Monday 31 December 2012

My Monday Note -- Making Travelling Writing

Above all, saya menemukan bahwa saya bukanlah seorang traveller. Padahal, itulah syarat utama untuk menjadi travelling writer. Tetapi, travelling dan cheff adalah two new hot sexy things around the globe, dan cara termudah untuk mendapatkan uang dari menulis adalah dengan menyatroni majalah- majalah  pariwisata. Too bad, saya tidak tertarik membuat tulisan yang mengulas "Been here done that" thing. Hari ini saya ke Borobudur, melihat stupa yang indah dan sungguh mencengangkan... Saya sudah pernah mencoba membuatnya dan gagal dengan sukses. Not my cup of tea. Menulis tanpa sarkasme dan satir? Beratnya hidup....

Anyway, akhirnya saya menemukan satu majalah travelling yang cara penulisan artikelnya cukup menarik minat saya. Travel with a twist. Akhirnya, salah satu bahan note yang sebetulnya sudah saya tulis beberapa saat yang lalu saya kirim ke majalah itu (dengan penghalusan dan penyantunan bahasa disana- sini). Ehehehe, ternyata kiriman pertama ini langsung diterima, walaupun tulisan itu bukan semodel tulisan wisata yang biasa. Here is my first travelling writing, ngiahahahaha (as appeared in Jalanjalan Mags Dec 2012).

Alhamdulilah ketemu majalah yang sealiran cara penulisannya...

Monday 17 December 2012

My Monday Note -- Boleh Sih Jadi Diri Sendiri, Tapi Versi Suksesnya Lah!

Sewaktu baru saja menikah dulu, sebelum ada si Seradut, saya pernah mengobrol dengan si Okhi mengenai seorang teman kami. Teman kami itu adalah salah satu makhluk paling berbakat yang kami kenal. Maksudnya, kalau diminta mengisi kolom bakat, saya paling- paling bakal mengisi bakat saya dengan kemampuan membuat orang lain sakit hati dengan komentar sarkasme saya. Nah, sementara saya bakal garuk- garuk kepala dengan bingung kalau ditanya apa bakat saya, teman saya itu bakatnya menonjol bak bisul bengkak di ujung hidung; menggambar dan mendesain.

Saat itu kami membandingkan 'nasib' si teman (sebut saja namanya Joko)  dengan teman kami yang lain lagi, yang bernama Widodo. Keduanya adalah makhluk yang amat sangat berbakat dalam hal menggoreskan tinta. Sementara si Widodo dulunya berkuliah di jurusan desain produk dan sekarang membuka usaha konsultan yang cukup oke, teman saya si Joko, yang tidak kalah berbakatnya, mengambil kuliah di jurusan manajemen dan menjadi pegawai front desk yang sedang gundah karena status outsourcingnya.

"Kalau saja dulu si Joko kuliah di desain produk juga kayak si Widodo, mungkin dia bakal lebih sukses dari sekarang ya," komentar saya setengah merenung. Walau masa depan siapa yang tahu, tapi menyaksikan sebuah bakat nan cemerlang tidak tersalurkan dan si empunya bakat hanya menjadi pegawai penjawab komplain pelanggan, hati ini agak tidak rela jadinya.

"Kenapa sih dulu si Joko malah ambil manajemen, bukannya desain produk juga?" tanya saya.

"Orang tuanya nggak setuju. Emangnya mau jadi apa nanti? Seniman? Kerja itu ya serius, di kantor," jawab Okhi sambil mengangkat bahu.

Monday 10 December 2012

My Monday Note -- Di Negara Maju Bisa Menabung 80% Gaji?

Suatu kali, seorang teman saya menulis status "Di Indonesia, bisa menabung 10- 20% dari gaji saja sudah syukur alhamdulilah. Sementara penduduk di negara maju bisa hidup hanya dengan menggunakan 10- 20% gajinya."

Membaca statusnya si teman, saya terkekeh dan menuliskan komentar "Er, negara maju yang mana ya, yang bisa menabung 80% dari penghasilan kita? Gue langsung bedol desa eksodus kesana deh."

Nah kebetulan seorang pembaca monday note kemarin mengirimkan message ke saya, bertanya kenapa saya jarang sekali menuliskan topik mengenai Australia atau berbagi pengalaman tentang bagaimana rasanya hidup di negara orang. "Enak nggak sih Meg, tinggal di luar negeri?"

Jawaban untuk pertanyaan itu adalah "Sami mawon. Sama wae dengan hidup di Indonesia, karena ada tagihan yang harus dibayar, ada cucian yang harus disetrika, dan ada mobil yang harus diservis di bengkel." Tetapi, terkait dengan status si teman yang berpikir bahwa di negara maju penduduknya bisa menabung 80% dari penghasilan, saya jadi tergelitik untuk berbagi soal sebetulnya sebanyak apa sih penghasilan orang di australia, yang termasuk negara yang cukup makmur juga. Apa iya kami bisa menimbun ratusan lembar dolar setiap bulannya dan menyimpannya di bawah kasur?

Monday 3 December 2012

My Monday Note -- Nilai Moral Yang Berbeda

Suatu hari, seorang teman saya sesama penghuni Melbourne menelepon saya dari Jakarta. Dia sedang pulang kampung ceritanya. Ia mengaku sedang gundah dan butuh menceritakan dilema yang dihadapinya. Dilema yang membuatnya tidak enak makan, tidak enak tidur tetapi tetap enak belanja. "Kenapa sih? Suaminya minta ijin kawin lagi ya mbak?" tanya saya. #kepekaan dan kehalusan budi pekerti memang sifat baik saya.

"Ya enggaklah! Kalau hanya soal itu sih nggak bakal bikin galau. Tinggal dikasih minum baygon juga beres!" sahut teman saya sambil mendecakkan lidah.

Saya langsung membuat mental note untuk tidak menerima tawaran makanan dan minuman dari teman saya itu.

Bukan, bukan suami yang pingin kawin lagi sama abege 18 tahun yang bikin teman saya gundah. Bukan juga dualisme kepemimpinan di PSSI atau gundah menunggu kapan Anas akan gantung diri di Monas. Dilema besar yang dihadapi teman saya adalah soal titipan dari seorang temannya. 

Seperti lazimnya sesama orang Indonesia yang sedang merantau, urusan yang paling sering terjadi ya urusan titip menitip. Saat ada seseorang yang hendak mudik ke tanah air, maka biasanya ada yang kemudian berkata "Eh, kalau bisa aku nitip kerupuk puli dong." atau "Aku boleh nitip obat jerawat nggak?"

Nah, kali ini, sebelum teman saya ini hendak terbang mudik ke Jakarta, seorang temannya berkata ingin menitipkan sebuah tas. "Ya boleh saja kalau hanya tas," jawab teman saya. 

Tak dinyana, sekedar sebuah tas itulah yang membuat teman saya jadi tak enak hati. Ternyatanya, si tas yang hendak dititipkan untuk dibawa dari Jakarta ke Melbourne itu adalah sebuah tas Louis Vuitton. KW super bersertifikat. Keren abis nggak pake mahal euy. "Gimana ya Meg, curhat si teman, aku tu masalahnya mendengar kabar kalau sekarang pihak bea dan cukai itu ketat sekali di bandara. Kalau ketahuan bawa barang palsu begitu, bisa- bisa aku didenda besar lho!"

"Kayaknya sih nggak segitu ketatnya deh Mbak," komentar saya menenangkan. Tetapi beberapa hari berikutnya si teman terus menelepon saya dari Jakarta, menceritakan kegundahan hatinya masalah titipan tas ini. "Aku sudah bilang ke si Ana (nama samaran untuk si penitip tas KW super bersertifikat) alasannya kenapa aku nggak mau dititipin tas itu, tapi dia kayaknya nggak bisa menerima Meg. Sepertinya aku dianggap terlalu mengada- ada. Mungkin dipikir aku cari alesan aja, dan sebetulnya sih hanya akunya aja yang males bawain titipannya."

Masalah imigrasi itu memang bikin ruwet. Saya juga pernah terlanda gonjang ganjing saat ingin menitipkan pembatas buku bergambar wayang yang terbuat dari bahan kulit ke seorang teman yang sedang mudik (pembatas buku itu niatnya untuk suvenir acara natal). Masalahnya, kulit adalah bahan yang dilarang masuk ke Australia. Kalau sampai ketahuan membawa, bisa- bisa teman saya didenda.

Tetapi setelah berbincang melalui telepon jarak jauh untuk kedua kalinya untuk membahas soal yang sama ini, saya menelengkan kepala. My friend kept giving different arguments soal alasannya menolak dititipi tas itu. Dari pengalaman saya, saat seseorang memberikan beragam alasan, biasanya justru alasan yang paling mendasar lah yang tidak disampaikannya. Setelah beberapa kali lagi (dan dengan lebih serius mendengarkan ceritanya), saya menangkap inti keengganannya. Satu kalimatnya "Itu kan nggak etis" membuat saya tersenyum. Aha, gotcha. Alasan paling mendasar kenapa teman saya itu berkeras menolak si tas KW adalah karena nilai moralnya berkata barang KW nan palsu itu adalah sebuah bentuk ketidak etisan.

You may call her sok suci, tapi saya bisa mengerti perasaannya dia. Dan tentu saya juga bisa mengerti alasan si teman yang meradang karena ditolak keinginannya menitipkan tas KW. Saya sendiri, tidak pernah tertarik memakai barang KW, entah baju atau tas. Untuk apa mengumumkan pada seluruh dunia bahwa saya 'pingin banget' pakai tas Louis Vuitton tetapi saya terlalu miskin untuk membeli yang asli? Saya sih lebih memilih memakai tas bermerk antah berantah, yang hanya Tuhan dan si pencipta merk yang tahu eksistensinya di dunia. At least saya bisa dikira memang sederhana orangnya dan nggak mau neko- neko beli tas selebritis. Tetapi, sayapun tidak akan keberatan untuk dititipi sebuah tas KW. Karena walaupun saya akan memandang si tas KW sambil tersenyum melecehkan, bagi saya tindakan menyentuh tas KW ini tidak termasuk kategori dosa.

Hidup di dunia ini, banyak hal yang sepertinya mayoritas dari kita bisa sepakat mana yang hitam dan mana yang putih. Mencuri uang kas perusahaan itu berdosa, tapi apakah nitip ngeprint beberapa lembar kertas resume (untuk ngelamar kerja di perusahaan lain) di printernya perusahaan itu dosa? Membolos bekerja selama satu minggu tanpa pemberitahuan itu sudah jelas salah, tapi apakah salah kalau hanya membolos sehari dengan alasan sakit? Toh kalau minta cuti baik- baik jangan- jangan malah tidak diijinkan.... Toh perusahaan sering menyuruh lembur tanpa digaji?

Nah, tetapi disaat menolak permintaan tolong seorang teman untuk membantunya mencuri tas di toko itu adalah hal yang mudah, menolak permintaan seseorang untuk membantunya membeli tas KW itu ternyata cukup berat. Mencuri tas itu sudah jelas salah. Membeli tas KW? Bisa salah bisa tidak. Bisa dosa bisa juga biasa saja. Tergantung hati nurani masing- masing orang. Seperti teman saya tadi, dia enggan mengungkapkan alasan penolakannya karena ya itu tadi, mungkin takut dianggap sok suci atau sok lurus. "Belagu banget sih, kayak orang suci aja," begitu mungkin tanggapan orang lain kalau mendengar ia mengatakan kegiatan memakai tas KW yang sudah umum dilakukan di Indonesia itu adalah dosa dan tidak etis.

Saya sendiri sih bukan orang yang lurus dan suci. Saya tidak keberatan berbohong sakit ke bos atau memperlama waktu makan siang saya saat seharusnya saya sudah kembali bekerja. Tetapi saya ingat suatu kali, saat seorang teman ingin menumpang mobil saya, tetapi ia enggan menggunakan carseat untuk bayi kecilnya. "Kalau hanya kugendong saja gimana Meg? Toh kita hanya ke mall di depan, nggak sampai sepuluh menit nyetir?"

Saya sih bisa mengerti kenapa teman saya berkata begitu. Karena kami harus mengangkut si carseat besar dari rumahnya, memasangnya di mobil saya dan nanti membongkarnya lagi. Itu untuk perjalanan sepuluh menit doang. Dan ya karena teman saya itu orang Indonesia juga, memakai carseat bukanlah sesuatu yang sudah secara otomatis dilakukan setiap waktu.

Saya beralasan bahwa kaca mobil saya kurang gelap, sehingga saya tidak berani melakukannya. "Lha kalau tiba- tiba pas kita berhenti di lampu merah, dan ternyata di samping kita mobilnya polisi, bisa masuk penjara kita berdua," demikian alasan saya.

Tetapi, saat sesudah mendengar alasan keberatan saya dan teman saya masih saja berusaha dengan berkata bahwa ia akan menutupi bayinya dengan selimut dan sebagainya, saya kehilangan kesabaran. Di permukaan, saya tetap tenang dan berkeras bahwa kami harus memakai car seat karena saya tidak mau menanggung resiko didenda 300 dolar, tetapi dalam hati saya iritate sekali. Karena walaupun saya memberikan alasan takut didenda, the real reason adalah hati kecil saya tidak bisa berkompromi untuk hal ini. Iya, saya tentu takut kehilangan uang 300 dolar, tetapi yang paling unbearable adalah pemikiran bahwa saya bisa- bisa bertanggung jawab atas kematian seorang anak kecil akibat kecerobohan saya. Siapa bisa menjamin sih perjalanan singkat selama 10 menit itu akan aman tentram. Siapa bisa menjamin tidak akan ada pengemudi mabuk yang dengan kecepatan tinggi menabrak mobil saya dari belakang, membuat kami semua tersentak dan terjungkal. Dan tetap aman karena saya dan teman saya terikat sabuk pengaman. Tetapi karena si bayi hanya didekap ibunya, dia terlempar dan kemudian menabrak jendela, gegar otak atau malah meninggal seketika. Dan hal tersebut sebetulnya bisa dicegah kalau saja si bayi aman terikat di dalam carseat.

Tetapi entah kenapa, seperti juga teman saya yang tidak berterus terang bahwa dia menolak dititipi tas KW itu karena urusan moral, saya juga lebih memilih memberikan alasan soal denda dan penjara, daripada memberitahukan bahwa alasan sesungguhnya adalah nilai moral saya menolak untuk menempatkan seorang anak kecil dalam bahaya hanya karena kemalasan yang tampak sepele. Mungkin sama seperti teman saya, saya juga takut dianggap lebay, berlebihan, sok suci atau apalah.

Nilai moral yang dipegang teguh setiap orang itu berbeda, dan mungkin tampak konyol di mata orang lain. Suatu kali, saya sedang ingin menjadi seorang cleaner, dan saya membutuhkan referensi dari seseorang yang menyatakan bahwa saya pernah bekerja di rumahnya sebagai tukang bersih- bersih. Intinya sekedar berkata saya itu bisa dipercaya dan pekerja keras. Toh saya hanya mau jadi tukang nyapu ngepel, bukannya mau membangun roket. Saya meminta tolong ke seorang teman "Eh, lu pura- pura pernah jadi bos gue dong. Bilang aja gue tu rajin dan teliti. Jujur."

Teman saya tampak tertegun. Dan kemudian dengan terbata- bata memberikan alasan bahwa ia takut tidak bisa menjawab pertanyaan dari calon bos saya dan sebagainya. Setelah dua kalimat yang ia katakan, saya nyengir dan berkata "You know what, just forget it. Iya, gue gak berpikir panjang. Nanti kalau calon bos gue tanya macem- macem kan elu bisa bingung sendiri, dan gue malah bakal ketahuan bohong."

Teman saya tersenyum lega. Saya pun beralih mencari orang lain untuk berpura- pura menjadi referensi saya. Stupid me, saya lupa bahwa teman saya yang satu itu sungguh tidak mau berbohong untuk hal apapun juga. Dulu sih saya sempat jengkel, toh white lies itu tidak merugikan siapapun, dan bukannya saya ini maling juga kan, saya hanya butuh bantuan agar saya bisa bekerja. Tetapi yah gimana lagi, nilai moral si teman melarangnya berbohong walau hanya untuk hal sepele membantu teman jadi tukang gosok toilet. Dan meskipun bagi saya hal tersebut menggelikan dan lebay, ya tetapi itulah nilai moral yang dipegang si teman. Memaksanya berbohong, akan membuatnya tidak enak tidur, membuatnya merasa bersalah dan tak nyaman sepanjang hari. Dan saya menghargainya. Meskipun bagi saya sikap teman saya itu menggelikan cenderung menyebalkan, tetapi itu haknya dia untuk berpegang pada apa yang dipercayainya. Toh saya juga sangat terganggu saat ada orang yang mempertanyakan kenapa saya 'kejam' menolak mengangkut balita tanpa carseat di mobil saya. Jangan ditanya. I don't know the reason. Hanya hati kecil tidak mengijinkan saya melakukan hal itu.

Saat seseorang berkhotbah berapi- api mengenai mengapa suatu hal itu dosa besar dan pelakunya akan dibakar di dalam neraka tujuh tingkat, biasanya dia memang mengalami sindrom nabi yang merasa dirinya better dari the rest of us (kecuali para pemuka agama ya, kan emang tugas mereka untuk berkhotbah soal dosa). Tetapi saat seorang teman tampak tidak nyaman saat kita mengajaknya melakukan suatu 'bukan kejahatan tetapi juga bukannya nggak salah', please respect bahwa hati kecilnya mungkin tidak mengijinkannya melakukan hal tersebut. Tidak usah menanyakan alasannya.

Ma, boleh gak minta duit dari papa, bilangnya untuk beli buku padahal untuk beli bajunya igle pigel?
Ya boleh aja Ser, asal mama dibagi duitnya.....

Monday 26 November 2012

My Monday Note -- Dari Museum ke Museum

To be honest with you, saya tidak pernah merasa sebagai seorang pecinta history, budaya ataupun segala hal yang berbau seni. Jadi, pergi ke museum tidak pernah ada dalam agenda saya. Barulah setelah saya mempunyai seorang anak balita, dan kemudian menemukan bahwa di Victoria ini museum gratis bagi para balita dan student (meski sudah bangkotan, karena memegang kartu student, ya si Okhi bisa masuk gratis juga, huahaha), saya memasukkan agenda mengunjungi berbagai museum ke dalam acara akhir pekan. 

Perkenalan pertama saya dengan museum adalah di Melbourne museum. Dengan malu hati saya harus mengakui bahwa Melbourne museum adalah museum pertama yang saya kunjungi selama kehidupan saya ini (kemane aje selama ini mpok?). Pukul sepuluh kurang, kami sudah mengantri di depan pintu masuk, bersama dengan beberapa keluarga lain dengan anak- anak mereka. 

Tadinya saya berpikir gedung museum adalah gedung kuno yang tampak berwibawa, bukannya bangunan ultra modern dari kaca semua begini ^^

Monday 19 November 2012

My Monday Note -- Kan Ada Nenek Dan Pembantu?

Suatu kali, layar facebook saya menampilkan status dari seorang pria yang cukup menggelitik "Kenapa sih nggak ada hari bapak? Kenapa hanya hari ibu saja yang dirayakan?"

Nah, meskipun status yang mempertanyakan kenapa para bapak tampak dianak tirikan dan tidak diberi hari khusus untuk celebrate perannya sebagai seorang ayah itu cukup lucu, yang membuat saya terkekeh adalah salah satu komentarnya. "Sebelum kamu menuntut agar hari bapak dirayakan, kira- kira kamu sudah jadi orang tua dalam arti yang sebenarnya belum untuk anak kamu? Atau kamu hanya sekedar seharian bekerja, kasih duit untuk beli mainan anak dan that's it?"

Saya, kebetulan kenal kedua orang diatas, baik si pembuat status dan si komentator. Si pembuat status adalah seorang bapak baru, yang mempunyai balita berumur satu tahun dan tinggal di Jakarta. Kebetulan pula saya sedikit mengenal kehidupan mereka (alhamdulilahnya dia bukan pembaca mondaynote). Seperti lazimnya para pria di Jakarta, si bapak ini tentu saja juga bekerja full time, lima hari seminggu. Berangkat jam enam pagi, dan sampai kembali di rumah pada pukul delapan malam. Istrinya, juga bekerja. Anak mereka, dijaga pembantu dibawah supervisi neneknya. Disaat istrinya bertugas keluar kota, maka si anak akan diungsikan ke rumah neneknya, full time. Di akhir pekan, saat emak bapaknya ingin pergi berduaan, si anak dititipkan ke neneknya. Kalau kebetulan si ibu ada urusan di akhir pekan, semisal pergi nongkrong bersama teman- temannya, maka si anak dititipkan ke neneknya. 

Sebaliknya, si komentator yang rada sengak itu adalah salah seorang pria Indonesia juga. Seumuran dengan saya. Dan ia mengikuti istrinya bersekolah di Melbourne, bersama dengan anak perempuan mereka yang berumur satu setengah tahun. 

Monday 12 November 2012

My Monday Note -- Kalaupun Harus Menjadi Buruh, Jadilah Buruh di Australia

Apakah anda masih ingat note saya yang menceritakan kebingungan dikala diterima menjadi buruh di suatu pabrik pengepakan? Sialnya, terlepas dari semua kebingungan yang harus kami hadapai saat itu, episode kehidupan saya sebagai buruh sangatlah singkat. Seminggu doang. Yah, cemen deh..... 

Anyway, walaupun hanya seminggu, pengalaman hidup sebagai buruh pembungkus nugget itu adalah salah satu pengalaman once in a lifetime. Dan mungkin, dari kira- kira seratusan orang yang membaca note saya setiap hari Senin, saya yakin belum ada satu bijipun yang pernah merasakan menjadi seorang buruh dalam arti yang sebenarnya. 

Lazimnya orang sebelum mulai bekerja di tempat baru, tentu saya juga mengalami deg- deg an. apalagi pekerjaan kali ini jelas berbeda jauh dari bidang yang saya tekuni selama ini, plus di negara yang baru pula. Hehe, sedikit malu untuk mengakui, tetapi salah satu sumber kegundahan hati adalah "Gimana ya cara pegawai kantoran di pabrik itu menatap saya si buruh kontrak?"

Monday 29 October 2012

My Monday Note -- Para Pria Itu Bego? Tentu Saja!

Ceritanya, berabad- abad yang lalu, saya pernah mendengarkan curhatan dari dua orang wanita yang sangat berbeda usia, latar belakang, kondisi sosial ekonomi dan tingkat pendidikan. Yang seorang adalah ibu- ibu paruh baya yang merupakan istri seorang pejabat. Mapan ekonominya, santun tutur katanya, anggun penampilannya. Sementara yang seorang lagi adalah bekas embaknya si Sera. Muda usianya, genit tindak tanduknya, dan senang membawa Sera berjalan- jalan keliling kompleks dengan menggunakan hotpants supaya bisa digoda para tukang bangunan. 

Materi curhatannya? Si embaknya Sera ini certanya baru saja menikah. Dan setelah menikah, postingan statusnya selalu berkisar mengenai "Untuk apa aku menikah kalau hanya seperti itu perlakuanmu? Apa gunanya menikah?

Membaca status itu saya bergumam "Ya gunanya sih biar gak digrebek hansip kalau mau grepe- grepe B-)".

Keesokan harinya, statusnya menjadi "KOq km gak pernah memperhatikan q sich, di matamu q tiada artinya. Cpppkkkkk honey!!!"

Pusing bacanya? Sama. Saya juga. Waktu saya bertanya kenapa dia malah jadi uring- uringan sehabis menikah, sambil mencebik si embak menjawab "Ya gitu Mbak. Suamiku tu nggak pernah tanya gimana kabarku. Nggak pernah sekedar tanya aku udah makan apa belum. Kayaknya dia nggak peduli deh aku mati atau hidup, sakit atau sehat."  

Ah, alay pisan ini. Suami mana yang tidak peduli istrinya hidup atau mati? Kan itu menentukan apakah sudah bisa kawin lagi atau enggak. Ckckck.

Mari lupakan sejenak si embak. Sekarang giliran curhat yang saya dengar dari si ibu istri pejabat. Sang istri pejabat ini bercerita bahwa ia merasa pengabdiannya selama belasan tahun sebagai seorang istri tidak dihargai oleh suaminya. "Eh memangnya kenapa Bu?" tanya saya sambil dalam hati membayangkan adegan ala sinetron istri bagi suamiku.

"Saya itu ya Mbak, sudah berkorban segalanya bagi rumah tangga kami. Setiap Bapak bangun, selalu sudah terhidang segelas teh. Makan pagi dan makan siang selalu dengan menu lengkap. Setiap Bapak pulang kantor di sore hari, selalu sudah saya buatkan jajanan kesukaan Bapak. Rumah selalu mengkilat bersih. Dan untuk itu semua, tidak pernah sekalipun Bapak memuji atau mengucapkan terima kasih pada saya...." 

Belum sempat saya menimpali, si ibu kembali melanjutkan curhatannya. "Kalau Bapak keluar kota, selalu saya yang paling sibuk menyiapkan semua bajunya, dasinya, kaos kakinya. Dan tahu nggak mbak (mulai emosi nih) masak untuk semua yang sudah saya lakukan, nggak pernah sekalipun Bapak membelikan saya sekedar oleh- oleh!!!!!

"Tapi duit honor dinas luarnya dikasih ke Ibu atau enggak?" celetuk saya.

"Ya dikasih semua, masih utuh amplopnya. Tapi kan saya nggak hanya butuh duit Mbak! Saya kan manusia, istri, pingin dihargai, diperhatikan," cerocos si ibu dengan mimik sedih.

Dua orang wanita yang berbeda bagai langit dan bumi kondisinya. Toh materi curhatan jeritan hatinya serupa.  Suami berhati dingin yang tak mengerti kebutuhan istrinya untuk bermanja, diperhatikan dan diberi curahan cinta berwujud pertanyaan "sudah makan apa belum Dek?"

Bagaimana perasaan saya mendengar curhatan kedua wanita itu? Nah, saya itu selalu merasa bahwa saya  satu spesies dengan cacing tanah. Hermaprodit begitulah. Dulu waktu jaman SMA, banyak teman sekelas   mengira bahwa saya adalah contoh operasi transgender yang gagal. Jadi, I can claim bahwa saya bisa memahami jalan pikiran suaminya si ibu pejabat sekaligus jalan pikirannya si ibu pejabat.

Saya sendiri juga nggak pernah tuh merasakan dorongan untuk menelpon Okhi di siang bolong untuk sekedar bertanya "Udah makan sayang?" Dan sebaliknya, saya juga nggak pernah berharap Okhi akan menelepon saya setiap dua jam sekali, mengecek apakah saya masih bernafas atau tidak, dengan siapa saya mengobrol, apakah saya sehat atau tiba- tiba kena stroke. Bukan, bukan karena tidak sayang atau tidak perhatian. Simply enggak kepikir saja.  

Mengenai keluhan si ibu pejabat bahwa suaminya tidak pernah membawakan oleh- oleh sehabis dinas ke luar kota, sayapun juga tidak pernah terpikir untuk secara khusus mencarikan suvenir oleh- oleh bagi suami saya tercinta yang menunggu di rumah dengan setia (setia nonton Naruto maksudnya). Dan sebaliknya juga, saya tidak pernah berharap bahwa Okhi akan membawakan saya oleh- oleh setiap ia bepergian. Lagi- lagi bukan karena tidak cinta dan tidak sayang. Hanya nggak kepikiran saja. Tidak menganggap hal itu sebagai suatu hal yang penting. Toh dalam pemikiran saya (dan mungkin juga pikiran Pak Pejabat), kalau pasangan kami memang ingin kami mencarikan suatu barang khusus untuk mereka, ya pasangan kami akan mengutarakannya. "Pak, tolong carikan Ibu kalung mutiara dong kalau dinas di Lombok."

Dan saya yakin pak pejabat akan dengan senang hati mencarikan keinginan istrinya, keluar masuk toko hingga menemukan yang sesuai. Atau yang lebih masuk akal, meminta bantuan anak buahnya yang berjenis kelamin cewek untuk mencarikan kalung mutiara yang diminta istrinya. Karena pak pejabat tidak akan bisa membedakan kalung yang terbuat dari mutiara laut merah jambu yang bulat sempurna dengan kalung dari biji jengkol yang diwarnai sumba merah.

Masalah si pak pejabat tidak pernah memuji dedikasi istrinya dalam merapikan rumah dan menyiapkan pisang goreng setiap sore? Yah well, seberapa sering sih kita ingat untuk mengucap syukur dan berterima kasih karena masih ada oksigen untuk dihirup dan beras untuk ditanak? Not very often I guess. Dan toh rasanya kebanyakan istri juga tidak sering- sering amat memuji suami dan berterima kasih "Makasih ya Pa, karena sudah memberikan uang belanja, sudah membayar uang SPP anak- anak..."

Apa yang sudah menjadi rutinitas setiap hari, kita cenderung menganggapnya lumrah. Biasa saja. Baru saat flu berat menerpa dan hidung buntu sehingga bernafas pun kembang kempis, kita akan ingat "Haduh, enaknya kalau bisa bernafas dengan lega." Baru saat ibu pejabat pergi dan tidak ada pisang goreng tersaji di sore hari maka suaminya akan berkata "Haduh, betapa enaknya kalau ada pisang goreng bikinan ibu."

Tetapi tentu saja saya juga seorang wanita (suer, nggak bohong). Di suatu sore dimana saya sudah menghabiskan sepanjang siang membuat kue klepon, dan kemudian menyajikan hasil karya saya yang ciamik (hijau pucat dan gula merahnya bocor dimana- mana), deep down inside hati saya berharap suami saya akan menghargainya. Bukan hanya karena terhidang sepiring klepon kempes yang bocor disana- sini, tetapi karena saya membuatnya sebagai kejutan bagi suami saya. Karena saya membuatnya dengan mengabaikan kenyataan bahwa sebetulnya saya bisa saja santai- santai menghabiskan waktu dengan membuka aneka toko online, alih- alih menguleni adonan dan repot- repot membersihkan dapur yang dipenuhi tumpahan gula merah dan tepung dimana- mana.

Bagi para istri, janganlah berharap suami anda adalah pembaca pikiran yang bisa menerka suara hati anda yang ingin dibelikan oleh- oleh atau sekedar ditanyakan kabar. Saya sih selalu menganggap tingkat sensitivitas seorang pria itu setara dengan tumbuhan putri malu. Yang sudah digips. Setelah dua kali ucapan "Aku kok nggak enak hati ya," hanya menghasilkan komentar sambil lalu "Emang kenapa lho?" sembari sang empunya suara tidak mengalihkan pandangan dari layar laptop yang sedang dipenuhi gambar wanita- wanita berdada mutan, maka sambil berkacak pinggang saya akan bersabda "Oi ndut! Aku tu lagi nggak enak hati! Tutup laptop, move your butt dan peluk aku!" Daripada saya terjaga semalaman hanya untuk dengan pedih memikirkan "Suamiku enggak cinta aku lagi... Hiks hiks, aku memang istri yang paling sengsara sedunia akhirat....." Mending juga kalau yang jadi bahan pemikiran sadar. Paling juga ngorok.

Bagi para suami, ingatlah bahwa makhluk geje yang bisa marah pada anda tanpa alasan itu adalah makhluk yang sama yang bersedia menyimpan bayi anda di perut selama sembilan bulan, mengeluarkannya dengan susah payah, dan menyusuinya selama dua tahun. Upah karena bukan anda yang harus melakukannya? Mendengarkan omelannya dengan sabar hingga akhir hayat anda B-). Dan kalau istri anda adalah ibu rumah tangga sepenuhnya, ingatlah bahwa saat anda menerima pujian dan imbalan karena pekerjaan anda (dapat gaji, dipuji presentasinya oleh bos, naik pangkat), maka istri anda hanya bisa mengharapkan pujian dan penghargaan dari suaminya atas kerja kerasnya.

Bersyukurlah kalau istri anda masih menganggap anda adalah makhluk sensitif yang bisa membaca pesan tersirat dari kalimat "Enggak, aku nggak minta hadiah apa- apa kok untuk ulang tahun..." Berarti mereka masih berpikiran positif akan kepandaian anda. Kalau saya sih sudah sadar bahwa yang namanya ciptaan awal adalah prototype, sebelum diciptakan si masterpiece.

Para pria itu bego? Tentu saja. Kalau tidak bego, bagaimana mungkin mereka mau menikahi kita, mendengarkan omelan kita dan membayari tagihan kita...

Pria yang sensitif, yang mengerti hati wanita, yang modis, yang bisa menjadi woman's best friend, mereka memilih menjadi gay...

Kenapa harus repot- repot merangkai pesan tersirat bahwa  anda ingin dibelikan oleh- oleh?  Otak mereka terlalu sederhana untuk bisa memahami kedalaman makna pesan nan puitis.

Monday 22 October 2012

My Monday Note -- ASI eksklusif 2 tahun, DONE



Apa yang paling saya ingat dari pengalaman saya memberikan ASI eksklusif kepada bayi saya selama dua tahun penuh? Salah satunya kedongkolan hati pada ibu- ibu lain yang dengan bangga memposting foto freezer mereka yang penuh sesak dengan tumpukan botol berisi ASI perahan, sementara saya masih terengah- engah kejar tayang memompa ASI agar sekedar cukup untuk persediaan esok hari. Juga tugas keluar kota yang bisa sebulan tiga kali, yang membuat saya sampai merasa perlu membeli pendingin portable kecil yang bisa ditenteng kemana- mana. Sembari menunggu pesawat yang sering di-delay jadwalnya, dengan santai saya bisa mencolokkan si kulkas mini yang penuh berisi tumpukan plastik ASI. Ah, benar- benar perjalanan panjang yang penuh kisah lucu, kekhawatiran, kegagalan dan keberhasilan kecil.

Berawal dari keinginan mencari informasi mengenai biaya untuk melahirkan di berbagai rumah sakit, tak dinyana saya malah berkenalan dengan gerakan ASI eksklusif, gerakan yang mulai bergaung di Indonesia sejak tahun 2000an, tetapi masih asing bagi telinga saya. Sebelumnya, saya tidak pernah berpikir panjang mengenai ASI. Just go with the flow saja. Tak terbayang bahwa ternyata diperlukan tehnik yang tepat agar acara menyusui bisa berlangsung dengan lancar, juga berbagai tips dan trik agar bisa tetap memberikan ASI meskipun si ibu bekerja di kantor. Inilah sekelumit pengalaman saya mengenai dua tahun yang penuh keajaiban, suka duka dan canda tawa.

Monday 15 October 2012

My Monday Note -- Indonesia Ceria, We Can't Change The World, But We Can Give Them The World


Hari Kamis pukul empat lewat tiga puluh menit sore. Mobil kijang silver yang dikemudikan sopir perusahaan perlahan bergerak menembus kemacetan lalu lintas di kawasan Benda, Cengkareng Jakarta. Saya yang duduk sendirian di bangku tengah mobil kijang tersebut membayangkan dengan sebal bahwa selama berjam- jam kedepan, saya bakal terjebak di jalanan Jakarta yang keparat (coarse language, parent’s guidance needed for toddler viewer).



Seharian itu, saya baru saja mengikuti proses proof print untuk suatu desain kemasan baru. Suatu proses yang amat sangat membosankan dan membuang waktu. Pihak supplier kemasan pun telah berhasil membuat saya jengkel karena tidak segera bisa menemukan warna yang sesuai dengan keinginan saya. Baru keluar dari pabrik jam segini, dan masih harus kembali ke kantor di daerah Pancoran untuk mengambil mobil Yaris saya yang diparkir di halaman belakang kantor, untuk kemudian menyetir melewati kolong Cawang menuju Bekasi. Membayangkannya saja sudah membuat saya capek.   



Pada suatu titik, mobil kijang saya berhenti dengan sempurna. Menunggu dua buah truk berbodi sebesar paus biru berusaha untuk tidak menyenggol satu sama lain. Dengan setengah melamun saya mengarahkan pandangan ke luar kaca jendela mobil. Di kiri kanan jalan terhampar deretan pabrik- pabrik kecil, warung- warung tegal dan petak- petak semak belukar liar yang tumbuh tak beraturan. Sudut mata saya menangkap suatu gerakan. Tanpa minat, saya menatap ke arah sekelebat gerakan yang tertangkap ujung mata saya itu. Di pinggir jalan, tampak sesosok makhluk yang bisa jadi pria atau wanita, muda atau tua, saya tidak ambil pusing, sedang merayap di pinggir jalan. Masih tetap dengan pikiran melamun, saya menyaksikan si makhluk yang ternyata berjalan dengan gaya merangkak, mendekati sebuah warteg dan tampak mengoker- oker (apa coba bahasa Indonesianya mengoker) tumpukan sampah di depan warteg. Menemukan sesuatu yang tampaknya seperti bungkus kertas, si makhluk meraup bungkusan tersebut dan mulai menjilatinya. Beberapa orang (mungkin pegawai pabrik) tampak berlalu lalang di depannya. Selesai menjilati bungkusan tersebut, kembali ia merayap menuju tumpukan sampah berikutnya.


Monday 8 October 2012

My Monday Note -- Oleh- Oleh Keliling Kuala Lumpur, Malaysia


Dua minggu lalu, dalam rangka memeriahkan acara nikahan adik saya (sekaligus memastikan nama saya masih tercantum di wasiat), kami bertigapun pulang kampung. Karena mendapat tiket murah Air Asia, si Okhi memutuskan sekalian saja deh mampir ke Singapura dan Kuala Lumpur, jalan- jalan melepas lelah. Note: yang ada malah jadi terlalu lelah. Yah maklumlah, perencanaan memang bukan strong point si Okhi. Not really fancy these two countries, saya agak ogah- ogahan dalam menyambut acara jalan- jalan ini. I'd rather nongkrong di Jogja atau ke Bali. Tapi, yang namanya pengalaman hidup, semua tentu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Plus kan sudah bayar mahal, rugi dong kalau gak dinikmati :D. 

Mind you, satu- satunya negara di Asia tenggara yang sudah pernah saya datangi sebelumnya adalah Singapura. Dan yah, meskipun negara seukuran warteg ini bertetangga dengan kita, tetapi kelasnya sudah jauh dong. Bahkan Melbourne pun kalah dalam hal fasilitas, kecanggihan, kerapian dan disiplin. They're in another level lah. Jadi, saya tidak tahu apa yang harus saya harapkan saat mengunjungi negara bernama Malaysia, yang berita- berita tentangnya berkisar songket yang hendak dicolong, TKI yang digebuki atau promosi pariwisatanya yang gila- gilaan, dengan Theme Song yang sangat ear-catching; Malaysia Trully Asia (mari facepalm berjamaah atas kehebatan si pembuat theme song).

Nah, saya tidak hendak membuat ulasan tempat- tempat wisata disana, tetapi this is my 2 cents mengenai apa yang saya rasakan saat mengunjungi negara tetangga yang makin menancapkan kuku di dunia pariwisata ini. Mendarat di LCCT, terminal low-cost yang khusus melayani penerbangan murah, saya berpikir, ini sama dengan bandara di Surabaya. Rame, penuh sesak, banyak orang yang duduk di lantai dengan dikelilingi beraneka kardus barang bawaannya. Kalau penampilannya mirip dengan bandara Juanda di surabaya, lalu apa bedanya dong? Bedanya adalah bandara, bagi pemerintah Malaysia, adalah suatu bagian integral dari bisnis pariwisata yang sedang mereka promosikan dengan berbusa- busa. Contoh paling mudah, mereka memiliki jasa penitipan koper. Terkesan simpel, tapi hal sederhana ini sangat membantu bagi para wisatawan. Saya membaca bahwa kebanyakan turis hanya berkunjung ke Malaysia untuk keperluan transit, untuk kemudian terbang kembali ke negara lain. Tidak seperti Bali yang banyak turis sengaja ngendon selama berminggu- minggu disitu. Bayangkan, pada saat si turis menunggu pesawat berikutnya yang akan membawanya ke Melbourne atau Eropa misalnya, daripada hanya berdiam di bandara, si turis akan 'dipaksa' keadaan untuk menghabiskan harinya dengan berwisata singkat di kota, city tour. Penitipan koper tersedia, berbagai jasa city tour mudah dijumpai. Hendak ke kota? Tak usah bingung, ada berbagai pilihan bis, kereta ekspres dan taksi yang bisa dimanfaatkan. Dan jadinya, dari yang mungkin tadinya hanya berniat transit sebentar, ada turis yang sengaja memperlama waktu tinggal di KL, seperti saya yang kemudian memutuskan untuk tinggal dua hari disana. Karena di internet sangat mudah dijumpai data yang menunjukkan bagaimana menaruh koper saya, dan naik apa dari dan ke bandara. 

Monday 10 September 2012

My Monday Note -- The Day My sister Met Ana

Saya tumbuh besar dengan membaca buku- buku karangan penerbit Kanisius. Bersekolah di sebuah SD katolik, buku- buku yang menceritakan berbagai kisah santo dan santa menjadi makanan saya sehari- hari (note: santo/santa = orang kudus yang dijadikan teladan karena kesetiaannya terhadap Tuhan atau pengabdiannya terhadap sesama).

 
 
Sewaktu kecil, saya kerap berkhayal bagaimana ya rasanya menjadi seorang santo? Menjadi orang yang demikian suci dan pemberani, hingga rela mengorbankan nyawa demi menolong orang lain. Saya membayangkan diri saya seperti seorang santo, yang meskipun berasal dari keluarga kaya raya tetapi memilih mengabdikan diri dengan menolong para penderita kusta yang dijauhi orang. Atau seorang santo yang lain yang memilih dirajam daripada mengkhianati imannya. Wah, betapa kerennya hidup saya bila diberi kesempatan menjadi martir, mati demi membela iman dan sesama!
 
Pernah juga saya melihat rekaman adegan dimana seorang bapak menolong satu keluarga yang terjebak di dalam mobil mereka yang terbakar. Dengan gagah berani tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, si bapak kembali lagi ke mobil setelah meletakkan si bayi kecil di rumput, untuk kemudian menolong si ibu yang masih terperangkap. Api semakin membesar. Berhasil mengeluarkan si ibu, dan saat mereka berdua terhuyung- huyung menjauhi mobil, api mencapai tangki bensin dan BUMMM, meledaklah mobil tersebut. Telat barang 30 detik saja, hancur sudah mereka berdua. Saya jadi terbayang- bayang, bagaimana rasanya ya menjadi pahlawan seperti itu, mengabaikan keselamatan diri sendiri demi menolong sesama.
 
Sayangnya (atau untungnya?), sejak saya dilahirkan hingga usia yang sudah menginjak kepala tiga ini, saya tidak pernah mengalami peristiwa antara hidup dan mati. Saya tidak pernah mengalami situasi dimana saya harus mengorbankan nyawa bagi orang lain ataupun orang lain harus kehilangan sebelah kakinya demi menyelamatkan saya. Hidup saya biasa- biasa saja. Tidak heroik sama sekali.

Monday 3 September 2012

My Monday Note -- Orang Sukses Pun Berhak Galau



Beberapa saat yang lalu, seorang teman saya yang dalam pandangan umum orang Indonesia sangatlah sukses; bekerja di perusahaan minyak di Eropa, sudah keliling dunia, punya suami bule, punya anak semodel Cinta Laura, menuliskan status di facebook “Yeahhhhh MSc... so what..just MSc.. hmfffff”

Bagi para orang katrok, MSc itu maksudnya Master of Science, suatu gelar S2 yang didapat dari universitas di luar negeri (kalau di Indonesia MSi *err, Master of Singa?). Jadi ceritanya, temen saya yang keren ini galau, karena dia sudah berhasil menyelesaikan pendidikan S2nya di salah satu universitas teknik terbaik di Eropa, tetapi dengan nilai thesis yang jelek; tujuh puluh lima. Iya, jelek banget, TUJUH PULUH LIMA. Hah, sudah ada yang mulai rolling eyes?
 
Dan faktanya, si teman ini sebetulnya sejak dia belum luluspun, sudah diterima bekerja dengan posisi menggiurkan di sebuah perusahaan minyak besar di salah satu negara Skandinavia. Jadi, mau nilai thesisnya 75 kek, 100 kek atau 50 sekalipun, asal dia lulus, beres perkara. Nggak ngefek cuy.

Monday 27 August 2012

My Monday Note -- Kota Ternyaman, Not Necessarily Ter-WOW

Setelah satu tahun merasakan tinggal di Melbourne, saya tentu harus bersyukur karena telah memilih kota yang sangat nyaman untuk ditinggali. Abaikan cuaca Melbourne yang se-moody abege PMS dan harga rambutan yang dua dolar per biji, ibukota Victoria ini sangatlah menyenangkan. Entah sudah berapa kali saya mendengar cerita para mahasiswa disini yang jadinya sangat kerasan dan enggan pulang, atau anak- anak mereka yang tidak ingin meninggalkan SD nya disini. Jadi, saya tidak protes juga saat tahun ini Melbourne dianugerahi gelar The Most Liveable City in the world, kota ternyaman di dunia. Mengalahkan Viena, Toronto dan bahkan Syndey tetangganya.
 


Tetapi yang mungkin anda tidak percaya, saya sering mendengar cerita dan bahkan mengalami sendiri beberapa kali, bahwa wisatawan asal Indonesia banyak yang sedikit kecewa saat berkunjung ke kota ini. Nggak jelek sih, hanya kok ya tidak se-WOW yang dibayangkan. Bulan lalu, saya mendengar cerita seorang teman mahasiswa yang sampai menangis karena jengkel saat keluarganya datang berkunjung ke Melbourne. Dengan bersemangat ia mengajak keluarganya ke pantai, yang menghasilkan komentar “Masih bagusan pantai di Bali ya.


Monday 13 August 2012

My Monday Note -- Satu Bab Yang Teramat Mudah

Menjelang minggu final pada tayangan Masterchef Australia. Salah seorang peserta mengalami semacam mental breakdown. Rindu rumah yang teramat sangat. Berbulan- bulan terisolasi, jauh dari rumah dan semua orang yang disayangi, serta setiap hari selalu bersaing dan berkompetisi dalam ajang lomba masak- memasak ini membuat seorang peserta berada di titik jenuh. Dan ingin menyerah saja. Padahal minggu final sudah di depan mata, sedikit lagi si kontestan ini sudah akan tiba di garis akhir.

Mendengar penuturan si kontestan, seorang juri kemudian menceritakan kisah seorang pelari maraton yang pernah didengarnya. Pada suatu titik, sesudah berlari berkilo- kilometer jauhnya, si pelari akan merasakan bahwa ia sudah lelah, tenaganya sudah terkuras habis dan ia merasa tidak mampu untuk melanjutkan (dalam kasus si pelari, mungkin sesudah ia berlari sejauh 19,5 kilometer. Dalam kasus saya, ya sesudah berlari 90 meter lah).

Titik dimana si pelari benar- benar merasa sudah kehabisan tenaga dan siap untuk menyerah, itulah saat penentu. Bila pada titik itu ia mulai melambatkan langkah atau menghentikan larinya, maka selesai sudah. Pada titik siap menyerah itu, kata si pelari, maka kemudian ia akan menggertakkan gigi dan keep going. Think nothing. Pikiranmu hanya akan kosong, kamu mengabaikan tubuhmu yang lelah dan jantungmu yang siap meledak. You just keep going. Sampai kamu mencapai garis finis.

Mendengar cerita si juri mengenai pelari maraton yang berada pada titik “I can’t do it any longer, I have no energy left” ini, saya berpikir. Iya ya, seberapa sering dalam hidup ini kita berada dalam situasi yang sudah begitu melelahkan dan memenatkan. Sudah nggak tahan dan ingin give up saja.

Semua orang pasti memiliki ceritanya masing- masing. Saya pun pernah merasakan titik ingin menyerah ini beberapa kali; dalam pekerjaan, dalam membesarkan si genduk, dan saat hijrah ke negara yang baru.

Monday 6 August 2012

My Monday Note -- Menjadi Orang Tua

Hari rabu adalah hari favorit bagi Serafim. Itu adalah harinya Bumble Bee Class, kelas dansa dansi bagi balita. Dengan riang Sera berderap memasuki kelas sambil menyeret boneka lebah maskot kelas itu. Sambil menunggu kelas dimulai, saya menyapa seorang ibu yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Ternyata, ini adalah pertama kalinya si ibu membawa anak balitanya ke kelas ini. Si balita tampak malu dan mendekam ketakutan di pangkuan ibunya, lazimnya kelakuan balita di lingkungan baru. Melihat anaknya menolak turun dari gendongan dan menari mengikuti si guru seperti anak lainnya, si ibu sedikit kesal juga. Saya menenangkannya dan berkata bahwa itu wajar, it takes time for them to adapt with the class. "Dulu anakku juga nggak mau kok ikut menari kayak gitu," kata saya. "Berapa lama sampai dia bisa menikmati kelas ini?" tanya si ibu sambil memperhatikan Sera yang sedang duduk di depan si ibu guru, mendengarkan dengan tekun cerita tentang Daddy Duck. "Three terms," jawab saya, sambil mencoba mengingat- ingat bahwa anak saya yang penakut itu membutuhkan waktu hampir satu tahun untuk bisa merasa nyaman dengan kelasnya. 

"What? That long? I will only give it three weeks, and if she still like this, I will drop this class," jawab si ibu. Saat mendengar jawaban si ibu, saya merasa bangga pada diri saya. Kalau saja dulu saya hanya memberi Sera tenggat waktu tiga minggu alih- alih tiga term aka. sembilan bulan, maka saya tidak akan menyaksikan bahwa setelah satu tahun masa penuh penderitaan (mendengar Sera menangis sementara anak lain menyanyi), sekarang saya menyaksikan betapa bahagianya Sera di kelas musik ini. Betapa wajahnya langsung bersinar setiap saya menyebut Bumble Bee class. 

Being a parent: bersedia bertahan SEDIKIT lebih lama, disaat seluruh dunia dan logika sudah berseru agar kita menyerah saja.

Monday 30 July 2012

My Monday Note -- Three months to go tu summer, DOH!


Musim panas di Australia. Bikini dan hotpants bertebaran di segala penjuru. Okhi sudah siap dengan kacamata hitamnya, dengan cengiran jumawa tak lepas dari mulutnya. Tujuan kami hari itu: St. Kilda Beach, pantai terpopuler di Melbourne, walau bukannya yang terindah. Kami memarkir mobil di kantornya Okhi, dan melanjutkan perjalanan dengan trem. Di dalam trem yang menuju ke pantai, mayoritas penumpang sibuk mengoleskan sunblock, atau membenahi tali bikini yang melorot, atau berciuman mesra sambil tangan yang lain sibuk mengelap keringat yang bercucuran karena panasnya udara.

Semuanya berjalan dengan normal dan lancar. Semua orang sibuk dengan urusan masing- masing. Tidak ada yang repot mengurusi urusan orang lain atau memandangi baju orang yang melorot, apalagi iseng bersuit- suit melihat kaki- kaki jenjang bertaburan di segala penjuru. Okhi duduk dalam damai dalam balutan kaca mata hitam pekatnya, yang entah kenapa selalu dikenakannya selama musim panas. Sera sudah tertidur dengan nyenyak di strolernya. Kemudian, trem berhenti dan pintu trem membuka. Beberapa penumpang melangkah turun, digantikan oleh para calon penumpang yang sedari tadi menunggu di halte.

Tadinya, bangku di depan kami diduduki dua orang cewek kuliahan dengan baju yang saya yakin berukuran lebih kecil daripada bajunya Serafim. Setelah trem berhenti, bangku tersebut diisi oleh dua orang cowok amat sangat tampan. Yang satu berambut cokelat dengan bulu dada yang lebih lebat daripada bulu dadanya anjing saya. Tampangnya mengingatkan saya pada Keith Urban, suaminya si Nicole Kidman. Cowok yang satunya lagi berambut pirang, berwajah dingin yang hot (if you know what I mean) dengan badan bak pahatan Dewa Yunani, yah seperti batu menhirnya si Obelisk gitu deh.

Saya terkagum- kagum dan setengah meratap kenapa bukan mereka saja yang menjadi suami saya. Dan kemudian mereka duduk di hadapan kami, mengobrol santai dan mulai berciuman dengan mesra. Mata saya melebar di balik kacamata hitam, terpesona akan pemandangan di depan mata saya. Dan kemudian saya menoleh ke samping saya dan nyaris tersedak melihat ekspresinya si Okhi. Merana sekali ekspresinya suami saya.

Monday 23 July 2012

My Monday Note -- Siapa yang idiot sih, saya atau si Umi?

Saat saya pulang kampung kemarin, kebetulan saat itu adalah hari rabu abu, tanda dimulainya masa pra paskah. Apa itu pra paskah? Ya masa sebelum paskah :D. Sama seperti pra koso ya artinya sebelum koso (halah garing). Di rabu abu, saya pergi ke gereja, meskipun bukan di hari minggu. Salah satu hal yang khas dari perayaan rabu abu adalah pemberian tanda abu di dahi kita. CMIIW, kayaknya sih pemberian abu di dahi itu maksudnya sebagai lambang pertobatan.

Saya ingat dulu, waktu saya masih sekolah. Saya selalu berharap pastor yang menorehkan abu di dahi saya akan melakukannya dengan mantap. Jadi, saya bisa berderap masuk ke dalam kelas dengan dahi masih tampak jelas hitam kelam seperti habis ditendang kuda. Tujuan saya? Jelas pamer bahwa saya ini habis dari gereja lhooooo. Saya menikmati saat teman- teman saya bertanya kenapa dahi saya sehitam gagak begitu. Dan dengan bersemangat saya jadi bisa menjelaskan kenapa saya kok tumben- tumbennya suci dan pergi ke gereja. Pokoknya saya pingin semua orang melihat bahwa saya punya tanda abu. Anda menganggap saya konyol dan sombong? Ah sampai sekarang saya masih sering lihat juga kok orang yang hendak berdoa atau beribadat pakai acara menulis status di FB, biar seluruh dunia tahu bahwa ane ini alim lho, lihat nih ane mau berdoa. Mau berdoa saja pakai woro- woro. 

Saat itu, saya datang ke misa dengan emak saya, Serafim, serta pembantu saya dan anaknya yang berusia 16 tahun. Saya sering lupa kalau pembantu saya itu juga orang kristen yang pergi ke gereja, jadi saat di rabu sore dia sudah rapi berdandan, saya bertanya dengan heran "Emang Yuk mau kemana?"

Masalahnya adalah, anak si Yuk yang namanya Umi  ini terbelakang mental. Dan tampang serta bentuk fisiknya juga aduhai kurang indahnya. Saat suasana gereja sedang hening, mulailah si Umii mengeluarkan ocehan- ocehan nggak jelas. Kalau yang mengoceh itu seumur Sera, ya masih lucu lah. Tapi kalau yang mengoceh dengan nada membentak kayak kucing lagi beranak ini adalah anak abg dengan gigi tonggos dan ekspresi wajah tidak normal, ya mulailah orang- orang melirik. Saya juga ikut melirik sebal dan beberapa kali meletakkan tangan saya di depan bibir menyuruh diam.

Monday 16 July 2012

My Monday Note -- Memang Miskin Atau Hanya Perasaan ente Saja Sih?

Suatu siang di hari Lebaran, saya duduk dengan santai di pendapa depan rumah nenek saya di desa. Hari itu adalah lebaran hari kedua. Banyak sekali tamu yang silih berganti berdatangan mengunjungi (almarhum) nenek saya, karena beliau adalah salah satu sesepuh di desa. Kebanyakan tamu datang berombongan dengan sepeda motor, tetapi ada juga yang berjalan kaki atau naik sepeda kumbang. Nenek saya duduk sendirian di kursi singgasananya, menerima sungkem dari puluhan orang. Bapak dan Pakde- pakde saya duduk disekeliling simbah.

Sedang asyik ongkang- ongkang kaki di pelataran yang sebesar lapangan futsal, tiba- tiba secara beriringan datanglah mobil- mobil sedan Toyota bercat kinclong. Ada lima buah mobil memasuki halaman rumah nenek. Untuk ukuran desa pucuk gunung, yang penduduknya kebanyakan masih bersepeda kumbang, yang jalannya belum tersentuh aspal dan toiletnya masih, ehm, yah begitulah, mobil Toyota bercat metalik mengkilap itu rasanya sudah semewah kereta kuda kencana Ratu Inggris. Semua orang yang kebetulan berada di halaman segera menepi, dan dengan tergesa- gesa meminggirkan sepeda kumbang mereka, untuk memberi ruang pada barisan kendaraan ajaib dari bulan.

Satu demi satu penumpang mobil tersebut kemudian keluar. Sama seperti mobilnya, dandanan para penumpang ini juga sama kinclongnya. Rombongan ini adalah rombongan keluarga Embah Soka, adik dari nenek saya. Dan memang anak- anak Embah Soka ini adalah orang- orang sukses yang kebanyakan tinggal di Jakarta. Om Tarman adalah petinggi di Toyota (dia memulai karir dari menjadi satpam, can you believe it?), om ono bekerja di Pertamina, tante ini dokter kandungan. Pokoknya mereka adalah sekumpulan orang kaya. Dan mereka adalah orang- orang kaya yang sangat santun, rendah hati dan sangat menyenangkan. Rumah nenek saya langsung dipenuhi gelak tawa yang hangat dengan kedatangan mereka.

Saat semua orang dewasa sudah berada di dalam rumah, tinggallah kami anak- anak yang berada di luar. Dan kemudian, salah seorang anak melemparkan kerikil ke arah bodi mobil nan kinclong itu. Saya berkata "Jangan, nanti rusak mobilnya." Saya pikir sepupu saya itu hanya sedang iseng dan ia tidak menyadari bahwa melempari bodi mobil bisa membuat catnya tergores.

Alih- alih menghentikan perbuatannya, sepupu saya dengan suara yang sengit berkata "Alah, paling juga mobil sewaan. Sok banget bawa mobil bagus biar kelihatan kaya." Dan kemudian dia kembali melempari si mobil kinclong dengan kerikil. Mendengar kesengitan dalam suara saudara saya, saya menjadi heran. Otak anak kecil saya bisa menangkap bahwa sepupu saya itu sedang marah, tetapi saya tidak bisa mengerti kenapa dia harus merasa marah. Mobil itu memang mobilnya Om Tarman, jadi tentu wajar dong kalau Om Tarman menggunakan mobilnya sendiri untuk bepergian. Masak dia harus meminjam kerbaunya tetangga untuk pergi ke rumah nenek saya? Atau kalaupun dia memang menyewa mobil itu  sekalipun, lalu kenapa? Emang dosa? Tentu lebih masuk akal bila seseorang menyewa sedan Toyota daripada bila ia menyewa traktor kan?

Monday 9 July 2012

My Monday Note -- Jangan Terjebak Norma

Kemarin, saya membaca suatu buletin yang rupanya terselip di tumpukan majalah yang saya bawa dari Indonesia. Entah lembaga apa yang mengeluarkan buletin fotokopian yang bentuknya jauh dari menarik itu. Iseng- iseng, saya buka halaman si buletin dan membaca kolom tanya jawab nya. 

Tanya : Saya dahulu bekerja sebagai sopir di sebuah perusahaan, tetapi karena perusahaan itu pailit, saya terkena PHK. Dengan tiga anak yang sekarang duduk di bangku sekolah (SD sampai SMA), beban hidup saya sangatlah berat. Saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari pekerjaan lain, apapun asal halal saya lakoni. Sayangnya, sampai saat ini usaha saya belum membuahkan hasil. Pekerjaan saya masih serabutan, mulai dari sopir taksi tembakan, penjual koran, bahkan pemulung sampah. Hasil dari usaha saya itu tidak pasti dan masih kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari. Yang membuat hidup saya semakin berat, adalah karena istri saya terus mengomel, mengeluh, dan memaksa saya untuk segera mempunyai pekerjaan tetap. Setiap hari, tiada hentinya ia menyindir dan memarahi saya. Padahal saya sudah melakukan segala yang mungkin. Hanya saja mencari pekerjaan yang layak di usia saya yang sudah diatas 50 tahun dan tanpa pendidikan yang tinggi ini memang sulit sekali. Apa yang harus saya lakukan?

Nah, tergantung siapa penerbit buletin ini, saya bisa memprediksi jawaban untuk pertanyaan ini. Kalau buletinnya terbitan lembaga rohani, jawabannya bakalan gak jauh- jauh dari keep praying, God already prepare the best future for you, keep faith dan sejenisnya. Kalau buletinnya diterbitkan orang praktis seperti si Okhi, jawabannya bakal berkisar tips untuk mencari tambahan penghasilan dan kalau penerbitnya adalah orang nyinyir seperti saya, ya trik untuk meracun si istri bawel tukang ngomel.

Jawaban redaksi buletin, membuat saya menelengkan kepala. Dan membuat saya menggumam " I never thought about that before. Interesting indeed...."

Monday 2 July 2012

My Monday Note -- Ada Kemiripan Antara Anak Saya Dan Sopir Bajaj

Saat strip tes kehamilan menunjukkan hasil positif, saya kemudian mengunjungi dokter kandungan. Saat itu, tentu saja belum terlihat apakah si bayi yang ada di kandungan berjenis kelamin laki- laki atau perempuan. Kemudian, si dokter menempelkan alat yang bisa mendengarkan detak jantung. Tak berapa lama, terdengar suara jantung berdegup. Si dokter mendengarkan sejenak, kemudian berkata pada suster di sebelahnya "Hayo, menurutmu ini bayinya laki- laki atau perempuan?" Suster menelengkan kepala sejenak, kemudian menjawab "Laki- laki dok sepertinya." Si dokter mengangguk dan kemudian nyengir ke arah saya "Detak jantungnya kuat banget. Biasanya bayi laki- laki yang begini!

Jadilah kami tersugesti bahwa bayi kami 'kemungkinan besar' laki- laki. Mengikuti saran di berbagai artikel, kami mulai memanggil namanya dan mengajaknya ngobrol (walau terus terang saya merasa hal tersebut konyol. Rasanya seperti mengelus- elus jempol kaki dan mengajaknya ngobrol "Halo jempol kaki, tumbuh yang besar dan kuat ya..."). Dan kemudian, hasil USG tidak segera menunjukkan hasil yang memuaskan, si bayi ngeruntel saja seperti cacing kremi. Sampai kemudian, akhirnya ketahuanlah bahwa jenis kelamin bayi kami adalah perempuan. Langsung banting setir memanggilnya dengan "Serafim", nama yang sudah kami persiapkan juga.

Saat baru saja dilahirkan, Sera langsung menangis keras sekali. Kemudian, saat proses IMD, sementara kebanyakan bayi lain akan tertidur dulu atau bermalas- malasan di dada ibunya, Serafim langsung merayap dengan cekatan. Tubruk sana tubruk sini mencari puting. Dan langsung menyusu dengan rakus. Susternya saja sampai terkagum- kagum "Wah, bersemangat sekali kamu ya Dek..." Dan tentu saja, dari sekitar 15 bayi yang dilahirkan pada waktu yang bersamaan, Sera jelas yang paling kuat menangisnya. Saya pernah mendengar seorang suster berkata "Itu pasti tangisannya bayi dari kamar 5." Saya pura- pura tidak peduli, bayinya siapa sih itu yang teriak- teriak kayak preman pasar gitu?