Namanya manusia, kita adalah makhluk sosial. Kita suka pelajaran ilmu sosial, kita suka ikut bakti sosial, dan kita suka saling bersosialisasi. Dan tentu kita suka bertanya pada orang lain; warung sate mana yang paling enak, lebih menguntungkan pake SIM card apa, de el el. Dan meskipun saya bukan seorang ahli juga, tapi saya juga sudah pernah merasakan menjadi 'sumber info' bagi orang lain. Biasanya, orang akan bertanya masalah bayi (karena saya sudah punya balita dua tahun) dan masalah seputar bagaimana caranya bermigrasi dan menetap di luar negeri.
Apakah saya senang bisa berbagi info? Surely. Saya akan ikut senang kalau turut andil membuat seseorang menjadi lebih mantap untuk memberikan hanya ASI bagi newbornnya. Saya juga senang kalau karena saya, orang akan terbuka wawasannya akan kemungkinan bekerja di negara lain. Indahnya berbagi...... (kayak iklannya zakat). Tapi, karena hal ini pula saya jadinya terkadang ingin berteriak "Please oh please, googling the fuc***g info!!!!!!!" Begini ilustrasinya.
Pemeran : Saya (ibu dari balita dua tahun) dan teman kantor di Jakarta dulu (sedang hamil)
Scene : saat hamil 7 bulan
Teman : Kamu dulu ngasih ASI saja ya sejak Sera baru lahir? Emang cukup ya ASI saja? (datang ke saya dengan pengetahuan soal ASI sekosong otaknya anjing saya)
Saya : Mulai menerangkan A-Z soal ASI dan mencoba meyakinkan si newbie ini (berapi- api penuh semangat). Saya menerangkan mulai soal mitos ASI yg gak keluar, saya memberi info tentang berbagai tipe RS dalam hubungannya soal ASI, soal tantangan yang akan dia hadapi dari orang terdekatnya. Pokoknya ndower bibir saya.
Scene : saat anaknya baru lahir
Teman : Menghubungi hp saya setiap 10 menit karena ASI nya gak keluar, susternya nggak mau ngajarin, mertuanya dan emaknya ngegerecokin, bayinya ditaruh di ruang bayi jadi sering dikasih sufor, suaminya nggak tega denger bayinya nangis karena lapar, bla bla bla bla bla....
Saya : Mulai bertanya- tanya dalam hati. Kayaknya saya sudah menyinggung semua hal yang dia tanyakan ke saya. Saya sudah menyarankan dia untuk mencari- cari info dengan lebih detil, dan menginformasikannya ke suaminya juga, jadi pas saat lahiran semuanya siap. Tapi for the sake of the little bub, saya jawab juga pertanyaannya.
Dan kemudian teman saya itu berkata bahwa saat dia mencoba meyakinkan keluarganya masalah ASI ini, dengan ketus suaminya menjawab "Emangnya teman kamu itu dokter apa, kok kamu percaya banget?"
Saat mendengar komentar suaminya, tentu saya jadi jengkel juga. Sudah saya berbaik hati menerangkan kanan kiri depan belakang, eh dikatain untrustable lagi >:(. Tapi kalau dipikir-pikir, sebetulnya apa yang suaminya katakan itu benar juga kan? Siapa sih saya ini, bukan dokter, bukan bidan, bahkan sekedar dukun beranak pun bukan. Saya hanya sekedar teman yang sudah punya anak duluan. Plus tampang saya kan memang kurang meyakinkan. Apa jaminannya pendapat saya itu benar?
Dan sehabis itu, setiap ada masalah, maka ia menghubungi saya. Enaknya mompa pakai alat atau pakai tangan? ASI itu tahan di freezer berapa lama? Menyimpan ASI pakai apa? Bla bla bla. Dari yang mulanya maklum, saya jadi bertanya- tanya, ni cewek ngarti yang namanya internet gak sih? Bisa googling gak sih? (Tapi secara dia punya FB dan skype, saya harus berpikiran positif bahwa dia ngerti dong?). Kalau saja dia googling sebentar saja, dia akan tahu berbagai pendapat tentang tempat yang bisa digunakan untuk menyimpan ASI di freezer, dan bisa memilih pendapat mana yang cocok untuknya. Dan tidak bingung sendiri saat menurut saya menyimpan ASI di botol kaca bertutup karet kodian itu tidak disarankan, sementara banyak temannya yang menggunakan botol kaca itu untuk ASI nya. "Jadi boleh gak sih Meg?" tanyanya bolak- balik dengan bingung. Sumpah kalau tidak ingat seorang bayi tak berdosa yang bakal jadi anak yatim, sudah saya penggal kepalanya ni teman saya.
Tapi okelah, namanya ibu hamil dan baru saja melahirkan itu kan memang tidak bisa dipercaya kesehatan mentalnya. Mungkin dia sudah seperti setengah zombie karena sewaktu hamil susah tidur karena sakit punggung, dan ketika bayinya sudah lahir lebih kagak mungkin lagi tidur karena bayinya nangis melulu seperti sapi digorok. Dan kemudian seorang teman saya, yang lulusan S1, yang ngakunya ingin sekali sekolah keluar negeri, mulai bertanya- tanya kepada saya. Saya sendiri pernah mengalami seperti yang ia alami, dan terkadang memang bingung hendak memulai darimana untuk mencari info dan pilihan. Apa sebaiknya mencoba mencari beasiswa, atau biaya sendiri? Di negara mana? Ambil jurusan apa?
Saya mencoba membantunya untuk mengetahui pilihan apa saja yang dia punya, dan info apa saja yang harus dia cari. Misal, kalau biaya sendiri, ya dia harus cari info tuition fee dan biaya hidup. Plus kalau dia mengharapkan kerja di negara itu dulu, ya dia harus cari info tentang peraturan imigrasinya. Mau beasiswa? Ya coba ikut milis beasiswa dan buka laman- laman beasiswa (bejibun jumlahnya). Dan saya memberi pandangan bahwa dengan statusnya dia yang pekerja swasta di Jakarta, biasanya agak susah, karena kebanyakan beasiswa ditujukan untuk mereka yang berasal dari Indonesia Timur, atau yang dosen, atau pegawai negeri, atau pekerja LSM. Jadi ya dia harus punya 'sesuatu yang unik', yang membuat pemberi beasiswa tertarik untuk membiayainya.
Seminggu kemudian, teman saya ini menyapa saya lagi. Dan pertanyaannya adalah "Kalau aku mau dapat beasiswa di Australia enaknya gimana ya?" Dari pertanyaannya saja saya sudah bisa menebak bahwa dia pasti datang dengan otak masih kosong. Saya coba bertanya dia sudah mencari info apa saja dan apakah sudah ada pandangan yang mau diincarnya itu yang mana. Seperti dugaan saya, dia hanya muter- muter dengan pengetahuan dangkalnya, salah satunya tentang beasiswa AUSAID yang memang paling populer kan di kalangan kita. Saya (dengan mulai gondok) bertanya apakah dia sudah tahu 'nature' dari beasiswa AUSAID itu ditujukan untuk siapa? Lalu apa saja syaratnya? Sudah lihat formnya belum? Sudah tahu apa yang mau 'dijual' belum? Dan tentu anda bisa menebak jawabannya si sarjana tengil ini.
Walaupun saya sering rada gondok menghadapi mereka yang datang ke saya dengan tanpa modal pengetahuan, dan saat kemudian datang lagi tetap tidak lebih berisi, saya berpikir bahwa ini sih sayanya saja yang enggak sabaran. Sampai kemudian, di sebuah milis beasiswa, sang moderator milis mengirimkan email berupa keluhan. Emailnya intinya adalah bahwa dia heran, kenapa begitu banyak pertanyaan yang dikirimkan ke milis ini adalah:
1. Pertanyaan yang dangkal. Yang sebetulnya hanya dengan memencet tombol keyboard di laptop beberapa saat saja jawabannya sudah akan terpampang di laman google atau yahoo atau mesin pencari manapun. Seperti bertanya Monas itu terletak di propinsi mana sih? Yaelah...
2. Pertanyaan yang gak jelas. Ya seperti pertanyaan si sarjana bego teman saya tadi. Gimana ya caranya dapat beasiswa? Ini sama seperti pertanyaan gimana ya kalau mau ke Monas? Ya bakal balik ditanya kan, lha kamu tu dari arah mana, sudah di Jakarta atau kamunya masih di Kalimantan? Trus mau lewat darat laut atau udara? Budgetmu berapa?
Pertanyaan- pertanyaan 'kurang cerdas' seperti itu hanya menunjukkan bahwa yang bertanya itu belum mencari info sama sekali, belum tahu maunya apa, dan bikin gondok yang ditanya. Milis ini niatnya untuk berbagi pengalaman dan mencari info akan sesuatu yang 'advance' seperti kok aplikasi saya ditolak ya oleh universitas A karena masalah anu, apa ada yang punya pengalaman? Bukan pertanyaan ecek- ecek semacam kalau mau kirim aplikasi lamaran itu ke alamat mana ya?
Seorang pengarang yang saya kenal juga pernah dengan heran mengeluh kenapa banyak pertanyaan yang sebetulnya gampang dicari jawabannya harus ditanyakan ke dia via FB nya. Seperti pertanyaan kalau mau mengirim naskah buku, ke alamat penerbitnya dimana ya? Doh, tinggal klik di google alamat penerbit juga bakal muncul. Atau kalau dia memang calon penulis novel, berarti kan dia sudah terbiasa membaca novel, berarti kan dia terbiasa pergi ke toko buku. Di masing- masing buku itu ada alamatnya si penerbit, aduhai adinda calon pengganti JK. Rowling.....
Saya baru merasakan bedanya ditanya oleh mereka yang sudah meluangkan waktu untuk mencari info dan kemudian mengajak berdiskusi saat suatu kali, seorang sahabat SMA saya yang sekarang tinggal di Singapura datang berkunjung kesini. Dia membawa anaknya yang juga masih balita. Dan kemudian, sebagai layaknya calon wisatawan, dia bertanya- tanya mengenai objek wisata apa saja yang enak untuk didatangi disini. Saya sudah menyiapkan jawaban dengan asumsi ni teman seperti kebanyakan orang Indonesia, bertanya dengan pengetahuan nol. Eh, ternyata dia sudah mencari info lengkap di internet. Jadi instead of bertanya "Enaknya aku kemana ya?" dia bertanya apakah peternakan ini (yang dia sudah catat info lengkapnya dari website) menarik untuk dikunjungi seorang balita atau tidak? Jadi dia bertanya ke saya akan hal- hal yang tidak bisa dia temui di internet, dia bertanya pendapat saya sebagai seseorang yang sudah pernah kesana. Dan berdiskusi dengan orang yang sudah punya ilmu itu ternyata jauh lebih menyenangkan. Dia bertanya pendapat saya tentang children garden (di website tampak menarik), dan saya bisa menjawab cukup oke tapi cukup sejam saja untuk menjelajahnya. Dan dia bertanya apakah saya punya tempat lain yang belum dia ketahui. Saya serasa berdiskusi dengan seorang dewasa, bukan anak TK yang harus saya ajarin dari A-Z. (Note: teman saya ini pintar buanget, dulu NEM tertinggi seJatim, dan saat kami duduk bersebelahan di bis yang akan membawa kami ke tempat retret, dia mengajak saya berdiskusi mengenai gaya sentrifugal dan sentripetal -- saya masih ingat penderitaan saya kala itu, berusaha untuk tidak tampak terlalu dungu dihadapannya. Apa memang harus jenius dulu sih baru seseorang mau membuka internet mencari info?)
Selain tentu bisa membuat yang ditanya jengkel, bertanya dengan pengetahuan kosong itu merugikan kita sebagai penanya juga. Contohnya saat seorang teman saya bertanya mengenai pendapat saya tentang kontroversi imunisasi yang sedang gencar saat ini. Saya, tentu memberinya keterangan sebatas yang saya tahu, sebatas apa yang sudah saya baca, dan yang lebih parah lagi, tentu sebatas apa yang saya percayai. Karena saya orang yang pro dengan imunisasi, maka tentu jawaban saya berat sebelah, sadar tidak sadar ya arahnya setuju dengan imunisasi. Padahal mungkin kalau teman saya itu mencari sendiri infonya, membaca berbagai report dari WHO, UNICEF, atau IDAI atau apalah penelitian dari universitas mana, dia mungkin akan sampai pada kesimpulan bahwa dia sebetulnya tidak ingin memberi vaksin anaknya.
Dan seperti teman saya yang bertanya soal ASI, karena ia hanya mendapat info dari saya, ya ia tidak mempunyai dasar yang kuat. Diserang ibunya sedikit saja sudah bingung darimana dasar teori pemikirannya bahwa bayi hanya boleh diberi ASI selama 6 bulan pertama. Lha dasar teorinya hanya "Katanya si Mega." Saya tidak menyalahkan keluarganya yang meragukan kesahihan informasi dari saya. Lha saya itu siapa? Dan yang bikin bete, lalu si teman akan berkata "Kamu YAKIN kan Meg? Emang bener kan bayi hanya boleh dikasih ASI?" Lha yang jadi emaknya ni bayi siapa? Kok saya yang ditodong harus yakin bahwa hal itu benar?
Kalau saya yang diserang, karena saya sudah membaca ratusan laman, saya bisa dengan pede berantem. Bahwa WHO sekarang sudah dengan jelas menuliskan memberi ASI saja sampai 6 bulan. Alasannya? Karena penelitian dari si A dan si B menunjukkan bahwa bayi yang hanya diberi ASI saja selama 6 bulan akan lebih kecil kemungkinan terkena diare, dan memperkecil resiko terkena diabetes dan penyakit endokrin lainnya di usia dewasa. Saya akan maju dengan lebih yakin karena saya diback-up pengetahuan ilmiah dari sumber terpercaya. Bukan karena saya lebih pandai dari teman saya tadi, tapi semata karena saya meluangkan waktu untuk MEMBACA. Pendapat orang lain adalah masukan berharga, tapi mendasari keputusan hanya dari mendengarkan pendapat- pendapat orang karena anda terlalu malas untuk mencari tahu sendiri? Um, kasarkah kalau saya sebut itu bodoh dan malas?
Okelah mungkin membaca ratusan laman itu terlalu makan waktu, kan kita orang sibuk (nonton Cinta Fitri, baca FHM, mikirin gimana caranya ngupdate status FB tiap 10 menit). Tapi saat saya mengirimkan sebuah link website ke saudara saya tentang suatu acara yang sudah berbulan- bulan ingin dihadirinya, dan dia langsung membalas email saya dengan bertanya Kapan acaranya? Bayar nggak? Dimana acaranya? Rasa- rasanya saya ingin langsung melempar wajahnya dengan panci butut saya. Apa gunanya saya beri link kalau tidak dibaca sama sekali? Itu sudah direct link langsung ke info yang dia butuhkan lho! Kurang apa coba?
Jadi sekarang, saat seseorang seperti si sarjana tengil datang ke saya dengan pertanyaan dangkal bin setumpit, saya akan meresponnya dengan mencarikan sebuah link yang sederhana dan berguna, dan mengirimkannya ke si penanya dengan keterangan "Baca dulu, lalu mari berdiskusi." Satu link itu akan saya jadikan filter, kalau si penanya tidak mau membacanya dan kemudian datang lagi ke saya dengan otak masih melompong, ya berarti dia hanya akan membuang- buang waktu saya. Don't expect me to do your homework just because you're too lazy or 'busy'. Iya kalau jaman dulu, kita harus susah payah ke perpustakaan dan membuka buku setebal bantal. Lha sekarang kan apa sih yang gak ada di google?
Saya maklumlah kalau yang bertanya itu memang pendidikannya rendah, atau computer illiterate, tapi kalau dia seorang sarjana juga, dan tiap 5 menit update status di twitter, kan ya kebangetan kalau sekedar bertanya Monas itu terletak dimana. Kalau dulu para anggota perkumpulan LINUX memakai istilah RTFM untuk menjawab mereka yang tidak mau membaca manual, saya sekarang akan menjawab GTFI bagi para pemalas yang enggan mencari info di google.
Note: tapi sampai sekarang, saya masih bertoleransi kalau yang bertanya adalah seorang ibu tentang ASI atau apapun. Ya masak karena ibunya malas berusaha dan membaca, lalu anaknya yang harus menderita? For the sake of the little baby, saya biasanya menahan amarah saya akan kemalasan ibunya mencari info. Dan di malam hari, saat kami berbaring berdampingan sebelum tidur, gantian saya yang marah- marah ke si Okhi sebagai pelampiasan. Life is beautiful.... (for me, not him)
No comments:
Post a Comment