Ceritanya, sejak beberapa periode yang lalu, karena saya dan Okhi merasa kami masih memiliki kelimpahan rejeki, maka kami berniat membagikan rejeki pada saudara kami. Dan kami ingin melakukan sesuatu yang akan bermanfaat bagi masa depan seseorang, juga bagi nusa dan bangsa dan agama dan tanah air, MERDEKA!!! Jadi, kami tidak ingin membelikan seseorang baju atau sepatu baru misalnya. Setelah berpikir- pikir, maka kami memutuskan untuk membiayai salah seorang keponakan remaja kami untuk kursus bahasa Inggris.
Pilihan kenapa kursus bahasa Inggris, karena saya tahu keponakan saya itu sudah les pelajaran. Dan saya percaya bahwa bahasa Inggris adalah salah satu kemampuan yang wajib dimiliki anak- anak jaman sekarang, dan sayapun merasakan manfaat bisa berbahasa inggris dengan baik. Dan harga kursus cukup mahal, jadi banyak orang tua yang agak- agak mikir juga kalau mau mengkursuskan anaknya. Plus saya mempunyai keraguan akan kemampuan kurikulum sekolah untuk membuat anak- anak mampu berbahasa Inggris dengan terampil. Okeh, jadi kami kemudian menawarkan pada si keponakan, kalau dia mau kursus bahasa Inggris di tempat pilihan kami, kami akan membiayainya. Si keponakan yang duduk di bangku SMP mengangguk setuju.
Saya dulu, saat kursus di tempat itu saat saya masih SMA, tidak mengalami kesulitan yang berarti. Selalu berhasil naik tingkat dengan santai, tidak seperti adik kandung saya yang rada bego, yang harus mengulang terus. Sejak awal Okhi sudah memperingatkan, bahwa ada kemungkinan si keponakan tidak akan selancar perjalanan saya dalam menempuh jenjang per-les-an, mungkin dia harus mengulang kelas, mungkin nilainya rendah. Saya jawab bahwa saya tidak bermasalah dengan anak yang kurang pintar atau berkemampuan terbatas. Saya bermasalah dengan anak yang malas. Jadi saya berkata bahwa syaratnya adalah si keponakan harus selalu masuk kelas dengan disiplin, tidak pernah alpa mengerjakan PR, dan berusaha dengan giat. Persis ala pelajaran PPKN deh :D.
Awalnya, semua berjalan lancar. Keponakan saya rajin kursus, dan meskipun nilai ujiannya selalu pas-pas an, dia berhasil naik tingkat. Bahkan, di sekolahnya, gurunya memintanya membantu mengajar teman- teman sekelasnya agar bisa berbahasa Inggris seperti dia. Bangga juga saya mendengarnya. Ketakutan saya bahwa ia akan minder di tempat kursus barunya (karena yang kursus di situ biasanya anak dari SMP favorit atau anak orang kaya) tidak terbukti. Si ponakan, walau mungkin sebetulnya ada rasa minder juga, bisa mengatasinya. Sesudah beberapa term berjalan lancar, saya dan Okhi sudah tidak terlalu menaruh perhatian lagi. Apalagi, kemudian kami pindah ke Australia. Sampai pada satu term, si keponakan mengabarkan bahwa dia tidak lulus dan harus mengulang. Dia mengeluh bahwa pelajarannya sekarang makin sulit.
Seperti saya bilang diatas, mau dia mengulang sepuluh kali juga saya tidak keberatan. Asal dia sudah berusaha yang terbaik. Kami kemudian bertanya berapa kali dia absen dan minta dia menunjukkan rapotnya ke sepupu kami yang ada di Indonesia. Si keponakan mulai memberi jawaban ngalor ngidul, dan cukup lama kami tidak mendapat jawaban memuaskan untuk pertanyaan sederhana berapa kali dia absen dan berapa nilai rapotnya. Saya mulai sebal. Bolak- balik si keponakan ini hanya berkata dia harus membayar uang kursusnya untuk term berikutnya. Akhirnya, sampai juga salinan rapot ke tangan saya. Dan jreng jreng, terpampang bahwa si keponakan sudah absen selama 9 kali! Sembilan kali dalam satu term, hilarious! Okhi sudah langsung mencak- mencak, tapi saya menunda dulu mencak- mencaknya dan membaca lebih detil. Nilai ujiannya dia jelek (ya iyalah wong gak lulus) tapi bukan itu fokus saya. Fokus saya mencari tahu kenapa nilai ujiannya jelek, karena memang dia tidak sanggup atau karena dia malas? Saya baca nilai Homework nya D, walah itu berarti dia malas mengerjakan PR. Saya baca kolom komentar gurunya, disitu tertulis bahwa menurut gurunya si keponakan ini absen terlalu banyak sehingga kehilangan kesempatan belajar banyak subyek baru, dan dia sering tidak mengumpulkan tugasnya. Sekarang, gantian saya yang murka.
Kalau itu Serafim, saya bakal mengamuk sejadi- jadinya, dan menghukumnya dan mencambuknya dan mengikatnya di tiang jemuran 7 hari 7 malam. Nah, tapi ini kan bukan anak kami. Sebut saya egois, tapi dalam pemikiran saya, sudah bagus dong kami mau membantu membiayai dia, harusnya dia tuh bersyukur dan bekerja keras. Toh kalau dia memang sudah gak mau lagi kursus kami juga enggak maksa kok. Kalau begini, kan ya jengkel juga jadinya, memangnya biaya kursus murah? Mending saya pakai duitnya untuk membantu saudara saya yang lain kalau begitu. Sementara ini, dia bolos karena asyik pacaran dan main- main sama temannya (menurut pengakuan adiknya).
Nah, selain si keponakan ini, kami juga membiayai seorang lagi keponakan lainnya untuk kursus bahasa inggris. Dan kemarin adalah term pertamanya. Si keponakan ini anak cowok kecil, adiknya si keponakan cewek tadi. Dan nggak lulus juga. Saya baca rapotnya, absen 6 kali (what the heck?), dan yang bikin syok adalah komen gurunya : Kamu harus memperbaiki KELAKUANMU dan lebih fokus di kelas, dan jangan sering absen. Sumpah, baru sekali ini saya membaca komen guru yang sebegitu menamparnya di tempat kursus itu.
Si keponakan cowok kecil ini, kemudian berkata bahwa ia tidak mau lagi kursus di tempat pilihan kami itu, dan meminta boleh nggak dia pindah kursus bahasa inggris di tempat dekat rumahnya. Menurut dia pelajaran di tempat kursus yang dekat rumah itu lebih mudah.
Nah, kalau saya ditanya bagaimana perasaan saya dan okhi pada saat itu, sesudah kami mendengar berita bahwa keponakan kami itu tidak serius les nya, harus mengulang kelas yang berarti harus membayar lagi (sementara kami disini bahkan saat jalan- jalan akhir pekan pun membawa bekal makanan biar hemat), nah aslinya nih, si Okhi marah besar sementara saya kecewa. Okhi marah karena dia sebal pada kelakuan ala ABG si keponakan, yang sekarang sibuk berjalan- jalan keluyuran sama temannya sampai malam, sering pacaran sembunyi- sembunyi, sibuk telpon haha hihi. Saya sih tidak peduli pada kelakuan si keponakan, wong bukan anak saya ini, tapi saya kecewa karena niat baik kami tidak dibalas dengan keseriusan. Dan saya terus terang rada bete juga sama emaknya mereka, gimana sih anak enggak serius lesnya begini kok dibiarkan saja. Dan mulai berkata dalam hati "Kalau itu anak saya......."
Gara- gara kejadian ini, saya jadi ingat kejadian saat saya duduk di bangku kuliah. Saya pernah mengusulkan pada ketua perhimpunan mahasiswa di tempat saya, bagaimana kalau kami menggunakan dana amal untuk membiayai SPP para anak SD kurang mampu di lingkungan sekitar kampus kami. Dalam pemikiran saya, program ini bisa berkesinambungan dan kami benar- benar akan bisa membantu beberapa anak mendapat masa depan yang cerah dan membebaskan diri dari jerat kemiskinan. Tanpa saya duga, ketua saya menolak permintaan saya dengan alasan bahwa program itu nggak akan jalan dan sangat sulit berurusan dengan para ortu anak- anak itu. Ketua saya menjelaskan bahwa sebelumnya, dia dan komunitas keagamaan di kampus pernah mencoba melakukan hal serupa, eh tak disangka tak diduga, para orang tua yang dalam pemikiran kami seharusnya sangat senang dan mendukung 'kebaikan' hati kami itu malah menjadi pengganjal yang berat. Kami memang memberikan biaya, tapi itu kan tetap anak mereka. Jadi niat kami yang membantu, setiap selesai rapot an misalnya, maka diharapkan orang tua akan berdiskusi dengan kami untuk melihat apakah ada kesulitan yang dihadapi anaknya, apakah ada bantuan lain yang dibutuhkan. Kenyataannya, boro- boro para orang tua ini antusias dengan nasib anaknya sendiri, yang ada malah para orang tua ini tidak peduli, kadang malah menyuruh anaknya kerja juga, dan malah judes sama pihak yang membantu atau malah mengambil duit yang seharusnya untuk bayar sekolah. Yah sebut saja mental miskin sudah mendarah daging.
Jadi menurut ketua saya, kami harus benar- benar bekerja keras dan bersusah payah kalau kami mau menolong anak- anak itu. Nggak bisa hanya sekedar membayari uang sekolah dan berharap orang tua dan anak penerima bantuan akan sangat antusias dan berhasil dengan sendirinya. Dan sebagai mahasiswa yang sibuk (belajar dan pacaran dan fotokopi catetan teman yang segunung), kami simply enggak punya sisa waktu, tenaga, dan kemauan untuk membantu dengan sebegitu hebohnya anak orang lain yang bahkan bukan saudara kami juga. Maap ye, kami kan bukan badan amal profesional :D.
Balik ke keponakan tadi, reaksi pertama si Okhi adalah "Ya udah, kalau nggak mau lagi les ya nggak papa. Aku juga nggak mau mbantuin lagi." Saya, terus terang juga ada unsur nggak peduli juga, mau ni keponakan melanjutkan kursus kek, mau enggak, nggak ngaruh juga buat saya. Satu- satunya yang penting buat saya mah hanya si Serafim. Wong emaknya mereka aja nggak pusing, kok saya harus pusing. Hanya kemudian, saat emosi sudah mereda, saya berpikir, iya sih bukan kewajiban saya juga untuk bertanggung jawab pada masa depan para keponakan. Tapi, pada awalnya kan niat saya ingin membantu mereka supaya mempunyai kesempatan yang lebih baik di masa depan, dengan kemampuan berbahasa Inggris yang baik. Dan ternyata, dengan sekedar memberikan uang les, niat itu tidak kesampaian. Lalu apakah kami lalu menyerah saja ya?
Saya bilang pada Okhi, bahwa kalau dipikir- pikir, apa yang dilakukan si keponakan cewek itu adalah hal yang normal juga sebetulnya. Namanya abege, baru pertama kali pacaran, baru pertama kali punya geng juga di sekolahnya (dia baru saja masuk ke bangku SMA), ya wajar juga dia jadi terhanyut pada kehidupan senang- senang ala ABG. Jadi sering nonton, makan, jalan- jalan, sering pulang telat dan sebagainya. Wajar. Okhi dengan gusar menjawab "Tapi ya kan nggak bisa kita anggap benar dong, terus dibiarin aja."
Dengan sabar saya menjawab bahwa tentu saja bukan berarti kami oke- oke saja akan ketidak seriusan si keponakan cewek dengan les nya. Tentu dia harus dinasehati, dimarahi atau bahkan kalau perlu dihukum. Tapi apakah kami ingin menghukumnya dengan menarik kembali bantuan yang mungkin berarti merampas kesempatannya untuk bisa belajar bahasa inggris? Coba bayangkan kalau yang melakukan kesalahan itu Sera, apakah kami akan dengan serta merta mengeluarkan si Sera dari tempat kursus misalnya? Tentu tidak kan? Jadi, kami memutuskan bahwa kali ini, kami akan mengulur cinta. Kalau kami memang ingin supaya si keponakan ini bisa berbahasa inggris, ternyata tidak bisa sekedar mengirimkan duit les dan sudah semua beres. Kami kemudian mengajak si keponakan cewek chatting, mencari tahu apa yang dia rasakan dan sekaligus memberikan pesan awas kalau berani nggak serius lagi.
Alasan si keponakan cewek akan banyaknya jumlah absennya adalah kadang dia tidak ada yang mengantar les ("Tapi kalau untuk pergi pacaran bisa," gerutu Okhi) dan bahwa masalahnya telat 15 menit pun dianggap absen. Dan si keponakan pun, yang memang aslinya anak baik- baik, menyadari bahwa dia salah karena sudah tidak serius. Jadi tercapailah kesepakatan bahwa ya si keponakan masih mau les, dan ya dia akan serius. Di sisi kami, saya sadarlah namanya abg itu masih maunya senang- senang doang, jadi kamipun akan lebih memperketat pengawasan. Setiap selesai satu term, maka si keponakan harus segera mengirimkan nilai rapotnya, dan kami meminta bantuan sepupu kami di Indonesia untuk membantu mengawasi. Lalu uang les selalu kami kirimkan ke sepupu kami itu, menjaga supaya si keponakan yang anak ABG tidak tergoda memakai uang les untuk nonton film. Yah namanya juga ABG. Lalu kami mengatur supaya ada tukang ojek yang akan selalu siap mengantarkan si keponakan kursus.
Untuk si keponakan cowok kecil, saya tidak serta merta mengiyakan keinginannya untuk pindah tempat kursus. Saya nggak tahu bagaimana kualitas si tempat kursus pilihan dia. Kalau hanya tempat kursus abal- abal, sekedar seratus ribu rupiahpun saya nggak akan sudi membayari. Lalu saya membaca lagi rapotnya, dan saya berkata ke Okhi bahwa mungkin si keponakan kecil ini sebetulnya minder, jadi dia bertingkah nakal di tempat kursus sebagai kamuflase. Kalau itu anak saya, saya akan mengajaknya berbincang panjang lebar, karena tentu saya tidak ingin anak saya tersiksa karena minder misalnya. Tapi berhubung saya bukan emaknya, dan kami berada di tempat yang jauh, saya tidak terlalu bisa berkutik. Jadi pilihannya, si keponakan cowok mau tetap kursus di tempat pilihan saya (dengan kami menghiburnya bahwa belajar bahasa inggris memang susah di awal- awal, dan it's ok kalaupun dia harus mengulang lagi selama dia sudah belajar serius) atau ya sudah kami tidak akan membiayainya lagi. Sedikit lebih tega daripada pendekatan kami pada si keponakan cewek, tapi saya tidak punya pilihan lain.
Dari kedua keponakan kecil saya ini, saya belajar bahwa terkadang menolong orang itu tidak semudah memberikan duit dan berharap si penerima akan dengan sendirinya berjuang dengan sebaik mungkin (walau secara logika kan ya harusnya gitu, sudah ditolong kok masih ngerepotin). Tapi ya itu tadi masalahnya, pertanyaannya apakah kami memang ingin dia berhasil. Kalau memang kami menginginkan keberhasilannya, ya ternyata sekedar duit saja tidak cukup. Kami harus sedikit lebih repot cawe- cawe dan memarahi. Ya sebetulnya menurut saya itu sih tanggung jawab orang tuanya lah, tapi kalau memang orang tuanya tidak melakukannya, sekarang kembali pada si penolong, apakah mau mengulur cintanya dan do extra miles untuk membantu.
Untuk kasus ini sih masih gampang lah solusinya. Namanya juga anak kecil, pasti kita akan lebih banyak maklum. Dan toh kita masih bisa mengomel ke mereka saat mereka salah. Tapi bagaimana saat yang niat kita bantu adalah orang dewasa, dan dia berlaku seperti anak kecil. Dibantu modal usaha misalnya, tapi malah tidak serius dan berakibat uang melayang. Secara logika ya mungkin sudah, tiada kata maaf bagimu. Tapi kata pepatah, menolong itu harus utuh. Tentu saja maksudnya sih tidak berarti kita harus menolong membabi buta sampai habis- habisan. Itu tidak mendidik juga namanya. Tapi mungkin kita harus sadar bahwa mungkin yang dibutuhkan orang itu tidak sekedar modal, tapi juga bimbingan.
Emak saya pernah mencoba memodali seorang saudara. Beberapa kali dicoba memodali, bangkrut lagi bangkrut lagi. Sampai akhirnya emak saya kapok untuk asal memodalinya. Dan mulai memikirkan dengan serius apa ya usaha yang cocok untuk si saudara. Akhirnya, emak saya menemukan bahwa si saudara ini sangat bertangan dingin dalam urusan bercocok tanam. Maka instead of sekedar menggelontorkan modal, emak mendorong saudara saya untuk ikut kursus budidaya jamur, kemudian mencarikan tempat untuk memulai usahanya, membantunya mencari pasar, dan tetap memantau usaha yang sedikit demi sedikit berkembang ini.
Saya dulu sempat menggerundel bahwa ya sudah kalau saudara saya ini nggak bisa dibantu, ngapain sih emak saya harus repot- repot membantunya. Wong sudah dewasa kok masih perlu diurusin. Tapi ya itulah, tidak semua orang bisa maju hanya dengan sedikit bantuan. Banyak orang yang harus terus dibantu dari berbagai sisi sampai akhirnya dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Seperti emak saya yang harus repot- repot mencarikan jadwal kursus jamur, membelikan tiket kereta, dan membantu memilih jamur yang ingin ditanam. Kalau emak saya memang tidak sanggup sebegitunya membantu, ya dia juga enggak dosa kok. Hanya karena dia pingin supaya saudara saya yang luntang lantung hidupnya itu bisa maju, maka dia bersedia repot. Tapi tentu saja ini repot yang terakhir. Kalau masih gagal juga karena ketidakseriusan, ya sudah sana ke laut aja deh!
Namanya manusia, saya juga pasti bakal pernah membutuhkan bantuan teman. Setelah merasakan betapa menyebalkannya membantu orang yang tidak serius, maka saya berjanji deh, sumpah pramuka, bahwa kalau saya menerima bantuan dari orang, maka saya harus berusaha dengan sepenuh hati, supaya yang membantu saya itu tidak sebal hati dan merasa kecewa. Dan masalahnya, semua orang mempunyai titik kesabaran yang berbeda- beda. Jadi tentu saya tidak bisa mengharap si penolong saya ini akan memberikan kesempatan kedua atau ketiga bagi saya kan....
Menerima bantuan orang itu bukan dosa dan tidak memalukan. Kalau dengan bantuan itu kita bisa memiliki hidup yang lebih baik, kenapa tidak? Nggak usah malu atau gengsi. Manusia itu memang butuh orang lain kok. Tapi menyia-nyiakan bantuan, nah itu baru tolol namanya....
![]() |
| Sera mohon bantuan agar bisa dikirimkan seorang emak yang baik dan sabar, untuk menggantikan emak bawelnya Sera...... |

No comments:
Post a Comment