Monday 19 December 2011

My Monday Note -- GTFI (Googling The Fu*k*ng Info) !!

Namanya manusia, kita adalah makhluk sosial. Kita suka pelajaran ilmu sosial, kita suka ikut bakti sosial, dan kita suka saling bersosialisasi. Dan tentu kita suka bertanya pada orang lain; warung sate mana yang paling enak, lebih menguntungkan pake SIM card apa, de el el. Dan meskipun saya bukan seorang ahli juga, tapi saya juga sudah pernah merasakan menjadi 'sumber info' bagi orang lain. Biasanya, orang akan bertanya masalah bayi (karena saya sudah punya balita dua tahun) dan masalah seputar bagaimana caranya bermigrasi dan menetap di luar negeri.

Apakah saya senang bisa berbagi info? Surely. Saya akan ikut senang kalau turut andil membuat seseorang menjadi lebih mantap untuk memberikan hanya ASI bagi newbornnya. Saya juga senang kalau karena saya, orang akan terbuka wawasannya akan kemungkinan bekerja di negara lain. Indahnya berbagi...... (kayak iklannya zakat). Tapi, karena hal ini pula saya jadinya terkadang ingin berteriak "Please oh please, googling the fuc***g info!!!!!!!" Begini ilustrasinya.

Pemeran : Saya (ibu dari balita dua tahun) dan teman kantor di Jakarta dulu (sedang hamil)

Scene : saat hamil 7 bulan

Teman : Kamu dulu ngasih ASI saja ya sejak Sera baru lahir? Emang cukup ya ASI saja? (datang ke saya dengan pengetahuan soal ASI sekosong otaknya anjing saya)

Saya : Mulai menerangkan A-Z soal ASI dan mencoba meyakinkan si newbie ini (berapi- api penuh semangat). Saya menerangkan mulai soal mitos ASI yg gak keluar, saya memberi info tentang berbagai tipe RS dalam hubungannya soal ASI, soal tantangan yang akan dia hadapi dari orang terdekatnya. Pokoknya ndower bibir saya.

Scene : saat anaknya baru lahir

Teman : Menghubungi hp saya setiap 10 menit karena ASI nya gak keluar, susternya nggak mau ngajarin, mertuanya dan emaknya ngegerecokin, bayinya ditaruh di ruang bayi jadi sering dikasih sufor, suaminya nggak tega denger bayinya nangis karena lapar, bla bla bla bla bla....

Saya : Mulai bertanya- tanya dalam hati. Kayaknya saya sudah menyinggung semua hal yang dia tanyakan ke saya. Saya sudah menyarankan dia untuk mencari- cari info dengan lebih detil, dan menginformasikannya ke suaminya juga, jadi pas saat lahiran semuanya siap. Tapi for the sake of the little bub, saya jawab juga pertanyaannya.

Dan kemudian teman saya itu berkata bahwa saat dia mencoba meyakinkan keluarganya masalah ASI ini, dengan ketus suaminya menjawab "Emangnya teman kamu itu dokter apa, kok kamu percaya banget?"

Saat mendengar komentar suaminya, tentu saya jadi jengkel juga. Sudah saya berbaik hati menerangkan kanan kiri depan belakang, eh dikatain untrustable lagi >:(. Tapi kalau dipikir-pikir, sebetulnya apa yang suaminya katakan itu benar juga kan? Siapa sih saya ini, bukan dokter, bukan bidan, bahkan sekedar dukun beranak pun bukan. Saya hanya sekedar teman yang sudah punya anak duluan. Plus tampang saya kan memang kurang meyakinkan. Apa jaminannya pendapat saya itu benar?

Dan sehabis itu, setiap ada masalah, maka ia menghubungi saya. Enaknya mompa pakai alat atau pakai tangan? ASI itu tahan di freezer berapa lama? Menyimpan ASI pakai apa? Bla bla bla. Dari yang mulanya maklum, saya jadi bertanya- tanya, ni cewek ngarti yang namanya internet gak sih? Bisa googling gak sih? (Tapi secara dia punya FB dan skype, saya harus berpikiran positif bahwa dia ngerti dong?). Kalau saja dia googling sebentar saja, dia akan tahu berbagai pendapat tentang tempat yang bisa digunakan untuk menyimpan ASI di freezer, dan bisa memilih pendapat mana yang cocok untuknya. Dan tidak bingung sendiri saat menurut saya menyimpan ASI di botol kaca bertutup karet kodian itu tidak disarankan, sementara banyak temannya yang menggunakan botol kaca itu untuk ASI nya. "Jadi boleh gak sih Meg?" tanyanya bolak- balik dengan bingung. Sumpah kalau tidak ingat seorang bayi tak berdosa yang bakal jadi anak yatim, sudah saya penggal kepalanya ni teman saya.

Tapi okelah, namanya ibu hamil dan baru saja melahirkan itu kan memang tidak bisa dipercaya kesehatan mentalnya. Mungkin dia sudah seperti setengah zombie karena sewaktu hamil susah tidur karena sakit punggung, dan ketika bayinya sudah lahir lebih kagak mungkin lagi tidur karena bayinya nangis melulu seperti sapi digorok. Dan kemudian seorang teman saya, yang lulusan S1, yang ngakunya ingin sekali sekolah keluar negeri, mulai bertanya- tanya kepada saya. Saya sendiri pernah mengalami seperti yang ia alami, dan terkadang memang bingung hendak memulai darimana untuk mencari info dan pilihan. Apa sebaiknya mencoba mencari beasiswa, atau biaya sendiri? Di negara mana? Ambil jurusan apa?

Saya mencoba membantunya untuk mengetahui pilihan apa saja yang dia punya, dan info apa saja yang harus dia cari. Misal, kalau biaya sendiri, ya dia harus cari info tuition fee dan biaya hidup. Plus kalau dia mengharapkan kerja di negara itu dulu, ya dia harus cari info tentang peraturan imigrasinya. Mau beasiswa? Ya coba ikut milis beasiswa dan buka laman- laman beasiswa (bejibun jumlahnya). Dan saya memberi pandangan bahwa dengan statusnya dia yang pekerja swasta di Jakarta, biasanya agak susah, karena kebanyakan beasiswa ditujukan untuk mereka yang berasal dari Indonesia Timur, atau yang dosen, atau pegawai negeri, atau pekerja LSM. Jadi ya dia harus punya 'sesuatu yang unik', yang membuat pemberi beasiswa tertarik untuk membiayainya.

Seminggu kemudian, teman saya ini menyapa saya lagi. Dan pertanyaannya adalah "Kalau aku mau dapat beasiswa di Australia enaknya gimana ya?" Dari pertanyaannya saja saya sudah bisa menebak bahwa dia pasti datang dengan otak masih kosong. Saya coba bertanya dia sudah mencari info apa saja dan apakah sudah ada pandangan yang mau diincarnya itu yang mana. Seperti dugaan saya, dia hanya muter- muter dengan pengetahuan dangkalnya, salah satunya tentang beasiswa AUSAID yang memang paling populer kan di kalangan kita. Saya (dengan mulai gondok) bertanya apakah dia sudah tahu 'nature' dari beasiswa AUSAID itu ditujukan untuk siapa? Lalu apa saja syaratnya? Sudah lihat formnya belum? Sudah tahu apa yang mau 'dijual' belum? Dan tentu anda bisa menebak jawabannya si sarjana tengil ini.

Walaupun saya sering rada gondok menghadapi mereka yang datang ke saya dengan tanpa modal pengetahuan, dan saat kemudian datang lagi tetap tidak lebih berisi, saya berpikir bahwa ini sih sayanya saja yang enggak sabaran. Sampai kemudian, di sebuah milis beasiswa, sang moderator milis mengirimkan email berupa keluhan. Emailnya intinya adalah bahwa dia heran, kenapa begitu banyak pertanyaan yang dikirimkan ke milis ini adalah:

1. Pertanyaan yang dangkal. Yang sebetulnya hanya dengan memencet tombol keyboard di laptop beberapa saat saja jawabannya sudah akan terpampang di laman google atau yahoo atau mesin pencari manapun. Seperti bertanya Monas itu terletak di propinsi mana sih? Yaelah...

2. Pertanyaan yang gak jelas. Ya seperti pertanyaan si sarjana bego teman saya tadi. Gimana ya caranya dapat beasiswa? Ini sama seperti pertanyaan gimana ya kalau mau ke Monas? Ya bakal balik ditanya kan, lha kamu tu dari arah mana, sudah di Jakarta atau kamunya masih di Kalimantan? Trus mau lewat darat laut atau udara? Budgetmu berapa?

Pertanyaan- pertanyaan 'kurang cerdas' seperti itu hanya menunjukkan bahwa yang bertanya itu belum mencari info sama sekali, belum tahu maunya apa, dan bikin gondok yang ditanya. Milis ini niatnya untuk berbagi pengalaman dan mencari info akan sesuatu yang 'advance' seperti kok aplikasi saya ditolak ya oleh universitas A karena masalah anu, apa ada yang punya pengalaman? Bukan pertanyaan ecek- ecek semacam kalau mau kirim aplikasi lamaran itu ke alamat mana ya?

Seorang pengarang yang saya kenal juga pernah dengan heran mengeluh kenapa banyak pertanyaan yang sebetulnya gampang dicari jawabannya harus ditanyakan ke dia via FB nya. Seperti pertanyaan kalau mau mengirim naskah buku, ke alamat penerbitnya dimana ya? Doh, tinggal klik di google alamat penerbit juga bakal muncul. Atau kalau dia memang calon penulis novel, berarti kan dia sudah terbiasa membaca novel, berarti kan dia terbiasa pergi ke toko buku. Di masing- masing buku itu ada alamatnya si penerbit, aduhai adinda calon pengganti JK. Rowling.....

Saya baru merasakan bedanya ditanya oleh mereka yang sudah meluangkan waktu untuk mencari info dan kemudian mengajak berdiskusi saat suatu kali, seorang sahabat SMA saya yang sekarang tinggal di Singapura datang berkunjung kesini. Dia membawa anaknya yang juga masih balita. Dan kemudian, sebagai layaknya calon wisatawan, dia bertanya- tanya mengenai objek wisata apa saja yang enak untuk didatangi disini. Saya sudah menyiapkan jawaban dengan asumsi ni teman seperti kebanyakan orang Indonesia, bertanya dengan pengetahuan nol. Eh, ternyata dia sudah mencari info lengkap di internet. Jadi instead of bertanya "Enaknya aku kemana ya?" dia bertanya apakah peternakan ini (yang dia sudah catat info lengkapnya dari website) menarik untuk dikunjungi seorang balita atau tidak? Jadi dia bertanya ke saya akan hal- hal yang tidak bisa dia temui di internet, dia bertanya pendapat saya sebagai seseorang yang sudah pernah kesana. Dan berdiskusi dengan orang yang sudah punya ilmu itu ternyata jauh lebih menyenangkan. Dia bertanya pendapat saya tentang children garden (di website tampak menarik), dan saya bisa menjawab cukup oke tapi cukup sejam saja untuk menjelajahnya. Dan dia bertanya apakah saya punya tempat lain yang belum dia ketahui. Saya serasa berdiskusi dengan seorang dewasa, bukan anak TK yang harus saya ajarin dari A-Z. (Note: teman saya ini pintar buanget, dulu NEM tertinggi seJatim, dan saat kami duduk bersebelahan di bis yang akan membawa kami ke tempat retret, dia mengajak saya berdiskusi mengenai gaya sentrifugal dan sentripetal -- saya masih ingat penderitaan saya kala itu, berusaha untuk tidak tampak terlalu dungu dihadapannya. Apa memang harus jenius dulu sih baru seseorang mau membuka internet mencari info?)

Selain tentu bisa membuat yang ditanya jengkel, bertanya dengan pengetahuan kosong itu merugikan kita sebagai penanya juga. Contohnya saat seorang teman saya bertanya mengenai pendapat saya tentang kontroversi imunisasi yang sedang gencar saat ini. Saya, tentu memberinya keterangan sebatas yang saya tahu, sebatas apa yang sudah saya baca, dan yang lebih parah lagi, tentu sebatas apa yang saya percayai. Karena saya orang yang pro dengan imunisasi, maka tentu jawaban saya berat sebelah, sadar tidak sadar ya arahnya setuju dengan imunisasi. Padahal mungkin kalau teman saya itu mencari sendiri infonya, membaca berbagai report dari WHO, UNICEF, atau IDAI atau apalah penelitian dari universitas mana, dia mungkin akan sampai pada kesimpulan bahwa dia sebetulnya tidak ingin memberi vaksin anaknya.

Dan seperti teman saya yang bertanya soal ASI, karena ia hanya mendapat info dari saya, ya ia tidak mempunyai dasar yang kuat. Diserang ibunya sedikit saja sudah bingung darimana dasar teori pemikirannya bahwa bayi hanya boleh diberi ASI selama 6 bulan pertama. Lha dasar teorinya hanya "Katanya si Mega." Saya tidak menyalahkan keluarganya yang meragukan kesahihan informasi dari saya. Lha saya itu siapa? Dan yang bikin bete, lalu si teman akan berkata "Kamu YAKIN kan Meg? Emang bener kan bayi hanya boleh dikasih ASI?" Lha yang jadi emaknya ni bayi siapa? Kok saya yang ditodong harus yakin bahwa hal itu benar?

Kalau saya yang diserang, karena saya sudah membaca ratusan laman, saya bisa dengan pede berantem. Bahwa WHO sekarang sudah dengan jelas menuliskan memberi ASI saja sampai 6 bulan. Alasannya? Karena penelitian dari si A dan si B menunjukkan bahwa bayi yang hanya diberi ASI saja selama 6 bulan akan lebih kecil kemungkinan terkena diare, dan memperkecil resiko terkena diabetes dan penyakit endokrin lainnya di usia dewasa. Saya akan maju dengan lebih yakin karena saya diback-up pengetahuan ilmiah dari sumber terpercaya. Bukan karena saya lebih pandai dari teman saya tadi, tapi semata karena saya meluangkan waktu untuk MEMBACA. Pendapat orang lain adalah masukan berharga, tapi mendasari keputusan hanya dari mendengarkan pendapat- pendapat orang karena anda terlalu malas untuk mencari tahu sendiri? Um, kasarkah kalau saya sebut itu bodoh dan malas?

Okelah mungkin membaca ratusan laman itu terlalu makan waktu, kan kita orang sibuk (nonton Cinta Fitri, baca FHM, mikirin gimana caranya ngupdate status FB tiap 10 menit). Tapi saat saya mengirimkan sebuah link website ke saudara saya tentang suatu acara yang sudah berbulan- bulan ingin dihadirinya, dan dia langsung membalas email saya dengan bertanya Kapan acaranya? Bayar nggak? Dimana acaranya? Rasa- rasanya saya ingin langsung melempar wajahnya dengan panci butut saya. Apa gunanya saya beri link kalau tidak dibaca sama sekali? Itu sudah direct link langsung ke info yang dia butuhkan lho! Kurang apa coba?

Jadi sekarang, saat seseorang seperti si sarjana tengil datang ke saya dengan pertanyaan dangkal bin setumpit, saya akan meresponnya dengan mencarikan sebuah link yang sederhana dan berguna, dan mengirimkannya ke si penanya dengan keterangan "Baca dulu, lalu mari berdiskusi." Satu link itu akan saya jadikan filter, kalau si penanya tidak mau membacanya dan kemudian datang lagi ke saya dengan otak masih melompong, ya berarti dia hanya akan membuang- buang waktu saya. Don't expect me to do your homework just because you're too lazy or 'busy'. Iya kalau jaman dulu, kita harus susah payah ke perpustakaan dan membuka buku setebal bantal. Lha sekarang kan apa sih yang gak ada di google?

Saya maklumlah kalau yang bertanya itu memang pendidikannya rendah, atau computer illiterate, tapi kalau dia seorang sarjana juga, dan tiap 5 menit update status di twitter, kan ya kebangetan kalau sekedar bertanya Monas itu terletak dimana. Kalau dulu para anggota perkumpulan LINUX memakai istilah RTFM untuk menjawab mereka yang tidak mau membaca manual, saya sekarang akan menjawab GTFI bagi para pemalas yang enggan mencari info di google.

Note: tapi sampai sekarang, saya masih bertoleransi kalau yang bertanya adalah seorang ibu tentang ASI atau apapun. Ya masak karena ibunya malas berusaha dan membaca, lalu anaknya yang harus menderita? For the sake of the little baby, saya biasanya menahan amarah saya akan kemalasan ibunya mencari info. Dan di malam hari, saat kami berbaring berdampingan sebelum tidur, gantian saya yang marah- marah ke si Okhi sebagai pelampiasan. Life is beautiful.... (for me, not him)

Monday 12 December 2011

My Monday Note -- Mertua vs Menantu

Beberapa abad yang lalu, saat saya baru saja lulus kuliah, saya sedang duduk nongkrong- nongkrong bersama beberapa ekor sahabat saya. Saat itu, kebanyakan dari kami sudah berstatus punya pacar yang cukup serius. Belum sebegitu seriusnya untuk menentukan tanggal pernikahan, tapi ya cukup serius untuk tidak melirik cowok- cowok lain (dengan terang- terangan). Seorang sahabat saya saat itu sedang gundah gulana bin merana. Jadi ceritanya, sang cowok pacarnya yang sudah lulus kuliah, mulai menunjukkan sinyal- sinyal mau serius. Masalahnya adalah, disuatu kencan mereka di keremangan senja (halah gombal banget sih), si cowok berkata " Nanti kalau kita baru nikah, kita tinggal dulu ya barang setahun di rumahku. Ibuku pingin ngajarin kamu dulu biar tahu gimana kebiasaanku. Gimana masak sayur singkong yang kusuka, ya gitulah."

Kami terdiam sejenak, dan detik berikutnya meledaklah tawa kami. Alasan utama, karena mukanya si teman ini lho, merana sangat. Persis kutu kucing kelindes truk tronton. Dan tentu saja kami tertawa karena mau tidak mau geli juga membayangkan sang ibu mertua akan berubah menjadi mentor dan instrukturnya dalam belajar caranya menyenangkan suami (kata pepatah, hal yang menyedihkan itu lucu selama bukan kita yang mengalami :D).

Saya kemudian melupakan obrolan di gazebo kampus itu (dan entah kenapa teman saya itu kemudian putus dari pacarnya, jadi batallah rencana mentor bersama mertua) sampai beberapa hari lalu, seorang bekas teman sekantor saya di Jakarta dulu, yang baru saja punya bayi pertamanya, menyapa saya. Dia menanyakan beberapa yang ada kaitannya dengan bayi, karena kan saya sudah seperti kaum tetua yang berpengalaman (sombong karena punya bayi yang sudah 2 tahun). Setelah kami bercakap- cakap soal makanan apa yang sebaiknya diberikan ke bayi pertama kali dan tetek bengek per-bayi-an lainnya, sampailah dia pada inti permasalahan terbesarnya dalam merawat bayinya. Bukan, bukan soal ASI nya yang nggak keluar, atau harga diapers yang selangit, atau soal keharusan bangun setiap dua jam di malam hari. Masalah terberat yang membuat teman kantor saya cembetut adalah: IBU MERTUANYA YANG HOBI NGEGERECOKIN. Huahahahha, lha kok balik lagi ke urusan mertua.

Meskipun menurut teman saya sumber permasalahan dalam hubungan mertua menantu yang dialaminya adalah perilaku mertuanya yang sok ngatur, bawel dan suka ikut campur (dan image itu yang banyak tertanam di otak kita, thanks to sinetron Indonesia :D), tapi bagi saya sih konflik menantu mertua adalah suatu keniscayaan dalam hidup.

Saat saya memutuskan untuk menikahi Okhi, berarti saya mendapatkan paket sampingan; keluarganya Okhi. Dan paket yang paling 'menarik' pastinya emaknya Okhi dong. Saya harus konsekuen untuk mencintai emaknya, dan berusaha memperlakukan mamanya Okhi seperti mama saya sendiri. Dan beliaupun akan berusaha menerima saya seperti anak kandungnya. Kami berdua adalah dua orang perempuan, yang berbeda generasi, yang berbeda budaya dan nilai hidup yang dianut, berbeda pandangan mengenai mana yang pantas dan mana yang tidak sopan (mungkin menurut mertua makan itu harus di meja dengan rapi bersama- sama, sementara si menantu merasa makan ya boleh di ruang santai sambil ongkang- ongkang kaki). Secara natural, kita akan memilih berdekatan dan berhubungan dengan orang yang membuat kita nyaman. Tapi seorang mertua dan menantu, mereka disatukan bukan karena kesamaan pandangan atau kecocokan sifat, tapi semata karena cinta mereka pada satu pria (anaknya si mertua, suami si menantu).

Sudah belum tentu sifatnya cocok dan nilai yang dianut sama, seorang mertua dan menantu kemudian diharapakan mempunyai hubungan yang sehangat ibu dan anak kandung, tapi lebih sopan dan beradab dari hubungan ibu dan anak kandung. Dan sebagai layaknya seorang ibu ke anaknya, ya secara natural seorang mertua mempunyai kecenderungan untuk 'menasehati' dan memberikan komentar yang terkadang sok ikut campur bin menyebalkan (persis kelakuan emak kandung kita kan). But here is the problem; saya bisa dengan leluasa berantem dengan emak saya atau bersilang pendapat sambil cemberut saat kami berbeda keyakinan. Lha kalau sama mertua saya? Ya mana bisa dong? Pasti mertua saya bakal syok kalau disaat beliau mengusulkan Sera diberi susu formula dulu, dan kemudian saya menjawab dengan gaya saya biasanya saat menjawab emak saya: "Mama tu katrok kok memang. Itu kan jaman dulu, bayi harus dikasih susu formula. Sekarang tuh malah harus ASI. Gimana sih mama ini, ketinggalan jaman!" Kenapa saya curiga mertua saya bakal terkena stroke mendadak ya kalau saya menjawab dengan gaya begitu?

Plus, selama belasan tahun kehidupan si Okhi, mamanya adalah 'ratu' yang menentukan dari mulai si Okhi harus sarapan apa sebelum berangkat sekolah hingga kapan saatnya membeli kaus kaki baru untuk menggantikan yang lama yang telah berlubang dan beraroma bangkai tikus. Nah sekarang, gantian saya yang ingin menempatkan diri sebagai dirigen dalam orkestra rumah tangga saya, yang ingin berkuasa untuk memutuskan apakah hendak membeli cabe merah atau cabe hijau. Dan seperti mamanya Okhi berkuasa menentukan jajan apa yang boleh dibeli Okhi di warung, saya sekarang ingin berkuasa menentukan apakah anak saya boleh diberi es krim dan permen. Dengan seorang former queen yang menobatkan diri sebagai penasehat perkawinan dan seorang queen wannabe yang belum tentu tertarik untuk dinasehati, dan dua makhluk ini berada dalam satu scene, dan seseorang berharap tidak akan ada konflik yang terjadi whatsoever, yah bagi saya itu seperti mengharapkan serigala berbulu domba, semangka berdaun sirih. Naif binti sukiyem namanya.

Tentu saja ada juga pasangan mertua menantu yang kompak tanpa konflik. Itu saya sebut sindrom kurva normal. 10% dari populasi adalah mertua menantu yang kebetulan karena takdir sangat cocok dan lengket bak perangko. 80% adalah mereka yang seperti saya dan mertua saya (biasa-biasa saja, tidak bisa disebut sohib dekat tapi juga bukannya saling benci) dan 10% lagi benar- benar bak iblis (saling melotot dan meracun kayak di sinetron).

Kalau memang hubungan seorang mertua dan menantu (perempuan) memang rawan konflik, lalu kenapa ada yang sampai saling sakit hati dan bermusuhan sementara ada juga yang biasa- biasa saja (kadang bersilang pendapat tapi bisa hidup dengan damai dan ayem tentrem)? Bagi saya, ada tiga hal yang biasanya menjadi penentunya.

Yang pertama, tentu seberapa berbedanya pandangan hidup, budaya dan nilai yang dianut seorang mertua dan menantunya. Semakin berbeda, ya semakin besar kemungkinan berantemnya. Juga sifat mereka, kalau yang satu pengalah misalnya, atau cuek, ya mungkin akan lebih santai dalam menghadapi pihak satunya. Tapi kalau dua- duanya ngotot dan gampang angot seperti saya, ya bakal gampang meleduk seperti granat yang akhir- akhir ini disamarkan menjadi tabung LPG ijo cilik oleh pemerintah.

Yang kedua, tentunya jarak yang memisahkan antara si menantu dan mertua. Saya pikir, semakin lama seorang menantu tinggal bersama mertua (apalagi di rumah mertua), maka akan semakin besar peluang untuk 'bermusuhan'. Sebetulnya bukan semata karena mertua dan menantu memang ditakdirkan bergesekan, tapi seperti kata pepatah, siapapun yang bertamu dan tinggal di rumah seseorang lebih dari tiga hari, pasti akan menimbulkan gesekan. Di sebuah cerita di donal bebek, saat Gufi menumpang di rumah Miki yang adalah sohib sejatinya, maka semuanya berakhir dengan bencana. Miki yang rapi, bersanding dengan Gufi yang berantakan. Mikinya marah, Gufinya marah. Dan untuk pertama kalinya, hubungan mereka menjadi tegang dan saling membenci. Semata karena tinggal bersama dalam satu rumah.

Ini hanya cerita dua orang sahabat yang bisa lebih berterus terang antar satu sama lainnya. Bayangkan kalau itu mertua saya, yang tentu tidak bisa saya ajak bicara terang-terangan (karena beliau kan bukan sahabat saya), yang pastinya sekali dua kali ingin memberi nasehat seperti layaknya seorang ibu terhadap anaknya dan mungkin hanya ingin menunjukkan cara membuat dadar jagung yang enak seperti yang disukai Okhi (sementara bagi telinga si menantu seolah si mertua menunjukkan bahwa dadar jagung bikinan mantunya enggak enak rasanya).

Dan yang terakhir, tentu sikap si suami dalam menghadapi konflik ini. Dalam urusan mertua menantu ini, mau tidak mau, suka tidak suka, si suami akan memegang peranan besar. Banyak teman saya yang jadinya lebih merasa jengkel lagi karena bukan saja merasa mertuanya ngegerecokin, tapi lebih lagi suaminya tidak membelanya. Atau malah membela emaknya.

Nah, karena saya lebih suka mencegah daripada mengobati (plus saya kan pengecut orangnya), maka saya pikir- pikir seharusnya masalah dengan mertua ini sudah harus diantisipasi jauh- jauh hari. Kalau perlu sebelum menikah, setelah menemukan kata sepakat untuk masalah penting semacam istri boleh kerja gak dan mau punya anak berapa biji, nah lanjutkanlah perbincangan mengenai urusan mertua ini.

Saya dulu dengan naif berpikir bahwa saya tidak akan bermasalah dengan mertua saya, karena saya orang yang cuek dan ibu mertua saya bukan ibu yang bawel. Tapi Okhi, yang mungkin jauh lebih mengenal saya dan emaknya, dengan tegas berkata bahwa sehabis kami menikah, maka kami harus tinggal somewhere else. Boleh ngontrak rumah ringsep di tengah hutan, atau bahkan kalau terpaksa tinggal di rumah bapak saya, tapi sama sekali tidak boleh tinggal di rumahnya dia. Dalam keyakinannya Okhi, nggak mungkin mertua dan menantu cewek tinggal satu rumah tanpa gesekan (walau saya tahu alasan sesungguhnya adalah okhi malu ketahuan betapa tidak becusnya istrinya dalam segala hal :D).

Oke, maka tinggallah kami di rumah kami sendiri, istana kami, yang di suatu hari yang cerah, dengan tiba- tiba separuh lantai garasinya runtuh ke sungai, dan tembok belakang halaman rumah kami ingin meniru miringnya menara Pisa. Tapi itu cerita yang lain. Life is beautiful. Dan kemudian saya punya Sera. Dan kemudian mama mertua saya menginap untuk membantu saya merawat Sera. Dan bahkan dengan seorang ibu mertua yang tidak bawel dan sifat saya yang cuek, perbedaan pendapat tidak bisa dihindari. Saya sempat jengkel dan saya yakin mertua saya juga sempat gondok.

Menurut penerawangan saya, tentu idealnya adalah saat pasangan menikah, maka mereka tinggal sendiri, terpisah dari kedua orang tua. Masak berani ngawinin anak orang nggak berani bayar tagihan listrik sendiri sih? Mau rumahnya serungsep kandang bebek juga tetap asyik, kan bisa lari- lari telanjang berdua mengitari rumah (Bolywood versi Vivid itu namanya). Dan kalau karena satu dan lain hal memang kondisi tidak memungkinkan misalnya untuk tinggal sendiri, maka bagi saya lebih baik tinggal di rumah orangtua si cewek. Bukan masalah nggak adil sih, tapi yang mempunyai kemungkinan berantem paling besar kan memang menantu dan mertua cewek. Mungkin karena cewek yang lebih mengurus masalah domestik tetek bengek, mungkin karena pada dasarnya cewek lebih bawel dan perasa. Kayaknya jarang saya dengar suami bertengkar dengan mertuanya. Dan kalau memang kondisi memaksa (mertua sakit misalnya) untuk tinggal di rumah orang tua yang cowok, ya jangan bersifat naif dengan keyakinan tidak akan ada gesekan yang akan timbul. Mungkin sejak awal sudah harus disiapkan strategi untuk meminimalkan konflik.

Bagaimana kalau calon suaminya adalah tipe pria kesayangan mama? Yang ingin supaya istrinya belajar dari mamanya di segala bidang seperti mantan pacar teman saya itu? Nah bagi saya, salah satu hal paling indah dari menikah kan petualangannya. Kita seolah menjelajah sebuah tempat yang selama ini belum pernah kita datangi. Setiap hari, ada hal baru yang kita temukan. Hal baru yang membuat semakin bangga (seperti ternyata suami kita terampil memperbaiki berbagai alat elektronik) atau yang malah membuat kita jengkel (seperti ternyata suami kita mempunyai kemampuan mengorok kelas dunia). Kalau unsur kejutan dan petualangan ini kemudian dirampas karena mertua ingin menunjukkan semua hal yang ada pada diri suami, lalu apa menariknya lagi? Mana yang lebih menarik, mencoba memasak berbagai makanan dan pada akhirnya disuatu sore suami saya menemukan bahwa sup ikan saya ternyata enak juga, atau duduk disamping mertua dan mencatat DO's dan DONT's dalam memasak untuk suami? Suami saya sangat suka dadar jagung buatan emaknya, tapi saat menikah dengan saya, bukankah dia punya kesempatan untuk menemukan ternyata dia suka juga makan sayur pakis (yang tidak pernah dimasak di rumahnya). Atau menemukan restoran bebek yang enak (yang belum pernah didatangi dengan emaknya).

Kalau saat menikah seorang pria ingin istrinya menjadi duplikat emaknya, ya seperti becandaannya orang Betawi, "Sono, kawin aja sama emak lu." Kalau suami saya berharap saya belajar berbagai hal dari ibunya, maka dia harus fair dan menuruti permintaan saya ini. Kalau ia berharap saya mengikuti SEMUA jejak emaknya instead of mencoba cara saya sendiri; bagaimana cara menyiapkan sarapan, bagaimana cara mencuci baju, bagaimana cara memperlakukan suami, maka pelajaran itu harus tuntas. Saya juga akan minta mertua saya menunjukkan bagaimana cara beliau beraksi di ranjang dan seperti apa pilihan beha dan celana dalamnya agar bisa saya tiru. Nah, sekarang baru fair kan. Suami saya akan mendapatkan duplikat emaknya dalam segala aspek kehidupannya :D.

Bagaimana kalau si suami merasa emaknya adalah ibu yang paling hebat, jadi dia lebih percaya pendapat ibunya daripada istrinya dalam merawat anak misalnya? Saya pribadi sih akan sangat bahagia bila mendapatkan suami yang sayang dan hormat pada emaknya, yang mempunyai hubungan hangat dengan orang tuanya. Karena itu menunjukkan calon suami saya mempunyai pandangan positif akan hidup berkeluarga. Dan sayapun tentunya tidak keberatan belajar banyak hal soal anak dari mertua yang memang sudah lebih berpengalaman. Dan saat suami saya berkata ibunya adalah ibu terhebat, saya akan mengangguk- angguk setuju.

Tapi, ibunya adalah ibu terhebat bagi anaknya, yaitu suami saya. Bagi anak saya, ya seharusnya sayalah ibu terhebat baginya kan? Untuk apa calon suami saya ingin menikahi saya kalau ia tidak yakin akan kemampuan saya untuk menjadi ibu dan istri yang terbaik? Jadi bila seorang pria tidak yakin sekali bahwa saya akan menjadi pendidik terbaik bagi anak kami, bila seorang pria tidak mempercayai kemampuan saya untuk memilihkan makanan apa yang terbaik bagi anak kami, ya jangan menikah dengan saya.

Saat seseorang memutuskan menikahi saya, dia harus memiliki keyakinan bahwa saya akan menjadi ibu terhebat bagi anaknya, dia harus lebih mendengarkan pendapat saya dibandingkan semua orang lain, dan apa yang saya inginkan dan harapkan haruslah THE MOST MATTER di telinganya. Lha kan saya adalah orang yang akan membangun masa depan bersamanya, satu- satunya orang yang akan melihat isi dalam celananya, satu- satunya orang yang swarga nunut neraka katut? Pastinya saya juga harus menjadi orang yang paling dia percaya dan dengarkan dong. Dan itu juga gunanya pacaran aka penjajagan sebelum kawin kan, untuk menemukan bahwa kita memiliki kesamaan misi, visi dan taksi sebelum berkongsi.

Apakah memangnya saya tidak mungkin salah dan mertua yang benar? Ya enggaklah, saya kan bukan malaikat. Hanya sebetulnya kebanyakan masalah yang timbul adalah perbedaan cara pandang semata, enggak ada yang salah dan benar.Seperti mungkin mertua terbiasa makan dengan gaya rada formal di meja makan bersama- sama sementara si menantu dibesarkan dengan kebiasaan makan di ruang keluarga rame- rame. Dan mungkin sekedar perbedaan cara si mertua merawat anak di tahun 80an dulu, dengan metode yang ada sekarang. Soal paling gampang ya soal ASI misalnya, atau dulu anak umur 4 bulan sudah diberi makan sementara sekarang harus menunggu 6 bulan. Atau bagi mertua si cucu harus digendong saat menangis sementara emaknya tidak mau begitu. Ya, beda orang beda caranya kan?

Kalau sudah begini, saya bersyukur juga dengan cara si Okhi. Yang sejak awal dengan tegas menetapkan semua keluhan, saran dan nasehat harus disampaikan melalui dirinya. Jadi tidak ada ceritanya saya merasa dipojokkan oleh keluarganya dia bila saya berbeda pandangan dengan mereka. Kalau mertua saya berbeda pandangan dengan saya, dia harus meyakinkan Okhi bahwa caranya beliau lebih baik dari cara saya. Dan nantinya Okhi akan bertanya pada saya, dan meminta pendapat saya. Kalau ternyata cara mertua saya memang lebih baik, atau kalau permintaannya masuk akal misalnya, ya saya tidak akan keberatan. Tapi kalau saya ternyata tetap kekeh dengan cara saya, dan saya bisa meyakinkan Okhi bahwa my way is already the best, ya Okhi lah yang akan bicara dengan emaknya. Dia yang akan berkata "Kami memutuskan akan tetap melakukan ini Ma."

Dan karena cara ini, saya tidak pernah bertengkar dengan mertua saya jadinya. Saya dan mertua saya harus pergi ke Okhi dan meyakinkan Okhi bila kami mempunyai keinginan. Dan tentu saja Okhi kan pria dengan akal sehat juga (walau rada nggak jangkep kata orang Jawa), jadi dia tidak akan juga dengan membabi buta membela suatu hal semata hanya karena itu pendapat emaknya, atau pendapat istrinya.

Tapi namanya jadi manusia, ya kita harus konsekuen juga sih. Tentu kita berharap menjadi ratu di rumah tangga kita. Tapi kalau kita memang menumpang di rumah mertua (apalagi kalau itu bukan karena permintaan mertua yang sakit tapi hanya karena kitanya yang terlalu miskin untuk hidup sendiri atau terlalu manja untuk hidup berpisah) ya wajar dong kalau mertua mempunyai aturannya sendiri. Itu kan rumahnya beliau. Sebagai balasan karena sudah menumpang hidup, ya kita harus lebih bisa menahan hati dan sebisa mungkin mengikuti aturannya mertua. Juga kalau karena kitanya bekerja misalnya dan menyerahkan pemeliharaan anak kita ke mertua, ya jangan disalahkan juga kalau mertua membesarkan anak dengan cara yang berbeda dari kemauan kita. Ada harga yang harus dibayar untuk setiap keputusan kita. Ada resiko dari keputusan untuk hidup bersama mertua dan meminta bantuan beliau.

Tidak ada namanya mertua jahat atau mertua baik. Yang ada hanyalah mertua yang berada di samping si menantu setiap menit dan mengiringi setiap langkah kehidupannya (yang berakibat dia tampak sebawel mak lampir di mata menantunya) atau yang hanya bertemu sekali seminggu, sesekali datang dalam rangka menjenguk (yang berakibat ia tampak sebagai mertua yang pengertian dan nenek yang sabar bagi cucunya)........

Kalau sudah begini, saya pikir memang masuk akal kenyataan bahwa masih ada pria yang punya istri banyak, tapi tidak pernah ada wanita yang punya suami banyak. Hanya wanita gila yang ingin punya lima ibu mertua.

Makanya tirulah semboyannya Okhi, istri cukup satu, selingkuhan saja yang dibanyakin *asahgolok

Seperti peribahasa, waswas bak masuk ke mulut kudanil