Monday 30 January 2012

My Monday Note -- Ketika Serafim Menyerah

Di hari minggu sore, Serafim dan neneknya pergi ke Giant di dekat rumah. Melihat tempat bermain anak yang tersedia di sana, mata Serafim langsung berbinar- binar. Dengan pekikan perang, larilah ia menghambur menuju arena bermain. Neneknya dengan tergopoh- gopoh berusaha mengejar.

Di dalam arena bermain, Sera langsung merangkak memasuki sebuah terowongan kecil. Baru dapat setengah jalan, dua orang anak menyundulnya dari belakang. Serafim meringkuk diam, tergencet oleh anak- anak yang menyerobot berusaha mendahuluinya.

Segera setelah kedua anak itu lewat, Sera keluar dari terowongan, dan berderap menaiki tangga seluncuran. Di atas seluncuran, ia berdiri menunggu gilirannya, karena masih ada anak lain di depannya yang meluncur. Satu demi satu anak- anak dari belakangnya menyerobot Serafim, mendorongnya ke samping, dan berlomba saling mendahului untuk meluncur. Akhirnya, Serafim berhasil juga duduk di atas seluncuran, siap untuk meluncur. Lagi- lagi seorang anak melompat mendahului Sera yang sudah siap meluncur. Dan saat akhirnya Sera nyaris meluncur, seorang anak memanjat naik dari bagian bawah seluncuran. Serafim membalikkan badan dan membatalkan niatnya meluncur. Dia menuruni tangga dan mencari tempat lain.

Serafim kemudian hendak mencoba jembatan gantung, yang jika kita berjalan di atasnya maka jembatan itu akan bergoyang- goyang. Saat ia mulai melangkahkan kaki, dari ujung jembatan satunya dua anak SD menggoyang- goyangkan jembatan dan melompat- lompat sambil memekik- mekik. Bergoyang- goyanglah jembatan dengan hebohnya, dan Sera nyaris terjungkal. Kembali Sera membalikkan badan mencari mainan lain.

Dengan sabar Sera menunggu di depan mainan kereta- keretaan. Ada seorang anak yang sudah duduk disitu. Tunggu punya tunggu, si anak ini tidak juga turun. Serafim menyandarkan tubuhnya ke tiang. Kaki kecilnya mulai capek berdiri. Setelah waktu yang serasa seabad, si anak akhirnya turun juga. Dengan senyum riang, Sera meminta neneknya menaikkan badannya ke dalam kereta. Baru saja neneknya menggoyang- goyang kereta barang lima detik, seorang anak melompat masuk ke samping Sera dengan ribut. Dan menggencet Sera. Kontan Sera mengulurkan tangan meminta dikeluarkan dari dalam kereta.

Kemudian, Serafim menggandeng tangan neneknya. Neneknya berpikir ia ingin mencoba mainan lainnya lagi. Dengan langkah pasti, Sera mengarah ke pintu keluar. Neneknya berpikir Sera salah jalan nih, dan mencoba menggendong Sera serta mengarahkannya kembali ke area bermain. Sera dengan tegas menggelengkan kepala, dan menyeret neneknya ke arah pintu keluar. Begitu menuruni tangga keluar, Sera menuju ke tempat dimana tadi neneknya menaruh sandal mereka. Diambilnya sandal neneknya, dan diangsurkan ke arah neneknya. Kemudian diambilnya sandalnya sendiri, lalu ia meminta bantuan neneknya untuk memasangkan di kakinya sendiri.

Tanpa sekalipun menolehkan kepala ke arah tempat bermain yang awalnya membuatnya sangat bergairah, Serafim melangkah pergi. Tanpa kata, tanpa tangisan, tanpa rengekan. Neneknya dan ibunya berpandangan sambil menghela nafas.

Monday 16 January 2012

My Monday Note -- Cinta Tidak Pernah Salah

Seorang pria yang saya kenal tapi bukan sahabat saya pernah menulis status di FB "Apakah aku tidak berhak untuk bahagia? Kalau memang aku benar- benar menemukan cinta dalam hidupku, tidak bolehkah aku menghabiskan sisa hidup bersamanya?"

Duh, romantis ya? Kayak anak SMA deh kamyu, kutak bisa hidup tanpamu sayang.... Masalahnya, pria yang menulis status itu adalah pria beristri dan sudah punya anak, dan dia baru saja menemukan pacar baru yang membuatnya ingin menceraikan istrinya atas dasar "Aku berhak untuk bahagia." Ohya, dalam kasus pria ini, saya kebetulan tahu bahwa dia memang sebangsa belatung yang berpikir dengan selangkangannya (hum, belatung punya selangkangan yah :D), yang sudah bolak- balik selingkuh, yang memang sakit jiwa tingkat tinggi, jadi anggap saja dia hanya sedang mencari pembenaran untuk hasrat doyan ceweknya.

Tapi misalnya nih, situasinya adalah si pria ini pria yang benar- benar baik- baik, yang menyayangi anak dan istrinya, yang bukan tukang selingkuh, dan kemudian di suatu hari, dia bertemu dengan seorang wanita yang benar- benar klop, benar- benar belahan jiwanya, yang seperti lagunya Savage Garden "I knew I love you before I met you", lalu salahkah dia bila jatuh cinta pada si belahan jiwanya itu karena kan statusnya dia yang sudah menikah? Ini pura- puranya situasi yang ekstrim, bukan sekedar ketemu cewek di kantor, dan lalu witing tresno jalaran soko kulino lah, tapi benar- benar belahan jiwa. Dan karena si pria ini adalah pria yang baik, maka dia tidak tega menyakiti istrinya dengan menceraikannya, tetapi setelah 10 tahun berlalu, dan dia masih tetap deeply in love dengan si belahan hati, salahkah cintanya? Iya, cinta itu datang terlambat, tapi apakah cinta itu salah? Kan kita tidak bisa mengatur dengan siapa kita jatuh cinta? Mungkin seperti kasusnya Pangeran Charles kali ya, yang mau seluruh dunia mencerca, cintanya hanya untuk Camilla seorang (padahal kalau soal tampang dan bodi, ya seperti sarden versus lumba- lumba kalau dibandingkan Diana).

Sekarang kembali ke jaman saya muda dulu. Saat masih naksir- naksiran, masih pacaran. Ada yang kebetulan jatuh cinta pada lawan jenis yang mudah diterima logika. Seagama, tingkat ekonominya setara, pendidikannya sama, orangnya ya normal lah, keluarganya utuh, badannya sehat. Jatuh cinta yang semacam ini bisa dikatakan pucuk dicinta ulampun tiba. Saat saya jatuh cinta pada si Okhi (yang sepenuhnya diluar kendali saya, tahu- tahu saya jatuh cinta aja), karena kebetulan kami seagama, seumuran, sama pola pikirnya, sama hobinya, ya cinta kami bisa dibilang tepat lah. Cinta yang secara logika bisa berlanjut jut jut. Emak bapak kami juga bisa menerima, dan yah memang perjalanan cinta kami mudah dan lempeng saja. We are trully equal and identic persons in different gender (duh jadi mual nih umur segini nulis cinta- cintaan).

Tapi yang namanya jatuh cinta, siapa juga yang bisa mengatur? Maunya semua orang ya jatuh cinta pada orang yang kaya, cakep, baik hati, pintar. Seorang teman saya yang berjilbab, jatuh cinta pada seorang pria Hindu dari kasta tinggi. Teman saya yang anaknya juragan mebel, jatuh cinta pada pentolan preman yang pernah dipenjara akibat ketiduran di tengah jalan desa akibat mabuk (aduh, saya masih tertawa saja kalau ingat kisah ini), seorang teman jatuh cinta pada seorang pria duda dengan dua anak yang usianya terpaut 15 tahun, dan seorang teman saya yang lain jatuh cinta pada pria beristri. Lalu, salahkah cinta mereka? Karena tidak sesuai dengan norma 'umum' yang berlaku? Bahwa jatuh cinta itu ya harus dengan yang seagama, harus dengan yang sekasta, harus dengan yang perjaka dan perawan, harus dengan yang single? Toh kita tidak bisa mengatur pada siapa hati kita terpaut kan? Toh meskipun terkesan terlarang, cinta mereka ini sama saja kan gejalanya dengan cinta saya ke Okhi. Hati berdebar, dengkul lemas, senyum geje tersungging di bibir, tidur tak nyenyak makan tak enak, menelpon setiap 15 menit sekali, dan kemudian mengakhiri telepon dengan "Kamu yang nutup duluan. Ah enggak ah, kamu yang nutup. Hihihi, aku tutup lho! Dadah... Lho kok masih belum ditutup sich..." Sumpah saya butuh muntah dulu sekarang.

Apakah cinta itu penting dalam pernikahan? Kata orang, "Emang kenyang dikasih makan cinta doang?" Nah bagi saya sih, saya tidak akan menikah dengan seseorang kecuali saya jatuh cinta padanya. Hanya orang tolol yang menikah semata demi harta atau harga diri atau status atau apalah selain cinta. Di suatu novel, saat si cewek muda cantik semlohai menikah dengan kakek- kakek umur 80 tahun, seorang temannya kemudian bertanya apa alasannya dia mau menikahi si kakek bau tanah. Jawaban si cewek "Shopping is better than having sex, right?" Meh, kalau saya sih lebih memilih having great sex with a man who gives me great credit card for shopping :D. Hidup hanya sekali, dan dihabiskan dengan berbaring di sebelah pria yang tidak bisa membuat saya bergairah, hidup macam apa itu? Surely I love travelling all around the globe and buy nice mansion, tapi yang utama dan pertama, dengan siapa saya menikmati rumah indah saya, tangan siapa yang saya gandeng sambil menikmati matahari terbenam di Pulau Komodo?

Nah, kalau memang cinta itu pondasi utama pernikahan, jadi kita bisa menikah dengan siapapun yang kita cintai dong? Saya sendiri sih orang yang cukup loose soal cinta- cintaan. Saat mendengar teman saya bercerita soal cintanya pada pria beristri atau cintanya pada si dosen duda yang sudah bangkotan, atau cintanya pada si drunken master, saya tidak akan serta merta berkata "Terkutuk kau, segera tinggalkan dia! Dia bukan untukmu! Cintamu salah!" Cinta kok dibilang salah. Benci dan dendam, itu yang salah. Cinta itu salah satu perasaan terkuat dan terindah. Meskipun membuat penderitanya menjadi unyu, saya yakin cinta jauh lebih baik dari tidak mencintai. Tapi, apa berarti cinta yang tidak pernah salah itu bisa dilanjutkan, bisa sampai ke jenjang pernikahan? That's the question, right?

Jawaban untuk pertanyaan ini tentunya sangat pribadi, tergantung dari masing- masing orang. Bagi saya, begini perumpamaannya. Saya punya banyak teman. Berteman dengan siapapun, tentu tidak ada salahnya, meskipun berbeda agamanya, kekayaannya, sukunya, kastanya, marital statusnya, umurnya. Itu sama seperti jatuh cinta, mau dengan siapapun ya nggak salah. Tapi kemudian, saat saya memutuskan hendak berbisnis peternakan babi misalnya, apakah saya akan mengajak teman saya si Ana yang kebetulan keyakinan agamanya mengharamkan si babi oink- oink? Apakah karena dia teman saya dan saya menyayanginya, maka dia pasti bisa saya ajak ikut serta berkolaborasi dalam hidup saya? Atau kalau saya memang selalu liburan ke Eropa setiap tahun, menginap di hotel bintang lima, apakah lalu saya bisa mengajak si Inu yang kuliahnya saja sebagian dibiayai pamannya? Yang makan siangnya saja hanya nasi sambal tempe? Apakah dia akan nyaman liburan yang semewah itu?

Menikah itu tidak sekedar menyatukan cinta. Cinta itu pondasinya, tapi dindingnya, atapnya, lantainya, adalah pengkolaborasian pandangan hidup, kebiasaan, harapan dan impian. Dan bahkan kolaborasi yang sangat sederhana seperti hendak membuat arisan teman kuliah seangkatan saja membutuhkan pemikiran kan, menyatukan pendapat soal berapa banyak iuran arisan per bulan? Apakah 50 ribu rupiah terlalu sedikit atau 500 ribu itu terlalu tinggi? Apakah semua peserta arisan mampu dan mau rumahnya dijadikan tempat arisan? Hidangan apa yang disediakan tuan rumah, makan malam lengkap atau cukup kue- kue? Tidak cukup sekedar hasrat untuk bikin arisan tanpa perencanaan kan?

Apalagi menikah. Yang dikolaborasikan bukan sekedar urusan iuran dan snack. Yang dikolaborasikan itu hidup kita seutuhnya lho. Iya, saya jatuh cinta pada si Anu setengah mati, dan melihatnya saja bisa membuat saya lemas lunglai, tapi menikah kan bukan sekedar kolaborasi saat kencan nonton bioskop yang gelap dan ehem ehem. Saat menikah, berarti saya harus mengkolaborasikan pandangan hidup saya dan si Anu, apakah si Anu bisa menerima prinsip hidup saya yang mencari partner setara dan bukannya pemimpin dan pembimbing? Apakah saya bisa menerima bahwa daging sapi tidak akan pernah hadir di rumah kami karena si Anu adalah pengikut agama Hindu yang setia? Apakah si Anu bisa menerima bahwa saya belum pernah bergaul dengan para sosialita yang selama ini menjadi lingkup pergaulannya, dan pasti akan canggung dan tampak ndeso saat harus mengangkat gelas sampanye untuk toast? Apakah saya bisa menerima bahwa saat si Anu marah ia butuh menghantam tembok dan misuh dengan kasar?

Tentu saja semua orang mempunyai prinsipnya sendiri- sendiri, ada orang yang jelas tidak mau menikah kecuali dengan orang yang seagama, sementara bagi saya hal tersebut bukanlah dosa. Tentu akan lebih mudah bila kita seagama, tapi saya tidak keberatan suami saya berdoa dengan cara yang berbeda dari saya, selama ia juga menghormati cara saya. Paling hanya bakal pusing menentukan agama anak kami kelak. Ada orang yang tidak bisa bila dipaksa harus ikut gaya hidup pacarnya yang pekerja pertambangan minyak lepas pantai, yang meskipun duitnya banyak tapi hanya bertemu sekali setiap bulan. Makanya, mungkin benar kata pepatah, jangan menikah dengan seseorang sampai anda pernah merasakan bertengkar dengannya. Saat kita bersilang pendapat, sedang gondok dan marah berat, kita akan bisa menilai apakah kita akan tetap bisa mencintainya saat perbedaan mengemuka.

Saya tahu saya akan bisa bertahan hidup dengan pria yang berbeda agama, berbeda usia, tapi saya tahu keterbatasan saya, saya tidak bisa menghargai orang yang lebih bodoh dari saya. Jadi, saya tidak akan memaksa diri menikahi seseorang yang saat diajak bicara tidak nyambung bin dongdong dong sumedong, sebaik apapun dia. Saya pasti akan melecehkan suami saya pada akhirnya, secinta apapun saya padanya. Dan saya tidak bisa mempunyai suami yang on dan off, yang pekerjaannya menuntutnya berada jauh dari saya, sekaya apapun dia. Saya butuh suami saya pulang setiap malam (coret hansip dan dokter kandungan dari kriteria calon suami ideal).

Selain soal prinsip, tentu ada juga yang disebut batasan moral. Batasan moral ini tentunya berbeda- beda juga bagi setiap orang. Ada orang yang tidak akan menikah kecuali atas restu orang tua, karena tanpa restu orang tua mereka menganggap pernikahan mereka tidak akan langgeng. Kalau memang seseorang percaya restu orang tua adalah syarat mutlak, ya jangan menikah kalau tidak dapat restu, karena hati kecil anda akan tersiksa selamanya. Sementara bagi saya, masih mungkin saya akan maju terus meskipun keluarga menentang, karena yang tahu apa prinsip hidup saya dan batasan moral bagi saya adalah saya sendiri. Orang lain boleh memberikan pendapat, tapi pada akhirnya, saya mengharap mereka akan mendoakan kebahagiaan saya, apapun yang saya putuskan.

Tentu ada nilai moral yang saya anut, yang saya tidak akan melanggarnya karena saya percaya saya tidak akan bahagia karenanya. Secinta apapun saya pada seorang pria, saya tidak akan merebutnya dari istri dan anaknya. Kalau dia memang bermasalah dengan istrinya atau bahkan istrinya psikopat tukang palak sekalipun, pria itu harus menyelesaikan dulu permasalahannya dengan istrinya, bercerai dengan sempurna, dan baru saya akan memasuki kehidupannya. Saya tentu tidak bisa mengharapkan Yang Terkasih di atas sana akan merestui hubungan yang dibangun di atas penderitaan orang lain, not to mention the innocent little kids.

Intinya sih, cinta tidak pernah salah. Saya tidak malu pada siapapun saya 'menjatuh cintai'. Tapi tentu cinta haruslah disertai akal sehat dan hati yang penuh kebaikan, untuk tidak membuat cinta kita mengorbankan kebahagiaan orang lain. Kok saya jadi bingung sendiri sih dengan kalimat ini? Nggak berbakat membuat kalimat motivasi yang indah nih...

Note unyu yang ditulis karena sebentar lagi akan berpisah dari si Okhi selama satu setengah bulan. Gonna miss you babe....

Sudahkah anda menemukan pembantu, eh suami yg pengertian seperti saya?

Monday 9 January 2012

My Monday Note -- Working Mom vs Full time Mom

Masalah kalau sudah punya anak sebaiknya si ibu itu bekerja atau tinggal di rumah merawat anak sepertinya sudah menjadi perdebatan klasik. Akhir- akhir ini, entah kenapa saya sering membaca status angot di FB terkait hal ini. Emak yang bekerja ngomel karena dianggap bukan ibu sesungguhnya karena tidak merawat sendiri anaknya. Emak yang ngendon di rumah saja ngomel karena dianggap hanya 'diam saja' di rumah dan menyia-nyiakan ilmu yang sudah didapatnya di kuliah. Bagaimana dengan saya? Sebetulnya sih saya tidak peduli- peduli amat apapun pendapat orang lain soal diri saya, toh saya nggak minta makan dari dia. Suka- suka dialah mau mengganggap saya tidak mau berkorban demi anak dengan memilih tetap bekerja, atau sebaliknya hanya ingin jadi ibu- ibu tukang rumpi berdaster yang hanya senang ongkang- ongkang kaki di rumah. Tapi, karena saya butuh menulis note, sekarang saya akan berusaha peduli, hehehehehe.

Dulu, sewaktu saya masih tinggal di Jakarta, saya bekerja. Full time. Lima hari seminggu. Sering keluar kota, sering lembur juga. Bahkan setelah saya mempunyai Sera. Si Sera di rumah dijaga oleh seorang baby sitter yang dalam pandangan saya cukup pintar orangnya; tahu bagaimana caranya menentukan mana ASI perahan yang harus dikeluarkan dari freezer dan bagaimana memanaskannya, tahu bahwa saya mengharap Sera selalu makan dengan tertib di meja, dan yang terpenting, si embak ini sayang sekali sama Sera. Pokoknya, saya yakin embaknya Sera jauh lebih bermutu dari kebanyakan embak- embak lain. Kalau saja dia mempunyai kesempatan sekolah tinggi, dia bakal jadi orang yang sukses juga.

Sekarang, di Australia, sudah hampir setahun saya menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Mengurus semua kebutuhan suami dan anak sendiri, dengan sepenuh hati saya. Juga merapikan rumah. Semua kegiatan mulia itu menghabiskan 50% waktu saya. Sisanya? Habis untuk bikin note, menulis status di FB, mengomentari statusnya teman, upload foto Sera, berusaha memotong poni si Sera biar lurus, wah pokoknya sibuk sekali deh hidup saya! Telapak kaki saya sekarang mulai kapalan yang berbentuk seperti surga kayaknya :D.

Sesudah merasakan menjadi seorang ibu karir dan ibu rumah tangga, saya berusaha obyektif bahwa masing- masing hal itu mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Seperti semua pilihan di dunia ini. Apa untungnya kalau saya sendiri yang merawat anak saya? Nah, si embaknya Sera yang saya puji pintar itu (dia bahkan lebih ahli mengoperasikan berbagai peralatan elektronik dan menyalakan generator dibanding saya) berteman dengan saya di FB (oh iya dong, jelas beliau punya akun FB). Dan kemarin, saya dan suami saya terbahak- bahak membaca percakapan mesra si embak dan suaminya. Untuk yang tertulis dalam bahasa Jawa, saya akan menterjemahkan. Yang dalam bahasa alay, saya ogah.

Embak : PuSiNg,,,,??
Suami : pusig knapa??
Embak : kepalaku psing honay
Suami : la gne oww,,mnm obat skrg??
Embak : emg udh ympk cxang ko fb an,,udh mnum obat ko cxangku,,,?
Suami : nak cepetkan penak to sygq? kalau cepat kan enak to sayang
Embak : ora penak,,,? enggak enak
Suami : truss,,,pye ben penak??? terus, gimana biar enak?
Embak : dipaske yo penak tho cxangku,, kalau dipaskan kan ya enak sayang
Suami : ayow kenthu to sygq?? (saya menoleh ke suami dan bertanya apa arti kenthu)
Embak : etr klo plg ya cxangku,,,

Pesan moralnya: sepandai- pandainya si embak, meskipun dia bisa mengikuti semua instruksi saya soal bagaimana memasak untuk Sera, pelembab dan sabun mana yang harus dia aplikasikan ke badan Sera, ya saya tidak bisa berharap bahwa dia akan mampu mendidik Sera dengan cerdas kan? Saya harus menerima nasib saat si embak memilih menyetelkan lagu ST12 sebagai lagu nina bobok bagi Sera (musik klasik bikin kepalanya pusing). Dan saya hanya bisa pasrah saat si embak dengan bangga memamerkan model rambut yang menurutnya 'keren banget' untuk Sera, kuncritan 1000 air terjun, yang dalam sekejap mengubah anak saya jadi mirip kucing kampung kecebur selokan. Dan tentu, what can I do saat si embak mengajak Sera berbicara dengan logat medoknya atau sibuk menelpon dan berantem dengan pacarnya di telepon.

Bagi saya, keuntungan terbesar saat seorang ibu memutuskan untuk mengurus anak kecilnya sendiri adalah dia bisa merawat dan mendidik sesuai hasratnya. Dan meskipun jaman SMA dulu saya juga selalu mengikuti ujian perbaikan matematika, at least kan saya tidak se-alay itu mengajak suami saya ngeseks di wall FB seperti si embak. Oh dear Lord..... Dan bahkan saat si anak dirawat oleh neneknya misalnya, bukan berarti akan bisa menyamai si ibu. Tetangga saya disini yang seorang nanny pernah berkata ke saya, bahwa nenek dan kakek cenderung memanjakan dan tidak pernah melarang cucunya. Akibatnya, ya si cucu mempunyai tendensi untuk manja dan lebih seenak udelnya. Entahlah teori itu benar atau salah, tapi tentu semua orang setuju bahwa orang tua adalah pendidik terbaik bagi anaknya.

Saya merasakan sendiri saat sekarang saya memegang Sera 100%. Saya jadi orang yang paling mengenal anak saya, dan saya bisa benar- benar menyelami kebutuhan si anak. Misalnya mendeteksi ketakutan Sera pada orang asing, dan segera mengambil langkah untuk mengajari Sera mengatasi ketakutannya. Sebetulnya, sejak masih di Jakarta dulu, Sera sudah memperlihatkan gejala takut yang berlebih pada orang lain, tapi karena saya hanya mendengar cerita dari si embak dan sekilas- sekilas melihat, saya tidak mendapatkan first hand experience. Saya tidak tahu seberapa parah masalah itu. Dan pendidikan di tiga tahun awal kehidupan si anak adalah yang paling penting bukan? Penentu pondasi masa depannya kelak.

Lalu, apa keuntungannya saat si ibu memilih menjadi wanita karir, terus bekerja mencari nafkah? Jelas, dari segi ekonomi dong. Dengan penghasilan yang dobel didapat dari dua orang, maka lebih banyak impian yang bisa diraih, dimana banyak dari impian itu ada hubungannya dengan anak juga. Di Indonesia, sekarang masuk TK saja bisa menghabiskan duit jutaan dalam sekejap. Belum membayangkan SD, SMP, apalagi impian kuliah di keluar negeri. Saat ini, saya tidak bekerja. Dan efeknya sudah langsung kami rasakan sekarang. Oh memang gaji Okhi lebih dari cukup, tapi kemarin saat kami menemui konsultan untuk berbicara masalah cicilan untuk membeli rumah, kami hanya bisa meminjam dari bank sejumlah uang, misal 5 juta rupiah. Kalau saja saya bekerja, dengan gaji hanya setengah gaji Okhi saja, maka kami akan bisa meminjam dari bank sebesar 7 juta rupiah. Emang apa efeknya? Dengan 5 juta, kami hanya mampu membeli rumah di daerah agak ke pinggir, dimana kualitas sekolah negeri (disini sekolah berdasar rayon) tidak terlalu bagus dan lingkungannya tidak terlalu kondusif. Dengan pinjaman 7 juta, kami akan mampu menyicil rumah di daerah yang bagus, dimana komposisi penduduknya sebagian besar pegawai kantoran, bukan pekerja kasar. Sekolah negerinya pun mempunyai kualitas setara sekolah swasta favorit. Again, toh ujung- ujungnya semua yang kita lakukan adalah untuk anak kita kan? Mampu menyekolahkan di tempat yang bagus, mampu membiayai kursus dan les piano, mampu membelikan mainan dan baju.

Dengan bekerja, kita juga akan mandiri dalam hal finansial. Jika di masa depan terjadi sesuatu yang menghalangi suami kita mencari nafkah (masa depan siapa yang bisa menebak... baru saja saya mendapat kabar suami seorang teman yang sebaya dengan saya meninggal dunia, ada juga suami seorang teman yang minggat bersama pacar gatelnya). Walau hati mungkin hancur, tapi paling tidak kita tenang karena masih bisa menghidupi anak kita.

Itu dari segi keuntungan masing- masing pilihan. Kalau kerugiannya ya tinggal dibalik, saat bekerja berarti kita harus menerima anak kita sebagian hidupnya dipelihara oleh mereka yang tidak sebaik emaknya, sementara kalau memilih tinggal di rumah ya berarti uang tabungan di bank akan lebih sedikit jumlahnya, dan mungkin nantinya si kecil tidak akan bisa kuliah di universitas yang bagus tapi mahal.

Tapi apabila kemudian saya ditanya, misalnya nih si Okhi tuh gajinya sudah dua kali lipat gajinya dia sekarang, dan kami bisa membeli rumah di area yang bagus disini (kesimpulannya secara ekonomi kami sudah berlebih lah tanpa saya perlu bekerja), apakah saya kemudian akan tinggal di rumah saja? Mungkin bila dilihat semata dari masalah keuntungan saja, akan lebih menguntungkan bila saya tinggal di rumah saja. Anak saya terurus, toh ekonomi keluarga sudah terjamin. Tapi, walaupun dilihat dari kacamata logika saya seharusnya menjawab bahwa saya akan tinggal di rumah saja, tapi kemungkinan besar saya akan menjawab bahwa saya tetap ingin bekerja. Karena, disamping soal untung dan rugi, ada satu faktor lagi yang sering terlupakan dalam menjatuhkan pilihan apakah sebaiknya seorang ibu tinggal di rumah atau bekerja; bagaimana perasaan si ibu, apa keinginannya?

Apakah saya mencintai anak saya? More than world.But sometimes, I hate being a mom. Salah seorang teman pria saya pernah berkomentar, kan enak jadi ibu rumah tangga, hanya di rumah mengurus anak, dan mendapatkan uang dari suami. Tapi kenapa banyak wanita yang tidak mau menjadi ibu rumah tangga? Jawaban saya untuk pertanyaannya adalah: Kamu coba deh, kamu hanya tinggal di rumah selama sebulan saja, mengurus anak, mengurus rumah, dan mengurus istrimu. Nanti kamu akan menemukan jawaban kenapa menjadi ibu rumah tangga saja itu bukan suatu pilihan yang mudah.

Menghabiskan waktu seharian hanya dengan memberi makan anak, memandikan, memarahi saat dia salah, menenangkan saat dia menangis, menceboki sehabis dia pup, menyapu dan mengepel rumah, mencuci piring, menyetrika segunung cucian, apakah itu terdengar sangat menarik? Iya, dengan tinggal di rumah kita berkesempatan 'mengembangkan' kepandaian dan kemampuan anak kita. Ya mungkin memang dengan dididik ibunya si anak akan menjadi jauh lebih cerdas, tapi dalam penerapannya di kehidupan nyata, tujuan heroik semacam itu terkadang terkubur dalam rentetan pekerjaan rumah tangga yang 'menantang banget....'.

Sebagai seorang manusia dengan pendidikan yang tinggi, dengan pengalaman bekerja sebagai seorang profesional, saya butuh berinteraksi dengan sesama orang dewasa. Bukan sekedar mencoba memahami ocehan si balita (Dis dis, itu berarti Sera minta cium). Saya rindu berdiskusi mengenai produk yang mana ya yang sebaiknya diluncurkan bulan ini setelah melihat kompetitor meluncurkan produk baru, bukan sekedar obrolan "Si Sera lagi doyannya makan melon nih hari ini." Saya rindu bercanda dan menjadi bagian dari suatu komunitas profesional, bukan hanya memasang sepatu keds saya dan mengantar Sera ke kelas bermain, dan kemudian mengobrol dengan emak yang lain soal tupperware lagi promo lho, Childcare yang di Ferntre Gully itu bagus deh.... Dan iya sekarang Sera masih butuh saya banget, lha nanti kalau dia sudah SMA? Kan hanya mlongo sendirian di rumah saya jadinya (mana ada juga perusahaan yang mau menerima wanita paruh baya yang sudah tidak bekerja selama belasan tahun)

Apakah saya egois karena memikirkan kesenangan saya sendiri? Mungkin. Tapi memang keluarga saya kan bukan keluarga Budi di buku pelajaran bahasa Indonesia jaman SD dulu. Yang ibunya selalu bangun paling awal, tidur paling akhir, dan selalu paling sibuk menyiapkan semua kebutuhan Bapak Budi, anak Budi, dan adik Budi. Yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, dan hidupnya memang hanya diabadikan untuk keluarganya.

Begitu juga saat ada seorang ibu yang pintar otaknya, berkemampuan tinggi, dan kemudian memilih untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Padahal mungkin penghasilan suaminya juga bukannya tinggi sekali, yah rata- rata gaji orang Indonesia lah. Padahal mungkin toh ia hidup bersama ibunya, jadi sebetulnya anaknya bisa dititipkan ke ibunya. Tapi kemudian dia memilih menjadi ibu rumah tangga saja, tidak bekerja sama sekali. Kalau dipikir dengan logika, kalau saja ia bekerja, mungkin jadinya keluarga ini akan lebih mampu secara ekonomi, tidak seketat sekarang dalam mengatur pengeluaran. Tapi itulah pilihan hidup, mungkin si ibu memang tipe orang yang tidak bisa berpisah dari anaknya, yang selalu merasa bersalah setiap meninggalkan anaknya. Mungkin ia memang bahagia kalau dia sendirilah yang 100% mengurus anaknya, dan menjadi orang yang pertama kali menyaksikan saat si anak bisa duduk sendiri.

Selama saya yakin bahwa pilihan yang saya ambil adalah pilihan yang sudah dipikirkan dengan matang, sudah disetujui oleh diri saya dan suami saya, sudah dipikirkan efeknya bagi semua pihak di masa kini dan masa depan, ya itulah keputusan yang terbaik. Entah apakah itu berarti saya bekerja full time, atau berbisnis dari rumah, atau sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga.

Tentu saya akan merasa bersalah kalau saat saya bekerja, yang berarti saya sudah memilih mengorbankan waktu untuk mendidik si anak, dan kemudian semua gaji saya habis untuk belanja baju misalnya, bukannya ditabung untuk kuliah si Sera. Atau sepulang bekerja, saya selalu nongkrong dulu atau jalan- jalan sampai larut ke mall, sehingga saya tidak sempat melihat anak saya sebelum ia tidur. Dan sebaliknya, saat saya memutuskan menjadi ibu rumah tangga saja, yang berarti mengorbankan ekonomi keluarga, dan kemudian di rumah saya menghabiskan waktu hanya untuk chatting dan FB an, dan membiarkan anak saya diasuh oleh televisi dan berbagai sinetron suster ngesot minta keramas (kalau begitu sih apa lebihnya saya dibanding si embak).

Kalau saya masih sangat terganggu dengan pendapat dan anggapan orang akan pilihan yang saya ambil, mungkin saya harus berkaca pada diri saya sendiri. Mungkin yang membuat saya masih jengkel akan pendapat orang adalah karena deep down inside saya belum yakin bahwa keputusan yang saya ambil itu sudah tepat. Mungkin saya sebetulnya masih merasa bersalah karena sudah memutuskan untuk bekerja (yang berarti 'menelantarkan' anak) atau bersalah karena hanya tinggal saja di rumah dan menyia-nyiakan pendidikan saya. Kalau saya memang sudah mantap dengan pilihan saya, seharusnya saya tidak perlu merasa terganggu dengan apapun pendapat orang. Jadi, yang perlu saya lakukan adalah berdamai dengan suara hati saya, agar saya tidak harus naik darah setiap ada yang menanyakan pilihan saya.

Note: butuh waktu beberapa bulan bagi saya untuk berdamai dengan diri saya sendiri, saat kondisi memaksa saya untuk tinggal di rumah. Dulu awalnya, saat ada orang bertanya apakah saya bekerja, saya selalu menjawab dengan panjang lebar kenapa saya tidak bekerja, menekankan bahwa saya tidak bekerja karena si Sera yang tidak bisa ditinggal (bukan karena saya malas atau tidak bisa menemukan pekerjaan). Sekarang, saya sudah bisa menjawab dengan santai saat ditanya "Ya kan enak, si Okhi sibuk kerja di kantor, aku di rumah bisa selingkuh sama tukang2 ganteng." Tidak ada lagi kebutuhan untuk melakukan pembelaan atas pilihan hidup saya, jadi saya juga tidak merasa perlu menulis di status pekerjaan di FB "A happy full time dedicated house wife". I'd rather say "Stay at home parent".

Oya, pesan sponsor, kalau yang bekerja memang hanya suami kita, I think it's wise to have a life insurance. Bila sesuatu yang buruk terjadi, masa depan anak kita tidak harus menjadi kelabu karena kekurangan duit.

Bukti bahwa saya adl pendidik terbaik bagi Sera, kekekeke

Monday 2 January 2012

My Monday Note -- Ouch

Beberapa jam menjelang pergantian tahun kemarin, saya baru saja meletakkan bokong saya di sofa, teler sehabis menyetir selama hampir sejam lamanya (kata orang Jakarta mah nyetir sejam doang itu biasa wae). Dengan berdesah lega saya mengambil air dingin dan menenggaknya dan kemudian membuka laptop mengecek akun Facebook saya. Satu status menarik perhatian saya. Status itu bercerita bahwa malam itu si teman dan keluarganya sedang makan malam di sebuah restoran. Eh, kemudian balita kecilnya tanpa sengaja menumpahkan Milkshakenya ke lantai. Belum sempat si ibu bertindak, lewatlah seorang pelayan dengan membawa nampan penuh berisi tumpukan gelas dan piring. Dan terpelesetlah si pelayan malang itu, dan berkerompyanganlah berbagai alat makan pecah belah yang dibawanya, berhamburan bertebaran di lantai restoran. Membaca status ini, saya bergumam"Ouch". Sebagai ibu seorang anak balita yang mempunyai tendensi untuk menciptakan kekacauan dimanapun ia berada, saya bisa merasakan bilamana saya yang berada di situasi itu.

Saya kemudian membaca komentar- komentar di bawahnya. Salah satu komentarnya berbunyi "Hahahaha, emang bayi Ana (nama samaran favorit saya) paling bisa deh mencuri perhatian." Komentar berikutnya berkata "Aduh, lucunya kayak di film- film...." (pasti si komentator ini humoris orangnya) Dan komentar- komentar lain yang bernada riang gembira, seperti bila status itu bertuliskan bahwa si bayi kecil bisa melambaikan tangan dan bernyanyi. Kemudian salah seorang temannya bertanya "Terus gimana habis itu?"

Jawaban si ibu dari bayi yang merupakan 'tersangka' penyebab huru-hara itu membuat hati saya sebal. Jawaban si ibu atas komentar temannya bahwa kejadian itu seperti di film- film adalah "Iya, kayak film Warkop aja. Pelayannya sampai doyong- doyong berusaha menahan badannya biar nggak jatuh. Pingin ngetawain tapi nggak tega. Kasian masnya langsung dipanggil bosnya :(." (Gak tega mau ngetawain, memang lembut hati... ).

Dan untuk pertanyaan temannya tentang apa yang terjadi selanjutnya, si ibu yang 'nggak tegaan' orangnya itu berkomentar "Untung nggak ketahuan kalau si Ana yang numpahin milkshakenya. Kita sih diem aja, pura- pura nggak salah, hehehehe."

Dan komentar terakhir si ibu ini yang berhasil membuat jari saya bergerak mengetuk keyboard dan mengirimkan komentar paling sarkasme yang pernah saya kirimkan pada seorang bukan teman dekat "Baguslah, biar pelayannya aja yang harus mengganti rugi semua piring yang pecah."

Sebelum ada yang menuduh saya sok mendramatisir, ada kejadian kira- kira sepuluh tahun lalu yang sangat saya ingat sampai sekarang. Ceritanya, beberapa saudara (atau teman papa???) berkunjung ke rumah kami di Surabaya. Saat makan siang, kami mengajak mereka ke restoran di Makro, yang hanya berjarak lima menit mengemudi dari rumah. Kemudian, makanlah kami semua dengan asyik, sibuk ngobrol ngalor ngidul, sambil mengganyang piring demi piring masakan di meja. Setelah selesai, kami semua beranjak pergi sambil tetap asyik berhaha hihi. Sesampainya di rumah, bapak saya tiba- tiba tersadar bahwa kami tadi langsung pergi tanpa membayar biaya makan siang. Sambil menepok jidatnya, bapak saya terburu- buru kembali ke restoran tadi.

Setengah jam kemudian, bapak saya pulang ke rumah dengan membawa cerita yang membekas di ingatan saya. Menurut bapak saya, sesampainya di restoran, ia menghampiri salah satu pelayan dan bercerita bahwa ia tadi makan di restoran itu dan kemudian pulang tanpa ingat untuk menyelesaikan pembayaran terlebih dulu. Menurut bapak saya, si pelayan langsung pucat pasi wajahnya, dan dengan terbata- bata berkata "Aduh Pak, untung bapak orang baik, jadi bapak balik lagi.... Kalau enggak Pak, kami semua ini yang harus menanggung biayanya......"

Kemudian si pelayan mengajak Bapak ke kasir dan menceritakan kejadiannya ke si kasir. Si kasir, dengan wajah yang sama piasnya, menggeleng- gelengkan kepala sambil berkali- kali mengucapkan puji syukur alhamdulilah. "Kalau Bapak nggak balik... Aduh......". Saya masih ingat sekali ekspresi bapak saya saat mencoba menirukan si pelayan dan kasir (jadinya lebih mirip orang sembelit sih, tapi ya maklumlah, bapak saya kan bukan aktor), dan bahkan tanpa melihat wajah merekapun saya bisa ikut merasakan bagaimana 'bergejolaknya' hati mereka (oke, now I'm officially ababil).

Makan siang kami saat itu menghabiskan sekitar 300 ribu rupiah, dan pelayan yang bertugas berjumlah sekitar tujuh orang. Jadi, bila saja bapak saya tidak membayar makan kami, masing- masing pelayan harus dipotong gaji 40 rebu. Dan bahkan hanya prospek dipotong gaji 40 ribu saja sudah bisa membuat para pelayan itu terkencing- kencing di celana (tanpa satu orangpun menjadi tersangka tunggal yang menghadapi resiko dipecat karena ini adalah kesalahan berjamaah), maka anda sekarang bisa membayangkan kan, apa yang dihadapi oleh pelayan malang yang di depan semua tamu restoran menjatuhkan semua peralatan makan nan mahal?

Di malam menjelang pergantian tahun, dimana mungkin si pelayan malang berharap sepulangnya dari tugas di restoran ia akan bisa merayakan tahun baru dengan menyalakan kembang api bersama putri kecilnya yang mungkin seusia dengan Sera, dengan harapan di tahun yang akan datang ia akan bisa membelikan sepeda kecil berwarna pink yang diinginkan putrinya sebagai hadiah ulang tahun. Oh call me sinetron victim, tapi membayangkan somebody's dad, or somebody's husband harus kehilangan uang ratusan ribu untuk mengganti barang yang dipecahkannya (dengan gaji yang mungkin hanya 300 ribu sebulan), dipermalukan di depan puluhan pengunjung dan sesama pegawai, didamprat bos dan kesalahannya dimasukkan ke dalam penilaian kinerja, not to mention kemungkinan dipecat, somehow hal ini tidak menggelitik syaraf humor saya at all. Saya tidak bisa menemukan sisi yang lucu dalam kisah ini. Bahkan kalau itu bukan disebabkan kesalahan balita saya.

Okelah mungkin teman saya yang memasang status di FB ini tidak memiliki pengalaman seperti saya, yang kebetulan mengetahui betapa berat resiko yang harus dihadapi seorang pelayan atas kesalahan yang mengakibatkan kerugian material bagi tempat kerjanya (karena kemudian teman saya membalas komentar saya dengan nada bersalah "Mudah- mudahan sih enggak ya Meg, kan si pelayan nggak sengaja"),dan saya mencoba memahami sikap kurang kesatrianya yang diam saja pura- pura tidak bersalah (karena di Indonesia, menolong korban kecelakaan saja bisa membuat si ksatria penolong malah digebukin warga), tapi merasa geli saat melihat orang lain berada dalam kondisi bencana; berusaha keras menahan keseimbangan dan gagal? Is that decent? Dan kondisi bencana yang disebabkan oleh pihak kita? Oh great.

Dan bahkan disaat senyuman yang muncul saat melihat orang lain jatuh bisa dimaklumi sebagai reaksi refleks semata, tapi melihat si pelayan kemudian dipanggil bosnya, dan alih- alih merasa iba serta sulit tidur karena rasa bersalah sudah menyebabkan sesama manusia menderita, teman saya malah memilih untuk menceritakannya di FB dan mengakui bahwa ia geli akan kondisi si pelayan yang doyong, dan mengakui bahwa ia diam saja meskipun mengetahui seseorang harus menanggung resikonya. Seperti bercerita di FB bahwa tadi saya tanpa sengaja melindas anak kucing dengan mobil saya, dan saya menjadi geli saat melihat bola matanya yang keluar dari soketnya (tapi nahan ketawa sih soalnya kasihan), dan saat yang punya anak kucing datang saya diam saja pura- pura tidak bersalah. Ya, saya mungkin akan diam saja tidak mengaku, tapi saya pikir saya akan mendapat mimpi buruk di malam hari karena rasa bersalah sudah mencelakai makhluk lain. Menuliskan 'kekejaman' saya dengan bangga di FB? Saya tidak yakin saya seberani itu.

Diluar insiden pelayan terpeleset diatas, seorang bule guru bahasa inggris di tempat kursus saya dulu pernah melontarkan pertanyaan di kelas. Dia mengutarakan keheranannya kenapa di sini, saat seseorang terpeleset saat hendak naik ke angkot, atau terantuk atap angkot saat hendak turun, maka reaksi mayoritas orang- orang disekitarnya adalah tersenyum atau tertawa. Orang yang terpeleset itu kan sakit atau paling tidak kaget, seharusnya ditanya apakah dia baik- baik saja dong, bukan ditertawakan. Pertanyaan itu sempat membuat saya berpikir, "Iya ya, kenapa kita suka menertawakan kesialan orang lain?"

Seorang teman saya berargumen bahwa kejadian kepleset di angkot itu kan hanya perkara kecil, jadi belum sampai taraf perlu dikasihani. Masih ada lucunya lah. Saya bisa mengerti argumennya, tapi masalahnya, kita kan tidak mengenal si orang asing yang sial terantuk atap bemo di sore hari ini. Mungkin di pagi hari ia sudah terlambat masuk kantor karena melekan semalam suntuk begadang menunggui anaknya yang sakit muntaber, kemudian di siang hari terpaksa membeli makan siang karena istrinya tidak sempat membuatkan bekal, kemudian di sore hari dimarahin bos karena tidak konsen saat bekerja. Beberapa meter di depan rumahnya, dengan pikiran kalut memikirkan biaya untuk menebus obat bagi anaknya, terantuklah ia karena kurang waspada. Dan kemudian orang se-angkot tertawa melihat kesialannya yang tampak lucu. Haha, tertawa itu menyehatkan dan membuat bahagia lho. Life's beautiful, isn't it? For us.

Seorang teman saya yang lain berargumen bahwa hidup itu kan susah dan berat, jadi melihat hal lucu seperti itu menimpa orang lain ya bisa bikin ketawa dan meringankan beban hidup (I offer no comment now).

Di majalah sains terbitan Australia, saya membaca satu artikel yang memuat penelitian mengenai alasan orang tertawa saat melihat kesialan orang lain. Saya tidak ingat keseluruhan artikelnya, tapi saya ingat kalimat ini : Coba anda ingat- ingat apa reaksi anda saat melihat seorang asing jatuh terpeleset atau menumpahkan kopi di kemeja putih mereka. Bila anda tertawa atau tersenyum atau merasa kejadian itu lucu, maka itu tandanya anda memiliki tingkat kebahagiaan dan kepercayaan diri yang rendah. Bahagia melihat kemalangan orang adalah salah satu indikasi kepercayaan diri yang rendah.

Saya sendiri pernah juga sih tertawa saat seseorang terantuk atap angkot atau saat teman saya tersandung batu. Terkadang hal itu memang lucu, apalagi kalau si korban juga nyengir dan menganggap apa yang menimpanya adalah suatu kelucuan (bayangkan kalau yang tersandung teman saya si Putri yang cantik jelita, disaat cowok- cowok berbondong- bondong menolong, saya akan tertawa-- iya saya sirik karena tidak akan ada cowok yang menolong saya bila saya jatuh). Tapi mungkin at least saya harus memperhatikan reaksi si korban dulu. Kalau ia tertawa, maka bolehlah saya tertawa. Kalau dia tidak tampak menikmati kesialannya, yah lebih baik pasang tampang netral kalau toh saya tidak bisa memaksa diri menunjukkan wajah prihatin dan berucap "Nggak apa-apa kan Mbak?"

Note : biarlah si ibu ini saja yang berkomitmen untuk menjadi ibu yang lebih baik di tahun yang baru, berusaha membahagiakan orang lain, dan menjadi warga negara yang taat pajak serta istri teladan. Resolusi tahun baru saya hanya sederhana sajalah, sekedar meningkatkan level kebahagiaan dan kepercayaan diri saya sendiri, jadi saya tidak perlu melihat kemalangan orang lain untuk bisa membuat saya tertawa...

Hayo, anda kasihan atau tertawa melihat ekspresi 'kebeletnya' Sera?