Monday 7 November 2011

My Monday Note -- Very Very Important Person

Suatu hari saya membaca status teman saya di FB yang intinya berkisah bahwa ia merasa bete dengan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri yang dikirimkan oleh para relasinya ke BB nya. Masalahnya adalah kebanyakan pesan itu adalah pesan hasil copy paste, dan menurut pendapat teman saya itu "Mending gak usah ngirim ucapan selamat lebaran deh kalau hanya hasil copy paste, basa- basi banget deh!"

Saya tertawa membaca status ini, karena sayapun mengalami juga yang namanya menerima ucapan- ucapan basa- basi hasil comot sana sini di hape saya (yang jelas saja bukan Blackberry). Begini contohnya, saat lebaran tiba, maka saya akan menerima sms- sms semacam :

Bryan Adams said “Please Forgive Me..”
Rio Febrian said “Ooo.. Maaf, maafkan diriku..”
Ruben Studdard said “Well this is my sorry for 2011.”
Yuni Shara said “Mengapa tiada maaf bagiku.”
Elton John said “Sorry seems to be the hardest word.”
Mpok Minah said “Maaf.. bukannya saya ngak ngerti.. bukannya saya nggak sopan..”
I said “Minal Aidin wal faizin..”

Begitu juga saat natal, akan ada sms semacam ini yang masuk ke hape saya :

May the peace and love of God fill each day of your life and light your way through the New Year.
Wishing you and your family His Blessing always. Merry Christmas and Happy New Year.

Saat ulang tahun, maka saya akan menerima ucapan selamat ulang tahun semacam :

Selamat ulang tahun, GBU.

Saya mengerti kenapa teman saya merasa sedikit kesal dengan sms- sms semodel di atas. Loh, padahal sms selamat lebaran yang diatas itu sebetulnya lucu juga kan? Dan sms selamat natal yang diatas itu juga indah kan? Tapi terus terang, saat saya menerima sms ucapan selamat natal, lebaran, dan ultah dengan model seperti diatas, maka saya tidak bisa berkata bahwa saya akan menjadi over joy atau tersenyum lebar. Karena sms semodel diatas adalah model sms yang menunjukkan bahwa si pengirim bukanlah teman dekat saya, dan let's just say sms itu paling-paling hasil copas dan tidak ditujukan hanya kepada saya secara pribadi. Dan mungkin, sms lebaran nan lucu itu juga dikirimkan sekaligus ke puluhan orang lainnya.

Karena biasanya yang mengirimkan sms semacam itu adalah mereka yang enggak sebegitu hangatnya hubungannya dengan saya, karena toh model sms nya hanya sms kodian nan generik, maka biasanya balasan yang saya kirimkan juga hanyalah standar nan datar semacam "Terimakasih, semoga damai natal menyertaimu juga" atau "Sama-sama, mohon maaf lahir batin ya" atau "GBU too."

Hanya bedanya, kalau teman saya jadi kesal dengan sms- sms kacangan semacam diatas, saya tidak merasa sebal dengan sms itu. Tidak happy yayayaya, tapi juga tidak terganggu. Simply karena selain saya menjadi penerima sms hasil copas, saya juga mengaku sebagai pelaku yang mengirimkan sms generik ke hape orang lain juga. Jadi gimana mau marah, lha wong saya juga ikut serta dalam dosa mengirimkan ucapan selamat sedikit kurang niat seperti diatas.

Nah, sebagai pihak pelaku dan sekaligus korban ucapan selamat basa- basi, saya jadinya berpikir apakah memang yang jamak dilakukan banyak orang itu salah ya? Maksud saya, memang tidak ada yang bisa mengalahkan ucapan selamat yang ditujukan sangat pribadi kepada kita seorang, semacam "Selamat natal ya Meg, dikasih hadiah natal apa sama Okhi?" karena ucapan sangat pribadi itu menunjukkan si pengirim mengenal kita dan memang benar- benar meluangkan waktunya untuk mengirimkan ucapan selamat kepada kita seorang. Kan nggak mungkin dia mengirimkan ucapan yang sama seperti itu ke orang- orang lain kan? Tapi apa itu berarti ucapan non-personal yang mungkin memang hasil menyontek sms orang lain, yang mungkin memang kita kirimkan ke puluhan orang sekaligus itu ucapan yang tidak berharga ya?

Saya jadinya coba mengingat apa sih yang saya rasakan setiap lebaran atau natalan menjelang, dan saya akan memulai ritual mengirim ratusan ucapan melalui sms atau wall FB. Di otak saya, yang pertama kali berkelebat adalah beberapa nama yang menjadi sahabat dekat saya. Untuk para sahabat ini, saya akan meluangkan waktu dengan sungguh- sungguh agar bisa mengirimkan ucapan selamat yang sangat pribadi semacam " Jadi So, lebaran ini kamu mudik ke rumah mertuamu yang mana? Yang siamang atau babon? Dan saya tidak keberatan bersusah payah menulis di wall masing- masing sahabat saya ucapan selamat yang benar- benar hanya untuk mereka seorang.

Setelah para sahabat, berikutnya adalah teman yang saya kenal secara pribadi, tapi ya enggak dekat- dekat amat. Untuk mereka, saya masih bersedia untuk menulis di wall FB mereka masing- masing, tapi dengan pesan yang less personal pastinya. Mungkin ucapan lebaran semacam "Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin ya.... Salah dan dosamu juga sudah saya maafkan kok :D." Yang utama karena saya tidak kenal mereka secara dekat sekali, saya tidak punya pengetahuan 'intim' akan hal pribadi mereka (don't be dirty mind now). Jadi saya mungkin tidak akan bisa bertanya apakah dia mudik ke kampung misalnya, karena saya tidak tahu apakah teman saya itu punya kampung atau tidak. Tapi lagi- lagi, meskipun tidak sebegitu niatnya membuat ucapan yang spesial, saya tetap berniat baik dengan mengirimkan ucapan setengah basa- basi itu.

Dan terakhir ucapan selamat yang saya kirimkan pada mereka yang di satu dan lain hal bersinggungan dengan kehidupan saya. Mungkin seorang supplier yang saya temui dua kali dalam setahun. Mungkin seorang teman sekantor yang tidak pernah mengobrol dengan saya. Mungkin bos yang hanya saya lihat saat gajian. Seseorang yang dibawa sang nasib dalam kehidupan saya, tapi tidak diperkenankan untuk menjadi teman saya. Dan karena mereka ini jumlahnya bejibun, karena saya tidak mengenal mereka secara pribadi, karena saya tidak punya ide untuk menuliskan sesuatu yang personal, karena tentu saja saya tidak akan berani menuliskan guyonan dalam ucapan selamat saya, maka saya akan mengirimkan ucapan selamat yang generik, sopan, dan mungkin juga copy paste (walau sumpah deh, saya tidak pernah se-alay itu untuk mengirimkan ucapan dengan kalimat Bryan Adam, Mpok Minah de el el). Terkadang, saat saya menerima SMS yang manis dan formal seperti ucapan selamat natal yang saya tulis di atas, maka saya akan menggunakan sms itu sebagai template dan mengirimkannya ke para 'kenalan' ini.

Mungkin sebagian niat saya hanyalah basa- basi, mungkin sebagian niat saya hanya mengirimkan ucapan selamat karena kebetulan nama si kenalan itu kok ya muncul di daftar nomer telepon di hape saya, mungkin saya hanya mengirimkan sms sekedar untuk kepantasan, tapi saya melakukannya dengan niat yang tulus juga kok. Mengucapkan selamat yang menunjukkan saya at least masih menyimpan kontak detil si kenalan. Jadi bagi saya, rasanya apa yang dikeluhkan teman saya mengenai ucapan selamat basa- basi itu ya tidak adil juga. Walaupun mungkin basa- basi, tapi itu basa- basi yang dilandasi niat baik.

Saat saya menerima sms ucapan selamat generik hasil copas, saya akan menyadari bahwa saya ternyata bukan orang yang spesial di hati si pengirim. Saat seseorang menuliskan selamat ulang tahun di wall saya dengan tulisan "Met milad, semoga sukses", saya menyadari bahwa si pengirim mungkin hanya melihat notifikasi di FB akan ulang tahun saya, dan dengan ucapan yang menunjukkan ia tidak terlalu mengenal saya secara pribadi (karena saya sempat bingung apa sih artinya milad itu) mengirimkan ucapan selamat yang biasa banget dan nyaris basi. Tapi hei, meskipun dia tidak menganggap saya sebegitu spesialnya, toh dia mau meluangkan waktu beberapa detik untuk mengirimkan ucapan selamat bagi saya. Dan siapalah saya harus merasa tersinggung karena tidak dianggap sebegitu pentingnya oleh semua orang. Toh saya juga bukannya orang paling baik dan suci di dunia yang berhak menuntut dianggap penting oleh semua orang. Saya bahkan sering malas mengirimkan ucapan selamat ulang tahun di FB kecuali saya mengenal dekat orang itu. Jadi, apalah hak saya untuk naik darah?

Saya ingat beberapa waktu yang lalu mengirimkan ucapan selamat kepada Angela, teman di Monday Note ini yang jujur saja belum pernah saya temui dalam kehidupan nyata. Saya, tidak tahu apapun tentang dirinya, tapi saya memang ingin mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Jadilah ucapan ulang tahun yang saya kirimkan padanya benar- benar generik, semacam "Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, Tuhan memberkati." Dan saya rasanya bakalan tersinggung juga kalau si Angela kemudian menuduh saya tidak serius dan mengirimkan pesan balasan "Daripada basa- basi mending nggak usah ngucapin selamat deh!" Halah, sudah saya susah payah meluangkan waktu mengirimkan pesan walau generik, kok malah saya diomelin.

Tapi karena omelan teman saya ini saya jadinya diingatkan juga akan pelajaran paling mendasar dalam berinteraksi dengan semua orang. Semua orang, siapapun dia, secara umum senang dianggap penting. Saya pun, sangat senang jika ada orang yang mengingat ulang tahun saya (padahal mungkin saya bahkan lupa nama orang itu). Saya senang jika seseorang ingat nama saya walaupun mungkin baru bertemu dua kali. Saya akan meringis bangga bila ada seorang bos besar ingat bahwa saya adalah staf marketing anak buahnya dia juga. Jadi sebetulnya teman saya itu menunjukkan sisi manusiawi setiap manusia; ingin dianggap penting, ingin 'diuwongke' kata orang Jawa.

Saya, yang meskipun sangat cantik dan baik hati, tetap saja seorang manusia biasa. Dan saya pernah merasakan bahwa saya sendiri juga kurang suka saat saya merasa orang lain menganggap saya kurang penting. Saat suatu ketika seorang teman bertanya kenapa saya belum bekerja dan tidak mengambil program master lagi disini, dan saya kemudian menjelaskan dengan panjang lebar, dan kami terlibat percakapan cukup seru mengenai hal ini. Seminggu kemudian, saat saya bertemu lagi dengan teman saya itu, saat kami bercakap- cakap, dia kemudian menanyakan ke saya "Kamu kok belum kerja Meg? Nggak niat sekolah lagi kah?" *#%*^%#%^

Lalu pernah suatu kali seorang teman mengenalkan saya pada temannya yang lain. Saya tersenyum dan kami mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Saya mengernyitkan dahi karena si temannya teman ini bahkan tidak meluangkan waktu untuk menatap mata saya saat berjabat tangan. Dan sedetik kemudian, tetap tanpa menoleh kearah saya, ia melepaskan genggaman dan langsung mengobrol lagi dengan orang lain. Beberapa bulan kemudian, kebetulan kami bertemu lagi dalam suatu acara. Dan teman saya sekali lagi mengenalkan saya ke si orang angkuh itu (teman saya ini pikun juga sih). Dan si angkuh tetap menyalami saya dengan gaya sama. Sebetulnya saya sudah males banget bersalaman dengannya pada saat itu, jadi saya juga tidak bersusah payah melihat ke matanya dan tersenyum. Saya menyalaminya dengan gaya yang sama; cuek dan sekenanya saja.

Dan terus terang, hal sepele semacam orang yang seolah tidak niat saat bersalaman dengan saya, membuat saya tersinggung juga. Emangnya gue sebegitu nggak penting ya untuk ditatap? Atau sebegitu jelek?

Pengalaman paling ekstrem soal bagaimana membuat orang merasa penting saya rasakan saat saya bekerja di sebuah perusahaan distributor. Tujuan utama dan satu- satunya perusahaan adalah menjual sebanyak- banyaknya produk pada para klien kami. Dan saat saya melakukan customer visit dengan bos saya Bu Eka atau teman sales saya Pak Heris, saya melihat pertunjukan kelihaian menempatkan orang dalam posisi yang penting. Saat si klien berbicara, maka Pak Heris dan Bu Eka akan dengan intens memusatkan perhatian ke arah klien kami. Enggak sambil disambi sms an atau update status via BBM, enggak sambil ngupil atau matanya menerawang ke langit- langit. Dan mereka akan mengangguk- angguk di saat yang tepat, tertawa saat si klien membuat lelucon, dan memuji disaat sang klien membeberkan rencana dan strateginya. Kemudian di saat kami akan pamit pulang, maka mereka akan bersalaman dengan hangat, Bu Eka akan melontarkan celetukan seperti bagaimana dia berharap mbok ya klien kami yang lain juga mempunyai pandangan seluas klien kami itu sehingga bisa enak berdiskusi. Pak Heris akan menimpali bahwa kalau bertemu dengan Bu Anu ini dia jadinya selalu bisa mendapatkan pengetahuan baru. Dan di saat Bu Anu berulang tahun, Pak Heris tidak akan pernah lupa berkunjung dan mengucapkan selamat. Bahkan sekali- kali, tanpa ada sesuatu yang spesial yang harus dirayakan, Bu Eka akan tiba- tiba membawakan jam tangan oleh- oleh dari perjalanannya ke Eropa.

Untuk urusan sales begini, anda sih bisa berpikir bahwa yang dilakukan Pak Heris dan Bu Eka bukanlah dilandasi niat tulus. Semata karena ingin jualan. Oh iya dong, memang pasti jualan harus jalan terus. Tapi disuatu kali kami makan bersama, dan saya bertanya apakah mereka berdua memang selalu berpura- pura menyukai klien kami, maka Bu Eka berkata bahwa dia tidak berpura- pura. Setiap dia bertemu dengan seorang klien baru, maka di otaknya dia selalu menyiapkan mental bahwa ia ingin berteman dengan si klien ini. Dan untuk bisa berteman dengan seseorang, maka tentu saja dia harus menempatkan orang itu pada posisi dimana ia merasa dihargai. Kalau si klien orang yang menyenangkan, maka pertemanan mereka akan dengan cepat terjalin. Tapi untuk klien yang sulit dan menyebalkan, maka menurut Pak Heris "Semua orang itu pada dasarnya ada sisi baiknya Mbak, dan betapapun menyebalkannya dia, saya selalu yakin suatu saat dia bakal jadi teman saya." Tentu tujuan akhir hubungan itu adalah transaksi bisnis, tapi dalam prosesnya bos sales saya memang menikmati menambah teman satu lagi. Bahkan untuk customer yang sudah pensiun misalnya, Bu Eka akan once in a while tetap mengajaknya makan bersama dan mengirimkan parsel di saat Lebaran. "Karena Meg, nasehatnya dengan serius, semua orang akan senang kalau dia merasa dihargai dan dianggap penting."

Oke, dalam urusan dengan sales tentu saja mereka akan lebih tabah mencoba berteman dengan orang paling menyebalkan sekalipun karena ada kepentingan lain. Nah, kalau saya sih tentu saja tidak berniat menjadi seorang santo dan selalu berbaik sangka dengan semua orang lain. Hidup hanya sekali, kenapa juga saya susah- susah mencoba berteman dengan orang yang menyebalkan. Tapi karena saya sendiri sangat tidak suka diremehkan atau dianggap tidak penting, saya tidak ingin juga menjadi orang yang membuat orang lain jadi sebal dan tersinggung hanya karena gesture dan ucapan saya (yang mungkin sebetulnya saya juga tidak bermaksud meremehkan mereka juga sih).

Dan saya pikir- pikir sebetulnya tidak susah juga melakukannya in term of memberikan ucapan selamat misalnya. Saat lebaran tiba, dan tangan saya pastinya akan pegal linu nyeri otot mengirimkan ratusan ucapan selamat melalui sms, maka saya melakukan strategi. Setelah semua sahabat dan orang yang memang dekat di hati saya sudah saya kirimi sms nan pribadi, maka saya akan beralih mengirimkan sms generik ke para kenalan. Tapi saya akan menghindari mengirimkan sms hasil copas nan alay, yang memang bikin jengkel yang membaca. Masih untung sms yang saya terima menyertakan nama Bryan Adams dan Elo, coba kalau ucapan selamatnya menyertakan nama si Ipul Jamela misalnya, bukannya senang saya malah bakal angot karena diingatkan pada artis lebay yang meracuni pantai Jakarta dengan kolor bekasnya.

Saya pikir akan lebih baik untuk mengarang sendiri sms yang ingin saya kirimkan (walau ide dasarnya bisa saya comot dari sms yang saya terima), sms sederhana dengan bahasa Indonesia (saya yang orang jawa bakalan sebal kalau menerima sms ucapan selamat dalam bahasa madura atau maluku yang tidak saya pahami artinya), netral pesannya, dan memberikan sedikit sentuhan pribadi yang membuat sang penerima akan merasa saya menganggapnya cukup penting. Untuk para teman cewek sebaya yang tidak saya kenal dekat, saya akan menuliskan pesan sederhana "Mohon maaf lahir batin ya kalau saya punya salah, mohon ketupat segera dikirim ke rumah ya neng....." Lalu ucapan ini akan saya kirimkan sekaligus ke puluhan wanita teman saya tadi. Dan sedikit sentuhan pribadi dengan menambahkan kata neng di ucapan saya tadi, percaya atau tidak, membuat saya menerima banyak ucapan terima kasih yang cukup hangat, karena si penerima menganggap saya mengirim pesan itu khusus untuk mereka (dengan memberikan tambahan neng, saya mengindikasikan bahwa saya SADAR bahwa saya mengirimkannya ke seorang wanita yang sebaya dengan saya). Kemudian berganti saya menyiapkan sms untuk para teman pria saya, dengan template yang sama dan tinggal mengganti sapaan neng dengan bang. And so on and so on.

Anda menganggap saya munafik? Hm, saya itu cantik, menarik, enerjik, eksotik, kliennya dukun klenik, tapi enggak munafik. Kenapa saya harus dianggap munafik kalau saya berniat membuat orang lain, yang bahkan tidak sebegitu pentingnya bagi hidup saya sebetulnya, untuk merasa dianggap penting?

Dan saat saya berkenalan dengan seseorang, saya akan berusaha untuk benar- benar menjabat tangannya, dan mengarahkan pandangan saya ke mata orang itu. Enggak salaman sambil matanya tetap kelayapan kemana- mana. Karena saya pernah merasakan betapa jengkelnya hati saya saat seseorang bersalaman dengan saya dengan gaya nggak niat, seperti saya tidak lebih berharga dari kecoak di jendela. Yah, hal- hal kecil yang enggak susah juga melakukannya, tapi bisa membuat orang yang berhadapan dengan saya jadi suka hati. Dan mungkin- mungkin, kedepannya orang ini akan menjadi teman saya, atau klien saya, atau malah bos saya. Dan berusaha memusatkan perhatian ke arah lawan bicara saya saat mengobrol. Karena tidak ada yang lebih menyebalkan bagi saya daripada mengobrol dengan orang yang matanya setiap 10 detik melirik layar BBM nya (sindrom minder kagak punya BB).

Suatu kali saya membuka wall sebuah toko online di FB, dan salah satu calon customer si toko online bertanya apakah di toko menjual kaos kaki binatang untuk bayi. Jawaban si pemilik toko "Kami punya produk itu, tapi saya lupa ada di album yang mana fotonya. Cari saja sendiri ya...." Saya terkekeh- kekeh geli. Kalau saya yang jadi si customer, enggak bakal saya jadi belanja di toko itu sampai kiamat. Ngapain beli produk dari penjual yang nggak menganggap saya penting begitu? Kalau saya jadi si penjual, dan saya memang rada males untuk mencarikan foto tu produk di album FB saya, saya bakal menjawab dengan diplomatis semacam "Saya punya barangnya Mbak, tapi mohon maaf nih saya lupa meletakkan di album yang mana. Saya akan carikan ya mbak, tapi monggo kalau embaknya juga mau lihat- lihat albumnya, banyak barang- barang lucu yang bakal cocok banget buat si dedek."

Meskipun semua orang saya yakin pada dasarnya suka dihargai, tapi ada beberapa orang yang saya nobatkan 'gila hormat'. Suatu kali, saya bertemu dengan seorang ibu dalam sebuat meeting. Saat kami berkenalan, dan kemudian dia mengetahui bahwa saya adalah lulusan Farmasi Unair, maka dengan muka masam dia berkata "Kamu lulusan Unair harusnya kenal siapa saya dong. Kamu kan pernah PKL di dinas dan saya salah satu pengajarnya."

Dengan sopan saya meminta maaf dan menyalahkan diri saya, tapi dalam hati saya menertawakan si ibu gilhor ini. For your information, saat saya dan teman satu angkatan saya PKL di kantor si ibu, kami (50 anak) diletakkan di ruangan yang remang- remang karena kami itu dicurigai vampir. Bukan bukan, tapi karena materi pelajaran yang kami terima semuanya menggunakan proyektor, sehingga biasanya ruangan digelapkan. Lalu, setiap materi maka pengajarnya berbeda, jadi satu orang mungkin hanya akan berdiri di depan kami kurang dari sejam. Selama seminggu PKL di dinasnya, kemungkinan kami diajar lebih dari 10 orang. Dan kami PKL tidak hanya di satu tempat, tapi lebih dari 3 tempat. Dan waktu itu saya sudah lebih dari tiga tahun lulus dari bangku kuliah. Jadi orang waras mana yang akan mengharap bahwa saya akan ingat wajahnya dan namanya yang hanya saya temui satu jam dalam seumur hidup saya?

Lalu saat saya duduk di bangku kuliah, suatu ketika teman saya berkata kepada saya "Meg, tadi kamu dicari Bu Anu. Kamu disuruh nemuin dia atau telpon aja ke rumahnya." Saat itu saya adalah mahasiswa bimbingan si dosen dalam salah satu proyek. Sore harinya, saya menelepon beliau. Dengan nada sangat sopan seperti layaknya mahasiswa berbicara pada dosennya yang berkuasa akan nilainya, saya berkata "Sore Bu, tadi di kampus si Ana berkata bahwa Ibu mencari saya, dan saya diminta menelpon ibu ke rumah. Apa ada yang harus saya kerjakan ya Bu?" Dan di luar perkiraan saya, meledaklah si ibu. Dengan marah dia berkata bahwa saya tidak sopan dengan berkata bahwa dia yang mencari saya. Seharusnya sayalah yang mencari dia karena saya yang butuh bimbingannya. Dan beraninya saya berkata bahwa dia MEMINTA saya. Memangnya siapa yang butuh bimbingan? Saya atau dia? Kok beraninya saya berkata bahwa si ibu yang meminta saya.

Tentu saja saat itu saya serta merta dengan sangat rendah hati minta maaf padanya dan berkata bahwa iya saya ini sungguh enggak sopan. Nggak tahu aturan. Dan melunaklah hati beliau. Tapi saat menutup telpon, saya sampai mengulang- ulang kalimat saya yang telah membuat si dosen merasa tidak dihargai. Bagian mana dari kalimat saya yang telah membuatnya tersinggung ya? Apa seharusnya saya berkata bahwa dia MEMERINTAHKAN saya untuk menelponnya? Jadi jelas bahwa statusnya adalah saya mahasiswa dengan status lebih rendah dari dia? Saya geleng- geleng kepala dengan bingung. Dan karena saya bukan orang suci, keesokan harinya jelas saya langsung menceritakan hal ini di depan teman- teman saya. Dan meledaklah tawa kami semua mendengar pertunjukan gila hormat itu. Dan semua orang setuju bahwa dosen ini rada- rada sinting.

What I'm trying to say is, saat anda merasa seseorang membuat anda merasa kurang dihargai atau diremehkan, just shut your mouth. Kalau dia tidak menatap mata anda saat bersalaman dan mengacuhkan anda, atau mengirimkan sms dengan nama Ipul Jamela disitu, ya sudah terima saja bahwa dia tidak menganggap anda penting. Apa hak kita memaksa orang lain menganggap kita penting? Sebagai balasan atas kekasarannya, ya sudah kita abaikan saja dia. Dia acuh pada anda, ya anda juga ngapain memepedulikan dia lagi? Karena bila kita protes atau marah, maka biasanya orang itu akan menertawakan kita di belakang punggung kita dan menyebarkan ke orang lain bahwa kita itu tipe manusia gila hormat.

Saat seseorang tidak menghargai anda, there is nothing you can do. Terima saja bahwa itu hak mereka, dan kemudian abaikan mereka. Berarti dia tidak berharga untuk dijadikan teman.

Seperti status teman saya yang protes akan sms copas yang dia terima. Jadinya, dia justru menerima komentar- komentar menyudutkan dari teman- temannya yang lain. Teman- teman FB nya malah menasehati bahwa yang penting kan niat silaturahmi yang terkandung dalam sms ucapan selamat lebaran itu. Kalau saya jadi dia, saya akan diam saja, tapi saya mungkin juga tidak akan bersusah payah mengirimkan sms ucapan selamat lebaran ke para tukang kirim sms copas alay itu.

Sekarang, saat mengobrol dengan teman saya yang again and again bertanya soal kenapa saya belum kerja, apapun pertanyaannya dia saya hanya akan menjawab singkat "Iya, emang belum." Supaya saya nggak capek tanpa hasil, ya saya nggak usah menjelaskan panjang lebar padanya. Kalau diajak ngobrol dengan si teman ahli BBM, ya saya akan ikut sibuk mencetak cetok hape non BBM saya. Saya kan memang pendendam :D.

Tentu saja saya mungkin tidak akan diam saja jika yang dimata saya meremehkan orang lain itu si Okhi atau Serafim misalnya. Tentunya itu kewajiban saya untuk mengingatkan mereka. Karena mereka makhluk yang penting bagi saya. Tapi kalau hanya orang yang tidak dikenal atau teman di kantor yang toh bukan sahabat juga, ngapain amat susah- susah marah atau menasehati? Memberikan nasehat tanpa diminta biasanya hanya akan membuat si penerima marah.

Tentu saja saya pernah menuntut dihormati. Saat saya ingin check-in di suatu hotel di Bali, dan kemudian petugas hotelnya seperti mengabaikan saya dan malah melayani tamu bule yang datang belakangan (mungkin karena tampang gembel saya), marahlah saya . Dengan suara sangat dingin dan mata menyipit menakutkan (menurut si Okhi yang menikmati cara saya mengatasi masalah ini sementara dia santai-santai menyesap welcome drink), saya berkata ke arah si embak bahwa saya sudah datang lebih dahulu dan saya berhak dilayani terlebih dulu. Bahwa dia sudah bertindak tidak sopan dengan mengabaikan saya, dan saya menuntut untuk segera dilayani. Oh saya sadar bahwa di belakang saya si embak akan marah dan mengata-ngatai saya wanita gembel sok penting di depan teman- temannya, tapi saya tidak peduli. Karena saya memang tidak berniat berteman dengannya, dan saya hanya ingin hak saya diberikan. Dan setelah saya selesai dilayani, saya tetap mengucapkan terima kasih dengan sopan kok, hahahahaha.

No comments:

Post a Comment