu saya tidak bisa dan tidak ingin nekat untuk langsung punya anak lagi. Kasihan dong Sera, enggak bisa lagi les renang karena emaknya nggak bisa ikutan nyemplung.

Setelah semua pemikiran diatas, jadi sebetulnya saya ingin punya anak berapa sih? Dan kapan? Yang pertama, saya ingin Sera sudah lebih mandiri dulu. Saya ingin dia sudah tidak perlu saya temani lagi nyemplung, saya ingin melihat dia sudah bisa ditinggal sendiri di preschoolnya, dia sudah lebih dewasa, dan baru saya akan memikirkan untuk mempunyai anak lagi. Memang ada teman saya yang berkata biasanya anak akan lebih mandiri saat dia mempunyai adik, tapi saya tidak mau mengambil resiko itu. Iya kalau dengan kedatangan si adik Sera kemudian menjadi lebih mandiri, kalau dia malah mogok masuk preschool gara- gara berpikir saya membuangnya demi merawat adiknya bagaimana? Masalahnya saya tidak punya orang lain yang bisa membantu saya; menemani si bayi saat sera harus saya antar ke kolam misalnya.

Dan karena saya tidak bisa merasa puas hanya dengan status sebagai seorang ibu, karena saya ingin bekerja lagi, karena saya butuh punya karir dan gaji yang bagus agar saya bisa merasa 'complete & satisfied', maka rasanya tidak mungkin saya akan merencanakan untuk punya lebih dari dua anak. Ingat, punya anak disini berarti harus siap akan kemungkinan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga bila anak saya menolak masuk ke Childcare. Saya tidak bisa sesantai para ibu di Indonesia, yang bisa tetap bekerja dan anaknya diasuh pembantu. Saat saya punya anak lagi, saya harus siap dengan kemungkinan at least 2 tahun saya tidak bisa bekerja.

Dan saat berpikir masalah finansial, saya dan Okhi sudah sepakat bahwa secara logika sederhana, kondisi keuangan kami haruslah mampu untuk memenuhi taraf hidup yang ingin kami berikan pada anak- anak kami. Harapan kami tentu saja anak- anak kami bisa bersekolah hingga sarjana, mempunyai baju yang cantik walau tidak harus bermerk mahal, kami harus mampu menyediakan rumah yang layak walau tidak harus mewah, dan makanan yang baik meski tidak harus lobster. Lalu soal rejeki anak bagaimana? Bagi saya, tanggung jawab saya adalah untuk memenuhi semua hal diatas, semua kebutuhan dasar anak saya. Soal rejeki anak, biarlah rejekinya Sera yang akan membuatnya bisa bersekolah di Harvard, atau berwisata keliling dunia atau ikut kursus diving hingga tingkat mahir. Jadi, saya berharap kami sudah mulai mencicil rumah dulu, saya sudah sempat bekerja dulu, Okhi sudah selesai program master nya, sebelum kami akan mempunyai anak lagi (karena disini bila saya sudah bekerja selama setahun dan kemudian cuti melahirkan, saya akan mendapat parental leaving yang lumayan gede, hehehe).

Dan tentu saja, saya dan Okhi cukup lelah juga mengurus Sera, dan kami serasa tidak memiliki waktu sama sekali untuk hidup kami. Jadi, kami sudah memutuskan, no more kids sebelum kami sempat pergi berdua saja. Nanti, disaat Sera sudah lebih besar dan tabungan kami sudah cukup dan kami sudah mulai mencicil rumah, kami akan berjalan- jalan berdua saja, sebulan penuh melanglang Amerika Selatan, perjalanan once in a life time, dengan Sera kami tendang dulu ke rumah embahnya di Indonesia. Karena anak kedua kami harus mendapat perhatian dan curahan waktu yang sama dengan Sera, dan saya enggak mau anak kedua saya hanya mendapat setengah kasih sayang karena emaknya sudah gempor lahir batin mengurusi kakaknya yang badung sumedung ini, yang sukanya ngak ngek ngok kagak jelas. Saya, harus bahagia dan 'content' dulu, sehingga saya bisa menjadi a happy mother. And a happy mother means a happy kid.

Sibuk- sibuk membuat rencana, bagaimana kalau Tuhan berkehendak lain? Ngapain sibuk membuat rencana kalau toh kita tidak tahu juga apa yang akan terjadi di masa depan? Yah, ini kan sama saja kasusnya saat saya ingin pergi ke Bogor dari rumah saya di Jagakarsa. Sebelum pergi, tentu saya harusnya membuat rencana rute yang harus saya lewati dan jam berapa saya berangkat agar tidak telat. Eh, pada saat dijalani, sialnya tol Jagorawi ditutup karena demo. Tentu saya harus mencari rute lain. Kelabakan mungkin atau tenang saja karena saya sudah sedia GPS. Mungkin juga mobil saya ditabrak mobil lain jadi penyok dan saya jadi terlambat ikut rapat. Ya memang banyak kemungkinan yang terjadi diluar rencana kita. Tapi apa itu berarti saya tidak harus membuat rencana di awal perjalanan saya? Apakah ya sudah saya langsung saja tancap gas ke Bogor tanpa tahu harus lewat rute yang mana? Flow with the river aja deh! Toh terkadang semua berjalan tidak sesuai rencana?

Nah, masalahnya, saya akan merasa tolol sekali kalau harus menelpon bos saya bahwa saya tidak bisa sampai di Bogor bukan karena mobil saya ringsep ditabrak truk misalnya (yang jelas tidak ada dalam rencana saya) tapi semata karena saya nyasar karena memang saya tidak tahu dan tidak merencanakan dulu rute yang ingin saya ambil. Lha kan setumpit sekali dong namanya? Sesuatu yang sudah direncanakan dengan matang saja masih ada kemungkinan gagal, apalagi sesuatu yang tidak direncanakan sama sekali. Ya jelas sudah ditakdirkan gagal from the very beginning.

Saya suka merencanakan kehidupan saya dengan matang, dan kemudian menjalaninya dengan modal bismilah. Tuhan kan juga selalu mendengarkan apa keinginan saya. Diberi Tuhan otak paling besar sejagad raya, tentu Tuhan berharap lebih pada diri manusia dibandingkan burung pipit dan bunga bakung di padang. Bagaimana kalau nanti hidup saya berjalan tidak sesuai rencana? Ya itulah gunanya menjadi orang yang fleksibel dan mempunyai iman. Dalam Tuhan, saya bisa berserah, and He'll make a way. Tapi bukan sejak awal saya ongkang- ongkang kaki nggak mau mikir dan mengharap tahu- tahu Tuhan menggabrukkan harta karun di depan pintu rumah saya sehingga saya bisa memberi makan anak saya. Doh!

Seorang teman yang mengetahui rencana saya untuk paling banyak punya dua anak saja pernah bertanya "Gimana kalau tiba- tiba kamu dikasih anak lagi Meg? Bakal kamu buang saja anakmu atau kamu bakal marah sama Tuhan?" Ya nggak mungkin dong saya membuang anak saya, meskipun kelahirannya tidak direncanakan sekalipun, saya kan nggak mau masuk penjara.... Plus kalau memang saya mengalami 'kecelakaan' dan punya anak diluar rencana, tentu saja saya tidak akan marah pada Tuhan. Jelas saya akan langsung marah dan menuntut si durex. Gimana sih bikin produk kagak bener :D.

Setelah semua pertimbangan diatas, saya dan Okhi memutuskan untuk saat ini, dua anak adalah yang paling ideal bagi kami. Sudah paling maksimal. Tapi, kalau dikemudian hari kami memutuskan untuk tidak ingin punya anak lagi setelah Serafim, yah, bagi kami Sera sudah lebih dari cukup. She's already a very perfect kid that every parent can dream of. Jadi saya tidak akan sedih dengan hanya punya satu anak saja. Tahu- tahu kami ingin tiga anak? Possible, kalau memang kami berdua menginginkannya, kami mampu secara finansial, dan kami merasa masih memiliki cukup energi untuk memiliki satu lagi makhluk tanpa PAUSE button ini.

Tapi kalau saya boleh menuliskan pesan sponsor, meskipun misalnya seseorang mampu punya anak selusin misalnya, tapi sebelum seseorang memutuskan ingin punya 7, 8, 12, 15 orang anak, mohon direnungkan juga, bahwa bumi kita ini tidak bertambah luas. Persediaan air tanah tidak bertambah banyak. Minyak bumi juga semakin menipis. Tanah yang bisa dibangun rumah dan jalan di atasnya juga tetap besarnya. Dan kita tentu harus berbagi bumi ini dengan orang lain juga, dengan anak- anak orang lain juga. Dan setiap anak yang kita lahirkan, akan menjadi beban bagi planet bumi ini, dan bagi negara. Please consider it. Kata Simba nya Lion King, in the circle of life, you should never take more than you give......

Si imut biang ribut yang merupakan pusat kebahagiaan kami

2 comments:

  1. Hi Mbak Mega, salam kenal ya :)

    Saya sering baca notenya di FB, tp silent reader doank dan kebetulan saya kenal dengan mbak Luh Ayu.

    Note kali ini sama bgt dgn yg saya alami, karena anak saya juga (baru) satu dan belom kepikiran mau nambah lagi karena alasan yg kurleb sama dgn diatas.

    Paling suka dgn quote "a happy mother means a happy kid", setuju banget!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diriku sampai membaca lagi note ini, ini note yg soal apa yah, hehehehe. Lho, kok baru satu anaknya, kapan mau dikasih adek lagi???? :D:D:D:D:D.

      Oya kalau quote utk suami biar nggak pelit minjemin kartu kredit "A happy wife is a happy life" hehehe

      Delete